HAKIKAT KESESATAN DOA NURBUAT

Assalamu’alaikum ustad. Ustad, istri saya sedang hamil. Banyak yang menyarankan baik dari keluarga maupun teman kerja untuk mendawamkan (selalu membaca doa) doa nurbuat.
Apa doa nurbuat itu Ustadz? Dan apakah doa itu sesuai dengan tuntunan Rosulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam? sebab saya khawatir doa itu sama seperti shalawat nariyah, yang ternyata setelah mendapatkan penjelasan dari para ustad (melalui Majalah As-Sunnah) shalawat nariyah itu dilarang. Mohon penjelasannya Ustadz. Terimakasih.

Penanya: cikalXXXXXXXXX@yahoo.co.id

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Doa Nurbuat

Teks doanya:

اللَّهُمَّ ذِى السُّلْطَانِ العَظِيم وَذِى الـمَنِّ القَدِيم وَذِى الوَجْه الكَرِيم وَوَلِيِّ الكَلِمَات التآمات وَالدَّعَوَاتِ الـمُسْتَجَبَات عَاقِلِ الحَسَنِ والحُسَينِ من انفس الحق عين القدرة والناظرين وعين الجن والإنس والشياطين. وَإِن يَكَادُ الذِّينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبصَارِهِم لما سمعوا الذكر ويقولون إنه لمجنون وماهو الا ذكر للعالمين ومُستجابُ القرآن العظيم وورث سليمان داود عليهما السلام الودود ذو العرش المجيد طَوِّلْ عُمْرِي وصحح جسدي واقض حاجتي واكثر اموالي واولادي وحببني للناس اجمعين وتباعد العداوة كل من بني آدم عليه السلام من كان حيا ويحق القول على الكافرين انك على كل شيء قدير سبحان ربك رب العزة عما يصفون.والسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.

Ada banyak kejanggalan dalam doa nurbuat, diantaranya:

1. Kesalahan dalam tata bahasa
Teks bagian awal doa ini tidak sesuai dengan kaidah nahwu (tata bahasa Arab). Teks yang keliru:

[اللَّهُمَّ ذِى السُّلْطَانِ]

seharusnya, dibaca

[ذَا]

dengan hurup alif bukan

[ذِى]

Karena Munada Mudhaf harusnya mansub bukan majrur. Namun, anehnya, kesalahan semacam ini terjadi secara berulang-ulang, yaitu di bagian ma’thufnya.
Teks

[وَذِى الـمَنِّ القَدِيم]

seharusnya

[وَذَا الـمَنِّ القَدِيم]

Teks

[وَذِى الوَجْه الكَرِيم]

seharusnya

[وَذَا الوَجْه الكَرِيم]

Teks

[وَوَلِيِّ الكَلِمَات التآمات]

seharusnya

[وَوَلِيَّ الكَلِمَاتِ التآمَاتِ]

dengan harakat fathah.

2. Susunan kalimat yang tidak sistematis dan tidak memiliki kaitan.
Di bagian awal doa, isiny memuji Allah, kemudian tiba-tiba dikutip ayat:

وَإِن يَكَادُ الذِّينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبصَارِهِم…

“Hampir saja orang-orang kafir hendak menjatuhkanmu dengan pandangan mata mereka.”
Ayat ini menceritakan tentang sikap orang kafir yang hendak menyerang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penyakit ‘ain (penyakit karena pandangan hasad). Sehingga mereka bisa membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari jauh.
Jika kita perhatikan, ayat ini tidak memiliki keterkaitan langsung ayat ini dengan pujian untuk Allah dalam bait sebelumnya.

3. Isi permintaan yang tidak tepat
Dalam doa tersebut ada permintaan:

[طَوِّلْ عُمْرِي]

Panjangkanlah umurku. Umur panjang secara mutlak bukanlah hal yang terpuji. Karena umur panjang belum tentu berkah. Lebih tepat jika meminta keberkahan umur bukan meminta umur panjang. Sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendoakan Anas bin Malik:

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480)
Nabi tidak mendoakan secara mutlak, tapi beliau iringi dengan doa keberkahan.
Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin pernah ditanya tentang hukum memberikan ucapan “semoga panjang umur” Syekh mejawab, Tidak selayaknya mengucapkan “semoga panjang umur” secara mutlak, tanpa diikuti dengan kriteria yang lain. Karena panjang umur terkadang baik dan terkadang buruk. Padahal, manusia terjelek adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalnya. Oleh karena itu, andaikan ucapan yang disampaikan, “Semoga Allah memanjangkan usiamu di atas ketaatan” atau yang semacamnya maka ini tidak mengapa. (Fatawa as-Syimaliyah, Hal. 24)

4. Keutamaan yang terlalu berlebihan
Para aktivis pembaca doa ini menceritakan bahwa doa nurbuat memiliki banyak keutamaan. Namun, kebanyakan keutamaan tersebut, hanya terkait kesenangan dunia. Padahal prinsip doa yang diajarkan syariat lebih banyak untuk kepentingan akhirat. Kalaupun isinya memohon kebaikan dunia, pasti juga diiringi dengan permohonan kebaikan akhirat. Diantara keutamaan yang aneh pada doa ini:

  1. Dapat bertemu dengan Jin, bisa merubah rupa.
  2. Dapat disayangi oleh musuh, jika dibaca ketika hendak keluar rumah.
  3. Dapat menjadi penjaga rumah dari gangguan jin, sihir, santet dan bahaya lainnya, jika ditulis lalu disimpan di dalam rumah. (Mungkin inilah yang melatar-belakangi kebiasaan orang yang menggantung jimat di depan rumah).
  4. Dapat memperlihatkan hal-hal yang indah, jika dibaca 100 kali pada malam Sabtu.
  5. Dapat awet muda jika dibaca setiap malam Minggu.
  6. Dapat menjadikan wajah tampak lebih tampan/cantik jika dibaca setiap malam Kamis.
  7. Dan masih banyak keutamaan lainnya, yang semuanya mungarah pada kerakusan terhadap dunia.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin doa nurbuat berasal dari ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, tidak selayaknya untuk dibaca.
Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsutasiSyariah.com

 

LANJUTAN PEMBAHASAN TENTANG KESESATAN DOA NURBUAT LIHAT DI SINI

370 thoughts on “HAKIKAT KESESATAN DOA NURBUAT

    • ilmu itu luas,saya salut ama admin yg berusaha ngamalin ilmu syariat yg sebenarnya,teruskan saya pribadi setuju,.tp klo bs jgn asal nilai sesuatu atau apapun itu sesat sebelum jelas kesesatannya.setelah kalian amalkan syariat ini dgn sebenernya, masuklah kalian ke thoriqoh,di situ luaaaaaaaaaaaaaasssss sekali,ibarat urutan nomor ; syariat adalah nomor 1 yg jelas,lurus,tegak,sedang masih ada 2,3,sampai 9,yg di situ bermacam macam isi dan maknanya. ilmu agama itu luass [ ibarat ilmu agama di urutkan dgn nomer] sy yakin kalian takkan ngabisin ilmunya thoriqoh [yg nmr 2 ini] dgn umur manusia yg paling lama 100 thn,baru hakikat,baru makrifat dan lain2nya.sedang manusia di ciptakan ini sudah jelas yakni’ illa liya’buduun’,kalian tahukah cara2 mereka manusia2 itu menyembah tuhannya? surga dan neraka bertingkat,begitupun nanti yg menghuni,begitupun ilmu dan jalan menuju-NYA bertingkat pula,siapa sih manusia apakah raga kita ini? apakah gabungan hati dan raga kita ini?ataukah nyawa dan raga kita ini? atau apakah…???
      apakah kalian berani menjamin kalau kalian masuk surga? di surga manakah?
      apakah kalian berani menjamin kalau mereka2 yg keliatan sesat masuk neraka?
      apakah kalian berani menjamin kalian khusnul khotimah?
      kita semua berusaha yg terbaik untuk mendapatkan ridlo-NYA
      saudaraku seiman mari kita mendoakan sesama makhluk apapun itu agar mendapatkan rahmatnya,dan mendapat tempat terbaik di sisi-NYA kelak.
      janganlah berburuk sangka
      janganlah merasa paling pintar dan benar
      janganlah angkuh dgn sedikit ilmu yg sudah di pelajari
      mari kita buat alam ini baik dan islam benar2 menjadi rahmatan lil a’lamiin
      karna islam di turunkan untuk itu,agar semua umat manusia,entah itu buddha,hindu,yahudi nasrani selamat dunia akhirat,dgn jalan yg telah di sempurnakan yakni islam..{bimbing dgn jalan yg baik} jgn kasar,menghujat dan mengutuk,
      seringkali manusia ingin di sebut yg paling bener,pinter,top di golongannya
      karna ingin di anggap ”,akulah pemimpin” mereka…
      begitupun di golongan yg lain pastilah ada yg ingin di bilang ”akulah ketuanya”
      hehehe…itulah sifat kebanyakan manusia…hingga buat islam ” ga maju2..”[ ukuran apa dulu]
      untuk itu marilah kita benahi hati kita masing2 agar lebih bagus dan ikhlas dalam
      menjalankan tugas2 dari-NYA
      .
      aq pribadi sangat berharap islam satu bendera…satu bendera
      menyerukan kebenaran di alam dengan damai
      janganlah lengah dengan tipu daya para musuh yg sengaja adu domba antar
      golongan,kalian sadar atau tidak dgn adu domba ini?

      ,kalian sadar atau tidak dgn adu domba ini?

      ,kalian sadar atau tidak dgn adu domba ini?

      mereka merusak sejak pertama manusia di jadikan….
      buddha di rusak datang lagi
      yahudi di rusak datanglah nasrani,
      nasrani di rusak,datanglah islam
      islam di rusak,tp mereka tidak mampu karna ALLAH sendiri yg melindungi KITAB_NYA,..sebagai pedoman akhir “PANDUAN AKHIR”manusia
      siapa yg merusak? sudah pasti IBLIS,mereka masuk ke semua agama
      ALLAH lewat sekutu- sekutunya dan mereka berhasil merusaknya

      segala puji bagi ALLAH yg sangat menyayangi dan mengasihi hamba-NYA
      hingga ISLAM di turunkan
      Untuk itu marilah kita jaga bersama dan memberi khabar baik bagi saudara2 kita sesama manusia.
      YA ALLAH…
      KAMI BERLINDUNG KEPADAMU DARI GODAAN SYETAN YG TERKUTUK

      semoga tulisan ini ada manfaat dan mendapat berkah dari ALLAH…amin

    • sy berpendapat maksud dari @AbinyaFarah, bahwa “jahil/bodoh” di sini adalah belum/tdk mengetahui doa2 syar’i yg diajarkan. Kejahilan/kebodohan ini bisa dari faktor keterbatasan pikiran, atau bisa jadi sebenarnya ia sanggup mencari tahu ilmu syar’i, hanya saja kemalasannya yg membuat dia Jahil.

      jadi.. jahil/bodoh yg dimaksud, bukanlah bermaksud mengejek bodoh seperti bahasa umumnya. :)

      dilanjut.

      • hallah…, hlo.. doa it kn artinya baik, msak dibilang bodoh..,
        bodoh org yg mengatakan bodoh pd org yg brniat baik..,
        peace..,

      • Kalian seharusnya tahu bahwa ilmu Allah itu sangat luas, & bahasa Al-Qur’an itu bahasa sastra tingkat tinggi yg berarti luas & positif.

        Semua bacaan & doa itu akan SESAT bila niat si pembaca/pengamalnya TIDAK BAIK.
        Hati-hati wahai orang sombong di atas langit masih ada langit.
        Kami memang tidak berilmu tinggi seperti kalian.
        Pinter itu tidak harus keblinger, yg bisa menilai SESAT atau “BODOH” itu HANYA Allah SWT saya mengamalkan doa ini dengan niat keridhoan Allah SWT, bukan keridhoan kalian.

        “Panjangkanlah umurku. Umur panjang secara mutlak bukanlah hal yang terpuji. Karena umur panjang belum tentu berkah. Lebih tepat jika meminta keberkahan umur bukan meminta umur panjang.”

        Apa yg tidak terpuji? Panjang umur? Belum tentu berkah?
        Ya tergantung amalan dong broooww..! kami ingin umur panjang yg berkah karena kami selalu merasa berdosa dan ingin terus memperbaiki amal baik kami, di akhirat pun amal baik yg bawa ke dalam kedamaian abadi. Maka dengan umur panjang isilah sisa umur panjang itu dengan amal baik BUKAN cemo’oh & menilai orang lain “sesat” & “kebodohan”, sedangkan yg berhak menilai itu adalah Allah SWT.

        Orang berilmu tinggi (agama) tidak menjamin masuk syurgaNya, maka Dia turunkan firmannya itu;
        “..maka celakalah bagi orang yg sholat” itu ayat ke 4 dari surah Al-maun.

        Orang hina bisa masuk syurga karena amal baiknya, ahlaknya, bahkan binatang haram sekalipun!

        Anjing pun masuk surga, yaitu anjing yang menemani pemuda-pemuda Ashabul Kahfi yang melarikan diri dari tirani raja kafir dan mengungsi di gua dan atas izin Allah tertidur selama 300 tahun.

        Mengenai anjing, dilihat dari kaedah ilmu fiqih, memanglah ada bagian dari anjing yang najis. Tetapi kaedah fiqih juga yang memperbolehkan berburu menggunakan anjing dan hasil buruannya termasuk halal. Mengenai pelacur, memang perbuatan zina sudah tidak diragukan lagi dalam Islam sebagai perilaku bejat dan tidak bersusila.

        Tentang anjing dan pelacur, dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Allah pernah berterima kasih dan mengampuni dosa seorang pelacur dan menjanjikan masuk surga. Dikisahkan, ada seorang pelacur yang pulang dari tempat praktiknya di tengah jalan menemukan seekor anjing yang menjulurkan lidah karena kehausan. Dia berpikir sesaat apa yang harus dilakukan untuk menolong si anjing. Dari kejauhan dia melihat sebuah sumur. Dengan seutas tali, dia mengikat sepatunya untuk mengambil air dari sumur. Kemudian dia berikan minum kepada anjing yang hampir mati karena kehausan tadi ( Ali An Nasf,At Taj al Jamií lil Ushul fi Ahadits ar Rasul, jil, 5, hal. 18-19).

        Anjing dan pelacur, keduanya sama-sama berada dalam “status” kurang baik di mata umat Islam, meskipun Islam tidaklah menempatkan keduanya sebagai “barang buangan dan tidak berguna”. Islam masih memberikan harapan kepada pelacur, untuk mengenyam kenikmatan surga di akhirat kelak.

        Dengan kedudukan yang rendah dari sudut pandang masyarakat, mungkin seluruh masyarakat tidak terkecuali masyarakat berperadaban modern sekarang ini, pelacur akan mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan masyarakat normatif. Meskipun demikian, ternyata melalui hadits di atas, Allah bisa melihat dan membuktikan “kemuliaan” dan “rasa kasing sayang” pelacur tersebut, sehingga memiliki derajat yang layak sebagai penghuni surga kelak di akhirat (meskipun tidak dijelaskan “kapan” masuk surganya”).

        Ini membuktikan, bahwa menurut pandangan Allah, anjing dan pelacur tidaklah sehina dan senista pandangan manusia umumnya.

        Lalu membaca/mengamalkan Sholawat Naruyah & doa Nurbuat.. sesatkah???

        Perbanyaklah istighfar saudaraku..

      • kamu ini siapa ?.. kok bisa bilang “tau agama”, kamu tau apa..? berkacalah kamu, siapa dirimu berani sombong ttg agama di jagad semesta milik Allah SWT.. Apakah anda org yg berharap surga dg maki2an ?

      • hay Udin…aku yakin km tak ubahnya Dajal…makanya belajar ngaji dl baru komentar..
        ngaji dalam arti mengkaji diri…

    • jgn merasa sok pintar…mas
      ilmu Allah itu luas cuma tahu sedikit udh mengatakan org sesat padahal ilmunya belum sampe hehehe

      • setuju broo…ilmu Alloh itu luas jd jgan cm kita msh punya ilmu dikit kita sudah brani mengatakan sesat…ati2 ngmg ssat bs jadi malah stu ilmu belum nyampek

      • setuja kang bro…
        orang yg sesat itu adalah orang yg meng-klaim orang lain sesat….

        hanya Allah SWT yg berhak mengatakan dan menentukan kesesatan itu…

      • bisa dihukumi sesat itu apabila, seseorang itu tadi mengamalkan sesuatu (do’a2 dll) yg bukan dr tuntunan nabi & bukan pula dr tuntunan para sahabat nabi yg dimuliakan, tp ini hanya berlaku dlm urusan agama.

      • hati2 dengan perkataanmu udin. komentmu dapat membuat orang gak terima jagan sok suci low. kau benar pengikut wahabi yang gak punya malu dengan Rosul Allah. muda2han dosamu di ampuni oleh Allah SWT.

    • om… saya anak bodoh . ajalin…. dong om bial…jadi pintal.kayak o’ooom…..maaf ya om. saya bodo dan jahil.tapi saya tidak menculi,,,korupci..dan prostituciiiii….

    • Kalian seharusnya tahu bahwa ilmu Allah itu sangat luas, & bahasa Al-Qur’an itu bahasa sastra tingkat tinggi yg berarti luas & positif.

      Semua bacaan & doa itu akan SESAT bila niat si pembaca/pengamalnya TIDAK BAIK.
      Hati-hati wahai orang sombong di atas langit masih ada langit.
      Kami memang tidak berilmu tinggi seperti kalian.
      Pinter itu tidak harus keblinger, yg bisa menilai SESAT atau “BODOH” itu HANYA Allah SWT saya mengamalkan doa ini dengan niat keridhoan Allah SWT, bukan keridhoan kalian.

      “Panjangkanlah umurku. Umur panjang secara mutlak bukanlah hal yang terpuji. Karena umur panjang belum tentu berkah. Lebih tepat jika meminta keberkahan umur bukan meminta umur panjang.”

      Apa yg tidak terpuji? Panjang umur? Belum tentu berkah?
      Ya tergantung amalan dong broooww..! kami ingin umur panjang yg berkah karena kami selalu merasa berdosa dan ingin terus memperbaiki amal baik kami, di akhirat pun amal baik yg bawa ke dalam kedamaian abadi. Maka dengan umur panjang isilah sisa umur panjang itu dengan amal baik BUKAN cemo’oh & menilai orang lain “sesat” & “kebodohan”, sedangkan yg berhak menilai itu adalah Allah SWT.

      Orang berilmu tinggi (agama) tidak menjamin masuk syurgaNya, maka Dia turunkan firmannya itu;
      “..maka celakalah bagi orang yg sholat” itu ayat ke 4 dari surah Al-maun.

      Orang hina bisa masuk syurga karena amal baiknya, ahlaknya, bahkan binatang haram sekalipun!

      Anjing pun masuk surga, yaitu anjing yang menemani pemuda-pemuda Ashabul Kahfi yang melarikan diri dari tirani raja kafir dan mengungsi di gua dan atas izin Allah tertidur selama 300 tahun.

      Mengenai anjing, dilihat dari kaedah ilmu fiqih, memanglah ada bagian dari anjing yang najis. Tetapi kaedah fiqih juga yang memperbolehkan berburu menggunakan anjing dan hasil buruannya termasuk halal. Mengenai pelacur, memang perbuatan zina sudah tidak diragukan lagi dalam Islam sebagai perilaku bejat dan tidak bersusila.

      Tentang anjing dan pelacur, dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Allah pernah berterima kasih dan mengampuni dosa seorang pelacur dan menjanjikan masuk surga. Dikisahkan, ada seorang pelacur yang pulang dari tempat praktiknya di tengah jalan menemukan seekor anjing yang menjulurkan lidah karena kehausan. Dia berpikir sesaat apa yang harus dilakukan untuk menolong si anjing. Dari kejauhan dia melihat sebuah sumur. Dengan seutas tali, dia mengikat sepatunya untuk mengambil air dari sumur. Kemudian dia berikan minum kepada anjing yang hampir mati karena kehausan tadi ( Ali An Nasf,At Taj al Jamií lil Ushul fi Ahadits ar Rasul, jil, 5, hal. 18-19).

      Anjing dan pelacur, keduanya sama-sama berada dalam “status” kurang baik di mata umat Islam, meskipun Islam tidaklah menempatkan keduanya sebagai “barang buangan dan tidak berguna”. Islam masih memberikan harapan kepada pelacur, untuk mengenyam kenikmatan surga di akhirat kelak.

      Dengan kedudukan yang rendah dari sudut pandang masyarakat, mungkin seluruh masyarakat tidak terkecuali masyarakat berperadaban modern sekarang ini, pelacur akan mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan masyarakat normatif. Meskipun demikian, ternyata melalui hadits di atas, Allah bisa melihat dan membuktikan “kemuliaan” dan “rasa kasing sayang” pelacur tersebut, sehingga memiliki derajat yang layak sebagai penghuni surga kelak di akhirat (meskipun tidak dijelaskan “kapan” masuk surganya”).

      Ini membuktikan, bahwa menurut pandangan Allah, anjing dan pelacur tidaklah sehina dan senista pandangan manusia umumnya.

      Lalu membaca/mengamalkan Sholawat Naruyah & doa Nurbuat.. sesatkah??? jahil & bodohkah???

      Perbanyaklah istighfar saudaraku..

    • Semua bacaan & doa itu akan SESAT bila niat si pembaca/pengamalnya TIDAK BAIK.
      Hati-hati wahai orang sombong di atas langit masih ada langit.
      Kami memang tidak berilmu tinggi seperti kalian.
      Pinter itu tidak harus keblinger, yg bisa menilai SESAT atau “BODOH” itu HANYA Allah SWT saya mengamalkan doa ini dengan niat keridhoan Allah SWT, bukan keridhoan kalian.

    • jgan lah klian trlalu cpat mnilai bahwa ini sesat ini salah, jika blum tau benar asal usul dr prmsalahan trsbut, trkadang tdk smua mnusia d cptakan sama,trkadang da yg d kaaruniakan karomah,maunnah brkat amal ibadah nya, dan itu tdk sama dgn ilmu yg tmpak oleh mata, , , mdah2an kt kt ttap d jlan yg benar dan d ridhoi ALLAH SWt, amien,,,

    • Bingung juga nich aku (#Newbi Tentang agama)
      Seandainya ada orang yang belum mengenal Kota Jakarta dan menuju kesana tanpa ada ilmu maka bisa 
      dikatakan tersesat. Salah jalan. Jika salah jalan karena ketidaktahuan itulah yang sesat
      karena tidak akan mungkin sampai pada tujuan. Jadi makna 
      “sesat” disini bisa diartikan berbeda
      ilmu dan pengetahuan. Bisa juga orang yang kita anggap sesat benar benar sesat Atau bahkan sebaliknya
      Saat orang akan ke Jakarta dan ada yang bilang “awas jangan  lewat Alas Roban karena ada Pembunuh kejam” apa yang akan kamu
      lakukan?
      orang yang tau tentang daerah tersebut akan menertawakan orang tadi, karena setahu dia jalan itu aman karena Dia benar-benar tahu
      tapi sebaliknya bagi orang yang belum mengenal Daerah itu tentu akan merasa khawatir. Mengenai kabar yang tidak jelas tadi,bahkan akan menimbulkan rasa was-was
      Mungkin karena keterbatasan ilmu yang menyebabkan khawatir dan takut.

      Sory Newbi ^_^

  1. assalamualaikum…wr…wb…
    kata Tebe makin tnggi ilmu agamanya makin menunduk……
    selamatkanlah dirimu..keluargamu baru orang lain…
    Ingat sejarah Iblis yg pernah diusir dari surga hanya gara2 Kesombonganya krn merasa dirinya paling ………………..

    mhn mf sedlm2nya jika tdk brkenan dihati krn hamba org yg hina ,bodoh ,dangkal ilmu, byk melakukan dosa
    Hanya Allah yang menentukan bukan manusia yg menentukan

    ———————–wassalam—————————

    • اسلام عليكم………………
      saya ada baca satu kitab, muchtasor jiddan namanya………………dalam kitab tersebut dikatakan اذا كان محدث لا يعرف نحو كالحمر (yang lebih kurang maknanya : siapa orang yang menyampaikan hadist dan ayat – ayat allah swt, tidak mengetahui orang yang menyampaikan tersebut akan ilmu nahwu dan cabang – cabang ilmu nahwu (seperti : sorof, badi’, bayan, ma’ani, balaghoh, dll) maka orang tersebut dikatakan binatang…………………..wassalam.

      • Sampean niku lucu, mbahas do’a pake kitab hadist, ya gak nyambung, yen nyambung paling disambung2 no. makanya klo belajar jangan tanggung2, contohlah para Ulama jaman dahulu gak pernah sombong, dan ilmunya gak habis2 dipelajari.

    • Wa’alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh,,
      (meski sy bukan admin, tak mengapalah sy balas salam nya :-) )

      benar yg Anda tulis:
      Hanya Allah yang menentukan bukan manusia yg menentukan

      Namun ternyata, Alloh telah menulis segala pendapat dan firman-NYA di dalam alQuran. Dan juga ternyata DIA (Alloh) telah mengutus utusan mulia Rasululloh Muhammad sholallohu ‘alaihi wassalam untuk menjadi teladan yg paling baik bagi manusia.

      Dan para generasi awal ummat ini telah mengabadikan perkataan beliau (nabi saw) dalam puluhan kitab-kitab hadits.

      Oleh karena itu, apabila kita atau jika ada ulama’ yg mengomentari sesuatu, kemudian menyalahkan atau membenarkan sesuatu itu, dengan landasan alQuran dan Sunnah (hadits shahih), maka ulama’ tersebut tidaklah bisa dikatakan lancang atau mendahului kehendak Alloh Subhanahu wata’ala dan Nabi Sholallohu ‘alaihi wassalam, namun malahan ulama’ tersebut sedang menyampaikan apa yg menjadi pendapat Alloh swt dan pendapat Rasululloh saw..

      demikian, wallohu a’lam..

      • @aki taheran,

        alhamdulillah, argumen anda sangat jelas.

        kami tunggu partisipasi anda diblog kami ini :)

        thks, dilanjut.

      • berbicara masalah ibadah yg didalamnya termasuk juga doa, selama itu ditujukan hanya kepada Allah SWT dan mengharap keridhoan Nya itu semuanya benar dan tidak ada yg salah.dan semua ibadah tersebut yg ditujukan hanya kepada Allah SWT sudah pasti tidak akan bertentangan dengan Alqur’an ,,kita sendirilah yang tidak akan pernah mampu menafsirkan secara sempurna ayat ayat Alqur’an .kita hanya mampu menafsirkan secara dzahirnya saja,,,atau kalau boleh saya katakan tidak ada manusia generasi sekarang yg mampu menafsirkan ayat ayat Alqur’an dengan sempurna entah siapapun orangnya ,,habib, kyai , ustadz, dsb karena hanya Allah lah yg paham betul apa apa yg Allah SWT ucapkan dalam firman firmanNya,,jadi kita sebagai manusia yg mempunyai keterbatasan kemampuan jangan pernah menyalahkan ibadah apapun yg dilakukan orang lain selama itu berkaitan dengan Allah SWT dan Rasulnya Muhammad SAW. kalau toh menurut kita itu bertentangan dengan Alqur’an dan Hadits ,,,itu hanya menurut ilmu dan pemahaman tafsir kita yg sangat sangat terbatas ..kita tidak tahu ,,ibarat kita hanya mampu menafsirkan dengan satu atau dua penafsiran ,,,ternyata terkandung ratusan ribuan bahkan tak terhingga ,,,Allah SWT meniupkan Ruh kedalam jazad manusia ,,sekali lagi hanya meniupkan Ruh,,itu tiupan dari Allah SWT tidak akan pernah ada yg sanggup memahami dan menafsirkan nya,dengan pikiran manusia,,apalagi dengan perkataaNya yg terhimpun dalam Alqur’an ….Allahu Akbar,

        jadi pelajaran kita adalah,,,selalulah berpikiran positif terhadap org lain,,dan menyadari pada hakekatnya kita ini adalah manusia yg lemah yg tiada daya dan upaya melainkan karena Allah SWT,

      • Mari kita berlindung pada alloh dari kesalahan pemikiran, pembahasan di atas begitu mengagumkan tapi kita melihat dari sisi lain coba kita mempelajari pandangan ahli hikmah kadang dengan sengajanya membuat doa sedemian rupa dengan maksud tertentu ,ini hanya doa. Bolehkah hamba dibuatkan doa yang lebih musrajab dari nurbuat terimekesih. Hamba mohon barokahnya

    • hehehe, gak usah iblis om, contoh jelas dan nyata sesama umat Islam dan umat manusia. ” BARSHISHO ” siap yg tdk kenal dia. ulama dgn ribuan santri nya. kenapa dia bisa masuk neraka ???? karena kesombongan dan merasa dia yg paling benar dan tahu.

  2. hamba kurang ngerti tentang agama, semisal mengenai doa, ketika saya berdoa dan itu bisa menyakinkan, maka itu lebih mendekatkan pada sang kholik, apapun doanya,,,,, mohon redaksi menyingkapi hal ini….?

  3. ass… saya seorang yang awan akan ilmu agama.. namun saya belum ngerti tentang doa yang gampang dikabulkan hajat,,, mohon penjelasan tentang doa yang mudah terkabul hajatnya baik dunia dan akhirat….

    • @rima..
      berdoa bisa pakai bhs apa saja, asal tdk mengandung syirik, tdk masalah. bersabarlah dalam berdoa.. jika Allah belum/tdk kabulkan.. tetaplah berprasangka baik padaNYA. Bisa jadi realisasi doa yg tdk disegerakan didunia.. akan membuahkan surga bagi kita… Allahualam.

      jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolong (kitabullah)..

      bersabarlah dalam hidup.. jika kita diberi kesusahan.. walopun susah seumur hidup, itu hanya sebentar.. susah yg sebenarnya itu suul khotimah, azab kubur dan neraka..

    • Setuju akhi,

      biasa Bloknya orang sok Pintar gak beretika. bisanya cuma mengkritik, eh.. kritikannya gak nyambung sama sekali dengan kaidah Ilmu.

      Paling ujung2nya cuma membid’ahkan saudara sesama muslim, maklum belajarnya cuma ilmu bid’ah. Ilmu Bid’ah yang menyesatkan.

      Saya berpesan: Hati2lah Saudaraku dengan mengikuti kelompok yang suka membagi2 bid’ah jadi banyak bagian, karna pembagian ini hanya berdasarkan akal mereka.

      Tidak ada satupun dalil yang dapat menunjukkan pembagian bid’ah menjadi banyak bagian. dalil yang jelas hanya 2 bagian bid’ah (Baik dan buruk).

  4. asalamu’alaikum ,,
    sdikit penyampaian dari saya…
    (singkat kata) ALLAH senang orang yang berfikir, ALLAH senang orang yg pandai memperbaiki dirinya sendiri.
    w.salam

      • Ngikutin Nabi kok suka mencela org. Nabi dihina org aja, yg menghina disuapin tiap pagi. Lha anda, melihat orang ngasih solusi hidup malah disalahkan.

        Aku ini harus bagaimana?
        Kau suruh aku berdo’a, Aku Berdo’a
        Kau Suruh aku Wirid, aku Wirid
        Tapi kau malah menganggap wiridku itu Bid’ah tak ada contohnya
        dan Do’a ku itu Syirik
        lalu aku harus bagaimana?

  5. http://www.paranorms.org/t381-doa-nurbuat
    Doa nurbuat

    Post by maza9071 on Thu Oct 29, 2009 12:23 pm
    Salah satu Doa yang memiliki banyak khasiat diturunkan Allah adalah Do’a Nurbuat (Nurul Nurbuwah), syarat utama mengamalkannya agar mutazab dengan berlaku ihklas. Menurut Riwayat, bahwa Rasulullah usai melaksanakan Sholat Subuh bersama para sahabat duduk di masjid. Kemudian datanglah malaikat Jibril seraya berkata: “Aku diutus oleh Allah membawa Do’a Nurbuat untuk diserahkan kepadamu (Rasulullah).”

    “Bismillaahir rohmaanir rohiim. Allahumma dhisshulthanil adziim. Wa dzil mannil qadim wa dzil wajhil kariim wa waliyyil kalimaatit tammaati wad da’awaati mustajaabati ‘aaqilil hasani wal husaini min anfusil haqqi ‘ainil qudrati wannaazhirinna wa ‘ainil insi wal jinni wa in yakadul ladzinna kafaruu la yuzliquunaka bi-abshaarihim lamma sami’udz dzikra wa yaquuluuna innahu lamajnuun wa maa huwa illa dzikrul lil ‘aalamiin wa mustajaabu luqmanil hakiimi wa waritsa sulaimaanu daawuda ‘alaihis salaamu al waduudu dzul ‘arsyil majiid thawwil ‘umrii wa shahhih ajsadii waqdli haajatii waktsir amwaalii wa aulaadii wa habbib linnaasi ajma’in. Watabaa ‘adil ‘adaa wata kullahaa min banii aadama ‘alaihis salaamu man kaana hayya wa yahiqqal baathilu innal baathila kaana zahuuqaa. Wa nunazzilu minal qur’aani maa huwa syifaa-uw wa rahmatul lil mu’miniina. Subhaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammmaa yashifuuna wa salaamun ‘alal murshaliina wal hamdu lillahi rabbil ‘aalamiin.”

    TERJEMAHAN MELAYU

    “Ya Allah, Zat Yang memiliki kekuasaan yang agung, yang memiliki anugerah yang terdahulu, memiliki wajah yang mulia, menguasai kalimat-kalimat yang sempurna, dan doa-doa yang mustajab, penanggung Hasan dan Husain dari jiwa-jiwa yang haq, dari pandangan mata yang memandang, dari pandangan mata manusia dan jin. Dan sesungguhnya orang-orang kafir benar-benar akan menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, ketika mereka mendengar Al-Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila, dan Tiadalah itu semua melainkan sebagai peringatan bagi seluruh alam. Allah yang mengabulkan do’a luqmanul hakim dan mewariskan sulaiman bin daud a.s. Allah adalah Zat Yang Maha Pengasih lagi memiliki singgasana yang Mulia, panjangkanlah umurku, sehatlah jasad tubuhku , kabulkan hajatku, perbanyakkanlah harta bendaku dan anakku, cintakanlah semua manusia dan jauhkanlah permusuhan dari anak cucu Nabi Adam a.s., orang-orang yang masih hidup dan semoga tetap ancaman siksa bagi orang-orang kafir. Dan katakanlah : “Yang haq telah datang dan yang batil telah musnah, sesungguhnya perkara yang batil itu pasti musnah”. Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Quran tidak akan menambah kepada orang-orang yang berbuat aniaya melainkan hanya kerugian. Maha Suci Allah Tuhanmu Tuhan Yang Maha Mulia dari sifat-sifat yang di berikan oleh orang-orang kafir. Dan semoga keselamatan bagi para Rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam.”

    Selain daripada doa nurun nubuwwah ia juga di kenali sebagai; doa nurbuwat atau doa nurbuat juga doa nurbuah dan doa nurbuwah, bergantung pada loghat mengikut suku kaum baik di Malaysia maupun di Indonesia. Doa Nurun Nubuwwah di katakan memiliki khasiat yang banyak sekali dan sangat menakjubkan terhadap siapa yang suka membaca dan mengamalkannya dengan ikhlas hati benar-benar kerana Allah. Dan di antara khasiat –khasiatnya adalah seperti berikut;

    Khasiat yang terkandung dalam doa Nurbuat antara lain:

    • Hajat dapat terkabul, jika dibaca sesudah sholat fardlu secara rutin.

    • Dapat bertemu dengan Jin, bisa merubah rupa .

    • Dapat menyembuhkan hewan yang cacad bila dibacakan pada hewan tersebut.

    • Dapat diampuni dosa kita, jika dibaca ketika matahari terbenam.

    • Dapat disayangi oleh musuh, jika dibaca ketika hendak keluar rumah.

    • Dapat menjadi penjaga rumah dari gangguan jin, sihir, santet dan bahaya lainnya, jika ditulis lalu disimpan di dalam rumah.

    • Dapat menyelamatkan serangan hama, jika ditulis lalu diletakkan pada tanaman.

    • Dapat mengusir jin dari tempat-tempat angker, jika ditulis dan diletakkan di tempat tersebut.

    • Dapat kesejahteraan dunia akhirta jika dibaca setiap hari secara rutin.

    • Dapat menjauhkan dari kekufuran dan perbuatan maksiat jika dibaca 50 kali setiap malam Jum’at.

    • Dapat memperlihatkan hal-hal yang indah, jika dibaca 100 kali pada malam Sabtu.

    • Dapat menawarkan air laut, jika dibaca lalu ditiupkan pada air laut tersebut.

    • Dapat awet muda jika dibaca setiap malam Minggu

    • Dapat keselamatan hidup jika dibaca setiap malam Senin.

    • Dapat menguatkan tubuh jika dibaca setiap malam Selasa.

    • Dapat menguatkan gigi jika dibaca setiap malam Rabu.

    • Dapat menjadikan wajah tampak lebih tampan/cantik jika dibaca setiap malam Kamis.

    • Dapat menjinakkan binatang buas jika dibaca pada telinga binatang tersebut.

    • Dapat bertemu Nabi Muhammad dalam mimpi jika dibaca 100 kali sebelum tidur.

    • Dapat menyembuhkan segala macam penyakit jika dibacakan pada minyak kelapa lalu dioleskan pada bagian yang sakit tersebut.

    • Dapat dikasihi oleh penguasa, pejabat jika dibaca setiap hari.

    • Dapat berjalan jauh, jika dibacakan pada daun sirih yang bertemu ruasnya lalu diioleskan keseluruh tubuh dan kedua kaki.

    • Dapat bertemu dengan raja jin jika dibaca pada tengah malam dalam keadaan suci.

    • Dapat keselamatan dari pertempuran jika dibaca ketika akan berangkat bertempur.

    • Dapat diterima lamaranya jika dibaca ditempat sunyi setelah siangnya berpuasa.

    • Dapat memudahkan kelahiran jika dibacakan pada segelas air lalu diminumkan pada Ibu yang akan melahirkan tersebut.

    • Dapat menyembuhkan sakit pada mata jika dibaca lalu ditiupkan pada mata yang sakit.

    • Dapat menyembuhkan gigitan binatang berbisa jika dibaca lalu ditiupkan pada gigitan tersebut.

    • Dapat kemuliaan di lingkungan masyarakat jika dibaca secara rutin setiap hari.

    • Dapat melenyapkan permusuhan jika dibaca sebanyak-banyaknya

    * Masih banyak khasiat yang terkandung dari Do’a Nurbuat

    • maksud dari sdr @susuhunan ini hanya menginfokan byk hal2 yg tidak jelas mengenai doa nurbuat ini :)

      seperti artikel katakan di atas, doa nurbuat TIDAK MUNGKIN AJARAN ROSUL!! JADI TIDAK PERLU DIAMALKAN DAN TINGGALKAN SAJA.

      pada buku doa2 tertentu yg (maaf) suka dijual di emperan toko. kita akan temui khasiat2 doa tersebut yg sangat berlebihan. Mungkin inilah yg menyebab orang2 antusias mengamalkannya.

      seperti sdr @susuhanan katakan. “ikuti saja yg sudah jelas dan ada contohnya”.

      • @om TD, betul banget, bener-bener gak jelas,.
        lebih baik berdoa sperti yang sudah diajarkan dan disunahkan.,

        Dari Uqbah bin Amir ra. dia berkata: “Rasulullah saw. keluar, sedang kami di serambi mesjid (Madinah). Lalu beliau bersabda: “Siapakah diantara kamu yang senang berangkat pagi pada tiap hari ke Buththan atau Al-Aqiq, lalu kembali dengan membawa dua unta yang besar punuknya, tanpa mengerjakan dosa atau memutus sanak?” Kami (yang hadir) berkata: “Ya, kami senang wahai Rasulullah!” Lalu beliau bersabda: Apakah seseorang diantara kamu tidak berangkat pagi ke mesjid lalu mengajar atau membaca dua ayat Al-Quran, hal itu lebih baik baginya dari dua unta. Dan (mengajar atau membaca) tiga (ayat) akan lebih baik daripada memperoleh tiga (unta). Dan (bila membaca atau mengajar) empat ayat akan lebih baik baginya daripada memperoleh empat (unta) dan dari seluruh bilangan unta.”
        (HR. Muslim 1/553)

        nah..doa yang sudah tertera di Al-Quran lebih bernilai dari harta yang termahal,
        jadi gak perlu lagi qt dengan doa nubuat itu,,

    • Menurut Riwayat, bahwa Rasulullah usai melaksanakan Sholat Subuh bersama para sahabat duduk di masjid. Kemudian datanglah malaikat Jibril seraya berkata: “Aku diutus oleh Allah membawa Do’a Nurbuat untuk diserahkan kepadamu (Rasulullah).”

      maaf …. Sodara membawakan hadist tersebut tidak menyebutkan riwayat siapa di kitab apa ?. Jangan sampai anda sodara terkena hadist Sbb:

      Berdusta Atas Nama Nabi
      Ulama sepakat bahwa sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam adalah salah satu dosa besar yang diancam pelakunya dengan neraka karena adanya akibat buruk, bersabda Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam

      مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

      Barangsiapa berdusta atas saya (nabi) dengan sengaja maka tempatnya di neraka

      ( Riwayat Bukhari- Muslim)

      Hadits ini diriwayatkan oleh 98 shahabat termasuk 10 orang yang dikabarkan masuk surga.

    • Memang betul yg anda katakan…tapi kok berdoa nurbuah harus hati-hati…kalau tidak benar karna tidak ada pemimbingnya akan berakibat gila….doa kok sampai menakutkan begitu…jangan-jangan ni khodam/jin yang bekerja….. mendingan tidak usah mengamalkan doa nurbuat tapi perbaiki sholat kita + sholat sunahnya + puasa sunahnya + selalu berusaha bersih hati & harta + banyak sodaqoh…insyAllah doa kita sendiri tanpa doa nurbuat juga akan diijabah Allah….

    • Bener gan, Menurut keyakinan aja deh.jgn pernah juga dgr pnjelasan ldri ulama” skrg.ulama sekarang byk yg aneh”.yg bner dsalahin yg salah di benerin.ulama tnp sertifikat.

  6. saudara td@

    mungkin anda benar bahwa doa nurbuat tidak diajarkan rasul…TAPI siapapun orangnya boleh berdoa asalkan doa itu tidak mengandung kesyirikan…..

    • assalam,,,,,,,,,,,,,

      ya Allah , jagalah diriku dan keluargaku dari api neraka ,,,,
      orang mau berdoa saja kok repot , berdoa apa saja boleh , nggak mungkin orang berdoa mintanya yg jelek , mau doa apa saja trserah yg pntg niat baik di hatinya , Allah swt maha tahu akan niat/ maksud hati akan hamba2nya yg memohon kpdnya ,,,,, seorang mukmin berdoa pasti memohonnya kpada Allah swt , bukan kpd jin atau syetan ,, betul ndak,,,,,,,,,

      • Ya bener pak, cuma pada mereka yang yakin berilmu tinggi tp yakinnya pd Alloh bersamaan dengan yakinnya pada ilmunya yang gede, merasa dirinya hampir dengan Alloh…Jangan silap ya pak .. yang dekat itu Alloh pada hambanya manusia seperti dekatnya di antara dua urat maerih..seolah-olah bila mau mohon doa pasti Alloh akan makbulin….di mana berserahnyaaa…. sepertinya memaksa Alloh …sebab itu sukanya menuding….. menuduh…mencari salah orang lain…. menuduh orang sesat..gila…dan macam-macam lagi.
        Sedangkan yang utama adalah Allah yang Gede kemudian barulah ilmunyaa… gitu
        Jadi kita tidak akan menuding dan menyalahkan…. baru betul Tauhidnya.

        Wasalam

  7. Sungguh Aneh Segala Doa yang di Turunkan-Nya Lewat Nabi dan Wali2x-Nya di Jadikan kesesatan pada jaman sekarang !!! he.ee.e..ee.e Bukan nya orang2x yg menjadikan kesesatannya sendiri di hinggapi sifat syaiton yg tdk mau menundukan ke Adam sebagai manusia yg lemah ((( bukan manusia pintar ,,, ))) ..? belajarnya dalam kelembutan Hati bukan belajar kepintaran Niscaya anda akan disengsarakan oleh kepintaranmu sendiri …???

  8. Semua do’a itu baik, apalagi jika diambil dari qur’an dan dicontohkan nabi….
    tapi jangan jadikan Qur’an dan hadits sebagai jimat untuk segala macam hal yang untuk kepentingan duniawi sehingga menguntungkan diri pribadi
    maksudnya baik, tapi jauh dari hal yang sesungguhnya
    “… tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali tuk mengabdi pada_KU..”
    ” Dan barang siapa yang bertawakal pada_Ku maka segala urusan rezeki dan kebutuhan kalian biar kami yang mencukupi…”

    ingatlah bahwa semua hal itu harus dibaca dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakannya
    bukan berdasarkan hawa nafsu kita yang tanpa pengetahuan akan banyak hal

    mungkin anda para ahli kitab bisa memperbaiki terjemahan diatas…
    makasih

    • Ya Rabb, Cukupkanlah Perdebatan yang tidak ada gunanya …… ” manusia … tetap manusia ….. yang ngerti ayat dan yang tidak …. tetep manusia, kalau dilihat dari perbincangan diatas adalah pembenaran dari Pendapat walaupun ada dasar sunahnya …… Tapi kalau mereka memahamidan belajar dari ” Dan barang siapa yang bertawakal pada_Ku maka segala urusan rezeki dan kebutuhan kalian biar Aku ( Allah ) yang mencukupi…” pasti ngga berdebat…. amalkan ini saja …… pasti JOS

  9. astagfirullahaladziem…padahal saya suka mengamalkan…tetapi setelah saya membaca artikel ini saya malah jadi sangsi terhadap doa ini, terimaksih sudah menyadarkan say

    • lebih praktis kita pakai saja doa2 yg jelas dari rosul… atau jika kemampuan bhs arab kita terbatas.. yah pake bhs ind yg kita susun sendiri juga ga masalah, asal tdk mengandung kesyirikan..

      ketimbang pake nurbuat yg tdk jelas dan kaidah bhsnya juga keliru (lihat penjelasan artikel)

      • susah mas ngasi tau orang2 yg sudah pinter….menurut sy apa susahnya ikuti rosul (memang harusnya kan), Kalo rosul mau makan apa doanya …ya kita ikuti…, kalo rosul mau bepergian apa doanya … ya kita contoh, kalo rosul minta sembuh dari sakit.. apa doanya ….. yaa kita contoh…,.kecuali kalo kita tidak tahu (tapi harus belajar mencari tahu).. tidak apa2….kta bikin sendiri dengan kata2 sendiri yang baik….. Gitu aja kok repot maaas mas…..

  10. ga jelas juntrunganya ni doa…ane lebih spakat ga usah diamalkan,…klo emang bener kenapa gak ada penjelasan di hadist2 pilihan tentang doa ini…???

    • orang zaman sekarang banyak yang terjebak dalam kesesatan karena mereka menginginkan KHASIAT. padahal berdoa itu harus ikhlas. kalo orang ikhlas maka mereka berdoa tidak aneh aneh. doa nurbuat ini termasuk DOA YANG ANEH YANG KATANYA MENGANDUNG KHASIAT. padahal artinya saja banyak yang tidak mengerti. YANG PENTING KHASIAT. katanya begitu.

  11. “.janganlah kamu merasa sudah bersih, Dia (Allah) lebih mengetahui siapa yang bertaqwa.”

