HAKIKAT PERDUKUNAN

Banyak sekali istilah jika kita membahas masalah perdukunan seperti paranormal sebutan kerennya,dukun menurut istilah kampungnya,tabib menurut istilah sufinya,orang-orang pintar atau orang-orang linuwih istilah jawanya,ahli metafisika istilah ilmiyahnya,arraf (orang yang mengaku mengetahui hal-hal yang ghoib dan mengabarkan barang yang hilang dan pencurinya atau menunjukkan orang yang bingung atau tempat keluarnya) dan kahin (sebutan bagi orang yang mengaku mengetahui ilmu ghoib yang mengabarkan tentang kejadian yang akan datang atau yang tersirat dihati),sedang dalam istilah syari’at dikenal dengan thaghut (setiap yang diagungkan selain Allah dengan disembah,ditaati,dipatuhi baik berupa benda mati,manusia yang dianggap suci,syaitan) atau jibt (sebutan untuk sihir,tukang sihir,tuang ramal,dukun,berhala dan sejenisnya) atau auliya syaithan (wali-wali syaitan) dan nama-nama lain semisalnya telah banyak bermunculan di mana-mana.

Sebutan boleh-berbeda-beda,namun hakekatnya adalah tetap sama,yaitu sama-sama menyimpang,sesat dan merusak akidah Islam yang benar,dan mereka dukun,paranormal,orang linuwih,kahin,Avatar,guruji dan sebutan-sebutan yang lainnya itu biasanya mendapat kemampuan ajaib,wangsit atau ilham atau “pencerahan”dengan melalui bantuan atau bisikan-bisikan dari syaitan (yang menyaru sebagai dewa).

A. SEBAB MUSABAB SESEORANG PERGI KEDUKUN ATAU PARANORMAL

Sesungguhnya seorang muslim yang jujur, ketika ditanya tentang hukum perdukunan tentu saja akan menjawab bahwa itu adalah terlarang dan merupakan perbuatan syirik kepada Allah SWT. Tapi, kenapa hal ini justru begitu menjamur dan mengakar dalam masyarakat kita.Setidaknya ada beberapa argumen untuk menjelaskan kenyataan diatas :

1.  Awamnya Masyarakat Tentang Pengertian Dukun, Sihir dan Ruqyah    Syar’iyyah.

Banyak kalangan awam, ketika diajarkan tentang bacaan-bacaan berbahasa Arab, meskipun mereka tidak mengerti artinya, mereka menganggap bahwa itu syar’i dan boleh hukumnya. Padahal, bacaan-bacaan yang tidak mempunyai landasan syari’at, ataupun mempunyai landasan syar’i tapi dipergunakan bukan pada tempatnya, seperti menulis ayat Al-Qur’an pada kalung lalu menggantungkannya di leher dengan maksud kebal atau menjaga diri, adalah perbuatan bid’ah sekaligus peremehan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.

Juga banyaknya padepokan-padepokan,yayasan-yayasan yang mengajarkan ilmu sihir (reiki, bionenergi, tenaga dalam, ilmu kanuragan,kekebalan,mahabbah,jual jimat,jual benda keramat) tetapi juga melakukan terapi ruqyah syirkiyyah.Yang membuat masyarakat awam banyak tertipu hingga tidak bisa membedakan antara ruqyah syar’iyyah dan ruqyah syirkiyyah.

2. Adanya Sosok yang Menamakan Diri Mereka Kyai dan Ulama Tapi Pada Kenyataan Mempraktekkan Sihir dan Perdukunan.

“Kami tak melakukan apa-apa, hanya berdoa kepada Allah, dan atas ridha-Nyalah doa kami itu terkabul”, tutur seorang paranormal di sebuah media. Ungkapan di atas dan semisalnya adalah ucapan klise yang sering keluar dari mulut paranormal atau dukun. Mereka berlindung di balik kata “doa” dan nama “Allah” untuk mengelabui orang dan meyakinkan bahwa kemampuan yang dimilikinya itu adalah pemberian dari Allah dan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Untuk membantah syubhat (kerancuan) ini, perhatikanlah firman Allah: “Iblis menjawab, ‘Demi kekuasaan (izzah) Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya’.” (Shad: 82).

