Jimat Tongkat Nabi Musa?

Pengantar Admin

Kisah terbelahnya Laut merah dilakukan Nabi Musa atas perintah Allah ketika dikejar oleh Fir’aun merupakan akhir dari kejayaan Fir’aun pada masa itu. Alat yang dipergunakan Nabi Musa untuk membelah laut itu berupa tongkat.
Nabi Musa diutuskan oleh Allah bagi memimpin Kaum Israel ke jalan benar. Beliau merupakan anak kepada Imran dan Yukabad binti Qahat, (Musa bin Imran bin Kohath bin Lewi bin Yakqub bin Ishaq bin Ibrahim), bersaudara (adik-beradik ) dengan Nabi Harun, dilahirkan di Mesir pada pemerintahan Firaun.
Al-Quran menceritakan: “Dan ingatlah ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan Firaun dan pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.”
Juga Pernah suatu ketika tongkat yang dipegang Nabi Musa di lemparkan ditengah tengah tukang sihir seketika tongkat nabi musa berubah menjadi seekor ular besar yang melahap semua ular tukang sihir.
Allah Berfirman yang artinya: “Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, pasti ia akan menelan apa yang mereka buat. Sesungguhnya apa yang mereka buat itu hanya tipu daya tukang sihir dan tidak akan menang tukang sihir itu dari mana saja ia datang.”
Kisah Nabi Musa yang ketika mendapatkan mu’jizat selalu melalui “sebuah tongkat” menjadi salah satu alasan bagi para penggila/maniac jimat seperti (wongalus, wongalusaceh and friends) untuk membenarkan prilaku mereka yang membuat, memakai jimat karena mencontoh Nabi Musa yang katanya pake jimat berupa tongkat sakti mandraguna.
Bahkan “orek-orek” tulisan untuk menyamai “power” tongkat Nabi Musa mereka kreasi sendiri (saking ghuluwnya dengan keyakinan jimat tongkat Nabi Musa) yang terdapat dalam kitab Syumusul Anwar hal 249 -250, Dikatakan di kitab tersebut Azimah serta Asma’ tongkat nabi Musa A.S merupakan Asma’ yang dapat melakukan berbagai macam pekerjaan yang Ajaib, Tata caranya adalah :
1. Asma’ ‘Asho Musa di tulis pada hari Minggu atau Hari Kamis jam 6 -8 pagi
2. Menulisnya memakai tinta Za’faron yang di campur Air Mawar dan sedikit air Sumur
3. Di Tulis pada kulit Kijang Jantan
4. Pada waktu menulis anda di haruskan memakai wangi wangian yg tidak di tentukan jenisnya
5. Setelah selesai menulis Asma’ ‘Asho Musa kemudian membaca Azimah ‘Asho Musa ( Tongkat Nabi Musa A.S )

Inilah Asma’ ‘Asho Musa A.S yg di maksud ( Asma’ ‘Asho Musa ada 2 Versi, Al-Qur’an /Arab dan Taurat / Ibraani, inilah Versi Al-Qur’an / Arab


Ini Adalah Versi Taurat / Ibraani :

Benarkah Nabi Musa memakai jimat berupa tongkat? Benarkah klonengan tongkat nabi musa yang dibuat tulisan azimat diperbolehkan dari sisi syari’at ? Mari kita baca bersama penjelasan dari Dr. M . Saifudin Hakim.

Berikut ini penjelasannya :

Oleh: dr. M. Saifudin Hakim

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala. Sekarang ini kita hidup di zaman yang –katanya- serba modern. Penemuan-penemuan alat transportasi dan komunikasi menjadikan bumi yang luas ini serasa semakin sempit. Demikianlah, kehidupan peradaban manusia saat ini berada pada puncak kejayaannya. Kehidupan manusia saat ini menjadi serba mudah dan praktis.

Namun sayang, kehidupan yang modern itu hanya berlaku untuk urusan duniawi saja. Sedangkan untuk urusan agama, sebagian kaum muslimin saat ini justru masih sangat primitif. Mereka masih beragama dan menganut keyakinan-keyakinan yang sama persis dengan keyakinan umat jahiliyyah yang hidup ratusan tahun yang lalu. Di antara keyakinan jahiliyyah yang masih mereka ikuti dan mereka pelihara sampai saat ini adalah keyakinan bahwa benda mati tertentu memiliki kekuatan dan kesaktian, sehingga bisa dipakai sebagai jimat.

