SEDIKIT PEMBELAAN TERHADAP MUHAMMAD IBNU ABDUL WAHHAB ( YANG SERING DIFITNAH PEMBAWA PAHAM WAHABI )

Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

Dari dulu hingga sekarang, perdebatan serta perbincangan seputar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah dan jalan dakwahnya, terus berkecamuk antara mereka yang pro dan yang kontra.

Dan yang mengherankan dari dakwaan mereka yang kontra -yang melontarkan tuduhan-tuduhan kepada Syaikh- adalah: omongan mereka yang kosong dari dalil berupa bukti dari perkataan Syaikh atau tulisan beliau di dalam kitab-kitabnya, yang ada hanyalah tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang terdahulu, lalu ‘difotokopi’ oleh para pewaris mereka.

Kami kira setiap orang yang obyektif sepakat bahwa jalan yang paling tepat untuk mengenal hakikat pemikiran seseorang adalah dengan cara kembali langsung kepada orang tersebut atau kepada referensi-referensi yang otentik.

Alhamdulillah tulisan-tulisan serta ucapan-ucapan Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab -ed) sampai saat ini masih ada dan mudah untuk didapatkan. Dengan menelaah tulisan-tulisan tersebut, benar tidaknya isu-isu yang sementara ini tersebar di masyarakat akan terlihat. Adapun tuduhan-tuduhan yang tanpa bukti, maka ini bagaikan fatamorgana yang tidak ada hakikatnya.

Di tulisan ini, kami akan memaparkan ucapan-ucapan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang kami nukil dengan penuh amanah dari referensi-referensi otentik yang menghimpun perkataan-perkataan beliau. Peran kami dalam buku ini hanyalah sebagai penyusun.

Buku ini memuat jawaban-jawaban Syaikh sendiri, atas tuduhan-tuduhan utama yang dilontarkan ‘para lawan’ dakwah beliau. Kami amat yakin insya Allah dengan taufik dari Allah, tulisan ini akan cukup untuk menjelaskan al-Haq bagi mereka yang memang menginginkannya.

Adapun mereka yang memusuhi dan menentang perjuangannya, yang tidak henti-hentinya menebarkan tuduhan-tuduhan dusta, maka kami katakan kepada mereka: ‘Sadarlah, karena sesungguhnya kebenaran telah jelas, agama Allah ta’ala akan menang dan cahaya matahari yang bersinar terang tidak bisa dihalangi dengan kedua telapak tangan.’

Perkataan-perkataan beliau dalam buku ini meluluhlantakkan tuduhan-tuduhan mereka. Jika mereka memiliki bukti dari perkataan beliau yang menguatkan tuduhan tersebut maka keluarkanlah dan jangan disembunyikan. Jika mereka tidak bisa mendatangkannya, maka kami menasihatkan, “Telusurilah jalan Allah ta’ala dengan hati yang bersih dari hawa nafsu dan kefanatikan terhadap suatu golongan. Mohonlah kepada-Nya agar Dia menunjukkan kebenaran lalu ikutilah kebenaran itu. perhatikanlah perkataan-perkataan beliau, kemudian renungkanlah; apakah beliau datang membawa ajaran baru yang tidak ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah?

Kemudian renungkan kembali: Adakah jalan keselamatan selain dengan mengucapkan kebenaran serta membenarkannya?

Jika telah datang kebenaran kepadamu maka terimalah dan ikutilah kebenaran tersebut; karena yang demikian lebih baik dari pada bersikeras dalam kebatilan.

Hanya kepada Allah-lah semuanya akan kembali…

Hakikat Dakwah Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab

Alangkah baiknya kami paparkan terlebih dahulu penjelasan singkat tentang hakikat dakwah yang beliau serukan. Karena hingga saat ini ‘para musuh’ dakwah beliau masih terus membangun dinding tebal di hadapan orang-orang awam, sehingga mereka terhalang untuk melihat hakikat dakwah sebenarnya yang diusung oleh beliau.

Syaikh berkata,

“segala puji dan karunia dari Allah, serta kekuatan hanyalah bersumber dari-Nya. Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan hidayah kepadaku untuk menempuh jalan lurus, yaitu agama yang benar; agama Nabi Ibrahim yang lurus, dan Nabi Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Alhamdulillah aku bukanlah orang yang mengajak kepada ajaran sufi, ajaran imam tertentu yang aku agungkan atau ajaran orang filsafat.

Akan tetapi aku mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mengajak kepada sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diwasiatkan kepada seluruh umatnya. Aku berharap untuk tidak menolak kebenaran jika datang kepadaku. Bahkan aku jadikan Allah, para malaikat-Nya serta seluruh makhluk-Nya sebagai saksi bahwa jika datang kepada kami kebenaran darimu maka aku akan menerimanya dengan lapang dada. Lalu akan kubuang jauh-jauh semua yang menyelisihinya walaupun itu perkataan Imamku, kecuali perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau tidak pernah menyampaikan selain kebenaran.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/37-38).

“Alhamdulillah, aku termasuk orang yang senantiasa berusaha mengikuti dalil, bukan orang yang mengada-adakan hal yang baru dalam agama.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/36).

“Dan yang aku dakwahkan sebenarnya adalah: Kita tidak boleh menyembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana firman-Nya,

فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَداً

“Maka kamu janganlah menyembah seorang pun di samping menyembah Allah.” (QS. Al-Jin: 18)

Allah ta’ala juga memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرّاً وَلا رَشَداً

“Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak ( pula)kuasa memberikan suatu kemanfaatan.” (QS. Al-Jin: 21)

Inilah firman Allah ta’ala yang telah disampaikan dan diwasiatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita… Inilah yang akan menjadi hakim antara kalian dan diriku. Jika kalian mendengar tentang dakwahku selain yang kukatakan tadi, maka ketahuilah bahwa hal itu adalah dusta.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/90-91).

