SHALAWAT BID’AH SEBAGAI ILMU HIKMAH

Kita banyak mendengar para kyai merekomendasikan shalawat sebagai ilmu hikmah yang berguna agar kesusahan dihilangkan, hajat dikabulkan, sembuh dari penyakit atau juga ingin mendapatkan suatu kekuatan ghaib dengan menggunakan lafazh-lafazh bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam yang diada-adakan (bid’ah) yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam, para sahabat, tabi’in, juga tidak oleh para imam mujtahid.

Ketahuilah, sesungguhnya lafazh-lafazh shalawat hanyalah buatan sebagian masyayikh (para tuan guru) tarekat sufiyah di kurun belakangan ini. Lafazh-lafazh shalawat itu kemudian menjadi terkenal dikalangan orang awam dan ahli ilmu, sehingga mereka membacanya lebih banyak daripada membaca shalawat tuntunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam. Bahkan mungkin mereka malah meninggalkan lafazh shalawat yang benar, lalu menyebarluaskan lafazh shalawat ajaran para syaikh mereka.

Jika kita renungkan mendalam makna shalawat-shalawat tersebut, niscaya kita akan menemukan di dalamnya pelanggaran terhadap petunjuk Rasul, orang yang kita shalawati. Di antara shalawat-shalawat bid’ah yang sering digunakan untuk mendapatkan ilmu hikmah adalah:

1.    Shalawat Nariyah

Shalawat Nariyah telah dikenal oleh banyak orang. Mereka beranggapan, barangsiapa meruqyah shalawat Nariyah sebanyak 4444 kali dengan niat agar kesusahan dihilangkan, atau hajat dikabulkan, sembuh dari penyakit dengan membacanya niscaya akan terpenuhi.

Ini adalah anggapan batil yang tidak berdasar sama sekali. Apalagi jika kita mengetahui lafazh bacaannya, serta kandungan syirik yang ada di dalamnya. Secara lengkap, lafazh shalawat nariyah itu adalah sebagai berikut,“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga, dan sahabat-nya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui.”

Aqidah tauhid yang kepadanya Al-Quranul Karim menyeru, dan yang dengannya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam mengajarkan kita, menegaskan kepada setiap muslim agar meyakini bahwa hanya Allah semata yang kuasa menguraikan segala ikatan. Yang menghilangkan segala kesedihan. Yang memenuhi segala kebutuhan dan memberi apa yang diminta oleh manusia ketika ia berdo’a.

Setiap muslim tidak boleh meruqyah dan memohon kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakit-nya, bahkan meski yang dimintanya adalah seorang malaikat yang diutus atau nabi yang dekat (kepada Allah).

Kalau ada yang bertanya : Lalu apa hubungannya antara shalawat nariyah dengan kesyirikan? Bukankah ini sekedar wasilah saja? Maka kita menjawab: Isi shalawat itu meminta pertolongan kepaa Nabi yang sudah meninggal, tidak kepada Allah, ini adalah kesyirikan. Padahal aqidah tauhid yang diserukan oleh al-Qur’an dan diajarkan oleh Rasulullah menganjurkan supaya kita meyakini bahwa Allah-lah yang menghilangkan segala kesedihan dan memenuhi segala kebutuhan serta melarang kita berdoa kepada selain Allah, baik untuk melepaskan kesedihan atau kesembuhan penyakit, sekalipun kepada malaikat, nabi atau orang yang shalih.

Sebagaimana Allah telah  berfirman,

Artinya : “Katakanlah, ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memin-dahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksaNya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (Al-lsra’: 56-57)

Para ahli tafsir mengatakan, ayat di atas turun sehubungan dengan sekelompok orang yang berdo’a dan meminta kepada Isa Al-Masih, malaikat dan hamba-hamba Allah yang shalih dan jenis makhluk jin.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Ayat ini mencakup setiap sesuatu yang diibadahi selain Allah, sama saja baik dari kalangan malaikat, jin atau pun manusia.”[1]

Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam akan rela, jika dikatakan bahwa beliau kuasa menguraikan segala ikatan dan menghilangkan segala kesedihan. Padahal Al-Qur’an menyeru kepada beliau untuk memaklumkan,

Artinya : “Katakanlah, ‘Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al-A’raaf: 188)

“Seorang laki-laki datang kepada Rasululllah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam lalu ia berkata kepada beliau, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu.” Maka Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau menjadikan aku sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah? Katakanlah, “Hanya atas kehendak Allah semata.” [2]

Di samping itu, di akhir lafazh shalawat nariyah tersebut, terdapat pembatasan dalam masalah ilmu-ilmu Allah. Ini adalah suatu kesalahan besar. Seandainya kita membuang kata “Bihi” (dengan Muhammad), lalu kita ganti dengan kata “BiHaa” (dengan shalawat untuk Nabi), niscaya makna lafazh shalawat itu akan menjadi benar. Sehingga bacaannya akan menjadi seperti berikut ini:“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk Muhammad, yang dengan shalawat itu diuraikan segala ikatan …”

Hal itu dibenarkan, karena shalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam adalah ibadah, sehingga kita boleh bertawassul dengannya, agar dihilangkan segala kesedihan dan kesusahan. Kenapa kita membaca shalawat-shalawat bid’ah yang merupakan perkataan manusia, kemudian kita meninggalkan shalawat lbrahimiyah yang merupakan ajaran AI-Ma’sum?

2.  Shalawat Basyisyiyah

lbnu Basyisy berkata, “Ya Allah, keluarkanlah aku dari lumpur tauhid. Dan tenggelamkanlah aku dalam mata air lautan keesaan. Dan lemparkanlah aku dalam sifat keesaan sehingga aku tidak melihat, mendengar atau merasakan kecuali dengannya.”

Ini adalah ucapan orang-orang yang menganut paham Wahdatul Wujud.Yaitu suatu paham yang mendakwakan bahwa Tuhan dan makhIuk-Nya bisa menjadi satu kesatuan.Mereka menyangka bahwa tauhid itu penuh dengan lumpur dan kotoran, sehingga mereka berdo’a agar dikeluarkan daripadanya. Selanjutnya, agar ditenggelamkan dalam lautan Wahdatul Wujud. Sehingga bisa melihat Tuhannya dalam segala sesuatu. Bahkan hingga seorang pemimpin mereka berkata, “Dan tiadalah anjing dan babi itu, melainkan keduanya adalah tuhan kita. Dan tiadalah Allah itu, melainkan pendeta di gereja. ”

Orang-orang Nasrani menyekutukan Allah (musyrik) ketika mereka mengatakan bahwa Isa bin Maryam adalah anak Allah. Adapun mereka, menjadikan segenap makhluk secara keseluruhan sebagai sekutu-sekutu Allah! Mahatinggi Allah dan apa yang diucapkan oleh orang-orang musyrik.

Oleh karena itu, wahai saudaraku sesama muslim, berhati-hatilah terhadap lafazh-lafazh bacaan shalawat bid’ah, karena akan menjerumuskanmu dalam perbuatan syirik. Berpegang teguhlah dengan apa yang datang dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam, seorang yang tidak mengatakan sesuatu menurut kehendak hawa nafsunya. Dan janganlah engkau menyelisihi petunjuknya, “Barangsiapa melakukan suatu amalan (dalam agama) yang tidak ada perintah dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim) [3]

3.  Shalawat dalam Kitab Ad’iyatush Shabaahi wal Masaa’i.

Dalam kitab Ad’iyatush Shabaahi wal Masaa’i, karya seorang syaikh besar dari Suriah bernama Syaikh Suri Kabir. Ia mengatakan, “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, yang dari cahayanya Engkau ciptakan segala sesuatu.”

“Segala sesuatu”, berarti termasuk di dalamnya Adam, lblis, kera, babi, lalat, nyamuk dan sebagainya. Adakah seorang yang berakal akan mengatakan bahwa semua itu diciptakan dari cahaya Muhammad? Bahkan setan sendiri mengetahui dari apa ia diciptakan, juga mengetahui dari apa Adam diciptakan, sebagaimana dikisahkan dalam AI-Qur’an,

“Iblis berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah.” (Shaad: 76)

Ayat di atas mendustakan dan membatalkan ucapan syaikh tersebut.

