JIMAT (WIFIQ, RAJAH, ISIM) ANTARA YANG MEMBOLEHKAN DAN YANG MENGHARAMKAN

Dewasa ini banyak orang yang salah kaprah, termasuk dalam hal ini penjelasan pada majalah ALKISAH. Mereka memahami bahwa di antara ulama ada perbedaan pendapat seputar penggunaan jimat. Ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Sehingga orang yang selama ini memakai jimat, berkeyakinan bahwa apa yang dilakukannya itu sah-sah saja. Karena hal itu termasuk perkara khilafiyah (perbedaan pendapat). Selama masih ada ulama yang membolehkannya, maka mereka ikut bersama pendapat yang memboleh­kannya. Mereka yakin bahwa ulama yang membolehkan pemakaian jimat pasti punya dalil dan argumentasi yang kuat.

Majalah ALKISAH mengatakan [1]: “Oleh karena ilmu hikmah termasuk ilmu yang sangat kuno (awa-il), wajar jika muncul pro-kontra dalam menyikapinya. Para ulama ahli hadits, misalnya, menolak menggunakan ilmu hikmah, karena mereka menganggap cukuplah sudah kaum muslimin mengamalkan wirid yang diajarkan Rasulullah SAW. Wirid-wirid yang dikenal sebagai al-waridatul ma’surat itu antara lain ayat kursi, surah Al-Falag, An-Nas, Ya-Sin, Al-Mulk, Al-Waqiah yang dimasyarakatkan oleh Imam Hanafi.”


Padahal sejatinya tidaklah seperti itu. Tidak ada seorang­pun ulama yang mu’tabar (diakui keilmuannya) di kalangan ulama. Ahlis Sunnah wal Jama’ah yang membolehkan seseorang memakai jimat ( yang berupa huruf dan angka hijaiyyah yang dipotong-potong, juga benda-benda keramat) apalagi mengganggap jimat itu adalah ilmu hikmah.

Sangat wajar jika para ulama ahli hadits tidak mau menggunakan ilmu hikmah jika dikatakan bahwa pengertian ilmu hikmah itu sendiri adalah jimat dan amalan yang syirik lagi bid’ah. Para ulama sepakat bahwa menggunakan benda-benda tertentu sebagai jimat, yang diyakini bisa memberi manfaat atau madharat, mampu meno­lak bahaya atau mendatangkan hoki dan keberuntungan, adalah haram hukumnya. Seperti menggunakan kayu, bambu, kulit binatang, tulang, kain, kertas, besi, selongsong peluru atau benda-benda lainnya sebagai jimat.

Karena menjadikan benda-­benda tertentu seperti itu sebagai jimat untuk menen­tukan nasib atau mendongkrak kesuksesan atau untuk kesem­buhan dan keamanan adalah terlarang. Keyakinan seperti itu, besar atau kecil, sedikit atau banyak prosentasenya, adalah pelanggaran akidah yang tidak ditolerir Islam. Mereka telah menjadikan sebab pada benda yang tidak dijadikan sebab oleh Allah untuk mendatangkan manfaat atau menolak bahaya. Karena hakikatnya, yang mampu dan berkuasa untuk melakukan tugas itu hanyalah Allah semata.

Begitu juga apabila sese­orang memakai sesuatu (kertas, kain, kulit binatang dan yang lainnya) yang bertuliskan huruf-­huruf yang terpotong-potong, angka-angka cantik, kalimat-­kalimat yang tidak bisa dipahami maknanya, atau nama-nama selain nama Allah, atau poto­ngan ayat yang dipenggal sembarangan lalu dijadikan jimat, atau ayat yang bercampur mantra syirik adalah termasuk perbuatan yang dilarang oleh Islam. Karena dikhawatirkan ada kesyirikan dalam kalimat atau simbol-simbol tersebut, atau nama-nama asing itu adalah nama syetan, di mana pembuatnya memang sengaja menulis nama itu untuk memanggil syetan dan minta bantuannya, atau ada kekufuran di dalamnya.

Syekh Abdurrahman al-Jirain (salah seorang mufti Saudi Arabia) ketika ditanya tentang pemakaian jimat yang terdiri dari kalimat yang tidak bisa dipahami maknanya, atau bertuliskan huruf-huruf, angka-angka yang tidak diketahui maksudnya, beliau menjawab dengan jawaban yang tegas dan tuntas.