Kepercayaan terhadap Jimat

Sebagian masyarakat kita masih memelihara kepercayaan terhadap benda-benda mati. Mereka menganggap bahwa benda mati tertentu memiliki kekuatan, kesaktian, atau keistimewaan yang sangat dahsyat, sehingga bisa dijadikan sebagai jimat, senjata, atau yang lainnya. Padahal, kepercayaan seperti ini hanyalah bersumber dari khurafat, khayalan, dan halusinasi semata.

Keyakinan seperti ini masih mendarah daging dalam sebagian kaum muslimin di negeri kita ini. Tentu kita tidak asing lagi dengan sebutan “batu akik”, yang menurut sebagian orang memiliki kekuatan ghaib atau kekuatan supranatural tertentu sehingga bisa dipakai sebagai jimat atau senjata kesaktian. Bahkan kita jumpai para pedagang yang menjual jimat model ini di daerah-daerah tertentu. Atau keyakinan sebagian orang bahwa pusaka peninggalan kerajaan seperti keris, tombak, atau kereta raja memiliki kekuatan mistis tertentu yang dapat memberikan perlindungan ghaib kepada pemiliknya.

Inilah realita masyarakat kita. Di tengah gemerlap modernisasi kehidupan dunia ini, ternyata masih ada orang-orang yang ketergantungan terhadap benda mati (baca: jimat) dan mendarah daging dalam kehidupannya. Sampai-sampai ketika ada yang berusaha meluruskan keyakinannya itu, dia akan kaget dan terpana dengan adanya “pemahaman baru” yang bertolak belakang dengan apa yang diyakininya selama ini.

Jimat Menurut Hukum Syari’at

Ironisnya, selain mempercayai jimat, mereka juga mengaku menganut ajaran agama Islam. Padahal ajaran agama Islam yang mulia ini, yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah telah begitu gamblang menjelaskan kepada umatnya tentang haramnya memakai jimat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dengan tegas memvonis hal itu sebagai salah satu bentuk kesyirikan, dosa besar yang paling besar di sisi Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka sungguh dia telah berbuat syirik.”[1]

Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat beliau untuk memotong jimat yang digantungkan di leher hewan ternak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat, “Janganlah kalung yang terbuat dari tali (jimat) dibiarkan tergantung di leher unta, melainkan harus dipotong.” [2]

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan mendoakan keburukan bagi orang-orang yang memakai jimat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menggantungkan jimat, semoga Allah tidak mengabulkan tujuan yang dia inginkan. Dan barangsiapa yang menggantungkan wada’ah (salah satu jenis jimat), semoga Allah tidak menjadikan dirinya tenang.” [3]

Rincian Hukum Memakai Jimat

Dalil-dalil di atas –dan masih banyak lagi dalil yang lain- sungguh tegas menunjukkan bahwa memakai jimat termasuk bentuk kesyirikan. Para ulama kemudian memberikan perincian tentang hukum memakai jimat ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Memakai jimat dan sejenisnya, apabila orang yang memakainya meyakini bahwa jimat itu berpengaruh dengan sendirinya tanpa (taqdir) Allah, maka dia melakukan syirik akbar dalam tauhid rububiyyah. Karena dia meyakini bahwa ada pencipta selain Allah Ta’ala. Apabila pemakainya hanya meyakini jimat itu sebagai sebab, tidak dapat berpengaruh dengan sendirinya, maka dia melakukan syirik ashghar. Karena dia telah meyakini sesuatu sebagai sebab (sarana), padahal bukan sebab. Maka dia telah menyekutukan Allah dalam menentukan sesuatu sebagai sebab, padahal Allah tidaklah menjadikan sesuatu itu sebagai sebab.” [4]

Lihatlah dalam kasus jimat ini. Orang yang berakal pasti mengetahui bahwa tentu tidak ada hubungannya antara menggantungkan jimat di pojok rumah agar aman dari pencuri dan perampok. Atau antara menggantungkan jimat di leher agar terhindar dari marabahaya. Dia menggantungkan diri dan urusannya kepada sesuatu yang pada hakikatnya tidaklah dapat menimbulkan pengaruh apa-apa. Bahkan menyelamatkan dirinya sendiri pun, jimat itu tidak akan mampu. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan tentang terputusnya pertolongan Allah Ta’ala bagi orang yang memakai jimat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menggantungkan sesuatu, maka dia akan digantungkan kepada sesuatu tersebut.” [5]

“Buktinya, Nabi Musa pun Memakai Jimat!”

