TEKHNIK MENGIKAT JIN DENGAN AYAT RUQYAH

Judul diatas mungkin agak bombastis, sebab bagaimana mungkin jin bisa diikat dengan sebuah ayat suci Al-Qur’an, Maka saya akan mengembalikan tafsir “pengikat” pada masing-masing pembaca blog ini ;)  . Ayat ini biasa saya (admin) gunakan untuk menghentikan langkah jin yang kabur berpindah-pindah dalam tubuh manusia ketika dipukul dan untuk menghentikan gerakan jin dalam menyakiti tubuh orang yang disurupinya.

Menurut Syaikh Abduh Maghawuri,  jin yang terkena “jerat” ayat ini akan terikat dengan rantai dari Api (tiap kasus bisa berbeda-beda efek dan jenisnya dalam mengikat jin, ada jin yang mengaku terikat dengan rantai api, ada yang kaku tidak bisa bergerak, ada yang mengaku diselubungi hawa panas dll).

Pada setiap peruqyah yang membaca artikel ini (di seluruh Indonesia dan Dunia) yang biasa meruqyah atau telah membuka klinik ruqyah yang sudah mahir meruqyah syar’iyyah untuk bisa membuktikannya dengan membaca ayat ini dan bertanyalah pada jin ”apa yang dirasakan mereka” . Tulislah pengakuan jin dikolom komentar ;) .

Bacaannya adalah :

  1. Qaaf walqur-anil majid
  2. nun wal qalami wama yasturun
  3. Lalu bacalah Surat Al Haaqqah ayat 30-32 berulangkali


Artinya : (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.”

Tekhnik ini adalah tekhnik tingkat mahir bagi seorang peruqyah yang sudah berpengalaman. Tekhniknya sebetulnya ada banyak dalam implementasinya pada kasus kesurupan/serangan sihir tidaklah sama.

Saya hanya memberi satu contoh kasus saja dulu ;) :

Dalam penanganan kasus gangguan jin pada syaraf otak hingga penderita selalu sakit kepala berkepanjangan walau sudah berobat kedokter, sudah discan otak tidak ada masalah apapun pada jaringan syaraf otak penderita.

Ketika pasien gangguan sihir dibacakan ayat-ayat ruqyah dengan memegang ubun-ubunnya biasanya akan segera mengerang dan berubah suara dan raut mukanya karena setan yang mengganggu syaraf otaknya menampakkan eksistensi dirinya karena terbakar dengan ayat ruqyah yang kita baca.

Biasanya jin sihir akan mengancam untuk menyakiti orang yang disurupinya lebih keras,maka lakukan tindakan berikut ini :

1.Mintalah kepada Allah Ta’ala dengan perantara ayat yang kita baca untuk membelenggu jin agar tidak dapat bergerak bebas lagi dengan cukup membaca ta’awudz dan niat dalam hati untuk membelenggu jin tersebut (serahkan hasilnya dengan memasrahkan pada Allah) . lalu bacakan ayat-ayat pengikat jin dengan tangan menempel pada bagian tubuh yang disakitinya (dikepala) biasanya jin akan merasa sesak dan keluar kata-kata kemarahan karena tubuhnya tidak leluasa lagi bergerak.

2. Ketika sudah yakin jinnya tetap ditempat maka tepuk-tepuklah kepala tersebut sembari membaca ayat-ayat ruqyah lainnya, efeknya akan dahyat dan akan sangat menyiksa jin tersebut karena terkena pukulan kita secara telak.

Silahkan dipraktekkan :)

Tambahan :

Tafsiran Surat Al Haaqqah ayat 30-32 yang saya kutip dari dari DEPAG

Karena sikap orang-orang kafir yang demikian itu dan berdasarkan catatan amalnya, maka Allah SWT berkata kepada malaikat Zabaniyah, agar dilaksanakan hukuman kepada orang-orang kafir itu:
1. Agar memegang mereka dan membelenggu tangannya ke lehernya.
2. Dalam keadaan demikian, lemparkanlah mereka ke dalam neraka.
3. Dalam neraka itu belitkanlah ke badan mereka rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.

Dari ayat ini boleh jadi terpahami adanya kemungkinan orang-orang kafir itu akan lari, sehingga mereka harus dibelenggu, seakan-akan Allah memerlukan yang demikian agar mereka tidak melarikan diri. Maksudnya bukan demikian tetapi untuk menunjukkan bahwa pada waktu kiamat itu mereka dalam keadaan menderita, terhina dan tidak dapat melepaskan diri sedikitpun dari keadaan yang demikian, kemudian di dalam neraka penderitaannya ditambah lagi yaitu dengan membelenggu mereka. Hal ini memberi pengertian bahwa orang-orang kafir itu di dalam neraka nanti tidak mempunyai suatu carapun untuk mengurangi dan meringankan rasa azab yang pedih itu.

52 gagasan untuk “TEKHNIK MENGIKAT JIN DENGAN AYAT RUQYAH

  1. Ane pernah beli buku yg telah di alih bahasa ke indonesia judulnya “berdialog dengan jin kafir & jin muslim”, lupa penulisnya siapa. banyak sekali teknik2 yg diajarkan untuk mengunci jin di berbagai situasi berdasarkan pengalaman beliau secara syariah. (bukan dgn ruqyah gadungan ). salah satunya teknik yg di tulis bung PA diatas.

  2. mang ada hadist atau riwayat dimana Rosululloh menggunakan ayat 2 tsb untuk mengikat dan membakar jin…ataukah ini hanya “bid’ah” saja…

    • Artikel Said :

      ”Judul diatas mungkin agak bombastis, sebab bagaimana mungkin jin bisa diikat dengan sebuah ayat suci Al-Qur’an, Maka saya akan mengembalikan tafsir “pengikat” pada masing-masing pembaca blog ini”

      ”…….(tiap kasus bisa berbeda-beda efek dan jenisnya dalam mengikat jin, ada jin yang mengaku terikat dengan rantai api, ada yang kaku tidak bisa bergerak, ada yang mengaku diselubungi hawa panas dll).”

      • SAYA MAU BERTANYA TENTANG KALIMAT ITU (.(tiap kasus bisa berbeda-beda efek dan jenisnya dalam mengikat jin, ada jin yang mengaku terikat dengan rantai api, ada yang kaku tidak bisa bergerak, ada yang mengaku diselubungi hawa panas dll).”

        APAKAH ADA HADIST TTG HAL INI? YANG MENGATAKAN TIAP KASUS BISA BERBEDA? ADA RANTAI API, KAKU, TAK BISA BERGERAK, PANAS, DLL?