Iblis makhluk yang telah nyata kekafirannya kepada Allah (Al-Baqarah: 24) menggunakan sifat Allah (Al-Izzah) dalam bersumpah. Maka bukan suatu hal aneh jika mereka menggunakan nama Allah, membaca (potongan) ayat-ayat Al-Qur’an sebagai mantera. Penggunaan simbol-simbol agama bukan ukuran kebenaran. Bukankah iblis yang menggunakan sifat Allah ketika bersumpah tidak menjadi pembenaran bahwa ia sesungguhnya tidak sesat dan menyesatkan. Selain itu, mereka mengatakan bahwa ilmu yang diberikan berdasar pada agama (Al-Qur’an). Tapi pada saat yang sama, mereka juga memberikan syarat, azimat dan amalan-amalan yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an atau tidak diajarkan oleh Al-Qur’an.

Mereka bukanlah ulama, melainkan para da’i syaitan yang mengajak pada neraka jahannam (du’at ilaa abwabi jahannam). Kaum Muslimin tidak pernah berbeda pendapat dalam masalah asasi seperti Tauhid dan Syirik. Oleh karena itu, melakukan berbagai tindakan yang bertentangan dengan aqidah Islam, dengan legitimasi segelintir orang yang menamakan dirinya syeikh-syeikh,kyai adalah penyimpangan dari syari’at islam.

3. Lemahnya Iman.

Lemah iman (kurangnya keyakinan bahwa Allah adalah tempat meminta segala keperluan) adalah faktor utama bagi seseorang untuk mencari alternatif lain untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Meminta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat merupakan solusi Islami dan tepat untuk menyelesaikan masalah. Allah berfirman:

يَا أَ يُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153).

Hal ini adalah akibat logis dari minimnya pengetahuan orang tentang Islam, ditambah minus dalam pengamalan. Disadari, tuntutan dan godaan hidup begitu kompleks. Kadang-kadang terasa begitu berat, sehingga seorang muslim yang lemah iman kemudian melarikan masalah mereka kepada dukun dan tukang sihir. Termasuk dalam hal ini adalah, astrologi (perbintangan). Apakah dalam keyakinan Islam terdapat penjelasan bahwa nasib manusia ditentukan oleh bergeraknya bintang ke arah tertentu ? Apakah manusia dalam zaman modern ini bisa menjelaskan secara logis disertai bukti-bukti ilmiah tentang korelasi antara pergerakan bintang dengan nasib manusia ? Yang pasti adalah, bahwa hal itu adalah kepercayaan agama lain yang secara tidak sadar dipercayai oleh kaum Muslimin sehingga menjerumuskan mereka kepada perbuatan terlarang. Rasulullah saw. bersabda:“Barangsiapa yang mendatangi tukang sihir, atau tukang tenung kemudian membenarkan perkataannya maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari.”

4.      Ajaran Sufisme Sesat.

Ajaran Sufisme mempunyai andil dalam memupuk mistikisme. Lipstik agama yang membungkus ritual sufisme banyak mengelabui umat. Cerita-cerita mistik tentang hal-hal ghaib, malaikat, jin dan lain sebagainya banyak mewarnai ajaran mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:”Ahli ibadah dan orang-orang sesat,yaitu orang-orang yang katanya ahli zuhud dan beribadah dengan cara-cara bid’ah.mereka dipercaya memiliki indra keenam dan kekuatan bathin.Mereka tinggal di tempat-tempat syaithan yang dilarang untuk dijadikan tempat sholat (ada sebagian masjid kaum sufi yang didalamnya ada kuburan yang dikeramatkan dan mereka shalat disana) karena syaithan bercokol disana.Syaithan-syaithan itu bercengkrama bersama ahli bid’ah tersebut sebagaimana para dukun mengobrol.(Majmu’Fatawa 19/41)

Syekh ‘Abd al-Qadir al-Jailani berkata: Banyak golongan orang-orang sufi sesat, antara lain:

Golongan Hululiyyah: Mereka berpendapat adalah halal melihat badan orang yang bukan mahramnya, yang menggiurkan nafsu, dan paras yang cantik yang bisa mendorong kepada zina, baik laki-laki maupun perempuan, siapa pun baik anak atau istri orang. Mereka berbaur antara lelaki dan perempuan dan menari bersama-sama. Hal ini jelas sekali berlawanan dengan ajaran dan prinsip Islam.