Tidak boleh memakai jimat karena umumnya larangan yang telah disampaikan Rasulullah, “Barangsiapa yang bergantung kepada jimat, maka Allah tidak akan menyempurnakan (kese­hatannya).” (HR. Ahmad dan al­Hakim). Juga riwayat lain, “Barangsiapa yang memakai jimat, maka sungguh ia telah syirik.” (HR. Ahmad dan al­-Hakim, dan dishahihkan al-­Albani). Dan riwayat lain, “Barangsiapa yang meng­gantungkan sesuatu, maka ia di­serahkan pada benda tersebut.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan al­Hakim). [2]

Simaklah sikap tegas yang ditunjukkan Rasulullah saat menghadapi orang yang men­jadikan suatu benda sebagai jimat, yang diyakini bisa me­nyembuhkan penyakit yang ia derita. Imran bin Hushain berkata, “Rasulullah pernah melihat seorang laki-laki yang di lengannya ada ikatan (tali) yang katanya untuk menghindari penyakit kuning. Rasulullah bertanya, `Celaka kamu, apa ini?’ la menjawab, `Ini jimat’. Rasulullah bersabda, `Sesung­guhnya benda itu tidak menam­bahmu kecuali kamu menjadi semakin lemah. Lepaskanlah dan singkirkanlah darimu. Karena jika kamu mati dan benda itu masih bersamamu, maka kamu tidak akan berun­tung selamanya’.” [3]

Di riwayat lain, ‘Uqbah bin Amir al-Juhani berkata, “Telah datang sekelompok orang ke Rasulullah. Rasulullah mem­bai’at sembilan dari mereka dan menyisakan satu orang. Mereka bertanya, `Wahai Rasulullah, engkau membai’at kami semua, kenapa kau sisakan satu orang ini. Rasulullah bersabda, `Ia memakai jimat’. Maka Rasu­lullah mengulurkan tangannya dan memotong jimat tersebut. Lalu bersabda, “Barang siapa memakai jimat, maka sungguh ia telah syirik.” [4]

Dalam riwayat lain, Ruwaifi’ bin Tsabit berkata, “Rasulullah bersabda, “Wahai Ruwaifi’, semoga umurmu memanjang setelah kematianku. Beritahu­kanlah kepada semua manusia bahwa barang siapa yang mengikat jenggotnya (menge­pang), menggantungkan jimat, beristinja’ (bersuci) dengan kotoran binatang atau tulang­nya, maka sesungguhnya Muhammad (Rasulullah) telah berlepas diri darinya.” [5]

Lalu simaklah juga sikap tegas generasi Rasulullah, saat ia melihat ada jimat di rumah­nya dan sedang dipakai istrinya. Abdullah bin Utbah berkata, “Zainab, istri Abdullah bin Mas’ud berkata, Ada seorang wanita tua datang untuk menjampi-jampiku dari suatu penyakit. Di rumah kami ada ranjang yang panjang. Dan Abdullah bin Mas’ud bila mau masuk, biasanya berdehem atau bersuara. Pada waktu itu aku mendengar suaranya, lalu aku merapikan pakaianku. Ia duduk di sampingku, dan tangannya menyentuh tali yang aku kenakan. Ia bertanya, Apa ini?’. Aku menjawab, `Dengannya aku dijampi-jampi dari sakitku’. Maka ia pun menariknya dan memutusnya lalu membuang-nya. Ia berkata, `Keluarga Abdullah sekarang telah bebas dari syirik.’ Aku berkata, `Pada suatu hari, aku keluar dan ada si Fulan yang melihatku, setelah itu mataku langsung berair. Apabila aku dijampi-jampi, air yang keluar itu berhenti, tapi jika aku biarkan, ia terus berair. Ia berkata, `Itulah ulah syetan’. Apabila kamu menaatinya (dengan melakukan jampi­-jampi), ia meninggalkanmu. Apabila kamu memaksiatinya (tidak melakukan jampi-jampi), ia menusuk kedua matamu dengan jarinya. Dan jika kamu melaksanakan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, maka itu akan lebih baik bagimu, dan kamu layak untuk sembuh. Cipratkanlah air ke matamu dan bacalah, `Hilangkanlah rasa sakit wahai Tuhan manusia, sembuhkanlah wahai Yang Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali darimu, kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit’.” [6]