Termasuk lafazh shalawat bid’ah adalah ucapan mereka, “Semoga keberkahan dan keselamatan dilimpahkan untukmu wahai Rasulullah. Telah sempit tipu dayaku maka perkenankanlah (hajatku) wahai kekasih Allah.”

Bagian pertama dari shalawat ini adalah benar, tetapi yang berbahaya dan merupakan syirik adalah pada bagian kedua. Yakni dari ucapannya:

Hal ini bertentangan dengan firman Allah : “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepadaNya?” (An-Naml: 62)

Dan firman Allah “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri.” (Al-An’am: 17)

Sedangkan Rasulullah sendiri, manakala beliau ditimpa suatu kedukaan atau kesusahan, beliau berdo’a, “Wahai Dzat Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhlukNya), dengan rahmatMu aku Memohon pertolongan-Mu.” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)

Jika demikian halnya, bagaimana mungkin kita diperbolehkan mengatakan kepada beliau, “Perkenankanlah hajat kami, dan tolong-lah kami?”Lafazh ini bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam: “Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)

4.   Shalawat AI-Fatih

Lafazhnya:“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup?”

Orang yang mengucapkan shalawat ini menyangka, bahwa barangsiapa membacanya maka baginya lebih utama daripada membaca khatam Al-Qur’an sebanyak enam ribu kali. Demikian, seperti dinukil oleh Syaikh Ahmad Tijani, pemimpin thariqah Tijaniyah.

Sungguh amat bodoh jika terdapat orang yang berakal mempercayai hal tersebut, apatah lagi jika ia seorang muslim. Sungguh amat tidak mungkin, bahwa membaca shalawat bid’ah tersebut lebih utama daripada membaca Al-Qur’an sekali, apatah lagi hingga enam ribu kali. Suatu ucapan yang tak mungkin diucapkan oleh seorang muslim.

Adapun menyifati Rasulullah dengan “Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup” secara mutlak, tanpa membatasinya dengan kehendak Allah, maka adalah suatu kesalahan. Karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam tidak membuka kota Makkah kecuali dengan kehendak Allah. Beliau juga tidak mampu membuka hati pamannya sehingga beriman kepada Allah, bahkan ia mati dalam keadaan menyekutukan Allah. Bahkan dengan tegas Al-Qur’an menyeru kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi,tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, …” (Al-Qashash: 56)“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (AI-Fath: 1)

Shalawat ini disamping tidak ada tuntunannya dalam Islam juga bertentangan dengan firman Allah: ”Sesunguhnya engkau tidak memberi petunjuk terhadap orang yang engkau cintai, tapi Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dia kehendaki.” (Al-Qoshosh :56) [4]

5.   Shalawat dalam Kitab Dalail al-Khairat

Kitab ini ditulis oleh orang mistik shufi dari Afrika Utara yaitu Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli [5]. Syaikh Abu Usamah Salim Al-Hilali mengatakan: “Kitab (Dalail al-Khairat) ini sepantasnya dinamakan Sabilu Dhalal Al-Muhlikat (Jalan kesesatan dan kehancuran) atau Dalailul Khurafat wal Munkarat (jalan khurafat dan kemungkaran). Di dalam kitab ini terdapat hadits-hadits palsu diantaranya : ”Barangsiapa yang membaca shalawat ini sekai maka Allah akan memberikan baginya pahala sebesar pahala haji maqbul….” [6]

Pada bagian ke tujuh dari kitabnya mengatakan, “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad selama burung-burung merpati berdengkur dan jimat-jimat (tamimah) bermanfaat.”

Tamimah (suatu bentuk jimat) yaitu tulang, benang atau lainnya yang dikalungkan di leher anak-anak atau lainnya untuk menangkal atau menolak ‘ain (pengaruh mata dengki).

Perbuatan tersebut tidak memberi manfaat kepada orang yang mengalungkannya, juga tidak terhadap orang yang dikalungi, bahkan ia adalah di antara perbuatan orang-orang musyrik.Rasulullah bersabda:“Barangsiapa mengalungkan jimat maka dia telah berbuat syirik”. (HR. Ahmad, hadits shahih)

Lafazh bacaan shalawat di atas, dengan demikian, secara jelas bertentangan dengan kandungan hadits, karena lafazh tersebut menjadikan syirik dan tamimah sebagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Terdapat lagi lafazh bacaan shalawat dalam kitab Dalail al-Khairat sebagai berikut: “Ya Allah limpahkanlah keberkahan atas Muhammad, sehingga tak tersisa lagi sedikit pun dari keberkahan, dan rahmatilah Muhammad, sehingga tak tersisa sedikit pun dari rahmat.”

Lafazh bacaan shalawat di atas, menjadikan keberkahan dan rahmat, yang keduanya merupakan bagian dari sifat-sifat Allah, bisa habis dan binasa. Allah membantah ucapan mereka dengan firman-Nya, “Katakanlah, ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (AI-Kahfi: 109)

6.  Shalawat Al-Masyisyiyah

Shalawat ini dari Abdussalam bin Masyisyiyah yaitu guru Abdul Hasan Syadzali, yang telah dibunuh oleh Ibnu Abi Thawajin di negeri Maghrib. Bunyi shalawatnya adalah sebagai berikut :

“Ya Allah! Berikanlah sholawat kepada orang yang darinyalah semua rahasia terbuka, darinyalah cahaya berkilau, padanyalah terkumpul hakekat-hakekat sesuatu, dan padanyalah turun ilmu Adam, sehingga makhluk-lakhluk tidak mampu……”

Shalawat ini bathil. Rasulullah tidak pernah mensifati dirinya dengan sifat-sifat semacam itu. Jika seandainya lafadz ini disyari’atkan tentu akan disebutkan dalam kitab sunnah dan shahih atau pun yang hasan atau sebagainya dalam kitab fiqih, zuhud dan raqiq. Demikian juga pasti ada penjelasan dari para imam yang hidup sejaman dengan Masyisyi dan Syadzali.

Rasulullah bukanlah sumber ilmu ghaib dan rahasia seperti yang ada dalam shalawat ini. Shalawat ini dibuat oleh seorang zindiq untuk menyebarkan kekufuran dan kesyirikan. Sebab bertentangan dengan firman Allah ta’ala :

Artinya : “Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) Aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) Aku mengatakan kepadamu bahwa Aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (Al-An’am : 50)

Demikianlah sekilas penjelasan tentang shalawat Al-Masyisyiah. Semoga kita terhindar dari kesesatannya. [7]

7.  Shalawat Al-Badriyah

Isi shalawat ini berupa tawassul dengan ahli Badr (orang yang berperang dalam perang Badr). Sebagaimana bunyi shalawatnya : ” salam dari Allah semoga tercurahkan kepada yasin (Rasulullah) kekasih Allah. Kami bertawassul dengan bismillah dan dengan Al-hadi (sang pembawa petunjuk) Rasulullah dan semua yang berperang di jalan Allah dari semua ahli badr, ya Allah…..”

Dalam ucapan shalawat ini, terkandung bebebrapa hal : penyebutan nabi dengan habibillah, bertawassul dengan nabi, para mujahidin, dan ahli badr.Padahal, tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang memperbolehkannya. Allah SWT dan rasul-Nya tidak pernah mensyari’atkan. Demikian juga para shahabat tidak mengerjakan. Adapun hadits:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوْهُ بِجَاهِيْ فَإِنَّ جَاهِيْ عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ

“Jika kalian meninta Allah, maka memintalah kalian dengan kemuliaanku. Karena sesunguhnya kemuliaanku di sisi Allah besar.” [8]. Hadits tersebut sama sekali tidak ada sumber aslinya. Demikian menurut Ibnu Taimiyah[9].

Seorang muslim yang berakal mestinya timbul pertanyaan setelah membaca shalawat ini, benarkah isi yang terkandung dalam shalawat bariyah itu? Lalu jika benar bagaimana dengan penjelasan para ulama bahwa tawassul yang disyari’ahkan itu ada tiga macam, yaitu :

  1. Tawassul dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya.
  2. Tawasul dengan amal shalih yang dikerjakan oleh orang yang berdoa.
  3. Tawassul dengan doa orang shalih (yang masih hidup). [10]

Kesimpulanya tidak boleh bertawassul dengan semua orang yang berjihad dijalan Allah yang telah mati.