    “Biarlah setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, karena Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih lurus (jalan yang ditempuhnya).”

    apakah sama wahabi dg hasyawiyah ?

  12. Assalamu ‘alaikum
    Sebelumnya ijinkan saya untuk ikut menambahkan tentang do’a.
    Doa itu suatu permohonan, mungkin bisa juga disebut sebagai alat perantara untuk menyampaikan hajat kita kepada Yang Maha Kuasa. Setiap orang itu masing-masing mempunyai hajat yang berbeda, maka jelas kata dan kalimat do’a nya juga berbeda. Selaku umat yang menjadikan Rosul SAW sebagai tauladan, maka semuanya diusahakan mencontoh sunnah Rosul. Hanya saja orang terkadang percaya kepada do’a yang dibacanya, bukan percaya kepada yang meng-qobul do’a tersebut.
    Mungkin itu tambahan dari saya, mohon maaf bila ada kata-kata yang menyimpang, karena saya orang yang kurang pengetahuan dan bodoh.
    Walloohu a’lam

    • “Hanya saja orang terkadang PERCAYA KEPADA DO’A YANG DIBACANYA, BUKAN PERCAYA KEPADA YANG MENG-QOBULKAN DO’A tersebut.” >> saya suka dengan petikan komentar ini dan saya setuju :)

  13. Mohon maaf yg sebesar” nya, karena saya merasa saya org yg paling bodoh, fakir dan penuh dgn dosa besar. saya rasa do’a apapun itu gak ada yg salah atau jelek. tergantung niat awal kita bertujuan berdo’a tsb untuk apa. jka para sesepuh dan ulama disini berpendapat ada do’a yg bertujuan jahil atau salah, tolong koreksi dulu dari mana letak salah nya, menurut hadist mana, dan menurut kitab suci mana ? jadi mohon maaf seperti para sesepuh atau ulama yg berkomentar disini, seperti kita membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan untuk di baca tp untuk di amalkan, percuma membaca Al-qur’an tp tdk pernah mengamalkannya. yg dimaksud diamalkan bkn hanya di baca, tp di terapkan pada prilaku kita sehari hari dalam tindak tanduk di kehidupan ini. Anggapan salah dimata Manusia blm tentu salah di mata Allah. karena hati, otak dan mulut sangatlah bertolak belakang. mungkin para sesepuh dan ulama” disini lbh mengetahuinya.

  14. namax doa kan minta gan,,asal tidak menyalahi aqidah,syari’at,atau tata krama,apa lagi meminta kepada selain ALLAH,tambah nda boleh tu,masak nda boleh doa mas,,ALLAH maha kaya,,masalah kita mendapatkan khasiat apa tu kan ALLAH yang maha berkehendak.. :)

  15. Carilah tau setelah tau buanglah tau…..orang yg sombong yg tidak kenal dgan dirinya, bagai mana mau kenal dgan allah… siapa yg kenal dgan dirinya maka kenallah dia dgan tuhan nya….

  16. Ustd.ana pernah dulu membeli buku “senjata mukmin” dan membaca khasiat ayat kursi dan doa nya dan saya amalkan tapi malah jin yg bermata merah dan rumah ana seakan dilempari jin itu…apa yg salah dari amalan tsb ustd….

    • Senjata Mukmin seingat saya berisi amalan hizib, wirid wirid dan doa yang aneh beserta tatacaranya yang juga aneh dan jimat-jimat, betulkah itu ??? hati-hatilah dengan buku-buku emperan pinggir jalan yang biasanya berjejer bersebelahan dengan buku mujarobat, sebab semuanya buku penuh dengan kesyirikan.
      hati-hati salah amalan malah akan mengundang jin walaupun menggunakan ayat suci Al-Qur’an sekalipun sebab niat dan tata caranya menyimpang.

    • amalan ny ga salah, yg salah kelakuan ente yg sangat sombong dan merendahkan orang lain, kaya jin..seperti jin yg diusir dari surga karena sombong, merasa diri lebih tinggi dari Nabi Adam, maka diusir dari surga dan dinamakan iblis….makanya yg datang ke ente jin…. ya ga coy..????

  17. Engkau mengenal Allah baru engkau tahu siapa dirimu…. Engkau yakin bahwa Allah kuasa,perkasa dan menentukan segalanya dan itulah keimanan tertinggi.. Engkau mengenal Allah barulah engkau tau siapa dirimu itulah tauhid yg benar…tdk hrs mengenal dirimu dulu baru mengenal Allah.

  18. saya merasa kasihan kepada orang-orang yang mengikuti NU apalagi orang-orang yang awamnya. kebanyakan dari mereka menjalankan ibadah tidak berdasarkan iman (akhlaqnya menjadi baik), mereka lebih senang dengan banyaknya dzikir dan wirid yang tidak berdasarkan sunnah rasul dan lebih senang dengan mempercayai jimat. yang disayangkan sekali jarang sekali membaca qur’an. ini yang sy perhatikan di daerah yang notaben NU (kampung).

    • Argumen @mas san ini tdk bermaksud buruk/menyudutkan suatu komunitas tertentu :)

      Ia hendak mengingatkan kita agar kita jangan terbuai dgn wirid/dzikir/doa/sholawat yg tdk jelas yg byk mengobral khasiat palsu… dan bahkan dari hadits palsu.

      inilah faktor keterbatasan wawasan karena “suatu” keadaan… mereka langsung meyakini ajaran “oknum” ustadz/kyai panutan mereka, tanpa mau memeriksa lagi ke kitabullah dan sunnah rosul.

      • Emang Lo siapa, komentar arogan. Wiridan aja gak pernah menyalahkan orang wiridan, boro2 mengagungkan Nabi, solawatan aja gak pernah menyalahkan orang solawatan.

        Kata siapa Wirid, Sholawat, dan Do’a tidak Jelas. Alloh aja bersholawat pada Nabi.

        Apa anda Memulyakan orang tua anda harus dicontohkan Orang tua anda?

        Ingatlah, Alloh aja bersholawat pada Nabi.

        Klo kamu belajarnya Wahabi, gak bakalan ketemu namanya wirid, sholawat dan do’a.

        Ngakunya berpedoman sama Kitabulloh dan Sunah Nabi, sahabat Nabi aja lo bid’ahkan, apa lagi Ustad, Kyai.

      • TD.. elu sama aja.. lu buta??? atau lu BODOH mengartikan kata??? lu baca lagi deh kalimat si SAN!!
        Apakah baca Al-Qur’an itu harus keras??? harus orang sekitar tau/denger?? Apa perlu jadi Riya??? Kampung lu tuh kampung komunis kali.. bukan NU.. tau dari mana klo itu NU??? tau apa lu ttg NU???

      • klo gini inget kata2 Gus Dur ” akeh kang apal quran hadise seneng ngafirke marang liyane” = banyak yg hapal qur’an hadis tp suka mengkafirkan orang lain

    • Oh gitu ya mas? mending NU mas, yang masih menghargai para Ulama mas… daripada komunitas sebelah yang gak menganggap Ijma’ dan qiyas sebagai dasar. ikh…… ngeri…. malah bilang kitab kuning sesat lah… apalah… Kasihan ya….

    • HEI SAN!! LU ITU SIAPA??? GUE BUKAN N.U. TAPI GUE BUKAN ORANG HINA SEPERTI ELU YG MENGKASIHANI N.U.!!!
      GUE SANGAT YAKIN DENGAN BEGINI MEREKA LEBIH MULIA DARIPADA ELU YG MERASA BENAR, APA ELU TAU ARTI TIAP KALIMAT DALAM SHOLAWAT NARIYAH? APA ELU TAU ARTI TIAP KALIMAT DALAM DOA NURBUAT? APA ITU BUKAN ATAS BERKAH DARI ALLAH SWT DAN KEBERKAHAN RASULULLAH SAW?
      BETUL KATA FIRMAN ALLAH SWT DALAM SURAT AL-MAUN.. “MAKA CELAKALAH BAGI ORANG YANG SHOLAT”.. MUNGKIN YANG DIMAKSUD ITU ADALAH ELU..

  19. kalow aku mah islam itu ya islam gak ada wahaby, salafy nu atau apa aja yg penting mengikuti qur,an n sunah kalo masalah doa mah pastinya minta kebaikan dunia akhirat tau ah pusing saling tuduh n fitnah…..hanya ALLOH yang maha tahu segala nya

    • Setuju mas, buat apa menggolongkan diri ke islam tertentu??islam ya islam aja< ngikutin Quran Hadis jelas aman gak beresiko…

      Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

      عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

      Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.

      Derajat Hadits
      Hadits di atas derajatnya hasan, karena terdapat Muhammad bin ‘Amr, akan tetapi hadits ini menjadi shahih karena banyak syawahidnya.

      Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”

      Imam al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Muslim dan keduanya (yakni al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Dan al-Hafizh adz-Dzahabi pun menyetujuinya. (Lihat al-Mustadrak Imam al-Hakim: Kitaabul ‘Ilmi I/128.)

      Ibnu Hibban dan Imam asy-Syathibi telah menshahihkan hadits di atas dalam kitab al-I’tisham (II/189).

      Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany juga telah menshahihkan hadits di atas dalam kitab Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah no. 203 dan kitab Shahih at-Tirmidzi no. 2128.

      HADITS KEDUA:

      Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan :

      عَنْ أَبِيْ عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَبْدِ اللهِ بْنِ لُحَيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أَلاَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .

      Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”
      Derajat Hadits
      Derajat hadits di atas adalah hasan, karena ada seorang perawi yang bernama Azhar bin ‘Abdillah, akan tetapi hadits ini naik menjadi shahih dengan syawahidnya.

      Al-Hakim berkata: “Sanad-sanad hadits (yang banyak) ini, harus dijadikan hujjah untuk menshahihkan hadits ini. dan al-Hafizh adz-Dzahabi pun menyetujuinya.” (Lihat al-Mustadrak I/128.)

      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Hadits ini shahih masyhur.”
      (Lihat kitab Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah I/405 karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany, cet. Maktabah al-Ma’arif.)

      HADITS KETIGA:

      Hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu 'anhu.

      عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِيْ الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: الْجَمَاعَةُ.

      Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, satu (golongan) masuk Surga dan yang 70 (tujuh puluh) di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.’

      Derajat Hadits
      Derajat hadits ini hasan, karena ada ‘Abbad bin Yusuf, tetapi hadits ini menjadi shahih dengan beberapa syawahidnya.

      Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani mengatakan hadits ini shahih dalam Shahih Ibnu Majah II/364 no. 3226 cetakan Maktabut Tarbiyatul ‘Arabiy li Duwalil Khalij cet. III thn. 1408 H, dan Silisilah al-Ahaadits ash-Shahihah no. 1492.

      HADITS KEEMPAT:

      Hadits tentang terpecahnya ummat menjadi 73 golongan diriwayatkan juga oleh Anas bin Malik dengan mempunyai 8 (delapan) jalan (sanad) di antaranya dari jalan Qatadah diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3993:

      Lafazh-nya adalah sebagai berikut:

      عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اِفْتَرَقَتْ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً؛ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

      Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, dan sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang semuanya berada di Neraka, kecuali satu golongan, yakni “al-Jama’ah.”

      Imam al-Bushiriy berkata, “Sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah.[1]

      Hadits ini dishahih-kan oleh Imam al-Albany dalam shahih Ibnu Majah no. 3227.
      (Lihat tujuh sanad lainnya yang terdapat dalam Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah I/360-361)

      KESIMPULAN

      Kedudukan hadits-hadits di atas setelah diadakan penelitian oleh para Ahli Hadits, maka mereka berkesimpulan bahwa hadits-hadits tentang terpecahnya ummat ini menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk Neraka dan satu golongan masuk Surga adalah hadits yang shahih, yang memang sah datangnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak boleh seorang pun meragukan tentang keshahihan hadits-hadits tersebut, kecuali kalau ia dapat membuktikan berdasarkan ilmu hadits tentang kelemahannya.

      Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang ummat Islam berpecah belah seperti kaum musyrikin:

      “Artinya : Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama me-reka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Rum: 31-32]

  20. yg paling pinter kan orang2 wahabi, yg lain kan bodoh2.. yg paling ngerti Qur’an & hadiskan mereka, yg lain cuma baca koran, yg paling benerkn orang2 wahabi, yang lain salah semua ibadahnya.
    yg masuk surga kan cuma golongan wahabi, yg lain sesat dan neraka…..

    ta’ashub…..

  21. Mari bersama2 kita belajar ikhlas,dan untuk kreatifitas,lebih baik membahas hal2 yang menjadikan kita bisa semakin menyadari untuk apa kita ada.

  22. allah mengerti segala maksud doa mahluk dri sekalian alam,mengapa kita hrs berebut tentang kebenaran.kebenaran sejati hya milik allah doa adalah permintaan.iblis yg terkutuk saja dikabulkan.apalagi doa doa dri hambanya yg berusaha mendekatkan diri kpda allah.do nurbuat hanyalah doa,hak allah mengabulan doa jdi apa salahnya mengamalkanya,karna kta tak perlu diakui oleh sesama hamba.tpi kta mencari pengakuan dri allah bahwa kta adalah hambanya yg salih.

  23. ingaaaaat…!!!, kalau kita hanya sekedar mengetahui arti dan kandungan kitab al-quran dari terjemahan saja, jangan suka banyak komentar, tanpa mengetahui makna dr arti yang sesungguhnya, marilah kita sama2 belajar, bkn malah saling menghujat, satu sama lainya.
    ingatlah….!!! manusia di dudunia ini tiada yang sempurna, tiada yang pintar dan tiada yang bodoh, Allah menciptakan manusia semuanya sama, tergantung kita yang menjalaninya. semoga kita semua selalu mendapakatkan ampunanya.

  24. Kalo yang namanya do’a sih secara logika semua tujuannya baik,tidak ada do’a yang tujuannya mencelakakan orang (ada juga semacam amalan & jampi/mantera),sekarang tinggal menelusuri siapa yang pertama kali mengamalkannya dan untuk hajat apa,alangkah lebih bijak kalo tidak dulu menjustifikasi sesat dan sebagainya

  25. TIPU DAYA IBLISSSS…..!!!
    Wong Pinterrr Njur Keblingerrr…

    SODARA PERDANA AKHMAD S.Psi…

    Bukankah Rosulullaah Muhammad Solallaahu ‘Alaihi Wasallaam Pernah Bersabda ” Suatu Saat Nanti Islam akan terpecah menjadi Beberapa Golongan, dan Hanya satu Yang Benar/diterima ” ( kurang Lebih Seperti Itu…)…………………………………………
    ………………………………………………………………………………………………..

    Nah, Jika sekarang Anda Merasa Paling Benar, Jika Anda Merasa Paling Mengikuti Al-Qur’an & Sunnah Rasul, Sudah Barang Tentu Anda TAHU DAN FAHAM HUKUM MERENDAHKAN DAN MENYALAHKAN ORANG LAIN, APALAGI MENGHAKIMI DENGAN SEBUTAN SYIRIK/MUSYRIK!!!

    Dan Saya YAKIN ANDA TAHU & PAHAM, Bahwa ALLAAH ADALAH HAKIM YANG SEADIL-ADILNYA!!!!!!

    Nah, Saran Saya…..ANDA & GOLONGAN ANDA TIDAK USAH REPOT2 MENGHAKIMI ORANG LAIN, APALAGI SODARA2 ANDA SENDIRI DENGAN SEBUTAN SYIRIK/MUSYRIK/DSB…..

    Jika Anda Merasa Golongan Anda Merasa Paling Josss, Monggo….Kami yang Anda Bilang SESAT DI DO’AIN SAJA….MUDAH2n ALLAAH MEMBERIKAN HIDAYAH KE JALAN YANG LURUSSSS…

    GAK USAH BERKOAR – KOAR INI ITU SALAH, INI ITU BID’AH, INI ITU SYIRIK/MUSYRIK….DSBBBB….

    Bagaimanapun Bentuknya, merasa paling Benar Tidak di BENARKAN DI DALAM ISLAM, ITULAH TIPU DAYA IBLIS LAKNATULLAAH…!!!!!

    ” FATAWAKKAL ‘ALALLAAH”

      • Alhamdulillaah….

        Allah masih menjaga Hati & Pikiran saya dari Sifat PALING & TER…
        Bagi saya Persatuan dan Kesatuan ISLAM LEBIH UTAMA dari Pada perselisihan Faham yang tidak akan Pernah ada ujungnya….

  26. terlalu ketinggian kalo kamu berbicara hakekat, orang semacam kamu kayaknya tdk memenuhi syarat masuk dalam wilayah hakekat. Kalo memang salah lafatnya ya diganti baiknya gimana gitu saja. yang jelas dengan doa NURBUAT alhamdulillah banyak masalh yg terselesaikan, mis: ada orang kena santet, kerasukan jin, penyakit ringan udunen, sakit gigi dll. tentu semua atas izin Allah
    Doa nurbuat bisa juga untuk akherat, nenolong orang dengan ikhlas mengharap keridloan Allah tentu akan dapat balasan di akherat nanti

  27. Maaf…blok ini kayaknya banyak jeleknya dr pada baiknya, masak banyak hujatanya/ menghujatnya, INGAT…!!!, kalau kita memang benar2 umat islam yang yang benar2 bertaqwa, jangan saling menghujat & menjelekan sesama umat islam, BELUM TENTU YANG KITA ANGGAP BENAR, MENURUT ALLAH. SWT. BENAR, mari kita mawas diri, dan saling menyadari kekurangan kita masing2, gak usah banyak komentar, banyak2lah istighfar, dan baca Al-Qur’an, URUSAN BENAR & SALAH HANYALAH ALLAH YANG MAHA TAU. thank’s

  28. buruk sekali km2 yg memponis saudara2 mu, memprovokasi pertengkaran,perdebatan ygtdk ad ujungnya,knp tdk kita pikirkan cara memajukan Islam ini untuk membantu saudara2 kita yg ditindas,diintimidasi,disiksa,di apalh segala macam oleh org kafir kok malah mencela2 kyk org faham saja, “KAMU-KAMU,KAMI-KAMI” knp mesti memprovokasi hal yang sangat disukai org kafir(IBLIS) untuk menghancurkan kita. NURBUAT itu bagusss…ygburuk itu yg mencela..!!!!!

  29. Ass… Kbtlan sya pengamal do’a nurbuat, dan alhmdlah atas ijin Allah swt lwt sarana do’a nurbuat ini anak saya terselamatkn dri gangguan jin dri efek sya bntu do’ain org yg kena santet, dan atas sarana do’a nurbuat dgn mengakui kebodohan dan ketidak berdayaan alhmdllh sya di selamatkan dri kepungan dri ke 4 jin yg menyerang saya… Wallohu a’llam….

  30. kepada mas perdana yg terhormat,
    membahas hakikat, masih jauh panggang daripada api.
    sy hendak bertanya :
    1. menurut anda batasan apa yg anda gunakan untuk memahami bhwa suatu amalan dipahami sesat/bid’ah ?
    2. tolak ukur apa yg anda gunakan untuk menetapkan bahwa suatu amalan dinilai bid’ah/sesat/syirik ?
    terima kasih.

    • @prabu, @ingat Allah dan @aceng.

      dibaca lagi mas2 artikelnya.. dalil bid’ah sudah cukup jelas.. dalilnya yg mengatakan “bid’ah/sesat”

      kami tdk memaksakan pendapat kami.. silakan anda liat sendiri komen pengunjung.. ada yg menerima dan ada yg menolak.

      ada baiknya mas2 bawakan kami dalil bahwa doa nurbuat tersebut boleh diamalkan..

      sekarang sy bertanya kepada anda mas @prabu,
      apa batasan anda untuk mengatakan sesuatu ibadah itu tdk sesat/bukan bid’ah??

    • Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

      buat mas prabu :
      maaf ana ikutan jawab, pertanyaan 1 dan 2 urgensinya sama.

      untuk memahami/ menetapkan bahwa suatu amalan dinilai bid’ah/ sesat/ syirik, amatlah gampang.

      yaitu apabila suatu amalan yang diperbuat tidak berlandaskan hukum qur’an dan asunnah maka amalan amalan itu dinilai bid’ah/ sesat/ syirik, dan jelas hukumnya HARAM dan temptnya di NERAKA

      wasalam !!

    • Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dalam Kitabul Iman, bab Maa Jaa-a Fiftiraaqi Haadzihil Ummah no. 2641 dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash dan Imam al-Laalika-i juga meriwayatkan dalam kitabnya Syarah Ushuli I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (I/111-112 no. 147) dari Shahabat dan dari jalan yang sama, dengan ada tambahan pertanyaan, yaitu: “Siapakah golongan yang selamat itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

      مَاأَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ

      “Ialah golongan yang mengikuti jejakku dan jejak para Shahabatku.”

      Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jalan keluar, jalan selamat dunia dan akhirat. Yaitu berpegang kepada Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya. :)

  31. Ya Allah tunjukanlah kami kepada jalan yg lurus,karna kami adalh hmbamu yg lemah,,jauhkanlah keturunan adam dari perselisihan dalam satu aqidah,,,saudara2ku benahilah apa yg slh atau janggal dlm berdoa jgn hnya bisa menyalahkan,buat suatu doa itu menjadi indah, sehingga allah mengabulkanya!!

    • Amien Yra…….wagiso,ini sdh menjadi ketetapanNYA….ada di surah Al-baqarah….ketika Adam dan Hawa diturunkan ke Bumi….Sebagian dari kamu akan memusuhi sebagian dari yang lainnya…ini Ketetapan kehidupan di dunia…..kita berdo’a saja dan berusaha jangan termasuk golongan yg Allah sebut dalam surah Al-baqarah tsb…

  32. TD, on Januari 21, 2012 at 11:16 pm said:

    @prabu, @ingat Allah dan @aceng.

    dibaca lagi mas2 artikelnya.. dalil bid’ah sudah cukup jelas.. dalilnya yg mengatakan “bid’ah/sesat”

    kami tdk memaksakan pendapat kami..
    ==================================
    silakan anda liat sendiri komen pengunjung.. ada yg menerima dan ada yg menolak.
    ==================================================

    Sdr TD….

    Coba Anda Renungkan Isi Artikel di ATAS…!!!
    Anda & kelompok Anda memang TIDAK MEMAKSAKAN PENDAPAT ANDA & KELOMPOK ANDA…..Tapi Anda & Kelompok Anda Sudah menyinggung & Menyakiti Hati serta Pikiran Sodara Anda Sendiri ( kecuali Jika Anda & Kelompok Anda sudah menganggap MUSUH terhadap Orang yg Tidak Sepaham dengan Anda)….

    Coba Renungkan BAIK-BAIK…
    Apa Tujuan dari Penulisan Artikel di Atas..??????
    Tolong di Jawab!!!!

    Rosulullaah Tidak Pernah mencela Makanan yang Rosulullaah Tidak Menyukainya. Jika Suka Beliau Menikmatinya, namun jika tidak menyukainya, Beliau tidak mendekatinya.

    Do’a itu Urusan Makhluk Dengan Tuhannya….
    Jika Anda tidak menyukai Do’a tersebut atau suatu amal Ibadah yang menurut Anda Salah, TINGGALKAN!!!!!!

  33. allah mempersilahkan hambanya untuk berdoa kepadaNya apapun keinginanya, jg dg bahasa manapun di dunia, dan tiada kekuatan manapun yg dapat mengabulkan doa kecuali kekuatan dan kehendak Allah swt. AllAhu a LAM’’

  34. yang terpenting berdoa atau bermohonnya hanya kepada Guti Alloh, bukan pada yang lain, berdoanya juga mohon kebaikan, tujuannya untuk keselamatan dunia dan akherat. doanya bukan untuk memohon muslim yang lain celaka……kita sering mengucapkan salam, tapi yang kita lakukan menimbulkan celaka, jangan sperti itu….laa haula walaa quwwata illa billaah…

  35. Assalamualaikum… sebelumnya saya minta maaf kepada asatidz.. saya yang bodoh ini cuma mau bertanya..
    “Apakah Rosulullah Saw dan Allah SWT pernah mengajarkan kita untuk berselisih antara satu dengan yang lainnya seperti ini,???

  36. Berdoaalah kalian dengan hati yg mantap dan dengan bahasa yg mudah dimengerti, sebab allah, “………………………………………………”

  37. asslmualaikum…

    uda gk kget…..psti yg pnya blok ni glongan trtntu n tmn2′y…..y jls lah spham….
    yg gk sphm brrti bkn glongan anda…
    udalah….islam tu indah….dan bkn mlik 1 glongan….
    appun glongan anda..blum tentu anda benar.

    jd gk usa anda mghkmi suatu glongan…
    brdoa itu dr sgla mcam bahasa n sgla mcam cara…
    jgnkn d ucpkan..d hti aja ALLAH da tw ap mksd anda…keinginn anda.

    klo anda bwt blok ini cm bwt mghkmi suatu glongan yg bkn glongan anda…mnding anda tutup aja blok n forum ni…krena gk mutu cm dbtin suatu glongan yg bnr….krna klo mmng ni blok forum umat islam…y hrs mghrgai 1 sm lain..bkn sling mnnjkn bhwa golongan’y msing2 pling bnr.

    wassalam.

  38. Ya Allah….. saya sudah lebih 4 tahun mengamalkan do’a ini. saya dapatkan dari buku tanpa bertanya. kalau sudah begini saya bingung :(.

    mohon pencerahan, doa yang biasa Rosulullah amalkan di posting disini.

    Terima kasih …

  39. hihihih … teu arera ditingali ku nu diluar islam ….hihiih mantap lah blog ieu mah. jadi we ratingna naek. Tuh tingali geura dipamerkeun lamun blog ieu tos sajuta pengunjungna. Tuh tingali geura disadiakeun khusus tempat jang perdebatan (pake VS sagala) siga pertandingan.
    Paur abdimah efek kanu maraca (rating naek jd pembaca oge bnyk) komo deui siga abdi nu siga orang bodo kieu. Asa sarieun jadi bingung….
    Punten coba hoyong ditingali deui efek ka nu siga abdi nu bodo kieu.,, siganamah engke mah sadunia nya …nu noongna. hheheheh tp teu nanaon lah.. supaya rame we nya …
    Semakin dikomentaran semakin rame euy …. sabalikna meren…

    Hidup kang PA …..salut ka akang… bener2 hebatttt, top markotop !!!!

  40. Manusia yg sempurna bknlah yg tak pernah berbuat dosa.tp orang yg mau bertobat atas dosa2nya.saudara ku mari kta hayati sholat.jgn cma skdar menjalankan.insya allah kta akan selamat.amin

  41. tungguh tungguh aku kok g jelas tentang doa nurbuat. emang doa ini terdapa pada surat apa dalam alquran dan ayat berapa? ada yang tahu? (klu g ada yang tahu berarti doa ini tidak ada dalam alquran, itu berarti harus dipertanyakan kebenarannya)

  42. Setelah beberapa sholawat dan ayat anda cap sesat bid’ah dan tak layak baca, lama2 Al-Qur’an bisa anda cap tak layak baca juga nih, atau mungkin bahkan anda bisa2 mengaku sebagai nabi akhir zaman? Sepertinya anda menguasai betul paham teologi? atau teosofi? hendak mencari lubang hitam agama atau menyebar luaskan dakwah Islam lewat ngeblog? Jika anda benar2 orang yg merasa punya kredibilitas tinggi dan berkompeten dalam hal syiar agama, coba dirikan yayasan dengan izin perda setempat dengan alamat jelas, dan juga dengan situs berdomain .or.id sehingga keberadaan anda tidak diragukan lagi…!!! dan orang2 bisa bersosialisasi dengan pemahaman anda yg sepihak. Berani jawab tantangan saya??? ;)

      • blog2 nya gratisan semua cuy.. wkwkwk.. kalo niat ngeblog secara professional modal dikit donk.. yg namanya hosting pake gratisan udah pasti semua identitas asli bisa di manipulasi dan di sembunyikan. Coba pake hosting lokal dan domain TLD .or.id pasti elu gak bakal berani kan..karena harus punya daftar riwayat dan identitas yg jelas dan terdaftar secara legal. Lagipula FB itu tempatnya social network dan internet marketing cuy.. wkwkwkwk
        Emangnya gak boleh kalo gue coment asal jeplak? artikel ini aja asal jeplak men judge soal fatwa seenaknya aja secara sepihak……!!!!!!!

        Wassalam,

      • @Nashir,

        Maaf dan makasih masukannya mas.

        sy hanya mengomentari komen dia tentang “alamat dan indentitas sdr PA” yg dia tulis juga di kolom lain.. Padahal di FBNYA sdr PA dan blog2 yg dia asuh.. cukup Jelas mengenai identitas PA ini.. dengan nama “satrio piningit” dia seharusnya baca2 dulu.. jgn asal jeplak.

  43. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan HIKMAH dan PELAJARAN YANG BAIK dan BANTAHLAH mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. QS : 16 : 125

  44. @deni suherman:
    Subhanallah.. alhamdulillah ada saudara sesama muslim yg mengingatkan. Terima kasih pak,
    ====================================================

    Kami sangat khawatir lama kelamaan sholat bisa dibilang sesat disertai dengan bukti2 dalil yg “menurut mereka” benar. Kami sudah membantah dan bertanya dengan cara baik2 diatas, tapi jawabannya malah sinis dan seperti tidak senang dan tidak terima begitu. Lidahmu harimau mu, ucapanmu harus siap kamu terima kembali apa pun itu bunyinya. Jangan cuma berani menulis artikel menyebar luaskan kesesatan tapi tak mau terima kritikan, anda sudah dewasa kan?
    Jika kami mau angkat ke permukaan mengenai tulisan2 kontroversial anda di blog ini, bisa2 itu akan menjadi bumerang yg akan melukai anda sendiri.

    • @satrio:
      :>
      “Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara” (al-Hujurat [49]: 10).

      “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain,
      (kerana) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).
      Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, (kerana) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita-wanita (yang mengolok-olok). Dan
      janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelargelar
      yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk setelah iman. Dan
      barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. Hai orangorang
      yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka
      itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah
      sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu
      memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
      Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
      Penyayang” (al-Hujurat [49]: 11-12).

  45. Dari pada pusing memikirkan do’a

    alangkah baiknya kita berdo’a menurut keyakinan masing2
    masalah diterima atw gak diterima
    hanya allah lah yg tw
    dan kalw berdo’a janganlah urusan duniawi dibawa2
    …………………………
    ……………………………

    wassalam, wr.wb

  46. amalan itu tak semua berasal dari al-quran dan al-hadist.
    Ada juga yg berasal dari waliyullah seperti walisongo,ahlulbait,dan lain-lain.
    Walaupun amalan dari AL-QURAN DAN AL-HADIST LEBIH masuk akal .

  47. assalama ‘alkm wr wb, smgo kt smua tetap dlm naungan ridhonya amin, mbok kt itu mikir kl perbuatan udah banyak madhorotnya yo jgn di trusin to, masa kt gk takut akan dosa/ kt emang udah ketutup utk mikir ke situ, shingga mrasa paling aman dan benar, astaghfiruLLOH al’adhim.

  48. Alhamdulillah sy membaca tulisan ini. Dulu sy mencoba menghafal doa ini, tp aneh sy agak kesulitan membacanya, padahal sy biasa membaca AlQuran bahkan hafal surat yg isinya sampe 30 ayat. Sy coba terus sampe ber-bulan2 tetap saja tdk bisa. Subhanallah, ternyata ini jawabannya.

    • bener, kalo sy sih cari aman aja, si A, si B bahkan si C saling adu argumen..sy gak ikutan,yg jelas2 aja deh!!
      Gitu aj koq repot, hehe :)

      Allah Subahanahu wa ta’ala berfirman:

      “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada-mu agar kamu bertaqwa.” [Al-An’am: 153]

      Jalan yang selamat adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sha-habatnya.

      Bila ummat Islam ingin selamat dunia dan akhirat, maka mereka wajib mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.

      Mudah-mudahan Allah membimbing kita ke jalan selamat dan memberikan hidayah taufiq untuk mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.

      Wallahu a’lam bish shawab.

  49. Seandainya do’a Nurbuwat ini menggunakan bahasa indonesia, bagaimana menurut anda ?,
    Kita juga seuka berdo’a dengan bahasa kita sendiri…
    do’a nurbuwat ini tidak salah tapi yang mengsakralkan do’a ini bisa salah…
    contoh : Ya Alloh berikanlah aku kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jauhkan kami dari api neraka …(boleh gak dibaca do’a ini dgn bahasa kita sendiri… (moga aja bukan bid’ah)),,, Robbana atina fiddunya hasannah wa fil akhirati hasannah…

    BUkalah fikiran kita untuk tidak menghujat ato menyalahkan orang lain dan membenarkan orang lain, setiap perbedaan adalah rahmat…

    • ALLAH mendengar yang tidak terucap,melihat yang tidak tersurat.do’a adalah permohonan.masing2 manusia mempunyai keyakinan .hargai dan hormati.jangan saling menjatuhkan sesama muslim.sesungguhnya yang menghancurkan islam adalah orang islam itu sendiri.mari kita bersatu sesama muslim jangan menjatuhkan.hanya kepada ALLAH kita memohon.jangan dengarkan yang saling mencela dan mencerca.mereka yang menjelekan sesama saudara.adalah orang yang dibisikan oleh…………”sesuatu’yang ada di hatinya.mau berdoa aj ribut.ngapain nggak ngributin yang mau berbuat jahat,berzinah,korupsi.dll.dst.demikian mohon maaf atas kekurangan,dan mohon bimbinganya.salam damai selalu.islam itu indah.dan didalam keindahan kenaapa pasti ada yang ingin merusak.mohn maff sekali lagi saudaraku yang lagi pada “SESUATU”………….yang ada dihatimu sesuatu.peace…

  50. Awb bagi Pendapat saya siapa saja yang Baca / mengamalkan do’a Nurbuwat tergantung yang mengamalkanx untuk Kebaikan / kesesatan dan sebagai Umat muslim memang kita saling mengingatkan dan Menegur kalau di jalan sesat , tapi mari kita lihat negara kita saja sekarang lagi kacau dan Amburadul ,dan marilah kita koreksi diri kita masing2 apa sdh sejalan dgn iman / iman yg sejalan dgn kita ,mhon maaf bila ada kata2 saya yg salah , JazakumuAllah fillah .

  51. ass..wr.wb…mz.mz……q mau cerita dari pengalaman.saya pernah di pelet m wanita,,,bahkan sampai saya tak berdaya……
    bahkan sampai membuat saya seperti orang yang tak punya akal…..
    tpi alhmdllh saya membaca buku yang khasiatnya akan doa nurbuat,membuat pulih kembali saya,,,,bahkan sampai bertmu m orang yang memelet saya sampai meminta maaf.
    alangkah besarnya allah setelah saya mengamalkan doa trsebut…apa kah saya salah,apa bila berjaga-jaga diri slma di dunia dari apa2 yang tidak kita inginkan………..

  52. Kita tidak bisa menitik beratkan sebuah doa itu haram atau halal di baca hanya dari seorang ulama saja. Semua butuh dalil yang pasti yang menerangkan doa tersebut haram untuk dibaca. Semua kita kembalikan saja hanya kepada Allah SWT.

  53. Ass. wr.wb Pak Ustad,sebelumnya salam kenal,kalo boleh saya mau bertanya,adakah doa tuk menarik istri yg sedang bekerja di luar negeri (TKI),kalo ada saya mohon minta doanya sama Pak Ustad,karena saya cemas & khawatir dengan istri saya,terima kasih atas jawabannya.Wassalam wr.wb.

  54. yang namanya doa itu mengharap ridho allah di kabulkan, yg namanya doa semua tuh baik, yang ga baik n yg haram klo qt berdoa yg jelek2 atw diluar hukum n syareat islam. intinya semua doa bagus yg ga bagus gimana yg bawanya

  55. asslkum..ustad. sya mau bertnya, dari kecil sya diajarkan shalat oleh ayah sya. beliau dalam shlat shubuh tdk membaca doa qunut,,
    sewktu sya kuliah ada salah satu ustdjah mengatakan bhwa membaca doa qunut itu harus dibaca dalam shlat shubuh, dan tdk boleh ditinggalkan. bgaimana ustad, mhon penjelasannya. trima kasih banyak,,

    • @wita,

      membaca doa qunut bukan di sholat subuh saja, ia juga ada di sholat fardhu lainnya. tidak berqunut di subuh juga tidak mengapa.. yg tidak boleh itu.. “menyakini qunut hanya tempatnya di sholat subuh saja”

      insyaallah nanti sy cantumkan links penjelasan (menyusul yah). :)

      • @Kang TD : misalkan seorang Imam sholat mempunyai keyakinan “Qunut hanya di sholat Subuh saja”… Apakah sholat kita sah jika kita bermakmum kepada imam tersebut ?… Yg biasa saya lakukan kalau berjamaah sholat Subuh, jika imam qunut, saya hanya diam saja. Karena tidak mau terjebak pemahaman “Wajib Qunut”…

      • @Mas ARI,

        Sholat di belakang (diimami) setiap muslim sah, walopun imam tsb ahlul bid’ah/hawa. Perkara Imam berkeyakinan mengamalkan hadits dhoif tidak menghalangi kita untuk sholat berjamaah dengannya. Qunut pada subuh ada dalillnya.. kita disuruh ikuti perbuatan imam.. Jika imam qunut.. sypun berqunut/mengaminkan…

        ada riwayat bahwa Qunut juga dilakukan sebelum ruku.. bukan setelah ruku. kalo ada buku sifat sholat rosul.. @Mas Ari bisa buka kembali.

  56. Menurut pendapat saya, kita boleh saja memohon kepada Allah minta dipanjangkan umur, disehatkan badan, dibanyakkan harta seperti terdapat pada do’a nurbuat

  57. sesungguh.na perdebatan hanya akn memecahkan islam,nd inti.na semua yg qta lakukan itu semua tergantung niat qta,karena baik buruk nd diterima.na amal yg tahu hnya Allah,nd ayat yg diturunkan oleh Allah itu semua pada dasar.na baik,tinggal niatan qta yg salah atau benar,..

  58. ass..wr.wb…
    Salam sejahtera bagi umat islam sekalian..
    Tidak baik meribut kan tntng agama.
    Lebih baik jika anda mempunyai tanggapan tntang do’a ini.lebih baik anda memberikan bukti,& mngadakan musyawarah.
    Trimakasih.

  59. Pa ust. sebelum mengatakan sesuatu hukum dah berapa referensi yg antum baca dari karangan ulama salaf or mutaakhirin, antum belajar lg deh ama ulama 2 dr smuanya biar banyak referensinya biar mata antum terbuka “Ulama pewaris nabi,berfatwa sangat berhati2,memfitnah jauh sekali” (kutipan nasyid) mudah2an antum d berikan hidayah untuk mnjadi ulama yg sebenarnya tdk meresahkan tp mampu menyejukkan n d cintai n d hormati smua umat

  60. Masak Sesat atau tidaknya sebuah doa ditinjau dari segi kayak gini

    1. Kesalahan dalam tata bahasa
    2. Susunan kalimat yang tidak sistematis dan tidak memiliki kaitan.
    3. Isi permintaan yang tidak tepat
    4. Keutamaan yang terlalu berlebihan

    ini bener-bener kacaw…. kelewat batas kacaw nya…. (na’udzubillah min dzalik)

    darimana sih datangnya ide untuk menguji sesat atau tidaknya do’a dari parameter yang bener-bener kacaw kayak gitu….

    • Inyong setuju, wong doa itu ditujukan kepada Allloh s.w.t kok,bukan kepada Jin or iblis, “Berdoalah kepadaKu niscaya akan kukabulkan untukmu”

  61. .
    Kalau kalian ada yg anggap doa ini salah, kenapa doa ini ga diajukan untuk dinilai ke Majelis Ulama Indonesia?

    MUI bisa menentukan fatwa haram atau halal, bukan kalian yg ilmu agamanya masih cetek seperti aq. Katanya harus ikuti kata ulama, kok pada berantem sendiri.

    Kumpulan Ulama yg membahas satu masalah lebih baik daripada satu ulama yg menentukan, apalagi hanya kita !

    Tapi JANGAN IKUTI ULAMA YG :
    1. suka nuduh orang seenaknya, didoakan oleh umat agama lain (ada videonya di u tube), bilang Al-Qur’an sebagai kitab porno (di radio Solo 2007), neh mantan RI 1 lohhh…
    2. yg suka nikah siri dan di masa akhir hidupnya dituntut hukum oleh wanita yg dinikahi siri, malu kan ??? bukan kyai sejuta umat eh jadi kyai sejuta wanita.

    Malah Kyai Bandung yg hanya menikah yg kedua, malah media ribut rame2 menyudutkannya sampai ibu-ibu yg tadi mengidolakannya jadi menjauhinya, nikah yg kedua itu dibolehkan agama loh !

    Setahu aq, do’a apapun kalau dimulai dengan nama Allah SWT, Insya Allah bener, asal niat didalam hati penuh keikhlasan, kesabaran, kerendahan hati, tidak takabur dan tidak nafsu keduniaan.

    Allah SWT itu Maha Penyayang dan Maha Perkasa, jujur saja aq yg shalatnya suka bolong parah, masih diberi keberkahan sedebu Kuasa Allah SWT yaitu :
    1. pernah menyadarkan orang kesurupan
    2. pernah menyadarkan orang erep-erep
    3. pernah membuat orang yg menzalimi kita menjadi panas dingin
    4. pernah “menembak” makhluk halus di kaki gunung salak
    5. suka buat penjagaan di tempat asing.
    Semua itu dengan hanya surat Al-Fatehah, Al-Ikhlas, An-Nass, Al-Falaq, dan ayat Qursy (pembacaannya ada caranya).

    Silahkan kalian pikirkan, banyak ayat Al-Qur’an yg bilang : Al-Qur’an diciptakan bagi kaum yg berfikir. Nah aq mau tanya : apa hubungan kebenaran Al-Qur’an dengan banyaknya terjadi gempa, gunung meletus dan tsunami ???

    Jika ada yg bisa menjawab, maka kalian termasuk kaum yg berfikir !
    Kalau cuma bisa mensalahkan orang lain, ya itu sifat kesombongan manusia.

    Ingat, Allah SWT Maha Penyayang dan Maha Segalanya !!!

    • Assalammualaikum wr.wb. Hubungan al-quran dengan gempa,tsunami,gunung meletus sudah jelas, bahwa hari kiamat sudah dekat, alam semesta membawa kabar. Itulah tanda”nya. Mohon maaf bila salah, saya hanya manusia hina dan lemah

  62. .
    Tahukah kalian, jika kita mengutip ayat Al-Qur’an untuk dijadikan dasar, maka lihatlah hubungannya dengan ayat sebelumnya atau ayat sesudahnya.

    Nah lihat 2 ayat yg ada di kanan atas halaman ini, yaitu Petunjuk Illahi dalam berdiskusi,

    1. ayat pertama : “Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (Qs. 16 an-Nahl :125). nah ayat ini berhubungan dengan ayat sebelumnya yaitu : “124. Sesungguhnya diwajibkan (menghormati)[844] hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu.”

    Nah, maukah kalian disamakan dengan Yahudi ??? Karena ayat itu berupa penjelasan bagaimana menghadapi pertengkaran Yahudi.

    2. ayat kedua : “Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.” (Qs. 4 an-Nisa’ : 63); nah ayat ini berhubungan dengan ayat sebelumnya :
    Qs. 4 an-Nisa’ 61= “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.”
    Qs. 4 an-Nisa’ 62 = “62. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”.

    Nah, maukah kalian disamakan dengan orang-orang munafik ??? karena ayat ini adalah cara menghadapi orang-orang munafik.

    JANGANLAH KALIAN SOK MENGHAKIMI SUATU DO’A JIKA KALIAN SENDIRI MEMAKAI AYAT YG SALAH DALAM DASAR BLOG INI !!!

    Makanya aq bilang, belum tentu ustadz atau kyai itu benar, kecuali kyai itu bersikap hidup zuhud, adil dan taat perintah Allah SWT, contohnya : Kyai A. Fiqih dari Pesantren Langitan yg baru hari ini wafat :( , Innalillahiwainnalillahi rojiun, semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT dan diampuni segala kesalahannya, amien ..

  63. wah, wah,
    jgn ngeremhin kalo salah tata bhasa itu g mslh.
    Jstru b.arab (bhs yg ada d quran) itu pny konsistensi dlm tata bhs ny. Makany ada yg bisa hafal quran brkt bs menuliskan ny.
    Meskipun b.arab sy g bisa, tp g pernah merendhkan bhs quran tsb.
    Salah satu dr arti do’a tsb yg ane bc dr komen d atas ‘pelindung jiwa hasan dan hussein…’
    Dr kata2 tsb mgkn do’a ini yg buat org syiah (wallahua’lam).
    ‘Sesungguhnya
    Allah itu indah, Dia menyukai
    keindahan. Kesombongan itu
    ialah menolak kebenaran dan
    memandang rendah orang
    lain.’” (Shahih Muslim)
    Kalo emg do’a itu g dicnthkan or g da hadits sohihny brarti qt tau bhwa tdk blh mengamalkan ibdh yg g dcnthkan, dan jgn sombong dg mengatakan admin itu ‘sok pinter, dsb’
    Ok lah kita buat do’a trsrh mo kek gmana, tp khasiat2ny itu smbrny dr mana?
    Hrus bs dipertanggungjawabkan.
    Jgn bilang bhwa ane sombong (bc hadits ny lg)
    Wassalam

  64. Pak ustadz,berarti MAQOM anda pada hal ini belum nyampai pada taraf THORIQOT apalagi MAKRIFAT sehingga berani menjustified suatu amalan itu adalah bid’ah.
    Dan Pastinya juga anda menyatakan bahwa ajaran2 para Wali Songo itu adalah bid’ah/sesat,bukan begitu?
    Alangkah lebih baiknya anda nyantri lagi aja deh,

    • setuju, jangan merasa jadi orang paling benar, biarkanlah orang memilih keayakinan sendiri-sendiri, dan jangan saling menghujat, katanya sesama muslim itu saudara?

    • @ibnu tsany..

      mas tolong jelasin arti :
      1. MAQOM
      2. THORIQOT
      3. MAKRIFAT

      mhn jelasin juga “taraf thoriqot dan makrifat” yg anda maksud tsb.

      dan jika berkenan sekalian alamat pesantren dan kyai mana yg mesti kami ambil ilmunya.

      thks mas.

  65. Assalamu’alaikum,
    ustad, ana mau nnya, sebenarnya ada atau tdk hadits shahih yg menjelaskan tentang fadlilah doa akasah,
    kalau tdk, lalu hadits yg menjelaskan fadlilah doa akasah statusnya apa.??? apakah hasan, dha’if, atau yg lain,.
    mohon penjelasannya ustad,.
    syukron

  66. biarlah orang semua menuduh kita salah namun mulya/benar disisi Allah……toh yang tahu keimanan/ketakwaan kita hanya Allah…..katanya mengamalkan ayat (yaa rohman yaa rohiim) dll, doa dengan ribuan atau jutaan kali…… yang masuk jin. lah yang disalahkan bukan do’anya, atau byknya bacaan…..TAPI ORANGNYA/PENGAMALNYA. (********^%$@#$%##@), aduh jadi takut klo setiap hari berdzikir Allah Huu….entar dibilang jin/setan/iblis/siluman masuk bakal masuk, klo begitu ga usah berdzikir mendingan ngehayal jadi orang kaya biar sekalian segudang setan,iblis siluman masuk ….ehmmmm Yaa Allah Yaa Rabb…….