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Hudzaifah, bahwa ia melihat seorang laki–laki di tangannya ada benang untuk mengobati sakit panas, maka dia putuskan benang itu seraya membaca firman Alloh ta’ala, “Dan sebagian besar dari mereka itu beriman kepada Alloh, hanya saja mereka pun berbuat syirik (kepada – Nya).” (QS. Yusuf: 106)

Hudzaifah memahami bahwa tamimah merupakan kesyirikan oleh karena itu beliau membawakan firman Alloh di atas untuk mendalili kesyirikan tersebut. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa menggantungkan sesuatu barang (dengan anggapan bahwa barang itu bermanfaat atau dapat melindungi dirinya), niscaya Alloh menjadikan dia selalu bergantung kepada barang tersebut.” (HR. Imam Ahmad dan At Tirmidzi). Hadits ini menunjukkan bahwa pengguna tamimah akan terlantar dan tidak mendapatkan pertolongan Alloh, ini bukti bahwa tamimah sangat tercela.

Lima dalil di atas menjelas­kan bahwa menjadikan benda-­benda sebagai jimat adalah bagian dari kesyirikan yang pelakunya akan mendapatkan dosa besar. Itulah sebagian dalil yang dijadikan landasan oleh para ulama dalam mengharam­kan penggunaan atau pema­kaian jimat. Orang yang me­makai jimat seperti itu, digan­tung di dirinya atau di tembok rumahnya atau di mobilnya, disimpan di dompet atau di lemarinya, berarti ia telah melakukan pelanggaran akidah dan penyimpangan syari’at.

Ibnu Abdil Bar berkata, “Dalil-dalil di atas adalah peringatan keras agar kita tidak melakukan budaya-budaya Jahiliyyah yang gemar memakai jimat dan kalung-kalung mistik. Mereka mengira bahwa benda-­benda itu mampu melindungi mereka, dan menghindarkan mereka dari bencana dan marabahaya. Padahal perkara itu tidak ada yang sanggup melakukannya kecuali Allah. Dialah yang Kuasa memberikan kesehatan atau bencana, tiada sekutu bagi-Nya. Dan Rasu­lullah melarang keras umatnya untuk melakukan apa yang pernah dilakukan orang-orang Jahiliyyah tersebut. Barangsiapa yang memakai jimat karena takut terjadinya sesuatu yang membahayakannya, semoga Allah menimpakan bencana kepadanya. Dan semoga Allah tidak menyempurnakan kese­hatannya. Dan semoga Allah meninggalkannya dan tidak menyembuhkan penyakitnya.” [7]

Jimat Yang Terdiri Dari Ayat Al-Qur’an atau Hadits?

Telah ditulis dalam Majalah ALKISAH [8]: “Oleh karena itu, masih menurut Kiai Suhar, ketika seseorang hendak belajar ilmu hikmah, yang harus dipersiapkan adalah pemantapan ketauhidan. Hal senada disampaikan oleh Kiai Syafi’I Hadzami. Ia mewanti-wanti agar berhati-hati dalam mengamalkan ilmu hikmah, terutama  yang berupa wafiq, isim, dan azimat. “Sebab, wifiq paling sering mengakibatkan perpindahan keyakinan, dari Allah SWT kepada wifiq,” katanya.

Kontroversi berupa kemusyrikan dalam pemakaian wifiq atau azimat memang pernah ada di masa sahabat Rasululluh SAW. Dalam sebuah hadits riwayat Abdullah bin Mas’ud dikisahkan, Rasulullah SAW pernah mengisyaratkan perihal azimat dan hukumnya. Rosulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan guna-guna adalah syirik.” (HR Al-Imam Ahmad).”

“Lantas, bagaimana jika azimat itu berasal dari Al-Quran atau asma Allah? Tentang hal ini, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama salaf. Sebagian ulama mengatakan boleh, sebagian lagi melarang. Yang membolehkan berpegang pada pemaknaan hadits tentang keharaman jimat-yang mengandung kesyirikan. Mereka adalah Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash dan Aisyah Ummul Mukminin. Namun, periwayatan hadits ini lemah. Imam Muhammad Al-Baqir dan Ahmad bin Hambal juga membolehkannya.