Poin Pertama: Keyakinan Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di antara tuduhan besar yang dilontarkan ‘musuh-musuh’ dakwah Syaikh kepada beliau dalam masalah ini adalah:

1. Beliau dituduh tidak meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup Para Nabi dan Rasul.

Demikianlah tuduhan yang tersebar, padahal semua kitab karangan beliau telah membuktikan dustanya tuduhan ini. Di antara perkataan beliau yang membantah tuduhan tersebut:

“Aku beriman bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup Para Nabi dan Rasul. Keimanan seseorang tidak dianggap sah hingga dia beriman dengan kenabian dan kerasulannya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/32).

“Orang yang paling bahagia, paling besar kenikmatannya dan paling tinggi derajatnya adalah orang yang paling setia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkan ajaran beliau.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/21).

2. Beliau dituduh tidak memenuhi hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak memosisikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana mestinya.

Untuk menjelaskan hakikat tuduhan ini, kami akan kutip perkataan Syaikh yang menjelaskan keyakinan beliau tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau berkata, “Ketika Allah ta’ala berkehendak untuk menampakkan Tauhid dan menyempurnakan agama-Nya di atas muka bumi, serta meninggikan kalimat Allah dan merendahkan kalimat orang-orang kafir; maka Allah ta’ala mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para rasul dan kekasih Rabb alam semesta. Beliau senantiasa dikenal setiap masa, bahkan disebutkan pula dalam kitab Taurat Nabi Musa ‘alaihis salam dan kitab Injil Nabi Isa ‘alaihis salam. Hingga Allah ta’ala memunculkan mutiara tersebut di antara kabilah Bani Kinanah dan Bani Zahrah. Allah mengutus beliau di masa-masa terputusnya (pengiriman) rasul-rasul, lalu menunjukinya jalan yang lurus.

Sebelum beliau diutus menjadi Rasul, telah tampak pada dirinya tanda-tanda kenabian yang tidak bisa ditiru oleh siapapun yang hidup di zamannya. Allah ta’ala menumbuhkan beliau dengan sebaik-baiknya hingga menjadi orang yang paling mulia akhlaknya, paling tinggi budi pekertinya, paling tangguh kesabarannya, paling baik dengan para tetangganya, serta paling jujur tutur katanya, sehingga kaumnya menjulukinya sebagai al-amin (yang dipercaya); karena di dalam pribadinya terdapat perilaku yang baik dan sifat-sifat yang terpuji.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/90-91).

“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin para pemberi syafaat, dan pemberi syafaat agung (di padang mahsyar), Nabi Adam ‘alaihis salam dan keturunannya kelak berada di bawah benderanya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/86).

“Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam, dan rasul yang terakhir dan yang paling utama adalah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/143).

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalah kepada umatnya dengan sempurna dan menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Beliau adalah penasihat terbaik bagi para hamba Allah, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, berjihad dengan sebenar-benarnya di jalan Allah ta’ala, serta beribadah kepada Allah ta’ala hingga ajalnya tiba.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/21).

Syaikh menjelaskan bahwa sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Salah seorang dari kalian tidak dianggap beriman hingga aku lebih dia cintai daripada orang tua dan anak-anaknya serta seluruh manusia”, menunjukkan akan wajibnya mengedepankan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga dan harta bendanya. (Kitab at-Tauhid: hal. 108).

3. Beliau dituduh mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh menjawab tuduhan ini dengan berkata, “Mereka menuduh kami mengingkari syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Subhanallah! ini adalah kedustaan yang besar. Bahkan kami menjadikan Allah ta’ala sebagai saksi, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang diberi izin Allah ta’ala untuk memberikan syafaat dan pemilik syafaat agung (di padang mahsyar). Kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah agar mengizinkan beliau untuk memberikan syafaatnya kepada kita, dan semoga Allah ta’ala mengumpulkan kita bersamanya kelak.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/63-64).

“Yang mengingkari adanya syafaat adalah ahlul bid’ah dan orang yang sesat. Akan tetapi syafa’at tersebut tidak akan bisa diraih kecuali setelah kita mendapatkan izin serta ridha dari Allah ta’ala. Sebagaimana firman-Nya,

وَلا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 28)

Allah ta’ala juga berfirman.

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizin dari-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)

(Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/31).

Kemudian beliau menjelaskan sebab timbulnya tuduhan dusta tersebut, “Tatkala kusebutkan kepada mereka apa yang difirmankan Allah ta’ala, apa yang disabdakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang dijelaskan para ulama dari berbagai mazhab, tentang perintah untuk memurnikan ibadah untuk Allah ta’ala semata serta larangan untuk menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani yang menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib sebagai tuhan selain Allah ta’ala, mereka pun berkata, “Kamu telah melecehkan para nabi, orang-orang shalih dan para wali.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/50).

Poin Kedua: Tentang Ahlul Bait (Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Di antara tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Syaikh: mereka mengatakan bahwa beliau membenci ahlul bait serta tidak memenuhi hak-hak mereka sebagaimana mestinya.

Jawabannya: tuduhan tersebut tidak sesuai dengan fakta; karena kenyataannya beliau mengakui kedudukan mereka dan mencintai serta menghormati mereka, bahkan beliau mengingkari orang yang benci terhadap mereka, beliau berkata, “Allah ta’ala telah mewajibkan kepada umat ini untuk memenuhi hak-hak keluarga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk mengabaikan hak-hak mereka, dengan prasangka bahwa hal itu adalah bagian dari tauhid. Keyakinan seperti itu termasuk dalam sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Yang kami ingkari adalah model pemuliaan ahlul bait dengan cara meyakini bahwa dalam diri mereka terdapat sifat-sifat ketuhanan, juga aku mengingkari orang-orang yang menghormati oknum-oknum yang mendakwakan hal tersebut.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/284).

