PEMALSUAN HADITS DALAM ILMU HIKMAH


Diungkapkan majalah ALKISAH [1]: “Dilain pihak, mereka yang menerima ilmu hikmah juga punya hujjah atau argumentasi. Dalam hal wifiq, misalnya, dalam kitab Khazinatul Asrar karya Sayid Muhammad Haqqi An-Nazili, halaman 72, Imam An-naisaburi meriwayatkan ucapan Ibnu Abbas yang menganjurkan penulisan nama tujuh pemuda shaleh penghuni Gua Kahfi. Faedahnya : orang yang bersangkutan terjaga dari kebakaran, juga bisa untuk mendiamkan tangis anak kecil yang rewel. Dalam kitab yang sama juga dinukilkan hadits Rasulullah SAW (tanpa rawi), “Ajarilah anak-anakmu nama –nama Ashabul Kahfi, karena jika sesungguhnya jika nama-nama itu ditulis di pintu, rumah itu tidak akan terbakar; jika ditulis di perhiasan, tidak tercuri; jika ditulis di perahi, tidak tenggelam. Nama-nama mereka adalah Yamlikha, Maktsalina, Matsalina, Marnusy, Dabarnusy, Syadznusy, Kafsyathathiyusy, Qithmir.”


Sesungguhnya penjelasan diatas yang telah dikemukakan majalah ALKISAH adalah bathil dan berisi kedustaan atas hadits Rasulullah dan Ibnu Abbas, dan sudah sangat jelas kitab Khazinatul Asrar karya Sayid Muhammad Haqqi An-Nazili adalah kitab sesat sebab menjadikan hadits palsu (yang dikatakan tanpa rawi) sebagai dalil pembenaran jimat. Sebab tidak ada satupun para ulama ahli hadits membenarkan penggunaan dalil dari hadits tanpa rawi kecuali harus melalui penelitian yang sangat teliti! Kita bahwa tidak boleh menyebarkan hadits-hadits dan meriwayatkannya tanpa terlebih dahulu melakukan Tatsabbut (cek-ricek) mengenai keshahihannya sebab jika ada orang yang melakukan hal itu, maka cukuplah itu sebagai kedustaan terhadap Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda, “Sesungguhnya berdusta terhadapku bukanlah berdusta terhadap salah seorang diantara kamu; barangsiapa yang berdusta terhadapku secara sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di api neraka.” (HR: Muslim dan selainnya)

Para pengikut sufi memang terkenal suka memalsukan hadits dan suka menggunakan hadits tanpa rawi, tetapi langsung mempercayai apa yang dikatakan mursyidnya bahwa Rasulullah telah menemuinya dalam mimpi. Mengenai hal ini, terdapat isyarat dari makna hadits Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Cukuplah seseorang itu berdusta manakala ia menceritakan semua apa yang didengarnya (tanpa disaring lagi dan tidak ada penelitian-red.,).” (HR: Muslim) dan hadits lainnya dari riwayat Abu Hurairah. [2]

Besar kemungkinan dalam kitab Khazinatul Asrar karya Sayid Muhammad Haqqi An-Nazili telah menukil ucapan dusta Abu ‘Ishmah Nuh bin Abi Maryam. Sebab menurut pengakuan Abu ‘Ishmah Nuh bin Abi Maryam bahwa dia pernah memalsukan dari Ibnu Abbas beberapa Hadits yang hubungannya dengan Fadhilah Qur’an satu Surah demi Surah.[3]

Majalah ALKISAH juga menjelaskan [4]: Meski diyakini sebagian bersumber dari Rasulullah SAW, dan sebagian dari ulama salaf yang shaleh, salafush-shalih, periwayatan ilmu hikmah memang jarang mencapai derajat shahih. Bahkan kadang tidak terdapat sanadnya.

Menurut K.H. Syafi’I Hadzami, seorang ulama Betawi, sebagian hadits tentang ilmu hikmah tersebut memang diriwayatkan secara sirri, rahasia, sehingga sering kali sanadnya hanya mencapai kualitas dha’if (lemah) atau hasan (baik). Sebagian lagi diperoleh ulama dari Rasulullah SAW melalui mimpi. “Mimpi bertemu rasulullah SAW adalah sebuah kebenaran,” kata Mualim Syafi’i. dalam hal hukum ia tidak bisa  dijadikan sandaran. Tapi, dalam hal fadha—ilul a’mal, keutamaan ibadah, amalan yang didapat dari mimpi, bertemu Rosulullah SAW boleh diamalkan.”