    Nabi kita tidak mengajarkan sholat di indonesia……..apakah slah klo kita slama ini shalat di indonesia????????apa ada riwayat nabi Muhammad SAW pernah shalat di bandung,surabaya dll
    islam = statis/dinamis?
    Balas

  67. Assalamu’alaikum…

    Perkenankanlah saya bertanya, dulu rasanya saya pernah membaca do’a Nurbuat, terus ada dua versi yang pernah saya baca : 1. Versi Pertama dibagian tengah-tengah do’a ada yang berbunyi “Luqmanul Hakim” 2. Versi Kedua dibagian tengah-tengah do’a ada yang berbunyi “Alquranul Karim”
    Jikalau boleh saya hendak tahu sejarah do’a Nurbuat itu seperti apa, hingga ada dua versi semacam itu?

    Terima kasih atas perhatiaannya Pak.

    Wassalamu’alaikum….

    ======================================================
    Pandangan pengamal Tareqat :

    Assalamualaikum semua,

    Saya noobie di forumer ini yang bernama Zenden
    Saya mempunyai kemuskilan mengenai doa Nurun Nubuwwah.

    Boleh saudara terangkan asal usulnya Doa ini dan petikan daripada Quran serta Hadis mengenai Doa ini dan cara penyampaianya ini kepada Rasulullah SAW.

    Sekian Terima Kasih

    :jawab_salam:

    Hmmm… Soalan ini sudah beberapa kali ditanya dalam berbagai forum dan soalan-soalannya selalu hampir sama bentuknya. Saya lebih meletakkan soalan seperti ini adalan yang bersifat provokasi dan mencari kelemahan dalam sistem doa ini.

    Tapi semaklum saya doa ini belum dijumpai nas-nasnya yang sohih tetapi telah diperturunkan oleh ulamak-ulamak zaman berzaman dalam bidang ilmu hikmah. Apa yang saya dapat katakan adalah, setiap amalan yang bersifat doa atau amalan-amalan yang bersifat caang-cabang amalan sunat dan merujuk kepada zikir-zikir, wirid-wirid, hizb-hizb adalah merupakan amalan-amalan yang banyak juga diterima secara laduni atau ilham hasil riadhah-riadhah khusus seorang zahid yang mencari jalan mendekatkan dirinya dengan Allah secara peribadi tanpa meninggalkan amalan-amalan sunnah dan syariat Islam yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

    Soalan-soaln masalah doa mempunyai nas yang sohih tidak diperlukan bagi amalan permohonan khusus individu kepada Allah kecuali amalan-amalan doa yang sudah tersedia diajar oleh Rasulullah saw sebagai pedoman berdoa dengan cara yang benar kepada Allah.

    Jangan jadikan isu ini isu akidah kerana bisa membawa diri kita ke Neraka jahannam akibat provokasi kita sedangkan secara teknikalnya Allah menyuruh kita berdoa dengan apa cara sekalipun selagi tidak mempunyai unsur-unsur syirik dan tidak jahil sifat doanya kerana sebaik-baik doa adalah doa muktabar dan juga doa-doa yang lain yang difahami maksudnya serta benar jalannya.

    YB Al-Fadhil Ustaz Harun Din sendiri pernah disoal mengenai kesohihan beberapa amalan seperti Nurun Nubuwwah ini juga seperti Selawat Syifak dan jawapan belaiu telah diberikan secara ilmiah dan merujuk kepada dalil-dalil mengenai sifat-sifat amalan tetapi masih ada yang menolaknya. Saya tidak hairan dengan perkara ini, kerana dakyah Yahudi pun macam tu jugak. Melaga-lagakan orang Islam dalam hal-hal sunat kerana nak lagakan dalam hal wajib semua orang dah tahu.

    Islam itu sempurna lengkap kerana sistemnya yang luas dan pelbagai serta mempunyai berbagai-bagai alternatif yang merujuk kepada prinsip-prinsip dan konsep amalan yang telah ditetapkna oleh Allah swt dan diajarkan kepada kita oleh Rasulullah saw.

    Gunalah apa bahasa sekalipun dalam berdoa dan gunakan gayamu yang lebih menyenangkan kamu ‘merasa’ apa yang kamu minta asalkan tidak diminta sesuatu yang buruk/keji dan tidak pula melakukan biadab kepada Allah swt.

    “Ya Allah tolonglah saya. Saya sekarang tertanggung hutang yang banyak. Tolonglah saya Ya Allah. Berikanlah jalan keluar kepada saya Ya Allah”

    Apakah kalimah itu tepat sebagaimana kalimah yang ada dalam hadis-hadis sohih? Tidak. tetapi kenapa ada yang dioa macam tu? Kerana tidak salah berdoa macam tu dan dia faham apa yang dia minta serta beradab.

    Jadi apa masalah dengan Nurun Nubuwwah?

    Sila baca maksudnya. Di dalamnya terdapat adab yang lengkap bermula dengan mengagungkan Allah swt., ayat-ayat hikmah dari al-quranul Karim, doa kebaikan dan hajat, menolak kejahatan dan selawat.

    Ada pula yang mengatakan campur aduk ayat al-Quran dan perkataan lain mala ia tidak betul. Silap tu, Kalau ayat al-quran di buat doa maka bolehlah diambil saranannya sebagaimana yang Allah ajarkan kita buat. Kalau ambil sepenuhnya, jadilah ia ayat al-quran tetapi jika diambil singkatannya sebagai doa yang daianjurkan maka jadilah ia doa yang bersumber al-quran seperti contohnya,

    Dalam al-quran Allah berfirman dengan mafhumnya,

    ” Katakanlah (Wahai Muhammad), Aku berlindung dengan Rabb/Penguasa manusia,…………”

    Maka jika dibaca Qul a’uuzu birabinnaas……” maka jadilah ia beramal dengan bacaan al-quran tetapi boleh juga ia membaca sebagai doa dalam bentuk yang dianjurkan oleh Allah swt sendiri iaitu

    ” A ‘uuzubirabinnaas….” Jadilah maksudnya ” Aku/Saya berlindung dengan Rabb semua manusia……”

    Sebab itu ada yang berdoa ” Allaahumma, Ihdinassiroothol mustaqiim” sedangkan Allaahumma itu tiada dalam al-quran bersama dalam ayat ke-6 surah al-Fatihah tetapi telah dimasukkan sebagai doa yang dipanjatkan kepada Allah swt agar diberikan petunjuk/hidayah jalan yang benar dan lurus.

    Maaflah jika jawapan saya menyakitkan hati tetapi jika soalannya dari provokasi maka jawapan saya juga keras. Untuk kaitkan jawapan ini dengan jawapan-jawapan lain, bolehlah dirujuk dengan ramai lagi guru-guru pondok lama. Saya tak akan merujuk kepada mereka yang baru mengenal agama kerana selalu jawapannya bersifat provokasi juga.

    Namun jangan pula menganggap saya memarahi anda yang bertanya tetapi lebih kepada semua yang bertanya tetapi masih suka menimbulkan provokasi dan bibit-bibit syak yang tidak wajar dalam Islam.

    Ingatlah juga bahawa beramal dengan amalan sunnah itu besar manfaat dan pahalanya dan kedudukannya namun melakukan amalan lain yang juga berpedomankan amalan sunnah itu juga baik. Kalau tidak, tidak adalah hukum-hukum dari bahasan mujtahid dan qias yang berpedomankan kaedah, prinsip dan konsep sunnah. Di mana dalam isu doa ini bukan doa itu ada nasnya tetapi sifat-sifat doa yang baik itu ada nasnya.

    Tapi bagi amalan-amalan doa yang menyeru jin-jin seperti katanya khadam Malaikat dan sebagainya, saya kurang yakin jika yang datang benar-benar Malaikat kerana Iblis boleh berupa dan mengaku dirinya Malaikta itu dan ini. Kerana sifatnya Malaikat yang datang bikan kerana namanya diseru dengan bilangan tertentu tetapi kerana keimanan orang yang yang beramal dengan amalan yang baik dan memdapat redho atau ‘green light’ dari Allah swt. Tapi jangan lah pulak kita terus fitnah orang tu sesat sebab katanya Malaikat datang berjumpa dengannya. Kerana Allah Maha Mengetahui siapa yang layak dan siapa yang tidak. Bukannya kita.

    Kenapa pula saya jawab macam ni sedangkan soalnnya hanya pendek macam tu? Sebab kalau tak cakap macam ni tak akan faham-faham sampai bila-bila. Sedangkan Ilmu dalam Islam itu luas.

    Melakukan sesuatu yang baik di sisi Islam walaupun tiada nasnya tetap bermanfaat kerana anjuran ringkasnya “Amar Makruf, Nahi Mungkar”

    Namun saya juga tidak tahu kenapa ada yang mendakwa doa ini adalah daripada Rasulullah saw walapun setakat ini belum ada yang oleh membuktikannya denagn jelas. Sudah tentu ada sebabnya kerana pengamal doa ini dahulunya hanyalah golongan yang dipercayakan oleh guru-guru masing sebagai orang yang boleh membawanya dengan benar. Namun saya lebih suka bersangka baik dengan guru-guru kerana setiap amalan yang disertai redho guru itu menhasilkan berkat dan akan mendapat rahmat Allah swt.

    :ins: Jika benar ia adalah daripada Rasulullah saw, semoga Allah membukakan jalan agar nasnya dapat dicari. Sementara itu, amalannya tetap baik kerana ia adalah doa yang baik.
    “Ilaahi Anta Maqsuudii, Wa Ridhooka Mathluubii”

    Firman Allah swt. yang bermaksud kira-kira ” Bermohonlah kepadaKU, nescaya AKU memperkenankanya buatmu”

    Wallaahu a’lam.

  68. ALL0HUMMA SH0LLY WASSALLIM ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN WA ALA ALIGH SAYYIDINA MUHAMMAD….

    dibaca thu s0lawat,byar adem ayem.,.

  69. Saya rasa blog ini penuh dengan fitnah, dan perdebatan yang buruk. Bukan ciri-ciri orang-orang yang ‘alim. Penuh propaganda yahudi, Inggris, US dan sejenisnya. waspadalah kaum muslimin

  70. Rame bener ky pasar malam…..sesama muslim malah saling menghujat,klo sekarang aj sukanya pada kaya gtu,gmana besok dajjal keluar saat akhir zaman dengan fitnah dan tipu daya yang luar biasa keji?naudzubillah min dzalik….mari saling memaafkan saudara2.Lebih baik kita ingat akan MATI dengan perbanyak ibadah dan amal sholeh mohon ampunanNya

  71. bukan hanya propaganda yahudi, tapi duet maut DAJJAL IBLIS.supaya mengikuti jejaknya :yang merasa lebih baik,lebih benar,dan gak mau melihat kebenaran.matanya suruh tutup seperti DAJJAL Dan sombong seperti IBLIS.Saya gak percaya lagi sama perdana.yang sedikit kebenarannya tapi lebih banyak madlorotnya.wassalam

    • bung oni, yang sombong tuh orang yang nggak mau menerima kebenaran. memang, kebenaran yang disampaikan di blog ini banyak dirasa pahit bagi orang-orang macam bung oni ini… akhirnya menfitnah blog ini dengan bermacam tuduhan…

  72. UDAH DRI PADA RIBUT ISLAM DENGAN ISLAM, MASING2 MERASA BENAR UDAH AJA KITA MASUK AGAMA HINDU DLL ADEM MAYEM…….ISLAM KO SALING TUDUH, SALING MENCACI, SALING MERASA BENAR….
    KANG MAS SEMUA BAGAIMANA KLO KITA MENDOAKAN ORANG YG BERAGAMA ISLAM AGAR BENAR2 MENJADI KAUM YG DIRIDHOI ALLAH, JANGAN SAMPAI YG SUDAH IBADAH BERDOA DENGAN BENAR KHUSYU MISAL DOA NARIYAH DICACI/DISALAHKAN KENAPA KO PROSTITUSI, PERJUDIAN,MABUK2-AN,TOGEL DISEKITAR KITA TDAK DIHIRAUKAN.MASIH BYK YG HARUS KITA DOAKAN NAH ORANG2 YG BARUSAN SYA SEBUTKAN..BUKAN KAH ITU TUGAS KITA SEMUA TIDAK HANYA APARAT YG BERWENANG,YANG PENTING MAH AMAN (MANUSIA-MANUSIANYA) KALAU MANUSIA DENGAN ALLAH….YAH ITU MAH URUSAN YG DIATAS COY, SIAPA TAHU YG KITA CERCA,MUSYRIK ADALAH AHLI SURGA (MUNGKIN DIA DAPAT HIDAYAH RAHMAT)……SADEREK NGARARATI TEU, MUN REK KRITIS COBA PAKE BAHASA NU SOPAN NU LERES, DA MEREUN MANEH TEH USTADZ. SORRY
    SYA NU NULIS TUKANG JUDI/ZINA LAIN USTADZ…….. JADI BAHASANA KIEU. PUNTEN PISAN AKANG2 SADAYANA. NUPENTING DOA URANG ULAH MENTA KA SETAN,IBLIS KA SALIN ALLAH KEUN DOANA TI MANA TISAHA TEU JANTEN MASALAH ASAL ULAH TEPIKA DOANA MENTA URANG KA NARAKA, DOA NU MATAK NYILAKAKEUN PRIBADOS/SARENG NU SANES (KOMO MENTA KA JURIG MAH)…………GENING ENDOG GE TINU BUJUR HAYAM NU KOTOR ARI MANFAATNA HADE TUR MATAK SEHAT GENING DI HAKAN KU URANG. AH LIEUR ……PUNTEN PISAN RADA LIEUR

  73. kalo memang demikian kenyataanya….knapa dos tersebut tidak dilarang saja penyeberannya secara nyata oleh MUI….jadi bisa dijadikan patokan oleh kaum muslimin….mana doa yg benar dan mana doa yg salah….

  74. di revisi aja doa nurbuatnya, mengikuti tata bahasa yg benar, disusun lebih sitematis, isi permintaan di arahkan lebih tepat, misalnya “panjangkan umur hamba dah berilah keberkahan sepanjang umur hamba”, mohonkan dengan ikhlas dari hati yang paling dalam, Allah SWT mengabulkan semua doa baik kita, menurut cara dan waktu-Nya. Berdoa dalam bahasa apa saja dan dalam konteks kalimat yang berbeda2 selama bertujuan baik dan tetap mmohon kpd Allah. Insya Allah di KabulkanNya. Amiin

    • Iya setuju Fei. Saya malah bingungnya begini: katanya kalau bermohon harus langsung kepada Allah swt (Al Qur’an). Di sisi lain kalau berdo’a bila tiada diawali dan ditutup dengan shalawat kepada Nabi Muhammad saw, do’a tidak sampai kepada Allah swt (Al Qur’an dan Al Hadits)….Silahkan diributkan….

    • setiap doa itu mengandung makna tersendiri….
      jka merubah doa maka akan merubah khasiat dari doa tersebut….
      untuk memahami doa bukan hanya mengunakan ilmu nahwu saja, tapi diperlukan ilmu-ilmu yang lainya (ex: Balaghah, mantiq, dll)…

  75. Kalian semua berbicara bahwa bid`ah itu sesat..?bearati internet.bikin blog.fb.sepeda motor..itu semua kan bid`ah..dan tidak ada loh klo anda cari hadist menyebutkan itu semua..berarti yg bid`ah. Sesaat?

  76. Indonesia aja dg bhinika tunggal ika aja bisa bersatu masak muslim dengan syahadat yg sama enggak bisa menyatu.mungkin saja ini semua ada biang onar…malu dong, masak masalah do,a aja buat debat, terserah mereka yg penting bukan minta sama kamu

  77. mas pd,membca doa atau mengamalkan amalan wirid memang harus tau ilmu nahwu shorof nya agar tdk salah arti dan maknanya dan harus ada guru pembimbingnya jg,tp jgn lah anda menggiring org lain agar mengikuti pemahaman anda,mslh keyakinan serahkan pd individu masing2 ,krn sgl sesuatu yg tlh allah ciptakan pasti ada mksd dan manfaatnya,

  78. haduuuhhhh,,,kalo baca malh lieerr euy,..gak baca jadi tambah bodo dibaca tambah bingung,…bener2 deh abdi bodoh pisan,…yang pinter2 pada bertengkar, gimana yang bodo ini jadi bisa ngerti ya…mungkin kalo cara bicaranya gak kayak gitu lebih enak kali ya

    • pake bahase cine juga bisa apalagi base rusie.he….he..50x.ayo anak2,,,,lihat tuh ade saudare kita lagi berantem…….maaf ya mas bro… saye murid TK PERTIWI tahunya….doa mau ma’em…..n. doa mau bobox ajach.peace….. maklum saya anak TEKA.tapi kata bu guru tak boleh ribut nanti ALLAH marah…aku anak sehat tubuhku kuat karena ibuku rajin dan bulat.eh….salah maaf ya …ya cikgu.

  79. kalau katanya berdoa boleh pakai bahasa sendiri, (Indonesia, sunda, jawa, batak, bugis.. atau bahasa2 lain di dunia ini.).. tp apakah ada juga di contohkan oleh rosul doa2 dlm berbagai bahasa saat itu ya? :)
    itu gimana kalau kasus orang ingin berdoa, tapi belum menguasai doa dalam bahasa arab?
    Disatu sisi boleh,,,, di satu sisi salah juga karena tidak adanya contoh dari Rosul…

    Maaf saya bertanya, karena saya BINGUNG :)
    Saya mencari penjelasan di internet… ehh malah jadi BINGUNG…. hehe.

  80. Komentar Nimbrung Doa Nurbuwat
    Bismillahirohmanirrohim
    Assalamu’alaikum wr wb
    Hmmm, di forum ini, asyik juga nyimak komentar-komentarnya. Lucuuu juga, walau ini bukan soal Srimulat, tapi soal doa Nurbuwat. Ada perdebatan, bahkan, sudah ada yang menjadi sedikit pertengkaran. Yach, yaa, yach, yaa, begitulah. Mula-mula, saya ingin netral baca saja, nggak perlu ikut komentar, karena kalau ikut komentar, berarti, saya akan condong kepada salah satu pihak tertentu sebagai konsekwensinya; begitu pula kalau berkomentar dan tidak condong berpihak pun, itu naif juga jadinya. Yah, namun begitu, silahkan garisbawahi, itu hanya condong atau cenderung saja, tidak mutlak juga sifat berpihaknya. Akhirnya saya ikut berkomentar dan berbicara mengenai doa Nurbuwat, nanti saya akan coba ‘kupas’ doa itu semampunya saya. Namun sebelum ke situ, saya ingin berkomentar terhadap komentar ke forum ini sebagai pembuka.
    Kalau tidak meleset, forum ini ibarat ada 2 kutub, yakni ibarat selisih antara polisi dan warga, dalam hal bermotor. Ibarat atau mirip seorang polisi negara bertemu seorang ayah warga biasa. Motor itu adalah doa Nurbuwat. Ada seorang ayah naik motor, oleh karena terdesak keadaan (misal anaknya sekarat di rumah sakit, atau istrinya darurat mau melahirkan, atau bahkan rumah keluarganya terjerat hutang hingga terancam sita oleh “Bank”, atau seterusnya), sang ayah itu langsung naik motor saja, tanpa periksa kelengkapan berkendaraan, dan tanpa berhitung kecepatan di jalan raya, menuju ke tempat istri atau si anaknya. Sementara itu, si polisi melihat ada seorang pria, si ayah tadi, bermotor dengan kencang di jalan raya, lalu polisi segera menyergap, tidak terlalu perduli hakikat persoalan si ayah, kecuali, memang si ayah terlihat dan tertangkap naik motor dengan ngebut. Malangnya juga, motor yang dipakai si ayah tidak bersurat lengkap dan ada komponen modifikasi pada motor yang dianggap juga melanggar ketentuan hukum ‘syariat’. Polisi tidak mau tahu persoalan apa dibalik prilaku kebut si ayah tadi—‘hakikat’nya, kecuali, polisi tahu sebatas pelanggaran si ayah saja. Polisi nyaris tidak mau repot membedakan antara bagaimana wajah si ayah ngebut naik motor ‘reot’ sebagai wajah orang yang panik dan lagi susah, dengan wajah si orang mapan naik motor ‘indah’ ngebut sebagai wajah orang kaya yang habis pakai sabu-sabu renyah. Pokoknya di mata polisi, si ayah tadi bermotor dengan ngebut, dan bermotor dengan tidak jelas asesorisnya.
    Logika dari 2 kutub tadi terkadang atau memang harus berbeda: polisi lebih banyak melihat-memburu secara yuridis normatif, sedangkan “si ayah” warga biasa tadi melesat-melaju secara praktis substantif. Kira-kira begitulah. Lalu, “polisi Negara” menegakkan hukum demi tata tertib, “warga biasa” mendapatkan hukum demi tata patuh. Keduanya sama-sama perlu, dan tidak perlu pecah pisah dengan “gergaji-palu”. Warga tidak mungkin bisa hidup tanpa polisi, sebagai jaminan ketertiban sipil; sedangkan polisi juga tidak mungkin bisa kerja tanpa warga, sebagai jaminan keteradaan konstitusi. Memang ada ironi, meski tidak secara keseluruhannya, bahwa polisi lebih terlihat sibuk mencari-cari kesalahan warga demi keuntungan diri sendiri.
    Nah, kembali ke soal doa Nurbuwat dengan segala kritik dan tanggapannya. Kritik tentang doa Nurbuwat itu perlu; tetapi hormat terhadap pengguna doa Nurbuwat, itu juga sama perlunya. Terhadap apapun: “Koreksi” itu mengkiritisi, yang memang berbeda dengan mencari-cari kesalahan; sedangkan “Reaksi” itu menanggapi, yang memang berbeda dengan mencaci-maki demi ke-aku-an. Di satu pihak, kita perlu kritik progresif, tapi di lain pihak, kita tidak perlu reaksi konservatif. Kalaupun forum ini ada perdebatan agamis berubah menjadi pertengkaran teologis, yah terpaksa, “tak apalah….”, asalkan jangan menjadi perkelahian fisik-anarkis. Sekali lagi, bagi saya tak masalahlah dengan pertengkaran itu. Segala sesuatu memang tidaklah mudah untuk memuaskan semua pihak, jika itu berdasar motif “keinginan”, bukan “kebutuhan”. Jangankan niat jahat, niat baik pun sering juga disalah-tanggapi. Kalau memang doa Nurbuwat ada yang keliru, katakan saja ada yang keliru. Kalau itu adalah contoh sebuah motor ‘si ayah’ yang jelek, ya kalau bisa berikanlah atau tunjukanlah motor yang baik itu mana. Kalau koreksi, ya selayaknya koreksi. Memang idealnya, sebagaimana Al Quran telah menginstruksikan kepada kita-kita sebagai berikut:
    فَبِمَا رَحٛمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنٛتَ لَهُمٛۚ وَلَوٛكُنٛتَ فَظًّا غَلِيٛظَ الٛقَلٛبِ لَا نٛفَضُّوٛا مِنٛ حَوٛلِكَۖ فَاعٛفُ عَنٛهُمٛ وَاسٛتَغٛفِرٛ لَهُمٛ وَشَاوِرٛهُمٛ فِى الٛاَمٛرِۚ فَاِذَا عَزَمٛتَ فَتَوَكَّلٛ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الٛمُتَوَ كِّلِيٛنَ.
    (ال عمرن: ١٥٩)
    Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilinganmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Ali Imran 3: 159)
    Sebuah ayat indah tentang berdoa, berdialog, bergaul, dan bermusyawarah. Kepentingan saya disini adalah, bahwa dahulu, terus terang, waktu saya masih SMP, pada akhir tahun 1990-an, saya pernah mengamalkan doa Nurbuwat itu. Meski tidak rutin, tetapi pernah, gitulah. Memang, saya dapatkan doa itu dari buku Mujarobat milik orangtua saya, yang mungkin dibelinya memang di emperan toko “kelas orang pinggiran”. Bapak saya berpendidikan rendah dan juga berekonomi rendah, dan sanggupnya hanya beli buku yang kelas emperan toko. Lagipula, bapak saya juga bukan orang yang gemar membaca, jadi beli buku ya asal beli, mau baca, ya syukur, nggak juga nggak dengkur. Mungkin begitu.
    Di rumah saya sewaktu kecil itu tidak ada buku agama yang terhitung berkualitas “akademis”, tapi yang ada adalah buku yang bersifat “praktis”, bahkan dalam hal Mujarobat itu, memang berkualitas “mistis”. Kalaupun ada buku agama, yang saya ingat, bahwa bapak saya pernah beli buku karya Moh. Rifa’i yang berjudul: “Risalah Tuntunan Shalat Lengkap”. Hanya buku itu. Dan itu pun jarang dibaca oleh bapak saya, yang sebagai orang Jawa, malas sholat dan mulas syariat—waktu itu. Kelak tahun 2007-nya, semua buku itu hilang terbakar api saat rumah orangtua saya kebakaran hingga cukup habis-habisan harta yang tak seberapa.
    Oh ya, saya pernah punya buku agama, yang saya beli dengan tabungan duit jajan saya sendiri. Buku itu masih ada hingga sekarang, tidak terbakar, karena sempat saya bawa di kos-kos tempat saya kuliah dulu. Bukunya adalah karya Ustad Maftuh Ahnan berjudul “Mutiara Hadist Shohih Bukhori” Surabaya: Karya Ilmu, 1992, dengan harga Rp.1500, yang menurut ukuran waktu itu, mahal juga, karena duit jajan sekolah saya sehari hanya 100 perak. Tapi, buku Mujarobatnya lebih dahulu saya baca daripada buku hadist yang secara “populer” itu. Sekali lagi, bapak saya orang yang tidak gemar membaca. Seingat saya, “ajaran” bapak saya ada pada pernyataan2nya yang kelewat lugu. Begini, waktu SD itu, saya pernah ikut pengajian di sekitar rumah saya, ikut baca “Alif-alifan” di sebuah mesjid di Sumatera. Saya pernah tanya ke bapak saya, mengapa dia tidak mau sholat ke mesjid dan kenapa juga jarang baca buku-buku agama? Untuk pertanyaan pertama, dia jawab bahwa pulang kerja itu lepas magrib, jadi bapak saya yang “kuli” perusahaan swasta itu merasa capek kok harus pergi ke mesjid, serta dia jawab kira-kira begini: ”Kalau bapak ke mesjid, dan nonggok di sana sampai malam, ntar bapak lupa kerja, siang ngantuk, kamu lapar, siapa yang cari makan?!”. Lalu, untuk pertanyaan mengapa jarang baca buku agama, dia menjawab kira-kira redaksinya begini: “Lebih baik jangan banyak tahu hukum agama, daripada tahu banyak tapi malah banyak melanggar. Contohnya banyak, tuh, lihat tetangga kita. Ngajinya saja yang fasih, tapi perangainya kayak orang nggak tahu ngaji! Orang yang tidak banyak tahu hukum, kalau melanggar, dosanya kecil. Orang yang tahu hukum, lalu melanggar, itu dosanya besar…” Kurang lebih begitu ucapan bapak saya sewaktu masih kecil dan masih SD.
    Mengapa saya bertanya seperti itu kepada bapak saya? Karena, salah satunya, saya pernah hampir berkelahi dengan seorang kawan sepengajian, yang berbilangnya bapak-ibu saya itu “kafir”. Ceritanya begini. Sewaktu masih anak kecil itu, di mesjid dekat rumah saya, ada seorang teman yang mempermalukan saya dihadapan teman2 yang lain. Dia bilang bapak ibu saya itu orang “kafir”, dengan alasan bahwa bapak ibu saya tidak pernah ke mesjid. Mungkin, rasa malu saya jadi semakin meningkat, ketika, anak sepengajian itu, rupanya juga sedang ingin mendekati seorang gadis manis, yang sama-sama juga saya taksir. Disitulah, dia bebas mengatakan dan mempromosikan istilah “kafir” yang dimaksudkan kepada ibu bapak saya. Tentu saja saya marah, dan saya biarkan dia berkata seperti itu, sampai akhirnya waktu isya datang dan pengajian selesai. Lalu pada waktu pulang pengajian, dia saya cegat di tempat yang biasa dia lewat pulang mengajinya. Saya sudah bersiap dan berencana akan menonjok mukanya. Ketika dia lewat, dan telah dekat, saya bilang kepadanya: “Tadi di dalam mesjid kau bilang bapak ibuku kafir, sekarang, coba ulangi sekali lagi”. Waktu itu rupanya dia diam seribu bahasa, tidak ada tanggapan, hanya wajahnya berubah menjadi panik, lalu saya tidak bisa memulai suatu eksekusi’, karena tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu. “Oh cengeng! Mulut besar rupanya kau!” Begitu oceh saya, dan dia saya bebaskan lewat, dan tidak jadilah eksekusinya. Setelah agak jauh, sambil terisak-isak, dia malah mengancam, “Awas kau ya, aku bilangin sama bapak aku” Begitulah singkat ceritanya. Bapak saya memang enggan ke mesjid, tapi saya tidak terima bapak saya dibilang “kafir”. Begitulah sewaktu saya masih kecil, dan pernah marah dengan cara anak kecil tentunya.
    Kemudian kembali ke soal di forum ini. Waktu SMP itulah, saya pernah baca buku Mujarobat milik bapak, dan sempat saya hafal dan sempat saya amal doa Nurbuwat. Seingat diri, saya hanya sering mengamalkannya sampai SMP kelas tiga. Setelah itu tidak pernah lagi, meski saya tetap rajin sholat 5 waktu. Namun, setelah dewasa, tepatnya waktu kuliah di Yogya, dari tahun 2007 hingga akhir 2011 ini, boro-boro amal doa Nurbuwat, sholat lima waktu atau sholat jumat pun—saya lewat. Itu terjadi oleh karena satu dan dua sebab, yang sulit saya jelaskan di sini. Namun begini, tadi diatas saya sempat kutip perintah ayat 159 Ali Imran yang berbunyi “… kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilinganmu…”, maka perlulah pula dijelaskan kemana praktek kelembutan itu sendiri. Konkritnya, tidak seorangpun yang senang disebut kafir, syirik, musyrik—walaupun itu memang benar-benar begitu. Bahkan, hal ini seakan sudah menjadi suatu aksioma, bahwa orang kafirpun tidak mau disebut kafir, sama seperti orang alim yang tidak mau disebut dirinya suci. Begitu pula, nyaris tidak ada orang musyrik yang mau disebut musyrik, nyaris sama seperti orang berilmu yang tidak mau disebut sudah banyak ilmu. Ringkasnya, orang itu lebih rela diperlakukan lemah lembut agar tidak kian menjauh dan sudi mendekat kebenaran dari suatu kritik, jika memang berniat mengkritik secara baik-baik. Lagipula, terhadap rakyat lemah (umat-mustad’afin), jika mereka keliru sekalipun ya harus dikritisi dengan cara yang lemah lembut pula. Pilihlah disksi yang lunak dalam berucap dan kata yang sedap agar dipahami umat. Segala sesuatu memang tergantung keadaannya. Jangan terbalik-balik, dengan penguasa keliru tapi kuat kita bersikap lemah lembut; sementara terhadap rakyat keliru tapi lemah itu kita bersikap keras. Petani miskin atau buruh melarat, misalnya, jika keliru dalam IBADAH, itu tetap harus didekat dengan lemah lembut. Sebaliknya, terhadap penguasa atau majikan, jika keliru dalam MUAMALAH, itu boleh saja atau harus dikritik dengan lebih lugas. Garisbawahi, orang lemah, bahkan orang kafir yang lemah, itu lebih diutamakan untuk didekat dengan lemah lembut. Bahkan Tuhan pun, menurut sebuah hadist, akan mendengarkan dan mengabulkan doa orang teraniaya meski dia seorang kafir. Bisa saja terjadi, petani ‘kafir’ dan miskin oleh penguasa zalim, kemudian berdoa, dengan doa Nurbuwat pula, akan lebih didengar Tuhan daripada doa ulama mapan yang cenderung dekat dengan penguasa sebagai patron ‘main-stream’ politik-ekonominya itu. Sekali lagi, konkritnya, tidak seorangpun yang senang disebut kafir, syirik, ataupun musyrik. Kalaupun ada pihak yang pernah “senang” disebut begitu, yach mungkin itu adalah saya di suatu ketikanya di Yogyakarta, yang itu pun oleh karena diucapkan oleh orang yang lemah lembut. Ini memang berbeda dengan sewaktu masih kecil dulu di Sumatera.
    Di Yogyakarta, dulu, saya punya seorang teman yang terkenal berwatak dan bersikap lemah lembut, seorang santri dari keluarga asli NU Tuban dan berpendidikan Muhamadiyah Yogyakarta, namanya Ahmad Nashih Luthfi, yang sering dipanggil Luthfi saja. (Saya memang tidak pernah mendengar cerita tentangnya berkaitan dengan suatu kekerasan, tetapi saya menduga kini, bahwa dia memang tidak pernah berkelahi secara fisik sejak kecil.) Begini: oleh karena saya sudah cukup lama, yakni tahun 2007 itu, tidak pernah sholat jumat, maka saya pun pernah bertanya kepada Luthfi tadi tentang semacam hukum fiqh. Saya bilang kepadanya, bahwa saya pernah baca suatu tulisan entah kapan dan entah di mana, yang mengatakan bahwa seseorang pria muslim yang tidak sholat jumat lebih dari 3x berturut-turut, maka ia disebut KAFIR. Saya tanya, bahwa saya sudah lebih dari 3x berturut-turut tidak sholat jumat, dengan begitu, tetapkah saya juga disebut KAFIR sedangkan saya masih beriman kepada Allah, Nabi, Kitab, Malaikat, dsb? Apakah saya hanya Kafir secara fiqh saja ataukah tidak kafir secara hakikat? Ataukah ada istilah lain KAFIR yang khusus bagi orang yang masih beriman kepada rukun Iman tapi tidak sholat jumat? Kawan saya sejenak kelihatan seperti berfikir agak payah. Tampaknya, dia ingin tetap tidak terlihat bersikap keras atau kasar, baik itu pada nada bicara maupun pilihan kata, namun juga tetap berusaha ingin jujur. Akhirnya, sambil bernada canda dia bilang begini: “Ah, sudahlah, nggak usah repot-repot berfikir bagaimana hukumnya secara fiqh ataupun tidak. Anggaplah, dirimu memang sudah KAFIR, gitu” Lucu sekali nada dan pilihan katanya, dan waktu itu saya segera menimpal kecil saja “Oh, jadi aku ini sudah Kafir toh?”, dan dia hanya tertawa kecil saja. Sekali lagi, itulah dimana saya tidak marah disebut Kafir, karena mungkin selain diksi “Anggaplah dirimu memang Kafir”—yah sekadar “anggaplah..” tadi, juga karena hal tersebut disampaikan dengan nada yang tidak menghujat. ”Anggap’ dan tidak “menghujat”. Tidak ada suatu ‘rasa’ bahwa saya akan dipermalukan di situ, meski tetap dipersalahkan. Oleh karena ‘rasa’ atau ‘hati’ saya tidak dipermalukan, maka ‘otak’ saya pun jadi sering bertanya-tanya sendiri: “Benarkah saya seorang kafir?”
    Lain waktu dan lain orang, bukan saya saja yang pernah menjadi orang yang suka bertanya, atau sekadar berkomentar. Seorang kawan yang lainpun, yang masih satu kampus juga, dan yang bernama MH—pernah bertanya atau tepatnya berceloteh tentang kepengecutan kawannya pada mahluk gaib. Dia waktu itu, yang sedang KKN di daerah Bantul-Yogyakarta, pernah mengadu soal kawannya yang takut pada “demit dan hantu”. Ceritanya begini. Si MH punya teman-teman satu unit KKN-nya, yang temannya itu berkunjung ke sebuah rumah warga, yang ternyata itu adalah rumah kosong. Nah rumah kosong itu, yang ketika diketuk pintunya, ada suara manusia yang menjawab, tetapi tidak dibuka pintu. Oleh warga yang lain, dijelaskan bahwa itu adalah rumah kosong. Baru mereka sadar, siapa yang jawab panggilan mereka waktu itu kalau bukan mahluk ghaib atau semacam jin ataupun hantu? Begitu pikir mereka. Oleh karenanya, mereka menjadi ketakutan dan melapor kepada kawan saya itu, yang bernama MH tadi, tentang hal ‘suara gaib’ itu. Justru kawan saya si MH ini sama sekali tidak percaya. Dengan sendirian saja, si MH ini mendatangi rumah kosong itu dan mengundangi isi rumah itu berkali-kali, dari pintu depan, jendela samping, dan pintu belakangnya. Tak ada sahutan dan tak ada kejadian. Akhirnya dia berkesimpulan, tidak ada setan dan tidak ada hantu, kecuali fantasi-ilusi anggota unit KKN-nya saja. Dia menjadi heran, kenapa orang gampang menjadi penakut dan tidak rasional begitu.
    Si MH ini juga pernah berceloteh lagi kepada saya, tentang suatu malam, dia berjalan bersama teman KKNnya, di tempat yang dianggap warga—angker. Menurut temannya, mereka melihat rombongannya ditatapi oleh mahluk besar-gelap yang bermata merah. Padahal, si MH tidak melihat ada apa-apa. Lagi-lagi, si MH ini berprotes kepada saya, mengapa banyak orang yang berhalusinasi tentang sesuatu yang disebut jin dan hantu, dan kenapa orang menjadi sedemikian penakutnya, meski mereka itu sholat lima waktu segala. Nah, saya pun menimpalinya dengan berkata santai: “Oh, aku pikir bukan begitu persoalannya. Menurutku, mereka mungkin memang ditemui oleh mahluk ghaib itu. Soal dirimu yang tidak ditemui oleh atau tidak berhalusinasi seperti mereka, bukan begitu. Masalahnya, tidak akan ada satupun jin atau setan, dhemit atau lelembut yang berani menemuimu dirimu. Semua mahluk itu pada takut kepadamu. Disitu letaknya mengapa kamu tak bertemu dengan mahluk itu dan bukan mereka kawan KKNmu terlalu berhalusinasi. Yang jelas, semua jin dan setan takut alias ‘ewuh pakewuh’ denganmu!” Dia heran, dan saya bilang sekali lagi: ”Semua iblis itu pada takut kalau ketemu kamu!” Dia bertanya, “Maksudnya?” Nah, saya jawab dengan mengungkit ucapan dia sendiri beberapa waktu lalunya begini: “Lho, dulu ‘kan kau pernah bilang nggak percaya adanya Tuhan?! Ya kan?!” Dia seperti mengingat-ingat dan tidak membantah, maka saya sambar lagi dengan berkata: “Yang aku tahu, kalau menurut Al Quran, raja setan atau mbah iblis itu sejak zaman Adam pernah bertemu Tuhan. Pasti, setan percaya Tuhan itu ada, karena dia pernah bertemu dengan Tuhan. Hanya saja, setan bertemu dengan Tuhan itu untuk bertengkar dengan Tuhan soal Nabi Adam. Dan pasti, sampai sekarang setan tetap percaya adanya Tuhan, hanya saja, dia pembangkang Tuhan. Lha dirimu bagaimana? Dirimu itu kan tidak percaya adanya Tuhan, sedangkan Iblis percaya adanya Tuhan. Otomatis, kamu lebih hebat daripada iblis. Akibatnya, iblis sungkan dan enggan ketemu kamu, karena semua jenis setan itu masih akui adanya Tuhan. He he he, semua iblis itu sadar diri, bahwa kamu itu lebih hebat darinya. Kata iblis, ‘bayangkan, orang ini nggak percaya ada Tuhan, apalagi terhadap eksistensi kita, entah malah dianggap apa kita-kita ini?’ Makanya, tak satupun iblis mau bertemu dan bertampak wajah dengan kamu. Mereka minder semua sama kamu. Jadi, kalau hanya jin kelas rumah kosong atau hantu penunggu pohon besar, ya jelas nggak akan berani ketemu sama kamu, gitu…” Saya beri keterangan seperti itu, dia malah tersenyum-senyum yang kecut saja. Memang, MH pun pernah berpendapat, bahwa setan itu tidak ada kecuali itu hanyalah sebuah konsep tentang kebodohan, kepicikan, kemalasan, dan ketakutan. Separuhnya, saya pun juga ada setujunya dengan pendapat dia seperti itu. Selesailah di situ dan fokusnya apa di sini? Dia tidak mau marah dengan argument saya tadi, dan saya pun tak perlu resah dengan argumen dia. Semua punya pikiran masing-masing. Saya pun bersyukur untuk satu hal, bahwa banyak teman sekampus itu berusaha tidak pernah berbicara kasar, melainkan bersikap lembut. Waktu itu kita sama-sama sadar sebagai orang terpelajar, berbicara itu adalah kasar bila tidak ada sifat benar, minimal benar di tingkat logika atau nalar. Bernalar itu bagian berdialog, yang tentu anti-kasar. Saya tidak akan menilai apakah benar-salah isi dialog semacam itu sekarang, kecuali dialog dengan teman-teman itu benar-benar terjadi dulunya. Kira-kira begitulah keadaan tahun 2007-2008, dan saya memang ada di situ. Masa-masa dimana saya sudah lupa apa itu doa Nurbuwat! Eh, kini kembali teringat.
    Baiklah, sekarang saya coba meneluri (atau menanggapi) kembali doa Nurbuwat itu, semampu saya. Lalu, untuk mempermudah fokusnya, maka saya bahas berdasarkan kalimat perkalimatnya, yang dibuat secara terpecah kira-kira sebanyak 17 kalimat.
    KALIMAT ke-1 dari doa Nurbuwat, yakni:
    اَللّٰهُمَّ ذِيٛ السُّلٛطَانِ الٛعَظِيٛمِ
    Artinya: “Ya Allah, Dzat Yang memiliki kekuasaan Agung,”
    Ustadz Ammi Nur Baits mengatakan bahwa doa Nurbawat itu ‘banyak kejanggalan’, yang berarti kejanggalan itu ada lebih dari satu, yang dapat saja terdiri dua, tiga, empat dan seterusnya; karena disebutkannya ‘banyak’, begitu. Lalu, nah ini, Ustadz Ammi Nur Baits pula yang menyatakan, bahwa kalimat ke-1 doa tadi terdapat kekeliruan dari segi tata bahasa Arabnya, sehingga harus dirubah menjadi:
    اَللّٰهُمَّ ذَا السُّلٛطَانِ الٛعَظِيٛمِ
    Itulah perubahannya. Baiklah, oleh karena saya tidak tahu tata bahasa Arab, maka koreksi Ustadz Ammi Nur Baits ini saya terima saja. Dengan demikian, berarti waktu masih SMP itu dulu, saya pernah mengamalkan doa Nurbuwat dengan teks yang salah. Saya pikir koreksi semacam ini bagus juga. Bagi penerbit buku-buku Mujarobat, bolehlah pertimbangkan teks Arab koreksi tadi. Hal itu dengan syarat: jika setuju. Sementara itu, saya masih perlu bertanya: apakah kesalahan secara tata bahasa itu juga berakibat mengubah arti? Kalau tidak, ya syukurlah. Baiklah, begini saja, yang saya ketahui, suatu teks Arab itu yang sama sekali tidak boleh berubah, bahkan satu huruf sekalipun hanyalah ayat-ayat Al Quran. Mungkin Ustadz Ammi Nur Baits dapat membantu kita-kita yang keliru ini, dapatkah ditunjukan dokument awal dari teks doa Nurbuwat, sehingga apakah itu keliru sejak awal ataukah keliru baru belakangan ini? Maksud saya pada teks Arabnya. Walaupun saya cemas, apakah mungkin pencipta doa ini termasuk orang yang buta tata bahasa Arab? Mohon maaf, itu pertanyaan yang mungkin tidak perlu dijawab dengan segera, karena butuh penelitian yang cukup serius. Selain itu juga Pak Ustadz Ammi Nur Baits, apakah teks koreksi dalam bahasa Arab yang Ustad buatkan tersebut, masih berarti secara bahasa Indonesia (Melayu)-nya: “Ya Allah, Dzat Yang memiliki kekuasaan Agung”?
    Kalau arti bahasa (bangsa) kitanya masih begitu, walau teks bahasa (bangsa) Arabnya sempat keliru, maka saya ini dulu-dulunya tidak terlalu keliru, atau keliru yang tidak keterlaluan waktu dulu. Insya Allah, pasti, saya aman untuk tidak syirik ataupun tidak musyrik. Karena yang syirik itu bila saya berdoa dengan kalimat yang mengandung arti, misalnya:
    “Ya Al Latta, zat yang memiliki kekuasaan di tanah Arab”, atau
    “Ya Al Uzza, zat yang memiliki kekuasaan,” atau “Ya Manah, oh anak perempuannya Tuhan”, (Nama-nama ‘penguasa’ ini dari Surah An Najm 53:19-20) atau
    “Ya ratu laut selatan, yang kekuasaannya begitu seksi”, atau “Ya raja ghaib laut utara, yang kekuasaannya begitu ‘jantan’ di laut Jawa,”.
    Selain itu, saya ini juga Insya Allah, pasti juga tidak musyrik, karena saya tidak berdoa dengan kalimat: “Ya Baal, zat yang memiliki kekuasaan yang menyuburkan tanah pertanian bangsa Phunicia,” (nama penguasa ini di surah Ash Shaffaat 37: 125), atau
    “Ya bintang Sirius, zat yang memancarkan kuasa cahaya begitu indah bagi bangsa Ad” (Surah An Najm 53: 49-50), atau
    “Ya dewi Sri, zat titisan tuhan yang menguasai tanah pertanian bangsa Jawa”, atau “Ya Sang Hyang Kamajaya, zat yang menguasai raja asmara”, atau
    “Ya Marduk, zat yang menguasai negara Babilonia”, atau
    “Ya dollar dan rupiah, zat yang memiliki kekuasaan agung di sebagian jiwa bangsa Indonesia”. Dengan demikian, mungkin Pak Ustadz Ammi Nur Baits akan setuju dengan pendapat saya, bahwa saya ini tidak termasuk orang yang syirik, karena pernah mengamalkan doa Nurbuwat. Karena saya yakin, bahwa kalimat ke-1 dari doa Nurbuwat tadi memang mengandung nama ALLAH yang sesungguhnya, yakni “asmaul husna” untuk Tuhan YME, dan berdamping dengan nama “AL ‘AZHIIMU” (Dzat yang Maha Agung). Nama Allah, bukanlah nama-nama tuhan atau dewa-dewa yang lain. “Ya Allah, Dzat Yang memiliki kekuasaan Agung,” itulah yang arti teks bahasa kita.

    KALIMAT ke-2, dari doa Nurbuwat adalah:
    وَذِى الٛمَنِّ الٛقَدِيٛمِ وَذِى الٛوَجٛهِ الٛكَرِيٛمِ
    Artinya: “Yang memiliki anugerah yang terdahulu dan memiliki wajah yang mulia,”
    Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, kalimat ini termasuk janggal dari segi tata bahasa Arab. Saya akui, saya tidak paham dengan istilah teknis bahasa Arab itu, karena saya bukan santri. Beginilah resikonya bagi saya yang hanya berilmu mengaji sebatas “alif-alifan” alias buku “Qaa’idah Baghdaadiyah” tanpa pendalaman, sehingga saya “harus” patuh pada Ustadz Ammi Nur Baits tadi. Menurut beliau, kalimat ke-2 doa Nurbuwat tadi “seharusnya”—bukan “sebaiknya” ataupun “selayaknya”—berganti menjadi:
    وَذَا الٛمَنِّ الٛقَدِيٛمِ وَذَا الٛوَجٛهِ الٛكَرِيٛمِ
    Semoga arti bahasa Indonesianya masih tetap “Yang memiliki anugerah yang terdahulu dan memiliki wajah yang mulia” begitu, karena Ustadz Ammi Nur Baits tidak membicarakan masalah arti ataupun maknanya, setidaknya sampai pada kalimat ke-2 doa Nurbuwat ini. Dalam bagian ini, saya hanya ikut dan hanya bisa mencatatkan suatu hal yang tidak kalah penting, yakni nama “AL QADIIM” itu sama dengan”AL MUQADDIM” yang artinya “Yang Mendahului” sebagai nama lain dari “ALLAH”, bersama-sama dengan nama “AL KARIIM” yang artinya “Yang Maha Mulia”. Dengan demikian, semangat kalimat ke-2 ini telah cukup sesuai dengan anjuran Surah Al A’raaf Ayat 180 yang berbunyi: “Allah mempunyai asmaa-ul husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya…” Cukup tepat demikian?! Tepat maksud pengutipan bahwa doa panggil ‘asma ul husna’-nya dengan dalil Quran ini?