Siapapun yang membaca biografi beliau, niscaya dia akan mengetahui kebenaran apa yang diucapkannya. Cukuplah sebagai bukti akan kebenaran ucapan beliau; tatkala beliau menamai enam dari tujuh orang putra-putranya dengan nama-nama ahlul bait. Mereka adalah: Ali, Abdullah, Husain, Hasan, Ibrahim dan Fatimah. Ini merupakan salah satu bukti yang jelas tentang besarnya kecintaan beliau terhadap ahlul bait.

Poin Ketiga: Tentang Karamah Para Wali

Sebagian orang menyebarkan isu bahwa beliau mengingkari adanya karamah para wali.

Perkataan beliau di berbagai pembahasan dalam kitab-kitabnya membuktikan dustanya tuduhan ini. Di antara ucapan beliau, “Aku meyakini keberadaan karamah para wali.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/32).

Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin beliau dituduh demikian, padahal beliau adalah orang yang menyifati golongan yang mengingkari karamah para wali dengan sebutan ahlul bid’ah dan golongan sesat?! Beliau berkata, “Dan tiada yang mengingkari karamah para wali melainkan ahlul bid’ah dan golongan yang sesat.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: I/169).

Poin Keempat: Tentang Pengkafiran

Di antara tuduhan terbesar yang tersebar adalah: bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab beserta pengikutnya mengkafirkan kaum muslimin, dan meyakini bahwa nikah dengan mereka hukumnya tidak sah, kecuali jika menikah dengan orang yang sepaham dengannya atau orang yang hijrah kepadanya.

Beliau telah membantah tuduhan ini di berbagai bukunya, antara lain ucapannya, “Tuduhan bahwa aku telah mengkafirkan kaum muslimin adalah dusta besar yang diada-adakan orang yang memusuhiku; untuk menghalang-halangi orang dari agama ini. Maka aku katakan, “Maha suci Engkau (wahai Rabbku), ini adalah kedustaan yang besar.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/100).

“Bermacam-macam tuduhan telah dilontarkan kepada kami, fitnah pun makin menjadi-jadi, mereka mengerahkan pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki dari kalangan iblis untuk menyerang kami. Dan di antara kebohongan yang mereka sebarkan, adalah tuduhan bahwa aku mengkafirkan seluruh kaum muslimin kecuali pengikutku, dan nikah dengan mereka hukumnya tidak sah. Untuk menukil tuduhan tersebut saja orang yang berakal merasa malu, apalagi untuk mempercayainya. Bagaimana mungkin orang yang berakal memiliki keyakinan seperti itu? Apakah mungkin seorang muslim meyakini keyakinan demikian?. Aku berlepas diri dari tuduhan itu. Tuduhan itu tidaklah dilontarkan melainkan dari orang yang tidak waras dan linglung. Semoga Allah ta’ala memerangi orang-orang yang bermaksud jelek.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/80).

“Yang aku kafirkan adalah orang yang telah mengerti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia menghinanya, menghalangi manusia darinya, serta memusuhi penganutnya. Inilah yang aku kafirkan, dan alhamdulillah kebanyakan umat ini tidaklah demikian keadaannya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/73).

Poin Kelima: Tentang Pemikiran Khawarij

Sebagaian orang menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berpemikiran Khawarij, yaitu mengkafirkan orang yang berbuat maksiat.

Beliau menjawab, “Aku tidak akan mengatakan tentang seorang pun dari kaum muslimin bahwa dia pasti masuk surga atau neraka, kecuali orang yang telah dipersaksikan demikian oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berharap semoga orang yang baik masuk surga, dan aku mengkhawatirkan orang yang berbuat jelek akan masuk neraka. Aku tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin, serta mengeluarkannya dari agama ini, hanya karena dia terjerumus ke suatu perbuatan dosa.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/32).

Poin Keenam: Tentang Menyifati Allah Ta’ala Dengan Sifat Tubuh, Seperti Tubuhnya Makhluk

Di antara isu-isu yang tersebar di publik, bahwasanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mensifati Allah ta’ala dengan sifat tubuh, yakni menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya.

Beliau telah menjelaskan keyakinannya dalam masalah ini, dan kenyataannya beliau amat jauh dari keyakinan batil di atas. Beliau berkata, “Termasuk bagian dari keimanan kepada Allah ta’ala adalah: mengimani sifat-sifat-Nya yang telah disebutkan dalam Kitab dan Sunnah, tanpa mengotori keimanan tersebut dengan tahrif (merubah lafaz maupun makna) dan ta’thil (pengingkaran secara total maupun parsial). Aku meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah subhanahu wa ta’ala, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Aku tidak mengingkari sifat-sifat Allah yang disebutkan di dalam al-Qur’an maupun Sunnah. Aku juga tidak menyelewengkan makna sifat-sifat tersebut, atau berupaya untuk mereka-reka keadaan serta bentuk yang hakiki dari sifat-sifat itu. Aku tidak menyerupakan sifat-sifat Allah ta’ala dengan sifat-sifat makhluk-Nya; karena tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Dia tidak dianalogikan dengan para makhluk-Nya.

Sesungguhnya Allah ta’ala Maha Mengetahui Dzat-Nya serta makhluk-Nya juga Maha benar firman-Nya. Allah telah berlepas diri dari keyakinan-keyakinan golongan takyif (yang berupaya untuk mereka-reka keadaan serta bentuk yang hakiki dari sifat-sifat Allah), maupun golongan tamtsil (yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya). Juga Allah telah berlepas diri dari keyakinan-keyakinan golongan tahrif (yang merubah lafazh maupun makna sifat-sifat-Nya) maupun golongan ta’thil (yang mengingkari sifat-sifat-Nya secara total maupun parsial). Allah ta’ala berfirman,

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (الصافات:180-182)

“Maha suci Rabb-mu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam”. (QS.Ash-Shafat: 180-182).” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/29).