Sekali lagi saya katakan, Tidak ada seorangpun dari ulama ahli hadits meriwayatkan hadits secara rahasia dan tidak ada satupun para ulama ahlussunah mengakui kebenaran hadits yang tidak ada perawinya apalagi yang diakui didapat dalam mimpi [5]. Allah berfirman, dalam QS Al-Maidah ayat 3 : bahwa agama Islam itu telah disempurnakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam , dan telah diridhoi-Nya. Jadi tidak ada satu halpun yang luput dari penyampaian risalah oleh Nabi hingga mengharuskan Rasulullah menemui seseorang dalam mimpi. Sehingga jika terdapat hal-hal baru yang berhubungan dengan ibadah, maka itu adalah Bid’ah.

Ru’yatun Nabi

Ru’yatun nabi bisa diartikan mimpi bertemu dengan nabi Muhammad SAW. Kalau dalam pengertian ini, maka bermimpi ketemu beliau di mana di dalam mimpi itu beliau menetapkan hukum agama, tidak bisa dijadikan sumber hukum. Sebab risalah Islam telah selesai semenjak beliau wafat. Hal yang demikian itu sudah menjadi ittifaq para ulama sepanjang zaman.

Namun bisa mimpi bertemu nabi SAW itu tidak ada kaitannya dengan penetapan hukum, misalnya nabi SAW tersenyum, atau berbicara tentang hal-hal di luar hukum Islam yang baku, boleh-boleh saja dan mungkin-mungkin saja.

Kalau hari ini ada orang yang mengaku bermimpi bertemu nabi SAW, lalu mengatakan bahwa beliau SAW telah menetapkan suatu hukum yang merupakan bagian dari agama, ketahuilah bahw mimpi itu bohong besar. Yang terjadi sesungguhnya bukan dia bertemu nabi, tetapi bertemu dengan syetan yang terkutuk.

Memang benar ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak bisa diserupakan dengan syetan. Sebagaimana hadits berikut:

Dari Abu Hurairah ra berkata: Aku mendengar Nabi SAW bersabda, “Siapa yang melihatku di dalam mimpi, maka akan melihatku dalam jaga. Dan syetan tidak bisa menyerupaiku.” (HR Bukhari)

Tapi masalahnya, apa orang yang mimpi itu sudah mengenal rupa Rasulullah SAW dengan tepat 100%? Yang jelas sekarang ini, tidak ada orang yang pernah hidup di masa beliau SAW hidup. Sehingga tidak ada seorang pun yang tahu persis seperti apa rupa beliau SAW.

Maka kalau ada syetan masuk ke dalam mimpi seseorang dengan berkostum Arab, lengkap dengan jenggot, unta, tasbih, pedang dan hidung mancung, lalu mengaku sebagai nabi Muhammad SAW, siapa yang bisa memastikan bahwa dia memang Rasulullah SAW atau syetan yang menyamar? Tidak ada seorang pun yang bisa memastikan.

Tapi kita bisa memastikan satu hal. Kalau orang dalam mimpi itu mengaku sebagai nabi SAW, lalu menetapkan suatu hukum agama, pastilah dia bukan Rasulullah SAW. Sebab risalah sudah berakhir dengan wafatnya beliau. Maka tidak ada kamus bagi Rasulullah SAW untuk datang lewat mimpi seseorang dan memberikan syariat baru edisi revisi.

Imam An-Nawawi menyebutkan [6]: Misalnya pada malam 30 bulan Sya’ban orang-orang tidak melihat hilal (bulan sabit), lalu ada orang yang mimpi bertemu Rasulullah SAW yang bersabda, “Malam ini sudah masuk awal Ramadhan.” Maka tidak sah berpuasa esoknya dengan landasan mimpi orang itu, baik bagi yang bermimpi maupun bagi orang lain.