Sayangnya, meskipun telah jelas dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang kesyirikan pemakaian jimat, para pemuja jimat itu berdalil (lebih tepatnya: berdalih) dengan tongkat Nabi Musa ‘alaihis salaam yang memiliki kesaktian sehingga bisa digunakan untuk membelah lautan. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala yang artinya, “Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu!’ Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 63)

Maka kita sampaikan kepada mereka, “Apakah para pemuja jimat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk memakai jimat-jimat mereka sebagaimana Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Musa untuk memakai tongkatnya?” Maka jika mereka menjawab “Ya”, berarti mereka telah mendustakan begitu banyak dalil syari’at yang sangat gamblang melarang pemakaian jimat.

Namun, jika mereka menjawab “Tidak”, maka berarti analogi mereka tentang pemakaian jimat dengan tongkat Nabi Musa jelas-jelas merupakan analogi yang keliru dan salah besar, karena kondisi keduanya sangat jauh berbeda. Oleh karena itu, dalih para pemuja jimat itu pada hakikatnya hanyalah dalih dan argumentasi akal-akalan saja yang digunakan untuk melawan dalil-dalil yang telah ditetapkan oleh syari’at.

Sehingga klaim mereka bahwa kekuatan yang ada dalam jimat tersebut bersumber dari Allah Ta’ala -sebagaimana tongkat Nabi Musa- sehingga tidak masalah bagi kita memanfaatkannya, adalah klaim dusta atas nama Allah Ta’ala. Karena jimat-jimat tersebut adalah benda mati yang sama sekali tidak memiliki kekuatan dan kesaktian sebagaimana yang mereka khayalkan selama ini. Andaikata jimat itu memang benar memiliki kekuatan, maka itu bukanlah dari Allah Ta’ala. Akan tetapi berasal dari setan yang dipuja-puja dan disembah oleh para pembuat dan pemakai jimat itu, sebagai timbal-balik atas penyembahan yang manusia lakukan kepada setan.[6]

Keyakinan Seperti Ini Telah Dihapus oleh Rasulullah

Kepercayaan khurafat terhadap jimat ini –yang bersumber dari masyarakat jahiliyyah zaman dahulu- sesungguhnya telah dihapus dengan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika beliau berkhutbah pada Haji Wada’, “Ketahuilah, seluruh perkara jahiliyyah terkubur di bawah kedua telapak kakiku.[7]

An-Nawawi rahimahullah berkata,“Adapun perkatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,’(Terkubur) di bawah kedua telapak kakiku’, (hal ini) merupakan isyarat akan terhapusnya perkara tersebut.[8]

Demikianlah, karakteristik jahiliyyah tersebut telah dihapus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diganti dengan ajaran beliau yang berporos pada ajaran tauhid. Yaitu beribadah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah Ta’ala saja, hanya meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah Ta’ala saja, dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Dzat Yang Maha perkasa dan Maha kuasa atas segala seuatu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Jika Engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika Engkau memohon pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.” [9] Semoga Allah menyelamatkan kita dari dosa kesyirikan. [dr. M. Saifudin Hakim]

_____________

[1] HR. Ahmad di dalam Al-Musnad (IV/156). Di-shahih-kan oleh Al-Albani di dalam Silsilah Ahadits Ash-Shahihah no. 492
[2] HR. Bukhari no. 3005 dan Muslim no. 2115
[3] HR. Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban. Dinilai shahih oleh Al-Haitsami dalam Al-Majma’ (IX/304-305)
[4] Al-Qoulul Mufiid, 1/165
[5] HR. Tirmidzi no. 2072. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Ghayatul Maram no. 297
[6] Disarikan dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIII hal. 34-35
[7] HR. Muslim no. 3009
[8] Syarh Shahih Muslim, 4/312
[9] HR. Tirmidzi no. 2516. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi.

14 gagasan untuk “Jimat Tongkat Nabi Musa?

