Ajaran Kejawen Sapto Darmo dalam Pandangan Islam

BAGIAN I

Banyak pertanyaan dari masyarakat seputar ajaran Kejawen. Pertanyaan tersebut tidak semata disampaikan oleh orang yang awam terhadap Islam, akan tetapi juga oleh para da’i, takmir masjid, dan tokoh masyarakat. Dari ‘nada’ pertanyaan mereka, penulis menangkap bahwa masyarakat masih menganggap Kejawen merupakan bagian dari Islam, sehingga mereka sering menyebut dengan nama Islam Kejawen. Untuk itulah kami menurunkan tulisan ini, yang insya Allah akan membantu menjawab kerancuan (syubhat) tersebut.

Dalam bagian pertama ini akan dibahas tentang aliran Sapto Darmo, yang merupakan salah satu aliran besar kejawen.

Justify FullA. Pengertian Kejawen (Kebatinan)

Rahnip M., B.A. dalam bukunya “Aliran Kepercayaan dan Kebatinan dalam Sorotan” menjelaskan; “Kebatinan adalah hasil pikir dan angan-angan manusia yang menimbulkan suatu aliran kepercayaan dalam dada penganutnya dengan membawakan ritus tertentu, bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang ghaib, bahkan untuk mencapai persekutuan dengan sesuatu yang mereka anggap Tuhan secara perenungan batin, sehingga dengan demikian –menurut anggapan mereka- dapat mencapai budi luhur untuk kesempurnaan hidup kini dan akan datang sesuai dengan konsepsi sendiri.”1
Dari pengertian diatas didapat beberapa istilah kunci dari ajaran kebatinan yaitu: (i) Merupakan hasil pikir dan angan-angan manusia, (ii) Memiliki cara beribadat (ritual) tertentu, (iii) Yang dituju adalah pengetahuan ghaib dan terkadang juga malah bertujuan menyatukan diri dengan Tuhan, (iv) Hasil akhir adalah kesempurnaan hidup dengan konsepsi sendiri.

B. Sejarah Berdirinya

Secara umum kejawen (kebatinan) banyak bersumber dari ajaran nenek moyang bangsa Jawa yaitu animisme dan dinamisme,2 yang diwariskan secara turun temurun sehingga tidak dapat diketahui asal-muasalnya.

Sapto Darmo —salah satu aliran besar kejawen— pertama kali dicetuskan oleh Hardjosapuro dan selanjutnya dia ajarkan hingga meninggalnya, 16 Desember 1964. Nama Sapto Darmo diambil dari bahasa Jawa; sapto artinya tujuh dan darmo artinya kewajiban suci. Jadi, sapto darmo artinya tujuh kewajiban suci. Sekarang aliran ini banyak berkembang di Yogya dan Jawa Tengah, bahkan sampai ke luar Jawa. Aliran ini mempunyai pasukan dakwah yang dinamakan Korps Penyebar Sapto Darmo, yang dalam dakwahnya sering dipimpin oleh ketuanya sendiri (Sri Pawenang) yang bergelar Juru Bicara Tuntunan Agung.

C. Ajaran pokok Sapto Darmo3 dan Bantahannya

1. Tujuh Kewajiban Suci (Sapto Darmo)

Penganut Sapto Darmo meyakini bahwa manusia hanya memiliki 7 kewajiban atau disebut juga 7 Wewarah Suci, yaitu:

*
Setia dan tawakkal kepada Pancasila Allah (Maha Agung, Maha Rahim, Maha Adil, Maha Kuasa, dan Maha Kekal).
*

Jujur dan suci hati menjalankan undang-undang negara.
*

Turut menyingsingkan lengan baju menegakkan nusa dan bangsa.
*

Menolong siapa saja tanpa pamrih, melainkan atas dasar cinta kasih.
*

Berani hidup atas kepercayaan penuh pada kekuatan diri-sendiri.
*

Hidup dalam bermasyarakat dengan susila dan disertai halusnya budi pekerti.
*

Yakin bahwa dunia ini tidak abadi, melainkan berubah-ubah (angkoro manggilingan).

Bantahannya:

Dalam sudut pandang aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, ajaran Sapto Darmo hanya berisi keimanan kepada Allah sebatas beriman terhadap Rububiyah Allah; itupun dengan pemahaman yang salah. Rububiyah Allah hanya difahami sebatas lima sifat (Pancasila Allah) yaitu Maha Agung, Maha Rahim, Maha Adil, Maha Kuasa, dan Maha Kekal. Padahal sifat rububiyah Allah itu banyak sekali (tidak terbatas dengan bilangan).

Keimanan secara benar terhadap Rububiyah Allah saja belum menjamin kebenaran Iman atau Islam seseorang, apalagi yang hanya beriman kepada sebagian kecil dari sifat rububiyah Allah seperti ajaran Sapto Darmo ini. (Baca: Rubrik Tauhid oleh Ustadz Abu Nida’, halaman 2).

Inti ajaran Sapto Darmo hanya mengajarkan iman kepada Allah saja. Hal itu menunjukkan batilnya ajaran Sapto Darmo dalam pandangan Islam. Aqidah Islam memerintahkan untuk mengimani enam perkara yang dikenal dengan rukun iman, yaitu beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan Takdir yang baik maupun buruk. al-Allamah Ali bin Ali bin Muhammad bin Abil ‘Izzi4 dalam menjelaskan rukun iman mengatakan; “Perkara-perkara tersebut adalah termasuk rukun iman.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Artinya; “Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya; demikian pula orang-orang yang beriman; mereka semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya…” (QS. al-Baqarah [2] : 285)

Juga firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

Artinya; “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, Nabi-nabi.” (QS. al-Baqarah [2] : 177)

Maka, keimanan yang dikehendaki oleh Allah adalah iman kepada semua perkara tersebut. Dan orang yang beriman kepada perkara-perkara tersebut dinamakan mukmin; surgalah balasan baginya. Sedangkan yang mengingkari perkara-perkara tersebut dinamakan kafir dan neraka jahannamlah tempat kembali yang pantas untuknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Artinya; “Barangsiapa tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka Kami sediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang menyala-nyala.” (QS. al-Fath [48] :13)

Dan dalam sebuah hadits yang keshahihannya tidak diperselisihkan lagi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh Malaikat Jibril ‘alaihis-salam kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang arti iman. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

Artinya; “Bahwa keimanan itu adalah engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan Takdir yang baik maupun buruk.”5

Inilah prinsip dasar yang telah disepakati oleh para Nabi dan Rasul.

Seseorang tidak dikatakan beriman kecuali dengan mengimani para Rasul dan rukun iman yang lainnya.

2. Panca Sifat Manusia

Menurut Sapto Darmo, manusia harus memiliki 5 (lima) sifat dasar yaitu:

*

Berbudi luhur terhadap sesama umat lain.
*

Belas kasih (welas asih) terhadap sesama umat yang lain.
*

Berperasaan dan bertindak adil.
*

Sadar bahwa manusia dalam kekuasaan (purba wasesa) Allah.
*

Sadar bahwa hanya rohani manusia yang berasal dari Nur Yang Maha Kuasa yang bersifat abadi.

Bantahannya:

Salah satu dari ajaran Sapto Darmo dalam Panca Sifat Manusia –yang perlu dikritisi- adalah bahwa hanya ruhani manusia yang berasal dari sinar cahaya Yang Maha Kuasa yang bersifat abadi.

Dalam pandangan Islam keyakinan seperti ini sangat bathil. Sebab semua yang ada di alam semesta ini selain Allah adalah makhluk; dan semua makhluk adalah tidak kekal, termasuk juga manusia, baik ruhnya maupun jasadnya. Manusia adalah makhluk; yang diciptakan oleh Allah dari tanah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat ash-Shaffat:

Artinya: “…Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.” (QS. ash-Shaffat [37] :11)

Dalam ayat lain disebutkan bahwa manusia diciptakan dari at-thin (tanah), sebagaimana dikatakan oleh Iblis laknatullahu ‘alaihi ketika menolak bersujud kepada Adam ‘alaihis-salam, ia berdalih:

Artinya; “Engkau ciptakan aku dari api, sedang Engkau ciptakan dia (Adam) dari tanah.” (QS. al-A’raf [7]: 12)

Karena manusia itu makhluk, maka baik ruh maupun jasadnya tidak ada yang abadi.