“Sebagaimana telah maklum bahwa ta’thil (pengingkaran sifat-sifat Allah secara total maupun parsial) adalah lawan dari tajsim (menyifati Allah ta’ala dengan sifat jasmani seperti jasmani makhluk). Dua keyakinan ini saling bermusuhan. Dan keyakinan yang benar adalah sikap yang tengah di antara keduanya (yaitu: meyakini sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya).” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, III/11).

Poin Ketujuh: Tentang Menyelisihi Pendapat Para Ulama

Sebagian orang mengatakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam dakwahnya telah menyelisihi para ulama, tidak menghiraukan perkataan mereka, tidak pula merujuk kepada kitab-kitab mereka. Bahkan beliau dituduh telah menciptakan ajaran baru dan membawa pemahaman madzhab yang kelima.

Sebaik-baik bantahan atas tuduhan ini adalah pengakuan beliau sendiri, “Aku adalah orang yang bertaqlid kepada Kitab dan Sunnah, serta para salafus salih. Aku juga bergantung dengan perkataan para imam madzhab yang empat; Imam Abu Hanifah al-Nu’man bin Tsabit, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah merahmati mereka semua.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/97).

“Seandainya kalian mendapatkan fatwaku menyelisihi ijma’ para ulama, maka tunjukkan padaku.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/53)

“Jika kalian mengira bahwa para ulama telah menyelisihi apa yang aku ajarkan, sesungguhnya di hadapan kalian ada kitab-kitab mereka, (bacalah dengan seksama dan bandingkan dengan apa yang kuajarkan).” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/58).

“Aku selalu membandingkan perkataan orang yang bermadzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i maupun Hambali dengan perkataan ulama yang mu’tamad (terpercaya) dalam madzhab tersebut.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/82).

“Walhasil yang aku ingkari adalah pengkultusan terhadap selain Allah ta’ala. Maka jika ajaranku bersumber dari pendapatku sendiri, atau dari buku yang tidak tepercaya, atau semata-mata dari hasil taqlidku kepada para ulama mazhabku (mazhab Hambali); maka buanglah jauh-jauh ajaranku. Namun jika ajaranku bersumber dari Kitab dan Sunnah serta Ijma’ para ulama dari berbagai mazhab; maka tidak layak bagi orang yang beriman terhadap Allah ta’ala dan hari akhir, untuk menolaknya; hanya gara-gara kebanyakan orang di zamannya, atau di negerinya menyelisihi ajaran tersebut.” (Kitab ad-Durar as-Saniyah: I/76).

Penutup

Di penghujung tulisan ini, kami akan mempersembahkan nasihat yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab:

Nasehat pertama adalah untuk orang-orang yang memusuhi dakwah ini dan para pengikutnya, yang senantiasa berusaha untuk menghalanginya, serta melontarkan berbagai macam tuduhan batil kepadanya.

Beliau berkata, “Aku ingatkan orang-orang yang menyelisihiku: Seluruh manusia berkewajiban untuk mengikuti apa yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Bukankah kitab-kitab agama ada pada kalian? Bacalah! Janganlah kalian mengambil sedikitpun dari perkataanku! Namun jika kalian mendapatkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam kitab-kitab tersebut, maka amalkanlah! Meskipun kebanyakan manusia tidak mengamalkannya…

Jangan kalian menaatiku! Namun taatilah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah disebutkan di dalam kitab-kitab kalian…

Ketahuilah bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian melainkan hanya berpegang teguh kepada tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Tidak pantas bagi orang yang berakal untuk melupakan surga dan neraka.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/89-90).

“Aku mengajak orang-orang yang menyelisihiku untuk berpegang dengan empat perkara: Kitabullah, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ijma’ para ulama. Jika kalian tetap keras kepala, maka aku mengajak kalian untuk mubahalah (masing-masing pihak di antara orang-orang yang berbeda pendapat berdoa kepada Allah ta’ala dengan sungguh-sungguh, agar Allah ta’ala menjatuhkan laknat kepada pihak yang salah).” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/55).

Nasehat kedua adalah bagi orang yang sedang merasa bingung, tidak mengerti mana yang benar dan mana yang salah dalam perkara ini.

Syaikh berkata, “Mohonlah (petunjuk) dengan sungguh-sungguh kepada Allah ta’ala, dengan merendahkan diri kepada-Nya, terutama pada waktu-waktu yang mustajab; di antaranya pada waktu sepertiga malam yang terakhir, di akhir shalat, dan antara azan dengan iqamat.

Bacalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terutama yang tertera dalam hadits shahih. Seperti doa yang senantiasa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam baca,

اللهم رب جبرائيل وميكائيل وإسرافيل, فاطر السماوات والأرض, عالم الغيب والشهادة, أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون, اهدني لما اختلف فيه من الحق بإذنك, إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم.

“Wahai Rabb Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Engkaulah yang memutuskan perselisihan di antara hamba-hamba-Mu. Dengan izin-Mu, tunjukkanlah kepadaku kebenaran yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Engkaulah yang menunjuki orang yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.”

Hendaknya engkau sering memanjatkan doa tersebut, kehadirat Dzat yang mengabulkan doa orang yang sedang tertimpa kesusahan. Dialah Yang menunjukkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kepada kebenaran, meskipun menyelisihi seluruh manusia pada zamannya. Ucapkan pula, “Wahai Dzat yang mengajari Nabi Ibrahim, ajarilah aku.”

Dan jika kamu merasa berat (ketika akan mengamalkan kebenaran) gara-gara menyelisihi masyarakatmu, maka renungkanlah firman Allah ta’ala,

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ. إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ (الجاثـية: 18-19).

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sama sekali tidak akan dapat melindungimu dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang dzalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Jatsiyah: 18-19).

Juga firman Allah ta’ala,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ (الأنعام:116)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)

Renungkanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam pertama kali datang dianggap asing, dan (di akhir zaman) akan kembali dianggap asing.”

Juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah ta’ala tidak mencabut ilmu dari muka bumi ini dengan begitu saja, akan tetapi mencabutnya dengan meninggalnya para ulama. Jika tiada lagi ulama di muka bumi, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemuka agama; sehingga mereka sendiri sesat dan menyesatkan.”

Begitu pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ikutilah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasidin sesudahku (Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib).”

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jauhilah hal-hal baru dalam agama (bid’ah), karena semua bid’ah dalam agama adalah sesat.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/42-43).

“Dan jika telah jelas bagimu bahwa inilah kebenaran, yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya, maka wajib bagimu untuk menyampaikan kebenaran itu kepada umat manusia dan mengajarkannya kepada kaum muslimin dan muslimat.

Semoga Allah ta’ala merahmati orang yang menunaikan kewajibannya, bertaubat kepada-Nya, dan mengakui kesalahannya. Ketahuilah bahwa orang yang bertaubat dari suatu kesalahan, bagaikan orang yang tidak memiliki dosa.

Semoga Allah ta’ala menunjukkan kepada kami, kalian dan seluruh saudara-saudara kita jalan yang dicintai dan diridhai-Nya. Wassalam.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/43).

Shalawat, salam serta barakah Allah semoga tetap tercurahkan kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kita dan kekasih kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya.

Diambil dari Kitab Tashhihul Mafahimil Khoti’atiKarya: Syaikh DR. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindy( Dosen Aqidah Universitas Islam Madinah )

Diterjemahkan oleh: Nur Kholis Kurdian, Lc.(Dosen Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafii, Jember, Jawa Timur)Dikoreksi ulang oleh: Abdullah Zaen, Lc. & Muhammad Yasir, Lc.

Mudah-mudahan mereka sumber yang dapat dipercaya, sehingga membuat kita mampu berfikir lebih objective

39 thoughts on “SEDIKIT PEMBELAAN TERHADAP MUHAMMAD IBNU ABDUL WAHHAB ( YANG SERING DIFITNAH PEMBAWA PAHAM WAHABI )

  1. Poin Keempat: Tentang Pengkafiran

    “Seandainya kalian mendapatkan fatwaku menyelisihi ijma’ para ulama, maka tunjukkan padaku.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/53)
    ———————————————————————

    wahai perdana akhmad…..artikel ini menyangkut tokoh anda muhamad bin abdul wahab….. maka sy akn mengomentari artikel ini dgn menunjukan suatu bukti dari kitab karangan muhamad bin abdul wahab sendiri….. silahkan anda bantah tapi jk tdk bisa mnjwbnya…mhn jangan hapus tanggapan sy….trims.

    baiklah, to the point aja…..bagaimana tanggapan anda mengenai kitab kasyfu asy syubuhat, yg disinyalir mengkafirkan kaum muslimin, bahkan mengkafirkan para sahabat rosul SAW….silahkan kaji……

    http://abusalafy.wordpress.com/2008/06/16/judul-judul-serial-%E2%80%9Ckitab-kasyfu-asy-syubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas-secara-berurutan/

    • @Akang Kian Santang,

      Hapunten Satacana. Kalau kita perhatikan kata kafir dalam Al Qur’an-pun tidak sedikit ditujukan kepada orang islam yang mengingkari ayat2 Allah. Kata Kafir tidak semuanya bermakna keluar dari Islam, seperti makna kata jin untuk menafsirkan setan.

      Qurois Shihab pernah membahas juga di tv ketika membagi pengetahuan tafsirnya.

      Sy juga sudah baca alasan/bukti Kang Kian Santang ajukan ke Sdr Permana. Hanya saja, sy lebih melihat kata KAFIR yg rupanya jadi polemik, dia itu hanya bermakna melanggar, bukan mengeluarkan dirinya dari Islam. Bapak sy sendiri, dulu kadang menggunakan kata itu jika memarahi sy. Tapi mungkin bagi Akang, kata itu menyakit hati akang.

      Sakali deui hapunten, ngiring usul sa alit.

  2. tolong baca kitab syaikh sulaiman bin abdul wahab (petir menyambar untuk orang wahabi) kakak dan seorang faqih mahzab hambali tentang siapa sebenarnya pemuka wahabi ini /muhammad bin abdul wahab, wajarlah klo di kalangan orang2 wahabi di ceritakan yang baik2 tapi keburukannya di tutuptutupi, di arab saudi sendiri jika ada buku yang mengkrithsi wahabi maka akan di anggap subversif

    • Mas Hudaf,

      Sy udah baca buku yg anda sebutkan. Keburukan atau kekurangan bukan untuk menggeneralisasi. Dan buku yg itu isinya cuma kebencian semata.

      Kebencian kepada kaum wahabi, sebenarnya cuma karena ”Kok marah sih diingatkan dengan Kitabnya Sendiri dan Sunnah Nabinya sendiri?”. Jadi ujung2nya dicap Wahabi tuh yg ngingetin. Yg sy tau orang yg sering disebut wahabi, kayaknya nyaman2 aja disebut wahabi. gak masalah kayaknya.

      Sederhana saja, Bantah saja dengan Dalil, jika tdk setuju dgn paham wahabi.

      Sy bukan Wahabi, jadi… piss ah!

  3. DALIL AQLI BLOG METAFISIS HARUS DIJAUHI
    Perdana adalah seorang wahabi, setiap wahabi adalah kelompok aliran menyimpang, kesimpulan pertama perdana adalah kelompok aliran menyimpang.

    Kelompok aliran menyimpang adalah kelompok orang jahil, setiap orang jahil salah dalam mengambil kesimpulan, kesimpulan kedua perdana adalah orang jahil dan salah mengambil ksimpulan.

    Setiap orang jahil harus dijauhi, setiap yang dijauhi mengandung bahaya. Kesimpulan ketiga perdana adalah orang yang harus dijahui lagi berbahaya.

    Setiap orang yang dijahui lagi berbahaya harus dikarantina, setiap yang dikarantina harus diawasi dengan seksama, kesimpulan keempat, perdana adalah seorang yang harus dikarantina dan diawasi selalu.