Dalam kesempatan lain, beliau juga menyampaikan argumen lain. Katakanlah seseorang memang benar-benar bertemu Rasulullah SAW dalam mimpinya. Dan katakanlah juga bahwa 100% bisa diyakinkan bahwa yang muncul itu memang sosok Rasulullah SAW. Dan saat itu Rasulullah SAW menetapkan hukum tertentu. Begitu orang itu terjaga, apa yang didapatnya dari Rasulullah SAW dalam mimpi tetap saja tidak bisa diterima sebagai sebuah riwayat yang shahih. Sebab salah satu syarat seorang perawi itu harus ‘aqil (orang yang berakal). Sedangkan orang yang tidur, dia tidak termasuk berakal. Jadi kalaupun dia meriwayatkannya, tetap tidak bisa diterima secara aturan dasar periwayatan hadits.

Penyebaran Hadits palsu

Di antara bencana besar yang menimpa kaum Muslimin sejak periode-periode pertama adalah tersebar luasnya hadits-hadits Dla’if (lemah) dan Mawdlu’ (palsu) di tengah mereka. Tidak ada seorang pun yang dikecualikan di sini sekalipun mereka adalah kalangan para ulama mereka kecuali beberapa gelintir orang yang dikehendaki Alloh ‘Azza wa Jalla, di antaranya para imam hadits dan Nuqqaad (Para Kritikus hadits) seperti Imam al-Bukhary, Ahmad, Ibn Ma’in, Abu Hatim ar-Razy dan ulama lainnya.

Penyebaran hadits palsu yang secara meluas tersebut mengakibatkan banyak dampak negatif, di antaranya ada yang terkait dengan masalah-masalah aqidah yang bersifat ghaib dan di antaranya pula ada yang berupa perkara-perkara Tasyri’ (Syari’at).

Adalah hikmah Alloh ‘Azza wa Jalla Yang Maha Mengetahui, bahwa Dia tidak membiarkan hadits-hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang suka berbuat syirik dan bid’ah terhadap agama ini untuk tujuan-tujuan tertentu menjalar ke tubuh kaum Muslimin tanpa mengutus orang yang akan menyingkap kedok yang menutupi hakikatnya dan menjelaskan kepada manusia permasalahannya. Mereka itulah para ulama Ahli hadits dan pembawa panji-panji sunnah Nabawiyyah yang didoakan Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, yang artinya: “Semoga Alloh mencerahkan (menganugerahi nikmat) seseorang yang mendengarkan perkataanku lalu menangkap (mencernanya), menghafal dan menyampaikannya. Betapa banyak orang yang membawa ilmu tetapi tidak lebih faqih (untuk dapat menghafal dan menyampaikannya) dari orang yang dia sampaikan kepadanya/pendengarya (karena ia mampu menggali dalil sehingga lebih faqih darinya).” (HR: Abu Daud dan at-Turmudzy yang menilainya shahih).

Para imam tersebut telah menjelaskan kondisi kebanyakan hadits-hadits tersebut dari sisi keshahihan, kelemahan atau pun kepalsuannya dan telah membuat dasar-dasar yang kokoh dan kaidah-kaidah yang mantap di mana siapa saja yang menekuni dan mempelajarinya secara mendalam untuk mengetahuinya, maka dia akan dapat mengetahui kualitas dari hadits apa pun meski mereka (para imam tersebut) belum memberikan penilaian atasnya secara tertulis. Itulah yang disebut dengan ilmu Ushul Hadits atau yang lebih dikenal dengan Ilmu Mushthalah Hadits.

Para ulama generasi terakhir (al-Muta`akkhirin) telah mengarang beberapa buku yang khusus untuk mencari hadits-hadits dan menjelaskan kondisinya secara terbuka tidak ada yang dirahasiakan, dan selalu melalui penelitian yang sangat detail, di antaranya yang paling masyhur dan luas bahasannya adalah kitab al-Maqaashid al-Hasanah Fii Bayaan Katsiir Min al-Ahaadiits al-Musytahirah ‘Ala al-Alsinah karya al-Hafizh as-Sakhawy. Demikian juga buku semisalnya seperti buku-buku Takhriijaat (untuk mengeluarkan jalur hadits dan kualitasnya) yang menjelaskan kondisi hadits-hadits yang terdapat di dalam buku-buku pengarang yang buku berasal dari Ahli Hadits (Ulama hadits) dan buku-buku yang berisi hadits-hadits yang tidak ada asalnya seperti buku Nashb ar-Raayah Li Ahaadiits al-Bidaayah karya al-Hafizh az-Zaila’iy, al-Mugny ‘An Haml al-Asfaar Fii al-Asfaar Fii Takhriij Maa Fii Ihyaa` Min al-Akhbaar karya al-Hafizh al-‘Iraqy, at-Talkhiish al-Habiir Fii Takhriij Ahaadiits ar-Raafi’iy al-Kabiir karya al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalany, Takhriij Ahaadiits al-Kasysyaaf karya Ibn Hajar juga dan Takhriij Ahaadiits asy-Syifaa` karya Imam as-Suyuthy.