Keyakinan Sapto Darmo tentang keabadian ruh manusia muncul dari anggapan mereka bahwa pada diri manusia terdapat ‘persatuan dua unsur’ yaitu unsur jasmani -dari tanah- dan unsur ruhani -yang mereka dakwakan sebagai- cahaya Allah yang abadi. Dalam terminologi kebatinan hal itu disebut dengan ajaran Panteisme, yakni bersatunya unsur Tuhan (Laahut) dan unsur manusia (Naasut).

Terhadap pandangan yang menyatakan bahwa ruh itu abadi, al-Allamah Ali bin Ali bin Muhammad bin Abil ‘Izzi menjelaskan; “Dikatakan bahwa ruh itu azali (qadim). Padahal para Rasul telah bersepakat bahwa ruh itu baru, makhluk, diciptakan, dipelihara, dan diurus. Ini adalah perkara yang telah diketahui secara pasti dalam agama bahwa alam itu baru (muhdats). Para sahabat dan tabi’in juga memahami yang seperti ini kecuali setelah muncul pemikiran yang bersumber dari orang yang dangkal pemahamannya terhadap al-Qur’an dan As-Sunnah lalu menyangka bahwa ruh itu qadim. Dia berhujjah bahwa ruh itu termasuk urusan Allah (min amrillah) sedangkan amrullah bukan makhluk karena di-idhafah-kan kepada Allah seperti ‘ilmu, qudrah, sama’, bashar’, dan tangan. Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah telah sepakat bahwa ruh itu makhluk. Diantara ulama yang menyebutkan tentang ijma’ tersebut adalah Muhammad bin Nashr al-Muruziy, Ibnu Qutaibah, dan lainnya. Adapun dalil bahwa ruh itu makhluk adalah firman Allah Ta’ala:

Artinya; ‘Allah-lah Pencipta segala sesuatu.’ (Q.S. Az Zumar: 62)”

Dalam alenia berikutnya Beliau melanjutkan keterangannya; “Allah Ta’ala adalah Al-Ilah yang memiliki sifat kesempurnaan. Maka ilmu-Nya, Kekuasaan-Nya, hidup-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, dan semua sifat-sifat-Nya termasuk dalam sebutan nama-Nya. Maka Dia, Allah Subhanahu, Dzat maupun Sifat-Nya adalah Pencipta (Al-Khaliq) dan selain Dia adalah makhluk. Dan telah difahami secara qath’iy bahwa ruh itu bukan Allah dan bukan pula salah satu dari sifat Allah melainkan salah satu dari ciptaan-Nya.” Adapun terkait dengan penisbatan (idhafah) ruh kepada Allah maka Beliau menjelaskan; “Perlu diketahui bahwa penisbatan kepada Allah ada dua macam;

Pertama: Penisbatan sifat yang menyatu dengan dzat Allah seperti ilmu, qudrah, kalam, sama’, dan bashar. Maka penisbatan ini adalah penisbatan sifat kepada yang disifati (idhafatu shifah ila maushuf). Oleh karena itu ilmu, kalam, sama’, dan bashar adalah sifat Allah. Demikian juga wajah dan tangan Allah.

Kedua: Penisbatan dzat yang terpisah (munfashilah) dari Allah seperti rumah, hamba, Rasul, dan ruh. Maka penisbatan rumah, hamba, rasul, dan ruh kepada Allah adalah penisbatan makhluk kepada Pencipta-Nya.”

3. Konsep Kitab Suci

Kitab suci penganut Sapto Darmo adalah yang diusahakan oleh Bopo Panuntun Gutama, yang tidak lain adalah pendirinya itu sendiri, Hardjosapuro. Menurut pandangan mereka, kitab ini berasal dari kumpulan ‘wahyu’ dari Tuhan yang memiliki sifat Pancasila Allah.

Bantahannya:

Kitab Suci penganut Sapto Darmo sebagaimana disebutkan di muka adalah yang diusahakan oleh Bopo Panuntun Gutama, yaitu Hardjosapuro. Menurut pandangan mereka, kitab suci mereka itu berasal dari ‘wahyu’ yang berasal dari Tuhan yang memiliki sifat Pancasila Allah. Itu berarti bahwa ‘kitab suci’ tersebut baru, lahir sekitar 40 tahun yang lalu.

Bagaimana kalau dikembalikan kepada ajaran Islam? Aqidah Islam mengajarkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup kenabian dan kerasulan. Dan al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala; karena tidaklah kitab suci itu diturunkan melainkan melalui para Rasul; dan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi dan Rasul. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Artinya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Ahzab [33] : 40)

Dengan meyakini ‘kitab suci’ yang dibikin sekitar 40 tahun itu berarti sama saja dengan mengingkari Muhammad sebagai penutup para Nabi dan Rasul. Itu berarti ajaran ini secara tidak langsung mengakui dan menetapkan adanya Nabi baru setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu ajaran seperti ini jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

4. Konsep tentang Alam

Konsep alam dalam pandangan Sapto Darmo adalah meliputi 3 alam:

*

Alam Wajar yaitu alam dunia sekarang ini.
*

Alam Abadi yaitu alam langgeng atau alam kasuwargan. Dalam terminologi Islam maknanya mendekati alam akhirat.
*

Alam Halus yaitu alam tempat roh-roh yang gentayangan (berkeliaran) karena tidak sanggup langsung menuju alam keswargaan. Roh-roh tersebut berasal dari manusia yang selama hidup di dunia banyak berdosa.

Bantahannya:

Aliran Sapto Darmo meyakini adanya alam halus yaitu alam tempat roh-roh yang gentayangan atau berkeliaran karena tidak sanggup langsung menuju alam keswargaan. Kata mereka, roh-roh tersebut berasal dari manusia yang selama hidup di dunia banyak berdosa.

Aqidah Islam tidak mengenal alam yang demikian itu. Setelah manusia meninggal dunia –bagaimanapun cara meninggalnya– maka selanjutnya ia berada dalam suatu alam yang disebut dengan alam kubur atau alam barzakh, sebagaimana dijelaskan oleh al-Allamah Ali bin Ali bin Muhammad bin Abil ‘Izzi. “Ketahuilah, bahwa adzab kubur adalah adzab barzakh. Semua orang yang mati dalam keadaan membawa dosa berhak mendapat adzab sesuai dengan dosa yang dilakukannya, baik jasadnya dikuburkan, dimakan serigala, terbakar sehingga menjadi abu, melayang-layang di angkasa, disalib, atau tenggelam di lautan. Adzab kubur akan dirasakan oleh si mati dengan jasad dan ruh-nya, meski jasadnya tidak terkubur. Hal-hal ghaib yang berkaitan dengan bagaimana duduknya orang yang mati ketika di kubur, seperti apa tulang rusuknya, dan hal-hal yang semacamnya, maka wajib kita pahami (yakini) sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah; tidak boleh kita menambah-nambah ataupun menguranginya…”6

Terkait dengan alam, Ibnu Abil ‘Izzi pada alenia berikutnya menjelaskan; “Kesimpulannya adalah bahwa alam itu ada tiga; alam dunia (dar ad-dunya), alam barzakh (dar al-barzakh), dan alam akhirat (dar al-qarar). Allah telah memberlakukan hukum-hukum tertentu bagi tiap-tiap alam tersebut, dan manusia (jasad maupun ruh) akan berjalan sesuai dengan hukum tersebut. Allah menjadikan hukum-hukum dunia berlaku bagi jasad dan ruh sesuai keadaannya di dunia. Demikian juga; Allah menjadikan hukum-hukum di alam barzakh berlaku bagi jasad dan ruh sesuai keadaannya di alam barzakh. Kemudian, tatkala datang hari dibangkitkannya semua jasad dan manusia dari kubur mereka, maka akan berlakulah hukum-hukum yang ada di sana; pemberian pahala dan siksa, juga kepada ruh dan jasad secara bersama-sama.” (ed)

Catatan Kaki:

1. ^Rahnip M., B.A., Aliran Kebatinan dan Kepercayaan dalam Sorotan, Pustaka Progressif, hal. 11.
2. ^Animisme adalah kepercayaan kepada ruh-ruh yang mendiami suatu benda (pohon, batu, sungai, gunung, dll), sedangkan dinamisme adalah kepercayaan bahwa sesuatu benda mempunyai tenaga atau kekuatan. (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1997).
3. ^Disarikan dari buku Rahnip M., BA., idem, hal. 73-112.
4. ^Syarah ath-Thahawiyah fi al-Aqidah as-Salafiyah, hal. 183-184, Darul-Fikr, 1408H./1988M.
5. ^Muslim hadits no. 9, at-Tirmidzi hadits no. 2535, Nasa-i hadits no. 4904, Abu Dawud hadits no. 4075, Ibnu Majah hadits no. 62, dan Ahmad hadits no. 179, 186, 346.
6. ^Syarah at-Thahawiyah fi al-Aqidah as-Salafiyah, ibid, hal. 264.