    Setiap orang yang dikarantina dan diawasi selalu adalah manusia yang harus dikasihani, setiap yang dikasihani harus diberi.kesimpulan kelima perdana adalaah orang yang harus dikasihani dan diberi.

    Setiap yang dikasihi dan diberi adalah orang yang hina, setiap yang berteman dan sepemikiran dengannya adalah hina. Kesimpulan keenam perdana adalah orang yang hina dan setiap yang sepemikiran dengannya adalah orang hina.
    Demikian dalil aqal kenapa blog ini harus dijauhi

  4. maaf mas balung andai saja orang wahabi toleran dengan yang namanya perbedaan dalam masalah ijtihadiyah agama misalnya masalah tawassul dan tabarruq dan lain-lain maka lain hal ceritanya, banyak konsensus yang di hancurkan oleh golongan wahabi abdul wahab ini, silahkan anda baca tafsir shawi yang asli bab fitnah wahabi klo tidak punya datang aza kerumah, saya juga pernah membaca buku putih pembelaan ulama wahabi, dan saya lebih percaya dengan penjelasan syeikh sulaiman dan syeikh shawi

  5. haihata haihati jika allamah syaikh shawi dan syaikh sulaiman mengarang buku yang mengkritisi wahabi di anggap orang bodoh yang benci membabi buta dengan kaum la mahzab wahabi

    • Iya sih Mas Hudaf,

      kadang-kadang kita menemukan ada beberapa muslim dan muslim lainnya jadi saling membenci karena berbeda aliran. Di satu sisi mereka bilang hanya membenci pendapatnya saja. Kenyataannya benci antara manusianya.

      Sy dilahirkan dilingkungan NU dan Muhammadiyah, tapi di kampung kami tdk mempermasalahkan perbedaan. Masih bisa saling bergantian jadi Imam dan Makmum.

      Sy sendiri bersahabat baik dengan teman yg beraliran syiah. Kadang berdiskusi masalah perbedaan sumber dalil. Walaupun sama2 tahu tidak akan mencapai titik temu, tapi diskusi kami baik2 saja. Dan pernah bergantian menggali kubur, ketika ada warga yg wafat.

      Sama2 punya dalil, sama2 punya keyakinan. Kalau kita menyikapi dengan arif, kita masih bisa hidup berdampingan dengan nyaman.

      Salam mas Hudaf.

  6. waalaikum salam mas balung memang akhir2 ini saya bersyukur dengan mulai adanya sedikit pengertian antara nu dengan orang2 wahabi, karena musuh kita adalah makin maraknya aliran sesat yang makin mewabah

  7. Ulama terkemuka masa lalu yang menolak paham Wahabi/Salafi dalam kitabnya :

    Fasl al-Khitab fi Radd ‘ala Muhammad ibn Abdil Wahhab oleh Syaikh Sulaiman ibn Abdil Wahhab. Inilah merupakan kitab yang pertama yang menolak fahaman Wahhabi yang ditulis oleh saudara kandung pengasas fahaman Wahhabi.

    As-Sowa’qul Ilahiyyah fi Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Syaikh Sulaiman ibn ‘Abdul Wahhab al-Najdi

    Fitnah al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (kitab ini telah diterjemahkan ke bahasa Melayu oleh Ustaz Muhammad Fuad bin Kamaluddin ar-Rembawi)

    Ad-Durarus Saniyah fi al-Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan

    Khulasatul Kalam fi Bayani ‘Umara` al-Balad al-Haram karangan al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan

    Saif al-Jabbar oleh Syaikh Fadhlur Rasul

    Al-Aqwal al-Mardiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-Syaikh al-Faqih ‘Atha’ al-Kasam al-Dimashqi al-Hanafi

    Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Sholeh al-Kuwaisy al-Tunisi

    Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Abu Hafs Umar al-Mahjub

    Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Muhammad Sholeh al-Zamzami al-Syafie

    Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Ibrahim ibn Abdul Qadir al-Tarabulasi al-Riyahi al-Tunisi

    Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Mufti Madinah Zubir di Bashrah – Syaikh Abdul Muhsin al-Asyniqiri al-Hanbali

    Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Mufti Fez – Syaikh al-Makhdum al-Mahdi

    Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Qadhi Jamaa’ah di Maghribi – Syaikh Ibn Kiran

    Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh Syaikhul Islam Tunisia- Syaikh Ismail al-Tamimi al-Maliki

    Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh Syaikh Ahmad al-Misri al-Ahsa’i

    Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh al-‘Allamah Barakat al-Syafie al-Ahmadi al-Makki

    Ar-Radd ‘ala Muhmmaad ibn Abdil Wahhab karangan Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi asy-Syafie, guru dan syaikh bagi Ibn ‘Abdul Wahhab. Disebut oleh Ibnu Marzuq asy-Syafie: Syaikhnya ini telah berfirasat bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab akan menjadi orang yang sesat dan menyesatkan seperti mana firasat syaikhnya Muhammad Hayat as-Sindi dan dan ayahnya [ayahnya Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab].

    At-Taudhih ‘ala Tauhid al-Khallaq fi Jawab Ahli al-Iraq ‘ala Muhammad ibn
    ‘Abdul Wahhab karangan Syaikh ‘Abdullah Affendi al-Rawi

    Al-Haqiqah al-Islamiyah fi ar-Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Abdul Ghani ibn Sholeh Hamadah.

    Ad-Dalil Kafi fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabi oleh Syaikh Misbah ibn Muhamad Syabqalu al-Beiruti

    Radd Muhtar ‘ala Durr al-Mukhtar oleh Ibn ‘Abidin al-Hanafi al-Dimasyqi

    Al-Haq al-Mubin fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyin oleh Syaikh Ahmad Sa’id al-Faruqi al-Sirhindi al-Naqsyabandi

    Al-Haqaiq al-Islamiyah fi Radd ‘ala Maza’im al-Wahhabiyyah bi Adillah al-Kitab wa al-Sunnah al-Nabawiyyah oleh Syaikh Malik ibn Syaikh Mahmud.