Golongan Haliyyah: Mereka ini gemar menyanyi, menari, memekik, menjerit dan menepuk tangan. Konon, dalam keadaan demikian mereka dapat mengatasi dan melampui hokum-hukum syari’at Islam. Tidak perlu lagi bersyari’at karena telah melampui peringkat syari’at.Hal ini jelas sesat karena Nabi Muhammad Saw. Sendiri pun mengikuti syari’at, walaupun ia kekasih Allah Swt.

Golongan Awliyaiyyah: Mereka ini mendakwakan diri dekat dengan Allah. Dengan kata lain telah mencapai peringkat Auliya’ Allah. Apabila telah jadi waliyullah tidak perlu lagi salat, puasa, haji, dan beribadah lainnya. Mereka berpendapat bahwa seorang Wali menjadi anak Allah dan dengan itu mereka lebih tinggi derajatnya dari Nabi. Mereka mengatakan bahwa ilmu dan wahyu sampai kepada Nabi melalui Malaikat Jibril, tetapi waliyullah menerima ilham atu hikmah langsung dari Allah. Itulah dakwaan mereka. Pendapat mereka ini adalah silap, salah, dan sesat yang akan membawa mereka kepada kebinasaan dan akan menjerumuskan mereka ke lembah bid’ah dan kafir.

Golongan Syamuraniyyah: Mereka percaya kalam (perkataan) adalah kekal dan barangsiapa menyebut kalam yang kekal (kalam Allah) itu tidak terikat dengan hukum atau syar’at agama. Mereka tidak peduli dengan hukum halal dan haram. Dalam upacara ibadah mereka menggunakan alat musik. Perempuan dan lelaki berbaur menjadi satu. Tidak ada hijab lelaki denga perempuan. Ini sudah jelas sesat dan menyimpang jauh dari ajaran Al-Qur’an.

Golongan Hubbiyyah: Golongan ini berkata bahwa apabila seseorang sampai ke peringkat cinta, mereka tidak lagi berada di bawah hukum syari’at. Mereka tidak peduli dengan pakaian. Kadang-kadang mereka bertelanjang bugil. Tidak ada lagi perasaan malu pada diri mereka. Inilah ajaran sesat dan menyesatkan.

Golongan Hurriyyah: Mereka senang berteriak-teriak, memekik-mekik, menyanyi, dan bertepuk tangan, konon katanya untuk mendapatkan Zawq (ektase). Mereka mendakwa bahwa dalam keadaan Zawq itu mereka bersenggama atau bersetubuh dengan bidadari. Setelah mereka keluar dari keadaan Zawq, mereka pun mandi hadas. Mereka ini tertipu oleh nafsu mereka sendiri. Sesatlah mereka.

Golongan Ibahiyyah: Mereka ini tidak menyuruh berbuat baik dan tidak melarang berbuat jahat. Sebaliknya mereka menghalalkan yang haram. Zinapun dihalalkan. Bagi mereka, semua wanita halal untuk semua lelaki. Inilah golongan yang sesat dan miskin yang meminta sedekah dari rumah ke rumah. Mereka beranggapan bahwa mereka menerima azab Allah yang hina.

Golongan Mutakassiliyyah: Mereka mengamalkan prinsip bermalas-malasan dalam mencari nafkah. Mereka telah meninggalkan dunia dan keduniaan. Maka musnahlah mereka dalam kemalasan mereka sendiri.

Golongan Mutajahiliyyah: Mereka berpura-pura bodoh dan berpakaian tidak senonoh dan bersikap seperti orang kafir. Padahal Allah berfirman:“Janganlah kamu cenderung meniru orang-orang yang zalim, kelak kamu akan disentuh (dijilat) api Neraka.” (Hud:113)

Nabi pun bersabda:“Barangsiapa mencoba menyerupai sesuatu kaum, maka mereka dikira sebagai ahli kaum itu.”

Golongan Wafiqiyyah: Mereka berpendapat bahwa Allah yang mampu mengenal Allah. Dengan itu mereka tidak mau berusaha mencari hakikat atau kebenaran. Karena kebodohan mereka itu, mereka terseret ke jurang kerusakan dan kesesatan.