  3. 1.Mintalah kepada Allah Ta’ala dengan PERANTARA ayat yang kita baca untuk membelenggu jin agar tidak dapat bergerak bebas lagi dengan cukup membaca ta’awudz dan niat dalam hati untuk membelenggu jin tersebut (serahkan hasilnya dengan memasrahkan pada Allah)…saya jadi heran pd Perdana Ahmad..dia seringkali mengkufurkan orang2 yg berdoa melalui perantara ( bertawasul) tp di artikel ini jelas2 dia berdoa dg perantara ayat Quran…adakah Al Quran & Rosululloh Muhammad mencontohkannya..ataukah Perdana Ahmad..telah MENYADARI bhw bolehlah seorang berdoa dg bertawasul melalui perantara…

    • ketahuilah wahai aviva, saya berperantara/bertawasul dengan dengan doa dari zat Allah yang Maha Suci, dengan nama-nama-Nya yang baik, dengan sifat-sifat-Nya, atau dengan perbuatan-Nya. ini adalah tawasul yang syar’i.
      wahai aviva……….. sesungguhnya tawasul syar’i itu adalah :
      Pertama: Bertawasul dengan zat Allah yang Maha Suci, dengan nama-nama-Nya yang baik, dengan sifat-sifat-Nya, atau dengan perbuatan-Nya. D\
      Kedua: Bertawasul dengan amal shalih.
      Ketiga: Bertawasul dengan doa orang lain.

      sedangkan bertawasul dengan perantara orang mati, kuburan, keris, jimat, jin, setan adalah prilaku kesyirikan.

      • SAYA BELUM PERNAH ADA ORANG BERTAWASSUL DG ORANG MATI, KUBURAN, KERIS, JIMAT, JIN DALAM KALANGAN NU–pastinya ini bicara ttg ritualitas kalangan NU menurut saya… jadi apa mas perdana punya datanya? setidaknya, amalan resminya yg macam itu? terima kasih

  4. mbak aviva.. anda benar sekali, membaca catatan yang ini serasa membaca tulisan wongalush diriku..masalahnya tak jauh beda…

  5. @ perdana : yang menjadi pokok pertanyaan saya adalah apakah dasarnya ayat ini dijadikan sbg pengikat & pembakar jin ( jika memang jin itu ada, bukan hanya kondisi psikologis semata) dan adakah riwayat bhw Rosululloh mencontohkan untuk menggunakannya…anda mencontoh siapa bung Perdana…syeich anda…?coba berikan sanadnya hingga Rosululloh saw

  6. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh !

    ikutan nimbrung. itupun jika kepakai, yang dimaksud :

    *** dengan PERANTARA ayat ***
    PERANTARA disini bukan berarti ayat ini mempunyai kekuatan / kesaktian, lalu kita minta pada ayat ini, tapi hanyalah sebagai ayat rujukan yang menunjukan kesinambungan do’a, sebagai contoh, jika kita berdoa kpd allah memohon dimudahkan rejeki, kan kita memohon dgn memuji asma allah yang berkaitan yaitu YA ROZAK,……..atau jika kita memohon supaya kita dikuatkan dlm menerima cobaan, kita memohon dgn asmaNya yang maha luhur yaitu YA JABBAR dll.

    Dari Auf bin Malik, dia berkata: Pada Masa Jahiliyah kami pernah melakukan rukyah (bacaan yang tidak syar’i), kemudian kami bertanya, “Wahai Rasulullah SAW,! Bagaimana pendapatmu tentang hal itu?” beliau bersabda, “singgkirkanlah rukyah kalian dariku, dan tidak mengapa rugyah yang didalamnya tidak mengandung syirik.” (Shahih: Muslim), Ash-Shahihah, 1066)

    dgn harapan bisa membantu…………wassallam !!!!!!!!!

  7. bang otongdarsa, jangan bersilat lidah. Menghindar dari konsep tawassul ya? hehehe, apa bedanya dg NU to? paling bedanya, anda tawassul sama asma Allah… NGGAK ADA BEDANYA. KECUALI PERMAINAN LOGIKA DIWULAK-WELIK..

    • tidaklah bgtu kawan, sy pun orang NU, sy pernah mengikuti pemahaman sufi, namun terasa ada yg tdk cocok dgn pemahamanku, untuk itu sy memilah milah, jika cocok ya dipakai, ….. jika tdk ? …itulah yang aku kritisi !

      ***apa bedanya dg NU to? paling bedanya, anda tawassul sama asma Allah… NGGAK ADA BEDANYA. KECUALI PERMAINAN LOGIKA DIWULAK-WELIK..***

      beda JAUUUUH ! kawan …….. bertawasul dgn asma dgn wirid yg dipakai dgn rumus matematik tertentu 1000 x, 16.641 x dst itu berarti menjadikan tawasul yang artinya PERANTARA mutlak, dan itu hal yang berlebih lebihanan sehingga kuanggap bid’ah !

      jadi pakailah syariat yg wajar sesuai Qur’an dan Hadittz, tentunya yg shahih !

      wasallam

      • mas musafir… APA BEDANYA ASMA SAMA WIRID? COBALAH ANTUM PERIKSA KEMBALI, APA ISI DARI WIRIDAN??

        PERTANYAAN SAYA LAGI, MEMANG KENAPA KLO WIRID SAMPE 1000X??? APA KARENA TAK ADA TUNTUNANNYA? LALU, APAKAH ASMA VERSI ANTUM ITU MEMANG ADA RISALAHNYA DALAM HADIST DAN ALQURAN??? TERIMA KASIH

      • Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

        @jeruk-purut, yg dimuliakan allah :

        ***mas musafir… APA BEDANYA ASMA SAMA WIRID? COBALAH ANTUM PERIKSA KEMBALI, APA ISI DARI WIRIDAN?? ***

        Sungguh suatu pertanyaan yg sifatnya mendikte, masa iya sih ustad sekaliber anda tak tahu artinya ASMA, dan WIRIDAN ?!! aku malu dan tak kuasa untuk menjelaskannya !!

        ***PERTANYAAN SAYA LAGI, MEMANG KENAPA KLO WIRID SAMPE 1000X??? APA KARENA TAK ADA TUNTUNANNYA? ***

        Jawabannya ada pada pertanyaan saudara !!! … aneh, ada apa dgn anda ini ?

        ***LALU, APAKAH ASMA VERSI ANTUM ITU MEMANG ADA RISALAHNYA DALAM HADIST DAN ALQURAN??? TERIMA KASIH ***

        Jangan dulu ambil risalah dari hadits atau al qur’an, saya yakin anda dan saya sama2 tahu apa artinya ASMA, apa hubungannya dgn risalah ?

        Jadi hal itu tdk patut untuk dipertanyakan, kecuali jika anda berpendapat lain, jgnlah kita bertanya pada apa yg sifatnya tak berfaedah, dan itu sia2 !!

        Wasalam !!

  8. Pada zaman sekarang ini, ada sebagian thullabul ilmi (penuntut ilmu syar’i) menjadi terkenal bisa mengobati orang dg menggunakan ruqyah. Kemampuan meruqyah membuatnya menjadi terkenal sehingga dapat dijumpai sarana-sarana tersebut di tengah-tengah masyarakat.

    Dengan banyaknya imbalan yg diperoleh dari meruqyah ini, mereka rela melepaskan kesibukan-kesibukan & mengambil jalan pintas dg cara mengkhususkan diri sebagai tukang ruqyah. Mereka pun banyak memperluas waktu utk itu & selalu siap apabila ada orang yg datang utk berobat, sehingga membuat mereka sibuk mengatur jam-jam berobat layaknya dokter-dokter & rumah sakit spesialis, serta menjadikan meruqyah ini sebagai pekerjaan tetap (profesi).