    • kalo ulama tarekat sufiyah memang musuh besar dan sangat membenci Sayikh MUhammad bin Abdul Wahab, apapun akan dilakukan untuk membungkam da’wah muwahidin Wahabi, namun alhamdulillah da’wah pemurnian tauhid sekarang justru semakin besar sebab bertambah banyak umat islam yang mengerti da’wah salaf dan tidak ikut-ikutan fitnah murahan tarekat sufiyah. kunjungi saja link http://bantahansalafytobat.wordpress.com/ untuk tahu kakikat da’wah syaikh abdul wahab dan bantahan bagi orang-orang yang membenci da’wah pemurnian islam yang beliau bawa, saya tidak mau membahas lebih jauh sebab bukan pokok bahasan blog ini

  8. PENDAPAT SULAIMAN BIN ABDUL WAHHAB MENGENAI MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

    Sulaiman bin Abdul Wahhab menyatakan kesesatan ajaran adiknya dalam kitab Al-Sawa’iq Al-Ilahiyyah halaman 5 :

    “Dan hari ini kita menderita dengan mereka yang mengaku mengasosiasikan dirinya dengan Quran dan Sunnah, dan mengaku mendapatkan penetapan dari mereka, sementara mereka tidak peduli pada pendapat para ulama yang berbeda pandangan dengan mereka, dan menolak untuk membahas keputusan mereka dengan ulama yang memenuhi syarat. Yang lebih buruk lagi, adalah bahwa mereka memaksakan peraturan mereka kepada umat dan menganggap siapa pun yang berbeda pandangang dengan mereka adalah kafir. ”

    Muhammad bin Hamid Al-Najdi, menyatakan pada bab mengenai Syekh Abdul Wahhab, Ayah dari Muhammad Ibn Abdul Wahhab dalam kitab Al-Suhub Al-Wabila ala Dara’ih Al-Hanabila, jilid 2 halaman 680:

    “Dia adalah ayah dari pendiri paham Wahhabbi;. Muhammad bin Abdul Wahhab, yang kontrobersi mengenainya telah menyebar ke banyak tempat. Meskipun Muhammad tidak mendakwahkan secara terbuka ide-idenya dan ajaran-ajarannya sampai setelah kematian ayahnya, saya diberitahu oleh beberapa Ulama di majelis ulama yang hidup pada masa Ibnu Abdul Wahhab, bahwa ayahnya (Abdul Wahhab) sangat marah padanya karena tidak belajar fikih dari Syeikh dan ulama Najd, dan bahwa Syaikh Abdul Wahhab memprediksi bahwa putranya akan menjadi penyebab kerusuhan Syeikh Abdul Wahhab akan berkata kepada orang-orang:.. ‘Anda akan menyaksikan kejahatan dari Muhammad. Syeikh Sulaiman; saudara Muhammad, juga melawan ajaran-ajaran Muhammad dan membantah mereka dengan ayat-ayat Alquran dan hadis, karena Muhammad tidak mau menerima bukti-bukti nyata selain dari Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim, ia menganggap karya-karya mereka hampir sakral dan sempurna. Dia menggunakan kata-kata Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim untuk berdebat dengan umat, bahkan jika kata-kata mereka tidak dapat dipahami dengan cara Muhammad memahami mereka.”

    Seorang Ulama dan Sejarawan terkemua Islam, yakni Ibrahim Al-Haydari mengatakan dalam kitabnya Inwan Al-Majd fi Bayan Ahwal Baghdad wal Basra wa Najd halaman 235:

    “Ibnu Abdul Wahhab tidak mengikuti metodologi ayahnya Abdul Wahhab dan kakaknya Sulaiman, sebaliknya dia sangat tidak bertoleransi, dia selalu menyerang ulama, ia menyatakan siapa saja yang berbeda dengan dia sebagai kafir dan diizinkan untuk menumpahkan darahnya.

    Ibnu Abdul Wahhab dianggap membunuh Muslim lainnya yang ia anggap berbeda dengan slogan ‘Jihad demi Allah’, dan ia tidak akan ragu untuk menyatakan uang dan barang-barang lawannya sebagai jarahan perang untuk dia dan para pengikutnya.

    Dia menyatakan dilarang bagi kaum Muslim untuk berziarah makam Nabi (saw) dan mencari syafaat, atau perantaraan nabi lain dan awliya’a, yang dimana banyak ulama sunnah justru mengizinkan hal tersrbut. Juga diketahui bahwa ia mengklaim ijtihad mutlaq, atau ijtihad terbatas. Dia menggunakan buku-buku Ibnu Taimiyah sebagai acuan untuk fatwanya, dan tidak mempercayai ulama lain. “

  9. Imam Ibnu Hajar al-Haitami seorang ulama Ahlulsunnah bermadzhab Syafi’i menyatakan dalam kitabnya berjudul Hasyiyah al-Idlah Ala Manasik al-Hajj Wa al-’Umrah (Kitab Penjelasan terhadap Karya Imam an-Nawawi) :

    “… Jangan tertipu dengan pengingkaran Ibn Taimiyah terhadap kesunahan ziarah ke makam Rasulullah, karena sesungguhnya dia adalah manusia yang telah disesatkan oleh Allah, sebagaimana kesesatannya itu telah dinyatakan oleh Imam al-’Izz ibn Jama’ah, juga sebagaimana telah panjang lebar dijelaskan tentang kesesatannya oleh Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya tersendiriuntuk itu (yaitu kitab Syifa’ as-Siqam Fi Ziyarah Khayr al-Anam).

    PenghinaanIbn Taimiyah terhadap Rasulullah ini bukan sesuatu yang aneh; oleh karenaterhadap Allah saja dia telah melakukan penghinaan, –Allah maha suci darisegala apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir dengan kesucian yang agung–. Kepada Allah.