Golongan Ilhamiyyah: Mereka ini mementingkan ilham. Tidak mau menuntut ilmu dan tidak mau belajar. Mereka menggunakan puisi karangan mereka sebagai ganti Alquran. Mereka membuang Al-Qur’an dan meninggalkan ibadah salat, dan lain-lain. Mereka mengajarkan anak-anak mereka berpuisi sebagai ganti Al-Qur’an. Maka sesatlah mereka. (Sirr al-Asrar fi ma Yahtaj Ilayh al-Abrar)

5.      Animisme, Dinamisme, Sinkretisme.

Kepercayaan masyarakat yang suka mistik adalah sisa-sisa pengaruh dari ajaran anismisme kepercayaan kepada roh-roh yang mendiami semua benda, dinamisme kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia (Dr. Simuh). Termasuk budaya sinkretisme yang mencampuradukkan ajaran berbagai agama untuk mencari penyesuaian (Prof. Kusnaka Adimihardja).

6.     Tuntutan Kehidupan Materialisme Modern.

Kita tidak bisa menyalahkan masa atau waktu, sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits shahih. Modernisasi adalah suatu hal yang sah-sah saja, karena berkembang, berkreasi dan mencintai hal-hal yang serba baru adalah fitrah manusia. Namun ketika materialisme sebagai sebuah pandangan yang 100 % bertolak belakang dengan Islam mendominasi, jadilah hal-hal yang menyertai kehidupan modern menjadi problem buat kaum Muslimin. Kecantikan yang dipuja-puja, kekayaan yang dipertuhankan, pangkat dan jabatan yang begitu diagung-agungkan, dan simbol-simbol materialisme lainnya adalah kenyataan yang menghinggapi kaum Muslimin. Sebagai kompetisi, ada yang berjaya, ada juga yang kalah. Dan yang terakhir mencoba menempuh jalur-jalur “tidak resmi” seperti dukun dan sihir.

B.     HUKUM PERGI KEDUKUN ATAU PARANORMAL

Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya, ada di antaranya yang sudah diketahui dan ada pula yang belum. Berobat yang sesuai syari’at dibolehkan menurut kesepakatan ulama. Tidak dibolehkan mendatangi dukun atau paranormal yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib, untuk mengetahui penyakit yang diderita dan atau kebutuhan lainnya.

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa datang ke kahin (dukun), dan percaya apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Daud).

Allah Ta’ala berfirman: “(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.” (Jin: 26).

Para ahli metafisika,dukun atau paranormal tidak mempunyai “kelebihan” melainkan dengan cara berbakti, tunduk, taat dan menyembah jin (diistilahkan sekarang saints,Ascended Master,Reiki guide,malaikat suci). Kungkum (berendam) di pertemuan dua sungai, tapa di gua-gua, puasa, meditasi,menyembelih hewan dengan kriteria tertentu adalah sebagian bentuk dari penyembahan jin.

Pengobatan alternatif Reiki,tenaga dalam, pengisian ilmu kesaktian, susuk, azimat, wifik, pengasihan dan lainnya dalam praktiknya banyak menggunakan jin dan setan. Setiap praktik dukun atau paranormal yang menggunakan syarat, mahar, perantara dan mantera pantas dicurigai. Lewat syarat itulah, apakah namanya attunement,pasang susuk atau azimat, jin masuk dengan cara yang disadari atau tidak disadari.


Seorang paranormal bertitel Ustadz menjual “minyak pembuka tabir” untuk melihat nomor togel dan benda-benda sihir lainnya.

Pergi ke praktisi metafisika,dukun atau paranormal adalah awal dari rentetan kesusahan. Menyelesaikan masalah dengan menambah masalah. Jin dan setan akan terus menanamkan rasa takut, gelisah dan ketergantungan bagi para konsumen dan pengguna jasanya, yang menyebabkan ia tak akan lepas dari pengaruhnya. Syarat-syarat yang beraneka ragam dari yang tidak rutin atau rutin dikerjakan pada waktu atau tempat tertentu itulah bukti nyata kekuasaan jin atas konsumennya.