    Mereka mengkhususkan diri utk meruqyah & menjadikannya sebagai pekerjaan tetap (mata pencaharian) sehingga menjadikan dirinya terkenal. Cara seperti ini dapat mendatangkan kemudharatan, baik bagi peruqyah itu sendiri maupun bagi mereka yg diruqyah. Di antara kemudharatan itu antara lain:

    Dengan banyaknya pengunjung yg datang berobat kepada peruqyah, bisa menimbulkan kesalahpahaman di kalangan orang awam. Mereka menyangka, hanya dg melihat banyaknya pengunjung yg datang kepadanya, peruqyah tadi mempunyai kekhususan yg tdk dimiliki oleh orang lain. Sehingga dg demikian, pentingnya peruqyah melebihi pentingnya bacaan-bacaan yg dibaca oleh peruqyah tadi, yaitu kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala . Bahkan orang-orang awam tersebut tdk lagi melihat pentingnya apa yg dibaca oleh peruqyah, namun hanya melihat kepada peruqyah itu saja.

    Dalam hal meruqyah, yg memberi manfaat sebenarnya adalah apa yg dibaca dari Al Qur`an, sedangkan peruqyah itu sendiri hanya membacakan saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Dan Kami turunkan dari Al Qur`an suatu penawar & rahmat bagi orang-orang yg beriman…” (Al Isra`: 82).

    Dalam surat lain Allah berfirman:

    “…Katakanlah: “Al Qur`an itu adalah penawar & petunjuk bagi orang-orang yg beriman ….” (Fushilat:44).

    Kita tdk memungkiri ada atsar dari keshalihan peruqyah, kuat keimanannya, tsiqah-nya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta tawakalnya kepadaNya, namun sebenarnya, dia itu hanyalah membacakan saja. Karena yg mempunyai pengaruh kesembuhan, sebenarnya ialah kalamullah, yaitu Al Qur`an Al Karim yg dibaca oleh si peruqyah tersebut.

    Jadi setiap apa yg melemahkan kepercayaan seseorang terhadap kalamullah, maka seharusnya dicegah & tdk dibiarkan.

    Ibnul Qayyim berkata: “Maka Al Qur`an-lah yg menjadi obat sempurna bagi semua penyakit hati, penyakit badan, maupun penyakit dunia & akhirat. Tidak seorang pun yg bisa menyembuhkannya kecuali Dia. Apabila seseorang sudah memperbaiki caranya berobat dg menggunakan Al Qur`an, kemudian sudah dia tempatkan pd anggota badan yg sakit dg penuh keyakinan & keimanannya, menerima dg lapang dada, & dg keyakinan yg mantap serta semua syarat-syaratnya sudah terpenuhi, maka penyakit itu tdk akan pernah menghalanginya utk mendapat kesembuhan. Sebab bagaimana mungkin penyakit dapat menghalangi ataupun melawan kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabbnya segala apa yg ada di langit & di bumi; apabila Al Qur`an itu diturunkan di atas gunung, maka gunung itu akan hancur; / kalau diturunkan di atas bumi, maka bumi itu sendiri akan terpotong & terbelah” .

    Apabila kita melihat sirah (perjalanan hidup) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sirah sahabat-sahabatnya serta sejarah para ulama kaum Muslimin yg tdk diragukan lagi keimanan & kelebihan mereka, maka kita tdk akan menemukan seorang pun di antara mereka yg meninggalkan pekerjaan-pekerjaan mereka & mengkhususkan diri dg membuka praktek pengobatan melalui ruqyah. Kita juga tdk akan mendapatkan salah seorang pun di antara mereka yg menjadikan ruqyah sebagai mata pencaharian, sehingga membuat mereka menjadi terkenal di kalangan masyarakat, apabila disebut namanya, maka disebut juga pekerjaannya ini beserta namanya.

    Tidak diragukan lagi, bahwa setiap zaman penyakit-penyakit itu bertambah banyak. Namun kita tdk melihat salah seorang pun dari pemimpin kaum Muslimin yg menisbatkan dirinya sebagai tukang ruqyah seperti penisbatan kepada mufti (pemberi fatwa) & qadhi (hakim). Pada zaman dahulu, orang yg menderita suatu penyakit, dia sendirilah yg meruqyah dg menggunakan Kitab Allah (Al Qur`an) & do’a-do’a yg datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan bila ada seseorang yg sakit, kemudian ia diruqyah oleh orang yg faham tentang agama, maka hal itu boleh saja. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Ada seorang di antara kami yg digigit kalajengking pd waktu itu kami sedang duduk bersama Rasulullah, lalu ada seorang berkata,”Ya, Rasulullah. Bolehkah saya meruqyahnya?” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ

    “Barangsiapa di antara kalian yg mampu memberikan manfaat kepada saudaranya, hendaklah ia lakukan”.

    Seandainya mengkhususkan diri utk meruqyah & menjadikannya sebagai pekerjaan tetap (profesi) serta menyebarkannya di kalangan masyarakat adalah suatu kebaikan, tentu para sahabat akan melakukannya lebih dahulu daripada kita. Hal ini, sama juga ketika suatu amalan yg termasuk bagian dari syari’at Islam, namun dilakukan dg cara yg tdk sesuai dg tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam & tdk pernah dilakukan oleh para sahabat, kemudian dianggap baik oleh masyarakat, maka demikian itu termasuk bid’ah. Hal ini sesuai dg penjelasan As Salt bin Bahram, dia berkata: “Sungguh pd suatu hari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berjalan melewati seorang perempuan yg sedang memegang tasbih yg ia gunakan utk bertasbih, maka Ibnu Mas’ud pun memotong tasbih tersebut lalu membuangnya”. Kemudian beliau juga melewati seorang laki-laki yg sedang bertasbih (memuji-muji kepada Allah) dg menggunakan batu-batu kecil, beliau pun menendang batu-batu itu dg kakinya, lantas berkata,’Kelalaian telah membawa kebid’ahan yg merupakan suatu kezhaliman, / kalian telah melampaui keilmuan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum?’.”

    Sebenarnya yg membuat para tukang ruqyah pd zaman kita ini lebih terkenal ialah, karena mereka menyediakan tempat-tempat khusus utk menemui mereka kapan mereka suka, sebagaimana yg dilakukan para dokter, pedagang / pemilik perusahaan lainnya.

    Seandainya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membuka tempat khusus utk meruqyah -tentu akan banyak yg datang, & kemudian beliau sibuk hanya utk menemui mereka kapan mereka mau- tentu beliau tdk akan dapat mengajarkan ilmu syar’i, & juga tdk dapat menjelaskan tentang kebenaran agama Islam kepada umat. Terlebih lagi pd zaman yg diliputi kejahilan seperti saat ini serta merebaknya kebodohan & khurafat, ketergantungan kepada selain Allah, kepada wali-wali setan, para syaikh & kepada tokoh tertentu.

    Para ulama Ahlus Sunnah tdk mengkhususkan diri mereka semata-mata utk melayani pengobatan dg ruqyah ini, karena mereka betul-betul faham terhadap agama Islam -semoga Allah merahmatinya-. Para ulama Ahlus Sunnah banyak menyibukkan diri dg menuntut ilmu utk memahami agama Islam, mendakwahkannya & berjihad di jalan Allah.