8.  Shalawat dalam Kitab Fadhlus Shalawat

Termasuk shalawat bid’ah dan syirik yang tercantum dalam kitab Fadhlus Shalawat oleh seorang tokoh Sufi sesat yang bernama Syaikh Libnani yang berbunyi :

“ Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad yang darinyalah Engkau menjadikan al-ahadiyah al-qayyumiyah.”

Perhatikan kebobrokan yang terdapat dalam shalawat ini! Dia menjadikan sifat Ahadiyah (ke-Esaan) dan sifat Al-Qayyumiyah (terus-menerus memelihara) kepada Rasulullah, padahal keduanya merupakan sifat Allah. Bukankah ini merupakan termasuk penyelewengan terhadap sifat Allah? Setelah kita tahu bahwa ini adalah termasuk shalawat bathil, maka TINGGALKANLAH!

8. Shalawat Bushiri

Shalawat ini dibuat oleh Syarifuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Sa’ad bin Hamad bin Abdillah As-Shanhaji Al-Busiri Al-Misri. [11] Yang berbunyi :

“Wahai makhluk yang paling mulia! Tidak ada tempat perlindungan begiku selain engkau di saat terjadi kesulitan”

Shalawat ini mengandung syirik besar karena dia menjadikan Rasulullah sebagai tempat berlindung padahal kita diperintah Allah untuk meminta perlindungan hanya kepada-Nya. Pantaskah orang yang mengaku ahlus sunnah wal jama’ah mengucapkan shalawat syirik ini?

Didalam shalawat ini tercantum segala sesuatu kecuali iman, karena orang yang mengucapkannya bersumpah dengan Rasulullah, sebagaimana yang ada dibawah ini :

“Ya Tuhanku! Demi Mushtafa (Rasulullah) sampaikanlah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu. Wahai dzat yang mempuyai kemulyaan yang luas.”

Dari sini jelas keyirikan yang terkandung dalam Burdatul Busiri ini, sebab Rasulullah bersabda : “ Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah berbuat kafir atau syirik.” [12]

Shalawat yang Disyari’ahkan

Dari semua penjelasan diatas maka tinggalkanlah semua shalawat-shalawat bid’ah sebab dapat membuat kita syirik pada Allah. Sedangkan shalawat yang disyari’ahkan adalah yang telah dituntunkan Allah dan Rasulnya. Berikut ini penjelasan keutamaan membaca shalawat untuk  Rasulullah yang disyari’ahkan:

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)

Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Abu ‘Aliyah berkata, “Shalawat Allah adalah berupa pujian-Nya untuk nabi di hadapan para malaikat. Adapun shalawat para malaikat adalah do’a (untuk beliau).” Ibnu Abbas berkata, “Bershalawat artinya mendo’akan supaya diberkati.”

Maksud dari ayat di atas, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yaitu, “Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta’ala menggambarkan kepada segenap hamba-Nya tentang kedudukan seorang hamba-Nya, nabi dan kekasih-Nya di sisi-Nya di alam arwah, bahwa sesungguhnya Dia memujinya di hadapan para malaikat. Dan sesungguhnya para malaikat bershalawat untuknya. Kemudian Allah memerintahkan kepada penghuni alam dunia agar bershalawat untuknya, sehingga berkumpullah pujian baginya dari segenap penghuni alam semesta.”

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita agar mendo’akan dan bershalawat untuk Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam. Bukan sebaliknya, memohon kepada beliau, sebagai sesembahan selain Allah, atau membacakan Al-Fatihah untuk beliau, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia.

Bacaan shalawat untuk Rasulullah yang paling utama adalah apa yang beliau ajarkan kepada para sahabat, ketika beliau bersabda, “Katakanlah, Ya Allah limpahkanlah rahmat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah untukku. Karena se-sungguhnya barangsiapa yang bershalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah kepada Allah wasilah untukku. Sesungguhnya ia ada-lah suatu tempat (derajat) di Surga. Ia tidak pantas kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap bahwa hamba itu adalah aku. Barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka ia berhak menerima syafa’atku.” (HR. Muslim)

Do’a memintakan wasilah seperti yang diajarkan Rasulullah dibaca dengan suara pelan. Ia dibaca seusai adzan dan setelah membacakan shalawat untuk nabi. Do’a yang diajarkan beliau yaitu: “Ya Allah, Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna ini. Dan shalat yang akan didirikan. Berikanlah untuk Muhammad wasilah (derajat) dan keutamaan. Dan tempatkanlah ia di tempat terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan.” (HR. Al-Bukhari)

Membaca shalawat atas Nabi ketika berdo’a, sangat dianjurkan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah : “Setiap do’a akan terhalang, sehingga disertai bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam.” (HR. AI-Baihaqi, hadits hasan)

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berpetualang di bumi, mereka menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” (HR Ahmad, hadits shahih)

Bershalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam sangat dianjurkan, terutama pada hari Jum’at. Dan ia termasuk amalan yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bertawassul dengan shalawat ketika berdo’a atau meruqyah adalah dianjurkan. Sebab ia termasuk amal shalih. Karena itu, sebaiknya kita mengucapkan, “Ya Allah, dengan shalawatku untuk Nabimu, bukakanlah dariku kesusahanku… Semoga Allah melimpahkan berkah dan keselamatan untuk Muhammad dan keluarganya.”


[1] Lihat Fathul Majid hal. 104 karya Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Ali Syaikh.

[2] HR. Nasaa’i dalam Al-‘Amal Al-yaum wal Laillah hal. 995 dengan sanad hasan; Ahmad I/214, 347;Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad hal.783; Ibnu Majah dalam Al-Kaffarat 2117 dan dihasankan oleh Al-Arnauth dalam Takhrij Musnad Abi Bakr, hal. 55 dan dihasankan pula oleh Al-Albani dalam As-Shahihah 139

[3] Dinukil dari kitab Al-Firqatun Najiah dengan beberapa tambahan

[4] Dinukil dari kitab Al-Firqatun Najiah dengan beberapa tambahan

[5] Lihat kibab Mahabaturrasul oleh Abdurrauf Muhammad Utsman hal. 197

[6] Lihat Hal Lil Muslim Mulzamun bittiba’I Majhabin Mu’ayyan. Halaman 72

[7] Al-Tasawuf fi Mizanil Bahtsi wa Tahqiq oleh Abdul Qodir Habibullah As-Sidi hal. 415-421

[8] Hadits bathil. Tidak ada asalnya. At-Tawassul, 1/117, Jam’ir Rosaail, 1/11, Kitab Tauhid, 1/96, Ushulul iman fidhoui kitab wa sunnah, 1/65

[9] Lihat majmu’ fatawaa 1/94, 6/217 dan 6/222,

[10] LIhat kitab Al-Tawassul oleh Syaikh Al-Albani hal. 46

[11] Mahabbatur Rasul halaman 193

[12] HR. Tirmidzi 1545, Ahmad 2/34, 69, 86 dengan sanad shahih

62 thoughts on “SHALAWAT BID’AH SEBAGAI ILMU HIKMAH

  1. mas saya mau tanya
    1. apkah berarti tawassul kepada nabi muhammad, syekh abdul, qodir itu bidah??
    2. klu kita ber al fthah terhadap nabi bidah maka kalau kita ziarah dan mengirim alfatihah apakah bidah juga?

    • @ andre

      Doa memohon pada Allah SWTh agar hajat (yang baik) dikabulkan itu termasuk ibadah, tapi berdoa kepada selain Allah SWT itu malah sebaliknya/dilarang.

      • berarti kalau kita bertawasul dan memohon kepada nabi muhammad saw agar kelak kita mendapat syafaatnya berarti bidah? kalau bidah berarti kita kalau ziarah kemakam rasulullah dan memohon hajat berarti bidah ?