    KALIMAT ke-3, doa Nurbuwat adalah:
    وَوَلِيِّ الٛكَلِمَاتِ التَّا مَّاتِ وَالدَّعَوَاتِ الٛمُسٛتَجَابَةِ
    Artinya: “yang menguasai kalimat-kalimat yang sempurna, dan doa-doa yang mustajab”
    Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, kalimat ini juga “seharusnya” berganti, yang kasroh menjadi harakat fathah, pada “wawaliyyi” dengan:
    وَوَلِيَّ الٛكَلِمَاتِ التَّا مَّاتِ وَالدَّعَوَاتِ الٛمُسٛتَجَابَةِ
    Begitulah. Tidak ada keterangan lebih lanjut dari Ustadz Ammi Nur Baits mengenai hal ini, kecuali beliau segera meloncat saja kepada kalimat ke-7 doa Nurbuwat. Apakah saya juga akan meloncat ke kalimat ke-7 doa Nurbuwat ini? Tidak begitu, saya belum mau segera kesana, sebelum melihat-lihat dulu kalimat yang ke-3 ini dengan sedikit lebih seksama. Misalnya, “wawaliyyal kalimaatit tammaati” yang artinya Allah “yang menguasai kalimat-kalimat sempurna” itu. Untuk “Kalimat-kalimat sempurna” dalam kalimat ke-3 doa Nurbuwat ini jelas mengacu mutlak “kalimat Allah”, bukan kalimat yang lain, semisal “kalimat-kalimat” dari para penyair gurun padang pasir, ‘kalimat wangsit’ dukun gua-gua negeri Arab, atau kalimat penyihir dari istana Kinda raja-raja Arab kuno. Di sini, “Kalimat sempurna” adalah kalimat Allah dalam bentuk teks wahyu mutakhirnya: Al Quran, dan bukan teks sebagaimana tuduhan penyair gurun pasir kepada para Nabi sebagai KALIMAT sihir. Tuduhan itu jelas seperti maling teriak maling. Tentang KALIMAT SEMPURNA Allah itu, saya tidak mempunyai rujukan utamanya, kecuali mungkin dari Surah Al Baqarah Ayat 37 yang berbunyi: “Kemudian Adam menerima beberapa KALIMAT dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” Para ahli tafsir mengatakan bahwa “KALIMAT” untuk Nabi Adam as itu adalah doa-doa taubat. [Saya kutip dari Al Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: CV. Toha Putra dan Departemen Agama Republik Indonesia, 1989.hlm. 15] Dengan demikian, doa Nurbuwat kalimat ke-3 ini tentang Allah sebagai penguasa “doa-doa yang mustajab”, tetap terasa menyambung dengan maksud frasa “kalimat sempurna” sebelumnya: Allah “yang menguasai kalimat-kalimat yang sempurna,”. Sekali lagi, secara maknawiyah, “kalimat sempurna” ini bukanlah kalimat dari “permainan kata-kata kosmis (cosmic pun)” yang diciptakan oleh para penyair/ pujangga istana demi kekuasaan politis raja-raja klasik, misal demi mengatakan “raja itu adalah dewa” demi proyek legitimasi politik raja berkuasa mutlak-mutlakan. [Istilah ini dikutip dari Lorraine Gesick, “Pengantar: Pusat, Simbol, dan Hirarki Kekuasaan. Esai-esai tentang Negara-negara Klasik Indonesia” (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989).hlm.xxii, dan soal para penyihir-penyair di situs Qaryat al-Faw di Arab Saudi kuno dalam bukunya David Nicolle, “Atlas Sejarah Dunia Islam”. Terj, Rosida. Jakarta: Aksara Qalbu, 2009.hlm.15 boleh disimaklah]. Jadi, “Kalimat sempurna” adalah kalimat Allah yang seperti juga pernah diterima oleh Nabi Musa, bukan kalimat penyihir oleh kehendak raja Fir’aun. Apalagi kalimat ke-3 doa Nurbuwat, bukan pula kalimat-kalimat ‘sakti’ para raja Jawa sekalipun, yang lebih banyak digunakan untuk mendikte rakyatnya. Kalimat sakti itu sering berupa “syair sejarah” yang dibuat oleh para pujangga istana (saya suka menyebutnya “penyihir resmi” negara), entah dalam bentuk ‘babad’, ‘serat’, ataupun ‘hikayat’. Kalimat sakti yang memuji-muji raja. Akhirnya, saya juga ingin bertanya, kepada siapapun, apakah “kalimat sempurna” dalam doa Nurbuwat itu memiliki potensi bukan sebagai KALIMAT milik Allah?

    KALIMAT ke-4 dari doa Nurbuwat adalah:
    وَعَا قِلِ الٛحَسَنِ وَالٛحُسَيٛنِ مِنٛ اَنٛفُسِى الٛحَقِّ
    Artinya: “penjaga Hasan dan Husain dari jiwa-jiwa yang haq”
    Tidak ada ulasan ataupun koreksi dari Ustadz Ammi Nur Baits. Dengan begitu, secara tata bahasa Arab, kalimat ke-4 dari doa Nurbuwat ini tidak ada masalah?

    KALIMAT ke-5, yakni
    وَعَيٛنِ الٛقُدٛرَةِ وَالنَّا ظِرِيٛنَ
    Artinya: “dari pandangan mata yang memandang”
    Secara tata bahasa Arab, kalimat ke-5 dari doa Nurbuwat ini juga tidak ada masalah? Yach, sepertinya akan begitu, ah akan seperti begitu?! Nanti kita selidiki, “… pandangan mata yang memandang” penuh selidik semacam apa itu.

    KALIMAT ke-6, yakni
    وَعَيٛنِ الٛاِ نٛسِى وَالٛجِنِّ وَالشَّيَا طِيٛنِ,
    Artinya: “dari pandangan mata manusia dan jin.”
    Demikian pula Ustadz Ammi Nur Baits juga tidak memberikan koreksi apapun.

    KALIMAT ke-7, ini yang menarik, karena kalimat ke-7 ini adalah ayat Al Quran yakni:
    وَاِنٛ يَّكَا دُالَّذِيٛنَ كَفَرُوٛا لَيُزٛ لِقُوٛ نَكَ بِاَبٛصَارِهِمٛ لَمَّا سَمِعُوا الذِّ كٛرَ وَيَقُوٛ لُوٛنَ اِنَّهٗ لَمَجٛنُوٛنٌ.
    (القلم: ٥١)
    Artinya:
    Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, takala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”. (QS Al Qalam 68: 51)
    Kalimat ke-7 inilah yang langsung saja dibahas oleh Ustadz Ammi Nur Baits, dengan meloncati kalimat ke-4 hingga kelimat ke-6 dari doa Nurbuwat di sini. Baiklah, lalu, Ustadz Ammi Nur Baits memang menyebutkan kalimat ke-7 ini sebagai suatu ayat, tetapi tidak secara lugas disebut sebagai Surah Al Qalam Ayat 51 begitu. Oleh karena itu, sayalah yang coba untuk menggarisbawahinya, bahwa ini memang ayat Quran. Ini penting, karena begini: ketika Ustadz Ammi Nur Baits membahas kalimat doa Nurbuwat dari kalimat ke-1 hingga ke-3 doa Nurbuwat, beliau membongkar teks kalimat itu secara kritis terdapatnya cacat kalimat dari aspek tata bahasa Arabnya. Sementara untuk kalimat ke-7 ini, kritik secara tata bahasa seperti itu sudah tidak dilakukan lagi oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Mungkin, Ustadz Ammi Nur Baits ingin mengakui secara positif bahwa kalimat ke-7 ini memang sudah benar, bahwa ini betul-betul teks langsung dari Al Quran, dan siapa sih yang sanggup merubah-rubah teks ayat Quran?! Pencipta dan pengamal doa Nurbuwat tidak melakukannya bukan?!
    Namun agak mengejutkan, Ustadz Ammi Nur Baits mengupas kalimat ke-7 ini dalam kritik yang lain lagi, yakni kritik dari aspek “Susunan kalimat yang tidak sistematis dan tidak memiliki kaitan” begitu. Ustad menyatakan ayat atau kalimat ke-7 ini dikutip secara tiba-tiba saja dalam doa Nurbuwat ini. Menurutnya, semula bagian awal doa Nurbuwat penuh dengan pujian kepada Allah, tiba-tiba saja doa beralih kepada ayat [51 Surah Al Qalam] yang kisahan tentang Nabi Muhammad SAW, yang hendak diserang orang kafir melalui penyakit TATAPAN MATA yang hasad (dengki). Sekali lagi, benarkah doa Nurbuwat “tiba-tiba nggak nyambung” begitu? Menurut saya, tidaklah demikian. Mohon maaf, ustad-lah yang secara tiba-tiba membahas kalimat ke-7 ini, tanpa menyambung atau mengurai dahulu kalimat ke-4 dan ke-6 doa Nurbuwat, yang berisi doa pujian nama Allah sang “penjaga Hasan dan Husain dari jiwa-jiwa yang haq, dari pandangan mata yang memandang, dari pandangan mata manusia dan jin.” Jika saja mengurai kalimat ke-4 dan ke-6 dahulu, tentu tidaklah ada kesan tiba-tiba tersebut, karena kata kuncinya ada pada TATAPAN MATA atau PANDANGAN.
    Marilah kita kunjungi kembali kalimat ke-4 doa Nurbuwat tentang Allah sang “penjaga Hasan dan Husain dari jiwa-jiwa yang haq” tadi, yang sangat mungkin berkaitan dengan doa Nabi Muhammad SAW untuk kedua putranya itu—Hasan dan Husein. Apa doa Nabi Muhammad saw itu? Inilah doanya Nabi: “Aku melindungi kamu dengan KALIMAT-KALIMAT ALLAH yang sangat sempurna dari setiap setan dan mahluk-mahluk beracun, serta dari setiap PANDANGAN MATA yang menimpanya (yang dapat menyebabkan celaka)” [Doa ini dari HR Bukhari melalui buku Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Doa Dzikir dan Wirid Sehari-hari Menurut Al Quran dan As-Sunnah. Terj. Abdullah. (Solo: Insal Kamil, 2006).hlm. 160-161] Perlu diketahui, ini sebuah doa Nabi Muhammad SAW yang sebelumnya merupakan doa Nabi Ibrahim as untuk putranya si Ismail dan Ishaq. Labib MZ menerjemahkan doa Nabi ini juga ke Bahasa Indonesia dengan redaksinya: “Aku lindungkan kamu berdua dengan menyebut KALIMAT ALLAH yang sempurna, dari tiap-tiap setan dan binatang berbisa dan dari tiap-tiap MATA yang MEMANDANG SINIS”. [Teks Indonesia dikutip dari Labib MZ, Bimbingan Doa dan Dzikir Mujarob. (Jombang: Lintas Media, tth).hlm. 140, dan teks doa berbahasa Arabnya via hadist itu juga ada di situ, saya tidak menyalinnya di sini,kecuali kelak ada yang memintanya]. Semoga pembaca bisa bersabar, bahwa saya ingin memperlihatkan adanya pola: “KALIMAT SEMPURNA” vs “TATAPAN SADIS”, eh “TATAPAN SINIS” Dengan begitu, saya berani katakan bahwa kalimat ke-7 atau Quran Surah Al Qalam 68: 51 ini tetap—sekali lagi—tetap nyambung dengan tema pujian nama Allah (sang penguasa “KALIMAT SEMPURNA”) pada kalimat ke 4 hingga 6 doa Nurbuwat tersebut.
    Terus terang, saya sangat suka dengan catatan Al Qalam 68: 51 (sebagai kalimat ke-7 doa Nurbuwat) ini yang dibuat Departemen Agama Islam Indonesia. Ayat 51 ini bertutur: “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan PANDANGAN mereka, …” Menurut tafsir ulama berjamaah di Indonesia, ayat 51 Al Qalam menggambarkan suatu kebiasaan di tanah Arab, seseorang ada yang dapat saja membinasakan binatang atau manusia dengan PANDANGAN [mata] yang tajam. Teknik pencelakaan via mata tersebut juga disasarkan mereka kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi Allah memeliharanya, sehingga terhindar dari bahaya PANDANGAN itu. Masih menurut penafsir Indonesia, kekuatan PANDANGAN mata itu pada masa sekarang [tahun 1980-an] dikenal sebagai HIPNOTISME. [Dikutip lagi dari dari Al Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: CV. Toha Putra dan Departemen Agama Republik Indonesia, 1989.hlm. 965] Jika tafsirnya demikian, coba perhatikan lagi berita Ayat 51 “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu [Muhammad] dengan PANDANGAN mereka, …” tadi, ini jelas bahwa Nabi Muhammad SAW pun hampir dapat digelincirkan oleh kekuatan mata Hipnotis “kaum” padang pasir tersebut, apalagi umat-umatnya yang selevel manusia biasa itu?
    Hipnotis memang sejenis kekuatan mistis (dan logis) via PANDANGAN mata, yang secara teoritis, memang pernah saya pelajari dari beberapa buku, baik kelas emperan toko maupun non-emperan, yang ternyata belum satupun yang menganggap tunggal dalam hal metode maupun alirannya. (Misalnya, Rommy Rafael di Metro TV, yang dipandu oleh Ralf Tampubolon, pernah mengatakan bahwa ilmu hipnotis, gendam, dan sihir—itu tidaklah sama dan bukan barang yang sama. Maaf, saya lupa rincian penjelasan dan kapan dia berbicara itu. Kalau jelasnya, ya tanya saja sama Romy) Kekuatan hipnotis memang dapat dipelajari oleh siapapun. Namun begini saja. Terus terang. Menurut dugaan saya, metode hipnotis yang paling “sempurna” dan lebih “kuat” adalah apa yang dimiliki oleh penyihir Fir’aun. (Pendapat lain bilang metode hipnotis yang ‘paling sempurna’ itu di Babilonia. Satu yang sulit diketahui, apakah metode hipnotis Babilonianya juga diambil oleh bangsa Yunani bercampur dengan ilmu astronomi ‘negeri Babil’?? Entahlah, tapi yang saya tahu sedikit, Hipnotis itu dari kata “hipnos”/ “dewa tidur”) Mengapa metode hipnotis dari penyihir era Fir’aun itu saya anggap lebih kuat, bahkan lebih kuat daripada kaum penghipnotisnya bangsa Quraisyi di era Nabi Muhammad saw, karena berdasarkan afirmasi dari dua ayat sekaligus, yakni:
    “Dan berapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu….” (Surah Muhammad 47: 13)
    dan juga ayat:
    “Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka [bangsa Muhammad] itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. [Biar begitu] adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?” (Surah Qaaf 50: 36),
    dan memang, mereka, penduduk di kota Mekah pun ingin membinasakan nabi Muhammad dengan hipnotis atau TATAPAN MATA yang mistis sadis itu? Tidak berdaya guna apa terhadap sang Nabi. Nah, ayat tadi dengan jelas mengabarkan bangsa-bangsa maju dan besar jaman kuno pun, yang penuh pertualangan ‘hipnotis’ politik ekonomi pun dibinasakan juga oleh Tuhan: “Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?” Sekali lagi, meski belum dibuat penelitian yang lebih akurat, bahwa kalimat sugesti ‘sihir’ Tatapan Mata mistis atau hipnotis era Nabi Musa itu begitu ‘sempurna’ dan ‘canggih’, karena syair transedentalnya sudah mengkombinasikan daya kekuatan retorika-astronomika-fisika-metafisika, dll. Halusinasi ular yang diciptakan oleh tukang sihir Fir’aun, misalnya, melalui kalimat ‘segesti’ retorika dan metafisikanya sudah hampir-hampir membuat Nabi Musa ketakutan. Tetapi, lagi-lagi, seperti yang kelak akan terjadi pada zaman Nabi Muhammad saw, hipnotis itu juga tidak berguna. Saya menduga, boleh kan menduga, bahwa hipnotis tertinggi itu ada pada penyihir Fir’aun tadi, yang telah mengkombinasikan seluruh jenis kekuatan, mulai dari RETORIKA, MATA, FISIKA, METAFISIKA, dan teknik manipulatif lainnya. (Saya berbeda dengan Quraisy Hab. Dia menolak ada ulama yang berpendapat bahwa tali-tali yang disihir menjadi ular oleh tukang sihir fir’aun itu menggunakan bahan kimia sebagai sikap anti mukjizat, namun cukup sayang Quraisy Hab tidak menyebut ulama mana yang berpendapat tidak percaya sihir gaib begitu, kecuali sihir kimia saja. Ceklah dulu di buku M. Quraish Shihab berjudul “Tafsîr Al-Misbâh. Pesan, Kesan, dan Keserasian Al Quran. Volume 7” Jakarta: Lentera Hati, 2002.hlm.621; sementara saya berbendapat bahwa penyihir itu komplit ilmunya: sihir gaib mistis dan sihir al-kemis. Baiklah, saya tahu ini perdebatan dari suatu kisah ayat yang bukan muhkamaat [jelas lugas], melainkan mutasyabihat [samar], saya juga jadi tidak ingin ngotot-ngototan yang tidak perlu.) Teknik manipulatif yang disampaikan oleh Tatapan Mata Hipnotis, itu fokus kita.
    Hal demikanlah yang mungkin diharapkan oleh pemakai doa Nurbuwat ini, keselamatan yang pernah diberikan Allah kepada Nabi juga diharapkan dapat berlaku kepada umatnya, yah umat yang mendoa dengan doa Nurbuwat. Jadi, ayat 51 Al Qalam yang berbunyi “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu [Muhammad] dengan PANDANGAN mereka, …” tadi telah menyambung sekali dengan doa Nurbuwah sebelumnya, yakni: pujian “Kalimat Allah” yang mampu melindungi Hasan dan Husein dari PANDANGAN/tatapan sadis. Baiklah, saya ringkaskan doa Nurbuwat ini berurutan secara logis: dari kisah anak-anaknya Nabi si Hasan dan Husein yang diberi doa kalimat perlindungan, sampai kisah Nabi Muhammad yang diberi kalimat perlindungan Allah dari para penyihir bertatapan sadis.

    KALIMAT ke-8, doa Nurbuwat juga ayat dari Al Quran yakni:
    وَمَا هُوَ اِلَّا ذِكٛرٌ لِّلٛعٰلَمِيٛنَ.
    (القلم: ٥٢)
    Artinya:
    Dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. (QS Al Qalam 68: 52)
    Dari segi teks Arab tidak ada perubahan. Tetapi dari segi maksud, sulit diketahui. Al Quran memang peringatan dan pelajaran bagi semua manusia di bumi ini. Mungkin juga, pendoa Nurbuwat dapat berasa dalam doa dengan Ayat 52 itu bahwa Al Quran memberi peringatan: “Waspadalah terhadap aneka sihir”, dengan dirasa seperti pesan Bang Napi RCTI: “Waspadalah!”

    KALIMAT ke-9, yakni
    وَمُسٛتَجَابُ لُقٛمَانِ الٛحَكِيٛمِ
    Artinya: “dan mengijabahi Lukmanul Hakim”
    Memang, kalimat doa Nurbuwat ini bukan ayat Al Quran. Mungkin begitu, karena saya belum berhasil melacaknya, yang secara redaksi sama atau beda secara mutlaknya. Namun bukan berarti saya tidak mau mengomentari doa, khusus pada kalimat ke-9 barusan ini.
    “Mustajab” atau mumpuni yang dimaksud dalam kalimat ke-9 ini, tampaknya merujuk kepada kehikmatannya doa-doa Luqman, atau kebijaksanaan petuah-petuah hidupnya. Apa pastinya begitu? Tiap muslim memang diberitahu, bahwa Luqman adalah sosok dan nama manusia yang betul-betul istimewa. Dia bukan Nabi dan bukan pula Rasul, tapi kebijaksanaan (‘hakim’) hidupnya membuat Allah memperhatikan dia dengan mencatatkannya, kedalam Quran yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw.
    Mungkin pula, maksud kalimat ke-9 dari doa Nurbuwat barusan, dapat dikaitkan dengan surah Luqman Ayat 12 terkait ilmu hikmah-nya si Lukman Hakim. Perhatikanlah bunyi ayat 12 Surah Luqman berikut:
    “Dan sesungguhnya telah Kami berikan HIKMAT kepada LUQMAN, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
    Hikmat itu menjadi nikmat bagi diri Luqman. Nama dan doanya itu sengaja disenggol dalam doa Nurbuwat dengan harapan-harapan hikmat yang sama nikmat mustajabnya. Itu penjelasan yang bersifat praktis. Namun penjelasan filosofis, nah, para pemakai dan penghayat doa Nurbuwat mayoritas adalah golongan tarekat, merekalah yang mungkin bisa menjelaskannya, bukan saya. Kalau saya hanya bisa mengatakan secara terbatas—ini seandainya benar, bahwa orang Jawa itu paling mudah didekati dengan penjelasan filosofis ilmu hikmat daripada penerangan ilmu syariat. Ada penjelasan nyaris tanpa penjelasan. Maksudnya, penjelasan ilmu hikmah itu tanpa penjelasan teoritis dan yuridis, yang demikian itulah menjadi kesenangan orang Jawa. Bagi saya, itu adalah kelebihan sekaligus kelemahan orang Jawa, terutama pengamal doa Nurbuwat yang didapatkannya dari primbon doa Jawa tersebut, (dari primbon yang dipopulerkan lagi di emper-emper toko pasar rakyat). Mereka ini, golongan penghayat, senang betul menghayati segala hal lebih kepada mistis-filosofis ketimbang repot memahami hal yuridis teknis keagamaan, dalam hal ini: Islam. Baiklah, daripada melebar kemana-mana, saya rangkum saja, bahwa ‘Hikmat’ seorang Luqman sebagai nama dan kerja ‘doa’ syukurnya terhadap nikmat menjadi semangat moral dan spiritual yang diharapkan dari doa Nurbuwat. Itulah letak pentingnya nama Luqmanul Hakim, yang di dalam Surah Luqman Ayat 19, si Luqman menutup nasihat bijak kepada anaknya sebagai berikut: “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” Suara saya, jiwa Anda, hati Saudara, Rasa kita, bukanlah sura keledai? Setuju begitu? Semoga. (Meskipun saya agak cemas, penjelasan saya ini nanti malah dianggap pula ‘tidak sistematis dan tidak nyambung’ begitu. Hanya cemas saja, boleh ‘kan?!)

    KALIMAT ke-10, nah ini ada kaitan jelas dengan ayat Quran secara tekstual. Perhatikan dulu kalimatnya:
    وَوَرِثَ سُلَيٛمَانُ دَاوٗدَ عَلَيٛهِمَا السَّلَامُ
    Artinya: “dan Sulaiman telah mewarisi Daud ‘alaihis salaamu”
    Nah, tadi Luqman, sekarang Sulaiman. Luqman, lalu Sulaiman. Berkata Luqman, bersuara Sulaiman. Ah, Luqman dan Sulaiman. Pas, untuk orang beriman. Yah, petuah ilmu hikmah Luqman kepada anaknya yang bijak, kini petuah ilmu pemerintah Sulaiman sebagai anak terwarisi dari Daud as yang kuat. Begitulah cerita yang saya tangkap, dari Al Quran sebagai niat doa Nurbuwat. Yah, agaknya begitu. Daud as—Ayah yang kuat; sekarang Sulaiman as—anak yang hikmat. Nyambung bukan?
    Namun begini, kalimat ke-10 dari doa Nurbuwat itu tidak utuh mengambil dari Quran secara teks Arabnya. Kalau dalam Al quran secara lengkap berbunyi:
    وَوَرِثَ سُلَيٛمٰنُ دَاوٗدَ وَقَالَ يٰٓاَيُّهَاالنَّاسُ عُلِّمٛنَا مَنٛطِقَ الطَّيٛرِ وَاُوٛتِيٛنَا مِنٛ كُلِّ شَيٛءٍۗ اِنَّ هٰذَالَهُوَ الٛفَضٛلُ الٛمُبِيٛنُ.
    (النّمل: ١٦)
    Artinya:
    Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata: “Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar satu karunia yang nyata.” (QS An Naml 27: 16)
    Dengan demikian, doa Nurbuwat mengambil yang frasa awalnya Surah An Naml Ayat 16 saja (“wawaritsa Sulaimaanu Daawuuda…”). Nah, kali ini saya berurai agak teknis ketimbang mistis yang sulit diurai dan diintip itu. Apakah boleh awalnya surah An Naml Ayat 16 saja yang dipotong eh dikutip secara pendek untuk doa, dalam hal ini kalimat ke-10 Nurbuwat? Kalau saya boleh jawab, ya boleh-boleh saja. Memang dalil saya punya bukan dalil naqli, tapi dalil adat saja. Yah, dalil dari kebiasaan. Teknis memang, dan nyata praktis. Saya ambil kasus Surah Ali Imran Ayat 19 dalam zikir, yang ternyata biasa sekali diambil oleh umat Islam di Indonesia untuk berzikir, cukup dengan:
    اِنَّاالدِّ يٛنَ عِنٛدَ اللّٰهِ الٛاِسٛلَامُۗ …
    (الٓ عمران:١٩)
    Artinya:
    Sesungguhnya agama yang (diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam… (QS Ali Imraan: 19)
    Nah, ini sepotong kalimat Ayat 19 Ali Imran yang diambil depannya saja, boleh bukan? Padahal, kalau Ayat 19 Ali Imran dipakai lengkap teksnya, itu juga akan relevan dengan perdebatan di forum ini, yang bunyi lengkapnya saya catat lagi: “Sesungguhnya agama yang (diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang PENGETAHUAN kepada mereka, karena KEDENGKIAN (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS Ali Imraan: 19)
    Nah, ini sepotong kalimat An Naml Ayat 16 (“wawaritsa Sulaimaanu Daawuuda…”) untuk doa Nurbuwat mirip dengan kasus Ali Imraan: 19 (“Innaddii na ‘indallahil islaamu”), itulah yang saya dalilkan secara adatnya.
    Nah kembali pada kalimat ke-10 doa Nurbuwat, setelah An Naml Ayat 16 itu diambil sebagian pada awalnya saja, namun secara teknis pun masih disambung lagi dengan ucapan salam untuk Sulaiman dan Daud as, yakni “alaihis salam”/ “semoga kesejahteraan senantiasa terlimpah atasnya”. Ini adalah kewajiban setiap mukmin menghormati para nabi Allah, walaupun mereka (Daud dan Sulaiman) adalah keturunan dan penguasa Bani Israel. Makanya dalam teks tertulis sebagai berikut ini:
    وَوَرِثَ سُلَيٛمَانُ دَاوٗدَ عَلَيٛهِمَا السَّلَامُ
    Sekali lagi, frasa “semoga kesejahteraan senantiasa terlimpah atasnya”adalah ucapan teknis yang penting. Menurut Jerald F. Dirk, kaum Kristiani Barat merasa gelisah dengan frasa kebiasaan muslim itu, ketika salah satunya menyebut Nabi Isa, misal, dengan tambahan “‘alaihissalam” juga. [Saya kutip dari bukunya Jerald F. Dirk berjudul “Salib di Bulan Sabit”. Terj. Ruslani. Jakarta: Serambi, 2003. hlm.8], dan memang, frasa teknisnya, khusus pada nama Muhammad, selain salam juga harus ditambah shalawat terlebih dahulu. Itu juga saya baca dari bukunya Imam Nawawi berjudul “Al-Adzkar Shahih Doa dan Dzikir. Kitab Induk dan Pedoman Lengkap doa dan Dzikir yang Diajarkan oleh Nabi Muhammad saw” terj. Zenal Mutaqin. Bandung: Jabal, 2011.hlm.171. Mengucap “alaihis salam” setelah sebut nama Nabi Daud—suatu yang biasa-biasa saja, tapi ini penting. Nah, hal yang biasa saja ini juga tersedia pada kalimat ke-10 doa Nurbuwat. Ini teks bukan sekedar cocok saja dengan kaidah bahasa Arab, tetapi teks juga nyaris sudah cocok dengan kaidah doa, ya bukan demikian? Baiklah, saya akui memang ada yang masih mengganjal di situ, “alaihis salam” kepada Nabi Daud di kalimat ke-10 menjadi “alaihimassalam”, apakah itu syah menurut kaidah? Wah, memang saya buta tata bahasa Arab.

    KALIMAT ke-11, doa Nurbuwat adalah:
    يَاوَدُوٛدُ يَااللّٰهُ يَاذَالٛعَرٛشِ الٛمَجِيٛدِ يَافَعَّالٌ لِمَايُرِيٛدُ طَوِّلٛ عُمٛرِيٛ
    Artinya: “Ya Dzat Maha Mencintai, Ya Allah yang memiliki singgasana dan yang Maha Mulia, Ya Dzat yang Maha Berkuasa atas apa saja, panjangkanlah umurku,”
    Kalimat ke-11 ini termasuk unik, setidaknya menurut saya. Dibilang dia ayat-ayat Al Quran, ya ada juga benar begitu; dibilang bukan ayat Quran lagi, ya bisa keliru begitu. Baiklah. Kalimat ke-11 Nurbuwat ini mengambil dan mentrampil ayat 14 sampai 16 Surah Al Buruuj. Mari kita rinci lagi dengan simak ayat-ayatnya sebagai berikut:
    وَهُوَ الٛغَفُوٛرُ الٛوَدُوٛدُۙ.
    (البروج: ١٤)
    Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, (QS Al Buruuj 85: 14)
    Nah dalam kalimat ke-11 doa Nurbuwat diambil bagian ujung akhirannya saja, “al Wadududu” menjadi “Ya Waduudu”. Titik dulu! Lalu, ayat berikutnya,

    ذُوالٛعَرٛشِ الٛمَجِيٛدُۙ
    (البروج: ١٥)
    yang mempunyai singgasana lagi Maha Mulia, (QS Al Buruuj 85: 15)
    Nah, dalam kalimat ke-11 doa Nurbuat, ayat “dzul ‘arsyil majiidu” menjadi “Ya dzal ‘arsyil majiidu”, sampai disini saya agak bingung sedikit. Apakah ini menyalahi kaidah tata bahasa Arab? ‘dzul’ berubah menjadi ‘dzal’ begitu? Stop, kita lanjut dulu ke ayat berikutnya, yakni:
    فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيٛدُۗ
    (البروج: ١٦)
    Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki, (QS Al Buruuj 85: 16)
    Dalam kalimat ke-11 doa Nurbuwat, ayat ini menjadi tervariasi dari “Ya fa ‘alul lima yurii du”/ “Ya Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki” dengan doa susulannya “towiil ‘umrii”/ “panjangkanlah umurku,” begitu. Pak Ustadz Ammi Nur Baits tidak mempersoalkan perubahan teks ini, tapi mempersoalkan lafal di ujung permintaan doa kalimat ke-11 ini, yang nanti dilihat juga kejadiannya.
    Kalau seandainya ada yang bertanya: apakah sah-sah saja ayat Quran ditambah-tambah begitu? Saya sementara jawab, jika tidak mengubah, hanya mengkreasi “asmaul usna”nya saja, saya jawab: mungkin boleh-boleh saja. Lagi-lagi, saya tidak punya dalil teoritisnya kecuali dalil dari kaum praktisinya. Saya anggap hal ini mirip kejadian ayat ‘basmalah’. Agar terpercaya, marilah perhatikan ayat ‘basmalah” di bawah ini barang sejenaaak saja, yakni:
    بِسٛمِ اللّٰهِ الرَّ حٛمٰنِ الرَّحِيٛمِ.
    (الفاتحة: ١)
    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (QS Al Fatihah 1: 1)
    Dalam tradisinya praktisi, yang juga kini saya pakai dan yakini, Al Fatihah Ayat 1 ini bisa divariasikan sebagai pembuka kalimat doa penutup doa sholat, maksud variasinya adalah:
    اٰمِيٛنَ يَااَللّٰهُ, اٰمِيٛنَ يَارَحٛمٰنُ, اٰمِيٛنَ يَارَحِيٛمُ, اٰمِيٛنَ يَامُجِيٛبَ السَّٓاىِٔلِيٛنَ.
    Artinya:
    Perkenankanlah wahai Allah, perkenankanlah wahai Dzat yang Maha Pemurah, perkenankanlah wahai Dzat Yang Maha Pengasih, perkenankanlah wahai Dzat Yang Memperkenankan para peminta.
    Lihatlah proses kejadiannya, ayat pertama dari Surah pertama Al Quran tertambah “Amiin-amin”, lalu ujungnya masih dikasih pula “amiin ya mujiibas saaa iliina”, yang ini agak mirip susulan ujung Surah Al Buruuj Ayat 15 tadi dengan doa: “towiil ‘umrii”/ “panjangkanlah umurku,” Dengan begitu, apakah ada masalah? Tidak ada. Yang penting ayat basmalah tidak berubah atau bercantum nama dewa serakah, seperti:
    يَااللّٰتَ يَاالعُزّٰى يَااِبٛلِيٛسَ…
    Artinya: “Ya Latta ya Uzza ya Iblis”
    Nah, Ustadz Ammi Nur Baits tidak mempermasalahkan lagi BENTUK teks, tetapi ISI teks doa yang berbunyi “panjangkanlah umurku,” tersebut.
    Dalam tema ‘hakekat’ doa Nurbuwat yang dianggap penuh kejanggalan itu, dibuat ada kategori “Isi permintaan yang tidak tepat”, ya oleh ustad, dengan mempersoalkan doa “[Ya Allah] panjangkanlah umurku” ini. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, doa meminta panjang umur apalagi secara eksplisit begitu bukanlah doa yang terpuji. Saya mengerti sekali apa yang diuraikannya. Tetapi, yang tidak terpuji bukanlah ketika meminta panjang umur, tetapi doa-doa yang sebaliknya: meminta kebinasaan diri dan meminta dipendekkan umurnya. Misalnya, seorang manula sakit menahun berdoa: “Ya Allah, aku sakit ini begitu lama, kenapa nggak Engkau ambil saja nyawaku dengan segera”, atau doanya anak muda sakit asmara: “Ya Allah, cintaku kandas digilas orang kaya yang culas, maka daripada aku tanggung derita mememelas, matikan saja aku segera pun aku ikhlas”, atau doa orang taat ibadah tapi melarat: “Ya Allah, hidup sebagai orang Indonesia serasa jadi orang laknat, yah aku melarat, takut menjilat koruptor seperti GayusTambunan dari orang pejabat Pajak, kenapa tidak kau segerakan padaku alam akhirat yang penuh nikmat bagi rakyat?” Seluruh doa barusan ini mengandung unsur bunuh diri, dan tidak terpuji. Kalau bedoa meminta panjang umur apakah sesuatu yang tidak terpuji? Yah, tergantung si pendoanya saja? Saya garisbawahi, tidak terpuji, jika doa mengandung unsur bunuh diri. [Saya meminjam ulasan Imam Nawawi dalam bukunya berjudul “Al-Adzkar Shahih Doa dan Dzikir. Ibid.hlm.504, yang mengutip hadis (HR Abu Dawud)]
    Dalam hal ini, saya lebih memilih untuk menjelaskan daripada memvoniskan ’doa panjang umur’ itu sebagai suatu terpuji atau agak terpuji, atau malah sama sekali tidak terpuji. Kesadaran tentang hakikat umur panjang itu sendiri, yang perlu dijelaskan. Penjelasan saya begini. Memang benar, bahwa umur seseorang itu sudah ada ukurannya, dan tidak mungkin ditambah atau dikurang, sebagaimana yang tertuang dalam Surah Faathir Ayat 11: “… Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfudz). ….” Jadi, betul memang umur itu suatu yang ukurannya telah ditentukan oleh Tuhan. Masalahnya, jika ingin menekankan pentingnya berumur panjang secara kualitatif, yah diterangkan saja. Tidak perlu pula terlalu meniadakan “doa minta umur panjang” sebagai sesuatu yang tidak terpuji. Toh secara kuantitatif, terkait soal permintaan panjang umur tersebut, Quran juga mengakomodasikannya secara kritis dan logis, yakni: “… dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. …” (QS Al Hajj 22: 5) Jadi, kalau siapa pun mau berdoa minta panjang umur dengan kalimat doa tadi yakni:
    يَافَعَّالٌ لِمَايُرِيٛدُ طَوِّلٛ عُمٛرِيٛ
    “Ya Dzat yang Maha Berkuasa atas apa saja, panjangkanlah umurku,” ya biarkan saja. Tidak perlu ada istilah tak terpuji. Kalau ada waktu, dan mau, serta berilmu, ya silahkan, penikmat doa Nurbuwat diberitahukan saja bahwa keadaan berumur panjang beresiko alamiahnya, penyakit pikun. Itu saja kalau dari saya, yang saya ini waktu kecil termasuk anak orang kota yang biasa-biasa saja, yang paling senang kalau diundang oleh anak agak gedongan untuk ikut bernyanyi: “panjang umurnya, panjang umurnya. Panjang umurnya serta mulia, sertaaa muuuliaaa, sertaaa muuulia. Tiup lilinnya, tiiiup lilinnya WUUSS…..DOR! (bunyi balon)”.

    KALIMAT ke-12, dari doa Nurbuwat adalah:
    وَصَحِّحٛ جَسَدِيٛ وَاَوٛلَادِيٛ وَحَبِّبٛ لِلنَّاسِ اَجٛمَعِيٛنَ
    Artinya: “sehatkanlah jasad tubuhku, kabulkan hajatku, perbanyakanlah harta bendaku dan anakku (pengikutku), cintakanlah semua manusia”
    Seutuhnya, kalimat ke-12 ini tidak terpisah dengan doa Nurbuwat kalimat ke-11 (minta panjang umur) tadi. Hanya saja demi kemudahan dari pembahasan, terpaksa, ya kalimat “sehatkanlah badan tubuhku, kabulkan hajatku, perbanyakanlah harta dan anakku” dianggap sebagai kalimat ke-12, yah serius, demi kalimat ke-12 untuk dibahas.
    Ustad ini mengkritik doa ini dengan hadist yang shahih, bahwa doa minta anak dan harta banyak jika tanpa minta berkahnya adalah salah. Saya kira ini tetap suatu masukan. Tentu suatu masukan. Waktu saya masih SD pun saya sudah diajarkan suatu doktrin Orde Baru waktu kampanye Keluarga Berencana (KB): “Banyak anak Banyak Rejeki, itu suatu pandangan yang penuh kekeliruan”. Dan untuk lancarkan proyek itu, pemerintah mencari dukungan ulama-ulama, dan seperti biasa, ulama pun saling bertengkar, dan saya waktu itu sebagai rakyat anak SD yang kecil, tidak tahu dan tidak ikut-ikutan bertengkar. Sekarang saya bertemu diskusi tentang argument bahwa berdoa minta banyak anak dan harta sebagai sesuatu yang keliru, jika tanpa meminta kriterianya, yakni berkah.
    Baiklah, saya balik lagi ke doa Nurbuwat saja. Sebenarnya kalimat ke-12 doa Nurbuwat ada juga nilai kebenarannya. Saya ingin fokus pada doa “minta harta dan anak banyak”nya saja. Begini, apakah salah orang berdoa minta harta dan anak yang melimpah? Dalam kasus tertentu, hal demikian tidaklah terlalu bermasalah. Banyak harta dan anak, ada pula sifat positifnya. Meski itu tidak mutlak sifat positifnya dalam kasus zaman tertentu. Toh Al Quran pun secara realistis mengakui hal tersebut dengan Surah Al Israa 17: 6 yang berbunyi “Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan HARTA KEKAKAYAAN dan ANAK-ANAK dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.” Jadi, orang berdoa minta supaya menjadi kelompok yang besar dan menang, dengan harta dan anak yang banyak, ya juga tidak salah. Hanya saja, dalam berdoa itu, jangan main mutlak-mutlakan dengan Tuhan, itu juga suatu peringatan. Misalnya Tuhan berkata, “Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak!’”(QS Maryam 19: 77) Dengan begitu, apakah aktivis doa Nurbuwat termasuk “kaum kafir ayat-ayat” ketika bermunajat minta anak dan harta yang banyak? Kalau hanya berdoa saja, asal tidak berkata dan bermaksa “Pasti aku akan diberi harta dan anak”, ya buat saya, itu tidak menjadi persoalan, dan bukan “kafir”. Ini pendapat saya, bukan fatwa, tapi logika, dari al Quran yang terbaca.
    Selain butuh berdoa, manusia memang perlu berwaspada. Tidak mutlak, banyak anak dan harta hidup itu aman dan berkah. Kadangkala keadaan ‘banyak’ itu menjadi pencobaan, bahkan pengazaban. Di tempat lain dan kasus lain pula, Al Quran juga mengingatkan hal tersebut dengan: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS At Taghaabun 64: 14). Jadi, bukan mutlak istri dan anak akan menjadi musuh atau mutlak menjadi sekutu, ini suatu peringatan sekaligus pelajaran saja. Ayat 14 tadi masih dilugaskan lagi oleh Ayat berikutnya “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS At Taghaabun 64: 15) Al Quran memang memberi banyak kisah tentang hidup yang sudah-sudah sebelum era nabi Muhammad, bahwa harta dan anak itu dekat dengan kemegahan dan kemewahan yang diimpikan semua manusia bahkan negara. Pada kasus tertentu, banyak anak itu memang bermakna banyak pengikut. Kemegahan bisa menjadi kehancuran. Tetapi, memang ada kasus, para Nabi pun kadang dilecehkan dengan sedikitnya anak atau pengikut oleh orang megah dan kaum ‘gagah’, sebagaimana ayat berikut ini berbilang:
    Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya” Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab,” (QS Surah Saba’ 34: 34-35)
    Selain itu, ada ciri orang munafik dan musyrik berlawanan dengan ciri Nabi dan para pengikutnya, yang diberitahukan oleh Quran kepada Muhammad saw sebagai berikut: “(keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu…” (QS At Taubah: 69). Apakah para pengamal doa Nurbuwat itu orang kaya dan orang kuat sehingga pantas disebut musyrik dan munafik? Apakah para pendoa Nurbuwat orang yang sudah benar-benar kaya? Di desa-desa, aktifis doa ini rata-rata orang melarat yang sedang berdoa ingin punya anak dan harta yang banyak. Itu saja. Justru orang munafik dan syirik adalah orang kuat, baik segi harta maupun anak; dan biasanya ulama konservatif yang senang poligami dan anti doa Nurbuwat juga termasuk orang kuat dibandingkan pengamal doa Nurbuwat, maka apakah, … apakaaaah? Ah, cukup! (Astarghfirullah al’adzim, saya mau sholat magrib dulu… )
    Begini, agar jelas maksud saya. Al Quran pun mengakui bahwa banyak anak dan harta sebagai salah satu tanda kekuatan individu atau suatu kelompok. Jadi kalau Al Quran mengakui, mengapa kita cenderung mengelabui? Baru berdoa minta ingin jadi orang kaya saja orang sudah dipersalahkan, khusus jika dengan doa Nurbuwat ini. Padahal, di luar sana, ada orang yang sudah kaya harta dan anak berbuat salah tapi tidak dipersalahkan. Waktu Soeharto jaya, anda kita dimana? Oh, rakyat Lapindo oh oh oh, orang miskin berdoapun dipersalahkan, oh jangan begitulah. Jadi, saya tidak perlu banyak berkomentar, kalau Al Quran sudah bertatar, sehingga saya hanya berkomentar bagi yang berdoa dengan kalimat ke-12 Nurbuwat “sehatkanlah jasad tubuhku, kabulkan hajatku, perbanyakanlah harta bendaku dan anakku (pengikutku), cintakanlah semua manusia”, ini tidak terlalu soal!
    Sekali lagi, orang berdoa itu selalu dengan kalimat doa yang bernada ideal, meski realitasnya dunia tidak bercerita ideal seperti dalam doa. Perhatikanlah ujung doa Nurbuwat barusan tadi, yang kira-kira “[Ya Allah…] cintakanlah semua manusia [kepada sesama manusia],” Apa yang salah dengan doa seperti ini? Tidak. Doa ini cukup bagus, karena mulia harapannya. Yah, tidak ada yang terlalu salah bukan? Yang salah jika kita berdoa semisal: “bencikanlah semua manusia terhadap sesama manusia”, nah ini baru doa yang keliru, karena tanpa didoakan seperti itu pun manusia cenderung

  81. karena tanpa didoakan seperti itu pun manusia cenderung membenci orang yang bukan sehati dan segolongannya. Saya meyakini hati dan pikiran sendiri, bahwa frasa ujung dari kalimat ke-12 doa Nurbuwat “wa habbib linnaasi ajma’iina”/ “[Ya Allah…] cintakanlah semua manusia [kepada sesama manusia]” merupakan sesuatu imaji harapan akan kedamaian dan kecintaan (mahabbah) yang ideal antar sesama manusia. Inilah ideal, idealisme yang altruis tercetus dalam berdoa, yang kenyataannya bagaimana? Kenyataan atau realitas? Nah, Al Quran bukan kitab munafiq, realitasnya itu dikatakan oleh sebuah ayat adalah sulit, dan dunia penuh cinta damai itu hanya ada di surga di akhirat, bukan di bumi yang rumit. Tetapi perintah Quran itu untuk cinta dan mau cinta sesama itu ada dan itu sebuah keharusan, walaupun Al Quran memberitakan suatu kenyataan bagi seluruh anak-cucu Adam as:
    Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, SEBAGIAN KAMU MENJADI MUSUH BAGI SEBAGIAN YANG LAIN. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” (Surah Al A’raaf 7: 24)
    Walaupun Surah Al A’raaf 7: 24 berkata bahwa sebagian manusia itu potensial selalu bermusuhan, kita tetap harus berjuang jangan sampai selalu bermusuhan, minimal berdamaian melalui doa, misalnya “cintakanlah semua manusia [dalam kedamaian]”, sebagaimana salah satunya ada di doa Nurbuwat ini. Yah, doa itu secara umum boleh sebagai suatu cita-cita ideal, ketika bumi bukanlah alam akhirat yang damai dan adil. Oh ya, jangan keliru pula membaca Surah Al A’raaf 7: 24 bahwa “SEBAGIAN KAMU MENJADI MUSUH BAGI SEBAGIAN YANG LAIN…” tadi, terus dianjurkan praktek saling bermusuhan. Keliru itu, misalnya, “Yuk kita saling bacok-bacokan. Kamu Ahmadiyah, aku anti Ahmadiyah”, atau misal yang lain pada tahun 1965-66, “Ah biarpun dia petani beragama Islam, tapi dia adalah anggota BTI, ya tetap PKI, maka SIKAT!” atau “Biarpun dia hanya guru SD yang beragama Islam, tapi dia anggota PKI, ya tetap ateis makar Soekarno, BUNUH!” (Dua dialog ini saya buat berdasarkan penelitian Hermawan Sulistiyo), atau pada tahun pasca reformasi misal “Ah, biarpun dia beragama Islam dan pandai baca Al Quran, dia itu anggota Jaringan Islam Liberal, BABAT!”, dan misal kekeliruan seterusnya.
    Ini gara-gara saya berkomentar tentang kalimat ke-12 Nurbuwat “sehatkanlah jasad tubuhku, kabulkan hajatku, perbanyakanlah harta bendaku dan anakku (pengikutku), cintakanlah semua manusia”, lumayan panjangnya, saya kok belum bisa selesai juga.