Sementara yang melarang, antara lain, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Hudzaifah, Ugbah bi Amir, dan Ibnu Akim. Mereka berdalil pada hadits Ibnu Mas’ud yang mendengar Rasulullulah SAW bersabda, “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan guna-guna termasuk asyirik.” (HR Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Masalah terbesar bagi penggunaan azimat memang pada pelatihan hati, jangan sampai muncul keyakinan bahwa yang mengakibatkan terjadinya keajaiban adalah azimat tersebut. Sebab, azimat hanyalah refleksi keajaiban Allah SWT. Gara-gara sering terjadi kesalahan (dan kemusyrikan) pada pengunaan azimat itulah, belakangan sebagian ulama melarangnya.

Walhasil, pendalama akidah memang masih diperlukan, terutama mengingat kondisi mental kaum muslimin dewasa itu, agar islam tidak dipahami sebatas pengakuan. Idealnya, akidah islam harus ditingkatkan dengan pemahaman, keyakinan, pengalaman, dan pengamalan. Dan yang terpenting, umat harus tahu, kepada siapa mereka mestinya belajar ilmu hikmah. Ya, kepada para ulama ahli hikmah yang alim dan shaleh. Bukan kepada dukun, paranormal, tukang ruqyah yang memamerkan kehebatan di televisi, apalagi pemburu hantu.”

Tanggapan dari kami :

Kita telah sepakat akan haramnya memakai jimat yang terdiri dari benda-benda atau sesuatu yang bertuliskan nama-­nama yang tidak diketahui, kalimat-kalimat yang tidak bisa dipahami, maka tinggallah satu pertanyaan lagi. Apa hukumnya memakai jimat yang terdiri dari ayat-ayat al-Qur’an murni, atau bertuliskan hadits Rasulullah semata, tanpa dicampur bacaan lainnya termasuk mantra­-mantra?

Ada banyak macamnya jimat dari jenis ini. Ada yang berupa kulit binatang bertuliskan ayat al-Qur’an. Ada juga yang berbentuk al-Qur’an kecil, yang sering disebut dengan al-Qur’an Istanbul. Dan saat memakainya ada yang membungkusnya dengan kain hitam atau kain putih lalu dikasih tali, kemudian dikatungkan di leher seseorang atau di lengannya. Atau al-­Qur’an kecil itu dikantongi dan di bawa ke mana-mana atau disimpan di tempat tertentu. Ada juga yang berupa lempengan besi atau tembaga dan yang sejenisnya, bertuliskan ayat al-Qur’an. Lalu digantung di pintu, di mobil, di toko atau di dinding rumah.

Apabila benda-benda ter­sebut bertuliskan murni ayat atau do’a Rasulullah, tanpa dicampur dengan lainnya (seperti potongan huruf dan angka hijaiyyah atau potongan-potongan simbol-simbol bintang, pedang dan lain sebagainya) lalu dipakai sebagai jimat, maka para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Ada yang membolehkan dan ada juga yang mengharamkan.

Pendapat kelompok per­tama, yaitu yang memboleh­kannya mempunyai beberapa dalil. Di antaranya adalah riwa­yat yang berasal dari Abdullah bin ‘Ukaim. “Barang siapa yang menggantungkan sesuatu, maka ia diserahkan kepadanya.” [9]. Menurut mereka, yang dimak­sud dengan hadits itu adalah, “Barangsiapa yang memakai jimat syirik, maka ia akan diserahkan kepadanya. Dan barang siapa yang memakai sesuatu yang terdiri dari ayat, maka ia diserahkan kepada pemilik ayat tersebut, yaitu Allah.”

Dalil yang kedua bagi me­reka adalah, apa yang telah dilakukan oleh Abdullah bin Amr bin al-ahs. Ia memerin­tahkan anaknya yang sudah baligh untuk membaca do’a sebelum tidur: “Bismillah, A’udzu bi kalimatillahit tammati min ghadhabihi wa `iqabihi wa syarri `ibadihi, wa min hamazatis syayathini wa an yahdhurun.” [10]. Sedangkan anaknya yang masih kecil dan belum bisa membaca­nya, do’a itu ia tulis pada sesuatu lalu dikalungkan di lehernya. Sebagaimana juga yang termaktub dalam kitab Al-Adzakar An-Nawawiyyah diriwayatkan, pada zaman sahabat Rasulullah SAW ada doa perlindungan diri dari godaan setan yang dianjurkan selalu dibaca oleh kaum muslimin. Sedang bagi anak kecil yang belum mampu membaca, dianjurkan menuliskan dan menjadikan doa tersebut sebagai kalung.

