11 thoughts on “VIDEO KAJIAN ULAMA : hakikat tempat keramat dalam syari’at islam

  1. kalau tempat2 tertentu mendapatkan keberkahan dan hukumnya bid’ah, maka begitu juga di Mekkah, Ka’bah dan tempat suci lainnya bila kita ingin mengambil berkah = bid’ah, yg dituju harusnya hy Allah SWT. Kita meyembah Allah, bukan Ka’bah, jadi seharuanya Wahabi menghancurkan ka’bah karena menyembah bukan selain Allah SWT

    • maaf…..perkataan anda ini adalah perkataan paling awam…….saran saya ngaji dulu mas.hingga anda bisa membedakan tempat keramat yang syirik dan tempat yang memang diberkahi secara syari’at……..anda sama sekali tidak mengambil pelajaran dari kajian video diatas yang ada dihati anda adalah kebencian yang amat mendalam yang sama sekali tidak beralasan. saya menyarankan agar hati anda dipenuhi hidayah dari Allah.hilangkan dulu perasaan dengki dan benci terhadap da’wah tauhid

      • saya sudah mempelajari video anda diatas beberapa kali, dan isinya sama dengan jawaban anda pada saya, anda juga menyalahkan orang yg ziarah, hanya memandang mereka mengambil berkat dari maqam yg mereka ziarahi. Coba anda baik sangka bahwa mereka hanya ziarah kubur, bukan meminta kesana. Karena ziarah kubur memang dianjurkan oleh Rosulullah SAW karena mengingatkan akan kehidupan dunia yg fana dan persiapan menghadapi mati

      • saya sudah mempelajari video anda diatas beberapa kali, dan isinya sama dengan jawaban anda pada saya, anda juga menyalahkan orang yg ziarah, hanya memandang mereka mengambil berkat dari maqam yg mereka ziarahi. Coba anda baik sangka bahwa mereka hanya ziarah kubur, bukan meminta kesana. Karena ziarah kubur memang dianjurkan oleh Rosulullah SAW karena mengingatkan akan kehidupan dunia yg fana dan persiapan menghadapi mati

        MEreka jelas meminta pada mayat yang sudah mati, walau mayat itu adalah seorang wali tidak diperbolehkan kita meminta kepada arwah orang mati agar diharapkan arwah tersebut menjadi kurir untuk dikabulkan hajadnya kepada Allah……..Syirik Besar!di samping juga merupakan tindakan bid’ah karena Rasulullah dan para shahabatnya tidak pernah menjalankannya. Jika memang itu balk, apa lagi merupakan peribadatan tentu sudah dijalankan oleh Rasulullah dan para shahabatnya.
        Sebab mereka adalah orang yang paling bersemangat mengejar kebaikan. Tidak ada satupun celah kebaikanyang ditinggalkan oleh Nabi dan para shahabatnya.

        Apalagi, ternyata bahwa ziarah-ziarah ke kuburan-kuburan / petilasan-petilasan para wall itu dimaksudkan untuk ngalap berkah, meminta-minta kepada
        orang yang telah mati dan mencari syafa’at. Jika demikian halnya, maka jelas bahwa itu adalah syirik akbar.

        Apabila orang tidak bertaubat dari kegiatan ini dan mati dalam keadaan demikian, maka Allah tidak akan mengampuninya, kekal di dalam neraka, Wal ‘iyadzu billah. Allah berfrrman:

        Sesungguhnya Allah tidak mengampuni perbuatan dosa syirik kepada-Nya, dan Allah mengampuni dosa yangselain syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.
        (an-Nisa': 48)