      • berarti kalau kita bertawasul dan memohon kepada nabi muhammad saw agar kelak kita mendapat syafaatnya berarti bidah? kalau bidah berarti kita kalau ziarah kemakam rasulullah dan memohon hajat berarti bidah ?

        Tawasul dengan meminta tolong kepada orang yang sudah meninggal adalah perbuatan syirik! tidak ada dalilnya meminta tolong kepada rasulullah setelah beliau wafat seperti “ya Rasulullah tolonglah saya, saya mohon dikabulkan hajad saya, ya Rasul saya minta tolong agar engkau memberikan syafa’at dll, Meminta syafa’at dengan ziarah kubur Nabi Muhammad tidak termasuk menjadi faktor yang bisa menyebabkan seseorang untuk mendapatkan syafa’at, karena tidak adanya dalil-dalil yang shahih tentang masalah tersebut. Adapun pendapat sebagian orang, bahwa di antara sebab-sebab untuk bisa mendapatkan syafa’at adalah dengan ziarah ke kubur Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berdalil dengan hadits-hadits yang palsu, dan sama sekali tidak ada asalnya dari Nabi . Seperti hadits, barangsiapa yang ziarah ke kuburku, maka dia berhak mendapatkan syafa’atku, dan masih banyak lagi yang lain.
        Adapun cara yang syar’i dan ada dalilnya untuk mendapatkan syafa’at adalah :
        1. Tauhid dan mengikhlaskan ibadah kepada Allah serta ittiba’ kepada Rasulullah
        Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya: “Siapakah orang yang paling bahagia dengan syafa’atmu pada hari Kiamat?” Nabi menjawab :
        “Yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah, orang yang mengucapkan Laa ilaahaa illallaah dengan ikhlas dari hatinya atau dirinya”. [HR Bukhari, no. 99]
        2. Membaca al Qur`an.
        Dari Abi Umamah bahwasannya dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
        “Bacalah al Qur`an. Sesungguhnya al Qur`an akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi sahabatnya…” [HR Muslim, no.804].
        3. Puasa
        Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
        “Puasa dan al Qur`an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada hari Kiamat kelak. Puasa akan berkata : “Wahai, Rabb-ku. Aku telah menahannya dari makan pada siang hari dan nafsu syahwat. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya”. Sedangkan al Qur`an berkata : “Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya”. Maka keduanya pun memberi syafa’at”. [HR Ahmad)
        4. Doa setelah adzan
        Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
        "Barangsiapa yang membaca ketika mendengar adzan 'Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah al wasilah (derajat di surga), dan keutamaan kepada Muhammad n , dan bangkitkan beliau, sehingga bisa menempati maqam terpuji yang engkau janjikan'. Maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat". [HR Bukhari]
        5. Tinggal di Madinah, sabar tehadap cobaannya, dan mati disana.
        Abu Sa’id pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
        “Tidaklah seseorang sabar terhadap kesusahannya (Madinah) kemudian dia mati, kecuali aku akan memberikan syafa’at padanya, atau menjadi saksi baginya pada hari Kiamat. Jika dia seorang muslim” [HR Muslim].
        6. Shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
        Dari Ibnu Mas’ud, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
        “Orang yang paling berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat adalah, yang paling banyak shalawat kepadaku” [HR Tirmidzi].
        8. Membanyakkan sujud.
        Dari Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami, dia berkata: “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku mendatangi beliau sambil membawa air untuk wudhu’ beliau. Kemudian beliau berkata kepadaku,’Mintalah’. Aku berkata,’Aku minta untuk dapat menemanimu di surga,’ kemudian beliau berkata, ‘Atau selain itu?’ Aku berkata,’Itu saja’. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
        “Tolonglah aku atas dirimu dengan banyak bersujud”. [HR Muslim, no.489, 226].

    • @ andre

      “berarti kalau kita bertawasul dan memohon kepada nabi muhammad saw agar kelak kita mendapat syafaatnya berarti bidah?”

      > Penjelasan mengenai syafaat saya serahkan pada admin atau ustadz yang lebih mengerti menjelaskannya.

      “kalau bidah berarti kita kalau ziarah kemakam rasulullah dan memohon hajat berarti bidah ?”

      > Memohon hajat pada orang yang sudah meninggal itu tidak boleh, walau kepada nabi sekalipun.

      Mudah-mudahan penjelasan singkat ini dapat dimengerti. Untuk detilnya mungkin nanti akan ada yang menjelaskan lagi.

    • tambahan lagi apakah kita berdoa agar hajat di kabulkan adalah bidah?

      Berdoa meminta kepada siapa ? Jika meminta hajad pada makam keramat bahkan nabi sekalipun maka hukumnya bid’ah lagi syirik, dan jika murni karena Allah tanpa ada perantara siapapun juga maka syar’i

  2. Mohon maaf kepada pemilik blog,bung PA
    saya posting ini sebagai bahan studi banding.Sebab,apa yang dipos oleh bung PA,menurut saya adalah khazanah masa lalu.Posting dibawah ini merupakan bentuk dakwah dr masa kini,ini sebagai studi banding pemahaman saja.
    semoga manfaat.amin..

    …………….

    SAMUDRA CINTA-NYA DARI GANG DOLLY
    Bagikan
    29 Juni 2010 jam 9:36

    Ketika rembulan terlihat benar-benar bulat dan besinar di langit malam itu, tanggal 28 Juni 2010 yang bertepatan dengan tanggal 16 Rajab 1431 H, ada suatu pemandangan yang – menurut penulis – menakjubkan di salah satu daerah di kota Surabaya, yang oleh banyak orang disebut sebagai kompleks prostitusi atau lokalisasi yang konon adalah terbesar se-Asia Tenggara, DOLLY.

    Jalan Jarak yang setiap malam ramai dan padat oleh kendaraan yang melintas, baik itu yang sekedar lewat atau yang mengangkut “tamu-tamu” yang akan menuju ke salah satu rumah atau “wisma” di kompleks tersebut, malam itu ramai oleh para hadirin atau jama’ah Forum BangBang Wetan, sebuah acara silaturahim dan dialog yang diasuh oleh budayawan Emha Ainun Nadjib, yang akrab disapa dengan Cak Nun. Forum yang diadakan setiap tanggal 16 di bulan Hijriah dan biasanya dihelat di kompleks Balai Pemuda Surabaya tersebut, kali ini hadir dan bersilaturahim dengan Saudara-saudara sesama warga kota Surabaya yang berada di sekitar kompleks lokalisasi Dolly.

    Sebuah panggung didirikan tepat di pertigaan Gang Dolly. Di panggung ini, Cak Nun yang diiringi oleh kelompok musik yang telah melanglang dunia, “Kiai Kanjeng” serta ditemani oleh para tokoh masyarakat setempat mulai dari Pak Lurah, Pak Camat, dari Kepolisian, Muspida-Muspika dan sebagainya, mengajak para hadirin untuk bersama-sama mengagungkan Allah SWT serta memuliakan kekasih-Nya, Rasulullah SAW melalui berbagai wirid, shalawat, lagu yang mengalun dengan iringan aneka warna musik yang selalu dengan kreatif dan inovatif diaransemen oleh Sahabat-sahabat dari KiaiKanjeng.

    Tidak hanya sebatas itu, melalui forum ini Cak Nun dengan pendekatannya yang khas, menjamu para jama’ah yang hadir, khususnya yang sehari-hari bekerja di kompleks lokalisasi tersebut, dengan inspirasi, motivasi dan do’a-do’a agar mereka memiliki kecintaan terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW, sehingga memiliki tekad, keyakinan dan harapan yang kuat dan bulat untuk dapat mengubah jalan hidupnya sendiri, sehingga dalam jangka waktu yang direncakannya sendiri, dapat mengentaskan diri dari kompleks lokalisasi tersebut, untuk kemudian berkeluarga dan berprofesi di jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.