Pendapat kelompok kedua, yaitu yang melarangnya. Mereka juga punya banyak dalil. Diantaranya adalah keumuman dalil hadits yang menyatakan bahwa semua jimat adalah syirik. Hal ini berbeda dengan ruqyah. Walaupun Rasulullah menyatakan, “Sesungguhnya ruqyah, jimat dan guna-guna adalah syirik”. Tapi di hadits shahih lainnya yang jumlahnya cukup banyak, Rasulullah menyatakan, “Ruqyah itu tidak apa-apa selama tidak mengan­dung syirik.” Sedangkan tentang jimat, Rasulullah tidak mem­berikan pengecualian atau pengkhususan.

Sedangkan dalil kelompok pertama yang berasal dari Abdullah bin ‘Ukaim dijawab oleh kelompok ini, “Memang benar bahwa Allah dan Rasul­Nya memerintahkan kita untuk mencari kesembuhan lewat ayat-ayat al-Qur’an atau do’a–do’a ma’tsur sebagaimana yang dijelaskan oleh banyak dalil tentang hal itu. Namun yang diperintahkan adalah mencari kesembuhan dengan cara ruqyah (ayat dan do’a itu dibaca bukan ditulis lalu dikalungkan atau ditempelkan).

Dalil yang kedua berupa argumentasi. Mereka menga­takan, “Kalau cara penulisan ayat atau do’a pada sesuatu lalu dikalungkan sebagai jimat adalah hal yang dibolehkan, tentu Rasulullah telah menga­jarkannya kepada kita. Dan ternyata tidak ada satu hadits pun yang memberitahukan bahwa termasuk pengobatan yang dilakukan Rasulullah atau yang diajarkannya adalah dengan menulis ayat atau do’a lalu memakainya atau meng­gantungkannya.

Sedangkan apa yang dila­kukan oleh Abdullah bin Amr bin al-Ash itu adalah ijtihadnya. Rasulullah, mengajarinya untuk membacanya, bukan menulis dan menggantung-kannya. Dan Abdullah bin Amr tidak mutlak menggatung-kannya. Buktinya, kepada anaknya yang besar, ia mengajarinya untuk membaca. Dengan begitu, mungkin saja Abdullah bin Amr menulis do’a tersebut dan mengalungkannya di leher anaknya yang masih kecil tidak bermaksud memfungsikannya sebagai jimat, tapi merupakan cara dia untuk mengajarkan kepada anaknya agar dibaca dan dihafalkan-nya.

Simaklah apa yang dilakukan Rasulullah, ketika memo­honkan perlindungan untuk kedua cucunya yang masih kecil, Hasan dan Husen. Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah pernah membacakan isti’adzah untuk kedua cucunya Hasan dan Husen, seraya bersabda, `Sesungguhnya bapak kalian (Nabi Ibrahim) telah membaca­kannya (juga) untuk kedua anaknya, Ismail dan Ishaq. Yaitu: `Aku mohon perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat­kalimat Allah yang sempurna dari setiap (kejahatan) syetan dan binatang berbisa serta mata yang jahat (membahayakan)’.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits itu Rasulullah membacakan do’a untuk kedua cucunya sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim, bukan menulisnya lalu menggantung­nya di leher atau memasangnya di dinding rumah.

Atas dasar itulah para sahabat Nabi dan kaum Tabi’in sangat keras mencela dan tidak dapat membiarkan pemakaian jimat apa saja. Pada suatu hari Hudzaifah melihat seorang mengikatkan seutas benang pada bagian tubuhnya. Di depan orang itu Hudzaifah membaca firman Allah Ta’ala :“Dan sebagian besar dari mereka tidak benar-benar beriman kepada Allah karena masih mempersekutukan-Nya(dengan yang lain).” (QS.Yusuf: 106)

Bahkan tulisan ayat Al-Qur’an murni saja (tidak bercampur dengan yang bukan Al-Qur’an) untuk dijadikan ‘azimah mereka melarangnya sebagai saddan lidz dzari’ah (menutup pintu dosa besar) dan tidak ada shahabat yang menjadikan Al-Qur’an sebagai jimat.