  2. klo begitu mas, mengajilah dulu masalah tawassul asal tidak serta merta menyalahkan mereka. saya yakin mereka tidak semuanya meminta kepada yg ber-maqam disitu. Ada yg benar2 murni ziarah karena tanda hormat kepada Wali Allah dengan membacakan Yasin dll yg pahalanya dihadiahkan kepada ahli qubur, sedang bagi ahli qubur sendiri itu adalah nikmat Allah kepada mereka karena walau sudah mati sekalipun pahala dan kebaikan terus mengalir kepada mereka sebagai balasan atas jalan sabilillah mereka ketika masih hidup. Sayapun menyadari ada juga yg benar2 niat meminta kepada ahli qubur, bukan kepada Allah SWT, tapi itulah tugas penda’wah agama menyadarkan mereka, bukan malah menyalahkan semuanya yg ziarah atau bahkan jika mampu menghancurkan maqam2 tersebut sebagaimana penguasa2 wahabi di Arab Saudi. Siapa bilang Rosulullah tidak ziarah? Bahkan beliau menganjurkan ziarah (setelah sebelumnya melarangnya) untuk ,mengingatkan orang supaya ingat mati. Rosulullah juga pernah mendatangi kubur yg ahlinya sedang disiksa dan mendoakannya. Demikian sifat Nabi kita yg agung tidak serta merta menyalahkan orang, sampai da’wah beliau dengan lembut tidak dengan kekerasan seperti sekarang sebagaimana firman Allah SWT “Ud u ila sabili robbika bilhikmah”

    • klo begitu mas, mengajilah dulu masalah tawassul asal tidak serta merta menyalahkan mereka. saya yakin mereka tidak semuanya meminta kepada yg ber-maqam disitu. Ada yg benar2 murni ziarah karena tanda hormat kepada Wali Allah dengan membacakan Yasin dll yg pahalanya dihadiahkan kepada ahli qubur, sedang bagi ahli qubur sendiri itu adalah nikmat Allah kepada mereka karena walau sudah mati sekalipun pahala dan kebaikan terus mengalir kepada mereka sebagai balasan atas jalan sabilillah mereka ketika masih hidup.

      Karena anda orang NU maka yang anda ikuti tentu mazhab Imam Syafi’i………..Nah……Imam Syafi’i menyatakan bahwa pahala bacaan Al-Qur’an yang kita baca untuk mayid tidak akan sampai !!!!!!

      Pendapat Imam As-Syafi’i rahimahullah.

      Imam An-Nawawi menyebutkan di dalam Kitabnya, SYARAH MUSLIM, demikian. “Artinya : Adapaun bacaan Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit), maka yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi….
      Sedang dalilnya Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, yaitu firman Allah (yang artinya), ‘Dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan pahala usahanya sendiri’, dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya), ‘Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal usahanya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang shaleh (laki/perempuan) yang berdo’a untuknya (mayit)”. (An-Nawawi, SYARAH MUSLIM, juz 1 hal. 90).

      Juga Imam Nawawi di dalam kitab Takmilatul Majmu’, Syarah Madzhab mengatakan. “Artinya : Adapun bacaan Qur’an dan mengirimkan pahalanya untuk mayit dan mengganti shalatnya mayit tsb, menurut Imam Syafi’i dan Jumhurul Ulama adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi, dan keterangan seperti ini telah diulang-ulang oleh Imam Nawawi di dalam kitabnya, Syarah Muslim”. (As-Subuki, TAKMILATUL MAJMU’ Syarah MUHADZAB, juz X, hal. 426).

      (menggantikan shalatnya mayit, maksudnya menggantikan shalat yang ditinggalkan almarhum semasa hidupnya -pen).

      2. Al-Haitami, di dalam Kitabnya, AL-FATAWA AL-KUBRA AL-FIGHIYAH, mengatakan demikian.
      “Artinya : Mayit, tidak boleh dibacakan apa pun, berdasarkan keterangan yang mutlak dari Ulama’ Mutaqaddimin (terdahulu), bahwa bacaan (yang pahalanya dikirmkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepadanya, sebab pahala bacaan itu adalah untuk pembacanya saja. Sedang pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan dari amil (yang mengamalkan) perbuatan itu, berdasarkan firman Allah (yang artinya), ‘Dan manusia tidak memperoleh, kecuali pahala dari hasil usahanya sendiri”. (Al-Haitami, AL-FATAWA AL-KUBRA AL-FIGHIYAH, juz 2, hal. 9).

      3. Imam Muzani, di dalam Hamisy AL-UM, mengatakan demikian. “Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan sebagaimana yang diberitakan Allah, bahwa dosa seseorang akan menimpa dirinya sendiri seperti halnya amalan adalah untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain”. (Tepi AL-UM, AS-SYAFI’I, juz 7, hal.262).

      4. Imam Al-Khuzani di dalam Tafsirnya mengatakan sbb. “Artinya : Dan yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, bahwa bacaan Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi”. (Al-Khazin, AL-JAMAL, juz 4, hal.236).