    Terasa kental sekali aura kebaikan yang mengalir dan menjalar melalui jalan-jalan dan gang-gang yang malam itu dipadati oleh warga masyarakat yang berbaur dalam kedekatan dan keakraban sebagai sesama manusia, dimana tak terlihat dan tak terasa ada sekat yang membedakan mana yang berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK), mana yang Ibu Rumah Tangga, mana yang jama’ah masjid setempat dan sebagainya. Semuanya hadir sebagai hamba-Nya yang rindu akan cinta-Nya dan dahaga dengan kasih sayang-Nya. Berkali-kali Cak Nun mengingatkan, bahwa hanya Allah SWT yang mengetahui kedekatan dan derajat seorang hamba di hadapan-Nya, sehingga tak seorang pun berhak menyombongkan dirinya, karena “merasa lebih baik” dari manusia yang lain. Berkaitan dengan kesombongan ini, Cak Nun juga mengingatkan kepada 4 kelompok masyarakat yang rentan dengan “penyakit hati” yang bernama sombong. 4 kelompok tersebut adalah orang kaya, orang yang memiliki kekuasaan, orang yang terkenal dan orang alim atau berilmu.

    Kompleks lokalisasi yang setiap malam bersinar oleh cahaya lampu-lampu kendaraan, ramai oleh banyak orang yang berlalu-lalang, hingar-bingar oleh dentuman musik dangdut maupun House Music yang terdengar dari salah satu atau beberapa “wisma”, malam itu berubah total 180 derajat. Yang terlihat adalah ramainya hadirin dengan aneka busana muslim, beberapa stand makanan, minuman dan merchandise dari para sponsor dan pendukung acara. Yang terdengar adalah lantunan wirid atau pujian kepada Allah SWT, sholawat atau pujian kepada Rasulullah SAW, alunan gamelan, biola, ketipung, terbang dan aneka alat musik yang lain. Sungguh sebuah momen yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

    Subhanallah…
    …bila Allah SWT berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin. Dan malam itu, IA telah menghadirkan sebuah samudera cinta yang lain daripada yang lain, di tengah masyarakat yang selama ini seringkali dipandang sebelah mata, dicibir dalam hati bahkan dipinggirkan oleh sistem-sistem yang berlaku tertulis maupun tidak tertulis di negeri ini.

    Semoga semua ini menjadi awal dari sebuah perubahan yang lebih baik bagi semua… Minadz Dzulumath Ilan Nuur… dari kegelapan menuju cahaya…

    ini merupakan dakwah ala MH Ainun Najib..

    ini saya ambil dari@http://www.facebook.com/notes/lukman-febrianto/samudera-cinta-nya-dari-gang-dolly/409861826813

    • yang jadi pertanyan saya adalah, setelah mengadakan perhelatan tabligh akbar (istilahnya) yang dimotori oleh Emha A.N, apakah ada perubahan, apakah gang doli sekarang berubah menjadi sebuah pesantren atau majlis ta’lim ? atau ini hanya sekedar menghilangkan kepenatan dari para psk yg biasa bekerja setiap malam di tempat itu. klo bisa, coaba stiap malam diadakan cara semacam itu (terus menerus) mudah2an akan terlihat hasilnya dan itu sangat positif sekali. jadi berjihad itu tdk hanya pada moment2 tertentu aja. maaf klo terkesan menggurui

  3. artikel di bawah ini menjelaskan bahwa sholawat nariyah BUKAN BIDAH yang saya dapatkan dari HABIB MUNZIR AL MUSAWA

    saudaraku yg kumuliakan,
    mengenai shalawat nariyah, tidak ada dari isinya yg bertentangan dg syariah, makna kalimat : yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta”, adalah kiasan, bahwa beliau saw pembawa Alqur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yg dg itu semualah terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah swt, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga,

    ini adalah kiasan saja dari sastra balaghah arab dari cinta, sebagaimana pujian Abbas bin Abdulmuttalib ra kepada Nabi saw dihadapan beliau saw : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417), tentunya bumi dan langit tidak bercahaya terang yg terlihat mata, namun kiasan tentang kebangkitan risalah.

    Sebagaimana ucapan Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah, bila kami dihadapanmu maka jiwa kami khusyu” (shahih Ibn Hibban hadits no.7387), “Wahai Rasulullah, bila kami melihat wajahmu maka jiwa kami khusyu” (Musnad Ahmad hadits no.8030)

    semua orang yg mengerti bahasa arab memahami ini, Cuma kalau mereka tak faham bahasa maka langsung memvonis musyrik, tentunya dari dangkalnya pemahaman atas tauhid,

    mengenai kalimat diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, adalah cermin dari bertawassul pada beliau saw para sahabat sebagaimana riwayat shahih Bukhari.

    mengenai anda ingin membacanya 11X, atau berapa kali demi tercapainya hajat, maka tak ada dalil yg melarangnya,

    demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    wallahu a’lam

    UNTUK LEBIH DETAILNYA SILAHKAN KE WEB MAJELISRASULULLAH.ORG

    HAKEKAT TAWASSUL SILAHKAN KLIK LINK D BAWAH INI
    http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=63&Itemid=30

    Keutamaan Shalawat Nariyyah (Fiqh/Aqidah) SILAHKAN KLIK LINK BERIKUT http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=8&id=11893#11893

    KALAU ANDA MAU TANYA SILAHKAN JADI MEMBER DI WEB TERSEBUT DI JAMIN TERPERCAYA KARENA DI ASUH OLEH HABIB JADI PASTI NYA TERJAMIN KEABSAHANNYA

    BUKAN SEPERTI WEB METAFISIS.WORDPRESS.COM INI
    YANG ORANG NYA GAK DAPAT DI PERCAYA…..

  4. SAYA MAU TANYA APAKAH ADA HABIB YANG MEMBIDAH KAN SHOLAWAT INI KALAU ADA SIAPA NAMA HABIB TERSEBUT??

    APAKAH ANDA ITU
    1. AHLI HADIST (kalau iya berapa hadist yang anda hflkan)
    2. A-HAFIDH
    3. anda itu lulusan pendidikan agama mana atau anda hanya baca buku terus buat artikel di atas??

    • semua bidah semua sesat mana otak kamu tak ngerti jawapan nya sesat,,mana yg betul?salawat banyk pun nanti di katakan bidah nanti solat banyk pun nanti dikatakan bidah kenapa tak internet di sebut bidah,,di sebabkan pikiran otak kamu sudah di programkan bidah apa yg lintas tidak kamu mengerti kamu tuduh bidah kalau tidak mampu jangan enak menuduh,!!! bodoh punya orang,,

      and selamat berpuasa n jgn sambut idil fitri berlebihan tu pun bidah tau,,

  5. Jangan asal ngomong bid’ah, kalau ngak ngerti.
    Jangan ngomong soal dalil kalau ngak ngerti dalilnya
    Jangan memfonis orang berdosa walaupun orang tersebut dimata kita sudah melanggar syariat karena lautan kasih Allah maha luas.
    Intinya jangan sok alim dhewe nganggep ibadahnya orang lain salah.

  6. Sedulur2 sebelum kita mengungkapkan apa yang ada di pikiran kita…. kita harus tau ILMU2 tersebut….jangan asal ungkap….bisa memecah umat ISLAM….. kalau kita udah HAFAL AL-QUR’AN dan Seluruh HADIST baik HADIST SAHIH maupun HADIST DHAIF barula sedulur bisa mengerti KATA-KATA ILMU HIKMAH….. jangan memecah umat karena HAWA NAFSU KITA……
    Semoga ALLAH selalu memberikan RAHMAT DAN KASIH SAYANGNYA kepada kita semua…. AMIN….

  7. seorang muslim seharusnya bertanggung atas cara2 dia beragama atau beribadah kepada Allah.

    kita sanggup berjam-jam nonton tv atau browsing di internet. mengapa kita tidak ada keinginan mencari tahu, apakah cara beribadah kita sudah seperti apa yang Allah turunkan dan mengikuti rosul.

  8. kepada perdana akhmad,saya semakin yakin bahwa anda ini adalah orang bodoh yang hanya bisa mengkritik seseorangtanpa kecukupan ilmu.
    buktinya ketika saya bertanya tentang masalah bid’ah pembukuan al-qurán,pencatan hadits dan tahlilan 3,7 dan 40 hari setelah kematian seorang muslim anda tdk dapat menjawabnya bahkan pertanyaan saya tersebut sudah anda hapus dari halaman ini…
    jadi siapa yang seharusnya mangakui kesalahannya???