Memakai “benda bertuah” dan jimat-jimat seperti itu hanya akan menambah berat beban bagi jiwa yang bersangkutan. Hidup menjadi sempit karena karena diikat oleh ikatan tahayul.Rasulullah telah bersabda, ” Barangsiapa menggantungkan (memakai) jimat Allah tidak akan menyempurnakannya (yakni tidak akan menjauhkannya dari musibah) dan barangsiapa menggantungkan tumbal (sejenis jimat untuk menenteramkan perasaan) Allah tidak akan membiarkannya hidup tenteram.” (HR. Imam Ahmad, Al-Hakim dan Thabraniy)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Jubair ra menerangkan keutamaan orang yang memperingatkan dan mengambil jimat yang ada pada saudaranya,bahwasanya Rasulullah bersabda, “Barangsiapa memutus (tali) jimat yang berada di leher seseorang sama dengan orang yang memerdekakan budak.”

Seorang tokoh Tabi’in bernama Ibrahim An-Nakh’iy berkata, bahwa mereka (kaum Tabi’in) menolak segala macam tamimah (jimat), yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an maupun dari bukan Al-Qur’an.

Rasulullah saw juga bersabda “Barang siapa yang menggantungkan jimat, maka semoga tidak disampaikan maksudnya oleh Allah, dan barangsiapa yang mengalungkan wada’ (benda yang diambil dari laut, yang dipergunakan untuk menangkal penyakit ‘ain) maka semoga tidak dipelihara oleh Allah.” (HR. Ahmad: 4/154)

Dari semua penjelasan dan hadits Rasulullah yang telah dijelaskan diatas jika masih ada seseorang yang mengaku kyai, ulama, paranormal, dukun baik secara perorangan ataupun dari pesantren, lembaga perguruan ilmu hikmah atau padepokan-padepokan yang mengajarkan cara pembuatan jimat dan memberikannya pada orang lain untuk berbagai keperluan [11], maka mereka telah berbuat kesesatan yang nyata dan telah berbuat syirik pada Allah SWT .Sebagaimana Rasulullah telah bersabda :”Sesungguhnya jika menggunakan jampi-jampi, jimat-jimat, maka sesungguhnya ia telah menyekutukan (Allah).”(HR. Ahmad:4/156)

Rasulullah juga telah memperingatkan“Barang siapa yang menggantungkan jimat, maka sesungguhnya ia telah menyekutukan (Allah).” (HR. Ahmad:4/156)

Kita harus waspada terhadap usaha Iblis yang sangat pandai mencari cara untuk menyesatkan manusia. Ada orang yang tidak suka dengan pengobatan model pakai dupa dan kemenyan, lalu setan perlihatkan pengobatan dengan model-model yang kelihatan Islami, dibumbui dengan dzikir-dzikir, tulisan-tulisan Arab yang tidak bisa dipahami plus rajah yang diikatkan dikepala, dipinggang atau dituliskan dibenda tertentu seperti telur atau daun lalu dimakan dan sebagainya.

Kita bertanya kepada ulama yang benar-benar memahami Islam ini dengan baik, apakah suatu amalan yang didapatkan atau cara pengobatan yang dilakukan seseorang benar-benar sesuai dengan sunnah Rasulullah Saw atau hanya pembodohan dan perusakan akidah umat. Al-Qur’an menuntun kita “Maka bertanyalah kepada ahli adz-dzikra (ulama), jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl : 43). Yaitu ulama yang benar-benar takut kepada Allah Swt sehingga ia berhati-hati dalam memberikan fatwa atau pernyataan.

Kesimpulan

Memakai jimat yang terdiri dari benda-benda yang dianggap keramat atau punya nilai tersendiri, atau memakai jimat yang terdiri dari tulisan kalimat-kalimat yang tidak jelas maknanya, atau jelas makna kekufuran dan kesyirikannya, begitu juga jimat yang bermuatan potongan huruf­-huruf Arab atau angka-angka, atau yang tertulis penggalan ayat bercampur dengan mantra kesyirikan, semua itu dilarang oleh agama Islam. Dan para ulama sepakat bahwa kita tidak boleh memakainya. Barang siapa yang masih kekeh memakainya setelah menge­tahui hukumnya, maka ia telah melakukan kesyirikan sebagai­mana ditegaskan Rasulullah.