    Para setan, apabila melihat ketergantungan seseorang kepada peruqyah yg sudah menolongnya, maka tanpa sepengetahuannya, setan itu akan berpura-pura takut kepada peruqyah, kemudian akan mengatakan bahwa dirinya akan keluar dari tubuh orang yg dimasukinya tadi & yg semisalnya, dg tujuan utk menambah kepercayaan orang tadi kepada peruqyah lebih kuat daripada kepercayaannya terhadap apa yg dibaca oleh peruqyah itu. Di samping itu, setan-setan itu juga bermaksud agar orang awam berkeyakinan, bahwa ruqyah mempunyai keanehan tersendiri.

    Dalam riwayat Abu Dawud dg lafazhnya sebagai berikut: dari Zainab -istri Abdullah bin Mas’ud c – berkata: Sesungguhnya Abdullah melihat benang di leherku, lalu ia berkata,”Apa ini?” Aku menjawab,”Benang utk meruqyahku”. Zainab berkata: Lalu Abdullah mengambilnya, kemudian memotongnya, lalu ia berkata: Kamu semua, wahai keluarga Abdullah, sungguh tdk butuh kepada syirik. Aku telah mendengar Rasulullah bersabda.

    إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَلَةَ شِرْكٌ

    “Sesungguhnya ruqyah , tamimah, & tiwalah adalah syirik”.

    Maka aku berkata: “Waktu itu mataku berair, & aku berobat kepada fulan Yahudi. Jika ia meruqyahku, maka aku merasa enak”.

    Maka Abdullah berkata: Itu hanyalah perbuatan setan. Setan itu merangsangnya dg tangannya. Karenanya, jika ia meruqyah, ia menahannya dari rasa salah. Akan tetapi cukuplah kamu mengucapkan sebagaimana Rasulullah ucapkan.

    أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ, وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِى, لاَشِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَيُغَادِرُ سَقَمًا.

    “Hilangkanlah penyakit wahai Rabb manusia, & sembuhkanlah! Engkau adalah Dzat Penyembuh, tdk ada kesembuhan kecuali kesembuhan Engkau, kesembuhan yg tdk meninggalkan penyakit”.

    Tipu daya setan terhadap manusia itu sangat besar, sampai-sampai tdk bisa diketahui, kecuali oleh orang-orang yg faqih dalam masalah agama. Sedangkan apa yg dilakukan orang-orang awam ketika mendengar cerita-cerita aneh tentang si peruqyah, mereka hanya berlomba-lomba menemui tukang ruqyah itu & memberikan kepada mereka upah yg tdk sedikit jumlahnya. Lebih-lebih lagi apabila mereka mendengar bahwa setan-setan berbicara dg menggunakan lidah orang-orang yg dimasukinya tadi di depan peruqyah, kemudian peruqyah tadi membuat perjanjian dg setan itu utk tdk masuk lagi ke dalam tubuh orang yg dimasukinya tersebut.

    Semakin banyak tersebar cerita-cerita aneh seperti ini, semakin banyak pula orang-orang yg mendatangi peruqyah ini dg maksud utk memastikan bahwa dalam dirinya memang tdk ada jin. Seandainya keadaan seperti ini memang benar merupakan karamah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka seharusnya bagi peruqyah itu utk takut dari akibat yg disebabkan oleh perbuatannya itu. Apalagi seandainya ia tdk bisa menjamin bahwa hal itu bisa mengakibatkan istidraj, / hal itu hanya merupakan tipu daya setan.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Ketika kejadian-kejadian yg luar biasa itu sering terjadi pd diri seseorang, maka hal itu tidaklah mengurangi derajat orang tersebut. Banyak di antara orang-orang shalih yg bertaubat dari hal seperti ini. mereka bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana taubatnya orang-orang yg berbuat dosa-dosa, seperti dosa zina & mencuri. Mereka mengadukan hal itu kepada yg lainnya lantas berdo’a memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala utk menghilangkannya. Mereka juga memerintahkan kepada orang-orang yg ingin bertaubat agar jangan mengharapkan kejadian-kejadian aneh tersebut, lantas menjadikannya sebagai ambisi yg harus didapatkannya. Jangan pula berbangga dg hal itu kemudian menyangka, bahwa hal itu sebagai bagian dari karamah. Bagaimana seandainya, jika hal itu benar-benar perbuatan setan dg maksud utk menyesatkan mereka? Karena saya tahu, orang-orang yg diajak berbicara oleh tumbuh-tumbuhan, ia memberitahukan bahwa di dalam dirinya ada manfaatnya. Saya tahu, sebenarnya yg mengajak mereka berbicara itu adalah para setan yg ada dalam tumbuh-tumbuhan tersebut. Saya juga mengerti orang-orang yg diberi tahu oleh batu, pohon; lantas batu & pohon-pohon itu berkata kepada mereka “Mudah-mudahan dapat menyenangkanmu wahai wali Allah”. Ketika dibacakan ayat kursi kepadanya, maka hilanglah semua itu. Saya juga mengerti orang-orang yg pergi menangkap burung; lantas burung-burung itu berkata kepadanya “Bawalah diriku agar aku dimakan oleh orang-orang yg sangat membutuhkan”. Hal itu bisa terjadi, karena setan masuk ke dalam tubuh burung itu; sebagaimana ia masuk ke dalam tubuh manusia, lalu berkata seperti yg diucapkan tadi”.

    Bisa jadi, orang-orang yg meruqyah itu merasa bahwa dirinya adalah salah seorang wali Allah yg berbakti kepadaNya, / merasa tinggi hati & yg lainnya. Ini disebabkan karena begitu banyak penyakit yg sudah disembuhkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui ruqyahnya; demikian juga melihat bagaimana setan takut kepadanya & langsung keluar dari orang yg kesurupan, & yg lainnya. Para salafush shalih dahulu -semoga Allah merahmati mereka- merasa takut & khawatir terhadap hal-hal seperti ini, & mereka pun menutup jalan masuk perasaan-perasaan seperti itu.

    Orang yg meruqyah, sebagaimana yg sudah disebutkan di muka, tidaklah seperti seorang dokter yg banyak dikunjungi para pasien utk berobat kepadanya; karena seorang dokter itu mengobati dg pengobatan yg sudah diketahui, & dia tdk mengetahui bahwa obat itu bermanfaat kecuali apabila pasien itu sendiri yg mengatakan kepadanya tentang penyakitnya. Bahkan seorang pasien meyakini, bahwa kesembuhannya itu tergantung dg obat-obatan yg diberikan oleh dokter, bukan dg dokter yg mengobatinya. Ini berbeda dg seorang peruqyah; maka dia menyangka bahwa kesembuhan itu tergantung pd dirinya bukan kepada apa yg dibacanya, dg alasan Al Qur`an ada pd diri setiap Muslim, mereka bisa membacanya kapan saja mereka inginkan, namun walaupun demikian, mereka berserah diri agar yg membacanya itu harus si peruqyah. Hal ini bisa memasukkan perasaan ujub & sombong pd diri peruqyah; dia menyangka dirinya dg prasangka yg bermacam-macam. Tidak diragukan lagi, menjauhi hal seperti ini adalah lebih baik. Allahu a’lam bish shawab.