    • Saya memang orang bodoh :) saya TIDAK PERNAH MERASA PINTAR DALAM BELAJAR SYARI’AT ISLAM :) yang merasa sudah pintar dalam ilmu syari’at sesungguhnya adalah orang yang paling bodoh dalam beragama. Saya akan terus belajar karena saya masih pada tahap tholabul ilmi dan bukan ulama. saya tidak meloloskan tanggapan anda karena sama sekali tidak berhubungan dengan tema artikel, ada banyak lagi komentar yang tidak saya loloskan karena tidak berhubungan dengan pembahasan artikel.
      acara tahlilan 3 hari, 7, 40 hari dari fatwa MUktamar NU 21 OKTOBER 1926 memutuskan bahwa selamatan kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH. :D bukan saya lho yang ngomong ;)

      Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

      MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
      KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
      TENTANG
      KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

      TANYA :
      Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

      JAWAB :
      Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

      KETERANGAN :
      Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
      “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”

      Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
      “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

      Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

      Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

      Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

      Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

      Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

      SELESAI , KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

      REFERENSI :

      -Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.
      -Masalah Keagamaan Jilid 1 – Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media.

    • Menurut penjelasan para ulama, Pada dasarnya tahlilan yang dilakukan terutama dalam kaitannya dengan kematian seseorang yang dilakukan pada hari pertama kematian sampai dengan hari ke-7, selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, ke-satu tahun pertama, kedua, ketiga dst bahkan sampai hari ke-1000. tidak ada ketentuan dari agama juga contoh langsung dari Rasulullah SAW. sehingga melakukan hal tersebut bukan termasuk anjuran yang dibakukan sebagai bagian dari tata cara ritual kematian, bahkan ritual ini oleh beberapa ulama digolongkan sebagai bid’ah.

      Menurut penyelidikan para ahli, upacara tersebut diadopsi oleh para da’i waktu itu dari upacara kepercayaan Animisme, agama Budha dan Hindu diubah menjadi ritual yang bernafaskan Islam. Menurut kepercayaan Animisme, Hinduisme dan Budhisme bila seseorang meninggal dunia maka ruhnya akan datang ke rumah pada malam hari mengunjungi keluarganya. Jika dalam rumah tadi tidak ada orang ramai yang berkumpul-kumpul dan mengadakan upacara-upacara sesaji, seperti membakar kemenyan, dan sesaji terhadap yang ghaib atau ruh-ruh ghaib, maka ruh orang mati tadi akan marah dan masuk ke dalam jasad orang yang masih hidup dari keluarga si mati. Maka untuk itu semalaman para tetangga dan kawan-kawan atau masyarakat tidak tidur, membaca mantera-mantera atau sekedar kumpul-kumpul. Hal semacam itu dilakukan pada malam pertama kematian, selanjutnya malam ketiga, ketujuh, ke-100, satu tahun, dua tahun dan malam ke-1000.

      Setelah orang-orang yang mempunyai kepercayaan tersebut masuk Islam, mereka tetap melakukan upacara-upacara tersebut. Sebagai langkah awal, para da’i terdahulu tidak memberantasnya, tetapi mengalihkan dari upacara yang bersifat Hindu dan Budha itu menjadi upacara yang bernafaskan Islam. Sesaji diganti dengan nasi dan lauk-pauk untuk shodaqoh. Mantera-mantera digantika dengan dzikir, do’a dan bacaan-bacaan Alqur’an. Upacara semacam ini kemudian dinamakan Tahlilan yang sekarang telah membudaya pada sebagian besar masyarakat.

      Tahlil, takbir, tahmid dan tasbih pada dasarnya merupakan dzikir yang sangat dianjurkan. Akan tetapi berkumpul-kumpul di kediaman ahli mayit, apalagi dirukunkan/diwajibkan pada hari 1-7, 40 100, dan 1000, kemudian dijamu oleh ahli mayit, berdasarkan hadits adalah perbuatan haram.

      Diriwayatkan Imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah Al Bajali dengan sanad yang shohih:
      “Adalah kami (para shahabat) menganggap bahwa berkumpul di rumah ahli mayyit dan mereka menyediakan makanan sesudah mayyit dimakamkan adalah termasuk perbuatan meratap”.

      Riwayat lain juga menerangkan:

      Bahwa Jarir datang kepada Umar ra, lalu Umar bertanya: Adakah mayyit kalian diratapi? Dia menjawab: Tidak, lalu bertanya lagi: Adakah orang-orang berkumpul di keluarga mayyit dan membuat makanan? Dia menjawab:ya, maka Umar berkata: Yang demikian adalah ratapan. (Al Mughni Ibnu Qudamah zuz 2 hal 43)

  9. Tahlilan dalam tradisi NU tidak dalam kategori hadist di atas Mas PA…

    karena tahlilan bukan untuk meratapi mayyit, tapi sama-sama berdoa kepada Allah Swt untuk roh si Mayyit. Dan sama sekali tidak masalah bila tak ada hidangan, apalagi sampe diwajibkan segala.Bukanlah itu sudah jelas dalam UU NU yang anda kutip itu?

    ____
    “Adalah kami (para shahabat) menganggap bahwa berkumpul di rumah ahli mayyit dan mereka menyediakan makanan sesudah mayyit dimakamkan adalah termasuk perbuatan meratap”.
    —-

    PENELITIAN ANDA KURANG MENGENA
    terima kasih

    • sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”{{{dibaca n di pahami artinya dunk mas,wong sudah jelas gt kok msh kurang paham

    • sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”{{{dibaca n di pahami artinya dunk mas,wong sudah jelas gt kok msh kurang paham}}

  10. BICARA MASALAH BID`AH
    anda harus jelas batasannya seperti apa.Jangan membikin batasan sendiri. Yang dengan batasan yg anda buat itu, kemudian yang tidak sesuai dengan batasan anda, anda klaim TIDAK SESUAI AJARAN ISLAM.

    SAYA BERPIKIR BEGINI:
    bagaimana mungkin, orang yang tak sepaham dg anda, anda klaim langsung begitu? Para ulama NU tentu sudah paham keilmuan Islam. Jika anda mau menguliti mereka dg pandangan Anda, bukan dg melalui blog.

    Saran saya: Berdialoglah anda dengan golongan itu secara baik-baik. Katakan pada mereka niat anda. Sampaikan dengan cara2 islami….

    Jangan-jangan, apa yang anda klaim itu salah? Maksud saya, pemahaman anda tak sesuai dg yang anda klaim?

    CONTOH SAJA:
    mengenai hadist di atas yang dikaitkan dg ratapan. Coba anda jelajahi, apa tahlilan berisi ratapan spt yg anda sangka?

    SEMOGA BERMANFAAT.

  11. sangat setuju sekali mas….

    memang si perdana akhmad mungkin lagi Khilaf….
    moga-moga aja tidak dengan nafsu, amarah dan ambisi dalam membuat blog ini

    hanya Allah yang tahu….
    bahkan kita sendiripun tidak bisa menilai diri kita sendiri
    termasuk perdana akhmad