Sedangkan jimat yang ber­tuliskan ayat-ayat al-Qur’an murni atau hadits-hadits Rasulullah (tidak ada simbol-simbol, ayat suci Al-Qur’an atau angka dan huruf yang dipotong-potong), para ulama mempunyai dua pendapat. Yang pertama, memboleh­kannya. Dan yang kedua mengharamkannya. Dan dalil yang mengharamkannya lebih banyak dan lebih kuat statusnya daripada dalil yang membo­lehkannya. Sehingga kesimpulannya, semua jenis jimat dilarang dan diharamkan untuk memilikinya dan menggunakannya atau memakainya. Dengan alasan;

Pertama, hadits Rasulullah yang mengharamkan penggunaan jimat bersifat umum, dan tidak ada dalil lain yang menghusus­kannya. Kedua, cara berlindung kepada Allah dengan cara menulis bacaan perlindungan lalu menggantungkannya tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Ketiga, sebagai langkah preventif dan hati-hati maka kita dilarang menjadikan ayat al-­Qur’an atau do’a ma’tsur sebagai jimat. Kalau hal itu diperbolehkan, maka dikhawa­tirkan akan mengundang penulisan do’a atau kalimat selain al-Qur’an dan al-Hadits untuk dijadikan jimat.

Dan buktinya sekarang sudah banyak jimat yang beredar di masyarakat, yang ketika dibuka ternyata isinya adalah kalimat-­kalimat bukan al-Qur’an dan al-­Hadits, atau ayat dan do’a ma’tsur yang dicampur dengan bacaan lainnya bahkan campur aduk dengan simbol atau potongan huruf dan angka yang aneh, maka hal ini bukanlah termasuk dalam hal perbedaan pendapat para ulama Ahlussunah. Inilah pelecehan ayat-ayat Allah yang tidak bisa dibiarkan terus berlanjut. Di samping itu, orang yang membawa jimat kalaupun isinya al-Qur’an dan al-Hadits murni, maka ia akan terperosok kepada pelecehan ayat. Karena dia akan membawa jimatnya ke mana pun dia pergi, termasuk ke toilet atau kamar mandi. Ini adalah bentuk lain dari pelecehan dan penghinaan ayat-ayat suci al-­Qur’an. Maka dari itu melarang penggunaan jimat secara mutlak, adalah lebih aman dan nyaman serta lebih selamat.

Allah Ta’ala telah berfirman :

Ÿwur äíô‰s? `ÏB Èbrߊ «!$# $tB Ÿw y7ãèxÿZtƒ Ÿwur x8•ŽÛØtƒ ( bÎ*sù |Mù=yèsù y7¯RÎ*sù #]ŒÎ) z`ÏiB tûüÏJÎ=»©à9$# ÇÊÉÏÈ bÎ)ur y7ó¡|¡ôJtƒ ª!$# 9hŽÛØÎ/ Ÿxsù y#Ï©%Ÿ2 ÿ¼ã&s! žwÎ) uqèd ( cÎ)ur x8÷ŠÌãƒ 9Žösƒ¿2 Ÿxsù ¨Š!#u‘ ¾Ï&Î#ôÒxÿÏ9 4 Ü=ŠÅÁム¾ÏmÎ/ `tB âä!$t±o„ ô`ÏB ¾Ínϊ$t6Ïã 4 uqèdur â‘qàÿtóø9$# ÞOŠÏm§9$# ÇÊÉÐÈ

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah. Sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zhalim. Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 106-107).

Fatwa Syaikh Bin Baz –Rahimahullahu [12]

Tanya : Apa hukum jimat dari Al Qur’an dan selainnya?

Jawab :Adapun jimat dari selain Al Qur’an seperti tulang, kertas mantra, kulit siput, bulu serigala dan yang sejenisnya adalah diharamkan berdasarkan dengan teks. Tidak boleh dikalungkan pada anak kecil atau besar, berdasarkan pada sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.: “Barang siapa yang berkalung tamimah[13] (jimat), maksudnya tidak akan disempurnakan oleh Allah dan barang siapa menggantungkan Wada’ah[14] dirinya tidak akan dibuat tenang oleh Allah” dalam riwayat lain dikatakan: “Barang siapa yang berkalung jimat, maka dia telah musyrik”.