  1. *** Kisah Nabi Musa yang ketika mendapatkan mu’jizat selalu melalui “sebuah tongkat” menjadi salah satu alasan bagi para penggila/maniac jimat seperti (wongalus, wongalusaceh and friends) .***
    ustd !! statemen anda terlalu KERAS dgn menyebut alamat yang dimaksud !!! biarlah toch karomah illahi nanti yg akan membukakan mata iman mereka, Kewajiban kita mensyiarkan yang haq sdh disampaikan, diterima atau tidak bkn perkara kita. doakan sj spy mereka cpt mendapat hidayah, ORANG JAWA MAKAN SEGA. ORANG MALUKU MAKAN SAGU DAN MADURA MAKAN JAGUNG IYA TOCH !!!

  2. @Mas PA,
    Sekalian di ulas tentang ”Kayu Kokka”, ada yg buat biji tasbeh, gelang/kalung, tongkat dll. Gembar-gembor manfaatnya itu lho yg ga masuk akal.

    • ya gx masuk akal klo gx paham. seperti orang yg haus habis itu minum air kok tau2 haus nya hilang tpi kalo akal nya main orang haus minum air hausnya ilang itu karna allah dengan sarana air. begitu jga orang yg mngunakan zimat klo menggap allah yang meberikan manfaat lwat sarana trsebut dan kita tambah yakin dengan kekuasaan allah sehingga mnambah iman kita. jdinya kn gx masalah!

  3. inilah zaman kemunafikan
    pakaian menjadi topeng
    senyuman menjadi hiasan
    penampilan menjadi alibi
    agama jadi senjata
    inilah zaman kemunafikan
    ulama banyak yang menyesatkan
    pemimpin terus menjerumuskan
    rakyat berlomba mengambil perhatian
    orang tua menutupi kekurangan
    anak mengubur kebohongan
    inilah zaman kemunafikan
    yang benar jadi salah
    yang salah jadi benar
    yang lemah tetap lemah
    yang kuat semakin kuat
    ucapan berbeda dengan tindakan
    ilmu tak berbuah akhlak
    agama tinggal agama
    maksiat tetap berjalan
    kejujuran adalah barang langka
    kepalsuan diobral sesukanya
    inilah zaman kemunafikan…

  4. allahuakbar..bagi saya pngunaan zimat adalah sebagai sarana bkan menggantungkn hidup kpada zimat trrsebut ini bukti ilmu allah sangat luas. mhon bwat pnentang bepikir yg bijaksana…jngan dikit2 sirik,,bidah,,

    • perbuatan kebajikan tak akan dapat dicampur aduk dgn kebatilan !

      jika demikian, …… sekarung dalil dihadapkan pada anda tetap saja sia-sia, …….nurani anda telah ditutup tabir jahil yg menebal,

      claim KAUM JAHILIYAH bahwa jimat mempunyai kekuatan dan kesaktian bersumber dari illahi sebagaimana tongkat Nabi Musa, sehingga menyatakan tidak masalah baginya untuk menggunakannya, adalah klaim DUSTA atas nama Allah Ta’ala, Karena jimat-jimat tersebut adalah benda mati yang sama sekali tidak memiliki kekuatan dan kesaktian apa apa sebagaimana yang mereka yakini, …….. nyata2 perbuatan SYIRIK AKBAR dan hanya orang2 IDIOT lah yang meyakininya !

      • Betul bos…batu, tongkat adalah benda mati makanya kalo kepentok batu atau tongkat pasti Bapak gak apa-apa ya, gak sakit karena gak ada kekuatanya, nanti kalo Bapak sakit ke dokter berobat karena gak mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan….lebih baik banyak berdoa aja…..iya gak? berobat itu syirik iya gak?

    • ndak heran kang wahabi jgankn masalah hikmat sdangkn sgala ulama yg bukan ulamanya wahabi smua bidah sesat syirik wahabi sja dgan try/3 tauhidnya yg masuk syurga,nadhubillah suruh buka kitabnya imam tirmdzi mengenai kekuasaan allah menjadikan sbb. org mati hidup balik dgan anggota sapi surat albaqoroh 173,, buka minda biar tahu sgala sesuatu bukan berlaku scara kebetulan tapi Allah menjadikan adanya sbb maka berlaku akibat bgtulah aturan qudrot dan irodat dri allah.. gunakn sja asma untuk org2 yg suka berlagak. muak dgan qoum2 pencerca slalu menggunakn dalih pelurusan agama.

      • @djsdkaomdst,dsb,dll :)

        kalo emang penggunaan asma itu halal buat nyerang orang.. kenapa ga kita pake aja tuh buat nyerang dedengkotnya yahudi, kan beres tuh..

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s