    KALIMAT ke-13, yakni
    وَتَبَاعَدِ الٛعَدَا وَةَكُلَّهَا مِنٛ بَنِ اٰدَمَ عَلَيٛهِ السَّلَامُ
    Artinya: “dan jauhkanlah permusuhan dari anak cucu Adam ‘alaihis salaamu”
    Nah terjemahan ini masih dari bahasa Melayu-an, dan ini juga kalimat yang tidak langsung terambil dari Al Quran. Mungkin Ayat 31 Surah Al Baqarah dapat membantu memahami kalimat ke-13 ini, karena berbicara tentang kehidupan yang dinamis dari anak cucu Adam as. Silahkan cek sendiri sana Ayat 31 Al Baqarahnya. Sementara itu, untuk komentarnya kalimat ke-13 sini, rasanya sudah cukup dibahas di kalimat ke-12 doa Nurbuwat barusan.

    KALIMAT ke-14, yakni
    مَنٛ كَانَ حَيَّا وَيَحِقَّ الٛقَوٛلُ عَلَى الٛكَافِرِيٛنَ.
    Artinya: “orang-orang yang masih hidup (di hatinya) dan semoga tetap ancaman siksa bagi orang-orang kafir.”
    Nah, ini terjemahannya, seperti yang sudah-sudah, memang saya pakai bahasa Melayu. Kecuali bahasa Indonesianya bagaimana? Nah, oleh karena ini ayat Al Quran, maka saya pakai terjemahan bahasa Indonesianya. Tetapi, perhatikanlah, bahwa kalimat ke-14 doa Nurbuwat mengambil ayat Quran dengan teks Arabnya sebagai berikut:
    لِّيُنٛذِرَ مَنٛ كَانَ حَيًّا وَّيَحِقَّ الٛقَوٛلُ عَلَى الٛكٰفِرِيٛنَ.
    (يسٓ: ٣٦)
    supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir. (QS Yaa Siin 36: 70)
    Inilah teks lengkap Surah Yasin Ayat 70; namun begitu, beberapa huruf awal ayat 70 Yasinnya dipotong, demi penyesuaian kalimat doa dengan kalimat sebelum-sebelumnya. Dalam bahasa Indonesianya menjadi : ”…kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir”, kira-kira begitulah. Apakah ini termasuk kaidah tata bahasa dalam berdoa? Hmm..

    KALIMAT ke-15, nah, doa ini juga dari Al Quran, yakni
    وَقُلٛ جَآءَ الٛحَقُّ وَزَهَقَ الٛبَاطِلُۖ اِنَّ اٛلبَاطِلَ كَانَ زَهُوٛقًا.
    (الاسٓراء: ٨١)
    Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah suatu yang pasti lenyap. (QS Al Israa 17: 81)
    Redaksi bahasa Arab dari Al Qurannya tidak ada yang berubah. Lalu? Saya tidak bisa menyederhanakan ayat yang luas makna ini; begitu juga saya tidak bisa meluaskan makna ayat yang padat begini. Apa maksud dan kaitan doa Nurbuwat mencantumkan surah Al Israa 17: 81-nya? Saya merasa sulit. Spiritualitas: yang salah lenyap, yang jahat minggat; yang benar datang, yang tenar jelang; yang sihir minggir, yang munir mahir; yang kikir singkir; yang zikir zahir; dalam hal apa? Sekali lagi, ini hanya pendoa saja yang bisa merasakan, saya tak mau merasakan itu jika sedang banyak memikirkannya dengan cara-cara berdebat seperti di forum ini. Dua hal yang saya ketahui dari Al Israa 17: 81 ini adalah: pertama, ayat ini berlatar kisah penaklukan mutlak Nabi Muhammad Saw ke Mekah tanpa pertumpahan darah, sungguh indah dan megah [Setidaknya, menurut bukunya Philip K. Hitti]. Kedua, ayat ini pernah dikutip oleh ‘ulama’ Partai Persatuan Pembangunan si Ismail Hasan Metareum, ketika menggambarkan Soekarno yang ‘batil’ (karena pro marxis) dikalahkan oleh Soeharto yang ‘benar’ (pro kapitalis)—dengan pertumpahan darah. Yah, pertumpahan darah, tanpa pernyataan perang dari Soekarno selaku presiden, kecuali dengan Supersemar yang samar-samar, yang kini masih saja dianggap-dipuja benar! [saya tidak mau asal bicara, kalau ada waktu, cobalah simak makalah Ismail Hasan Metareum, ”Menuju Kehidupan Politik yang Demokratis, Jujur, dan Adil”, dalam Dawam Rahardjo. (ed), Reformasi Politik: Dinamika Politik Rasional dalam Arus Politik Global. Jakarta: PT. Intermasa, 1997) hlm.260]

    KALIMAT ke-16, dari doa Nurbuwat adalah:
    وَنُنَزِّلُ مِنَ الٛقُرٛاٰنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحٛمَةٌ لِّلٛمُؤٛ مِنِيٛنَۙ وَلَاَيَزِيٛدُ الظّٰلِمِيٛنَ اِلَّا خَسَارًا.
    (الاسٓراء: ٨٢)
    Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS Al Israa 17: 82)
    Nah secara tekstual, ayat 82 Al Israa ini dalam doa Nurbuwat juga tidak mengalami perubahan apapun. Dengan ayat 82 ini, membuat doa menjadi serasa sangat bertenaga menjelang tuntasnya berdoa. Apakah sadar pengamal doa Nurbuwat bahwa ayat 82 itu memang bisa menjadi penawar hati yang kalut? Semoga begitu. Dan apakah sadar sebagian pengkritik (atau penghujat) bahwa Al Quran bukan rahmat bagi yang zalim? Mohon maaf, lagi-lagi, pertanyaan mungkin agak kasar. Rahmat itu bukan barang murah, tetapi orang susah bisa mendapatkannya dari ‘rasa’ ayat 82 ini. Rahmat bukan bagi dan dari yang zalim, baik zalim tindakan maupun zalim ucapan. Saya punya contoh kezaliman dalam ucapan yang jauh dari rahmat, setidaknya menurut ‘rasa’ dan ‘akal’ saya. Begini, di era Soeharto jaya, secara antusias yang condong buas, Bismar Siregar mengatakan bahwa PKI (Partai Komunis Indonesia) itu SETAN di jaman Orde Lama-nya Soekarno, sedangkan LSM HAM bersama PRD (Partai Rakyat Demokratik) juga SETAN di era Orde Pembangunan Soeharto. [Saya kutip dari Bismar Siregar, ”Moralitas dan Upaya Penegakan Hukum di Indonesia: Tantangan dan Peluang”, dalam Dawam Rahardjo. (ed), Reformasi Politik: Dinamika Politik Rasional dalam Arus Politik Global. (Jakarta: PT. Intermasa, 1997).hlm.192-194] Apakah benar orang PKI yang juga ada yang beragama Islam seperti Sudjadi Krido Mardi itu SETAN? Apakah benar LSM HAM tempat Munir dkk dan PRD tempat Budiman Sudjatmiko juga sebagai SETAN? Lantas, Soeharto dan Bismar sebagai apa? Yah, sebagai malaikat bagi rakyat? Hmm.. Kata hujatan memang jauh dari rahmat, itulah zalim melalui ucapan. Sayang, di era pasa Reformasi pun muncul hujatan, misalnya melalui singkatan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang saya baca di internetan [??] berubah menjadi “Jaringan Iblis Laknat”. Subhanallah! Darimana kreatifitas yang tidak rahmat seperti ini datang? Menurut saya, ya dari penyakit warisan anti rahmat-nya Orde Baru. Saya khawatir, para aktifis doa Nurbuwat juga gilirannya akan disebut SETAN, atau minimal pengikut SETAN? Waduh, akibatnya, saya pun termasuk SETAN, karena pernah mengamalkannya? Padahal, dalam doa Nurbuwat yang dulu pernah saya baca itu, salah satu doanya berbunyi dari ayat Quran: “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” Tidak ada untungnya menyebut orang lain SETAN, bukan? Jauh berbeda bukan nilai ‘rasa’-nya, antara laknat dengan rahmat semaksud Ayat 82 Al Israa’ tadi?

    KALIMAT ke-17, yakni
    سُبٛحٰنَ رَ بِّكَ رَبِّ الٛعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوٛنَۚ وَسَلٰمٌ عَلَى الٛمُرٛسَلِيٛنَۚ وَالٛحَمٛدُ اللّٰهِ رَبِّ الٛعٰلَمِيٛنَ.
    (الصّٓفّت: ١٨٠-١٨٢)
    Maha Suci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejehteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. (QS Ash Shaffat 37: 180-182)
    Kalimat ke-17 ini mengambil 3 ayat sekaligus dari Surah Ash Shaffat, dan memang 3 ayat ini selalu digunakan sebagai penutup dari doa sholat atau doa-doa yang lain. Dengan sampai pada kalimat ke-17 ini, berarti masing-masing isi doa Nurbuwat sudah tersaji ‘tuntas’.
    Memang masih ada ‘hakikat kesesatan doa Nurbuwat’ yang terakhir menurut Ustadz Ammi Nur Baits, yakni dari segi “Keutamaan yang berlebihan”, sampai Ustad berkesimpulan bahwa doa ini bukan dari Nabi Muhammad Saw dan berekomendasi untuk siapapun tidak usah mengamalkannya. Baiklah, itu kritik, yang jika ada istilah dari segi “Keutamaan yang berlebihan”, berarti ada lawannya yang juga berlaku, “kekurangan yang berlebihan”. Maksud saya begini, kita rentan untuk serba main mutlak-mutlakan begitu, karena hal mutlakan itu dapat berlaku juga pada kita sendiri, “terpecik ke muka sendiri”. Tidak mungkin mutlak manusia itu akan selalu jahat sebagaimana Iblis, tetapi juga tidak mutlak manusia itu akan baik seperti Malaikat. Kalau misalnya saya mengecap orang itu SETAN secara mutlak-mutlakan, maka resikonya jika dia terbukti tidak setan atau semiripnya, maka sayalah yang setan itu. Kira-kira begitulah maksudnya dari serba dua arah berlebihan tadi.
    Kembali lagi, mengenai “keutamaan yang berlebihan” itu, pada dasarnya saya pun setuju-setuju saja, bahwa hal itu memang ada benarnya. Sesuatu yang berlebihan dalam menggambarkan manfaat doa Nurbuwat tidak akan pernah saya pungkiri itu. Sportif saya katakan: ya memang ada begitu. Bahkan, sejak baca buku Mujarobat milik bapak saya sewaktu masih SD dan SMP dahulu kala, hal berlebihan yang aneh itu juga sudah saya rasakan. Contohnya, ada manfaat “Jika ingin harta dunia, maka bacalah doa [Nurbuwat] ini pada kunir, kemudian ditanam di tanah. Insya Allah jadi emas, tetapi janganlah bicara kepada orang lain” [Manfaat ini saya dapat lagi, seperti buku Mujarobat bapak saya dulu, melalui buku seharga Rp 1000, karya Moh. Saleh berjudul: “Tuntunan Shalat-shalat Tahajjud Dhuha Istikharah Taubah Hajat dan Do’a Nurbuwat.” Jakarta: Hidayat, tth. hlm.18] Nah, waktu SD itupun, saya sudah ragu dan skeptis dengan manfaat bahwa kunyit itu bisa jadi emas. Makanya, saya tahu itu, tapi saya abai saja hal berlebihan itu. Hal yang tidak berlebihanlah yang jadi perhatian, bahwa doa Nurbuwat itu dapat mengusir jin dan setan. Waktu SD itu saya memang takut lewat ke tempat gelap dan sepi, sehingga hafal Ayat Kursi dan amal Doa Nurbuwat, secara psikologis saya merasa aman dari jin dan ‘hantu’. Sekali lagi, saya akui memang ada yang berlebih-lebihan dalam mempromosikan doa Nurbuwat tersebut. Namun, lain waktu lain cerita, sekarang saya punya penilaian tersendiri mengenai hal tersebut, dengan analisis ilmu komunikasi.
    Kita, eh, baiklah, saya, bahwa idealnya mengukur bahasa komunikasi masyarakat tertentu “harus” menurut konteks zamannya sendiri. Mungkin, waktu Islam baru saja masuk ke pulau Jawa dan ke pedesaan, atau Islam baru saja hendak berkembang dan bersebar, maka para pendakwah yang notabene berhaluan tarekat mempromosikan, misalnya melalui karya Mujarobat, seperti doa Nurbuwat tadi, dengan bahasa “iklan” yang cukup provokatif untuk [keperluan] masyarakat waktu itu. Iklan manfaat doa Nurbuwat itu bak obat sosial—sengaja atau tidak—memang dibuat semenarik mungkin agar segera diminati oleh masyarakat, dan itu pula yang sekarang oleh ustad forum ini sebagai promosi “keutamaan yang berlebihan”. Kalau kita mau jeli, dengan ilmu komunikasi, bahwa cara promosi dengan mengatakan “keutamaan yang berlebihan” itu bukan hal yang asing lagi, yang sekarang pun masih terjadi pada banyak kepentingan, yang ada dalam kehidupan sekitar kita. Kalau tidak percaya, mari kita uji.
    Ada sebuah iklan rokok “asyiknya rame-rame” di televisi, kalau tidak salah jingle-nya begitu, yang secara visual menggambarkan adegan terjun dari pesawat ramai-ramai, terus bermain catur di atas udara. Itulah iklan rokok, dengan teknik visual bukan lagi sebatas verbal, dan itu jelas menggambarkan dan mempromosikan rokok dari segi “Keutamaan yang berlebihan”, bahkan sangat berlebihan. Tetapi apa ini? Hanya lucu saja, dan buat saya memang lucu. Inilah adalah satu contoh nyata adanya ilmu komunikasi (dalam bisnis) yang diterapkan kepada era kita, “berlebihan” bukan? Iklan yang “lebai” bukan? Kapan itu, ya ada di era kekinian. Kebetulan, saya suka iklan itu. (Secara teoritis, “asyiknya rame-rame” itu contoh iklan ‘majas visual’. Untuk lebih lanjut, kalau ada waktu dan mau, baca dulu bukunya Werner J. Severin dan James W. Tankard berjudul “Teori Komunikasi. Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa” Cet. Ke-4. Jakarta: Kencana, 2009. Hlm.99, tidak ada yang melarang kok]
    Ada juga sebuah iklan minuman penyegar. Secara visual, disajikan seorang gadis minum produk itu seakan diri di bawah dekat air terjun yang begitu segar, penuh dengan tiupan angin sepoy-sepoy air terjun, diiringi tanaman hijau yang semerbak. Nah, itu bahasa komunikasi iklan, termasuk ilmu komunikasi terapan. Saya bilang, itu termasuk promosi produk dengan “Keutamaan yang berlebihan”, ya tentu saja. Padahal, saya minum produk itu, yah biasa-biasa saja. Saya kalut ada hutang misalnya, saya minum produk itu ya tetap saja hutang yang terbayang, bukan air terjun indah yang melayang. Dengan begitu, hanya iklannya saja yang berlebihan.
    Dalam praktek ilmu komunikasi, iklan-iklan komersial tadi terasa lucu buat saya, tetapi tidak dengan iklan politik yang terasa bikin mulas karena begitu culas. Contoh mutakhir, ada figur yang dulunya tidak pernah berjuang dalam gerakan politik menentang korupsi Soeharto, kemudian tidak pernah pula ikut dalam gerakan politik menurunkan Soeharto, eh dalam iklan politik kok mengaku sebagai seorang reformis dan anti korupsi. Ada figur yang dulunya pernah jadi bagian rezim kekerasan Soeharto, eh dalam iklan politiknya ingin menjadi orang paling sopan dan santun dalam berpolitik di negara Indonesia. Ada figur yang dulunya diduga kuat mematai-matai mahasiswa sampai mahasiswa demo tahun 1998 Soeharto tumbang, eh dalam iklan politik mengatakan akan melanjutkan reformasi mahasiswa. Ibarat mantan perwira Fir’aun yang “selamat” dari laut, umpamanya, lalu mengatakan “Wahai, pengikut Musa, aku akan melanjutkan perjuangan Musa dalam membebaskan kamu dari pemiskinan dan perbudakan Fir’uan yang terkutuk itu”, buat saya iklan politik yang sangat membodohkan dan melebih-lebihkan figur, apalagi dengan tawaran: “BLT mau dilanjutkan apa tidak?”. Figur inilah yang dalam iklan berbual: “Katakan Tidak! Pada Korupsi” dan ingin paling terlihat penuh gebrakan perubahan, padahal dulu tidak pernah ikut perubahan, muncul sebagai pemimpin Indonesia sekarang, misalnya, namanya Soesilo Bambang Yudhoyono. Contoh yang nyata, dengan menggunakan teknik ilmu komunikasi, dijualah segala kelebihan-kelebihan yang berlebih-lebihan begitu. “Kalau rakyat memilih SBY, maka kesejahteraan akan meningkat dan keamanan rakyat akan memikat”, itu adalah semacam bahasa iklan yang sangat berlebih-lebihan, dan prakteknya adalah bukan bahasa yang sebenarnya. Seandainya iklan doa Nurbuwat dikatakan berlebih-lebihan karena mengatakan, misal kira-kiranya “Barangsiapa rakyat yang mau memilih doa ini sebagai amalan, maka dia akan terbebas dari kemiskinan dan kekufuran,” lalu dianggap menyesatkan umat; maka iklan figur politik SBY itu dapat dikatakan lebih sangat berlebih-lebihan karena misalnya, “Barangsiapa rakyat memilih saya, maka dia akan terbebas dari kemiskinan dan kebodohan warisan Soeharto”, sehingga inilah yang jauh menyesatkan rakyat. Tetapi terbukti bukan, bahwa ilmu komunikasi “lebai” itu ada dan dipakai juga sekarang? Jadi, kalau mau mempersalahkan iklan doa Nurbuwat berlebih-lebihan, dan itu bikin sesat umat, mengapa tidak sekalian katakan iklan politik Presiden SBY dan seluruh iklan tokoh seangkatannya juga dianggap berlebih-lebihan, padahal terbukti sering bikin sesat rakyat, bukan demikian?
    Begini, kembali ke iklan berlebihan doa Nurbuwat, kalau memang itu dianggap berlebihan, maka saya ingin membacanya dengan cara yang lain, agar sedikit lebih adil, bahwa rakyat susah salah, perlu lebih banyak beri maaf sambil terus beri risalah. Jaman dahulu, ada Keris Sisik Sewu yang dapat menambah derajat seseorang, nah rakyat kecil tidak mungkin mengkoleksi keris langka itu, akhirnya koleksi doa Nurbuwat—apa salah iklannya? Dulu ada Keris Sekar Susun dan keris Sumsum Buron yang dapat mendatangkan rezeki, menurut kepercayaan, nah ketika Mujarobat beriklan bahwa doa Nurbuwat dapat mendatangkan rejeki bagi rakyat miskin—apa salahnya? Daripada berburu keris yang langka dan mahal, kenapa tidak tertarik dengan doa Nurbuwat yang tidak mahal? Ada keris Carito Kanowo yang dapat menimbulkan rasa tenang seorang pejabat atau siapapun, nah, rakyat kalau pingin tenang terus tahu iklan doa Nurbuwat juga bikin tenang jiwa—apa salahnya iklan itu? Kalau benar iklan itu begitu, maka rakyat buru-buru mengamal doa Nurbuwat lebih saya setujui daripada rakyat sibuk buru memburu keris-keris keramat yang amat jimat itu. Demikianlah konteks masyarakat waktu itu, sehingga iklan Mujarobat sebenarnya mewakili jiwa resah “jaman” itu. Yah, iklannya “lebai” begitu.
    Dalam forum ini, ada komentator bernama Susuhunan yang mengutip hadist shahih Muslim bahwa mengajarkan 2 ayat Quran sama seperti memberi 2 unta kepada orang miskin, namun kemudian dia berkomentar: “nah, doa yang tertera di Al-Quran lebih bernilai dari harta termahal, jadi gak perlu lagi qt dengan doa nubuat itu,,” Inilah contoh komentar yang berkata, tapi belum berselidik. Yah, manusia memang cenderung tergesa-gesa. Nah, dalam doa Nurbuwat itu paling tidak terdapat 11 Ayat Al Quran yang utuh. Dengan begitu, sekali membaca doa Nurbuwat orang sudah mendapat 11 unta? Bagaimana bung Susuhunan? Mohon maaf Bung, itu ayat Quran lho, bukan ayat setan?
    [Ada buku tentang doa Nurbuwat yang dengan iklan yang datar-datar saja, misalnya, pada bukunya si Zaenuri Al Yusak, berjudul: Ilmu Besar Ketabiban Disarikan Dari Kitba Al-Aufaq Karya Ulama Besar Imam Ghozali. Cet. Ke-7. (Semarang: CV. Bahagia, 1995)hlm.109-110]
    Baiklah, sekarang saya ingin menelisik lagi doa Nurbuwat, juga berdasarkan hadist. Rasul SAW pernah bersabda: “Barangsiapa yang membaca 1 huruf dari kitab Allah (Al Quran), maka ia akan mendapat 1 kebaikan dan tiap 1 kebaikan akan dilipatkan menjadi 10 kali kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim adalah 1 huruf, namun Alif [sebagai] 1 huruf, Laam 1 huruf dan Miim [itu] juga 1 huruf” [HR At-Tirmidzi, saya kutip via bukunya Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Doa Dzikir dan Wirid Sehari-hari Menurut Al Quran dan As-Sunnah. Terj. Abdullah. (Solo: Insal Kamil, 2006).hlm.24] Saya ingin berhitung-hitung sekarang, agak matematis memang, tetapi tidak rumit nyinyis.
    Secara hitung kilas-cepat, Doa Nurbuwat ini total huruf Arabnya ada 546 buah. Dari total itu, sebanyak 290 huruf berasal ayat Al Quran, sehingga sisanya ada 256 memang bukan huruf Al Quran. Dengan demikian, doa Nurbuwat itu lebih dari separuhnya adalah huruf yang didominasi oleh ayat Al Quran, yakni sebanyak 290 huruf tadi. Kalau saya hitung berdasarkan hadist At-Tirmidzi tadi, maka orang sekali membaca doa Nurbuwat itu sudah dapat mengantongi 2900 KEBAIKAN. Saya tidak tahu, 1 kebaikan itu seperti apa bentuknya. Ada yang tahu dan mau tahu? Selain itu, saya juga bertanya, jika doa Nurbuwat itu tidak berguna, apakah seluruhnya dianggap tidak berguna atau sebagiannya saja? Mutlak atau tidak mutlak? Bagaimana dengan nasib 290 huruf Al Qurannya?
    Baiklah, selain itu, sisa dari doa Nurbuwat yang bukan ayat Quran adalah sebanyak 256 huruf. Itu terdiri “asma ul husna” sebanyak 23 huruf, lalu shalawat pendek 22 huruf, dan 27 huruf nama orang istimewa yang biasa disebut dalam Al Quran. Memang tidak ada dalil untuk menghitungnya secara bagaimana, untuk huruf yang bukan dari ayat Quran ini. Namun sebagai kalimat doa, apakah ini juga tidak ada 1 Kebaikan pun dalam sekali baca doa Nurbuwat?
    Oh ya, ada yang lupa, bahwa setiap kali membaca doa Nurbuwat, dan teks Arab yang pernah saya dapat, selalu diawali dengan kalimat “Basmalah” alias Surah Al Fatihah Ayat 1 dari Al Quran, yang sebanyak 19 huruf itu. Kalau begitu, total huruf Al Quran dalam doa Nurbuwat adalah 309 buah? Yah, begitulah. Saya tidak menganggap enteng kalimat basmalah tersebut, karena sebuah hadist “dari Abu Hurairah r.a. dari nabi saw, bahwasannya beliau bersabda: ‘Setiap amal perbuatan yang dianggap baik, tetapi tidak dibacakan Basmallah ketika dimulainya, maka perbuatan itu pincang (tidak sempurna, terputus dari rahmat Allah)” [HR Abu Dawud, Nasa’I, Ibnu Majah] Saya tidak tahu apakah tulisan berjudul “Hakikat Kesesatan Doa Nurbuat” oleh Ustad Ustadz Ammi Nur Baits itu ditulis dengan kalimat “Basmalah”, sehingga saya juga tidak tahu apakah tulisan tersebut mungkin pula menjadi rahmat?! Satu hal yang pasti, dahulu, waktu saya masih amalkan doa Nurbuwat, selalu diawali dengan membaca Basmallah. Lantas, apakah 309 huruf yang menjadi 3090 KEBAIKAN itu juga tidak ada satupun yang nyantol kepada saya waktu itu? Nah, pertanyaan ini memang hanya Tuhan yang lebih tahu jawabannya dan yang punya kuasa penghisaban seperti itu. Saya tidak ingin melangkahi Tuhan dalam hitung-hitungan tadi secara mutlak, kecuali relatif-reatifan saja. Saya juga tidak ingin melangkahi Tuhan dalam vonis-vonisan tanpa pengadilan yang rahmat [???]. Tetapi sungguh, dengan doa Nurbuwat itu, sungguh, saya dulu berdoa kepada Tuhan, bukan kepada setan atau apapun. Insya Allah, Subhanallah, Laa illahaillallah! (Perlu diakui, saya rasa-rasa orangnya plintat plintut juga dalam hidup. Saya dulu pernah 3 tahun tidak sholat itu—nauzubillah, tetapi waktu yang sama ketika mengerjakan apa saja yang berbahaya, saya selalu membaca “Bismillah”. Misalnya, ketika memasang baliho atau papan reklame dekat dengan tiang listrik, walau saya nggak pernah sholat, karena itu resiko kerja yang berbahaya, saya baca Bismillah. Jadi, saya hanya ingat Tuhan, kalau sedang berbahaya, dan itu saya akui. Tapi, itulah doa, yah doa kalau lagi susah dan bahaya. Biasanya, yah biasanya, Tuhan tidak saya sebut dalam dua keadaan: 1. Kalau lagi SENAAAANG sekali; atau 2. Kalau lagi MARAAAAAH sekali. Dua keadaan yang ekstrim dan berlebih-lebihan memang. Oh ya, ini lagi-lagi sharing saja, saya pernah kenal seorang pencuri motor, yang dia mengakunya tidak ingat Tuhan kalau lagi mencuri motor. Berarti dia tidak baca Bismillah? Oh ya tentu saja. Yah, dimana-mana sepanjang yang saya tahu, pencuri dan perampok, termasuk pengedar ganja, tidak ada yang baca “Bismillah” kalau sedang beraksi. Kini baru benar-benar saya garisbawahi, ada pencuri dan perampok yang baca Bismilah dan itu sulit saya memaafkannya sebelum diadili, yakni: Koruptor pejabat Negara!! Kalau pencuri swasta kecil maupun besar, mereka itu tidak mencuri/ merampok dengan baca Bismillah, jadi agak berbeda. Tetapi, pejabat negara, kalau jadi perampok uang rakyat, itu ‘kan dulunya pernah disumpah pakai kitab Suci dan baca “Bismillah”?! Makanya dan misalnya, Ustad Anton Medan, yang dulu dia seorang perampok besar kelas swasta, kemudian dia pernah dipenjara vonis bersalah, dan tidak baca Bismillah sewaktu merampok, maka saya maafkan dan saya lupakan perampokannya di masa lalu. Tetapi yang sulit saya maafkan adalah mereka yang menjabat sebagai pejabat Negara, eh merampok duit rakyat, dengan baca “Basmilllah” dalam sumpah, dan belum diadili pula. Termasuk orang yang mendiamkan atau membiarkan Koruptor menjadi tidak diadili atau sulit diadili, itu juga kawannya koruptor/ maling, yang juga sulit saya tolerir, sebelum mereka juga ikut diadili. Wahai Ulama, kemana anda sewaktu alm. Suharto harus diadili? Sekarang yang tinggal adalah kroni-kroninya, harus diadili? Jangan-jangan ulamanya, ah, ulamanya Soeharto? [Astaghfirullah al ‘adzim, saya mau sholat ashar dulu….] Saya mudah memaafkan perampok biasa seperti Ustad Anton Medan atau maling-maling biasa yang sudah pernah diadili secara adil versi bumi, tapi tidak bagi yang sebaliknya—perampok negara? Kalau ada rakyat pernah baca doa Nurbuwat, pakai baca Bismillah, kalau ternyata bid’ah, ah itu ‘mah perkara keciiiil, saya beri maaf! Tapi, siapa saya ini kok mau memberi maaf kepada rakyat sempat bid’ah karena doa Nurbuwah? Wahai Gesip Apriyanto, kawan KKN-q dulu di Bantul yang soleh nan baik itu, apakah aku ini masih seorang yang ujub seperti katamu waktu itu? Hmmm…)
    Lantas di forum ini ada yang komen tentang defenisi Bid’ah: ”…apabila suatu amalan yang diperbuat tidak berlandaskan hukum qur’an dan asunnah maka amalan itu dinilai bid’ah/ sesat/ syirik, dan jelas hukumnya HARAM dan tempatnya di NERAKA.” Memang tidak eksplisit disebutkan, apakah pengamal doa Nurbuwah itu bid’ah ataukah tidak, namun aroma vonisnya begitu terasa. Saya akui bahwa hadist yang menganjurkan doa Nurbuwat ini tidak ada yang shohih, artinya lemah dalil fiqh-nya, kalau istilah saya ini tepat. Lantas, apakah doa Nurbuwat ini ibarat suatu produk makanan kripik pisang rakyat Jember, yang dijual di pasar-pasar tradisional, oleh karena belum dapat cap stempel halal dari MUI apa lalu disebut haram? Maaf, pertanyaan terakhir ini malah bikin tambah runyam, setidaknya bagi saya. Sebenarnya begini, soal Bid’ah tadi, Defenisinya memang begitu, tetapi segitu saja belum cukup, kalau belum disebut Jenisnya. Perlu dicatat juga, Bid’ah itu ada 2 jenis, yakni Bid’ah Dhalalah (yang sesat) dan Bid’ah Hasanah (yang baik). Nah ini saya kutip saja dari mantan Ketua MUI Pusat, Prof. KH Ali Yafie dalam “Konsultasi Fikih: Zikir Berjamaah” majalah Hidayah, Edisi 118 Juni 2011.hlm.171-172, yang ketika ditanya soal: Rasul SAW tidak pernah berzikir berjamaah sehabis shalat dan bagaimana orang yang zikir berjamaah sekarang ini, KH Ali Yafie bilang zikir itu termasuk bid’ah hasanah (yang baik). KH Ali Yafie masih menambahkan contoh, bahwa Al Quran yang sekarang dibaca orang zaman kita berbeda dengan Al Quran yang dibaca oleh Rasul dan para sahabat dalam soal tanda bacanya. Artinya kita bid’ah karena Al Qurannya ‘beda’? Yah, bid’ah, tapi itu bid’ah hasanah. Saya dulu pernah baca tulisan Emha Ainun Nadjib di buku entah yang mana, yang dia beri contoh bid’ah hasanah juga. Kata Emha kira-kiranya, jikalau kita berpatok secara mutlak-mutlakan bahwa segala sesuatu yang tidak dilakukan Rasul lalu kita lakukan adalah bid’ah, maka ketika kita naik motor atau naik kereta api itu juga bid’ah, sebab Rasul kemana-mana naik onta atau kuda. Kata Emha naik motor itu adalah bid’ah hasanah, kalau tujuannya baik. Jaman Rasul orang azan tidak pakai mikrofone, maka apakah bid’ah sekarang ketika kita azan pakai mikrofone buatan Jepang ataupun Cina? Ya tentu bid’ah, tetapi itu bid’ah hasanah, kalau tujuan mengundang orang sholat.
    Baiklah, saya baca hadis shahih Bukhari bahwa lukisan/ gambar orang hidup itu dilarang oleh Rasul saw, dengan bunyi: “…’Hai Aisyah, sesungguhnya manusia paling berat siksaannya pada hari kiamat nanti adalah orang-orang yang meniru ciptaan Allah”, itu yang saya baca dari buku Ustad Maftuh Ahnan berjudul “Mutiara Hadist Shohih Bukhori” Surabaya: Karya Ilmu, 1992.hlm.183-184. Lantas, bagaimana dengan lukisan anak kecil sedang mengambil wudhu atau mengerjakan sholat yang dijual di toko-toko? Ya jelas lukisan itu termasuk bid’ah, tapi itu bid’ah hasanah kalau tujuannya untuk mengajarkan sholat kepada anak kecil, sebagai media lukisan edukatif. Ada juga hadist dari ibnu Abbas, bahwa Rasulullah sholat pernah sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, meski tidak sampai memutar leher ke belakang [HR Ahmad, saya kutip dari bukunya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Doa dan Amalan Sehari-hari. Hidup Penuh Berkah di Setiap Langkah. Terj. Muhammad Misbah. (Solo: Ziyad Visi Media, 2011).hlm. 49] Mengapa Rasul sholat tolah-toleh? Karena mungkin jamannya penuh dengan keadaan darurat perang. Namun oleh kesepakatan ulama belakangan, bahwa sholat kita kalau menoleh kiri-kanan yang tidak ada perlunya hukumnya menjadi makruh tanzih, karena dapat menghilangkan kekhusyukan shalat. Nah, Rasul sholat pernah tolah-toleh, kok kita dikatakan makruh sholat kalau tolah-toleh oleh ulama, apakah kita bid’ah karena sholatnya berbeda dengan Rasul? Ya ulama menyuruh kita bid’ah, tapi bid’ah yang hasanah. Waw, ulama menyuruh kita bid’ah hasanah?! Masih ada contoh lagi. Rasul saw berdakwah kebanyakan secara “face to face” dengan umat, nah kalau kita saling berdakwah kebanyakan secara “on line”, apakah itu bid’ah? Yah bisa saja disebut bid’ah, tapi itu bid’ah hasanah, jika benar-benar dakwah yang hikmat, bukan menghujat. Jadi, apa yang ingin saya nyatakan lagi? Tidak semua yang bukan disunnahkan Rasul itu bid’ah dhalalah (bid’ah sesat) kalau kita kerjakan; tetapi ada kemungkinan bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) juga. Memang sesuatu yang “Baik itu belum tentu benar, tetapi benar pasti baik”. Kalau saya ditanya lagi: apakah doa Nurbuwat itu bid’ah? Boleh saja dibilang bid’ah, tetapi ada dua bid’ah di situ. Pertama, “bid’ah dhalalah”, alias sesat, kalau berdoa Nurbuwat minta bantuan “setan koruptor” agar didatangkan uang dengan cepat, atau minta bantuan “jin mafia hukum” agar diselamatkan dari intaian KPK dan rakyat. Kedua, bid’ah hasanah, bid’ah yang baik, kalau ada rakyat miskin berdoa Nurbuwat minta bantuan Tuhan agar dilancarkan rezekinya, daripada memelihara pesugihan, atau memelihara pemimpin berpartai dan berjiwa korup. (Ah, ‘lebai’?)
    Selain itu, dalam ilmu hukum syariat, kita tidak dipatok sebatas perkara Haram dan Wajib semata, tetapi juga ada 3 hal hukum yang lainnya lagi: Sunah, Mubah, dan Makruh. Menurut hemat saya, doa Nurbuwat itu ya “tidak wajib”, dan “tidak haram”, serta “tidak sunnah”. Namun begitu, masih tinggal dua status hukum lagi bagi doa Nurbuwat, yah kalau tidak Mubah ya mungkin Makruh. Jadi, jika mau juga dipaksa-naikkan statusnya menjadi HARAM, biar adil, saya hanya menunggu seluruh ulama dari seluruh mazhab dan dari berbagai ‘negara ulama’ sepakat mengatakan doa Nurbuwat itu HARAM, maka saya akan ikut katakan juga itu HARAM dan MUSYRIK. Untuk sementara ini bagaimana? Ya statusnya di-mubah-kan saja orang yang berdoa dengan Nurbuwat. Sebenarnya saya ingin agar tidak ada kesan rakyat terus menerus disalah-salahkan. Jaman kolonial Belanda dulu, kira-kira pertengahan tahun 1920-an, mayoritas ulama, terutama dari kota-kota seperti Muhammadiyah, sibuk saja mengkritik rakyat miskin yang terkena penyakit TBC (Takhayul-Bid’ah-Churafat), sementara Haji Muhammad Misbach nyaris sendirian mengkritik Pemerintah Kolonial Belanda yang tidak adil bikin pribumi miskin. Kalau ulama-ulama kota dan ulama Kolonial Belanda beraninya menyalahi rakyat bodoh yang miskin dan selalu dimiskinkan, maka Haji Misbach berani menyerang penguasa Kolonial pintar dan besar yang didukung oleh beberapa ulama munafik (istilah haji Misbach) tadi. Saya meloncat saja ke era pasca Reformasi, masih saja ada rakyat disalahi walau hidupnya sudah dikhianati. Misalnya, ada fatwa HARAM kepada rakyat kalau GOLPUT. Padahal, kalau ulama fatwa itu berpihak pada rakyat, kenapa tidak kritik dan bikin fatwa kepada partai yang korup dan berkhianat itu masuk neraka. Itu kalau berani. Beraninya cari-cari salah rakyat, oh rakyat, oh rakyat. Saya pernah dengar curhat seorang penjual tekwan yang omsetnya kecilnya, walau begitu dia tetap bertahan untuk tidak pergi ke dukun agar dapat pelarisan. Tapi begitulah, nyatanya, banyak rakyat pergi ke dukun-dukun kampung, yang mungkin sama seperti partai politik kalau sedang mau kampanye. Begini saja, cari mencari salah dapat terasa pada, misalnya, rakyat pergi ke dukun lalu amalkan jimat—dikatakan: salah; rakyat beli ke toko emperan buku Mujarobat amalkan doa Nurbuwat—dinyatakan: salah. Nasibmu rakyat, beragama dan bernegara saja kok dipersulit oleh orang yang berwawasan sempit? Atau nasibmu rakyat, bergaul dengan orang yang berniat baik tapi caranya salah dan kasar? (Lihat lagi QS Ali Imran 3: 159 di atas)
    Baiklah, kata sebuah ayat di Surah Hujuraat: “sebagian prasangka itu berdosa”, maka boleh jadi memang ada “sebagian prasangka itu berpahala” juga. Prasangka berpahala misalnya, ketika kritik dengan ilmu social dapat dilakukan sebagai kajian memetaan persoalan masyarakat Islam. Misal kecilnya, saya berprasangka: bahwa ribut-ribut di forum ini, jangan-jangan wujud suatu pola lama dari perseteruan kaum syariat yang kaku dengan kaum hakekat yang sembrono. Mungkin. Atau pertengkaran antara kaum penjual doa Nurbuwah ala pedesaan dengan kaum penjaja doa rukyah ala perkotaan. Doa Nurbuwah vs doa Rukyah? Makanya, sekali prasangka itu mungkin ada sebagian berpahala, jika itu tujuan dan caranya untuk mencari tahu dengan prinsip: “… periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS Al Hujuraat 49: 6) Teliti terhadap suatu hal agar tidak menimbulkan musibah kepada suatu kaum, atau minimal agar tidak menjadi suatu fitnah yang terselubung (cap syirik dan bid’ah kepada pendoa Nurbuwah)—itu suatu sikap berfikir sangat penting sekali. Kita harus belajar pahami keadaan suatu kaum tersebut. Dalam hal ini, kaum pengamal doa Nurbuwat, misalnya orang Jawa pedesaan dan pedalaman, memang terdiri kaum rakyat dengan ilmu agamanya yang pas-pasan sebagaimana ekonominya yang juga pas-pasan. Kurang lebih sama dengan cerita saya di awal-awal ini, mereka seperti ayah yang ngebut naik motor, eh, tahu-tahu dicegat polisi yang sok atau memang normatif tanya soal asal dan kelengkapan kendaraan. Padahal rakyat memang hidup serba pas-pasan, ya bertindak dan berdoapun dengan cara yang pas-pasan pula. Saya kutip sajalah sebuah cerita tentang polosnya Arab Badui (Arab udik) beribadah dan berdoa, dengan ribetnya Khalifah Ali yang (orang kota) itu, yang berjudul “Shalat yang Mana yang Lebih Baik?” sebagai berikut:
    “Seorang Arab Badui memasuki mesjid lalu shalat. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra. memandanginya dengan penuh perhatian. Seusai orang itu shalat, sambil memegang cambuk, Ali ra. mendekatinya dan menyuruhnya mengulangi shalatnya. Sang Badui lalu memperbagus shalatnya dengan kesempurnaan, khusyu, dan tumakninah. Seusai shalat [itu], Ali Bin Abi Thalib ra. bertanya, ‘Shalat yang mana yang lebih baik, yang pertama ataukah yang kedua?’ Orang Badui itu menjawab dengan polos, ‘Tentu saja yang pertama, sebab aku melakukannya untuk Allah, sedangkan shalat yang kedua karena aku takut kena cambuk Amirul-Mukminin’ ”.
    Begitulah cerita khalifah Ali yang saya kutip dari bukunya A. Aziz Salim Basyarahil [berjudul “Hikmah dalam Humor Kisah dan Pepatah Jilid 1-6”. Jakarta: Gema Insani Pers, 1998.hlm.337] Dengan begitu, cara orang membaca Al Quran sekalipun, seperti dengan Nurbuwat, mungkin saja ada mirip-mirip kelirunya dengan Orang Arab Badui itu dalam bersholat, tetapi jangan diabaikan, bahwa dia “yang udik” melakukan ibadah serasa langsung terhadap Tuhan sejak dari hatinya. Oleh karena itu, saya condong tidak sepakat dengan pernyataan ustad Perdana Akhmad S.Psi di forum ini: “…hati-hati salah amalan malah akan mengundang jin walaupun menggunakan ayat suci Al-Quran sekalipun sebab niat dan tata caranya menyimpang”. Mohon maaf ustad…, hanya condong kok..
    Menganggap doa Nurbuwat itu ‘benar seluruhnya’, atau menilai ‘salah seluruhnya’—bagi hemat saya itu sebuah kekeliruan. Saya tidak anti Sunnah, ataupun anti syariat dalam beribadah, tetapi saya tidak mau main mutlak-mutlakan sebagaimana rawannya “hukum besi” atau inklusifitas pada ilmu fiqh. [Istilah ‘hukum besi’ fiqh itu saya kutip dari Djazuli, “Ilmu Fiqh. Penggalian, Perkembangan, dan Penerapan Hukum Islam, Edisi Revisi”. Cet. Ke-7. Jakarta: Kencana, 2010.hlm.113] Saya berusaha untuk menghindar Argumentum ad Ignoratiam begitu. Argumentum ad Ignoratiam adalah semacam kesesatan berfikir atau berpendapat, ketika terlalu bernafsu “mutlak mengganggap SALAH terhadap sesuatu, hanya karena tidak ada yang membuktikan bahwa sesuatu itu BENAR”; atau “menilai mutlak sesuatu itu BENAR, hanya karena tidak ada yang membuktikan bahwa sesuatu itu SALAH”. Berkali-kali mungkin saya akui, tidak ada hadist shahih yang mengajarkan doa Nurbuwat, namun bukan berarti doa itu salah mutlak, hanya karena tidak ada hadist yang membenarkannya. (Mungkin ada orang akan mencurigai bahwa saya ini tidak suka bermain mutlak-mutlakan [anti logika valensi ala fiqh, A atau B saja], atau mungkin menuduh saya senang berfikir abu-abuan [pro logika multivalensi ala sufi, bisa A bisa B, bisa C bisa D] semata—itu saya terima sebagai pengawasan diri saya sendiri) Mari kita hindari semampu mungkin komentar “argumentum ad Ignoratiam”, suatu argument yang ‘bebal’ (ignore; ‘tak mau tahu’, ‘ngotot’) mengatakan, semisal: “doa nurbuwat itu pasti salah dan sesat, kalau tidak mana bukti hadisnya?”, yang mirip ‘bebal’ dengan, misal: pernyataan OC Kaligis kepada Hermawan Sulistiyo: ”Mana bukti hukumnya Pak Soeharto korupsi dan mana bukti kalau Pak Harto pelanggar HAM?” sehingga Soeharto dinyatakan Kaligis tidak bersalah hanya karena tidak ada bukti di pengadilan bahwa Soeharto bersalah, padahal bukti adanya pernyataan ‘salah’-pun belum tentu ‘salah’. Contoh, Sokrates dituduh bersalah menurut pengadilan Yunani, bukti dia bersalah di pengadilan ada dan diadakan, lalu apa terbukti pula dia bersalah mutlak? Contoh lagi, Soekarno di Pengadilan landraad Bandung tahun 1930, yang ia dinyatakan bersalah karena bikin kerusuhan politik di Hindia Belanda, apakah Soekarno ‘salah’ hanya karena pengadilan berhasil membuktikan dia bersalah? Contoh lagi, apakah Antasari Azhar bersalah membunuh Nazaruddin hanya karena tidak ada bukti bahwa itu tidak benar? Atau contoh lagi, SBY tidak salah, tidak melanggar HAM dan Korupsi, karena tidak ada bukti pengadilan yang menyatakan bersalah? Inilah segudang ‘bebal’ argumentasi “yang berlebih-lebihan”. Bebal itu tidak baik dipelihara dalam hati dan otak kita, sehingga jangan sampai benarlah apa dikatakan oleh Al Quran: “atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, …” (QS Al Furqaan 25: 44)
    Saya tidak anti hukum (fiqh) atau syariat dalam beribadat. Waspada dalam ibadah itu memang perlu. Berdoa memang ada aturan. Aturan itulah yang tampaknya ingin begitu ditonjolkan oleh ustad Perdana Akhmad S.Psi dan Ustadz Ammi Nur Baits di forum ini. Hanya saja perlu dicatat, ilmu fiqh itu ada sifat rawannya juga, yakni buta rasa; dan mungkin itulah yang pernah disinyalkan oleh Imam Al Ghazali “Sesungguhnya masalah hati berada di luar wilayah fiqh. Jika fiqh mencampuri urusan hati, tidak lagi dapat disebut fiqh. …” [Dikutip dari A. Aziz Salim Basyarahil, “Hikmah dalam Humor Kisah dan Pepatah Jilid 1-6”. Jakarta: Gema Insani Pers, 1998.hlm. 223] Makanya, orang gampang tergoda menjadi tanpa perasaan kalau terlalu “letterlek by the law” atau berpatok pada hukum, misal tadi, cap bid’ah jika tak ada dalil hukum berdoa Nurbuwat. Padahal dalil di forum ini juga sering terlihat lemah dan condong mengada-ngada. Misalnya, dalil “Susunan kalimat yang tidak sistematis dan tidak memiliki kaitan” dijadikan alasan SALAH-nya Doa Nurbuwat. Tentu saja, saya pun sempat tergoda dalam hati untuk berkata: “Memangnya berdoa itu kita sedang mau menulis skripsi atau tesis ya, ejaan dan kesinambungan kalimatnya harus jelas dan ada EYD-nya?! Atau sedang menulis lagu, susunan kalimatnya harus indah?” Nah, itu godaan hati saya, cukup subyektif memang. Tetapi baiklah, menurut ustad Labib M Labib MZ dalam bukunya Bimbingan Doa dan Dzikir Mujarob. (Jombang: Lintas Media, tth).hlm. 21, adab berdoa itu antara lain: “Hendaknya susunan kalimat doanya tidak bersajak, cukup dengan susunan kata yang sederhana, tidak perlu dilagukan. Karena itu dianjurkan memakai susunan kalimat doa yang berasal dari Rasululloh saw, terutama doa-doa yang terdapat dalam Al Quran”. Perhatikan, Labib MZ tidak menggunakan kata “diharuskan”, tetapi “dianjurkan” begitu. Demikian pula, Imam Ghazali memberi etika berdoa, yang salah satunya, agar siapa pun tidak memaksakan diri dengan menguntai sajak dalam redaksi berdoanya, karena hal itu identik dengan sikap berlebih-lebihan. [Dikutip dari Imam Nawawi “Al-Adzkar Shahih Doa dan Dzikir. Kitab Induk dan Pedoman Lengkap doa dan Dzikir yang Diajarkan oleh Nabi Muhammad saw” terj. Zenal Mutaqin. Bandung: Jabal, 2011.hlm. 498.] Saya kira begitu saja sudah cukup menjadi dalil seumumnya.
    Dalam doa yang “dianjurkan”, misalnya doa dari Rasululloh pun terkadang juga ada yang secara ‘letterlek’ sepintas tampak berseberangan. Coba perhatikan doa ini: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sikap bakhil kebodohan, USIA SANGAT TUA dan fitnah dunia (yaitu finah Dajjal) serta azab kubur” [HR Bukhari]. Doa yang terjemahannya saya kutip dari buku Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Doa Dzikir dan Wirid Sehari-hari Menurut Al Quran dan As-Sunnah. Terj. Abdullah. (Solo: Insal Kamil, 2006).hlm. 77 ini meminta, agar jangan hidup menjadi ber-USIA SANGAT TUA begitu. Di lain pihak, juga ada doa yang berbunyi begini: “Ya Allah, dengan Ilmu-Mu yang ghaib dan kekuasaan-Mu atas seluruh mahluk, PANJANGKANLAH UMURKU jika memang kehidupan lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika memang kematian lebih baik untukku. …” [HR An-Nasa’i, Ahmad] Doa dari buku Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Ibid.hlm. 81 ini juga doa “yang dianjurkan” karena dari Rasulluloh. Sepintas doanya memang ada meminta “Panjangkanlah Umur”, yang sedikit beda dengan “jangan hidup berusia sangat tua”, karena biasanya penyakit banyak—memang betul-betul minta panjang umur. Memang, dibanding doa Nurbuwat, kriteria panjang umur yang diminta di dalam doa ‘dianjurkan’ ini lebih terang. Jika Ustadz Ammi Nur Baits masih mengatakan doa minta panjang umur dalam doa Nurbuwat sesuatu yang kalimatnya “kurang terpuji”, atau serta mendalilkan doa Nurbuwat ini SALAH karenanya; maka itu adalah hak usdad dan hak saya untuk mengatakan secara sebaliknya.
    Orang berdoa itu pada dasarnya baik. Sekali lagi, memang dalam berdoa, lafal-teks doa “sebaiknya” pakai yang pernah diajarkan oleh Rasululloh melalui hadist shahih atau hasan, tetapi itu bukan “seharusnya”. Umat Islam baru diminta “seharusnya”, berusaha tidak seperti Fir’aun yang sudah memiliki segala sesuatu, lalu tidak pernah mau berdoa. Jadi, berdoalah, dan berdoalah, jangan bertengkar, karena apa?
    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادٛعُوٛ نِيٛٓ اَسٛتَجِبٛ لَكُمٛۗ اِنَّ الَّذِ يٛنَ يَسٛتَكٛبِرُوٛنَ عَنٛ عِبَادَ تِيٛ سَيَدٛ خُلُوٛنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيٛنَ.
    (المؤمن: ٦٠)
    Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina”. (QS Al Mu’min 40: 60)
    قَا لَ اِنَّمَآ اَشٛكُوٛا بَثِّيٛ وَحُزٛ نِيٛٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعٛلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعٛلَمُوٛنَ.
    (يوسف: ٨٦)
    Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya”. (QS Yusuf 12: 86)
    Banyak bicara, biasanya banyak salahnya. Banyak membaca, biasanya banyak lupanya. Kalau tidak ingin salah bicara, ya jangan bicara. Begitu pula kalau tidak ingin lupa, ya tidak usah banyak membaca. Oleh karena saya sudah begitu banyak bicara, maka saya hanya bisa berkata: Mohon maaf kalau ada salah dan lupa. Terimakasih kepada ustad Perdana Akhmad S.Psi dan Ustadz Ammi Nur Baits yang bikin saya berkomentar sepanjang ini sebagai tanggapan seorang mantan pengamal doa Nurbuwat. Perlu tetap dicatat dan juga mohon maaf, bahwa saya berhenti berdoa Nurbuwat bukan karena Ustadz; dan bahwa saya menulis sepanjang ini, memang karena kedua ustad ini. Mungkin saja. Makanya saya ucapkan, terimakasih, termasuk juga kepada seluruh komentator yang lain sebelum saya.
    Wassalam wrb
    Jmb, 25 April 2012
    Wiwin ES

  82. mohon maaf komentar saya baru sekarang bisa dimasukkan, oleh karena satu dan lain hal, misalnya, belum sempat ke warnet atau belum dapat tumpangan ngenet. trims
    wassalam wrb

  83. sungguh didalam hati saudara2ku ini telah bertengger syaitan yg menghasut untuk saling menghina.
    lebih baik pelajari dulu dasar2 doa yg kita baca.
    setelah tau apa yg kita jalankan ternyata menyimpang dari ajaran islam maka tinggalkanlah, tidak ada orang yang bodoh, yang ada hanyalah belum mengerti.