Dalam satu kajian teliti yang dibuat oleh Mu’ammal bin Ismail, beliau telah menemui orang yang telah membuat hadits palsu. Kata beliau: “Aku telah diriwayatkan Hadits ini oleh seorang Syeikh", lalu aku bertanya: “Siapakah yang meriwayatkan Hadits ini kepada anda?” Syeikh itu menjawab: “Seorang laki-laki di Madain, dia masih hidup.” Aku pergi menemui laki-laki itu lalu bertanya: “Siapakah yang meriwayatkan Hadits ini kepada anda?” Orang itu menjawab: “Saya telah diberitahu oleh seorang Syeikh di Wasith.” Aku pergi menemuinya dan berkata: “Siapakah yang meriwayatkan Hadits ini kepada anda?” Dia menjawab: Seorang Syeikh di Abadan. Saya pergi menemui Syeikh itu bersama-sama dengan Syeikh dari Bashrah tadi. Dia memegang tanganku lalu membawaku masuk ke dalam sebuah rumah, tiba-tiba aku dapati kaum sufi yang berada dalam rumah itu dan bersama-sama mereka ada seorang Syeikh mereka. Saya bertanya: “Siapakah yang meriwayatkan hadits ini kepada anda?” Syeikh itu menjawab: “Tiada siapapun yang meriwayatkan hadis itu kepadaku, tetapi kami telah melihat manusia telah jauh dari Al-Quran lantas kami buatlah hadits ini untuk mereka bagi memalingkan hati mereka kepada Al-Quran”.”
Justru itu tidaklah begitu mengherankan bagi kita bahawa terekat-tarekat sufi merupakan "lubuk" terkumpulnya hadis-hadis mawdhu’ lalu melalui merekalah banyak disebarkan perkara-perkara palsu tersebut kepada masyarakat atas nama tarhib dan targhib.  Mereka beranggapan tidak menjadi kesalahan untuk menyebarkan riwayat-riwayat palsu asalkan saja kandungan hadis tersebut membawa ke arah kebaikan. Pada tanggapan mereka kedustaan yang mereka lakukan hanyalah semata-mata untuk membantu agama Allah. Adakah mereka ini merasakan ayat-ayat al-Qur’an serta hadis-hadis Nabi tidak cukup sempurna untuk dijadikan landasan bagi tarhib dan targhib? Ternyata pemikiran rusak ini berpangkal dari kejahilan mereka terhadap syari’at Islam. Berpuncak dari tangan-tangan kotor mereka inilah maka banyak amalan-amalan bid’ah tersebar dalam masyarakat. Amalan bid’ah ini pernah dicela oleh Rasulullah s.a.w. dalam sabdanya:"Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (al-Sunnah), serta seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap yang diada-adakan (bidaah) adalah sesat." [7]
Golongan sufi adalah golongan zindik dan munafik yang sebenarnya menjadi musuh dalam selimut. Maka mereka berusaha merusakkan Islam dari dalam dengan membuat banyak hadits-hadits palsu. Golongan ini dikatakan telah membuat empat belas ribu hadis palsu. Abdul-Karim bin al-Auja’ saja telah mengaku membuat empat ribu hadis mengenai halal dan haram. Maisaroh bin Abdir Rabbik Al-Farisy pernah mengakui bahwa dia sendiri telah memalsukan Hadits hadits yang berhubungan dengan Fadhilah Qur'an (Keutamaan Alqur'an) sebanyak + 70 hadits, yang sekarang banyak diamalkan oleh Ahli-ahli Bid'ah.
 Mereka ini telah membuat hadits-hadits yang menyebarkan keyakinan yang syirik, amalan-amalan bid’ah, menganjurkan perkara mungkar, perkara yang melemahkan umat Islam dan lain-lain.