Sedangkan apabila jimat itu dari Al Qur’an atau doa-doa yang baik dan dikenal, ulama berselisih pendapat tentangnya. Sebagian mereka mengatakan: “Boleh dikalungkan”. Pendapat ini diriwayatkan dari para salaf yang menganggapnya seperti bacaan untuk orang sakit. Pendapat kedua mengatakan bahwa hal itu tidak boleh. Inilah yang dikenal dari Abdullah bin Mas’ud dan Hudzaifah rhadiallahu anhum. Dan jamaah dari golongan salaf dan khalaf. Mereka mengatakan: Tidak boleh mengalungkannya meskipun dari Al Qur’an guna membendung jalan dan memotong hal yang berbau syirik serta melakukan makna umum hadis, karena hadis-hadis yang melarang jimat adalah hadis-hadis umum dan tidak mengecualikan sesuatu pun. Maka yang wajib dilakukan adalah mengambil makna umum, sehingga jimat apa pun asal hukumnya adalah tidak diperbolehkan, karena akan mengakibatkan mengalungkan selain jimat Al Qur’an dan menimbulkan kerancuan. Maka dari itu semuanya harus dilarang, dan inilah yang benar karena kekuatan dalilnya.

Apabila kami membolehkan jimat dari Al Qur’an dan doa-doa yang baik, kami tidak membuka jalan ini dengan lebar sehingga setiap orang akan mengalungkan apa yang dikehendakinya. Dan apabila dia ditentang, maka dia akan berkata: “Ini dari Al Qur’an” atau “Ini dari doa-doa yang baik”, yang mana dengan begitu akan membuka jalan dan pelanggaran bertambah luas serta semua jimat saling bercampur aduk.

Ada alasan ketiga, yaitu bahwa jimat-jimat itu terkadang dibawa masuk ke kamar kecil dan tempat-tempat kotor. Sebagaimana diketahui bahwa firman Allah suci dari itu semua, dan tidak layak untuk masuk kamar kecil dengan membawa potongan ayat suci Al Qur’an.


[1] Majalah ALKISAH No. 04/13-26 Februari 2006. Halaman 27

[2] Fatwa tertulis tanggal 24 Sya’ban 1418 H

[3] HR. Ahmad, no. 19149 dan no. 3522, dan dishahihkan adz-Dzahabi

[4] HR. Ahmad dan Hakim, dan dishahihkan al­-Albani

[5] HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i, serta dishahihkan al-Albani

[6] HR. Abu Daud dan dishahihkan al-Albani

[7] Kitab at Tamhid: 17/ 163

[8] Majalah ALKISAH No. 04/13-26 Februari 2006. Halaman 28-29

[9] HR. Ahmad, Tirmidzi dan al-Hakim, dan dihasankan al-Albani

[10] Do’a tersebut diriwayatkan Abu Daud, Tirmidzi dan dihasankan al­-Albani

[11] Biasanya mereka mengambil pengetahuan tentang pembuatan dan fungsi-fungsi jimat diambil dari kitab Syamsul Ma’arif, Mujarrobat Akbar. Sedangkan ilmu untuk membuat jimat dari menyamak kulit berbagai macam binatang mereka mengambil acuan dari kitab Jamiatul Hayawain

[12] Sumber Fatwa : Bin Baz Buku Fatwa, Peringatan, dan Nasihat, Maktabah Sunnah, halaman 214

[13] Tamimah : sesuatu yang dikalungkan di leher anak anak sebagai penangkal atau pengusir penyakit, pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang, dan lain sebagainya.

[14] Wada’ah : sesuatu yang diambil dari laut, menyerupai rumah kerang, menurut anggapan orang orang jahiliyah dapat digunakan sebagai penangkal penyakit. Termasuk dalam pengertian ini adalah jimat

6 thoughts on “JIMAT (WIFIQ, RAJAH, ISIM) ANTARA YANG MEMBOLEHKAN DAN YANG MENGHARAMKAN

  1. bismillahirrahmanirrahiim..
    assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh??
    semoga atas ilmu ni, bisa bermanfaat, buat saya khusunya, mohon kiranya diberi izin dan mengkofi dari blog saudaraku ini ya??
    dengan anugrah ilmu ini mudah2an allah merahmati saudarakuu.,. amiin ya Allah

  2. berarti ada ruqyah syirkiyyah ada rukyah sayar’iyyah. Ada tasawuf syirikiyyah, ada tasawuf syar’iyyah. Ada jimat Syirkiyyah ada jimat Syariyyah (disebut Ta’widz)

  3. Semua para Waliyulloh (Ulama), memiliki ilmu hikmah sebagai bagian dari penyebaran agama Islam, termasuk ketika para Waliyullah sebagai rahmatan yang salah satunya sebagai obat bagi masyarakat (yang sakit baik rohani maupun jasmaninya) memakai syareat yang sudah teruji antara lain dalam kitab Mujarobat sebagai senjata orang-orang mukmin ketika mendapatkan suatu masalah.

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s