  84. Wah wah wah ternyata selain allah swt ada juga hakim di dunia ini dalam agama dikit2 sesat dikit2 bid’ah nabi muhammad saw aja gak extrime kayak gini bisa2 lo admin jd nabi gak kayak gini perkembangan islam.. Ilmu manusia itu sedikit tapi klo sok2an begini yang gak boleh ditiru..pandai berdalil belum tentu benar dan alim..

  85. Komentar Nimbrung Doa Nurbuwat
    Bismillahirohmanirrohim
    Assalamu’alaikum wr wb
    Hmmm, di forum ini, asyik juga nyimak komentar-komentarnya. Lucuuu juga, walau ini bukan soal Srimulat, tapi soal doa Nurbuwat. Ada perdebatan, bahkan, sudah ada yang menjadi sedikit pertengkaran. Yach, yaa, yach, yaa, begitulah. Mula-mula, saya ingin netral baca saja, nggak perlu ikut komentar, karena kalau ikut komentar, berarti, saya akan condong kepada salah satu pihak tertentu sebagai konsekwensinya; begitu pula kalau berkomentar dan tidak condong berpihak pun, itu naif juga jadinya. Yah, namun begitu, silahkan garisbawahi, itu hanya condong atau cenderung saja, tidak mutlak juga sifat berpihaknya. Akhirnya saya ikut berkomentar dan berbicara mengenai doa Nurbuwat, nanti saya akan coba ‘kupas’ doa itu semampunya saya. Namun sebelum ke situ, saya ingin berkomentar terhadap komentar ke forum ini sebagai pembuka.

    Kalau tidak meleset, forum ini ibarat ada 2 kutub, yakni ibarat selisih antara polisi dan warga, dalam hal bermotor. Ibarat atau mirip seorang polisi negara bertemu seorang ayah warga biasa. Motor itu adalah doa Nurbuwat. Ada seorang ayah naik motor, oleh karena terdesak keadaan (misal anaknya sekarat di rumah sakit, atau istrinya darurat mau melahirkan, atau bahkan rumah keluarganya terjerat hutang hingga terancam sita oleh “Bank”, atau seterusnya), sang ayah itu langsung naik motor saja, tanpa periksa kelengkapan berkendaraan, dan tanpa berhitung kecepatan di jalan raya, menuju ke tempat istri atau si anaknya. Sementara itu, si polisi melihat ada seorang pria, si ayah tadi, bermotor dengan kencang di jalan raya, lalu polisi segera menyergap, tidak terlalu perduli hakikat persoalan si ayah, kecuali, memang si ayah terlihat dan tertangkap naik motor dengan ngebut. Malangnya juga, motor yang dipakai si ayah tidak bersurat lengkap dan ada komponen modifikasi pada motor yang dianggap juga melanggar ketentuan hukum ‘syariat’. Polisi tidak mau tahu persoalan apa dibalik prilaku kebut si ayah tadi—‘hakikat’nya, kecuali, polisi tahu sebatas pelanggaran si ayah saja. Polisi nyaris tidak mau repot membedakan antara bagaimana wajah si ayah ngebut naik motor ‘reot’ sebagai wajah orang yang panik dan lagi susah, dengan wajah si orang mapan naik motor ‘indah’ ngebut sebagai wajah orang kaya yang habis pakai sabu-sabu renyah. Pokoknya di mata polisi, si ayah tadi bermotor dengan ngebut, dan bermotor dengan tidak jelas asesorisnya.

    Logika dari 2 kutub tadi terkadang atau memang harus berbeda: polisi lebih banyak melihat-memburu secara yuridis normatif, sedangkan “si ayah” warga biasa tadi melesat-melaju secara praktis substantif. Kira-kira begitulah. Lalu, “polisi Negara” menegakkan hukum demi tata tertib, “warga biasa” mendapatkan hukum demi tata patuh. Keduanya sama-sama perlu, dan tidak perlu pecah pisah dengan “gergaji-palu”. Warga tidak mungkin bisa hidup tanpa polisi, sebagai jaminan ketertiban sipil; sedangkan polisi juga tidak mungkin bisa kerja tanpa warga, sebagai jaminan keteradaan konstitusi. Memang ada ironi, meski tidak secara keseluruhannya, bahwa polisi lebih terlihat sibuk mencari-cari kesalahan warga demi keuntungan diri sendiri.

    Nah, kembali ke soal doa Nurbuwat dengan segala kritik dan tanggapannya. Kritik tentang doa Nurbuwat itu perlu; tetapi hormat terhadap pengguna doa Nurbuwat, itu juga sama perlunya. Terhadap apapun: “Koreksi” itu mengkiritisi, yang memang berbeda dengan mencari-cari kesalahan; sedangkan “Reaksi” itu menanggapi, yang memang berbeda dengan mencaci-maki demi ke-aku-an. Di satu pihak, kita perlu kritik progresif, tapi di lain pihak, kita tidak perlu reaksi konservatif. Kalaupun forum ini ada perdebatan agamis berubah menjadi pertengkaran teologis, yah terpaksa, “tak apalah….”, asalkan jangan menjadi perkelahian fisik-anarkis. Sekali lagi, bagi saya tak masalahlah dengan pertengkaran itu. Segala sesuatu memang tidaklah mudah untuk memuaskan semua pihak, jika itu berdasar motif “keinginan”, bukan “kebutuhan”. Jangankan niat jahat, niat baik pun sering juga disalah-tanggapi. Kalau memang doa Nurbuwat ada yang keliru, katakan saja ada yang keliru. Kalau itu adalah contoh sebuah motor ‘si ayah’ yang jelek, ya kalau bisa berikanlah atau tunjukanlah motor yang baik itu mana. Kalau koreksi, ya selayaknya koreksi. Memang idealnya, sebagaimana Al Quran telah menginstruksikan kepada kita-kita sebagai berikut:
    فَبِمَا رَحٛمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنٛتَ لَهُمٛۚ وَلَوٛكُنٛتَ فَظًّا غَلِيٛظَ الٛقَلٛبِ لَا نٛفَضُّوٛا مِنٛ حَوٛلِكَۖ فَاعٛفُ عَنٛهُمٛ وَاسٛتَغٛفِرٛ لَهُمٛ وَشَاوِرٛهُمٛ فِى الٛاَمٛرِۚ فَاِذَا عَزَمٛتَ فَتَوَكَّلٛ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الٛمُتَوَ كِّلِيٛنَ.
    (ال عمرن: ١٥٩)
    Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilinganmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Ali Imran 3: 159)

    Sebuah ayat indah tentang berdoa, berdialog, bergaul, dan bermusyawarah. Kepentingan saya disini adalah, bahwa dahulu, terus terang, waktu saya masih SMP, pada akhir tahun 1990-an, saya pernah mengamalkan doa Nurbuwat itu. Meski tidak rutin, tetapi pernah, gitulah. Memang, saya dapatkan doa itu dari buku Mujarobat milik orangtua saya, yang mungkin dibelinya memang di emperan toko “kelas orang pinggiran”. Bapak saya berpendidikan rendah dan juga berekonomi rendah, dan sanggupnya hanya beli buku yang kelas emperan toko. Lagipula, bapak saya juga bukan orang yang gemar membaca, jadi beli buku ya asal beli, mau baca, ya syukur, nggak juga nggak dengkur. Mungkin begitu.

    Di rumah saya sewaktu kecil itu tidak ada buku agama yang terhitung berkualitas “akademis”, tapi yang ada adalah buku yang bersifat “praktis”, bahkan dalam hal Mujarobat itu, memang berkualitas “mistis”. Kalaupun ada buku agama, yang saya ingat, bahwa bapak saya pernah beli buku karya Moh. Rifa’i yang berjudul: “Risalah Tuntunan Shalat Lengkap”. Hanya buku itu. Dan itu pun jarang dibaca oleh bapak saya, yang sebagai orang Jawa, malas sholat dan mulas syariat—waktu itu. Kelak tahun 2007-nya, semua buku itu hilang terbakar api saat rumah orangtua saya kebakaran hingga cukup habis-habisan harta yang tak seberapa.

    Oh ya, saya pernah punya buku agama, yang saya beli dengan tabungan duit jajan saya sendiri. Buku itu masih ada hingga sekarang, tidak terbakar, karena sempat saya bawa di kos-kos tempat saya kuliah dulu. Bukunya adalah karya Ustad Maftuh Ahnan berjudul “Mutiara Hadist Shohih Bukhori” Surabaya: Karya Ilmu, 1992, dengan harga Rp.1500, yang menurut ukuran waktu itu, mahal juga, karena duit jajan sekolah saya sehari hanya 100 perak. Tapi, buku Mujarobatnya lebih dahulu saya baca daripada buku hadist yang secara “populer” itu. Sekali lagi, bapak saya orang yang tidak gemar membaca. Seingat saya, “ajaran” bapak saya ada pada pernyataan2nya yang kelewat lugu. Begini, waktu SD itu, saya pernah ikut pengajian di sekitar rumah saya, ikut baca “Alif-alifan” di sebuah mesjid di Sumatera. Saya pernah tanya ke bapak saya, mengapa dia tidak mau sholat ke mesjid dan kenapa juga jarang baca buku-buku agama? Untuk pertanyaan pertama, dia jawab bahwa pulang kerja itu lepas magrib, jadi bapak saya yang “kuli” perusahaan swasta itu merasa capek kok harus pergi ke mesjid, serta dia jawab kira-kira begini: ”Kalau bapak ke mesjid, dan nonggok di sana sampai malam, ntar bapak lupa kerja, siang ngantuk, kamu lapar, siapa yang cari makan?!”. Lalu, untuk pertanyaan mengapa jarang baca buku agama, dia menjawab kira-kira redaksinya begini: “Lebih baik jangan banyak tahu hukum agama, daripada tahu banyak tapi malah banyak melanggar. Contohnya banyak, tuh, lihat tetangga kita. Ngajinya saja yang fasih, tapi perangainya kayak orang nggak tahu ngaji! Orang yang tidak banyak tahu hukum, kalau melanggar, dosanya kecil. Orang yang tahu hukum, lalu melanggar, itu dosanya besar…” Kurang lebih begitu ucapan bapak saya sewaktu masih kecil dan masih SD.

    Mengapa saya bertanya seperti itu kepada bapak saya? Karena, salah satunya, saya pernah hampir berkelahi dengan seorang kawan sepengajian, yang berbilangnya bapak-ibu saya itu “kafir”. Ceritanya begini. Sewaktu masih anak kecil itu, di mesjid dekat rumah saya, ada seorang teman yang mempermalukan saya dihadapan teman2 yang lain. Dia bilang bapak ibu saya itu orang “kafir”, dengan alasan bahwa bapak ibu saya tidak pernah ke mesjid. Mungkin, rasa malu saya jadi semakin meningkat, ketika, anak sepengajian itu, rupanya juga sedang ingin mendekati seorang gadis manis, yang sama-sama juga saya taksir. Disitulah, dia bebas mengatakan dan mempromosikan istilah “kafir” yang dimaksudkan kepada ibu bapak saya. Tentu saja saya marah, dan saya biarkan dia berkata seperti itu, sampai akhirnya waktu isya datang dan pengajian selesai. Lalu pada waktu pulang pengajian, dia saya cegat di tempat yang biasa dia lewat pulang mengajinya. Saya sudah bersiap dan berencana akan menonjok mukanya. Ketika dia lewat, dan telah dekat, saya bilang kepadanya: “Tadi di dalam mesjid kau bilang bapak ibuku kafir, sekarang, coba ulangi sekali lagi”. Waktu itu rupanya dia diam seribu bahasa, tidak ada tanggapan, hanya wajahnya berubah menjadi panik, lalu saya tidak bisa memulai suatu eksekusi’, karena tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu. “Oh cengeng! Mulut besar rupanya kau!” Begitu oceh saya, dan dia saya bebaskan lewat, dan tidak jadilah eksekusinya. Setelah agak jauh, sambil terisak-isak, dia malah mengancam, “Awas kau ya, aku bilangin sama bapak aku” Begitulah singkat ceritanya. Bapak saya memang enggan ke mesjid, tapi saya tidak terima bapak saya dibilang “kafir”. Begitulah sewaktu saya masih kecil, dan pernah marah dengan cara anak kecil tentunya.

    Kemudian kembali ke soal di forum ini. Waktu SMP itulah, saya pernah baca buku Mujarobat milik bapak, dan sempat saya hafal dan sempat saya amal doa Nurbuwat. Seingat diri, saya hanya sering mengamalkannya sampai SMP kelas tiga. Setelah itu tidak pernah lagi, meski saya tetap rajin sholat 5 waktu. Namun, setelah dewasa, tepatnya waktu kuliah di Yogya, dari tahun 2007 hingga akhir 2011 ini, boro-boro amal doa Nurbuwat, sholat lima waktu atau sholat jumat pun—saya lewat. Itu terjadi oleh karena satu dan dua sebab, yang sulit saya jelaskan di sini. Namun begini, tadi diatas saya sempat kutip perintah ayat 159 Ali Imran yang berbunyi “… kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilinganmu…”, maka perlulah pula dijelaskan kemana praktek kelembutan itu sendiri. Konkritnya, tidak seorangpun yang senang disebut kafir, syirik, musyrik—walaupun itu memang benar-benar begitu. Bahkan, hal ini seakan sudah menjadi suatu aksioma, bahwa orang kafirpun tidak mau disebut kafir, sama seperti orang alim yang tidak mau disebut dirinya suci. Begitu pula, nyaris tidak ada orang musyrik yang mau disebut musyrik, nyaris sama seperti orang berilmu yang tidak mau disebut sudah banyak ilmu. Ringkasnya, orang itu lebih rela diperlakukan lemah lembut agar tidak kian menjauh dan sudi mendekat kebenaran dari suatu kritik, jika memang berniat mengkritik secara baik-baik. Lagipula, terhadap rakyat lemah (umat-mustad’afin), jika mereka keliru sekalipun ya harus dikritisi dengan cara yang lemah lembut pula. Pilihlah disksi yang lunak dalam berucap dan kata yang sedap agar dipahami umat. Segala sesuatu memang tergantung keadaannya. Jangan terbalik-balik, dengan penguasa keliru tapi kuat kita bersikap lemah lembut; sementara terhadap rakyat keliru tapi lemah itu kita bersikap keras. Petani miskin atau buruh melarat, misalnya, jika keliru dalam IBADAH, itu tetap harus didekat dengan lemah lembut. Sebaliknya, terhadap penguasa atau majikan, jika keliru dalam MUAMALAH, itu boleh saja atau harus dikritik dengan lebih lugas. Garisbawahi, orang lemah, bahkan orang kafir yang lemah, itu lebih diutamakan untuk didekat dengan lemah lembut. Bahkan Tuhan pun, menurut sebuah hadist, akan mendengarkan dan mengabulkan doa orang teraniaya meski dia seorang kafir. Bisa saja terjadi, petani ‘kafir’ dan miskin oleh penguasa zalim, kemudian berdoa, dengan doa Nurbuwat pula, akan lebih didengar Tuhan daripada doa ulama mapan yang cenderung dekat dengan penguasa sebagai patron ‘main-stream’ politik-ekonominya itu. Sekali lagi, konkritnya, tidak seorangpun yang senang disebut kafir, syirik, ataupun musyrik. Kalaupun ada pihak yang pernah “senang” disebut begitu, yach mungkin itu adalah saya di suatu ketikanya di Yogyakarta, yang itu pun oleh karena diucapkan oleh orang yang lemah lembut. Ini memang berbeda dengan sewaktu masih kecil dulu di Sumatera.

    Di Yogyakarta, dulu, saya punya seorang teman yang terkenal berwatak dan bersikap lemah lembut, seorang santri dari keluarga asli NU Tuban dan berpendidikan Muhamadiyah Yogyakarta, namanya Ahmad Nashih Luthfi, yang sering dipanggil Luthfi saja. (Saya memang tidak pernah mendengar cerita tentangnya berkaitan dengan suatu kekerasan, tetapi saya menduga kini, bahwa dia memang tidak pernah berkelahi secara fisik sejak kecil.) Begini: oleh karena saya sudah cukup lama, yakni tahun 2007 itu, tidak pernah sholat jumat, maka saya pun pernah bertanya kepada Luthfi tadi tentang semacam hukum fiqh. Saya bilang kepadanya, bahwa saya pernah baca suatu tulisan entah kapan dan entah di mana, yang mengatakan bahwa seseorang pria muslim yang tidak sholat jumat lebih dari 3x berturut-turut, maka ia disebut KAFIR. Saya tanya, bahwa saya sudah lebih dari 3x berturut-turut tidak sholat jumat, dengan begitu, tetapkah saya juga disebut KAFIR sedangkan saya masih beriman kepada Allah, Nabi, Kitab, Malaikat, dsb? Apakah saya hanya Kafir secara fiqh saja ataukah tidak kafir secara hakikat? Ataukah ada istilah lain KAFIR yang khusus bagi orang yang masih beriman kepada rukun Iman tapi tidak sholat jumat? Kawan saya sejenak kelihatan seperti berfikir agak payah. Tampaknya, dia ingin tetap tidak terlihat bersikap keras atau kasar, baik itu pada nada bicara maupun pilihan kata, namun juga tetap berusaha ingin jujur. Akhirnya, sambil bernada canda dia bilang begini: “Ah, sudahlah, nggak usah repot-repot berfikir bagaimana hukumnya secara fiqh ataupun tidak. Anggaplah, dirimu memang sudah KAFIR, gitu” Lucu sekali nada dan pilihan katanya, dan waktu itu saya segera menimpal kecil saja “Oh, jadi aku ini sudah Kafir toh?”, dan dia hanya tertawa kecil saja. Sekali lagi, itulah dimana saya tidak marah disebut Kafir, karena mungkin selain diksi “Anggaplah dirimu memang Kafir”—yah sekadar “anggaplah..” tadi, juga karena hal tersebut disampaikan dengan nada yang tidak menghujat. ”Anggap’ dan tidak “menghujat”. Tidak ada suatu ‘rasa’ bahwa saya akan dipermalukan di situ, meski tetap dipersalahkan. Oleh karena ‘rasa’ atau ‘hati’ saya tidak dipermalukan, maka ‘otak’ saya pun jadi sering bertanya-tanya sendiri: “Benarkah saya seorang kafir?”

    Lain waktu dan lain orang, bukan saya saja yang pernah menjadi orang yang suka bertanya, atau sekadar berkomentar. Seorang kawan yang lainpun, yang masih satu kampus juga, dan yang bernama MH—pernah bertanya atau tepatnya berceloteh tentang kepengecutan kawannya pada mahluk gaib. Dia waktu itu, yang sedang KKN di daerah Bantul-Yogyakarta, pernah mengadu soal kawannya yang takut pada “demit dan hantu”. Ceritanya begini. Si MH punya teman-teman satu unit KKN-nya, yang temannya itu berkunjung ke sebuah rumah warga, yang ternyata itu adalah rumah kosong. Nah rumah kosong itu, yang ketika diketuk pintunya, ada suara manusia yang menjawab, tetapi tidak dibuka pintu. Oleh warga yang lain, dijelaskan bahwa itu adalah rumah kosong. Baru mereka sadar, siapa yang jawab panggilan mereka waktu itu kalau bukan mahluk ghaib atau semacam jin ataupun hantu? Begitu pikir mereka. Oleh karenanya, mereka menjadi ketakutan dan melapor kepada kawan saya itu, yang bernama MH tadi, tentang hal ‘suara gaib’ itu. Justru kawan saya si MH ini sama sekali tidak percaya. Dengan sendirian saja, si MH ini mendatangi rumah kosong itu dan mengundangi isi rumah itu berkali-kali, dari pintu depan, jendela samping, dan pintu belakangnya. Tak ada sahutan dan tak ada kejadian. Akhirnya dia berkesimpulan, tidak ada setan dan tidak ada hantu, kecuali fantasi-ilusi anggota unit KKN-nya saja. Dia menjadi heran, kenapa orang gampang menjadi penakut dan tidak rasional begitu.
    Si MH ini juga pernah berceloteh lagi kepada saya, tentang suatu malam, dia berjalan bersama teman KKNnya, di tempat yang dianggap warga—angker. Menurut temannya, mereka melihat rombongannya ditatapi oleh mahluk besar-gelap yang bermata merah. Padahal, si MH tidak melihat ada apa-apa. Lagi-lagi, si MH ini berprotes kepada saya, mengapa banyak orang yang berhalusinasi tentang sesuatu yang disebut jin dan hantu, dan kenapa orang menjadi sedemikian penakutnya, meski mereka itu sholat lima waktu segala. Nah, saya pun menimpalinya dengan berkata santai: “Oh, aku pikir bukan begitu persoalannya. Menurutku, mereka mungkin memang ditemui oleh mahluk ghaib itu. Soal dirimu yang tidak ditemui oleh atau tidak berhalusinasi seperti mereka, bukan begitu. Masalahnya, tidak akan ada satupun jin atau setan, dhemit atau lelembut yang berani menemuimu dirimu. Semua mahluk itu pada takut kepadamu. Disitu letaknya mengapa kamu tak bertemu dengan mahluk itu dan bukan mereka kawan KKNmu terlalu berhalusinasi. Yang jelas, semua jin dan setan takut alias ‘ewuh pakewuh’ denganmu!” Dia heran, dan saya bilang sekali lagi: ”Semua iblis itu pada takut kalau ketemu kamu!” Dia bertanya, “Maksudnya?” Nah, saya jawab dengan mengungkit ucapan dia sendiri beberapa waktu lalunya begini: “Lho, dulu ‘kan kau pernah bilang nggak percaya adanya Tuhan?! Ya kan?!” Dia seperti mengingat-ingat dan tidak membantah, maka saya sambar lagi dengan berkata: “Yang aku tahu, kalau menurut Al Quran, raja setan atau mbah iblis itu sejak zaman Adam pernah bertemu Tuhan. Pasti, setan percaya Tuhan itu ada, karena dia pernah bertemu dengan Tuhan. Hanya saja, setan bertemu dengan Tuhan itu untuk bertengkar dengan Tuhan soal Nabi Adam. Dan pasti, sampai sekarang setan tetap percaya adanya Tuhan, hanya saja, dia pembangkang Tuhan. Lha dirimu bagaimana? Dirimu itu kan tidak percaya adanya Tuhan, sedangkan Iblis percaya adanya Tuhan. Otomatis, kamu lebih hebat daripada iblis. Akibatnya, iblis sungkan dan enggan ketemu kamu, karena semua jenis setan itu masih akui adanya Tuhan. He he he, semua iblis itu sadar diri, bahwa kamu itu lebih hebat darinya. Kata iblis, ‘bayangkan, orang ini nggak percaya ada Tuhan, apalagi terhadap eksistensi kita, entah malah dianggap apa kita-kita ini?’ Makanya, tak satupun iblis mau bertemu dan bertampak wajah dengan kamu. Mereka minder semua sama kamu. Jadi, kalau hanya jin kelas rumah kosong atau hantu penunggu pohon besar, ya jelas nggak akan berani ketemu sama kamu, gitu…” Saya beri keterangan seperti itu, dia malah tersenyum-senyum yang kecut saja. Memang, MH pun pernah berpendapat, bahwa setan itu tidak ada kecuali itu hanyalah sebuah konsep tentang kebodohan, kepicikan, kemalasan, dan ketakutan. Separuhnya, saya pun juga ada setujunya dengan pendapat dia seperti itu. Selesailah di situ dan fokusnya apa di sini? Dia tidak mau marah dengan argument saya tadi, dan saya pun tak perlu resah dengan argumen dia. Semua punya pikiran masing-masing. Saya pun bersyukur untuk satu hal, bahwa banyak teman sekampus itu berusaha tidak pernah berbicara kasar, melainkan bersikap lembut. Waktu itu kita sama-sama sadar sebagai orang terpelajar, berbicara itu adalah kasar bila tidak ada sifat benar, minimal benar di tingkat logika atau nalar. Bernalar itu bagian berdialog, yang tentu anti-kasar. Saya tidak akan menilai apakah benar-salah isi dialog semacam itu sekarang, kecuali dialog dengan teman-teman itu benar-benar terjadi dulunya. Kira-kira begitulah keadaan tahun 2007-2008, dan saya memang ada di situ. Masa-masa dimana saya sudah lupa apa itu doa Nurbuwat! Eh, kini kembali teringat.

    Baiklah, sekarang saya coba meneluri (atau menanggapi) kembali doa Nurbuwat itu, semampu saya. Lalu, untuk mempermudah fokusnya, maka saya bahas berdasarkan kalimat perkalimatnya, yang dibuat secara terpecah kira-kira sebanyak 17 kalimat.

    KALIMAT ke-1 dari doa Nurbuwat, yakni:
    اَللّٰهُمَّ ذِيٛ السُّلٛطَانِ الٛعَظِيٛمِ
    Artinya: “Ya Allah, Dzat Yang memiliki kekuasaan Agung,”
    Ustadz Ammi Nur Baits mengatakan bahwa doa Nurbawat itu ‘banyak kejanggalan’, yang berarti kejanggalan itu ada lebih dari satu, yang dapat saja terdiri dua, tiga, empat dan seterusnya; karena disebutkannya ‘banyak’, begitu. Lalu, nah ini, Ustadz Ammi Nur Baits pula yang menyatakan, bahwa kalimat ke-1 doa tadi terdapat kekeliruan dari segi tata bahasa Arabnya, sehingga harus dirubah menjadi:
    اَللّٰهُمَّ ذَا السُّلٛطَانِ الٛعَظِيٛمِ
    Itulah perubahannya. Baiklah, oleh karena saya tidak tahu tata bahasa Arab, maka koreksi Ustadz Ammi Nur Baits ini saya terima saja. Dengan demikian, berarti waktu masih SMP itu dulu, saya pernah mengamalkan doa Nurbuwat dengan teks yang salah. Saya pikir koreksi semacam ini bagus juga. Bagi penerbit buku-buku Mujarobat, bolehlah pertimbangkan teks Arab koreksi tadi. Hal itu dengan syarat: jika setuju. Sementara itu, saya masih perlu bertanya: apakah kesalahan secara tata bahasa itu juga berakibat mengubah arti? Kalau tidak, ya syukurlah. Baiklah, begini saja, yang saya ketahui, suatu teks Arab itu yang sama sekali tidak boleh berubah, bahkan satu huruf sekalipun hanyalah ayat-ayat Al Quran. Mungkin Ustadz Ammi Nur Baits dapat membantu kita-kita yang keliru ini, dapatkah ditunjukan dokument awal dari teks doa Nurbuwat, sehingga apakah itu keliru sejak awal ataukah keliru baru belakangan ini? Maksud saya pada teks Arabnya. Walaupun saya cemas, apakah mungkin pencipta doa ini termasuk orang yang buta tata bahasa Arab? Mohon maaf, itu pertanyaan yang mungkin tidak perlu dijawab dengan segera, karena butuh penelitian yang cukup serius. Selain itu juga Pak Ustadz Ammi Nur Baits, apakah teks koreksi dalam bahasa Arab yang Ustad buatkan tersebut, masih berarti secara bahasa Indonesia (Melayu)-nya: “Ya Allah, Dzat Yang memiliki kekuasaan Agung”?

    Kalau arti bahasa (bangsa) kitanya masih begitu, walau teks bahasa (bangsa) Arabnya sempat keliru, maka saya ini dulu-dulunya tidak terlalu keliru, atau keliru yang tidak keterlaluan waktu dulu. Insya Allah, pasti, saya aman untuk tidak syirik ataupun tidak musyrik. Karena yang syirik itu bila saya berdoa dengan kalimat yang mengandung arti, misalnya:
    “Ya Al Latta, zat yang memiliki kekuasaan di tanah Arab”, atau
    “Ya Al Uzza, zat yang memiliki kekuasaan,” atau “Ya Manah, oh anak perempuannya Tuhan”, (Nama-nama ‘penguasa’ ini dari Surah An Najm 53:19-20) atau
    “Ya ratu laut selatan, yang kekuasaannya begitu seksi”, atau “Ya raja ghaib laut utara, yang kekuasaannya begitu ‘jantan’ di laut Jawa,”.
    Selain itu, saya ini juga Insya Allah, pasti juga tidak musyrik, karena saya tidak berdoa dengan kalimat: “Ya Baal, zat yang memiliki kekuasaan yang menyuburkan tanah pertanian bangsa Phunicia,” (nama penguasa ini di surah Ash Shaffaat 37: 125), atau
    “Ya bintang Sirius, zat yang memancarkan kuasa cahaya begitu indah bagi bangsa Ad” (Surah An Najm 53: 49-50), atau
    “Ya dewi Sri, zat titisan tuhan yang menguasai tanah pertanian bangsa Jawa”, atau “Ya Sang Hyang Kamajaya, zat yang menguasai raja asmara”, atau
    “Ya Marduk, zat yang menguasai negara Babilonia”, atau
    “Ya dollar dan rupiah, zat yang memiliki kekuasaan agung di sebagian jiwa bangsa Indonesia”. Dengan demikian, mungkin Pak Ustadz Ammi Nur Baits akan setuju dengan pendapat saya, bahwa saya ini tidak termasuk orang yang syirik, karena pernah mengamalkan doa Nurbuwat. Karena saya yakin, bahwa kalimat ke-1 dari doa Nurbuwat tadi memang mengandung nama ALLAH yang sesungguhnya, yakni “asmaul husna” untuk Tuhan YME, dan berdamping dengan nama “AL ‘AZHIIMU” (Dzat yang Maha Agung). Nama Allah, bukanlah nama-nama tuhan atau dewa-dewa yang lain. “Ya Allah, Dzat Yang memiliki kekuasaan Agung,” itulah yang arti teks bahasa kita.

    KALIMAT ke-2, dari doa Nurbuwat adalah:
    وَذِى الٛمَنِّ الٛقَدِيٛمِ وَذِى الٛوَجٛهِ الٛكَرِيٛمِ
    Artinya: “Yang memiliki anugerah yang terdahulu dan memiliki wajah yang mulia,”
    Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, kalimat ini termasuk janggal dari segi tata bahasa Arab. Saya akui, saya tidak paham dengan istilah teknis bahasa Arab itu, karena saya bukan santri. Beginilah resikonya bagi saya yang hanya berilmu mengaji sebatas “alif-alifan” alias buku “Qaa’idah Baghdaadiyah” tanpa pendalaman, sehingga saya “harus” patuh pada Ustadz Ammi Nur Baits tadi. Menurut beliau, kalimat ke-2 doa Nurbuwat tadi “seharusnya”—bukan “sebaiknya” ataupun “selayaknya”—berganti menjadi:
    وَذَا الٛمَنِّ الٛقَدِيٛمِ وَذَا الٛوَجٛهِ الٛكَرِيٛمِ
    Semoga arti bahasa Indonesianya masih tetap “Yang memiliki anugerah yang terdahulu dan memiliki wajah yang mulia” begitu, karena Ustadz Ammi Nur Baits tidak membicarakan masalah arti ataupun maknanya, setidaknya sampai pada kalimat ke-2 doa Nurbuwat ini. Dalam bagian ini, saya hanya ikut dan hanya bisa mencatatkan suatu hal yang tidak kalah penting, yakni nama “AL QADIIM” itu sama dengan”AL MUQADDIM” yang artinya “Yang Mendahului” sebagai nama lain dari “ALLAH”, bersama-sama dengan nama “AL KARIIM” yang artinya “Yang Maha Mulia”. Dengan demikian, semangat kalimat ke-2 ini telah cukup sesuai dengan anjuran Surah Al A’raaf Ayat 180 yang berbunyi: “Allah mempunyai asmaa-ul husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya…” Cukup tepat demikian?! Tepat maksud pengutipan bahwa doa panggil ‘asma ul husna’-nya dengan dalil Quran ini?

    KALIMAT ke-3, doa Nurbuwat adalah:
    وَوَلِيِّ الٛكَلِمَاتِ التَّا مَّاتِ وَالدَّعَوَاتِ الٛمُسٛتَجَابَةِ
    Artinya: “yang menguasai kalimat-kalimat yang sempurna, dan doa-doa yang mustajab”
    Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, kalimat ini juga “seharusnya” berganti, yang kasroh menjadi harakat fathah, pada “wawaliyyi” dengan:
    وَوَلِيَّ الٛكَلِمَاتِ التَّا مَّاتِ وَالدَّعَوَاتِ الٛمُسٛتَجَابَةِ
    Begitulah. Tidak ada keterangan lebih lanjut dari Ustadz Ammi Nur Baits mengenai hal ini, kecuali beliau segera meloncat saja kepada kalimat ke-7 doa Nurbuwat. Apakah saya juga akan meloncat ke kalimat ke-7 doa Nurbuwat ini? Tidak begitu, saya belum mau segera kesana, sebelum melihat-lihat dulu kalimat yang ke-3 ini dengan sedikit lebih seksama. Misalnya, “wawaliyyal kalimaatit tammaati” yang artinya Allah “yang menguasai kalimat-kalimat sempurna” itu. Untuk “Kalimat-kalimat sempurna” dalam kalimat ke-3 doa Nurbuwat ini jelas mengacu mutlak “kalimat Allah”, bukan kalimat yang lain, semisal “kalimat-kalimat” dari para penyair gurun padang pasir, ‘kalimat wangsit’ dukun gua-gua negeri Arab, atau kalimat penyihir dari istana Kinda raja-raja Arab kuno. Di sini, “Kalimat sempurna” adalah kalimat Allah dalam bentuk teks wahyu mutakhirnya: Al Quran, dan bukan teks sebagaimana tuduhan penyair gurun pasir kepada para Nabi sebagai KALIMAT sihir. Tuduhan itu jelas seperti maling teriak maling. Tentang KALIMAT SEMPURNA Allah itu, saya tidak mempunyai rujukan utamanya, kecuali mungkin dari Surah Al Baqarah Ayat 37 yang berbunyi: “Kemudian Adam menerima beberapa KALIMAT dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” Para ahli tafsir mengatakan bahwa “KALIMAT” untuk Nabi Adam as itu adalah doa-doa taubat. [Saya kutip dari Al Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: CV. Toha Putra dan Departemen Agama Republik Indonesia, 1989.hlm. 15] Dengan demikian, doa Nurbuwat kalimat ke-3 ini tentang Allah sebagai penguasa “doa-doa yang mustajab”, tetap terasa menyambung dengan maksud frasa “kalimat sempurna” sebelumnya: Allah “yang menguasai kalimat-kalimat yang sempurna,”. Sekali lagi, secara maknawiyah, “kalimat sempurna” ini bukanlah kalimat dari “permainan kata-kata kosmis (cosmic pun)” yang diciptakan oleh para penyair/ pujangga istana demi kekuasaan politis raja-raja klasik, misal demi mengatakan “raja itu adalah dewa” demi proyek legitimasi politik raja berkuasa mutlak-mutlakan. [Istilah ini dikutip dari Lorraine Gesick, “Pengantar: Pusat, Simbol, dan Hirarki Kekuasaan. Esai-esai tentang Negara-negara Klasik Indonesia” (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989).hlm.xxii, dan soal para penyihir-penyair di situs Qaryat al-Faw di Arab Saudi kuno dalam bukunya David Nicolle, “Atlas Sejarah Dunia Islam”. Terj, Rosida. Jakarta: Aksara Qalbu, 2009.hlm.15 boleh disimaklah]. Jadi, “Kalimat sempurna” adalah kalimat Allah yang seperti juga pernah diterima oleh Nabi Musa, bukan kalimat penyihir oleh kehendak raja Fir’aun. Apalagi kalimat ke-3 doa Nurbuwat, bukan pula kalimat-kalimat ‘sakti’ para raja Jawa sekalipun, yang lebih banyak digunakan untuk mendikte rakyatnya. Kalimat sakti itu sering berupa “syair sejarah” yang dibuat oleh para pujangga istana (saya suka menyebutnya “penyihir resmi” negara), entah dalam bentuk ‘babad’, ‘serat’, ataupun ‘hikayat’. Kalimat sakti yang memuji-muji raja. Akhirnya, saya juga ingin bertanya, kepada siapapun, apakah “kalimat sempurna” dalam doa Nurbuwat itu memiliki potensi bukan sebagai KALIMAT milik Allah?

    KALIMAT ke-4 dari doa Nurbuwat adalah:
    وَعَا قِلِ الٛحَسَنِ وَالٛحُسَيٛنِ مِنٛ اَنٛفُسِى الٛحَقِّ
    Artinya: “penjaga Hasan dan Husain dari jiwa-jiwa yang haq”
    Tidak ada ulasan ataupun koreksi dari Ustadz Ammi Nur Baits. Dengan begitu, secara tata bahasa Arab, kalimat ke-4 dari doa Nurbuwat ini tidak ada masalah?

    KALIMAT ke-5, yakni
    وَعَيٛنِ الٛقُدٛرَةِ وَالنَّا ظِرِيٛنَ
    Artinya: “dari pandangan mata yang memandang”
    Secara tata bahasa Arab, kalimat ke-5 dari doa Nurbuwat ini juga tidak ada masalah? Yach, sepertinya akan begitu, ah akan seperti begitu?! Nanti kita selidiki, “… pandangan mata yang memandang” penuh selidik semacam apa itu.

    KALIMAT ke-6, yakni
    وَعَيٛنِ الٛاِ نٛسِى وَالٛجِنِّ وَالشَّيَا طِيٛنِ,
    Artinya: “dari pandangan mata manusia dan jin.”
    Demikian pula Ustadz Ammi Nur Baits juga tidak memberikan koreksi apapun.

    KALIMAT ke-7, ini yang menarik, karena kalimat ke-7 ini adalah ayat Al Quran yakni:
    وَاِنٛ يَّكَا دُالَّذِيٛنَ كَفَرُوٛا لَيُزٛ لِقُوٛ نَكَ بِاَبٛصَارِهِمٛ لَمَّا سَمِعُوا الذِّ كٛرَ وَيَقُوٛ لُوٛنَ اِنَّهٗ لَمَجٛنُوٛنٌ.
    (القلم: ٥١)
    Artinya:
    Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, takala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”. (QS Al Qalam 68: 51)

    Kalimat ke-7 inilah yang langsung saja dibahas oleh Ustadz Ammi Nur Baits, dengan meloncati kalimat ke-4 hingga kelimat ke-6 dari doa Nurbuwat di sini. Baiklah, lalu, Ustadz Ammi Nur Baits memang menyebutkan kalimat ke-7 ini sebagai suatu ayat, tetapi tidak secara lugas disebut sebagai Surah Al Qalam Ayat 51 begitu. Oleh karena itu, sayalah yang coba untuk menggarisbawahinya, bahwa ini memang ayat Quran. Ini penting, karena begini: ketika Ustadz Ammi Nur Baits membahas kalimat doa Nurbuwat dari kalimat ke-1 hingga ke-3 doa Nurbuwat, beliau membongkar teks kalimat itu secara kritis terdapatnya cacat kalimat dari aspek tata bahasa Arabnya. Sementara untuk kalimat ke-7 ini, kritik secara tata bahasa seperti itu sudah tidak dilakukan lagi oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Mungkin, Ustadz Ammi Nur Baits ingin mengakui secara positif bahwa kalimat ke-7 ini memang sudah benar, bahwa ini betul-betul teks langsung dari Al Quran, dan siapa sih yang sanggup merubah-rubah teks ayat Quran?! Pencipta dan pengamal doa Nurbuwat tidak melakukannya bukan?!

    Namun agak mengejutkan, Ustadz Ammi Nur Baits mengupas kalimat ke-7 ini dalam kritik yang lain lagi, yakni kritik dari aspek “Susunan kalimat yang tidak sistematis dan tidak memiliki kaitan” begitu. Ustad menyatakan ayat atau kalimat ke-7 ini dikutip secara tiba-tiba saja dalam doa Nurbuwat ini. Menurutnya, semula bagian awal doa Nurbuwat penuh dengan pujian kepada Allah, tiba-tiba saja doa beralih kepada ayat [51 Surah Al Qalam] yang kisahan tentang Nabi Muhammad SAW, yang hendak diserang orang kafir melalui penyakit TATAPAN MATA yang hasad (dengki). Sekali lagi, benarkah doa Nurbuwat “tiba-tiba nggak nyambung” begitu? Menurut saya, tidaklah demikian. Mohon maaf, ustad-lah yang secara tiba-tiba membahas kalimat ke-7 ini, tanpa menyambung atau mengurai dahulu kalimat ke-4 dan ke-6 doa Nurbuwat, yang berisi doa pujian nama Allah sang “penjaga Hasan dan Husain dari jiwa-jiwa yang haq, dari pandangan mata yang memandang, dari pandangan mata manusia dan jin.” Jika saja mengurai kalimat ke-4 dan ke-6 dahulu, tentu tidaklah ada kesan tiba-tiba tersebut, karena kata kuncinya ada pada TATAPAN MATA atau PANDANGAN.

    Marilah kita kunjungi kembali kalimat ke-4 doa Nurbuwat tentang Allah sang “penjaga Hasan dan Husain dari jiwa-jiwa yang haq” tadi, yang sangat mungkin berkaitan dengan doa Nabi Muhammad SAW untuk kedua putranya itu—Hasan dan Husein. Apa doa Nabi Muhammad saw itu? Inilah doanya Nabi: “Aku melindungi kamu dengan KALIMAT-KALIMAT ALLAH yang sangat sempurna dari setiap setan dan mahluk-mahluk beracun, serta dari setiap PANDANGAN MATA yang menimpanya (yang dapat menyebabkan celaka)” [Doa ini dari HR Bukhari melalui buku Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Doa Dzikir dan Wirid Sehari-hari Menurut Al Quran dan As-Sunnah. Terj. Abdullah. (Solo: Insal Kamil, 2006).hlm. 160-161] Perlu diketahui, ini sebuah doa Nabi Muhammad SAW yang sebelumnya merupakan doa Nabi Ibrahim as untuk putranya si Ismail dan Ishaq. Labib MZ menerjemahkan doa Nabi ini juga ke Bahasa Indonesia dengan redaksinya: “Aku lindungkan kamu berdua dengan menyebut KALIMAT ALLAH yang sempurna, dari tiap-tiap setan dan binatang berbisa dan dari tiap-tiap MATA yang MEMANDANG SINIS”. [Teks Indonesia dikutip dari Labib MZ, Bimbingan Doa dan Dzikir Mujarob. (Jombang: Lintas Media, tth).hlm. 140, dan teks doa berbahasa Arabnya via hadist itu juga ada di situ, saya tidak menyalinnya di sini,kecuali kelak ada yang memintanya]. Semoga pembaca bisa bersabar, bahwa saya ingin memperlihatkan adanya pola: “KALIMAT SEMPURNA” vs “TATAPAN SADIS”, eh “TATAPAN SINIS” Dengan begitu, saya berani katakan bahwa kalimat ke-7 atau Quran Surah Al Qalam 68: 51 ini tetap—sekali lagi—tetap nyambung dengan tema pujian nama Allah (sang penguasa “KALIMAT SEMPURNA”) pada kalimat ke 4 hingga 6 doa Nurbuwat tersebut.