BAGIAN II

5. Konsep Peribadatan

Konsep ibadah dalam Sapto Darmo tercermin pada ajaran mereka tentang “Sujud Dasar”. Sujud Dasar terdiri dari tiga kali sujud menghadap ke Timur. Sikap duduk dengan kepala ditundukkan sampai ke tanah, mengikuti gerak naik sperma yakni dari tulang tungging ke ubun-ubun melalui tulang belakang, kemudian turun kembali. Amalan seperti itu dilakukan sebanyak tiga kali. Dalam sehari semalam, pengikut Sapto Darmo diwajibkan melakukan Sujud Dasar sebanyak 1 kali, sedang selebihnya dinilai sebagai keutamaan.

Telaah:

Konsep peribadatan Sapto Darmo tercermin dalam ajaran ‘Sujud Dasar’ yang pengikutnya diwajibkan satu kali dalam sehari semalam. Dari konsep ini diketahui bahwa Sapto Darmo tidak semata-mata berupa ajaran moral atau etika, tetapi aliran ini disamping memiliki sistem aqidah; juga memiliki sistem ibadah tersendiri yang semuanya bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu tidak perlu kaget kalau mendengar penganut aliran ini menolak untuk melaksanakan shalat karena memang mereka mempunyai sistem ibadah (shalat) tersendiri. Pada hakikatnya, penolakan mereka terhadap shalat sudah cukup untuk menggolongkan mereka ke dalam barisan orang-orang di luar Islam (kafir).

Dalil-dalil tentang kafirnya orang yang menolak shalat dapat kita temui di banyak perkataan dan tulisan para ulama’, diantaranya dijelaskan oleh Sayid Sabiq1 sebagai berikut; “Orang yang meninggalkan shalat karena menolak dan mengingkari akan kewajibannya berarti kufur dan keluar dari agama Islam menurut ijma’ kaum muslimin.” Padahal, orang yang meninggalkan shalat, tetapi masih mengimani dan meyakini kewajibannya, karena malas, lalai atau alasan-alasan lain yang tidak syar’i, terdapat hadits-hadits yang menjelaskan akan perintah untuk membunuhnya (baik karena anggapan kekafirannya atau sebagai hukuman atas keengganannya melaksanakan kewajiban). Hadits-hadits yang menerangkan hal tersebut ialah:

Pertama, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Artinya; “Pembatas seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Kedua, dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Artinya; “Sesungguhnya pengikat antara kami dan mereka adalah shalat; maka barangsiapa meninggalkan shalat berarti telah kafir.” (HR. Ahmad dan Ashabus-Sunan)

Ketiga, dari ‘Abdullah bin Amru bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa suatu hari ia berbicara tentang masalah shalat, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya; “Barangsiapa memelihara shalat maka baginya cahaya, petunjuk, dan keselamatan di Hari Kiamat. Dan barangsiapa tidak memelihara shalat maka tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan di Hari Kiamat; dan kelak dia akan dikumpulkan dengan Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hibban; sanadnya jayyid)

Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata; “Orang yang tidak memelihara shalat – umumnya– dilalaikan oleh harta, kekuasaan, jabatan, atau bisnis. Barangsiapa yang lalai karena harta maka ia akan bersama dengan Qarun; barangsiapa yang lalai karena kekuasaan maka ia akan bersama dengan Fir’aun; barangsiapa yang lalai karena jabatan maka ia akan bersama dengan Haman; dan barangsiapa yang lalai karena bisnis maka ia akan bersama dengan Ubay bin Khalaf. …

Persoalan lain disamping menolak shalat adalah mereka juga memiliki sistem peribadatan tersendiri. Dengan memiliki sistem peribadatan tersendiri, mereka itu selain telah merampas hak Allah, juga terjerumus ke dalam perbuatan syirik, yaitu Syirik Uluhiyah. Mengenai hal itu, terdapat riwayat dari Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Muadz bin Jabal berkata; “Aku membonceng Nabi mengendarai himar lalu Nabi bertanya kepadaku; ‘Tahukah kamu apa hak Allah atas hamba dan hak hamba atas Allah ?’ Saya jawab; ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Kemudian Rasulullah menjelaskan; ‘Hak Allah atas hamba adalah mereka menyembah Allah dan tidak menyekutukan dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan mengadzabnya sepanjang ia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu…’2

6. Menyatu dengan Tuhan

Sebagai hasil dari amalan Sujud Dasar, mereka meyakini dapat menyatu dengan Tuhan dan dapat menerima wahyu tentang hal-hal ghaib. Mereka juga meyakini, orang yang sudah menyatu dengan Tuhan bisa memiliki kekuatan besar (dahsyat) yang disebut sebagai atom berjiwa, akal menjadi cerdas, dan dapat menyembuhkan atau mengobati penyakit.

Telaah:

Ajaran ini secara prinsip sama dengan ajaran hulul yang banyak dikembangkan oleh orang-orang rusak dari kalangan tasawuf seperti al-Hallaj. Bedanya, kalau kalangan tasawuf menganggap kondisi bersekutunya Tuhan dengan manusia merupakan buah dari dzikir yang mencapai klimaks, sedangkan menurut Sapto Darmo kondisi itu merupakan buah dari keberhasilan Sujud Dasar.

7. Hening

Hening adalah salah satu ajaran Sapto Darmo yang dilakukan dengan cara menenangkan semua fikiran seraya mengucapkan, Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rahim, Allah Hyang Maha Adil. Orang yang berhasil dalam melakukan hening akan dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, antara lain; (1) dapat melihat dan mengetahui keluarga yang tempatnya jauh, (2) dapat melihat arwah leluhur yang sudah meninggal, (3) dapat mendeteksi suatu perbuatan, jadi dikerjakan atau tidak, (4) dapat mengirim atau menerima telegram rasa, (5) dapat melihat tempat yang angker untuk dihilangkan keangkerannya, (6) dapat menerima wahyu atau berita ghaib.

Telaah:

Hasil dari ritual ‘hening’ seperti yang disebutkan di atas semuanya adalah takhayul dan khurafat, bahkan sebagiannya termasuk syirik. Dapat melihat keadaan keluarga yang jauh, mengirim telegram rasa, dan yang sejenisnya merupakan hal-hal yang tidak ada dasarnya baik dari dasar wahyu (dalil naqli) maupun dasar rasional (dalil aqli).

Kemudian, hasil ‘hening’ yang berupa kemampuan menerima wahyu dan dapat melihat arwah leluhur yang telah meninggal, tidak diragukan merupakan suatu bentuk khurafat dan kesyirikan. Termasuk hal yang sudah diketahui dengan pasti bahwa wahyu itu hanya diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul, tidak diberikan kepada sembarang orang, dan tidak bisa diusahakan dengan amalan-amalan tertentu.

8. Racut

Racut adalah ajaran dan praktek dalam Sapto Darmo yang intinya adalah usaha untuk memisahkan rasa, fikiran, atau ruh dari jasad tubuhnya untuk menghadap Allah, kemudian setelah tujuan yang diinginkan selesai lalu kembali ke tubuh asalnya.