    Ibn Taimiyah ini telah menetapkan arah, tangan, kaki, mata, dan lain sebagainya dari keburukan-keburuan yang sangat keji. Ibn Taimiyah ini telah dikafirkan oleh banyak ulama, –semoga Allah membalas segala perbuatan diadengan keadilan-Nya dan semoga Allah menghinakan para pengikutnya; yaitu merekayang membela segala apa yang dipalsukan oleh Ibn Taimiyah atas syari’at yangsuci ini–”.
    ================================================== =

    Salah Seorang Ulama Terkemuka Dalam Madzhab Hanafi; Imam Ibn Abidin, menyatakan kesesatan wahabi.

    “……. seperti yang terjadi di zaman kita tentang kelompok Wahabiyyah pengikut Muhammad ibn Abdil Wahhab yang berasal dari Najd; mereka menguasai dua tanah haram (Mekah dan Madinah), mereka “ngaku-ngaku” bermadzhab Hanbali, bahkan mereka berkeyakinan bahwa hanya diri mereka yang beragama Islam; dan siapapun yang meyalahi mereka adalah orang-orang musyrik. maka dengan alasan ini; mereka membolehkan membunuh kaum Ahlussunnah dan para ulamanya……”.
    ================================================== =

    Di ambil dari salah satu situs wahabi yang terbukti berbohong atau tidak tahu sejarah tapi sok tahu.

  10. MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB MENGKAFIRKAN MAYORITAS SAHABAT NABI MUHAMMAD SAW di dalam kitab yang ia tulis sendiri?

    “Sekelompok sahabat ada yang berjihad bersama Rasulullah, salat bersamanya, membayar zakat, berpuasa dan haji, namun demikian mereka itu adalah kaum kafir dan jauh dari Islam!”

    Masih dalam kitab karya muhammad ibnu abdul wahab yakni kitab kasyfu asy syubuhat, ia menuduh saidah Fathimah az zahra (as) berlaku musryik ketika menziarahi makam ayahnya Nabi Muhammad saw. Mengkafirkan Bilal ra, menggkafirkan Imam ‘Ali dan sahabat nabi lainnya karena bertawassul.

    Ia juga mengkafirkan Ibnu Arabi dan ulama besar lainnya di dalam kitab tersebut.

  11. waduh kalau beda lalu mentakfir, maka itu khusus bagi yang punya otoritas mentahdzir. baca buku karya mohammad jamil Zeno tentang mesranya khawarij dan syiah

  12. Orang wahabi, malah seneng dibilang wahabi, Kalau disamain khawarij, masa sih? coba deh jelasin apa itu wahabi?, apa itu khawarij?

    ternyata makin banyak orang Indonesia ngaji wahabi, sama2 umat Islam kok, gak usah pake gerah, gak usah pake katanya.

  13. Seperti kata mas Perdana di atas ini blog metafisis jadi yah ga perlu diperpanjang lagi dech, lagian tadinya saya cuma iseng doang mampir kesini.

    • sampeyan ini cari kebenaran atau kesalahan mas ?? coba anda baca kitab-kitab asli syaikh ibnu Abdul Wahhab dan tunjukkan disini pengkafiran beliau terhadap siapapun yang anda tuduhkan itu. Jangan mengutip dari situs yang berkhianat dlm mengutip seperti orang-orang syiah atau quburiyun. berikanlah bukti-bukti yang jelas jangan hanya katanya-katanya atau copy dari si alan dan si fulan, tunjukkan dalil-dalilmu kalau kamu memang orang yang benar !!!

  14. Semua orang yang objektif walau bukan salafy jika jujur, pasti akan berkata, bahwa didalam kasyfu syubhat tidak ada pengkafiran asal-asalan, tetapi adalah bantahan terhadap orang-orang yang menyelesihi pokok-pokok aqidah, karena aqidah telah dijelaskan secara gamblang sehingga tidak ada ijtihad atau ikhtilaf didalamnya dan dialah yang menjadi dasar utama diterimanya ibadah seorang hamba, barulah kemudian niat dan kesesuaian dengan tuntunan Nabi SAW. Tawassul sbg contoh tidak ada khilafiah didalamnya, karena Allah hanya membolehkan hamba-Nya bertawassul dgn amal shalih ataupun meminta doa kepada orang shalih yg masih hidup bukan kepada mayat para wali yang tidak mampu memberi manfaat bagi diri mereka sendiri apalagi orang lain. Nabi SAW diakhir hayatnya terang 2 an mengutuk orang yahudi dan nasrani yang menjadikan kubur nabi mereka sbg masjid sehingga melarang umatnya menjadikan kuburnya sbg tempat ibadah, lalu bagaimana dengan orang selain Beliau ?? Tentulah tidak lebih layak lagi kuburnya dijadikan tempat beribadah. Tabarruk hanya dilakukan para sahabat ketika nabi masih hidup, karena bila itu adalah kesalahan tentu saja akan dilarang oleh Allah SWT, sepeninggal Nabi SAW tidak ada lagi tabarruk dengan benda ataupun orang sehingga Umar bin Khattab Ra pernah berkata : bahwa kalau bukan karena Nabi mencium Hajar Aswad tentu beliau juga tidak akan menciumnya. Batu seperti hajar aswad saja tidak bisa mendatangkan manfaat, apatah lagi benda-benda atau jimat selainnnya ??? fa’tabiru ya ulil albab…

  15. Diharapkan agar banyakkan maklumat mengenai Wahabi ni supaya kita tidak terkeliru kerna kadang2 kita melakukan sesuatu dan sama seperti Wahabi perbuat,dituduh kita Wahabi sedangkan kita bukan berfahaman Wahabi..klu jelas Wahabi itu bertentangan dgn fahaman yg lain..bertentangannya dimana? klu boleh jelaskan dgn nas dan dalilnya agar kita yg cetek pengetahuan ini tdk terkeliru.

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s