      5. Di dalam Tafsir Jalalaian disebutkan demikian. “Artinya : Maka seseorang tidak memperoleh pahala sedikitpun dari hasil usaha orang lain”. (Tafsir JALALAIN, 2/197).

      6. Ibnu Katsir dalam tafsirnya TAFSIRUL QUR’ANIL AZHIM mengatakan (dalam rangka menafsirkan ayat 39 An-Najm). “Artinya : Yakni, sebagaimana dosa seseorang tida dapat menimpa kepada orang lain, demikian juga menusia tidak dapat memperoleh pahala melainkan dari hasil amalnya sendiri,dan dari ayat yang mulia ini (ayat 39 An-Najm), Imam As-Syafi’i dan Ulama-ualama yang mengikutinya mengambil kesimpulan, bahwa bacaan yang pahalanya dikirimkan kepada mayit adalah tidak sampai, karenabukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkan (pengiriman pahala bacaan), dan tidak pernah memberikan bimbingan, baik
      dengan nash maupun dengan isyarat, dan tidak ada seorang Sahabat pun yang pernah mengamalkan perbuatan tersebut, kalau toh amalan semacam itu memang baik, tentu mereka lebih dahulu mengerjakannya, padahal amalan qurban (mendekatkan diri kepada Allah) hanya terbatas yang ada nash-nashnya (dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan tidak boleh dipalingkan dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat”.

      Demikian diantaranya pelbagai pendapat Ulama Syafi’iyah tentang TAHLILAN atau acara pengiriman pahala bacaan kepada mayit/roh, yang ternyata mereka mempunyai satupandangan, yaitu bahwa mengirmkan pahala bacaan Qur’an kepada mayit/roh itu adalah tidak dapat sampai kepada mayit atau roh yang dikirimi, lebih-lebih lagi kalau yang dibaca itu selain Al-Qur’an, tentu saja akan lebih tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi.

      Jadi percuma saja orang-orang yang datang ke makam lalu membacakan yasin sebab ga akan sampai kepada wali Allah tersebut!!

      Sayapun menyadari ada juga yg benar2 niat meminta kepada ahli qubur, bukan kepada Allah SWT, tapi itulah tugas penda’wah agama menyadarkan mereka, bukan malah menyalahkan semuanya yg ziarah atau bahkan jika mampu menghancurkan maqam2 tersebut sebagaimana penguasa2 wahabi di Arab Saudi.

      Sekarang saya tanya dech dimana buktinya penguasa wahabi Arab Saudi yang menghancurkan makam ???? Pemakaman baqi masih ada ??? makaM Rasulullah juga masih ada ????

      Siapa bilang Rosulullah tidak ziarah? Bahkan beliau menganjurkan ziarah (setelah sebelumnya melarangnya) untuk ,mengingatkan orang supaya ingat mati. Rosulullah juga pernah mendatangi kubur yg ahlinya sedang disiksa dan mendoakannya. Demikian sifat Nabi kita yg agung tidak serta merta menyalahkan orang, sampai da’wah beliau dengan lembut tidak dengan kekerasan seperti sekarang sebagaimana firman Allah SWT “Ud u ila sabili robbika bilhikmah”

      Saya balik perkataan anda ” Siapa bilang wahabi ada mengatakan Rasulullah tidak pernah berziarah ??? MEndoakan sangat beda konteknya dengan mengirimkan pahala apalagi meminta-minta tolong kepada orang yang sudah mati dengan berharap hajadnya tercapai…..ini syirik namanya !

  3. Nuwun Sewu nggih mas,, kita sholat menghadap kakbah bukan berarti kita menyembah kakbah,, kita berkunjung ke makam orang2 shaleh selain untuk mendoakan mayyit kita juga berdo’a untuk diri kita sendiri & doa itu ditujukan kpd ALLAH,, lha terus syirik/musyriknya dari mana? wong kita mintanya kpd ALLAH kok