Caranya yaitu setelah melakukan sujud dasar, kemudian membungkukkan badan dan tidur membujur Timur-Barat dengan kepala di bagian timur, posisi tangan dalam keadaan bersedekap di atas dada (sedekap saluku tunggal) dan harus mengosongkan pikiran. Kondisi tubuh di mana akal dan fikirannya kosong sementara ruh berjalan-jalan itulah yang dituju dalam racut, atau disebut juga kondisi mati sajroning urip.

Telaah:

Ajaran racut sebagaimana diajarkan oleh Sapto Darmo tidak dikenal dalam Islam. Terpisahnya ruh dari jasad hanya ada pada saat manusia meninggal dunia. Karena persoalan ruh adalah persoalan ghaib, maka manusia tidak akan dapat mengetahuinya kecuali Allah dan orang-orang yang diberitahu oleh Allah lewat wahyu; itupun hanya sedikit. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

Artinya; “Dan mereka bertanya tentang ruh3; katakanlah, ‘Ruh itu urusan Tuhanku dan tidaklah kalian diberitahu akan hal itu kecuali hanya sedikit.’” (QS. al-Isra’ : 85)

Sebagian dari mereka berdalih bahwa ajaran yang demikian ada dalam Islam dan didasarkan dari peristiwa mi’raj (naik) Nabi dalam peristiwa isra’ mi’raj. Mereka beranggapan Nabi dalam mi’raj hanya ruh-nya saja, tidak disertai jasadnya.

Dalam hal ini Ahlus-Sunnah meyakini bahwa dalam peristiwa isra’ mi’raj, Nabi melakukannya baik dengan ruh maupun jasadnya. Imam Thahawiy menjelaskan bahwa al-Mi’raj adalah hak, dan sungguh Nabi telah di-isra’-kan dan di-mi’raj-kan dengan jasadnya dalam keadaan sadar (terjaga) ke langit, kemudian ke tempat yang dikehendaki oleh Allah.”4

Dalam syarahnya, al-Allamah Abil Izziy mengatakan bahwa; “Kata al-mi’raj dari wazan mif ‘alun berasal dari kata al-’uruj artinya alat untuk naik, yang berada di suatu tempat yang aman, akan tetapi tidak diketahui tentang bagaimananya, sedang hukumnya sama seperti hukum perkara-perkara ghaib yang lain dimana kita mengimani tanpa mempertanyakan bagaimananya.5 Terhadap pandangan yang mengatakan bahwa Nabi isra’ dan mi’raj lewat mimpi atau hanya ruhnya saja, Beliau menjelaskan; “Dari hadits isra’ diketahui bahwa Nabi melakukan isra’ dan mi’raj dengan jasadnya dan dalam keadaan sadar (terjaga) dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsha dengan mengendarai Buraq6. Lalu naik ke Langit kesatu sampai ke Langit ketujuh, lalu naik ke Sidratul-Muntaha, kemudian naik lagi ke Baitul-Ma’mur. Kemudian naik menghadap Allah untuk menerima perintah shalat 50 waktu yang akhirnya menjadi shalat lima waktu.7

Ahlus-Sunnah juga meyakini bahwa peristiwa isra’ mi’raj merupakan mukjizat dari Allah kepada Nabi Muhammad dengan tujuan untuk menunjukkan betapa dahsyatnya kebesaran Allah sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:

Artinya; “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil-Haram ke al-Masjidil-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. al-Isra’ : 1)

Mukjizat itu hanya diberikan kepada para Nabi atau Rasul dan tidak diberikan kepada semua orang.

9. Simbol-Simbol

Ajaran Sapto Darmo juga banyak menggunakan simbol-simbol. Ada empat simbol pokok dalam Sapto Darmo, yaitu: (1) gambar segi empat, yang menggambarkan manusia seutuhnya, (2) warna dasar pada gambar segi empat, yaitu hijau muda yang melambangkan sinar cahaya Allah, (3) empat sabuk lingkaran dengan warna yang berbeda-beda, hitam melambangkan nafsu lauwamah, merah melambangkan nafsu ammarah, kuning melambangkan nafsu sauwiyah, dan putih melambangkan nafsu muthmainnah; (4) Vignette Semar (gambar arsir Semar) melambangkan budi luhur.

Genggaman tangan kiri melambangkan roh suci, pusaka semar melambangkan punya kekuatan sabda suci, dan kain kampuh berlipat lima (wiron limo) melambangkan taat pada Pancasila Allah.

Telaah:

Penggunaan simbol-simbol khususnya vignette Semar oleh Sapto Darmo menunjukkan bahwa ajaran ini bersumber dari ajaran Hindu. Jadi jelas bathil, dan mana ada istilah dan tokoh SEMAR dalam sejarah Islam ?! Mana pula ada para Rasul, sahabat Nabi atau tokoh Islam yang namanya Semar?? Tidak ada.

Seorang muslim sejati tidak dibenarkan mengambil ajaran agama lain sebagai pegangan walaupun sebagian. Hal demikian dilarang oleh Allah dan tertolak. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Artinya; “Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima agama tersebut dan di akhirat nanti dia tergolong orang yang merugi.” (QS. Ali Imran : 85)

D. Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kesesatan/kekufuran ajaran Sapto Darmo sebagai berikut:

  1. Mereka meyakini adanya sesuatu –yang mereka anggap Tuhan– tetapi bukan Allah, walaupun mereka menggunakan sebutan Allah dalam Pancasila Allah.
  2. Mereka tidak beriman kepada Malaikat, para Rasul, Kitab-kitab, Hari Akhir, dan Takdir.
  3. Mereka memiliki ‘kitab suci’ sendiri dan tidak beriman kepada al-Qur’an.
  4. Mereka memiliki sistem peribadatan sendiri.
  5. Mereka tidak membedakan antara wahyu dengan bisikan syetan.
  6. Ajaran mereka banyak bersumber dari ajaran Hindu.

Anggapan masyarakat bahwa ajaran Kejawen Sapto Darmo merupakan sekte atau bagian dari Islam dengan memberikan label Islam Kejawen adalah anggapan yang sesat dan menyesatkan. Anggapan tersebut banyak didasarkan pada ‘klaim politik’ yang menyatakan bahwa agama penduduk Indonesia itu adalah 98 % Islam. Islam di sini maksudnya adalah selain Katholik, Protestan, Hindu dan Budha. Aliran Kebatinan yang tidak sedikit jumlahnya itu dalam sensus penduduk dan pembuatan KTP dimasukkan ke dalam Islam. Baru setelah ada TAP MPR yang memberikan legalitas adanya wadah resmi bagi penganut aliran kepercayaan, sebagian mereka keluar dari kelompok Islam, sehingga penduduk yang beragama Islam berkurang (tinggal 90%).

Kejawen Sapto Darmo adalah bukan ajaran Islam dan justru bertentangan dengan ajaran Islam. Akan lebih tepat dikatakan bahwa Kejawen Sapto Darmo termasuk salah satu sekte dari ajaran Hindu, persisnya Hindu Jawa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

  1. ^ Fiqih as-Sunnah oleh Syaikh Sayyid Sabiq, Jilid I, hal. 92-93, terbitan Dar al-Kitab al-’Arabi.
  2. ^ Fath al-Majid, Syarah Kitab at-Tauhid, oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu as-Syaikh, hal. 30, terbitan Darul-Fikr.
  3. ^ Yang mereka tanyakan adalah “asal, dzat dan hakekat ruh.” Lihat Zubdah at-Tafsir min Fath al-Qadir, oleh Muhammad Sulaiman Abdullah al-Asyqar, hal. 376.
  4. ^ Syarah Thahawiyah, idem, halaman 126.
  5. ^ Idem.
  6. ^ Buraq adalah kendaraan Nabi saat isra’ yang kecepatannya seperti kilat dan tidak diketahui tentang bagaimananya. Orang yang suka klenik menggambarkan buraq itu semacam kuda berkepala wanita cantik jelita. Gambaran itu jelas salah dan bertujuan jahat untuk menghina Nabi seolah-olah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka berkendaraan seperti itu di waktu malam. Disamping itu, gambaran seperti itu terinspirasi dari cerita Hindu (pewayangan). Dikisahkan tatkala Resi Durna tidak mendapati kendaraan untuk menyeberang lautan, datanglah Bethari (perempuan) menyamar seekor kuda terbang lalu menawarkan jasa penyeberangan dengan imbalan “menaiki” selama perjalanan. Hasilnya hamil lalu lahirlah ksatria jahat yang sakti bernama Bambang Haswotomo. (Pen.)
  7. ^ Syarah Thahawiyah, idem, halaman 127-128.

sumber ahlusunnah.info

56 gagasan untuk “Ajaran Kejawen Sapto Darmo dalam Pandangan Islam

  1. Anda mengatakan begitu karena Anda bukan orang Jawa.
    Dan tentunya Anda tidak mengerti apa-apa tentang Kejawen.

    Perlu Anda ketahui bahwa ajaran “SAPTO DARMO” itu berbeda dengan “KEJAWEN”.
    Sapto Darmo hanyalah salah satu Aliran, yang sangat-sangat kecil dari Kejawen.