  12. Allah Ta’ala berfirman:
    “ Sesungguhnya Allah dan para malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (Al-Ahzab: 56)
    Diriwayatkan bahwa makna shalawat Allah kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam adalah pujian Allah atas beliau dihadapan para malaikat-Nya, sedang shalawat para malaikat berarti mendo’akan dan shalawat umatnya berarti permohonan ampun untuknya.¹
    Dalam ayat diatas Allah telah menyebutkan tetang kedudukan hamba dan Rosul-Nya Muhammad shalallhu ‘alaihi wasallam ditempat yang tertinggi, bahwasannya Dia memujinya dihadapan para malaikat yang terdekat, dan bahwa para malaikat mendo’akan untuknya, lalu Allah memerintahkan segenap penghuni alam dunia untuk mengucapkan shalawat dan salam atasnya, sehingga bersatulah pujian untuk beliau shalallhu ‘alaihi wasallam dialam yang tertinggi dengan alam terendah (dunia).
    Adapun makna sallimu taslima “ Ucapkanlah salam untuknya” adalah berilah beliau shalallhu ‘alaihi wasalllam penghormatan dengan penghormatan islam. Dan jika bershalawat kepada Nabi shalallhu ‘alaihi wasalllam hendaklah seseorang menghimpunnya dengan salam untuk beliau. Karena itu hendaklah tidak membatasi dengan salah satunya saja. Misalnya dengan mengucapkan: shalallhu ‘alaihi (Semoga shalawat dilimpahkan untuknya) saja atau hanya mengucapkan: ‘Alaihi wasalllam (Semoga dilimpahkan untuknya keselamatan) saja. Hal itu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan untuk mengucapkan keduanya.
    Mengucapkan shalawat untuk Nabi shalallhu ‘alaihi wasalllam diperintahkan syair’at pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib atau sunnah mu’akkadah. Dalam kitab Jila’ul Afham, Ibnul Qoyyim rahimahullah yang menyebutkan ada 41 waktu (tempat). Beliau memulai dengan sesuatu yang paling penting yakni ketika shalat ketika tasyahud. Di waktu tersebut para ulama sepakat tetang disyari’atkannya bershalawat untuk Nabi shalallhu ‘alaihi wasalllam namun meraka berselisih tentang hokum wajibnya.² Diantara waktu lain yang beliau sebutkan adalah diakhir qunut, lalu ketika khuthbah, seperti khuthbah jum’at, hari raya dan istisqa’, lalu setelah menjawab muadzin, ketika hendak berdo’a, ketika masuk dan keluar dari masjid juga ketika menyebut nama beliau shalallhu ‘alaihi wasalllam. Setelah itu Ibnul Qoyyim rahimahullah menyebutkan beberapa manfaat mengucapkan shalawat untuk Nabi shalallhu ‘alaihi wasalllam, dimana beliau menyebutkan ada 40 manfaat.³
    Diantara manfaat itu adalah:
    1. Shalawat merupakan bentuk keta’atan kepada perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
    2. Mendapatkan sepuluh kali shalawat dari Allah bagi yang bershalawat sekali untuk beliau shalallhu ‘alaihi wasalllam.
    3. Diharapkan dikabulannya do’a apabila didahului dengan shalawat tersebut.
    4. Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafa’at dari Nabi shalallhu ‘alaihi wasalllam. Jika ketika mengucapkan shalawat dibarengi dengan permohonan wasilah kepada beliau shalallhu ‘alaihi wasalllam.
    5. Shalawat merupakan sebab diampuninya dosa-dosa
    6. Shalawat merupakan sebab sehngga Nabi shalallhu ‘alaihi wasalllam menjawab orang yang mengucapkan shalawat dan salam kepadanya.
    Semoga shalawat dan salam dilimpahkan oleh Allah kepada Nabi yang mulia ini.

  13. ass, saya sendiri tdk banyak mengetahui tentang islam, saya sedikit bertanya
    apakah shalawad kpd baginda nabi besar muhamad saw,agar mendapat safa’at dr baginda nabi dan allah swt, adalah bid’ah ?
    dan apakah ziarah ke makamorang tua atau ke para wali adalah bid”ah/syirik, sedangkan baginda rasullah saw,sering berziarah ke makam orang tua ,sahabat dan para nabi .
    3. Shalawat dalam Kitab Ad’iyatush Shabaahi wal Masaa’i.

    Dalam kitab Ad’iyatush Shabaahi wal Masaa’i, karya seorang syaikh besar dari Suriah bernama Syaikh Suri Kabir. Ia mengatakan, “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, yang dari cahayanya Engkau ciptakan segala sesuatu.”

    “Segala sesuatu”, berarti termasuk di dalamnya Adam, lblis, kera, babi, lalat, nyamuk dan sebagainya. Adakah seorang yang berakal akan mengatakan bahwa semua itu diciptakan dari cahaya Muhammad? Bahkan setan sendiri mengetahui dari apa ia diciptakan, juga mengetahui dari apa Adam diciptakan, sebagaimana dikisahkan dalam AI-Qur’an,
    disini cahaya rassul atas sgala sesuatu ,disama artikan dng binatang oh sungguh keji.
    Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, yang dari cahayanya Engkau ciptakan segala sesuatu.”
    segala sesuatu disini jng diartika dng yg lain.
    sgala sesuatu disini artikan dng kebenaran,akidah,akhlak yg berhubungan dng kebaikan baginda rasullah,
    amin,,,amin ya rabal alamin,,,,,,,,,,

  14. Ping-balik: Kisah Taubatnya Seorang Dukun : Semoga Taubatan nasuha | wikisopo

  15. Kyai A di masjid A: wahai jamaah sekalian, jangan anda membaca shalawat dengan berlebihan, karena bida ah syirik neraka ganjarannya

    Kyai B di masjid B: wahai jamaah bacalah shalawat, sesungguhnya nabi dapat memberikan syafaat…. jangan dengarkan Kyai A. WAHABBI bisa masuk neraka…

    Orang Teler dipengkolan: tuh kan Broo, denger apa kate ustadz di sane……..berdoa aja bisa masuk neraka, mending kite2 aja deh asyiik aja2 cuyyyy, ibadeh aja suseh masup nerake mending kayak kite, maboook aja cuyyyy kayak di surge……

    • Kyai A adalah seorang wahabi yang mengajak kita agar dalam hal ibadah sesuai dgn qur’an dan tuntunan rasululloh dan para salafusshalih

      Kyai B adalah seorang ulama yang mengajak pada yang menurut mereka anggap benar padahal dirinya tak tahu itu adalah kesesatan yg diperbutnya karena kebanyakan BID’AH.

      WONG Teler dipengkolan nyata2 temannya SYAITON

      Kesimpulan,……

      akan lebih baik WONG Teler dipengkolan yang suatu saat mungkin akan bertaubat daripada kyai B yang tidak menyadari kekeliruannya ditambah lagi dengan mengajak sesatnya para jamaahnya, naudzubilah………. semoga segera diberikan hidayahNya !!

      maka selalu tolablah agar wawasan kita bertambah luas sehingga dpt memilah dan memilih dalam menentukan sikap !

  16. Pak Perdana…
    sekedar bahan perbandingan dengan pendapat saudara saya menukil pendapat dari Forum Majelis Rasulullah
    http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=9&id=23661

    dan

    http://www.majelisrasulullah.org/index.php/images/images/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&catid=7&id=9419

    saya menghargai pendapat saudara, tapi kalau saya diperkenankan memilih kenapa saya lebih tenang dengan pendapat Majelis Rasulullah di atas.

    Perbedaan pendapat adalah rahmat dan biasa, yang tidak boleh adalah memaksakan pendapat…..

    Salam,

    Nawiazky

  17. Yah coment saya yg kedua kok dihapus….???
    Maksudnya kan biar ada penyeimbang….
    Biar ada diskusi yg hidup…..
    Pendapat boleh beda, asal jangan memaksakan kehendak…. Dan menghujat….
    Saya menghargai pendapat bung Perdana….
    @musyafir
    IMHO ulama (seorg yg berilmu) pasti mempunyai keyakinan akan sesuatu ilmu, mereka adalah pewaris nabi saya tdk berani mencela ulama. Belum berani saya pak.
    Tulisan sy di atas, adalah merujuk Kyai yg blm tentu adalah ulama.
    Hikmah komen diatas, kadang saya prihatin atas umat islam yg terpecah dari dalam, mereka kadang menonjolkan perbedaan tanpa melihat unsur persamaan Lailahaillah muhammadurrasulullah…
    Saling menhujat dan menjudge dg argumentasi yg tidak ada titik temu, bukankah perbedaan adalah rahmat, pendapat boleh beda namun aqidah adalah sama….. Ukhuwah islamiah harus tetap terjaga…
    Wassalam,

  18. daripada mbahas itu,, kembangkan ilmu pengetahuan, hindari korupsi, pelajari Islam dalam tatacara ekonomi dan berbagai bidang demi kemajuan umat… Islam kan cakupannya luas…^^

  19. @Bung Perdana,
    Iya anda benar… Ternyata comment saya belum terupload krn masih dlm proses moderasi, sesuai dg SOP blog sampeyan
    Maaf dugaan saya salah…

    Salam

  20. kalo gitu tak usah lagi bersholawat….
    gitu aja koq repot…
    huahhahaha….
    huahhaha….
    huahhahaha…..lama2 hancurlah….. sesama muslim beradu dalam sangkar..huhahahaa… lanjutkan…tolol….huhahahhaa….salinglah menyalahkan..huaahhahaa….sarjana guoblog….. huahhahaa….
    seharusnya lebih tepat kerja dipakem… bantu2 orang gila…huahhaha…. semoga jadi pesikolog handal…huhahaha….