    Salah satu kritik yg perlu diarahkan kepada para tukang ruqyah yg menggunakan tata cara yg tdk dicontohkan syar’i. Yaitu, kadang-kadang mereka berbicara tanpa didasari oleh ilmu. Misal, apabila mereka meruqyah seseorang, namun jin yg ada dalam tubuh orang tersebut tdk mau berbicara, mereka dg mudahnya berkata “tidak ada jin dalam tubuhmu, namun engkau hanya terkena ‘ain”, / perkataan “tidak ada jin dalam tubuhmu & tdk juga penyakit ‘ain”. Mereka juga berkata “kami tidaklah meruqyah orang kesurupan, kecuali jin itu pasti akan berbicara & berdialog dg kami karena takutnya kepada kami, / kepada bacaan-bacaan yg kami baca”.

    Hal seperti ini bukan berarti menunjukkan si peruqyah tersebut berilmu. Karena sesungguhnya orang yg kesurupan, apabila dibacakan doa & dzikir-dzikir yg biasa digunakan utk meruqyah, kemudian jin yg ada di dalam tubuhnya itu merasa takut, maka disebabkan karena ketakutannya itu ia pun berbicara. Atau mungkin saja jin itu tdk berbicara & tdk takut. Jadi, dari mana para tukang ruqyah itu mengatakan dg yakin, bahwa tdk ada jin / penyakit ‘ain pd diri seorang kesurupan yg sedang diruqyahnya? Kesurupan seperti ini bisa terjadi, karena orang yg sakit tadi meninggalkan doa-doa yg diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, & sebaliknya ia yakin dg perkataan-perkataan para tukang ruqyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yg kamu tdk mengetahui pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan & hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya”. (Al Isra`: 36).

    Hal yg perlu juga dikritik dari para peruqyah tersebut, yaitu cara mereka mengumpulkan orang-orang yg datang berobat kepadanya, kemudian dia membacakan kepada mereka sekaligus dg satu bacaan, dg tujuan utk mempersingkat waktu, karena begitu banyak orang yg datang berobat kepadanya. Kemudian para pengunjung tadi mengambil ludah peruqyah dg menggunakan bejana-bejana mereka. Ataupun mengadakan majelis khusus dg mengundang banyak orang utk diruqyah, kemudian diruqyah satu persatu, dg maksud sebagai tontonan kepada masyarakat sebagai media pengobatan massal.

    Melihat begitu banyaknya keuntungan yg diperoleh dg menggunakan cara seperti itu oleh para peruqyah, seperti harta banyak, maka beberapa dukun maupun orang pintar & pembohong besar berlomba-lomba menampakkan diri sebagai tukang ruqyah. Mereka pun membuka tempat-tempat khusus utk tujuan ini, mencampurkan kebenaran dg kebatilan sehingga membuka pintu-pintu kehancuran bagi umat manusia. Dengan demikian, sulit utk mengingkari para dukun & orang pintar, karena semuanya bercampur dg orang yg tdk mencampurkan bacaan mereka dg tipuan / ramalan yg mengakibatkan sulitnya membedakan antara mereka. Dan suatu kemungkaran itu menjerumuskan kepada kehancuran, maka wajib bagi kita utk mencegahnya, sekalipun orang yg melakukan hal itu bermaksud baik.

    Abdullah bin Mas’ud & para sahabatnya serta para ulama tersohor melarang utk menggantungkan Al Qur`an walaupun itu adalah kalamullah, sebagai cara utk mencegah kemungkaran, agar hal itu tdk menjurus pd penggantungan tama’im . Dan sebagaimana hal ini difatwakan oleh Lajnah Ad Da’imah Lil Buhutsil ‘Ilmiah Wal Ifta’ Saudi Arabia.

    Orang-orang yg mengkhususkan diri utk meruqyah & menjadikannya sebagai pekerjaan tetap (profesi), mereka mengira jika hal itu boleh saja dilakukan & hukum melakukannya adalah sunnah; & sunnah termasuk salah satu hukum syar’i yg merupakan suatu ibadah. Maka perbuatan ini bisa menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan bid’ah, karena menjadikan ruqyah sebagai profesi tdk pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam & tdk juga oleh para khulafa’ur rasyidin.

    Adapun yg terjadi pd zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beberapa sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah sumber air yg di dekatnya ada sekelompok orang. Salah seorang dari sekelompok orang tersebut digigit binatang berbisa. Kemudian salah seorang dari mereka berkata: “Apakah di antara kalian ada yg dapat meruqyah karena di dekat sumber air itu ada orang yg tersengat binatang?” Kemudian pergilah salah seorang di antara para sahabat membacakan surat Al Fatihah dg perjanjian, apabila ia sembuh, maka ia dibayar dg seekor kambing. Setelah dibacakan, orang itu pun sembuh, lalu ia memberikan seekor kambing sesuai dg perjanjian mereka sebelumnya. Ketika sahabat tadi kembali ke rombongannya dg membawa seekor kambing, rombongannya tdk mau menerima kambing itu & berkata: “Engkau telah mengambil upah dari kitab Allah”. Ketika mereka sampai di kota Madinah, mereka pun melaporkan kejadian tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka berkata,”Wahai, Rasulullah. Bolehkah kita mengambil upah dari Kitab Allah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menjawab:

    إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللهِ.

    “Sebaik-baik upah yg kalian ambil adalah upah dari Kitab Allah”.

    Beberapa sahabat ada yg terkenal dg doanya yg mustajab, seperti Sa’ad bin Abi Waqqas. Dia termasuk salah seorang dari sepuluh orang yg diberi kabar gembira utk masuk surga, & termasuk orang yg didoakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar doanya terkabul. Sa’ad berkata: Rasulullah mendoakanku:

    اَللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لَهُ إِذَا دَعَاكَ

    “Ya Allah, kabulkanlah doanya apabila ia berdoa kepadaMu”.

    Selain itu juga beberapa tabi’in (pengikut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) seperti Uwais Al Qarni Radhiyallahu ‘anhu. Namun, walau demikian keadaannya, tidaklah membuat kaum Muslimin sangat membutuhkan kemustajaban doa mereka utk memperbaiki dunia & agama kaum Muslimin, meski sebenarnya tdk ada larangan syar’i utk datang & meminta doa kepada mereka, sebagaimana yg dilakukan Umar bin Khaththab z kepada Uwais bin Al Qarni, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukannnya utk melakukan hal itu. Walau demikian, tdk diragukan lagi, seandainya Umar bin Khaththab melihat penduduk Madinah berkumpul di tempat Uwais utk meminta doa, demikian juga penduduk Makkah & Irak, tentu ia akan mencegahnya, meskipun beliau juga pernah meminta doa kepada Uwais. Hal ini dia lakukan karena takut akan terjadi fitnah pd diri orang-orang tersebut & terhadap Uwais sendiri. Dan karena kefakihan Uwais Al Qarni Radhiyallahu ‘anhu , ia berusaha menyembunyikan keberkahan doanya & tdk menjerumuskan diri sendiri & orang lain terhadap fitnah.