    Ibarat tubuh manusia.. Maka “Sapto Darmo” itu hanyalah sehelai rambut saja.

    Seharusnya tulisan Anda itu khusus ditujukan kepada “SAPTO DARMO”.
    Tidak usah ditambah-tambahkan “KEJAWEN”.

    Terlihat jelas pengetahuan Anda hanya 1%(satu persen).
    Yang 99% kosong alias tidak tahu apa-apa.

    SEBAGAI CONTOH:
    Jika DIBALIK – Sama saja Anda mengatakan “AHMADIYAH” itu sesat,
    dan seluruh umat ISLAM = Sesat.
    Apakah Anda berani menulis seperti itu…???
    Tentu saja itu salah.
    Masa gara-gara Ahmadiyah, seluruh umat Islam dibilang sesat…???

    Sekali lagi, jika ingin menulis tentang Sapto Darmo, maka tulislah hanya “SAPTO DARMO” saja.
    Tidak usah ditambah-tambahkan menjadi “KEJAWEN SAPTO DARMO”.
    Karena Sapto Darmo hanyalah salah satu Aliran, yang menggunakan Kostum Kejawen.
    Seperti hal-nya Ahmadiyah yang menggunakan Kostum Islam.

  2. @ Jimo
    Kalau artikel di atas baru 1% mengenai kejawen terus yg 99% nya seperti apa? tolong informasinya ya mas dan jangan lupa disertakan referensi/foot note/dll, agar informasinya ilmiah (tdk dr katanya2). Trims, ditunggu informasinya.

  3. hmmm, saya setuju dg mas Jimo…
    untuk mengetahui sebuah aliran dan mengkritisinya, kita betul2 menguasai luar-dalam ttg ajaran aliran itu. Karena klo cm bersandar pda teks (tulisan)…tentu salahpahamnya banyak lho mas Nyimak…

    jadi memang harus hati-hati…

  4. @ jeruk-purut
    “Karena klo cm bersandar pda teks (tulisan)…tentu salahpahamnya banyak lho”

    Memang kalau tulisannya tidak jelas (tanpa rujukan/referensi yg valid) akan banyak salahfahamnya lho. Yang pasti beda dengan tulisan yg ilmiah.

      • seperti halnya sebuah ajaran, memang selalu ada prokontra, itu wajar saya kira. Tapi tentu saja tak bisa dibenturkan bung nyimak.. kalo dibenturkan antara ajaran ini dan itu, saya kira tidak masuk akal. Ajaran silat saja beda. Aplg ttg keyakinan.

        maka, masalah kemudian ajaran itu tak sesuai dg pemahaman oranglain, itu pasti. Tp tak perlu dilihat dari sudutpandang itulah. Tokh di dunia ini byk hal yang sesuai dg pikiran kita. Budaya barat beda dg Asia misalnya. Tp apakah kemudian krn tak sesuai dg Barat, lalu Asia bisa dikatakan sesat atau salah??

        yah begitulah..

      • @ jeruk-purut

        “kalo dibenturkan antara ajaran ini dan itu, saya kira tidak masuk akal”

        Yang tidak masuk akal justru kalau ajaran ini (kejawen) dilakukan oleh orang islam, bahkan mengatakan itu bagian dari ajaran islam. Kalau anda bukan muslim maka saya faham mengapa anda berkata demikian.

  5. maksud saya mas nyimak…
    keunggulan umat Islam itu apa ya??? Apakah orang yang datang ke seorang kejawen lalu bilang: syirik kamu!! kafir kamu!!! masuk neraka kamu!!!

    bingung…
    unggulnya seorang muslim apa sih…
    kayak pedagang di pasar. Nih, jualanku paling bagus. Kalo kau bilang buruk, tak caci kamu!

    gitu lo.. yg bikin saya tak habis pikir…
    kita ini kok kayak pedagang di pasar ya…

    • @ jeruk-purut

      Maaf ya mas, saya perbaiki kalimatnya jadi seperti ini: “Apakah orang yang melakukan ritual ibadah ala kejawen lalu (di)bilang: syirik kamu!! kafir kamu!!! masuk neraka kamu!!!”

      Nah, kalau kalimatnya seperti ini akan terlihat indah bukan? mudah difahami dan tidak bias makna maksudnya.

      Kalau bicara tentang pasar saya teringat hadits Rasulullah SAW yg menerangkan bahwa pasar itu salah satu tempat yg disenangi para syetan juga. Jadi selayaknya kita hati-hati kalau sedang di pasar. Adapun transaksi jual-beli itu harus dengan cara yg halal, bukankah begitu?

      • “Apakah orang (beragama islam) yang melakukan ritual ibadah ala kejawen lalu (di)bilang: syirik kamu!! kafir kamu!!! masuk neraka kamu!!!”

      • yups, saya kutip lagi mas nyimak:Maaf ya mas, saya perbaiki kalimatnya jadi seperti ini: “Apakah orang yang melakukan ritual ibadah ala kejawen lalu (di)bilang: syirik kamu!! kafir kamu!!! masuk neraka kamu!!!”

        Ya, anda simak sendiri di blog ini. Saya sebenarnya cuma mau mengoreksi cara dakwah macam itu. Tidaklah tepat. Karena kita ini umat yang sempurna bukan? Masak umat yg sempurna, memberikan teladan yang buruk kepada umat lainnya?

        ah. Saya makin kagum saja sama dakwah para wali. Saya tak tau, apa jadinya jika pendakwahnya bukan beliau-beliau… yang mengasihi, dan mengayomi sesama manusia. Mungkin akan saling umbar klaim sesat, kafir, dan sebagainya…

        saya bicara kualitas kita itu apa sih sebagai umat Islam jika demikian pola sikapnya? Umpama Keris, jika memang kualitas bagus, tnp teriak2, para kolektor memburunya. Mgkin bung nyimak bakal membalas: emang hubungannya agama sama keris? Ini soal agama! hehehehe

  6. kalau menurut saya
    ISLAM ya ISLAM
    KEJAWEN ya KEJAWEN
    SAPTO DARMO ya SAPTO DARMO

    Semua itu tidak bisa disamakan atau di campur adukan . tp tujuanya satu untuk menjadi orang yang baik apabila di jalankan dengan rendah hati dan tidak ada yang merasa paling benar sendiri dan ajaran yang dianutnya paling bagus dan paling benar sendiri .
    karena itu yang dapat menimbulkan konflik atau pertentangan . karena sama-sama memegang prinsip bahwa ajaran yang di anutnya yang paling benar .

    • biar bagaimanapun kita cuma manusia biasa,kalau boleh jujur mungkin saya lebih pengetahuanya dari pada anda sah” sajakn,tetapi penilaian kebenaran tuhan atas ilmu,iman,islam,manusia tidak tahu benar salahya ALLOH HUALAM,jadi mungkn DEFINISI antara ,jawa, arab, juga islam belum
      mempunyai nilai yang mana menurut pandangan orang mengetahui secara rinci untuk memahaminya !!!!!……………
      menurt mu

  7. wahhhh makin asyik saja, YANG PENTING AYO KITA JALANI YANG KITA ANGGAP BENAR,ndak usah saling KLAIM AKU DAN PUNYAKU “YANG BENAR” rukun rukun aja dahh,makacih

  8. Islam adalah agama terakhir agama yang sudah disempurnakan , jadi segala perkara yg ada didunia
    ini sudah tercakup didalam Alquran,
    Bagi orang2 yg pengetahuannya hanya pada tekstualnya saja , sama saja baru mengerti sebatas kulitnya , padahal masih banyak lapisan / bagian menyimpan pemahaman yg luas dan mendalam ,
    untuk itu dibutuhkan kecerdasan dalam menyerap isi kandungannya .
    Sehingga bisa menjadi orang yg lebih arif dan bijak
    dalam menilai faham / agama lain , karena segala
    sesuatu didunia ini datangnya dari Allah .