Tidakkah mereka takut dengan ancaman Rasulullah? Sebab Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Barangsiapa yang telah berdusta terhadapku secara sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di api neraka.” (Hadits Shahih Mutawatir)


[1] Majalah ALKISAH No. 04/13-26 Februari 2006. Halaman 27

[2] Orang-orang sufi, dalam rangka merealisir ajaran syirik dan bid’ahnya, rela menempuh jalan yang sesat dan tanpa ilmu dalam ibadahnya, yaitu :

  1. Menjauhkan diri dari menuntut ilmu syar’i. Dikatakan oleh Al-Junaid, seorang pentolan sufi, “Yang paling aku sukai pada seorang pemula, bila tak ingin berubah keadaannya, hendaknya jangan menyibukkan hatinya dengan tiga perkara berikut : mencari penghidupan, menimba ilmu (hadits) dan menikah. Dan yang lebih aku sukai lagi, pada penganut sufi, tidak membaca dan menulis. Karena hal itu hanya akan menyita perhatiannya”. (Quwat Al-Qulub, III/35). Demikian pula yang dikatakan Abu Sulaiman Ad-Darani, “Jika seseorang menimba ilmu (hadits), bepergian untuk mencari penghidupan, atau menikah, sungguh ia telah condong kepada dunia”. (Al-Futuhat Al-Makkiyah, Ibnu Arabi, I/37)
  2. Menghancurkan sanad-sanad hadits dan menshahihkan hadits-hadits dha’if (lemah), munkar dan maudhu’ (palsu) dengan cara kasyaf. Sebagaimana dikatakan Abu Yazid Al-Busthami, “Kalian mengambil ilmu dari mayat ke mayat. Sedang kami mengambil ilmu dari yang Maha Hidup dan tidak pernah mati. Hal itu seperti yang telah disampaikan para pemimpin kami : “Telah mengabarkan pada aku hatiku dari Rabbku”. Sedang kalian (maksudnya, kalangan Ahlu Al-hadits) mengatakan : “Telah mengabarkan kepada kami Fulan”. Padahal, bila ditanya dimana dia (si Fulan tersebut) ?. Tentu akan dijawab : “Ia (Fulan, yakni yang meriwayatkan ilmu atau hadits tersebut) telah meninggal”. “(Kemudian) dari Fulan (lagi)”. Padahal, bila ditanyakan dimana dia (Fulan tadi)? Tentu akan dijawab : “Ia telah meninggal”. (Al-Kawakib Ad-Durriyah, hal. 226 dan Al-Futuhat Al-Makkiyah, I/365)
    Dikatakan pula oleh Ibnu Arabi, “Ulama Tulisan mengambil peninggalan dari salaf (orang-orang terdahulu) hingga hari kiamat. Itulah yang menjauhkan atau menjadikan timbulnya jarak antara nasab mereka. Sedang para wali mengambil ilmu dari Allah (secara langsung -peny). Yakni, dengan cara Ia (Allah) mengilhamkan ke dalam hati para wali”. (Al-Kawakib Ad-Durriyah, hal. 246 dan Rasail, Ibnu Arabi, hal.4). Dikatakan oleh Asy-Sya’rani, “Berkenan dengan hadits-hadits. Walaupun cacat menurut para ulama ilmu hadits, tapi tetap shahih menurut ulama ilmu kasyaf”. (Al-Mizan, I/28)
  3. Menganggap menimba ilmu (hadits) sebagai perbuatan aib dan merupakan jalan menuju kemaksiatan serta kesalahan. Ibnu Al-Jauzi menukil, bahwa ada seorang syaikh sufi melihat seorang murid membawa papan tulis (baca : buku), maka dikatakannya kepada murid tersebut : “Sembunyikan auratmu” (Tablis Iblis, hal. 370). Bahkan, mereka saling mewariskan sebagian pameo-pameo yang bertendensi menjauhkan peninggalan salaf, umpamanya : Barang siapa gurunya kitab, maka salahnya lebih banyak dari benarnya.