    Diriwayatkan dari Usair bin Jabir. Dahulu, ketika Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu didatangi oleh sekelompok rombongan yg datang dari negeri Yaman, beliau bertanya kepada mereka: “Apakah di antara kalian ada yg bernama Uwais bin Amir?” Sampai ia ditunjukkan kepada Uwais, kemudian beliau berkata: “Apakah engkau Uwais bin Amir?” Dia menjawab,”Ya, saya Uwais bin Amir.” Beliau berkata lagi,”Uwais yg berasal dari Bani Qarni, dari suku Murad?” Uwais menjawab,”Ya, betul.” Umar lalu melanjutkan,”Dulu engkau pernah terkena penyakit kusta, namun setelah itu engkau pun sembuh, kecuali masih tertinggal sedikit lagi?” Uwais menjawab,”Ya, benar.” Kemudian Umar melanjutkan,”Engkau mempunyai seorang ibu?” Uwais menjawab,”Betul.” Setelah itu Umar berkata lagi,”Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama sekelompok rombongan dari negeri Yaman, dia berasal dari Bani Qarni dari suku Murad. Dahulu ia pernah terkena penyakit kusta, namun ia pun sembuh dari penyakit tersebut kecuali masih tertinggal sedikit lagi. Dia sangat berbakti kepada ibunya. Apabila dia bersumpah dg Nama Allah, karena baktinya kepada ibunya, Allah akan mengabulkan segala permintaannya. Apabila engkau mau agar dia memohonkan pengampunan untukmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka lakukanlah’.” Umar lalu berkata: “Mohonkanlah pengampunan untukku kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ”. Setelah itu Uwais pun mendoakan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya.

    Setelah itu Umar bertanya,”Hendak kemanakah engkau?” Dia menjawab,”Ke negeri Kufah.” Umar berkata lagi,”Maukah engkau kutuliskan sepucuk surat kepada gubernur di sana?” Dia menjawab,”Aku lebih senang bersama orang-orang miskin ini.” Perawi berkata: “Setelah satu tahun dari pertemuan mereka itu, salah seorang dari kepala suku Bani Qarni datang ke kota Makkah utk melaksanakan ibadah haji. Ketika kepala suku itu bertemu dg Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, Umar bertanya kepadanya tentang keadaan Uwais. Kepala suku itu lalu menjawab,”Aku tinggalkan dia dalam keadaan sangat menyedihkan, miskin sekali.” Mendengar jawaban itu, Umar lalu memberitahukan apa yg disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya tentang Uwais. Umar berkata,”Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,’Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama sekelompok rombongan dari negeri Yaman, dia berasal dari Bani Qarni bermarga Murad. Dahulu ia pernah terkena penyakit kusta, namun ia pun sembuh dari penyakit itu, kecuali masih tertinggal sedikit lagi. Apabila engkau mau agar dia memohonkan pengampunan bagimu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka lakukanlah’.”

    Setelah selesai mengerjakan ibadah haji, kepala suku itu pun pulang & langsung menemui Uwais, lantas berkata kepadanya: “Mohonkanlah ampunan bagiku kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Uwais menjawab,”Engkau baru saja kembali dari suatu perjalanan shalih (kebajikan). Engkaulah yg lebih pantas utk memintakan aku pengampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apakah engkau bertemu dg Umar?” Kepala suku itu menjawab: “Ya, aku bertemu dengannya.” Setelah itu Uwais pun mendoakannya, sehingga orang-orang pun mengetahui tentang dirinya, lantas pergi meninggalkannya. Usair berkata: “Uwais mengenakan pakaian burdah. Dan setiap orang yg melihat pakaian tersebut, mereka pasti bertanya, dari mana Uwais mendapatkan pakaian itu?”

    Pada hakikatnya ruqyah itu sama seperti doa, bahkan dikategorikan sebagai doa & yg semisalnya. Seandainya penduduk sebuah negeri bergantian mendatangi seseorang yg tampaknya bisa memberikan kebaikan bagi anak-anak mereka dg cara men-tahnik-nya dg kurma / lainnya, maka banyak juga orang yg datang membawa anak mereka utk di tahnik. Yang nampak sangat jelas pd zaman Nabi, banyak bayi yg lahir, tetapi tdk dibawa kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam minta utk di tahnik. Oleh karena itu, seharusnya orang yg meruqyah khawatir terhadap dirinya / terhadap mereka dari fitnah.

    Ironisnya pd zaman sekarang ini, ada beberapa thullabul ilmi (penuntut ilmu syar’i) yg didatangi oleh beribu-ribu orang dg tujuan meminta ruqyah kepadanya, kemudian mereka meninggalkan para ulama; apakah mereka tdk merasa takut terhadap fitnah ujub, riya’, sombong & lain sebagainya?

    Jika sudah jelas dalam masalah ini terdapat kerusakan terhadap masyarakat, terutama orang-orang awam, yaitu timbulnya ketergantungan & kepasrahan mereka terhadap peruqyah lebih besar daripada ketergantungan & kepasrahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala & firmanNya; mereka menyangka, kesembuhan itu berhubungan dg peruqyah hanya karena melihat banyaknya pengunjung yg datang menemuinya, sementara hal ini merupakan sesuatu yg tdk pernah mereka lihat pd sebagian besar ulama-ulama shalih, maka tdk diragukan lagi, mencegah kehancuran lebih baik daripada mengharapkan kebaikan, khususnya apabila kehancuran yg diakibatkan lebih besar daripada kebaikan yg diharapkan. Di samping itu, meruqyah seperti itu juga bisa mendatangkan kerusakan pd diri peruqyah sendiri; misalnya, menjadikan dirinya tenar & membuat dirinya merasa tinggi hati, lantas memulai ruqyah dg cara-cara yg tdk pernah dikenal di kalangan ulama-ulama salafush shalih, seperti dg cara memukul, / gaya tertentu, / membacakan terhadap beratus-ratus orang secara bersamaan dg satu bacaan, lantas meniup pd bejana-bejana mereka setelah bacaan tadi. Semua ini adalah perbuatan bid’ah.

    Sesungguhnya orang-orang yg mengkhususkan diri utk meruqyah, sama seperti orang yg mengkhususkan dirinya utk berdoa bagi orang lain; sehingga dg demikian, ruqyah & doa adalah sama. Jadi apakah pantas bagi seorang penuntut ilmu mengatakan “kemari, datanglah kepadaku, aku akan mendoakanmu”.

    Ini sangat bertentangan dg petunjuk para salafush shalih. Selain itu juga, dahulu Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu & para sahabat lainnya serta para tabi’in benci apabila ada seseorang datang meminta doa kepada mereka. Mereka berkata “apakah kami ini seorang nabi?”

    Dampak negatif menyebarnya hal ini, yaitu bisa menimbulkan keraguan pd diri orang awam & orang-orang yg tdk berilmu; mereka menyangka, cara ini adalah cara yg benar dalam melakukan ruqyah, sehingga mereka pun pergi meminta ruqyah kepada orang lain & melupakan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meruqyah, yaitu meruqyah diri sendiri & menyerahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala utk memohon kesembuhan kepadaNya.