    • benar Islam adalah agama yang sempurna dlm pandangan allah swt.

      mungkin maksud penulis adalah mengkritisi bahwa ada diantara umat yang memahami bahwa kejawen adalah islam, padahal sudah jelas bahwa kejawen bukan islam, sehingga ada diantara umat islam yang menyatakan adanya “islam kejawen”, sementara penulis mungkin berharap bahwa janganlah islam itu dicampur adukan dengan faham lain diluar islam, islam ya islam, kejawen ya bukan islam, itu intinya !!

    • mungkin maksud @Den Bei:

      karena segala sesuatu didunia ini datangnya/terjadinya ”atas izin” Allah.

      Kebaikan datangnya dari Allah, keburukan/kejahatan datangnya dari setan, atas izin Allah tentunya.

      dilanjut.

  9. Ada siang ada malam , ada laki2 ada perempuan
    ada tinggi ada rendah dan ada kebaikan ada juga
    kejahatan semua itu hanyalah saling melengkapi ,
    miturut kodrating Gusti Allah .

  10. oya,, lo mau masnya jangan cm beri catatan dan referensi saja,, masN juga harus gabung ma SAPTO DHARMO dulu,,, lha trus keluar n bahas kesesatan ajaran SAPTO DHARMO tu Dmn??? kn lo dah gabung kn pasti punya referensi yang lebih konkrit (mis kitabN sapto dharmo,, trus ajaran2nya,, n tampilin fotoN),, bukan cm refrensi dari ISLAM saja.. hehee

  11. Apabila saya misalkan dengan air, maka air itu sumbernya/asalnya dari laut/lautan. Kemudian terkena panas sinar mentari lalu menguap. Oleh angin didorong gerak kedataran tinggi .. dingin, Kemudian terjadi peristiwa fisika/kimia yang menimbulkan HUJAN !.
    Air hujan itu ada yang jatuh lagi ke laut/lautan (artinya kembali lagi ke asalnya/meskipun letaknya berbeda). Ada yang jatuh ke tanah..menjadi air tanah; yang tidak terserap tanah jadi comberan; yang mengalir kecil menjadi air got; mengalir agak besar..menjadi air parit; agak besar lagi ..menjadi air kali; dan lebih besar lagi alirannya menjadi air sungai..yang akhirnya kembali lagi ke laut (terus berproses sampai akhirnya air itu membiru ditengah lautan). Selain itu ada juga air hujan yang jatuh ke kadalam kaleng/wadah-wadah apapun yang ada..sehingga air itu tidak dapat mengalir. Ada yang diserap akar tanaman, ada yang diminum makhluk hidup dst. INTI DARI CERITA AIR INI ADALAH BAGAIMANA AIR BISA MENGALIR (CEPAT) UNTUK MENUJU KEMBALI KE ASALNYA. Pendapat saya, jANGANLAH anda BERPOLEMIK/merasa BENARnya sendiri YANG JUSTRU MEMPERSEMPIT KESEMPURNAAN TUHAN ALLAH SWT. Sementara sebenarnya anda TERPENJARA oleh jenis/sifat (air tanah/comberan/got/parit/dst) yang anda jadikan pegangan. Bagaimanapun AIR YANG MENGALIR AKAN JAUH LEBIH BAIK DERAJATNYA DARIPADA AIR YANG TIDAK MENGALIR !. Endapkanlah pengetahuan anda, melalui perenungan hati yang bersih..pahami..hayati dan ANDA akan dapat mengamalkan ilmu itu secara baik, benar dan bermanfaat !

  12. Kalo saya gampang saja, Islam itu agama yang paling sempurna, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi yang terakhir, tidak diragukan lagi, berpedoman pada All Qur’an dan Hadist, sehari semalam shalat 5 waktu, itu baku tidak bisa ditawar lagi, akan tetapi entah mengapa, pada kenyataannya dalam praktek umat islam sudah ingkar, shalatnya cuma waktu magrib saja, maka Allah SWT maha rahim melihat umatnya yang tidak mampu lagi menjalankan shalat 5 waktu, lantas memberikan kemudahan kepada umatnya itu dengan diturunkannya wahyu sujud lewat kerokhanian SAPTO DARMO, yang sehari semalam cukup satu kali melakukan sujud menyembah kepada sang khalik, ini suatu bentuk peringatan dari Allah SWT kalau sudah diberi kemudahan dalam sehari semalam satu kali saja sudah tidak mampu melaksanakan menyembah kepada Yang Maha Kuasa, ya untuk apa lagi …. segera digulung jagat ini.

    • inilah yang saya katakan aliran SAPTO DARMO sesat dan membuat syari’at baru, dari mana fakta umat islam sudah ingkar salat cuma maghrib saja ? jika dikatakan umat islam berarti seluruh umat islam! ini cuma cari-cari alasan untuk meniadakan kewajiban shalat 5 waktu yang jelas dituntunkan rasulullah! sahalat adalah tiang agama jika sudah tidak shalat 5 waktu bahkan membuat cara shalat cuma sujud 1 kali saja maka jelas penyimpangan kejawan SD , wahyu hanya turun pada Rasul juga nabi dan tidak turun pada manusia biasa, maka jika guru SD merasa dapat wahyu itu adalah wahyu IBLIS LA’NATULLAH !

  13. Betul sekali Den Bei, saya sependapat dng sampeyan, Bagi orang2 yg pengetahuannya hanya pada tekstualnya saja , sama saja baru mengerti sebatas kulitnya, padahal masih banyak lapisan / bagian menyimpan pemahaman yg luas dan mendalam ,
    jadi bgmn umat islam yang cuma sampai pada tekstual saja akan mengerti isi dalamnya kalo baru melihat kulitnya saja sudah ribut melulu saling tuding, sesat kamu, syirik kamu, masuk neraka kamu… dll, emangnya manusia punya wenang, itu semua kan urusan Allah SWT, yng jelas Kerokhanian SAPTO DARMO itu bukan agama, ttp Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, jadi tdk usah di banding-bandingkan dengan agama, wong jalurnya saja Kepercayaan, jelas berbeda, Kepercayaan Terhadap Tuhan YME bukan Agama, dan Agama bukan Kepercayaan Terhadap Tuhan YME, maka secara kasat mata atribut dan tata caranya pasti berbeda, kiranya itu yang perlu di pahami, jadi biarlah Sapto Darmo, maupun Kejawen lainnya berjalan sesuai dengan tata cara dan ajarannya masing-masing, untuk menuju alam langgeng yang abadi.

  14. ..TIDAK PERLU SALING MENCELA, MENGHUJAT, DAN MERASA PALING BENAR …KARENA ITU SEMUA HANYA NAFSU .. JIKA MANUSIA DIKUASAI DENGAN NAFSU APA JADINYA … BERKACA PADA DIRI SENDIRI SEJAUH MANA ILMU KITA .. DAN BAGAIMANA KITA HARUS BICARA ..

  15. ORANG DILUAR ISLAM YANG BERADA DI MADINAH SAJA TIDAK PERNAH DIBEDA – BEDAKAN OLEH NABI SAWW MENGENAI AGAMA MEREKA. LHA KALAU KITA TERUS CARI PERBEDAAN, KAPAN CARI PERSAMAANNYA. KAPAN KITA BISA TENTREM.

  16. ada orang kafir yg halal darahnya dan ada yang haram darahnya.. jika kafir itu bisa hidup saling berdampingan dan saling menghormati itu di haramkan darahnya.. menimbang-nimbang dengan dasar untuk mencari perbedaan ya mesti ketemunya beda.. cb menimbang2 untuk dapat hidup damai dan bekerja sama,.. toh sedikit sekali manusia yg bisa seperti itu,, krn sesungguhnya tidak ada Paksaan dalam Islam,… Wassalam… jangan jadi rasisme..