    • sebenarnya Allah sudah mengingatkn kita dlm surat Al Anfal : 46, bahwa kita jgn saling berbantahan yg pd akhirnya akan melemahkn kita, tp emang dasar hawa nafsu ditambah lg rayuan syaithon “ga mulia kl ga nyalahin org lain”, jd dh pengikut setan yg religius,

      buat kite yg awam, do’ain, agar pengikut setan td segera sadar & taubat atas kekhilfannya selama ini….

  21. Aslmk wr, wb;

    kita selaku umat islam tidak berhak utk memvonis saudara yg lainnya,
    karna hak utk memvonis adalah hak Sang Khaliq semata.
    kita hanya bisa saling mengingatkan saja, nah semoga kita dapat memahami satu sama lainnya.
    Kalo mau belajar sebaiknya kuasai dulu ke empat ilmunya, yaitu:
    1. Syariat
    2. Thariqat
    3. Hakikat
    4. Makrifat
    baru kita bisa mengkaji dengan baik dan benar, wassalam…

  22. WALAUPUN anda seorang yang pintar..jgn sampai menyalahkan yang mengarang….. shalawat2 diatas sebagai wasilah saja….
    memang rasululloh tidak pernah mensifati dirinya,,,,tp bentuk pujian kita kepadanya karena agungnya beliau….
    BAGI ANDA….BELAJARLAH…
    Bila mau bermusyawarah dengan saya hub. saya lewat e-mail….
    saya masih ALIYAH 17 thn…. SAYA TUNGGU… blog anda tolong diperbaikiii….

  23. apa-apa bid’ah,,,
    makan sono bid’ah,,, capek dch. hoho

    emang situ bener??? ngata2in orang syirik dll.

  24. JANGAN DENGAR KAN TULISAN ORANG INI, SUDAH BERAPA BANYAK GURU YANG ANDA DATANGI? SUDAH BERAPA LAMA ANDA PESANTREN? SUDAH BERAPA BANYAK KITAB YG ANDA KUPAS? JIKA ANDA INGIN BERDEBAT MARI ANDA PUNYA KITAB SAYA JUGA PUNYA KITAB, KITA KUPAS DENGAN DALIL ILMU BUKAN DALIL AKAL. MENGERTI ANDA!!!!

  25. Bagus, yg penting harus konsisten dg pendapat, jgn smp menuduh org lain pelaku bid’ah, tp dia sendiri jg melakukan bid’ah, yg berarti ga faham apa itu bid’ah, sebab zaman skrng banyak org yg menuduh org lain pelaku bid’ah, sedang dia sendiri ga bs menjelaskn bid’ah secara gamblang/terang, hanya bilang bid’ah itu perbuatan yg ga ada pd zaman Nabi,

    oh iya, satu lg, kl sudah berani mengeluarkn pendapat, harus siap menerima masukan, saran & kritik, mengakui kesalahan bila ada dalil / dasar / argumen yg lebih kuat yg melemahkn pendapat tadi,

    dg begitu Insya Allah ga ada org yg merasa paling Islam sendiri, seperti yg para imam kita / Salafunas Sholihin memberikan contoh, mereka tidak merasa yg paling benar meskipun beda pendapat…..

  26. Maaf,temen2 sekalian,kalo boleh ane ngasih pendapat,menurut ane,sholawat itu baik,kalo dianggap bidah,ya kita pahami dulu bid’ahnya.kita tahu bid’ah adalah segala sesuatu yang tidak ada atau tidak terjadi pada zaman rosulullah.bid’ah ini ada 2,bid’ah hasanah(bagus dan dianjurkan)dan bid’ah sayi’ah(keburukan dan cenderung kurang baik)bi’ah hasanah adalah suatu perbuatan yg baik yang belum ada pada zaman rosul tp ada tendensi dari alqur’an/hadits,contohnya membaca sholawat,ada perintah dari alquran untuk membaca sholawat,yaa ayyuhal ladziina aamanuu sholluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa.banyak juga hadis2 yg menganjurkan membaca sholawat.kemudian bid’ah sayyi’ah adalah perbuatan atau perkara buruk yg tidak dianjurkan oleh nabi,atau bahkan beliau melarangnya

  27. Satu lagi yg perlu diingat,janganlah kita mudah mengatakan ini kufur,ini syirik ,sebab kalo ternyata salah,maka yg kufur atau syirik adalah yg mengucapkan.BERHATI-HATILAH,KARNA MENGATAKAN ORANG LAIN MUSYRIK,TERBUKTI HANYA MEMECAH BELAH UMAT DAN BERBAHAYA BAGI YG MENGUCAPKAN,DUNIA DAN AKHIRAT.MAKA BERTAUBATLAH

  28. hehe.. sungguh berat perjuangan kang PA,trlambt di jwb pertanyaannya “ngoceh” apalgi kga bls pasti “dihujat” hbis2n,diberi penerangn yg nyata sampai detil dalil2 tetap dicaci-maki, trus udah trpojok,nyuruh2 debt ama yg lebih ahli mungkin guru2nya kali hehe..wadouw! pusiing.. ngikutin koment2 diblog ini,pdahl mh perkaranya udh jelas tp buat2 rumit karena trlalu bnyak kitab2 karangan ahli kitab,coba aja semua sepakat quran ama hadist sebgai refrensinya udh pasti satu visi hehe.. udahlah mau ke-wongalus dulu ngamalin asr trus rdr ntar law udh tajrib bru di ruqiyah ama kang pa hehe..

  29. belajar lagi kitab2ny….ini artikel yg nulis sarjana psikolog ya?……jgn lgi membidahkan lainnya dunk….ilmu psikolog yg anda pelajari tuh di kampus jg bidah..nulis di blog ini jg bidah,berdakwah lewat blog jg bidah…makanya jgn mudah membidahkan sesuatu,…..aplg ilmu psikologiny yg anda pelajari tuh jiplak dr ilmu pemahaman orang barat….bidah jg tuh….tp pahami tidak semua bidah itu sesat….begitu jg dg sholawat…jgn mudah menyesatkan hanya dg paham n ngerti artiny….pahami jg maksudny…rasakan…ayoo kita belajar lagi…belajar tidak menyalahkan orang lain…tidak menyesatkan orang lain …memvonis ini itu….

  30. ARTIKEL DIATAS… ADALAH… TANGGUNG JAWABMU DI AKHIRAT NANTI..
    SEGELA BENTUK KESESATAN.. ADALAH SEPERTI INI JUGA TERMASUK DIDALAMNYA..
    MELARANG LARANG.. SEMBARI MERASA PALING BENAR, MENGAGUM-NGAGUMKAN DENGAN EGONYA..
    WASALAM

  31. Wahabi adalah wasabi, pedas rasanya..
    KALIAN WAHABI DAN PEMIMPIN KALIAN ADALAH PENGHANCUR DARI KHILAFAH UTSMANIAH, SEHINGGA TERBENTUK NEGARA ARAB SAUDI, KALIAN BEKERJA SAMA DENGAN INGGRIS DAN YAHUDI DEMI LEPAS DARI KHILAFAH ATAU OTTOMAN EMPIRE,,
    YANG KALIAN JADIKAN PATOKAN SEBAGAI ASAL WAHABI DAN SALAFI ADALAH ORANG PENGHANCUR ISLAM DARI DALAM, YAITU ARAB SAUDI.
    WAHABI DAN SALAFI ADALAH GOLONGAN PENGAHNCUR KHILAF UTSMANIAH..

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s