Allah Ta’ala telah berfirman :

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ اْلإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang di antara manusia meminta perlindungan kepada jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rahaq.” (Jin: 6).

Arti rahaq menurut Qatadah ialah, dosa dan menambah keberanian bagi jin pada manusia. Rahaq juga berarti ketakutan (Abul Aliyah, Ar-Rabi’, dan Zaid bin Aslam). Ketika jin tahu manusia minta perlindungan karena takut pada mereka, maka jin menambahkan rasa takut dan gelisah agar manusia semakin tambah takut dan selalu minta perlindungan kepada mereka. (Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil Azhim, 4/453).

C.     CIRI-CIRI PERDUKUNAN

Perdukunan telah merasuk dalam masyarakat Islam,sehingga batas antara kebenaran dan kebathilan menjadi samar.Karena banyak ilmu-ilmu perdukunan (kahanah) dikemas dengan kemasan agamis, sehingga masyarakat Islam banyak yang tertipu oleh para dukun.

Maka kita harus berhati-hati.jangan sampai kita terjerumus dalam perdukunan terselubung,dan kita harus bertaubat kepada Allah dari berhubungan dengan dukun (kahin, sahir, ’arraf, dajjal, musya’widz). Diantara ciri-ciri perdukunan yang mesti diketahui masyarakat adalah sebagai berikut:

  1. Bertanya namanya, nama ayahnya dan nama ibunya untuk dimanterai.
  2. Menanyakan hari lahir dan pasarannya (kliwon, legi, pahing, pon, wage) atau orang jawa seting menyebutnya weton (hari lahir dan pasarannya), termasuk waktu lahirnya apakah pagi, sore, siang atau malam.
  3. Meminta salah satu benda penderita (foto, kain, saputangan, peci, baju, dan sebagainya) sebagai syarat ritual atau deteksi.
  4. Terkadang minta binatang dengan sifat tertentu (ayam cemani,burung pelatuk bawang dan lain sebagainya), atau media lain seperti bunga kantil,minyak ponibalsawa atau zakfaron, daun sirih ketemu ruas,buah apel jin,tanah dari rumah penderita, tanah kuburan, air sumur kramat, slametan dan sebagainya.
  5. Menulis jimat-jimat tertentu (rajah), menggambar segi empat yang didalamnya ditulisi huruf dan angka. Memberikan benda-benda pusaka, potongan kayu, selembar kain dan sebagainya.
  6. Membaca mantera-mantera yang tidak difahami, potongan ayat Al-Qur’an yang dipisah-pisah,membaca symbol-symbol tertentu sebagai pengganti mantranya agar diamalkan secara khusus dan dengan cara dan hitungan khusus.
  7. Kadang-kadang menyuruh penderita menyepi tidak terkena sinar matahari.
  8. Kadang-kadang tidak boleh menyentuh air pada masa-masa tertentu, atau mandi tengah malam.
  9. Memberi benda-benda yang harus ditanam di tanah, ditempel di atas pintu, sikep, susuk, keris, akik, cincin besi,’air sakti’, telur, ‘sabuk perlindungan’, benang untuk ditalikan di tubuh dan sebagainya atau memberikan batu kristal yang dikatakan sebagai media penarikan dan penyaluran energi.
  10. Menyuruh penderita beribadah dan berwirid bid’ah (contoh: puasa mutih,bertapa atau meditasi,konsentrasi pada foto seseorang,istighosah, tahlilan, wirid sampai ribuan kali, ziarah kubur wali dengan meminta syafaat didalamnya dan lain sebagainya).
  11. Terkadang sudah tahu duluan masalahnya, nama dan tempat asalnya. Dia juga bisa melihat ada jin di dalam diri seseorang.
  12. Terkadang punya kamar khusus di rumahnya yang tidak boleh dimasuki orang lain.
  13. Ada pantangan terhadap dirinya dan penderita terhadap hari atau tanggal tertentu (tahayyur).
  14. Menulis ayat Al-Qur’an dengan sungsang, dari kiri atau dengan darah (haid) atau sesuatu yang najis.
  15. Kebanyakan suram wajahnya, kebanyakan merokok, membakar kemenyan, sulit untuk tawadhu.
  16. Tathayyur (menghubung-hubungkan sebuah peristiwa atau fenomena alam dengan nasib baik atau buruk seseorang atau suatu kaum).Seperti seorang dianggap nasibnya sial karena dia punya rumah tepat di pertigaan yang sering disebut rumah sate.
  17. Memberikan ramalan ghoib tentang sesuatu yang sudah terjadi atau sedang terjadi atau yang akan terjadi.
  18. Suka mendeteksi penyakit dengan mengistilahkan dengan kepekaan tangan,memakai pendulum,transfer energi dan lain sebagainya.
  19. Menggunakan ritual sihirnya dengan istilah “pembukaan”, shaktivat, inisiasi, attunement, pengisian, pembersihan dan pembukaan aura, pembuangan energi negatif, pembersihan karma negatif dan lain sebagainya.
  20. Melakukan pemagaran atau pembentengan ghaib agar tidak ada gangguan dari makhluk ghoib dengan kekuatan sihir tenaga dalam, ilmu hikmah dan ilmu-ilmu kesaktian lainnya.
  21. Melakukan ritual atau prilaku aneh dalam pelaksanaan hajadnya seperti menggerakkan tangan seolah-olah menulis, menangkap atau menolak sesuatu, menyedot atau mengeluarkan napas dengan keras dengan mengejangkan salah satu anggota tubuhnya.
  22. Memegang bagian-bagian tubuh pasien yang bukan muhrimnya secara langsung (bersentuhan kulit) dalam prosesi pengobatan.
  23. Memberikan wejangan-wejangan yang bertentangan dengan ajaran Islam. (seperti memberikan wejangan kejawen yang sesat mengenai sedulur papat lima pancer atau saudara kembar yang katanya bisa dipanggil untuk dimintai pertolongan).