  17. Dalam berbagai pemberitaan media, FPI di Yogyakarta pada tanggal 11 Oktober
    2008 malam melakukan penggerebekan terhadap tempat peribadatan warga Sapto
    Darmo di Pereng Kembang Yogyakarta dengan alasan Sapto Darmo merusak aqidah
    umat Islam, salah satunya dengan melakukan ‘sholat’ kearah timur.
    Sebagai seorang muslim saya sangat prihatin dan menyesalkan dengan kejadian
    ini dan saya berharap kejadian tersebut tidak terulang lagi dan memang
    seharusnya tidak boleh terulang lagi. Bagaimanapun, tindakan anarkis adalah
    bertentangan dengan ajaran agama, terlepas dari niat dan tujuan tindakan
    anarkis tersebut.
    Tulisan ini saya buat bertujuan untuk meluruskan masalah dan sumbangsih saya
    terhadap pemecahan permasalahan yang sedang terjadi, sebab secara kebetulan,
    saya pernah meneliti tentang ajaran Sapto Darmo sebagai salah satu bagian
    penelitian saya di Mojokuto.
    Ada beberapa opini yang sekarang sedang berkembang menyangkut penyikapan
    terhadap aliran Sapto Darmo, diantaranya adalah adanya opini tentang ajaran
    Sapto Darmo adalah ajaran sesat. Sebelum saya membahas lebih jauh, dan
    bagaimana pandangan saya terhadap ajaran Sapto Darmo, saya ingin menuliskan
    sekilas sejarah tentang Sapto Darmo.
    Sapto Darmo adalah ajaran kerohanian [beberapa peneliti menyebutnya dengan
    kebatinan], pertama lahir dan berkembang di Mojokuto [Pare, Kediri, Jawa
    Timur] pada tanggal 27 Desember 1952, yang kemudian dilegalkan dalam badan
    hukum pada 17 Maret 1959 dan kemudian dibentuk organisasi yang disebut
    Persatuan Warga Sapto Darmo [Persada] pada tanggal 27 Desember 1986 di
    Yogyakarta. Ajaran Sapto Darmo ini dibawa oleh Hardjosopoera yang kemudian
    bergelar Panuntun Agung Sri Gutama.
    Di Mojokuto, tempat ibadah warga Sapto Darmo hanya bersebelahan tembok
    dengan kantor Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pare[Kantor ini dahulunya
    merupakan rumah Panti Asuhan Muhammadiyah] dan hanya beberapa ratus meter
    dari Masjid LDII kota Mojokuto di sebelah baratnya. Tempat peribadatan warga
    Sapto Darmo di Mojokuto dahulunya adalah tempat kelahiran Hardjosopoero,
    pendiri Sapto Darmo.
    Sejak awal berdirinya hingga sampai saat ini, rumah peribadatan dan warga
    Sapto Darmo di Mojokuto tidak ada yang mengusik atau mengganggu, mereka
    dapat hidup berdampingan dengan warga lain seperti Muhammadiyah, NU, LDII
    dan warga pemeluk agama yang lain. Kenapa hal ini bisa terjadi? Pada intinya
    adalah adanya penghormatan terhadap keyakinan dan kepercayaan masing-masing
    pemeluknya, baik antara penganut ajaran Sapto Darmo dengan pemeluk agama
    lain. Apa landasannya? Sapto Darmo oleh para kalangan agamawan [terutama
    Islam] di Mojokuto dianggap bukan sebagai agama meski dalam beberapa buku
    tentang aliran kepercayaan dan kebatinan menyebutkan Sapto Darmo adalah
    agama. Warga Sapto Darmo menyebutkan sebagai keyakinan dan kepercayaan. Jika
    dianggap sebagai agama, Sapto Darmo juga bukan bagian dari Islam, Kriten,
    Katholik, Hindu, Budha maupun Konghucu. Oleh sebab itu Sapto Darmo disebut
    sebagai ajaran kerohanian. Sebagai ajaran kerohanian selanjutnya dapat kita
    lihat dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persada.
    Tempat peribadatan warga Sapto Darmo disebut dengan Sanggar, sebagai tempat
    persujudan. Tempat peribadatan tersebut, ditingkat pusat disebut dengan
    Sanggar Candi Sapto Rengga dan di daerah disebut dengan Sanggar Candi Busana
    Sedangkan ritual peribadatannya selain disebut dengan persujudan disebut
    dengan sembah hyang atau persembahyangan. Lalu bagaimana dan seperti apa
    ajaran-ajarannya?
    Nama Sapto Darmo sendiri diambil dari, “sapto” dalam bahasa jawa yang
    berarti tujuh dan “darmo” berarti ajaran yang kemudian dimaknai dengan:
    tujuh ajaran suci, tujuh wewarah agung atau tujuh kewajiban suci. Wewawarah
    ini sebagai kewajiban mutlak yang harus dilaksanakan oleh warga kerohanian
    Sapto Darmo, terdiri dari:
    Setia tuhu kepada Allah Hyang Maha Agung, Maha Rakhim, Maha Adil, Maha
    Waseso, Maha Langeng
    Dengan jujur dan suci hati harus setia pada perundang undangan negara
    Turut serta menyingsingkan lengan baju menegakkan berdirinya nusa dan bangsa
    Menolong kepada siapa saja, bila perlu tanpa mengharapkan sesuatu balasan,
    melainkan berdasarkan rasa cinta dan kasih
    Berani hidup berdasarkan kepercayaan atas kekuatannya sendiri
    Sikapnya dalam hidup bermasyaraktat, kekeluargaan, harus susila beserta
    halusnya budi pekerti, selalu merupakan penunjuk jalan yang mengandung jasa
    serta memuaskan
    Yakin bahwa keadaan dunia itu tiada abadi, melainkan selalu berubah-ubah
    [anyakra manggilingan]

    Siapa warga Sapto Darmo atau penghayat ajaran kerohanian Sapto Darmo? Dalam
    penelusuran saya, warga atau penghayat Sapto Darmo terdiri dari berbagai
    macam agama, terdiri dari mereka yang beragama Islam, Kristen, Katholik,
    Hindu dan Budha. Ini merupakan wawancara saya dengan pimpinan Sapto Darmo di
    Mojokuto dan beberapa warga Sapto Darmo sepanjang penelitian yang saya
    lakukan. Berkaitan dengan adanya opini yang mengatakan bahwa Sapto Darmo
    mengajarkan sholat menghadap ke arah timur, sepanjang penelusuran yang
    pernah saya lakukan, ajaran Sapto Darmo tidak mengenal ritual peribadatan
    yang disebut dengan sholat, ritual peribadatannya disebut dengan
    persembahyangan atau persujudan. Persujudan memang dilakukan menghadap
    kearah timur, dimaknai sebagai simbol awal mula kehidupan, bahwa manusia
    harus senantiasa ingat darimana dirinya berasal atau diciptakan agar manusia
    tidak terjebur dalam kesombongan atau lupa diri. Hal ini ada kemungkinan,
    pada saat ditanya warga Sapto Darmo yang bersangkutan karena juga beragama
    islam menjawabnya dengan sholat, yang sesungguhnya sebagai persujudan. Saya
    pun menjumpai jawaban tersebut selama penelitian, ini mereka lakukan untuk
    mempermudah pengertian jawaban.
    Bila ada anggapan yang menyatakan gerakan persujudan yang dilakukan oleh
    warga Sapto Darmo mirip dengan sholat, sebagai seorang muslim saya
    menyatakan gerakan persembahyangan itu bukan gerakan sholat karena memang
    sama sekali berbeda. Tidak ada takbiratul ihram, rukuk ataupun doa-doa
    seperti sebagaimana dalam sholat. Demikian juga, ritual peribadatan
    dilakukan minimal satu kali dalam satu hari, padahal sholat didirikan 5 kali
    dalam satu hari pada waktu yang telah ditentukan. Karena itu, gerakan
    persembahyangan ini adalah gerakan kerohanian Sapto Darmo.
    Apakah penyebutan Tuhan dengan Allah sebagaimana dalam Pancasila Allah
    [lihat dalam kewajiban pertama wewarah pitu] sebagaimana ajaran Sapto Darmo
    telah menodai agama lain? Penyebutan Tuhan dengan Allah bukan domain agama,
    siapa pun berhak menyebut nama Allah. Penyebutan nama Tuhan dengan nama
    Allah juga bukan menjadi hak monopoli salah satu agama, Islam, Kristen,
    Katolik dan agama-agama lain. Pengucapan nama Tuhan adalah permasalahan
    bahasa. Sebagai perbandingan, karena digunakan bahasa arab dalam kehidupan
    keseharian, ucapan assalamu’alaikum wr. wb sebagai ucapan salam bukan hanya
    milik umat islam, tetapi juga milik agama lain.
    Dengan demikian, apakah ajaran Sapto Darmo masih akan disebut dengan aliran
    sesat sebagaimana yang telah dituduhkan oleh sebagian pihak? Sepanjang
    penelusuran yang pernah saya lakukan, saya tidak menemukan ajaran-ajaran
    Sapto Darmo yang dapat dikategorikan menyimpang, apalagi jika dianggap sesat
    Bahkan adanya rasa curiga terhadap siapapun yang datang, ajaran Sapto Darmo
    melarang sikap tersebut. Hal tersebut yang mempermudah saya dalam melakukan
    penelitian. Apabila saat ini kita menjumpai warga Sapto Darmo lebih tertutup
    kasus 11 Oktober 2008 lalu mungkin menjadi penyebabnya. Keberadaan Sapto
    Darmo telah dilindungi undang-undang. di kutip dari http://riyadlatulqolby.blogspot.com