    Terus terang, saya sangat suka dengan catatan Al Qalam 68: 51 (sebagai kalimat ke-7 doa Nurbuwat) ini yang dibuat Departemen Agama Islam Indonesia. Ayat 51 ini bertutur: “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan PANDANGAN mereka, …” Menurut tafsir ulama berjamaah di Indonesia, ayat 51 Al Qalam menggambarkan suatu kebiasaan di tanah Arab, seseorang ada yang dapat saja membinasakan binatang atau manusia dengan PANDANGAN [mata] yang tajam. Teknik pencelakaan via mata tersebut juga disasarkan mereka kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi Allah memeliharanya, sehingga terhindar dari bahaya PANDANGAN itu. Masih menurut penafsir Indonesia, kekuatan PANDANGAN mata itu pada masa sekarang [tahun 1980-an] dikenal sebagai HIPNOTISME. [Dikutip lagi dari dari Al Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: CV. Toha Putra dan Departemen Agama Republik Indonesia, 1989.hlm. 965] Jika tafsirnya demikian, coba perhatikan lagi berita Ayat 51 “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu [Muhammad] dengan PANDANGAN mereka, …” tadi, ini jelas bahwa Nabi Muhammad SAW pun hampir dapat digelincirkan oleh kekuatan mata Hipnotis “kaum” padang pasir tersebut, apalagi umat-umatnya yang selevel manusia biasa itu?

    Hipnotis memang sejenis kekuatan mistis (dan logis) via PANDANGAN mata, yang secara teoritis, memang pernah saya pelajari dari beberapa buku, baik kelas emperan toko maupun non-emperan, yang ternyata belum satupun yang menganggap tunggal dalam hal metode maupun alirannya. (Misalnya, Rommy Rafael di Metro TV, yang dipandu oleh Ralf Tampubolon, pernah mengatakan bahwa ilmu hipnotis, gendam, dan sihir—itu tidaklah sama dan bukan barang yang sama. Maaf, saya lupa rincian penjelasan dan kapan dia berbicara itu. Kalau jelasnya, ya tanya saja sama Romy) Kekuatan hipnotis memang dapat dipelajari oleh siapapun. Namun begini saja. Terus terang. Menurut dugaan saya, metode hipnotis yang paling “sempurna” dan lebih “kuat” adalah apa yang dimiliki oleh penyihir Fir’aun. (Pendapat lain bilang metode hipnotis yang ‘paling sempurna’ itu di Babilonia. Satu yang sulit diketahui, apakah metode hipnotis Babilonianya juga diambil oleh bangsa Yunani bercampur dengan ilmu astronomi ‘negeri Babil’?? Entahlah, tapi yang saya tahu sedikit, Hipnotis itu dari kata “hipnos”/ “dewa tidur”) Mengapa metode hipnotis dari penyihir era Fir’aun itu saya anggap lebih kuat, bahkan lebih kuat daripada kaum penghipnotisnya bangsa Quraisyi di era Nabi Muhammad saw, karena berdasarkan afirmasi dari dua ayat sekaligus, yakni:
    “Dan berapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu….” (Surah Muhammad 47: 13)

    dan juga ayat:
    “Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka [bangsa Muhammad] itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. [Biar begitu] adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?” (Surah Qaaf 50: 36),

    dan memang, mereka, penduduk di kota Mekah pun ingin membinasakan nabi Muhammad dengan hipnotis atau TATAPAN MATA yang mistis sadis itu? Tidak berdaya guna apa terhadap sang Nabi. Nah, ayat tadi dengan jelas mengabarkan bangsa-bangsa maju dan besar jaman kuno pun, yang penuh pertualangan ‘hipnotis’ politik ekonomi pun dibinasakan juga oleh Tuhan: “Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?” Sekali lagi, meski belum dibuat penelitian yang lebih akurat, bahwa kalimat sugesti ‘sihir’ Tatapan Mata mistis atau hipnotis era Nabi Musa itu begitu ‘sempurna’ dan ‘canggih’, karena syair transedentalnya sudah mengkombinasikan daya kekuatan retorika-astronomika-fisika-metafisika, dll. Halusinasi ular yang diciptakan oleh tukang sihir Fir’aun, misalnya, melalui kalimat ‘segesti’ retorika dan metafisikanya sudah hampir-hampir membuat Nabi Musa ketakutan. Tetapi, lagi-lagi, seperti yang kelak akan terjadi pada zaman Nabi Muhammad saw, hipnotis itu juga tidak berguna. Saya menduga, boleh kan menduga, bahwa hipnotis tertinggi itu ada pada penyihir Fir’aun tadi, yang telah mengkombinasikan seluruh jenis kekuatan, mulai dari RETORIKA, MATA, FISIKA, METAFISIKA, dan teknik manipulatif lainnya. (Saya berbeda dengan Quraisy Hab. Dia menolak ada ulama yang berpendapat bahwa tali-tali yang disihir menjadi ular oleh tukang sihir fir’aun itu menggunakan bahan kimia sebagai sikap anti mukjizat, namun cukup sayang Quraisy Hab tidak menyebut ulama mana yang berpendapat tidak percaya sihir gaib begitu, kecuali sihir kimia saja. Ceklah dulu di buku M. Quraish Shihab berjudul “Tafsîr Al-Misbâh. Pesan, Kesan, dan Keserasian Al Quran. Volume 7” Jakarta: Lentera Hati, 2002.hlm.621; sementara saya berbendapat bahwa penyihir itu komplit ilmunya: sihir gaib mistis dan sihir al-kemis. Baiklah, saya tahu ini perdebatan dari suatu kisah ayat yang bukan muhkamaat [jelas lugas], melainkan mutasyabihat [samar], saya juga jadi tidak ingin ngotot-ngototan yang tidak perlu.) Teknik manipulatif yang disampaikan oleh Tatapan Mata Hipnotis, itu fokus kita.

    Hal demikanlah yang mungkin diharapkan oleh pemakai doa Nurbuwat ini, keselamatan yang pernah diberikan Allah kepada Nabi juga diharapkan dapat berlaku kepada umatnya, yah umat yang mendoa dengan doa Nurbuwat. Jadi, ayat 51 Al Qalam yang berbunyi “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu [Muhammad] dengan PANDANGAN mereka, …” tadi telah menyambung sekali dengan doa Nurbuwah sebelumnya, yakni: pujian “Kalimat Allah” yang mampu melindungi Hasan dan Husein dari PANDANGAN/tatapan sadis. Baiklah, saya ringkaskan doa Nurbuwat ini berurutan secara logis: dari kisah anak-anaknya Nabi si Hasan dan Husein yang diberi doa kalimat perlindungan, sampai kisah Nabi Muhammad yang diberi kalimat perlindungan Allah dari para penyihir bertatapan sadis.

    KALIMAT ke-8, doa Nurbuwat juga ayat dari Al Quran yakni:
    وَمَا هُوَ اِلَّا ذِكٛرٌ لِّلٛعٰلَمِيٛنَ.
    (القلم: ٥٢)
    Artinya:
    Dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. (QS Al Qalam 68: 52)
    Dari segi teks Arab tidak ada perubahan. Tetapi dari segi maksud, sulit diketahui. Al Quran memang peringatan dan pelajaran bagi semua manusia di bumi ini. Mungkin juga, pendoa Nurbuwat dapat berasa dalam doa dengan Ayat 52 itu bahwa Al Quran memberi peringatan: “Waspadalah terhadap aneka sihir”, dengan dirasa seperti pesan Bang Napi RCTI: “Waspadalah!”

    KALIMAT ke-9, yakni
    وَمُسٛتَجَابُ لُقٛمَانِ الٛحَكِيٛمِ
    Artinya: “dan mengijabahi Lukmanul Hakim”
    Memang, kalimat doa Nurbuwat ini bukan ayat Al Quran. Mungkin begitu, karena saya belum berhasil melacaknya, yang secara redaksi sama atau beda secara mutlaknya. Namun bukan berarti saya tidak mau mengomentari doa, khusus pada kalimat ke-9 barusan ini.

    “Mustajab” atau mumpuni yang dimaksud dalam kalimat ke-9 ini, tampaknya merujuk kepada kehikmatannya doa-doa Luqman, atau kebijaksanaan petuah-petuah hidupnya. Apa pastinya begitu? Tiap muslim memang diberitahu, bahwa Luqman adalah sosok dan nama manusia yang betul-betul istimewa. Dia bukan Nabi dan bukan pula Rasul, tapi kebijaksanaan (‘hakim’) hidupnya membuat Allah memperhatikan dia dengan mencatatkannya, kedalam Quran yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw.

    Mungkin pula, maksud kalimat ke-9 dari doa Nurbuwat barusan, dapat dikaitkan dengan surah Luqman Ayat 12 terkait ilmu hikmah-nya si Lukman Hakim. Perhatikanlah bunyi ayat 12 Surah Luqman berikut:
    “Dan sesungguhnya telah Kami berikan HIKMAT kepada LUQMAN, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

    Hikmat itu menjadi nikmat bagi diri Luqman. Nama dan doanya itu sengaja disenggol dalam doa Nurbuwat dengan harapan-harapan hikmat yang sama nikmat mustajabnya. Itu penjelasan yang bersifat praktis. Namun penjelasan filosofis, nah, para pemakai dan penghayat doa Nurbuwat mayoritas adalah golongan tarekat, merekalah yang mungkin bisa menjelaskannya, bukan saya. Kalau saya hanya bisa mengatakan secara terbatas—ini seandainya benar, bahwa orang Jawa itu paling mudah didekati dengan penjelasan filosofis ilmu hikmat daripada penerangan ilmu syariat. Ada penjelasan nyaris tanpa penjelasan. Maksudnya, penjelasan ilmu hikmah itu tanpa penjelasan teoritis dan yuridis, yang demikian itulah menjadi kesenangan orang Jawa. Bagi saya, itu adalah kelebihan sekaligus kelemahan orang Jawa, terutama pengamal doa Nurbuwat yang didapatkannya dari primbon doa Jawa tersebut, (dari primbon yang dipopulerkan lagi di emper-emper toko pasar rakyat). Mereka ini, golongan penghayat, senang betul menghayati segala hal lebih kepada mistis-filosofis ketimbang repot memahami hal yuridis teknis keagamaan, dalam hal ini: Islam. Baiklah, daripada melebar kemana-mana, saya rangkum saja, bahwa ‘Hikmat’ seorang Luqman sebagai nama dan kerja ‘doa’ syukurnya terhadap nikmat menjadi semangat moral dan spiritual yang diharapkan dari doa Nurbuwat. Itulah letak pentingnya nama Luqmanul Hakim, yang di dalam Surah Luqman Ayat 19, si Luqman menutup nasihat bijak kepada anaknya sebagai berikut: “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” Suara saya, jiwa Anda, hati Saudara, Rasa kita, bukanlah sura keledai? Setuju begitu? Semoga. (Meskipun saya agak cemas, penjelasan saya ini nanti malah dianggap pula ‘tidak sistematis dan tidak nyambung’ begitu. Hanya cemas saja, boleh ‘kan?!)

    KALIMAT ke-10, nah ini ada kaitan jelas dengan ayat Quran secara tekstual. Perhatikan dulu kalimatnya:
    وَوَرِثَ سُلَيٛمَانُ دَاوٗدَ عَلَيٛهِمَا السَّلَامُ
    Artinya: “dan Sulaiman telah mewarisi Daud ‘alaihis salaamu”

    Nah, tadi Luqman, sekarang Sulaiman. Luqman, lalu Sulaiman. Berkata Luqman, bersuara Sulaiman. Ah, Luqman dan Sulaiman. Pas, untuk orang beriman. Yah, petuah ilmu hikmah Luqman kepada anaknya yang bijak, kini petuah ilmu pemerintah Sulaiman sebagai anak terwarisi dari Daud as yang kuat. Begitulah cerita yang saya tangkap, dari Al Quran sebagai niat doa Nurbuwat. Yah, agaknya begitu. Daud as—Ayah yang kuat; sekarang Sulaiman as—anak yang hikmat. Nyambung bukan?
    Namun begini, kalimat ke-10 dari doa Nurbuwat itu tidak utuh mengambil dari Quran secara teks Arabnya. Kalau dalam Al quran secara lengkap berbunyi:
    وَوَرِثَ سُلَيٛمٰنُ دَاوٗدَ وَقَالَ يٰٓاَيُّهَاالنَّاسُ عُلِّمٛنَا مَنٛطِقَ الطَّيٛرِ وَاُوٛتِيٛنَا مِنٛ كُلِّ شَيٛءٍۗ اِنَّ هٰذَالَهُوَ الٛفَضٛلُ الٛمُبِيٛنُ.
    (النّمل: ١٦)
    Artinya:
    Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata: “Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar satu karunia yang nyata.” (QS An Naml 27: 16)

    Dengan demikian, doa Nurbuwat mengambil yang frasa awalnya Surah An Naml Ayat 16 saja (“wawaritsa Sulaimaanu Daawuuda…”). Nah, kali ini saya berurai agak teknis ketimbang mistis yang sulit diurai dan diintip itu. Apakah boleh awalnya surah An Naml Ayat 16 saja yang dipotong eh dikutip secara pendek untuk doa, dalam hal ini kalimat ke-10 Nurbuwat? Kalau saya boleh jawab, ya boleh-boleh saja. Memang dalil saya punya bukan dalil naqli, tapi dalil adat saja. Yah, dalil dari kebiasaan. Teknis memang, dan nyata praktis. Saya ambil kasus Surah Ali Imran Ayat 19 dalam zikir, yang ternyata biasa sekali diambil oleh umat Islam di Indonesia untuk berzikir, cukup dengan:
    اِنَّاالدِّ يٛنَ عِنٛدَ اللّٰهِ الٛاِسٛلَامُۗ …
    (الٓ عمران:١٩)
    Artinya:
    Sesungguhnya agama yang (diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam… (QS Ali Imraan: 19)

    Nah, ini sepotong kalimat Ayat 19 Ali Imran yang diambil depannya saja, boleh bukan? Padahal, kalau Ayat 19 Ali Imran dipakai lengkap teksnya, itu juga akan relevan dengan perdebatan di forum ini, yang bunyi lengkapnya saya catat lagi: “Sesungguhnya agama yang (diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang PENGETAHUAN kepada mereka, karena KEDENGKIAN (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS Ali Imraan: 19)

    Nah, ini sepotong kalimat An Naml Ayat 16 (“wawaritsa Sulaimaanu Daawuuda…”) untuk doa Nurbuwat mirip dengan kasus Ali Imraan: 19 (“Innaddii na ‘indallahil islaamu”), itulah yang saya dalilkan secara adatnya.

    Nah kembali pada kalimat ke-10 doa Nurbuwat, setelah An Naml Ayat 16 itu diambil sebagian pada awalnya saja, namun secara teknis pun masih disambung lagi dengan ucapan salam untuk Sulaiman dan Daud as, yakni “alaihis salam”/ “semoga kesejahteraan senantiasa terlimpah atasnya”. Ini adalah kewajiban setiap mukmin menghormati para nabi Allah, walaupun mereka (Daud dan Sulaiman) adalah keturunan dan penguasa Bani Israel. Makanya dalam teks tertulis sebagai berikut ini:
    وَوَرِثَ سُلَيٛمَانُ دَاوٗدَ عَلَيٛهِمَا السَّلَامُ

    Sekali lagi, frasa “semoga kesejahteraan senantiasa terlimpah atasnya”adalah ucapan teknis yang penting. Menurut Jerald F. Dirk, kaum Kristiani Barat merasa gelisah dengan frasa kebiasaan muslim itu, ketika salah satunya menyebut Nabi Isa, misal, dengan tambahan “‘alaihissalam” juga. [Saya kutip dari bukunya Jerald F. Dirk berjudul “Salib di Bulan Sabit”. Terj. Ruslani. Jakarta: Serambi, 2003. hlm.8], dan memang, frasa teknisnya, khusus pada nama Muhammad, selain salam juga harus ditambah shalawat terlebih dahulu. Itu juga saya baca dari bukunya Imam Nawawi berjudul “Al-Adzkar Shahih Doa dan Dzikir. Kitab Induk dan Pedoman Lengkap doa dan Dzikir yang Diajarkan oleh Nabi Muhammad saw” terj. Zenal Mutaqin. Bandung: Jabal, 2011.hlm.171. Mengucap “alaihis salam” setelah sebut nama Nabi Daud—suatu yang biasa-biasa saja, tapi ini penting. Nah, hal yang biasa saja ini juga tersedia pada kalimat ke-10 doa Nurbuwat. Ini teks bukan sekedar cocok saja dengan kaidah bahasa Arab, tetapi teks juga nyaris sudah cocok dengan kaidah doa, ya bukan demikian? Baiklah, saya akui memang ada yang masih mengganjal di situ, “alaihis salam” kepada Nabi Daud di kalimat ke-10 menjadi “alaihimassalam”, apakah itu syah menurut kaidah? Wah, memang saya buta tata bahasa Arab.

    KALIMAT ke-11, doa Nurbuwat adalah:
    يَاوَدُوٛدُ يَااللّٰهُ يَاذَالٛعَرٛشِ الٛمَجِيٛدِ يَافَعَّالٌ لِمَايُرِيٛدُ طَوِّلٛ عُمٛرِيٛ
    Artinya: “Ya Dzat Maha Mencintai, Ya Allah yang memiliki singgasana dan yang Maha Mulia, Ya Dzat yang Maha Berkuasa atas apa saja, panjangkanlah umurku,”

    Kalimat ke-11 ini termasuk unik, setidaknya menurut saya. Dibilang dia ayat-ayat Al Quran, ya ada juga benar begitu; dibilang bukan ayat Quran lagi, ya bisa keliru begitu. Baiklah. Kalimat ke-11 Nurbuwat ini mengambil dan mentrampil ayat 14 sampai 16 Surah Al Buruuj. Mari kita rinci lagi dengan simak ayat-ayatnya sebagai berikut:
    وَهُوَ الٛغَفُوٛرُ الٛوَدُوٛدُۙ.
    (البروج: ١٤)
    Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, (QS Al Buruuj 85: 14)

    Nah dalam kalimat ke-11 doa Nurbuwat diambil bagian ujung akhirannya saja, “al Wadududu” menjadi “Ya Waduudu”. Titik dulu! Lalu, ayat berikutnya,

    ذُوالٛعَرٛشِ الٛمَجِيٛدُۙ
    (البروج: ١٥)
    yang mempunyai singgasana lagi Maha Mulia, (QS Al Buruuj 85: 15)

    Nah, dalam kalimat ke-11 doa Nurbuat, ayat “dzul ‘arsyil majiidu” menjadi “Ya dzal ‘arsyil majiidu”, sampai disini saya agak bingung sedikit. Apakah ini menyalahi kaidah tata bahasa Arab? ‘dzul’ berubah menjadi ‘dzal’ begitu? Stop, kita lanjut dulu ke ayat berikutnya, yakni:
    فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيٛدُۗ
    (البروج: ١٦)
    Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki, (QS Al Buruuj 85: 16)

    Dalam kalimat ke-11 doa Nurbuwat, ayat ini menjadi tervariasi dari “Ya fa ‘alul lima yurii du”/ “Ya Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki” dengan doa susulannya “towiil ‘umrii”/ “panjangkanlah umurku,” begitu. Pak Ustadz Ammi Nur Baits tidak mempersoalkan perubahan teks ini, tapi mempersoalkan lafal di ujung permintaan doa kalimat ke-11 ini, yang nanti dilihat juga kejadiannya.

    Kalau seandainya ada yang bertanya: apakah sah-sah saja ayat Quran ditambah-tambah begitu? Saya sementara jawab, jika tidak mengubah, hanya mengkreasi “asmaul usna”nya saja, saya jawab: mungkin boleh-boleh saja. Lagi-lagi, saya tidak punya dalil teoritisnya kecuali dalil dari kaum praktisinya. Saya anggap hal ini mirip kejadian ayat ‘basmalah’. Agar terpercaya, marilah perhatikan ayat ‘basmalah” di bawah ini barang sejenaaak saja, yakni:
    بِسٛمِ اللّٰهِ الرَّ حٛمٰنِ الرَّحِيٛمِ.
    (الفاتحة: ١)
    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (QS Al Fatihah 1: 1)

    Dalam tradisinya praktisi, yang juga kini saya pakai dan yakini, Al Fatihah Ayat 1 ini bisa divariasikan sebagai pembuka kalimat doa penutup doa sholat, maksud variasinya adalah:
    اٰمِيٛنَ يَااَللّٰهُ, اٰمِيٛنَ يَارَحٛمٰنُ, اٰمِيٛنَ يَارَحِيٛمُ, اٰمِيٛنَ يَامُجِيٛبَ السَّٓاىِٔلِيٛنَ.
    Artinya:
    Perkenankanlah wahai Allah, perkenankanlah wahai Dzat yang Maha Pemurah, perkenankanlah wahai Dzat Yang Maha Pengasih, perkenankanlah wahai Dzat Yang Memperkenankan para peminta.

    Lihatlah proses kejadiannya, ayat pertama dari Surah pertama Al Quran tertambah “Amiin-amin”, lalu ujungnya masih dikasih pula “amiin ya mujiibas saaa iliina”, yang ini agak mirip susulan ujung Surah Al Buruuj Ayat 15 tadi dengan doa: “towiil ‘umrii”/ “panjangkanlah umurku,” Dengan begitu, apakah ada masalah? Tidak ada. Yang penting ayat basmalah tidak berubah atau bercantum nama dewa serakah, seperti:
    يَااللّٰتَ يَاالعُزّٰى يَااِبٛلِيٛسَ…
    Artinya: “Ya Latta ya Uzza ya Iblis”

    Nah, Ustadz Ammi Nur Baits tidak mempermasalahkan lagi BENTUK teks, tetapi ISI teks doa yang berbunyi “panjangkanlah umurku,” tersebut.

    Dalam tema ‘hakekat’ doa Nurbuwat yang dianggap penuh kejanggalan itu, dibuat ada kategori “Isi permintaan yang tidak tepat”, ya oleh ustad, dengan mempersoalkan doa “[Ya Allah] panjangkanlah umurku” ini. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, doa meminta panjang umur apalagi secara eksplisit begitu bukanlah doa yang terpuji. Saya mengerti sekali apa yang diuraikannya. Tetapi, yang tidak terpuji bukanlah ketika meminta panjang umur, tetapi doa-doa yang sebaliknya: meminta kebinasaan diri dan meminta dipendekkan umurnya. Misalnya, seorang manula sakit menahun berdoa: “Ya Allah, aku sakit ini begitu lama, kenapa nggak Engkau ambil saja nyawaku dengan segera”, atau doanya anak muda sakit asmara: “Ya Allah, cintaku kandas digilas orang kaya yang culas, maka daripada aku tanggung derita mememelas, matikan saja aku segera pun aku ikhlas”, atau doa orang taat ibadah tapi melarat: “Ya Allah, hidup sebagai orang Indonesia serasa jadi orang laknat, yah aku melarat, takut menjilat koruptor seperti GayusTambunan dari orang pejabat Pajak, kenapa tidak kau segerakan padaku alam akhirat yang penuh nikmat bagi rakyat?” Seluruh doa barusan ini mengandung unsur bunuh diri, dan tidak terpuji. Kalau bedoa meminta panjang umur apakah sesuatu yang tidak terpuji? Yah, tergantung si pendoanya saja? Saya garisbawahi, tidak terpuji, jika doa mengandung unsur bunuh diri. [Saya meminjam ulasan Imam Nawawi dalam bukunya berjudul “Al-Adzkar Shahih Doa dan Dzikir. Ibid.hlm.504, yang mengutip hadis (HR Abu Dawud)]

    Dalam hal ini, saya lebih memilih untuk menjelaskan daripada memvoniskan ’doa panjang umur’ itu sebagai suatu terpuji atau agak terpuji, atau malah sama sekali tidak terpuji. Kesadaran tentang hakikat umur panjang itu sendiri, yang perlu dijelaskan. Penjelasan saya begini. Memang benar, bahwa umur seseorang itu sudah ada ukurannya, dan tidak mungkin ditambah atau dikurang, sebagaimana yang tertuang dalam Surah Faathir Ayat 11: “… Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfudz). ….” Jadi, betul memang umur itu suatu yang ukurannya telah ditentukan oleh Tuhan. Masalahnya, jika ingin menekankan pentingnya berumur panjang secara kualitatif, yah diterangkan saja. Tidak perlu pula terlalu meniadakan “doa minta umur panjang” sebagai sesuatu yang tidak terpuji. Toh secara kuantitatif, terkait soal permintaan panjang umur tersebut, Quran juga mengakomodasikannya secara kritis dan logis, yakni: “… dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. …” (QS Al Hajj 22: 5) Jadi, kalau siapa pun mau berdoa minta panjang umur dengan kalimat doa tadi yakni:
    يَافَعَّالٌ لِمَايُرِيٛدُ طَوِّلٛ عُمٛرِيٛ
    “Ya Dzat yang Maha Berkuasa atas apa saja, panjangkanlah umurku,” ya biarkan saja. Tidak perlu ada istilah tak terpuji. Kalau ada waktu, dan mau, serta berilmu, ya silahkan, penikmat doa Nurbuwat diberitahukan saja bahwa keadaan berumur panjang beresiko alamiahnya, penyakit pikun. Itu saja kalau dari saya, yang saya ini waktu kecil termasuk anak orang kota yang biasa-biasa saja, yang paling senang kalau diundang oleh anak agak gedongan untuk ikut bernyanyi: “panjang umurnya, panjang umurnya. Panjang umurnya serta mulia, sertaaa muuuliaaa, sertaaa muuulia. Tiup lilinnya, tiiiup lilinnya WUUSS…..DOR! (bunyi balon)”.

    KALIMAT ke-12, dari doa Nurbuwat adalah:
    وَصَحِّحٛ جَسَدِيٛ وَاَوٛلَادِيٛ وَحَبِّبٛ لِلنَّاسِ اَجٛمَعِيٛنَ
    Artinya: “sehatkanlah jasad tubuhku, kabulkan hajatku, perbanyakanlah harta bendaku dan anakku (pengikutku), cintakanlah semua manusia”

    Seutuhnya, kalimat ke-12 ini tidak terpisah dengan doa Nurbuwat kalimat ke-11 (minta panjang umur) tadi. Hanya saja demi kemudahan dari pembahasan, terpaksa, ya kalimat “sehatkanlah badan tubuhku, kabulkan hajatku, perbanyakanlah harta dan anakku” dianggap sebagai kalimat ke-12, yah serius, demi kalimat ke-12 untuk dibahas.

    Ustad ini mengkritik doa ini dengan hadist yang shahih, bahwa doa minta anak dan harta banyak jika tanpa minta berkahnya adalah salah. Saya kira ini tetap suatu masukan. Tentu suatu masukan. Waktu saya masih SD pun saya sudah diajarkan suatu doktrin Orde Baru waktu kampanye Keluarga Berencana (KB): “Banyak anak Banyak Rejeki, itu suatu pandangan yang penuh kekeliruan”. Dan untuk lancarkan proyek itu, pemerintah mencari dukungan ulama-ulama, dan seperti biasa, ulama pun saling bertengkar, dan saya waktu itu sebagai rakyat anak SD yang kecil, tidak tahu dan tidak ikut-ikutan bertengkar. Sekarang saya bertemu diskusi tentang argument bahwa berdoa minta banyak anak dan harta sebagai sesuatu yang keliru, jika tanpa meminta kriterianya, yakni berkah.

    Baiklah, saya balik lagi ke doa Nurbuwat saja. Sebenarnya kalimat ke-12 doa Nurbuwat ada juga nilai kebenarannya. Saya ingin fokus pada doa “minta harta dan anak banyak”nya saja. Begini, apakah salah orang berdoa minta harta dan anak yang melimpah? Dalam kasus tertentu, hal demikian tidaklah terlalu bermasalah. Banyak harta dan anak, ada pula sifat positifnya. Meski itu tidak mutlak sifat positifnya dalam kasus zaman tertentu. Toh Al Quran pun secara realistis mengakui hal tersebut dengan Surah Al Israa 17: 6 yang berbunyi “Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan HARTA KEKAKAYAAN dan ANAK-ANAK dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.” Jadi, orang berdoa minta supaya menjadi kelompok yang besar dan menang, dengan harta dan anak yang banyak, ya juga tidak salah. Hanya saja, dalam berdoa itu, jangan main mutlak-mutlakan dengan Tuhan, itu juga suatu peringatan. Misalnya Tuhan berkata, “Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak!’”(QS Maryam 19: 77) Dengan begitu, apakah aktivis doa Nurbuwat termasuk “kaum kafir ayat-ayat” ketika bermunajat minta anak dan harta yang banyak? Kalau hanya berdoa saja, asal tidak berkata dan bermaksa “Pasti aku akan diberi harta dan anak”, ya buat saya, itu tidak menjadi persoalan, dan bukan “kafir”. Ini pendapat saya, bukan fatwa, tapi logika, dari al Quran yang terbaca.

    Selain butuh berdoa, manusia memang perlu berwaspada. Tidak mutlak, banyak anak dan harta hidup itu aman dan berkah. Kadangkala keadaan ‘banyak’ itu menjadi pencobaan, bahkan pengazaban. Di tempat lain dan kasus lain pula, Al Quran juga mengingatkan hal tersebut dengan: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS At Taghaabun 64: 14). Jadi, bukan mutlak istri dan anak akan menjadi musuh atau mutlak menjadi sekutu, ini suatu peringatan sekaligus pelajaran saja. Ayat 14 tadi masih dilugaskan lagi oleh Ayat berikutnya “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS At Taghaabun 64: 15) Al Quran memang memberi banyak kisah tentang hidup yang sudah-sudah sebelum era nabi Muhammad, bahwa harta dan anak itu dekat dengan kemegahan dan kemewahan yang diimpikan semua manusia bahkan negara. Pada kasus tertentu, banyak anak itu memang bermakna banyak pengikut. Kemegahan bisa menjadi kehancuran. Tetapi, memang ada kasus, para Nabi pun kadang dilecehkan dengan sedikitnya anak atau pengikut oleh orang megah dan kaum ‘gagah’, sebagaimana ayat berikut ini berbilang:
    Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya” Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab,” (QS Surah Saba’ 34: 34-35)

    Selain itu, ada ciri orang munafik dan musyrik berlawanan dengan ciri Nabi dan para pengikutnya, yang diberitahukan oleh Quran kepada Muhammad saw sebagai berikut: “(keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu…” (QS At Taubah: 69). Apakah para pengamal doa Nurbuwat itu orang kaya dan orang kuat sehingga pantas disebut musyrik dan munafik? Apakah para pendoa Nurbuwat orang yang sudah benar-benar kaya? Di desa-desa, aktifis doa ini rata-rata orang melarat yang sedang berdoa ingin punya anak dan harta yang banyak. Itu saja. Justru orang munafik dan syirik adalah orang kuat, baik segi harta maupun anak; dan biasanya ulama konservatif yang senang poligami dan anti doa Nurbuwat juga termasuk orang kuat dibandingkan pengamal doa Nurbuwat, maka apakah, … apakaaaah? Ah, cukup! (Astarghfirullah al’adzim, saya mau sholat magrib dulu… )

    Begini, agar jelas maksud saya. Al Quran pun mengakui bahwa banyak anak dan harta sebagai salah satu tanda kekuatan individu atau suatu kelompok. Jadi kalau Al Quran mengakui, mengapa kita cenderung mengelabui? Baru berdoa minta ingin jadi orang kaya saja orang sudah dipersalahkan, khusus jika dengan doa Nurbuwat ini. Padahal, di luar sana, ada orang yang sudah kaya harta dan anak berbuat salah tapi tidak dipersalahkan. Waktu Soeharto jaya, anda kita dimana? Oh, rakyat Lapindo oh oh oh, orang miskin berdoapun dipersalahkan, oh jangan begitulah. Jadi, saya tidak perlu banyak berkomentar, kalau Al Quran sudah bertatar, sehingga saya hanya berkomentar bagi yang berdoa dengan kalimat ke-12 Nurbuwat “sehatkanlah jasad tubuhku, kabulkan hajatku, perbanyakanlah harta bendaku dan anakku (pengikutku), cintakanlah semua manusia”, ini tidak terlalu soal!

    Sekali lagi, orang berdoa itu selalu dengan kalimat doa yang bernada ideal, meski realitasnya dunia tidak bercerita ideal seperti dalam doa. Perhatikanlah ujung doa Nurbuwat barusan tadi, yang kira-kira “[Ya Allah…] cintakanlah semua manusia [kepada sesama manusia],” Apa yang salah dengan doa seperti ini? Tidak. Doa ini cukup bagus, karena mulia harapannya. Yah, tidak ada yang terlalu salah bukan? Yang salah jika kita berdoa semisal: “bencikanlah semua manusia terhadap sesama manu

  86. Yang salah jika kita berdoa semisal: “bencikanlah semua manusia terhadap sesama manusia”, nah ini baru doa yang keliru, karena tanpa didoakan seperti itu pun manusia cenderung membenci orang yang bukan sehati dan segolongannya. Saya meyakini hati dan pikiran sendiri, bahwa frasa ujung dari kalimat ke-12 doa Nurbuwat “wa habbib linnaasi ajma’iina”/ “[Ya Allah…] cintakanlah semua manusia [kepada sesama manusia]” merupakan sesuatu imaji harapan akan kedamaian dan kecintaan (mahabbah) yang ideal antar sesama manusia. Inilah ideal, idealisme yang altruis tercetus dalam berdoa, yang kenyataannya bagaimana? Kenyataan atau realitas? Nah, Al Quran bukan kitab munafiq, realitasnya itu dikatakan oleh sebuah ayat adalah sulit, dan dunia penuh cinta damai itu hanya ada di surga di akhirat, bukan di bumi yang rumit. Tetapi perintah Quran itu untuk cinta dan mau cinta sesama itu ada dan itu sebuah keharusan, walaupun Al Quran memberitakan suatu kenyataan bagi seluruh anak-cucu Adam as:
    Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, SEBAGIAN KAMU MENJADI MUSUH BAGI SEBAGIAN YANG LAIN. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” (Surah Al A’raaf 7: 24)

    Walaupun Surah Al A’raaf 7: 24 berkata bahwa sebagian manusia itu potensial selalu bermusuhan, kita tetap harus berjuang jangan sampai selalu bermusuhan, minimal berdamaian melalui doa, misalnya “cintakanlah semua manusia [dalam kedamaian]”, sebagaimana salah satunya ada di doa Nurbuwat ini. Yah, doa itu secara umum boleh sebagai suatu cita-cita ideal, ketika bumi bukanlah alam akhirat yang damai dan adil. Oh ya, jangan keliru pula membaca Surah Al A’raaf 7: 24 bahwa “SEBAGIAN KAMU MENJADI MUSUH BAGI SEBAGIAN YANG LAIN…” tadi, terus dianjurkan praktek saling bermusuhan. Keliru itu, misalnya, “Yuk kita saling bacok-bacokan. Kamu Ahmadiyah, aku anti Ahmadiyah”, atau misal yang lain pada tahun 1965-66, “Ah biarpun dia petani beragama Islam, tapi dia adalah anggota BTI, ya tetap PKI, maka SIKAT!” atau “Biarpun dia hanya guru SD yang beragama Islam, tapi dia anggota PKI, ya tetap ateis makar Soekarno, BUNUH!” (Dua dialog ini saya buat berdasarkan penelitian Hermawan Sulistiyo), atau pada tahun pasca reformasi misal “Ah, biarpun dia beragama Islam dan pandai baca Al Quran, dia itu anggota Jaringan Islam Liberal, BABAT!”, dan misal kekeliruan seterusnya.

    Ini gara-gara saya berkomentar tentang kalimat ke-12 Nurbuwat “sehatkanlah jasad tubuhku, kabulkan hajatku, perbanyakanlah harta bendaku dan anakku (pengikutku), cintakanlah semua manusia”, lumayan panjangnya, saya kok belum bisa selesai juga.

    KALIMAT ke-13, yakni
    وَتَبَاعَدِ الٛعَدَا وَةَكُلَّهَا مِنٛ بَنِ اٰدَمَ عَلَيٛهِ السَّلَامُ
    Artinya: “dan jauhkanlah permusuhan dari anak cucu Adam ‘alaihis salaamu”

    Nah terjemahan ini masih dari bahasa Melayu-an, dan ini juga kalimat yang tidak langsung terambil dari Al Quran. Mungkin Ayat 31 Surah Al Baqarah dapat membantu memahami kalimat ke-13 ini, karena berbicara tentang kehidupan yang dinamis dari anak cucu Adam as. Silahkan cek sendiri sana Ayat 31 Al Baqarahnya. Sementara itu, untuk komentarnya kalimat ke-13 sini, rasanya sudah cukup dibahas di kalimat ke-12 doa Nurbuwat barusan.

    KALIMAT ke-14, yakni
    مَنٛ كَانَ حَيَّا وَيَحِقَّ الٛقَوٛلُ عَلَى الٛكَافِرِيٛنَ.
    Artinya: “orang-orang yang masih hidup (di hatinya) dan semoga tetap ancaman siksa bagi orang-orang kafir.”

    Nah, ini terjemahannya, seperti yang sudah-sudah, memang saya pakai bahasa Melayu. Kecuali bahasa Indonesianya bagaimana? Nah, oleh karena ini ayat Al Quran, maka saya pakai terjemahan bahasa Indonesianya. Tetapi, perhatikanlah, bahwa kalimat ke-14 doa Nurbuwat mengambil ayat Quran dengan teks Arabnya sebagai berikut:
    لِّيُنٛذِرَ مَنٛ كَانَ حَيًّا وَّيَحِقَّ الٛقَوٛلُ عَلَى الٛكٰفِرِيٛنَ.
    (يسٓ: ٣٦)
    supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir. (QS Yaa Siin 36: 70)

    Inilah teks lengkap Surah Yasin Ayat 70; namun begitu, beberapa huruf awal ayat 70 Yasinnya dipotong, demi penyesuaian kalimat doa dengan kalimat sebelum-sebelumnya. Dalam bahasa Indonesianya menjadi : ”…kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir”, kira-kira begitulah. Apakah ini termasuk kaidah tata bahasa dalam berdoa? Hmm..

    KALIMAT ke-15, nah, doa ini juga dari Al Quran, yakni
    وَقُلٛ جَآءَ الٛحَقُّ وَزَهَقَ الٛبَاطِلُۖ اِنَّ اٛلبَاطِلَ كَانَ زَهُوٛقًا.
    (الاسٓراء: ٨١)
    Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah suatu yang pasti lenyap. (QS Al Israa 17: 81)

    Redaksi bahasa Arab dari Al Qurannya tidak ada yang berubah. Lalu? Saya tidak bisa menyederhanakan ayat yang luas makna ini; begitu juga saya tidak bisa meluaskan makna ayat yang padat begini. Apa maksud dan kaitan doa Nurbuwat mencantumkan surah Al Israa 17: 81-nya? Saya merasa sulit. Spiritualitas: yang salah lenyap, yang jahat minggat; yang benar datang, yang tenar jelang; yang sihir minggir, yang munir mahir; yang kikir singkir; yang zikir zahir; dalam hal apa? Sekali lagi, ini hanya pendoa saja yang bisa merasakan, saya tak mau merasakan itu jika sedang banyak memikirkannya dengan cara-cara berdebat seperti di forum ini. Dua hal yang saya ketahui dari Al Israa 17: 81 ini adalah: pertama, ayat ini berlatar kisah penaklukan mutlak Nabi Muhammad Saw ke Mekah tanpa pertumpahan darah, sungguh indah dan megah [Setidaknya, menurut bukunya Philip K. Hitti]. Kedua, ayat ini pernah dikutip oleh ‘ulama’ Partai Persatuan Pembangunan si Ismail Hasan Metareum, ketika menggambarkan Soekarno yang ‘batil’ (karena pro marxis) dikalahkan oleh Soeharto yang ‘benar’ (pro kapitalis)—dengan pertumpahan darah. Yah, pertumpahan darah, tanpa pernyataan perang dari Soekarno selaku presiden, kecuali dengan Supersemar yang samar-samar, yang kini masih saja dianggap-dipuja benar! [saya tidak mau asal bicara, kalau ada waktu, cobalah simak makalah Ismail Hasan Metareum, ”Menuju Kehidupan Politik yang Demokratis, Jujur, dan Adil”, dalam Dawam Rahardjo. (ed), Reformasi Politik: Dinamika Politik Rasional dalam Arus Politik Global. Jakarta: PT. Intermasa, 1997) hlm.260]

    KALIMAT ke-16, dari doa Nurbuwat adalah:
    وَنُنَزِّلُ مِنَ الٛقُرٛاٰنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحٛمَةٌ لِّلٛمُؤٛ مِنِيٛنَۙ وَلَاَيَزِيٛدُ الظّٰلِمِيٛنَ اِلَّا خَسَارًا.
    (الاسٓراء: ٨٢)
    Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS Al Israa 17: 82)

    Nah secara tekstual, ayat 82 Al Israa ini dalam doa Nurbuwat juga tidak mengalami perubahan apapun. Dengan ayat 82 ini, membuat doa menjadi serasa sangat bertenaga menjelang tuntasnya berdoa. Apakah sadar pengamal doa Nurbuwat bahwa ayat 82 itu memang bisa menjadi penawar hati yang kalut? Semoga begitu. Dan apakah sadar sebagian pengkritik (atau penghujat) bahwa Al Quran bukan rahmat bagi yang zalim? Mohon maaf, lagi-lagi, pertanyaan mungkin agak kasar. Rahmat itu bukan barang murah, tetapi orang susah bisa mendapatkannya dari ‘rasa’ ayat 82 ini. Rahmat bukan bagi dan dari yang zalim, baik zalim tindakan maupun zalim ucapan. Saya punya contoh kezaliman dalam ucapan yang jauh dari rahmat, setidaknya menurut ‘rasa’ dan ‘akal’ saya. Begini, di era Soeharto jaya, secara antusias yang condong buas, Bismar Siregar mengatakan bahwa PKI (Partai Komunis Indonesia) itu SETAN di jaman Orde Lama-nya Soekarno, sedangkan LSM HAM bersama PRD (Partai Rakyat Demokratik) juga SETAN di era Orde Pembangunan Soeharto. [Saya kutip dari Bismar Siregar, ”Moralitas dan Upaya Penegakan Hukum di Indonesia: Tantangan dan Peluang”, dalam Dawam Rahardjo. (ed), Reformasi Politik: Dinamika Politik Rasional dalam Arus Politik Global. (Jakarta: PT. Intermasa, 1997).hlm.192-194] Apakah benar orang PKI yang juga ada yang beragama Islam seperti Sudjadi Krido Mardi itu SETAN? Apakah benar LSM HAM tempat Munir dkk dan PRD tempat Budiman Sudjatmiko juga sebagai SETAN? Lantas, Soeharto dan Bismar sebagai apa? Yah, sebagai malaikat bagi rakyat? Hmm.. Kata hujatan memang jauh dari rahmat, itulah zalim melalui ucapan. Sayang, di era pasa Reformasi pun muncul hujatan, misalnya melalui singkatan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang saya baca di internetan [??] berubah menjadi “Jaringan Iblis Laknat”. Subhanallah! Darimana kreatifitas yang tidak rahmat seperti ini datang? Menurut saya, ya dari penyakit warisan anti rahmat-nya Orde Baru. Saya khawatir, para aktifis doa Nurbuwat juga gilirannya akan disebut SETAN, atau minimal pengikut SETAN? Waduh, akibatnya, saya pun termasuk SETAN, karena pernah mengamalkannya? Padahal, dalam doa Nurbuwat yang dulu pernah saya baca itu, salah satu doanya berbunyi dari ayat Quran: “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” Tidak ada untungnya menyebut orang lain SETAN, bukan? Jauh berbeda bukan nilai ‘rasa’-nya, antara laknat dengan rahmat semaksud Ayat 82 Al Israa’ tadi?

    KALIMAT ke-17, yakni
    سُبٛحٰنَ رَ بِّكَ رَبِّ الٛعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوٛنَۚ وَسَلٰمٌ عَلَى الٛمُرٛسَلِيٛنَۚ وَالٛحَمٛدُ اللّٰهِ رَبِّ الٛعٰلَمِيٛنَ.
    (الصّٓفّت: ١٨٠-١٨٢)
    Maha Suci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejehteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. (QS Ash Shaffat 37: 180-182)

    Kalimat ke-17 ini mengambil 3 ayat sekaligus dari Surah Ash Shaffat, dan memang 3 ayat ini selalu digunakan sebagai penutup dari doa sholat atau doa-doa yang lain. Dengan sampai pada kalimat ke-17 ini, berarti masing-masing isi doa Nurbuwat sudah tersaji ‘tuntas’.

    Memang masih ada ‘hakikat kesesatan doa Nurbuwat’ yang terakhir menurut Ustadz Ammi Nur Baits, yakni dari segi “Keutamaan yang berlebihan”, sampai Ustad berkesimpulan bahwa doa ini bukan dari Nabi Muhammad Saw dan berekomendasi untuk siapapun tidak usah mengamalkannya. Baiklah, itu kritik, yang jika ada istilah dari segi “Keutamaan yang berlebihan”, berarti ada lawannya yang juga berlaku, “kekurangan yang berlebihan”. Maksud saya begini, kita rentan untuk serba main mutlak-mutlakan begitu, karena hal mutlakan itu dapat berlaku juga pada kita sendiri, “terpecik ke muka sendiri”. Tidak mungkin mutlak manusia itu akan selalu jahat sebagaimana Iblis, tetapi juga tidak mutlak manusia itu akan baik seperti Malaikat. Kalau misalnya saya mengecap orang itu SETAN secara mutlak-mutlakan, maka resikonya jika dia terbukti tidak setan atau semiripnya, maka sayalah yang setan itu. Kira-kira begitulah maksudnya dari serba dua arah berlebihan tadi.