    Kesimpulan dari penjelasan di atas, bahwasanya mengkhususkan diri menjadi peruqyah & menjadikannya sebagai profesi (mata pencaharian), menurut penjelasan para ulama ahlus sunnah, tdk dibenarkan. Hal seperti ini akan menjerumuskan kepada bahaya, fitnah & lain sebagainya, sebagaimana telah dijelaskan di atas. Wallahu a’lam bish shawab.

    Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis, thullabul ‘ilmi & kaum muslimin. Mudah-mudahan kita tetap ditunjuki ke jalan yg benar, mengikuti Al Qur`an & Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih.

    Washallahu’ala Nabiyyina Muhammadin Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Maraji’:
    1. Ar Ruqaa; ‘Ala Dhau’i Aqidati Ahli As Sunnati Wal Jama’ati Wa Hukmu At Tafarrughi Laha Wat Tikhaadzihaa Hirfah, oleh Dr. Ali bin Nufayyi’ Al Alyani, Cet. I, Darul Wathan, Th. 1411 H.
    2. Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
    3. Fatawa Al Ulama Fi ‘Ilajis Sihr Wal Mass Wal ‘Ain Wal Jann, Jam’u Wa Tartib Nabiyyil Bion, Muhammad Mahmud, Cet. II, Darul Qasim, Th.14221 H.
    4. Zaadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil Ibad, Juz 4, oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, tahqiq Syu’aib & Abdul Qadir Al Arna-uth, Cet. Muassassah Ar Risalah, Th. 1415 H.
    5. Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, ta’lif Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab, tahqiq Dr. Walid bin Abdurrahman Al Furayyan, Th. 1419 H.
    6. Risalah Fi Ahkamir Ruqaa Wat Tamaaim Wa Shifati Ruqyah Asy Syar’iyyah, Muhammad bin Ibrahim.
    7. Qawa’id Ar Ruqyah Asy Syar’iyyah, oleh Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman As Sad-haan, Cet. Dar Al ‘Ashimah, Th. 1415 H.

      • Saya tahu sumber artikel ini :) dan bukan tulisan mas soegoe :) artikel ini dibuat para ustadz salafy untuk saling mengingatkan dan memurnikan ruqyah. Adapun masalah memukul, menjadikan ruqyah propesi,ruqyah massal memang terjadi khilafiah antar ulama. Dikalangan salafy Sendiri ada ulama yg memfatwakan bolehnya ruqyah massal,membuka klinik ruqyah,memukul yaitu syaikh jibrin,bin baz dan hanya syaikh robi’ yg tidak setuju. Insya Allah akan sy kutip fatwa2 mereka. Sy cuma bs mantau lwt hp dan blm bs tanggapi bnyk sbb masih bnyk kesibukan penting dlm beberapa hari ini

        On Mon May 9th, 2011 12:01 PM EDT

    • ARTIKEL YANG BAGUS MAS M.Soege-Ardhianto…
      terima kasih, karena saya bisa membacanya… informasi di dalamnya solutif..

    • rajinnya nulis ampe panjang gitu…
      mo nanya kalau warung,toko yang menjual air, serta profesinya jual air hukumnya gemana sech? apakah harus saya larang?

  9. KESURUPAN ITU HOAX BUNG PA. Itu cuma penyakit psikologis. Disuntik saja juga sembuh koq…

    SIHIR?? mana ada sihir… kalau anda bisa buktikan sihir ayo buktikan. Kami tim IRiS siap memberikan hadiah jutaan pada anda.

    JIN juga cuma khayalan anda bung. Mungkin anda terkena syndrom halusinasi. Baca di :

    http://en.wikipedia.org/wiki/Charles_Bonnet_syndrome

    Buktikan pada kami kalau jin ada! tim IRiS siap menantang PA.

    • Betul sekali, gampang saja menilai orang muslim apa bukan, non muslim biasanya yang dipakai hanya logika saja..he…. Dan bangsa jin tidak akan mengganggu mereka karena mereka sudah menganggap temannya yang nantinya………..(Udah tau lanjutannya kan).
      So tidak udah diladeni.

  10. menurut sy yg awam, menjadi peruqyah juga merupakan bagian dari upaya dakwah dan jika ternyata banyak org dtg ke peruqyah mengadukan masalahnya (terutama kasus gangguan syaithon) maka hal itu juga bentuk keberhasilan dakwah krn selama ini jika ada kasus gangguan syaithon/jin maka umat selalu mencari solusi ke dukun/paranormal/org pintar (syirik) dan seola-olah Islam tideak punya solusi.

    wallaahu a’lam

  11. aslm menurut ana yg diberikan informasi oleh mas perdana itu kan pengalaman beliau di lapangan waktu sedang meruqyah orang yang kena gangguan jin jadi sah-sah saja kalau dia memberikan informasi demikian kalau antum mau coba silahkan kalau ga ya ga papa karena pd intinya tidak mengapa meruqyah dg ayat suci al-qur’an pada umumnya dan doa-doa rasululloh yg shohih kl misalnya mas perdana memberikan pengalaman dia waktu meruqyah itu sah-sah saja contoh misalnya syaikh wahid abdus salam bali dalam bukunya “WIQOYATUL INSAAN MINAL JINNI WASY-SYAITON beliau ketika meruqyah menanyakan kepda jin yg merasuki tubuh seseorang “berapa jin yg ada di tubuh orang ini padahal dalam hadits-hadits sohih tidak pernah nabi mengatakan seperti itu ketika meruqyah lalu apakah ini disebut juga dg bid’ah sungguh sangat sempit sekali pemahaman antum mengenai bid’ah karena antum belum mengalami bagaimana situasi ketika meruqyah orng yg kena gangguan jin dilapangan.contoh lagi didlm buku syaikh wahid salim bali beliau menulis ada hadits nabi berbunyi dari Abu Tsalabah al-Khasyani ia berkata telah bersabda rosululloh:Jin itu ada tiga jenis yaitu jenis yg memiliki sayap dan terbang di udara ,jenis ular dan kalajengking dan jenis menetap dan berpindah pindah ( HR.Thabrani,Al-Hakim dan Baihaqi di dalam Al-Asma’wash Shifat dg sanad shohih, Shahihul jami 3/85 ) coba antum antum tanyakan kepada orang yg kena gangguan jin itu kadang jin itu menjawab salah satu jawaban dari kategori hadits tersebut dan mengenai yg di informasikan mas perdana mengenai mengikat jin dg ayat tersebut memang ana pernah membaca dari buku karya SYAIKH MUHAMAD ASH-SHAYIM yaitu “Hiwar Ma’a asy -Syayathin wa Tajribati al-Amaliyayyah fi ikhraj al-Jan wa Ibthal as-Sihr tentang kasus ayat utk membakar jin jadi buat antum yg mengkritisi mas perdana cobalah antu terjun ke lapangan antum akan mengalami hal-hal yg belum antum alami dan bnyk dikalangan masyarakat kita yg pergi ke dukun dan minta keterangan kpd dukun sungguh ironis sekali jadi menurut ana ga papa karena pengalaman sesorang dalam menghadapi kasus-kasus gangguan jin dlapangan berbeda-beda
    wasalam

  12. Asslm,pak ustad saya yang awam mau nanya tentang QUANTUM TOUCH&pembahasannya, apakah menggunakan jin dalam terapinya?