  18. Lha sudah jelas dari judulnya saja ‘ajaran kejawen sapto darmo dalam pandangan Islam’ sudah pasti keduanya akan dihadap hadapkan dan hasilnya pastilah Sapto darmo akan tertolak. Karena seperti ulasan diatas sapto darmo hanya/adalah kepercayaan hasil pikir/rasa manusia. Cara membandingkan seperti ini sah2 saja dan sepertinya diarahkan sebagi da’wah untuk mengingatkan bagi kalangan sendiri. So jadi gak usah diperdebatkan,karena selalu saja ada lapak masing2,di lapak lain kritisi terhadap Islam juga banyak toh.

    • smua ajaran agama adalah kasih sayang….,maka bertindaklah dan berbicaralah kasih sayang…,dan tidak saling menyalahkan…..!!!!!

  19. untuk semua yg coment kalaw tidak paham ajaran kejawen tidak usa komentar
    yang penting kita mau melakukan apapun termasuk (ritual) kita minta ijin, ridho dan petunjuk dulu sama sang pencipta alam dan isinya yaitu ALLOH MAHA BESAR kecuali yg diminta itu bukan gusti alloh itu baru dikatakan syirik
    contoh
    1kalao orang minta dibukak kan mata batinya trus bisa melihat makluk halus itu termasuk uda di ijini sama sang pencipta alloh hu akbar

  20. Hidup itu balance.ada baik ada buruk(contohnya)jadi apabila ada perbedaan jangan langsung mengklaim dahulu masuk dgan cara yg baik,ditanyakan,dipahami,dimengerti,dan pastikan benar2 apa yg diragukan pd suatu yg anda tuju,setelah itu dmusyawarohkan secara mufakat.bila ada kekeliruan dlam suatu sengertian diluruskan yg jelas sebagai hamba allah kita harus beriman,menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya.perbedaan boleh asal jgan berpecah karna semua itu yg menilai Allah Swt.jadi sebelum diri kita merasa yg paling benar psndanglah kembali diri kita.manusia makhluk yg sempurna melainkan makhluk ciptaan allah yg lainya,tapi Allahlah yang sempurna dan kita tdak ada sempurna pada diri kita karena manusia tempatnya salah.jadi ikutilah penyelesaian dgan sumber yg benar jelas,musyawarohkan itukan cara rosul dan psra sahabatnya dlam menyelesaikan masalah.jadi yg akur2 aja.kita harus instropeksi diri djaman skarang.banyak tipu muslihat yg mau menyesatkan,memang dimana kita menuju jlan allah sangat besar ujiannya.KALA KITA DIPUJI MANUSIA ADALAH UJIAN UNTUK KITA! TAPI UJIAN DARI ALLAH PUJIAN APBILA KITA DAPAT MENYELESAIKANNYA?Ups klau ada kata yg salah mhon mf karna saya manusia yg tidak sempurna dan manusia tmptnya salah.

  21. Islam secara syari’at itu mudah, tetapi secara hakiki itu sulit. Kejawen adalah Anugerah Sang Kuasa kepada bangsa Jawa. Dan Islam adalah penyempurnanya.

  22. penulis artikel persis kyai kebanyakan yang tujuannya jelas menilai kejawen hal yang tahayul,musrik dg tujuan agar wong jowo tidk mempelajari kejawen, supaya ilang jawane. tersesat muter2 terus di alam angan2 negeri padang pasir. coba baca serat darma gandul atawa buka situs ffi forum indonesia. pas banget unt referensi . rahayu rahayu

  23. Kalau Sudah Ma’rifat, Tidak Shalat ? nabi muhamad s.a.w yang sudah pasti di jamin surga oleh allah s.w.t saja solat 5 waktu tidak di tinggal kan … tyusss …. apa maksud nya ada ajaran yang meninggal kan solat ??? apa kalian yang meninggalkan solat sudah di jamin surga ???

  24. ribet banget ya allah
    kalo ada yang gak suka ya udah gak usah di dekati kalo suka di dekati

    jangan ribet ah n jangan sok bersih
    mangnya telah menjalankan perintah allah dg benar ?

    silahkan instropeksi diri sebelum menghakimi suatu hal..

  25. Rahayu poro sedulur, kito sedoyo sesami mahluk kedah sami2 welas asih, saling menghormati antar sesama…

  26. Jika semua ajaran harus mengacu kepada satu ajaran yang dianggap benar, terus kapan orang bisa saling menghargai satu sama lain. Orang jawa itu sangat baik hati, karena mau menerima tamu dengan senyum. Hindu dan buddha datang sebagai tamu, di persilakan. Kristen datang, juga dipersilakan. Islam datang juga di persilakan. Tapi kenapa setelah semua tamu diterima dengan baik, koq malah tuan rumah yang di jelek2an.. Apakah bukan tamu seperti itu yang kurang ajar? Jika ajaran-ajaran di jawa dianggap sesat, apakah ajaran Islam seperti rukun haji yang mengelilingi ka’bah, melempar kerikil itu juga sesat? jadi mari kita perdalam ilmu kita masing-masing, dan berbuat baik antar sesama. nenek moyang jawa selalu mengajarkan ini kepada saya, agar selalu berbuat baik.

  27. Assalammu’alaikum….
    salam waras

    ISLAM tanpa jawa itu KERAS, ini bisa dipahami
    ISLAM dengan jawa itu seimbang, bisa di pahami
    , yang saya tanyakan, kenapa di catatan kitab SD penyebaran dakwah dan pengobatan masal kepada orang-orang tanpa memandang latarbelakang SARA di tempat-tempat bernafaskan islam justru izinkan oleh orang islam sendiri (seperti di makam ulama, masjid di seluruh nusantara dll, juga candi).

    -ini menunjukan bahwa orang islam saat itu telah tahu, menerima, meyakini agama SD hingga ada praktek sapta dharma

  28. Kalau SD bukan agama ya biarin aja anggap aja komunitas atau paguyuban atau ormas atau lainnya.
    Kalau membawa kebaikan untuk masyarakat ya biarin aja.
    Patokannya khan masalah agama, selain itu biarin aja.
    Yang Islam gk perlu sewot.
    Yang selain merasa agama Islam atau Kristen atau agama yg sdh diakui negara, mk gak usah memaparkan lagi pendapat atau keyakinan Sampeyan semua.
    Ora matuk mas.
    Ketemunya sok sokan semua …westalah….
    Monggo bareng” dirasakno bab niki, mboten dibahas lho yo….
    Tolong rasakno tanpo Nafsu sampeyan mugi” ketemu jawabane.
    Sumonggo………..

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s