  4. lho?anda bilang pemakaman Baqi’ masih ada?coba lihat dengan mata anda sendiri, Baqi’ sekarang rata dengan tanah! hanya tinggal batu sebagai penanda.padahal dahulu Baqi pemakamannya lebih bagus & lebih terawat (terakhir zaman syarif Husein sebagai raja Mekkah,sebelum digulingkan wahabi).
    Benar perkataan Rosulullah (Kenalilah Aqidahmu – habib Munzir Musawwa) nahwa akhir zaman Umat Islam terlau memperhatikan syiriq,padahal yg lebih berbahaya adalah kenikmatan duniawi” Para penguasa Wahabi di mekkah yg katanya menerapkan syariat islam & bebas syiriq nnyatanya lbh suka bersahabat Amerika & rela tempatnya jadi pangkalan mereka untuk mengempur Iraq dan palestina, padahal merka sesama saudara muslim. Orang2 Saudi itu memperkosa TKI asal Indonesia,padahal yg dizolimi juga muslim? islam macam apa itu?
    Siapa bilang Imam Syafi’i mengatakan pahala tidak sampai kepada orang mati?jangan menyalah gunakan fakta yg ada. kami semua penganut mazhab Syafi’i (bukan berarti orang NU) semua meyakini (tertulis dalam kitab2 Fiqh beliau) nahwa apa yg kita baca pahalanya sampai kepada orang mati. Tulisan anda hanya ambil darinukilan2 Wahabi, jadi saya maklumi kebohongan anda!

    • ya betul, dulu pemakanan baqi sangat megah, saking megahnya hingga menjadi tempat perayaan, masjid juga tempat orang meminta-minta hajad pada orang mati! Tuntunan Rasulullah melarang membangun gedung dan memperindah kuburan.
      Ulama Wahabi kami Syaikh bin baaz memfatwakan :
      Tidak boleh membangun pada kubur, baik dengan cor ataupun yang lain, demikian pula menulisinya. Karena terdapat riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang larangan membangun di atas kuburan dan menulisinya. Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
      “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kuburan dikapur, diduduki, dan dibangun.”
      Al-Imam At-Tirmidzi dan yang lain meriwayatkan dengan sanad yang shahih dengan tambahan lafadz:
      “dan ditulisi.”
      Karena hal itu termasuk salah satu bentuk sikap berlebihan sehingga harus dilarang. Juga karena penulisan bisa menghantarkan kepada dampak yang parah berupa sikap berlebihan dan larangan-larangan syar’i lainnya. Yang diperbolehkan hanyalah mengembalikan tanah (galian) kubur tersebut dan ditinggikan sekitar satu jengkal sehingga diketahui bahwa itu adalah kuburan. Inilah yang sunnah dalam masalah kuburan dan ini yang dilakukan oleh Rasulullah n serta para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

      Tidak boleh pula menjadikan kuburan sebagai masjid (yaitu tempat untuk shalat atau shalat menghadapnya, pent.). Tidak boleh pula mengerudunginya atau membuat kubah di atasnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

      “Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (Muttafaqun ‘alaih)

      Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari sahabat Jundub bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lima hari sebelum meninggalnya:
      “Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai kekasih-Nya sebagaimana menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku mau menjadikan seseorang dari umatku sebagai kekasihku tentu aku akan menjadikan Abu Bakr sebagai kekasihku. Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur nabi-nabi dan orang shalih mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kubur-kubur sebagai masjid karena sesungguhnya aku melarang kalian dari perbuatan itu.”

      Dan hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak.

      Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan taufiq-Nya kepada muslimin agar berpegang teguh dengan Sunnah Nabi mereka dan tegar di atasnya, serta berhati-hati dari segala yang menyelisihinya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Dekat.
      (Mukhtarat min Kitab Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutanawwi’ah, hal. 228-229)

      Sumber: http://www.asysyariah.com

      Penjelasan admin:

      Makam Baqi sekarang ini diawasi secara olleh pasukan askar wahabi di mekkah ketat demi menghindari syirik dari para pengunjung yang kerap meminta berkah dan berdoa di kompleks pemakaman. Hal ini karena para jamaah sering kali membandel dan tetap melakukan hal itu.

      Rasulullah SAW mendoakan mereka agar mendapatkan murka dari Allah SWT karena apa yang mereka perbuat termasuk perbuatan maksiat. Yang demikian ini terdapat dalam kitab-kitab sahih.