[3] Kitab Al-Baa’itsul Hatsiits

[4] Majalah ALKISAH No. 04/13-26 Februari 2006. Halaman 27

[5] Seringkali para sufi sesat berdusta dengan sesumbar ditemui Rasulullah dalam mimpi padahal tidak demikian, mereka dengan hawa nafsunya sengaja berbohong demi membenarkan prilaku syiriknya.

[6] Di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazab jiid 6 halaman 292

[7] Hadits riwayat Imam Muslim di dalam Shahihnya, no: 867

7 thoughts on “PEMALSUAN HADITS DALAM ILMU HIKMAH

  1. klo terkait dengan kasyaf atopun ilham , memang tidak boleh di jadikan hujjah. Untuk orang lain Melainkan hanya untuk dirinya sendiri tentunya ilham dan kasyaf yg tdk bertentangan dengan syariat -ihya ulumuddin-

  2. hati2 bila merasa brtmu dgn rosul dalam mimpi!
    Biasa na jika bnar2 yg datang itu rosul asli dia akan brkata ‘AKU ROSUL!’ dan bukan ada seseorang yg mengatakn atau mnunjuk kpd rosul ,bsa jdi itu ulah jin2 kafir

  3. Bagaimana berkomentar tentang ilmu hikmah sedangkan tidak menpelajarinya sampai selesai
    Bagaimana dapat bicara ilmu hikmah tapi berkecimpung saja tidak
    Mana bisa bilang ketupat sayur nggak enak lah melihat saja belum pernah….
    jalan mu jalan ku berbeda
    walau Rabb mu sama dengan Rabb Ku

  4. setelah saya simak sepintas, dari komentar2 di atas, saya setuju, cuma persoalannya, kita harus proporsional, artinya menempatkan sesuatu sesuai porsinya. pertama jangan melihat tasawuf memakai kaca mata fiqih, atau yang lainnya. jangan melihat sejarah dengan kacamata sekarang tapi lihat dengan kaca mata sejarah. sebagai contoh. Nabi Muhammad disebut ummi (tidak bisa baca dan tulis) namun kaca mata teologi Nabi Muhammad Fathonah (cerdas) jika kita melihat tidak proporsional maka tersirat dihati kita ini saling bertentangan. namun kalau kita mau melihat secara proporsional maka sebenarnya ummi bagi nabi Muhammad bagian dari fathonah. artinya tidak bisa baca dan tulis jatuhnya kepada Nabi Muhammad itu merupakan fathonahnya Nabi andai saja Nabi bisa baca dan bisa Nulis tentu al-Qur’an dianggap tlisan Muhammmad dan kisah di dalam al-Qur’an merupakan hasil bacaan Muhammad pada kitab terdahulu. dan jikatidak bisa baca tulis jatuhnya pada kita itumah bodoh. karena itu kembali pada persoalan tadi tentang kitab Khazinah al-Asrar, jangan hanya melihat kulit mari kita melihat dari berbagai dimensi. coba ambil satu ayat al-Quran lalu lihat dari berbagai corak tafsir misalnya, baik ilmi, flsafi, sufi, dan tafsir isyari,….nah di situ kita akan lelihat secara proporsional. masalah kitab salah jangan hanya dibeban pada kitab atau pengarang kitab, tapi lihat juga percetakan, dan siapa yang menulis kitab itu, sebeb kitab terdahulu tidak lahir seperti sekarang, karena tulis tidak langung seperti sekarang. misalnya tulisan al-Qurn kan diawal-awal manu skrif, kemudian berkembang seperti sekarang, dan begitu seterusnya. pertanyaan berikutnya, kenapa kitab itu yang dilahirkan pada abad yang lalu bisa eksis sampai sekarang? ini juga perlu renungan, karena itu saran saya jangan terlalu cepat memihak, tapi coba lihat secara objektif, jangan mengatakan sesat sementara kita sendiri yang sesat, bayank orang gila menyebut gila sama orang sehat,…

  5. kalau yang dipelajari hanya syariat saja ya jangan sok pintar nganggap ilmu hikmah tidak benar. buah yang dimakan cuma kulitnya kok ngaku sudah tau rasa buahnya. kalo yang dimakan buah duren malah celaka kalau berani ngaku tau rasa daging buahnya. wong tingkatan masih syariat taunya fiqih doang aja SOK PINTAR.

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s