    • Maaf ni ye bukanya ane sok pinter ye, biasanya orang yang merasa punya keuatan tenaga dalam dan sejenisnya coba deh di ruqyah, bakalan kelojotan tuh he… pis ah.Mangga di lanjut.

  13. Saya punya kponakan ktanya dia mngalami gangguan jin sjak lahir,tapi waktu di ruqiyah tidak bisa kluar,,,
    Sampai sekarang kponakan saya itu tingkahnya tidak terkendali
    Tapi ketika dia mndengar adzan dia akan terdiam tnpa bergerak sdikitpun
    Bagaimna cara mnolongnya???

  14. eh,,kalian setan” manusia,mNgapa bgtu senang brdebat ttg hal yg kLian tdk faham hkumx,akibt prdebtan sprti inilah yg membwt islam jd pecah belah,aku seseorg yg d kuasai jin,sllu merskan kbncian yg dlm kpd manusia,ampE skrg Q msh mNcri jln uTk mNgobti driku,tp jika smw makhluk d muka bumi niE brdebat kyk klian nie,mka org” yg pNx mslah cprti akupn akn ragu uTk brobt n memprCyai yg mana!!
    mka dri itu ttp mluT kLian,krN nabi SAW tdk prNh mNganjurkn uTk brdebat.

  15. jeeehhhhhhhhhh,pada gelo nich. begituan didebatin. kaga sadar x ya, pengalaman dan ilmu kalo kita kdepankan dalam memberikan pendapat akan ditunggangi syetan……….makanya ngadu argumen kaga ada beres2nya. maaf ya mas .. jangan dah pada begitu, cape nt. dah dieemmmmm aja pada.

    • Betul ane kaga demen kalau ribut gini nih mending urusin orang yang kaga mau solat noh kerjaannya judi ama mabok mulu.He…. lanjut

  16. jnganlah kalian mengkafirkan sesama muslim,bisa jadi kalianlah yg kafir,wajarlah klo tiap golongan menganggap yg di anutnya paling benar,tp apakah kalian menjamin benar di mata allah,dr mna kalian tau itu benar,apakah yg kalian anggap benar,jg benar di mata allah,allahlah yg maha benar dan maha tau segalanya,segeralah bertobat,memohon ampunanya,
    menolong orang itu adalah budaya islam,rosullullah mengajarkan kita tolong menolong dlm kebaikan,apalagi bagi yg membutuhkan pertolongan, besar pahalanya,dan jg klo tidak mengharap imbalan dlm menjalankanya

  17. Mungkin inilah yang disebut GODAAN
    SYAITAN DAN IBLIS, Tehnik yg di ambil
    sesuai syari’at kok dibantah bantah sih,
    Ini kan bukan make mantra2 yg digunakan
    oleh dukun yg gak ada maknanya dalam
    Al-Qur’an, dan Cara ini memang sudah di ambil dari Ayat2 nya al-Qur’an. Cara2 itu
    bisa kt yang Ciptakan sendiri, asalkan kita
    memakai ayat2 yg sesuai Syariat Islam.
    dan jangan menambahkan unsur2
    kesyirikan. dan mesti kalian tau. Cara yg
    diberikan dari pak ahmad ini sudah lebih baik, karna gak sperti Ustad2 lain yg
    mengijazahkan ilmu2 Setan trus pake
    ayat2 Al-Qur’an sgala lagi, dan kadang
    ditemukan make ayat2 yg tidak
    mempunyai dalil sama sekali, APA ITU
    YANG KALIAN ANGGAP YANG DICONTOHKAN OLEH RASULULLAH SEHINGGA BISA KALIAN
    AMALKAN, BEGITUKAH MAKSUT KALIAN
    UNTUK MEMBANTAH ??? Kalian tuh, klo
    membantah gak mikir dulu. Buat pa ahmad
    Hapus saja Komentar2 yg gak penting Di
    atas, Kalian sadar gak, ? kalian itu sudah di ganggu oleh Syaitan. Sesuai syar’iyah
    kok dibantah, apa katah Islam ?? Islam KTP
    Mas saya. Hahahahahahh, Maaf ya klo ada
    yg tersinggung, Gw Cuma memihak pada
    Syariat Islam, jadi Gw bantah. yg mau lebih
    kenal Gw silakan add fb aku > Alwi_ pontoh@yahoo.com.

  18. Assalam pa ustd saya karkun dari huruz pi sabillah thn 1990.pernah d ajarkan olh amir ayat2 rqya tpi blm ada ayat2 tuk mengikat..apa lbh baik d keluarkan aja.toh jin jga mahluk alloh..
    Dan untu admin saya sudah menghapal smua ayat yng admin tlis,namun bru skarang saya masuk..dan saya mohon do’a nya tuk mengamalkan ayat2 ruqya ini..
    Saya d ciamis jabar,untk santri2 yng sdah hadir lam kenal aja.wabil khusus admin smoga karunia dan kesejahtraan d limpahkan slalu,
    Jajakummulloh..wasalam..

  19. Riwayat lain ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

    Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yg mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yg membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yg mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.

    Lalu muncullah pendapat saudara saudara kita, bahwa tawassul hanya boleh pada Nabi saw, pendapat ini tentunya keliru, karena Umar bin Khattab ra bertawassul pada Abbas bin Abdulmuttalib ra. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari diatas, bahkan Rasul saw bertawassul pada tanah dan air liur.

    Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yg hidup, pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : “telah datang kepada utsman bin hanif ra seorang yg mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu berdoalah dg doa : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yg sama dg riwayat diatas)”, nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah dg ku kesuatu tempat.

    Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya : “apa hajatmu?”, orang itu menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : “kau bicara apa pada utsman bin affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..??”, maka berkata Utsman bin hanif ra : “aku tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan sembuh”. (Majmu’ zawaid Juz 2 hal 279).

    Tentunya doa ini dibaca setela wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah.
    Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu banyak dipungkiri oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa memanggil orang yg sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat mengucapkan salam pada Nabi saw yg telah wafat : Assalamu alaika ayyuhannabiyyu… (Salam sejahtera atasmu wahai nabi……), dan nabi saw menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw : “tiadalah seseorang bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku menjawab salamnya” (HR Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10.050)

  20. pokonya maju terussss…..!!!!!
    Dialah Alloh yang mengutus kepada kaum buta huruf seorang Rosul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan MEMBACAKAN kepada mereka ayat-ayatNya, dan mensucikanya,dan mengajarkan kepada mereka KITAB dan HIKMAH meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang Nyata ( QS: Al-Jumu’ah:2)

  21. tentunya berbuat kebaikan adalah pahala………..dan jangan lupa bahwa kita kaum muslimin adalah bersaudara ” bagaikan satu tubuh bila bagian tubuh ada yang sakit maka seluruh tubuh akan merasakan sakit” semoga tulisan ini bisa bermanfaat khusus nya bagi penulis

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s