D. CARA MENJAUHI DUKUN ATAU PARANORMAL

Kandungan arti surat Al-Falaq dan An-Nas adalah bukti bahwa jin dan setan dapat berbuat jahat terhadap manusia. Juga mengajarkan kita untuk berlindung dan minta pertolongan dari hal-hal tersebut hanya kepada Allah semata. Tindakan prefentif dengan berdzikir, berdoa sesuai tuntutan agama perlu dilakukan sebelum terjadi.

Takhayul, sihir dan adu nasib memiliki lahan yang cocok untuk berkembang dan tersebar pada lingkungan-lingkungan dan masyarakat-masyarakat yang lemah di atas manhaj yang tidak bertujuan dan beragama dengan tidak benar. Gelombang sihir, takhayul dan gejala-gejala sosial yang sakit dan ganjil disebabkan oleh jauhnya manusia dari Allah (agama-Nya), serta keterikatan dan ambisi mereka terhadap dunia dan kenikmatan-kenikmatan materinya. Kembali ke agama adalah jalan pertama dan terakhir agar terhindar dari dunia perdukunan yang penuh kesesatan dan kebohongan.

5 thoughts on “HAKIKAT PERDUKUNAN

  1. Artikel ini cukup jelas. Jika kita butuh sesuatu mintalah pada Alloh, kemudian berusahalah dengan cara yang halal, gunakan ilmu pengetahuan dan akal. Sedapat mungkin elama ada tuntunan Al-quran dan Sunah. Jika tidak ada beriztihad dimungkinkan, menurut pendapat saya ilmu pengetahuan yang tidak memusrikan Alloh juga ijtihad…

  2. bapak2, ibu2, mas2, mbak2, siapa yang punya buku “membongkar tabir reiki, tenaga dalam dan ilmu kesaktian” atau buku “membongkar kesesatan reiki, tenaga dalam dan ilmu kesaktian” atau buku “anti reiki” mohon kasih tahu saya ya.. Saya ingin memiliki buku2 itu baik yang masih baru ataupun bekas untuk penelitian saya. Saya sudah nyari2 tapi udah abis.
    nanti saya beli dengan harga agak tinggi dikit dari harga aslinya, tapi jangan tinggi2 banget.

    nama : M. Nurul Huda
    no. hp : 085740858657
    Tinggal : Semarang, jateng

    mohon bantuannya ya.. untuk studi harus saling membantu kan. jika ada langsung sms saya ya. trimakasih sebelumnya

  3. Ping-balik: Perdukunan di Era Globalisasi | joywahidin

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s