      Rasulullah pernah menyatakan, “Jangan kalian menjadikan kuburanku sebagai berhala.” Pernah juga menyatakan, “Jangan kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat ied.” Artinya, menentukan waktu untuk berkumpul (di kuburan) sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para penyembah kubur

      Berdoa di kuburan baqi dengan keyakinan tempat tersebut memiliki berkah, adalah perbuatan ini batil. Perbuatan itu termasuk mengada-ada dalam syari’at!
      Kesimpulannya kuburan tidak perlu “lebay” dalam merawatnya sukup diberi tanda saja, bahkan Raja Fahd, raja Kerajaan Arab saudi yang baru mangkat pun hanya dikubur dengan tanda 3 buah batu biasa.

      Para penguasa Wahabi di mekkah yg katanya menerapkan syariat islam & bebas syiriq nnyatanya lbh suka bersahabat Amerika & rela tempatnya jadi pangkalan mereka untuk mengempur Iraq dan palestina, padahal merka sesama saudara muslim. Orang2 Saudi itu memperkosa TKI asal Indonesia,padahal yg dizolimi juga muslim? islam macam apa itu?

      Nabi Muhammad tidak bisa menjamin pamannya masuk islam, maka bagaimana mungkin kami kaum wahabiyyin bisa menjamin 100% keislaman raja Arab ? bagaimana bisa menjamin semua penguasa Arab sholeh dan baik semua? Jangan mencontohkan oknum hanya untuk menjatuhkan Islam!

      Siapa bilang Imam Syafi’i mengatakan pahala tidak sampai kepada orang mati?jangan menyalah gunakan fakta yg ada

      maka tolong sebutkan redaksi Imam Syafi’i yang mengatakan kiriman bacaan sampai pada orang mati!

      Siapa bilang Imam Syafi’i mengatakan pahala tidak sampai kepada orang mati?jangan menyalah gunakan fakta yg ada. kami semua penganut mazhab Syafi’i (bukan berarti orang NU) semua meyakini (tertulis dalam kitab2 Fiqh beliau) nahwa apa yg kita baca pahalanya sampai kepada orang mati. Tulisan anda hanya ambil darinukilan2 Wahabi, jadi saya maklumi kebohongan anda!

      :) jika anda punya software maktabah syamilah coba buka kitab-kitab karya Imam Syafi’i , atau anda beli buku YASINAN oleh Yazid Bin Abdul Qadir Jawas Penerbit Pustaka Abdullah, Jakarta, Tahlilan dan Selamatan menurut Madzhab Syafi’i, oleh Drs Ubaidillah, terbitan Pustaka Abdul Muis – Bangil

      jika kurang puas buka kitab aslinya di http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/09/tahlilan-selamatan-kematian-menurut_8759.html
      jika tambah kurang percaya buka kitab rujukan NU di http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/09/tahlilan-selamatan-kematian-menurut_26.html saya cukup sedih NU dulu berbeda dengan NU sekarang :) seperti halnya Nasrani pada zaman nabi isa dan nasrani pada zaman Modern saat ini :)
      jika anda ngeyel lihat penjelasan ulama NU di http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/09/tahlilan-selamatan-kematian-menurut.html
      jika tetap ga mau menerima buka fatwa ulama NU di http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/09/keputusan-muktamar-nahdlatul-ulama-nu.html

      TERNYATA BANYAK SEKALI ULAMA NU DAN KITAB-KITABNYA BERBAU WAHABI, ANDA MENCELA WAHABI PADAHAL ULAMA NU DAN KITAB-KITABNYA BANYAK BERAKIDAH WAHABI :)

  5. Akhi Perdana. Saya banyak mengambil Ilmu RUQYAH anda. Dan Saya sangat setuju usaha Anda membongkar kesesastan Tenaga Dalam dan perdukunan maupun ilmu Hikmah. Namun Anda kelihatan bukan ahli di bidang Fiqh. Imam Sayfi,i memakruhkan makanan bukan berarti memakruhkan atau malahan mengharamkan tahlilan. Makruh itu pada makanannya bukan pada tahlilannya. Dan juga bukan berarti pahala bacaan Qur’an itu tidak sampai, Hanya saja sampai dan tidaknya itu tergantung kepada kesholehan orang yang membacanya,sekian .

    • @Oni..
      dibuka dulu mas link2 yg ust PA cantumkan di atas komen anda tsb..

      atau bisa anda sebutkan dalil “hadiah” bacaan alqur’an!

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s