    Kembali lagi, mengenai “keutamaan yang berlebihan” itu, pada dasarnya saya pun setuju-setuju saja, bahwa hal itu memang ada benarnya. Sesuatu yang berlebihan dalam menggambarkan manfaat doa Nurbuwat tidak akan pernah saya pungkiri itu. Sportif saya katakan: ya memang ada begitu. Bahkan, sejak baca buku Mujarobat milik bapak saya sewaktu masih SD dan SMP dahulu kala, hal berlebihan yang aneh itu juga sudah saya rasakan. Contohnya, ada manfaat “Jika ingin harta dunia, maka bacalah doa [Nurbuwat] ini pada kunir, kemudian ditanam di tanah. Insya Allah jadi emas, tetapi janganlah bicara kepada orang lain” [Manfaat ini saya dapat lagi, seperti buku Mujarobat bapak saya dulu, melalui buku seharga Rp 1000, karya Moh. Saleh berjudul: “Tuntunan Shalat-shalat Tahajjud Dhuha Istikharah Taubah Hajat dan Do’a Nurbuwat.” Jakarta: Hidayat, tth. hlm.18] Nah, waktu SD itupun, saya sudah ragu dan skeptis dengan manfaat bahwa kunyit itu bisa jadi emas. Makanya, saya tahu itu, tapi saya abai saja hal berlebihan itu. Hal yang tidak berlebihanlah yang jadi perhatian, bahwa doa Nurbuwat itu dapat mengusir jin dan setan. Waktu SD itu saya memang takut lewat ke tempat gelap dan sepi, sehingga hafal Ayat Kursi dan amal Doa Nurbuwat, secara psikologis saya merasa aman dari jin dan ‘hantu’. Sekali lagi, saya akui memang ada yang berlebih-lebihan dalam mempromosikan doa Nurbuwat tersebut. Namun, lain waktu lain cerita, sekarang saya punya penilaian tersendiri mengenai hal tersebut, dengan analisis ilmu komunikasi.

    Kita, eh, baiklah, saya, bahwa idealnya mengukur bahasa komunikasi masyarakat tertentu “harus” menurut konteks zamannya sendiri. Mungkin, waktu Islam baru saja masuk ke pulau Jawa dan ke pedesaan, atau Islam baru saja hendak berkembang dan bersebar, maka para pendakwah yang notabene berhaluan tarekat mempromosikan, misalnya melalui karya Mujarobat, seperti doa Nurbuwat tadi, dengan bahasa “iklan” yang cukup provokatif untuk [keperluan] masyarakat waktu itu. Iklan manfaat doa Nurbuwat itu bak obat sosial—sengaja atau tidak—memang dibuat semenarik mungkin agar segera diminati oleh masyarakat, dan itu pula yang sekarang oleh ustad forum ini sebagai promosi “keutamaan yang berlebihan”. Kalau kita mau jeli, dengan ilmu komunikasi, bahwa cara promosi dengan mengatakan “keutamaan yang berlebihan” itu bukan hal yang asing lagi, yang sekarang pun masih terjadi pada banyak kepentingan, yang ada dalam kehidupan sekitar kita. Kalau tidak percaya, mari kita uji.

    Ada sebuah iklan rokok “asyiknya rame-rame” di televisi, kalau tidak salah jingle-nya begitu, yang secara visual menggambarkan adegan terjun dari pesawat ramai-ramai, terus bermain catur di atas udara. Itulah iklan rokok, dengan teknik visual bukan lagi sebatas verbal, dan itu jelas menggambarkan dan mempromosikan rokok dari segi “Keutamaan yang berlebihan”, bahkan sangat berlebihan. Tetapi apa ini? Hanya lucu saja, dan buat saya memang lucu. Inilah adalah satu contoh nyata adanya ilmu komunikasi (dalam bisnis) yang diterapkan kepada era kita, “berlebihan” bukan? Iklan yang “lebai” bukan? Kapan itu, ya ada di era kekinian. Kebetulan, saya suka iklan itu. (Secara teoritis, “asyiknya rame-rame” itu contoh iklan ‘majas visual’. Untuk lebih lanjut, kalau ada waktu dan mau, baca dulu bukunya Werner J. Severin dan James W. Tankard berjudul “Teori Komunikasi. Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa” Cet. Ke-4. Jakarta: Kencana, 2009. Hlm.99, tidak ada yang melarang kok]
    Ada juga sebuah iklan minuman penyegar. Secara visual, disajikan seorang gadis minum produk itu seakan diri di bawah dekat air terjun yang begitu segar, penuh dengan tiupan angin sepoy-sepoy air terjun, diiringi tanaman hijau yang semerbak. Nah, itu bahasa komunikasi iklan, termasuk ilmu komunikasi terapan. Saya bilang, itu termasuk promosi produk dengan “Keutamaan yang berlebihan”, ya tentu saja. Padahal, saya minum produk itu, yah biasa-biasa saja. Saya kalut ada hutang misalnya, saya minum produk itu ya tetap saja hutang yang terbayang, bukan air terjun indah yang melayang. Dengan begitu, hanya iklannya saja yang berlebihan.

    Dalam praktek ilmu komunikasi, iklan-iklan komersial tadi terasa lucu buat saya, tetapi tidak dengan iklan politik yang terasa bikin mulas karena begitu culas. Contoh mutakhir, ada figur yang dulunya tidak pernah berjuang dalam gerakan politik menentang korupsi Soeharto, kemudian tidak pernah pula ikut dalam gerakan politik menurunkan Soeharto, eh dalam iklan politik kok mengaku sebagai seorang reformis dan anti korupsi. Ada figur yang dulunya pernah jadi bagian rezim kekerasan Soeharto, eh dalam iklan politiknya ingin menjadi orang paling sopan dan santun dalam berpolitik di negara Indonesia. Ada figur yang dulunya diduga kuat mematai-matai mahasiswa sampai mahasiswa demo tahun 1998 Soeharto tumbang, eh dalam iklan politik mengatakan akan melanjutkan reformasi mahasiswa. Ibarat mantan perwira Fir’aun yang “selamat” dari laut, umpamanya, lalu mengatakan “Wahai, pengikut Musa, aku akan melanjutkan perjuangan Musa dalam membebaskan kamu dari pemiskinan dan perbudakan Fir’uan yang terkutuk itu”, buat saya iklan politik yang sangat membodohkan dan melebih-lebihkan figur, apalagi dengan tawaran: “BLT mau dilanjutkan apa tidak?”. Figur inilah yang dalam iklan berbual: “Katakan Tidak! Pada Korupsi” dan ingin paling terlihat penuh gebrakan perubahan, padahal dulu tidak pernah ikut perubahan, muncul sebagai pemimpin Indonesia sekarang, misalnya, namanya Soesilo Bambang Yudhoyono. Contoh yang nyata, dengan menggunakan teknik ilmu komunikasi, dijualah segala kelebihan-kelebihan yang berlebih-lebihan begitu. “Kalau rakyat memilih SBY, maka kesejahteraan akan meningkat dan keamanan rakyat akan memikat”, itu adalah semacam bahasa iklan yang sangat berlebih-lebihan, dan prakteknya adalah bukan bahasa yang sebenarnya. Seandainya iklan doa Nurbuwat dikatakan berlebih-lebihan karena mengatakan, misal kira-kiranya “Barangsiapa rakyat yang mau memilih doa ini sebagai amalan, maka dia akan terbebas dari kemiskinan dan kekufuran,” lalu dianggap menyesatkan umat; maka iklan figur politik SBY itu dapat dikatakan lebih sangat berlebih-lebihan karena misalnya, “Barangsiapa rakyat memilih saya, maka dia akan terbebas dari kemiskinan dan kebodohan warisan Soeharto”, sehingga inilah yang jauh menyesatkan rakyat. Tetapi terbukti bukan, bahwa ilmu komunikasi “lebai” itu ada dan dipakai juga sekarang? Jadi, kalau mau mempersalahkan iklan doa Nurbuwat berlebih-lebihan, dan itu bikin sesat umat, mengapa tidak sekalian katakan iklan politik Presiden SBY dan seluruh iklan tokoh seangkatannya juga dianggap berlebih-lebihan, padahal terbukti sering bikin sesat rakyat, bukan demikian?

    Begini, kembali ke iklan berlebihan doa Nurbuwat, kalau memang itu dianggap berlebihan, maka saya ingin membacanya dengan cara yang lain, agar sedikit lebih adil, bahwa rakyat susah salah, perlu lebih banyak beri maaf sambil terus beri risalah. Jaman dahulu, ada Keris Sisik Sewu yang dapat menambah derajat seseorang, nah rakyat kecil tidak mungkin mengkoleksi keris langka itu, akhirnya koleksi doa Nurbuwat—apa salah iklannya? Dulu ada Keris Sekar Susun dan keris Sumsum Buron yang dapat mendatangkan rezeki, menurut kepercayaan, nah ketika Mujarobat beriklan bahwa doa Nurbuwat dapat mendatangkan rejeki bagi rakyat miskin—apa salahnya? Daripada berburu keris yang langka dan mahal, kenapa tidak tertarik dengan doa Nurbuwat yang tidak mahal? Ada keris Carito Kanowo yang dapat menimbulkan rasa tenang seorang pejabat atau siapapun, nah, rakyat kalau pingin tenang terus tahu iklan doa Nurbuwat juga bikin tenang jiwa—apa salahnya iklan itu? Kalau benar iklan itu begitu, maka rakyat buru-buru mengamal doa Nurbuwat lebih saya setujui daripada rakyat sibuk buru memburu keris-keris keramat yang amat jimat itu. Demikianlah konteks masyarakat waktu itu, sehingga iklan Mujarobat sebenarnya mewakili jiwa resah “jaman” itu. Yah, iklannya “lebai” begitu.

    Dalam forum ini, ada komentator bernama Susuhunan yang mengutip hadist shahih Muslim bahwa mengajarkan 2 ayat Quran sama seperti memberi 2 unta kepada orang miskin, namun kemudian dia berkomentar: “nah, doa yang tertera di Al-Quran lebih bernilai dari harta termahal, jadi gak perlu lagi qt dengan doa nubuat itu,,” Inilah contoh komentar yang berkata, tapi belum berselidik. Yah, manusia memang cenderung tergesa-gesa. Nah, dalam doa Nurbuwat itu paling tidak terdapat 11 Ayat Al Quran yang utuh. Dengan begitu, sekali membaca doa Nurbuwat orang sudah mendapat 11 unta? Bagaimana bung Susuhunan? Mohon maaf Bung, itu ayat Quran lho, bukan ayat setan?

    [Ada buku tentang doa Nurbuwat yang dengan iklan yang datar-datar saja, misalnya, pada buku mistiknya si Zaenuri Al Yusak, berjudul: Ilmu Besar Ketabiban Disarikan Dari Kitab Al-Aufaq Karya Ulama Besar Imam Ghozali. Cet. Ke-7. (Semarang: CV. Bahagia, 1995)hlm.109-110]

    Baiklah, sekarang saya ingin menelisik lagi doa Nurbuwat, juga berdasarkan hadist. Rasul SAW pernah bersabda: “Barangsiapa yang membaca 1 huruf dari kitab Allah (Al Quran), maka ia akan mendapat 1 kebaikan dan tiap 1 kebaikan akan dilipatkan menjadi 10 kali kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim adalah 1 huruf, namun Alif [sebagai] 1 huruf, Laam 1 huruf dan Miim [itu] juga 1 huruf” [HR At-Tirmidzi, saya kutip via bukunya Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Doa Dzikir dan Wirid Sehari-hari Menurut Al Quran dan As-Sunnah. Terj. Abdullah. (Solo: Insal Kamil, 2006).hlm.24] Saya ingin berhitung-hitung sekarang, agak matematis memang, tetapi tidak rumit nyinyis.

    Secara hitung kilas-cepat, Doa Nurbuwat ini total huruf Arabnya ada 546 buah. Dari total itu, sebanyak 290 huruf berasal ayat Al Quran, sehingga sisanya ada 256 memang bukan huruf Al Quran. Dengan demikian, doa Nurbuwat itu lebih dari separuhnya adalah huruf yang didominasi oleh ayat Al Quran, yakni sebanyak 290 huruf tadi. Kalau saya hitung berdasarkan hadist At-Tirmidzi tadi, maka orang sekali membaca doa Nurbuwat itu sudah dapat mengantongi 2900 KEBAIKAN. Saya tidak tahu, 1 kebaikan itu seperti apa bentuknya. Ada yang tahu dan mau tahu? Selain itu, saya juga bertanya, jika doa Nurbuwat itu tidak berguna, apakah seluruhnya dianggap tidak berguna atau sebagiannya saja? Mutlak atau tidak mutlak? Bagaimana dengan nasib 290 huruf Al Qurannya?

    Baiklah, selain itu, sisa dari doa Nurbuwat yang bukan ayat Quran adalah sebanyak 256 huruf. Itu terdiri “asma ul husna” sebanyak 23 huruf, lalu shalawat pendek 22 huruf, dan 27 huruf nama orang istimewa yang biasa disebut dalam Al Quran. Memang tidak ada dalil untuk menghitungnya secara bagaimana, untuk huruf yang bukan dari ayat Quran ini. Namun sebagai kalimat doa, apakah ini juga tidak ada 1 Kebaikan pun dalam sekali baca doa Nurbuwat?

    Oh ya, ada yang lupa, bahwa setiap kali membaca doa Nurbuwat, dan teks Arab yang pernah saya dapat, selalu diawali dengan kalimat “Basmalah” alias Surah Al Fatihah Ayat 1 dari Al Quran, yang sebanyak 19 huruf itu. Kalau begitu, total huruf Al Quran dalam doa Nurbuwat adalah 309 buah? Yah, begitulah. Saya tidak menganggap enteng kalimat basmalah tersebut, karena sebuah hadist “dari Abu Hurairah r.a. dari nabi saw, bahwasannya beliau bersabda: ‘Setiap amal perbuatan yang dianggap baik, tetapi tidak dibacakan Basmallah ketika dimulainya, maka perbuatan itu pincang (tidak sempurna, terputus dari rahmat Allah)” [HR Abu Dawud, Nasa’I, Ibnu Majah] Saya tidak tahu apakah tulisan berjudul “Hakikat Kesesatan Doa Nurbuat” oleh Ustad Ustadz Ammi Nur Baits itu ditulis dengan kalimat “Basmalah”, sehingga saya juga tidak tahu apakah tulisan tersebut mungkin pula menjadi rahmat?! Satu hal yang pasti, dahulu, waktu saya masih amalkan doa Nurbuwat, selalu diawali dengan membaca Basmallah. Lantas, apakah 309 huruf yang menjadi 3090 KEBAIKAN itu juga tidak ada satupun yang nyantol kepada saya waktu itu? Nah, pertanyaan ini memang hanya Tuhan yang lebih tahu jawabannya dan yang punya kuasa penghisaban seperti itu. Saya tidak ingin melangkahi Tuhan dalam hitung-hitungan tadi secara mutlak, kecuali relatif-reatifan saja. Saya juga tidak ingin melangkahi Tuhan dalam vonis-vonisan tanpa pengadilan yang rahmat [???]. Tetapi sungguh, dengan doa Nurbuwat itu, sungguh, saya dulu berdoa kepada Tuhan, bukan kepada setan atau apapun. Insya Allah, Subhanallah, Laa illahaillallah! (Perlu diakui, saya rasa-rasa orangnya plintat plintut juga dalam hidup. Saya dulu pernah 3 tahun tidak sholat itu—nauzubillah, tetapi waktu yang sama ketika mengerjakan apa saja yang berbahaya, saya selalu membaca “Bismillah”. Misalnya, ketika memasang baliho atau papan reklame dekat dengan tiang listrik, walau saya nggak pernah sholat, karena itu resiko kerja yang berbahaya, saya baca Bismillah. Jadi, saya hanya ingat Tuhan, kalau sedang berbahaya, dan itu saya akui. Tapi, itulah doa, yah doa kalau lagi susah dan bahaya. Biasanya, yah biasanya, Tuhan tidak saya sebut dalam dua keadaan: 1. Kalau lagi SENAAAANG sekali; atau 2. Kalau lagi MARAAAAAH sekali. Dua keadaan yang ekstrim dan berlebih-lebihan memang. Oh ya, ini lagi-lagi sharing saja, saya pernah kenal seorang pencuri motor, yang dia mengakunya tidak ingat Tuhan kalau lagi mencuri motor. Berarti dia tidak baca Bismillah? Oh ya tentu saja. Yah, dimana-mana sepanjang yang saya tahu, pencuri dan perampok, termasuk pengedar ganja, tidak ada yang baca “Bismillah” kalau sedang beraksi. Kini baru benar-benar saya garisbawahi, ada pencuri dan perampok yang baca Bismilah dan itu sulit saya memaafkannya sebelum diadili, yakni: Koruptor pejabat Negara!! Kalau pencuri swasta kecil maupun besar, mereka itu tidak mencuri/ merampok dengan baca Bismillah, jadi agak berbeda. Tetapi, pejabat negara, kalau jadi perampok uang rakyat, itu ‘kan dulunya pernah disumpah pakai kitab Suci dan baca “Bismillah”?! Makanya dan misalnya, Ustad Anton Medan, yang dulu dia seorang perampok besar kelas swasta, kemudian dia pernah dipenjara vonis bersalah, dan tidak baca Bismillah sewaktu merampok, maka saya maafkan dan saya lupakan perampokannya di masa lalu. Tetapi yang sulit saya maafkan adalah mereka yang menjabat sebagai pejabat Negara, eh merampok duit rakyat, dengan baca “Basmilllah” dalam sumpah, dan belum diadili pula. Termasuk orang yang mendiamkan atau membiarkan Koruptor menjadi tidak diadili atau sulit diadili, itu juga kawannya koruptor/ maling, yang juga sulit saya tolerir, sebelum mereka juga ikut diadili. Wahai Ulama, kemana anda sewaktu alm. Suharto harus diadili? Sekarang yang tinggal adalah kroni-kroninya, harus diadili? Jangan-jangan ulamanya, ah, ulamanya Soeharto? [Astaghfirullah al ‘adzim, saya mau sholat ashar dulu….] Saya mudah memaafkan perampok biasa seperti Ustad Anton Medan atau maling-maling biasa yang sudah pernah diadili secara adil versi bumi, tapi tidak bagi yang sebaliknya—perampok negara? Kalau ada rakyat pernah baca doa Nurbuwat, pakai baca Bismillah, kalau ternyata bid’ah, ah itu ‘mah perkara keciiiil, saya beri maaf! Tapi, siapa saya ini kok mau memberi maaf kepada rakyat sempat bid’ah karena doa Nurbuwah? Wahai Gesip Apriyanto, kawan KKN-q dulu di Bantul yang soleh nan baik itu, apakah aku ini masih seorang yang ujub seperti katamu waktu itu? Hmmm…)

    Lantas di forum ini ada yang komen tentang defenisi Bid’ah: ”…apabila suatu amalan yang diperbuat tidak berlandaskan hukum qur’an dan asunnah maka amalan itu dinilai bid’ah/ sesat/ syirik, dan jelas hukumnya HARAM dan tempatnya di NERAKA.” Memang tidak eksplisit disebutkan, apakah pengamal doa Nurbuwah itu bid’ah ataukah tidak, namun aroma vonisnya begitu terasa. Saya akui bahwa hadist yang menganjurkan doa Nurbuwat ini tidak ada yang shohih, artinya lemah dalil fiqh-nya, kalau istilah saya ini tepat. Lantas, apakah doa Nurbuwat ini ibarat suatu produk makanan kripik pisang rakyat Jember, yang dijual di pasar-pasar tradisional, oleh karena belum dapat cap stempel halal dari MUI apa lalu disebut haram? Maaf, pertanyaan terakhir ini malah bikin tambah runyam, setidaknya bagi saya. Sebenarnya begini, soal Bid’ah tadi, Defenisinya memang begitu, tetapi segitu saja belum cukup, kalau belum disebut Jenisnya. Perlu dicatat juga, Bid’ah itu ada 2 jenis, yakni Bid’ah Dhalalah (yang sesat) dan Bid’ah Hasanah (yang baik). Nah ini saya kutip saja dari mantan Ketua MUI Pusat, Prof. KH Ali Yafie dalam “Konsultasi Fikih: Zikir Berjamaah” majalah Hidayah, Edisi 118 Juni 2011.hlm.171-172, yang ketika ditanya soal: Rasul SAW tidak pernah berzikir berjamaah sehabis shalat dan bagaimana orang yang zikir berjamaah sekarang ini, KH Ali Yafie bilang zikir itu termasuk bid’ah hasanah (yang baik). KH Ali Yafie masih menambahkan contoh, bahwa Al Quran yang sekarang dibaca orang zaman kita berbeda dengan Al Quran yang dibaca oleh Rasul dan para sahabat dalam soal tanda bacanya. Artinya kita bid’ah karena Al Qurannya ‘beda’? Yah, bid’ah, tapi itu bid’ah hasanah. Saya dulu pernah baca tulisan Emha Ainun Nadjib di buku entah yang mana, yang dia beri contoh bid’ah hasanah juga. Kata Emha kira-kiranya, jikalau kita berpatok secara mutlak-mutlakan bahwa segala sesuatu yang tidak dilakukan Rasul lalu kita lakukan adalah bid’ah, maka ketika kita naik motor atau naik kereta api itu juga bid’ah, sebab Rasul kemana-mana naik onta atau kuda. Kata Emha naik motor itu adalah bid’ah hasanah, kalau tujuannya baik. Jaman Rasul orang azan tidak pakai mikrofone, maka apakah bid’ah sekarang ketika kita azan pakai mikrofone buatan Jepang ataupun Cina? Ya tentu bid’ah, tetapi itu bid’ah hasanah, kalau tujuan mengundang orang sholat.

    Baiklah, saya baca hadis shahih Bukhari bahwa lukisan/ gambar orang hidup itu dilarang oleh Rasul saw, dengan bunyi: “…’Hai Aisyah, sesungguhnya manusia paling berat siksaannya pada hari kiamat nanti adalah orang-orang yang meniru ciptaan Allah”, itu yang saya baca dari buku Ustad Maftuh Ahnan berjudul “Mutiara Hadist Shohih Bukhori” Surabaya: Karya Ilmu, 1992.hlm.183-184. Lantas, bagaimana dengan lukisan anak kecil sedang mengambil wudhu atau mengerjakan sholat yang dijual di toko-toko? Ya jelas lukisan itu termasuk bid’ah, tapi itu bid’ah hasanah kalau tujuannya untuk mengajarkan sholat kepada anak kecil, sebagai media lukisan edukatif. Ada juga hadist dari ibnu Abbas, bahwa Rasulullah sholat pernah sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, meski tidak sampai memutar leher ke belakang [HR Ahmad, saya kutip dari bukunya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Doa dan Amalan Sehari-hari. Hidup Penuh Berkah di Setiap Langkah. Terj. Muhammad Misbah. (Solo: Ziyad Visi Media, 2011).hlm. 49] Mengapa Rasul sholat tolah-toleh? Karena mungkin jamannya penuh dengan keadaan darurat perang. Namun oleh kesepakatan ulama belakangan, bahwa sholat kita kalau menoleh kiri-kanan yang tidak ada perlunya hukumnya menjadi makruh tanzih, karena dapat menghilangkan kekhusyukan shalat. Nah, Rasul sholat pernah tolah-toleh, kok kita dikatakan makruh sholat kalau tolah-toleh oleh ulama, apakah kita bid’ah karena sholatnya berbeda dengan Rasul? Ya ulama menyuruh kita bid’ah, tapi bid’ah yang hasanah. Waw, ulama menyuruh kita bid’ah hasanah?! Masih ada contoh lagi. Rasul saw berdakwah kebanyakan secara “face to face” dengan umat, nah kalau kita saling berdakwah kebanyakan secara “on line”, apakah itu bid’ah? Yah bisa saja disebut bid’ah, tapi itu bid’ah hasanah, jika benar-benar dakwah yang hikmat, bukan menghujat. Jadi, apa yang ingin saya nyatakan lagi? Tidak semua yang bukan disunnahkan Rasul itu bid’ah dhalalah (bid’ah sesat) kalau kita kerjakan; tetapi ada kemungkinan bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) juga. Memang sesuatu yang “Baik itu belum tentu benar, tetapi benar pasti baik”. Kalau saya ditanya lagi: apakah doa Nurbuwat itu bid’ah? Boleh saja dibilang bid’ah, tetapi ada dua bid’ah di situ. Pertama, “bid’ah dhalalah”, alias sesat, kalau berdoa Nurbuwat minta bantuan “setan koruptor” agar didatangkan uang dengan cepat, atau minta bantuan “jin mafia hukum” agar diselamatkan dari intaian KPK dan rakyat. Kedua, bid’ah hasanah, bid’ah yang baik, kalau ada rakyat miskin berdoa Nurbuwat minta bantuan Tuhan agar dilancarkan rezekinya, daripada memelihara pesugihan, atau memelihara pemimpin berpartai dan berjiwa korup. (Ah, ‘lebai’?)

    Selain itu, dalam ilmu hukum syariat, kita tidak dipatok sebatas perkara Haram dan Wajib semata, tetapi juga ada 3 hal hukum yang lainnya lagi: Sunah, Mubah, dan Makruh. Menurut hemat saya, doa Nurbuwat itu ya “tidak wajib”, dan “tidak haram”, serta “tidak sunnah”. Namun begitu, masih tinggal dua status hukum lagi bagi doa Nurbuwat, yah kalau tidak Mubah ya mungkin Makruh. Jadi, jika mau juga dipaksa-naikkan statusnya menjadi HARAM, biar adil, saya hanya menunggu seluruh ulama dari seluruh mazhab dan dari berbagai ‘negara ulama’ sepakat mengatakan doa Nurbuwat itu HARAM, maka saya akan ikut katakan juga itu HARAM dan MUSYRIK. Untuk sementara ini bagaimana? Ya statusnya di-mubah-kan saja orang yang berdoa dengan Nurbuwat. Sebenarnya saya ingin agar tidak ada kesan rakyat terus menerus disalah-salahkan. Jaman kolonial Belanda dulu, kira-kira pertengahan tahun 1920-an, mayoritas ulama, terutama dari kota-kota seperti Muhammadiyah, sibuk saja mengkritik rakyat miskin yang terkena penyakit TBC (Takhayul-Bid’ah-Churafat), sementara Haji Muhammad Misbach nyaris sendirian mengkritik Pemerintah Kolonial Belanda yang tidak adil bikin pribumi miskin. Kalau ulama-ulama kota dan ulama Kolonial Belanda beraninya menyalahi rakyat bodoh yang miskin dan selalu dimiskinkan, maka Haji Misbach berani menyerang penguasa Kolonial pintar dan besar yang didukung oleh beberapa ulama munafik (istilah haji Misbach) tadi. Saya meloncat saja ke era pasca Reformasi, masih saja ada rakyat disalahi walau hidupnya sudah dikhianati. Misalnya, ada fatwa HARAM kepada rakyat kalau GOLPUT. Padahal, kalau ulama fatwa itu berpihak pada rakyat, kenapa tidak kritik dan bikin fatwa kepada partai yang korup dan berkhianat itu masuk neraka. Itu kalau berani. Beraninya cari-cari salah rakyat, oh rakyat, oh rakyat. Saya pernah dengar curhat seorang penjual tekwan yang omsetnya kecilnya, walau begitu dia tetap bertahan untuk tidak pergi ke dukun agar dapat pelarisan. Tapi begitulah, nyatanya, banyak rakyat pergi ke dukun-dukun kampung, yang mungkin sama seperti partai politik kalau sedang mau kampanye. Begini saja, cari mencari salah dapat terasa pada, misalnya, rakyat pergi ke dukun lalu amalkan jimat—dikatakan: salah; rakyat beli ke toko emperan buku Mujarobat amalkan doa Nurbuwat—dinyatakan: salah. Nasibmu rakyat, beragama dan bernegara saja kok dipersulit oleh orang yang berwawasan sempit? Atau nasibmu rakyat, bergaul dengan orang yang berniat baik tapi caranya salah dan kasar? (Lihat lagi QS Ali Imran 3: 159 di atas)

    Baiklah, kata sebuah ayat di Surah Hujuraat: “sebagian prasangka itu berdosa”, maka boleh jadi memang ada “sebagian prasangka itu berpahala” juga. Prasangka berpahala misalnya, ketika kritik dengan ilmu social dapat dilakukan sebagai kajian memetaan persoalan masyarakat Islam. Misal kecilnya, saya berprasangka: bahwa ribut-ribut di forum ini, jangan-jangan wujud suatu pola lama dari perseteruan kaum syariat yang kaku dengan kaum hakekat yang sembrono. Mungkin. Atau pertengkaran antara kaum penjual doa Nurbuwah ala pedesaan dengan kaum penjaja doa rukyah ala perkotaan. Doa Nurbuwah vs doa Rukyah? Makanya, sekali prasangka itu mungkin ada sebagian berpahala, jika itu tujuan dan caranya untuk mencari tahu dengan prinsip: “… periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS Al Hujuraat 49: 6) Teliti terhadap suatu hal agar tidak menimbulkan musibah kepada suatu kaum, atau minimal agar tidak menjadi suatu fitnah yang terselubung (cap syirik dan bid’ah kepada pendoa Nurbuwah)—itu suatu sikap berfikir sangat penting sekali. Kita harus belajar pahami keadaan suatu kaum tersebut. Dalam hal ini, kaum pengamal doa Nurbuwat, misalnya orang Jawa pedesaan dan pedalaman, memang terdiri kaum rakyat dengan ilmu agamanya yang pas-pasan sebagaimana ekonominya yang juga pas-pasan. Kurang lebih sama dengan cerita saya di awal-awal ini, mereka seperti ayah yang ngebut naik motor, eh, tahu-tahu dicegat polisi yang sok atau memang normatif tanya soal asal dan kelengkapan kendaraan. Padahal rakyat memang hidup serba pas-pasan, ya bertindak dan berdoapun dengan cara yang pas-pasan pula. Saya kutip sajalah sebuah cerita tentang polosnya Arab Badui (Arab udik) beribadah dan berdoa, dengan ribetnya Khalifah Ali yang (orang kota) itu, yang berjudul “Shalat yang Mana yang Lebih Baik?” sebagai berikut:
    “Seorang Arab Badui memasuki mesjid lalu shalat. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra. memandanginya dengan penuh perhatian. Seusai orang itu shalat, sambil memegang cambuk, Ali ra. mendekatinya dan menyuruhnya mengulangi shalatnya. Sang Badui lalu memperbagus shalatnya dengan kesempurnaan, khusyu, dan tumakninah. Seusai shalat [itu], Ali Bin Abi Thalib ra. bertanya, ‘Shalat yang mana yang lebih baik, yang pertama ataukah yang kedua?’ Orang Badui itu menjawab dengan polos, ‘Tentu saja yang pertama, sebab aku melakukannya untuk Allah, sedangkan shalat yang kedua karena aku takut kena cambuk Amirul-Mukminin’ ”.

    Begitulah cerita khalifah Ali yang saya kutip dari bukunya A. Aziz Salim Basyarahil [berjudul “Hikmah dalam Humor Kisah dan Pepatah Jilid 1-6”. Jakarta: Gema Insani Pers, 1998.hlm.337] Dengan begitu, cara orang membaca Al Quran sekalipun, seperti dengan Nurbuwat, mungkin saja ada mirip-mirip kelirunya dengan Orang Arab Badui itu dalam bersholat, tetapi jangan diabaikan, bahwa dia “yang udik” melakukan ibadah serasa langsung terhadap Tuhan sejak dari hatinya. Oleh karena itu, saya condong tidak sepakat dengan pernyataan ustad Perdana Akhmad S.Psi di forum ini: “…hati-hati salah amalan malah akan mengundang jin walaupun menggunakan ayat suci Al-Quran sekalipun sebab niat dan tata caranya menyimpang”. Mohon maaf ustad…, hanya condong kok..

    Menganggap doa Nurbuwat itu ‘benar seluruhnya’, atau menilai ‘salah seluruhnya’—bagi hemat saya itu sebuah kekeliruan. Saya tidak anti Sunnah, ataupun anti syariat dalam beribadah, tetapi saya tidak mau main mutlak-mutlakan sebagaimana rawannya “hukum besi” atau inklusifitas pada ilmu fiqh. [Istilah ‘hukum besi’ fiqh itu saya kutip dari Djazuli, “Ilmu Fiqh. Penggalian, Perkembangan, dan Penerapan Hukum Islam, Edisi Revisi”. Cet. Ke-7. Jakarta: Kencana, 2010.hlm.113] Saya berusaha untuk menghindar Argumentum ad Ignoratiam begitu. Argumentum ad Ignoratiam adalah semacam kesesatan berfikir atau berpendapat, ketika terlalu bernafsu “mutlak mengganggap SALAH terhadap sesuatu, hanya karena tidak ada yang membuktikan bahwa sesuatu itu BENAR”; atau “menilai mutlak sesuatu itu BENAR, hanya karena tidak ada yang membuktikan bahwa sesuatu itu SALAH”. Berkali-kali mungkin saya akui, tidak ada hadist shahih yang mengajarkan doa Nurbuwat, namun bukan berarti doa itu salah mutlak, hanya karena tidak ada hadist yang membenarkannya. (Mungkin ada orang akan mencurigai bahwa saya ini tidak suka bermain mutlak-mutlakan [anti logika valensi ala fiqh, A atau B saja], atau mungkin menuduh saya senang berfikir abu-abuan [pro logika multivalensi ala sufi, bisa A bisa B, bisa C bisa D] semata—itu saya terima sebagai pengawasan diri saya sendiri) Mari kita hindari semampu mungkin komentar “argumentum ad Ignoratiam”, suatu argument yang ‘bebal’ (ignore; ‘tak mau tahu’, ‘ngotot’) mengatakan, semisal: “doa nurbuwat itu pasti salah dan sesat, kalau tidak mana bukti hadisnya?”, yang mirip ‘bebal’ dengan, misal: pernyataan OC Kaligis kepada Hermawan Sulistiyo: ”Mana bukti hukumnya Pak Soeharto korupsi dan mana bukti kalau Pak Harto pelanggar HAM?” sehingga Soeharto dinyatakan Kaligis tidak bersalah hanya karena tidak ada bukti di pengadilan bahwa Soeharto bersalah, padahal bukti adanya pernyataan ‘salah’-pun belum tentu ‘salah’. Contoh, Sokrates dituduh bersalah menurut pengadilan Yunani, bukti dia bersalah di pengadilan ada dan diadakan, lalu apa terbukti pula dia bersalah mutlak? Contoh lagi, Soekarno di Pengadilan landraad Bandung tahun 1930, yang ia dinyatakan bersalah karena bikin kerusuhan politik di Hindia Belanda, apakah Soekarno ‘salah’ hanya karena pengadilan berhasil membuktikan dia bersalah? Contoh lagi, apakah Antasari Azhar bersalah membunuh Nazaruddin hanya karena tidak ada bukti bahwa itu tidak benar? Atau contoh lagi, SBY tidak salah, tidak melanggar HAM dan Korupsi, karena tidak ada bukti pengadilan yang menyatakan bersalah? Inilah segudang ‘bebal’ argumentasi “yang berlebih-lebihan”. Bebal itu tidak baik dipelihara dalam hati dan otak kita, sehingga jangan sampai benarlah apa dikatakan oleh Al Quran: “atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, …” (QS Al Furqaan 25: 44)

    Saya tidak anti hukum (fiqh) atau syariat dalam beribadat. Waspada dalam ibadah itu memang perlu. Berdoa memang ada aturan. Aturan itulah yang tampaknya ingin begitu ditonjolkan oleh ustad Perdana Akhmad S.Psi dan Ustadz Ammi Nur Baits di forum ini. Hanya saja perlu dicatat, ilmu fiqh itu ada sifat rawannya juga, yakni buta rasa; dan mungkin itulah yang pernah disinyalkan oleh Imam Al Ghazali “Sesungguhnya masalah hati berada di luar wilayah fiqh. Jika fiqh mencampuri urusan hati, tidak lagi dapat disebut fiqh. …” [Dikutip dari A. Aziz Salim Basyarahil, “Hikmah dalam Humor Kisah dan Pepatah Jilid 1-6”. Jakarta: Gema Insani Pers, 1998.hlm. 223] Makanya, orang gampang tergoda menjadi tanpa perasaan kalau terlalu “letterlek by the law” atau berpatok pada hukum, misal tadi, cap bid’ah jika tak ada dalil hukum berdoa Nurbuwat. Padahal dalil di forum ini juga sering terlihat lemah dan condong mengada-ngada. Misalnya, dalil “Susunan kalimat yang tidak sistematis dan tidak memiliki kaitan” dijadikan alasan SALAH-nya Doa Nurbuwat. Tentu saja, saya pun sempat tergoda dalam hati untuk berkata: “Memangnya berdoa itu kita sedang mau menulis skripsi atau tesis ya, ejaan dan kesinambungan kalimatnya harus jelas dan ada EYD-nya?! Atau sedang menulis lagu, susunan kalimatnya harus indah?” Nah, itu godaan hati saya, cukup subyektif memang. Tetapi baiklah, menurut ustad Labib M Labib MZ dalam bukunya Bimbingan Doa dan Dzikir Mujarob. (Jombang: Lintas Media, tth).hlm. 21, adab berdoa itu antara lain: “Hendaknya susunan kalimat doanya tidak bersajak, cukup dengan susunan kata yang sederhana, tidak perlu dilagukan. Karena itu dianjurkan memakai susunan kalimat doa yang berasal dari Rasululloh saw, terutama doa-doa yang terdapat dalam Al Quran”. Perhatikan, Labib MZ tidak menggunakan kata “diharuskan”, tetapi “dianjurkan” begitu. Demikian pula, Imam Ghazali memberi etika berdoa, yang salah satunya, agar siapa pun tidak memaksakan diri dengan menguntai sajak dalam redaksi berdoanya, karena hal itu identik dengan sikap berlebih-lebihan. [Dikutip dari Imam Nawawi “Al-Adzkar Shahih Doa dan Dzikir. Kitab Induk dan Pedoman Lengkap doa dan Dzikir yang Diajarkan oleh Nabi Muhammad saw” terj. Zenal Mutaqin. Bandung: Jabal, 2011.hlm. 498.] Saya kira begitu saja sudah cukup menjadi dalil seumumnya.

    Dalam doa yang “dianjurkan”, misalnya doa dari Rasululloh pun terkadang juga ada yang secara ‘letterlek’ sepintas tampak berseberangan. Coba perhatikan doa ini: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sikap bakhil kebodohan, USIA SANGAT TUA dan fitnah dunia (yaitu finah Dajjal) serta azab kubur” [HR Bukhari]. Doa yang terjemahannya saya kutip dari buku Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Doa Dzikir dan Wirid Sehari-hari Menurut Al Quran dan As-Sunnah. Terj. Abdullah. (Solo: Insal Kamil, 2006).hlm. 77 ini meminta, agar jangan hidup menjadi ber-USIA SANGAT TUA begitu. Di lain pihak, juga ada doa yang berbunyi begini: “Ya Allah, dengan Ilmu-Mu yang ghaib dan kekuasaan-Mu atas seluruh mahluk, PANJANGKANLAH UMURKU jika memang kehidupan lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika memang kematian lebih baik untukku. …” [HR An-Nasa’i, Ahmad] Doa dari buku Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Ibid.hlm. 81 ini juga doa “yang dianjurkan” karena dari Rasulluloh. Sepintas doanya memang ada meminta “Panjangkanlah Umur”, yang sedikit beda dengan “jangan hidup berusia sangat tua”, karena biasanya penyakit banyak—memang betul-betul minta panjang umur. Memang, dibanding doa Nurbuwat, kriteria panjang umur yang diminta di dalam doa ‘dianjurkan’ ini lebih terang. Jika Ustadz Ammi Nur Baits masih mengatakan doa minta panjang umur dalam doa Nurbuwat sesuatu yang kalimatnya “kurang terpuji”, atau serta mendalilkan doa Nurbuwat ini SALAH karenanya; maka itu adalah hak usdad dan hak saya untuk mengatakan secara sebaliknya.
    Orang berdoa itu pada dasarnya baik. Sekali lagi, memang dalam berdoa, lafal-teks doa “sebaiknya” pakai yang pernah diajarkan oleh Rasululloh melalui hadist shahih atau hasan, tetapi itu bukan “seharusnya”. Umat Islam baru diminta “seharusnya”, berusaha tidak seperti Fir’aun yang sudah memiliki segala sesuatu, lalu tidak pernah mau berdoa. Jadi, berdoalah, dan berdoalah, jangan bertengkar, karena apa?
    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادٛعُوٛ نِيٛٓ اَسٛتَجِبٛ لَكُمٛۗ اِنَّ الَّذِ يٛنَ يَسٛتَكٛبِرُوٛنَ عَنٛ عِبَادَ تِيٛ سَيَدٛ خُلُوٛنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيٛنَ.
    (المؤمن: ٦٠)
    Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina”. (QS Al Mu’min 40: 60)
    قَا لَ اِنَّمَآ اَشٛكُوٛا بَثِّيٛ وَحُزٛ نِيٛٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعٛلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعٛلَمُوٛنَ.
    (يوسف: ٨٦)
    Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya”. (QS Yusuf 12: 86)

    Banyak bicara, biasanya banyak salahnya. Banyak membaca, biasanya banyak lupanya. Kalau tidak ingin salah bicara, ya jangan bicara. Begitu pula kalau tidak ingin lupa, ya tidak usah banyak membaca. Oleh karena saya sudah begitu banyak bicara, maka saya hanya bisa berkata: Mohon maaf kalau ada salah dan lupa. Terimakasih kepada ustad Perdana Akhmad S.Psi dan Ustadz Ammi Nur Baits yang bikin saya berkomentar sepanjang ini sebagai tanggapan seorang mantan pengamal doa Nurbuwat. Perlu tetap dicatat dan juga mohon maaf, bahwa saya berhenti berdoa Nurbuwat bukan karena Ustadz; dan bahwa saya menulis sepanjang ini, memang karena kedua ustad ini. Mungkin saja. Makanya saya ucapkan, terimakasih, termasuk juga kepada seluruh komentator yang lain sebelum saya.

    Wassalam wrb

    Jmb, 25 April 2012

    Wiwin ES

    • alamaak panjang banget komennya, bisakah di singkat dan diklasifikasi sesuai pokok masalahnya. inet ane lelet niih, susah loadingnya.

    • benar salah itu hak nya allah ‘ swt ‘ . jika anda membenarkan pendapat kyai atau ustad atau apalah . hati2 karna itu bisa membuat anda berpaling dr allah ‘ swt ‘ yg masih cipta an NYA . karna allah ‘swt ‘ tau yg benar dan yg salah , kita tetep manusia . tetep di kasih keterbatasan pikiran . jadi belum tentu benar mereka2 . tingkah laku aja masi salah . kok menyalahkan ayat2 allah ‘ swt ‘ . istigfar saja . percayakan ke pada allah ‘swt ‘ segala sesuatu jika kita berniat dengan baik pasti menghasilkan yg baik . tidak perlu datang ke siapa2 dan ke mana2 jika anda mengalami kebingungan . cukup sholat dan berdoa semoga setiap kita meng ucap . atau bertingkah laku selalu dalam rahmat allah ‘ swt ‘ hanya allah ‘ swt ‘ yang benar2 tau yang hakiki dan yg batil . yang benar dan yg salah .

  87. dengan mudahnya seorang muslim mengkafirkan,membid@hkan muslim yang lain..apakah kita lupa bahwa sesama muslim itu saudara,dan yang paling berhak menilai suatu amalan hanyalah ALLAH,,,buat anda yang senang mengkafirkan n membidahkan suatu amalan,pernahkah anda bertemu rosul dan membidahkan amalan tersebut?klo semuanya adalah bidah,maka blog inipun adalah bidah yang paling keji,krn telah membuat sesama muslim saling bertengkar

  88. Stop.. Semua !!! Selama doa mengandung kalimatulloh dan mengandung arti kebaikan lakukanlah!!!, tapi ingaaat.. jangan berdoa karena kasiatnya tapi harus paham arti yg terkandung dari ayat tersebut tidak lain hanya untuk mendekat diri dan hanya mencari keridhoannya allah Swt.

  89. wah……….wah……..wah………. banyak omong smua nich orang, mending dengerin lagunya SLANK biar damai………. alloh tuhan smua makhluk…..

  90. salamu a’laikum …..
    minta maaf ustaz, sye nak minta pendapat ustaz mengenai menikah pada bulan puasa (ramadhan)?

    walasalam…

  91. Astaghfirullah hal adzim, hati – hati dalam menjalani hidup, hati – hati dalam memelihara hati, ego, ego dan ego selalu hinggap dalam hati kita. Astaghfirullah hal adzim, syirik, musrik, bahkan murtad juga selalu hinggap dalam hati kita. Astaghfirullah hal adzim, Subhanallah, Lailahaillallah muhammad muhammadarrasulullah.

  92. Bismillahirohmanirrohim
    Assalamu’alaikum wr wb
    Mohon maaf, mengapa ulasan berjudul “Komentar Nimbrung Doa Nurbuwat” yang memang cukup panjang itu, dan yang saya buat secara referensial (semi akademik?)—kok tidak dimuat?

  93. Ulasan yang berjudul “Komentar Nimbrung Doa Nurbuwat” itu dan yang saya kirim ke blog ini pada tanggal 10 Juni 2012, yang bukan sebagai ulasan yang debat kusir—apakah karena terlalu panjang, sehingga tidak dimuat?

  94. Mengapa yang dimuat hanya, yakni ”mohon maaf komentar saya baru sekarang bisa dimasukkan, oleh karena satu dan lain hal, misalnya, belum sempat ke warnet atau belum dapat tumpangan ngenet. Tirms.” pada Juni 10, 2012 at 3:07 pm itu saja?

  95. Baiklah, saya memang hanya seorang pengunjung di sini, sebagaimana yang lainnya. Hanya sekedar tamu masuk ke rumah orang, kiranya begitu. Tapi, saya bertamu dengan membawa oleh-oleh berupa ulasan berjudul “Komentar Nimbrung Doa Nurbuwat” itu, yang saya buat secara serius dari segi waktu, eh kok tidak tersaji di sini. Ada apa ya?

  96. Padahal, saya berusaha menjadi tamu, dengan niat ingin berdiskusi, tidak berdebat emosional. Namun, entahlah, kenapa ulasan saya itu lama sekali proses moderasi oleh pemilik blog ini? Saya coba kirim lagi pada tanggal 18 Juni 2012, eh, hingga terakhir jam 11 malam tanggal 23 Juni tadi juga tidak dapat masuk, menunggu proses moderasi juga?

  97. Saya cukup kecewa. Jika benar ulasan yang saya kirim itu tidak termuat karena “tidak lolos sensor”, sangat disayangkan. Ada kesan bagi saya, blog ini memang tidak berkehendak untuk adanya berdiskusi. Oh, sungguh demikiankah?

  98. Dengan begitu, saya sebagai tamu mohon pamit, ulasan saya itu sebagai hidangan diskusi saya pindahkan ke “rumah kunjung” yang lain saja. Tentu “rumah kunjung” tentang doa Nurbuwat yang lebih terbuka untuk tulisan apa saja. Wassalam wrb

  99. Assalamu’alaikum…
    Ustd jika saya boleh tau ustad tinggal di mana…
    Ada banyak hal yg ingin saya tanyakan sama ustd terimakasih..

  100. assalamualaikum,
    mohon maaf Pak ustad, karena saya telah sedikit banyak berburuk sangka mengenai tidak dimuatnya tulisan saya tersebut. Saya senang dipersilahkan lagi untuk mencoba, hanya saja; apakah itu tidak etis, karena ulasan itu sudah dimuat di tempat lain?
    Memang seharusnya ulasan itu berada dan bersenyawa betul jika di sini.
    Terimakasih
    wasalam

  101. Gini gini …….itulah akibatnya kalau kita terlalu berharap banyak dari doa kita. Kita terlalu mengharap agar terkabul. Begini ya…saya berdo’a dg niat & dlm rangka memenuhi perintah ALLOH (katanya do’a itu perintah) selanjutnya terserah DIA…. gitu!!

  102. Kenapa Harus Ribut Masalah Do’a, bukankah Islam itu luas dan dalam meliputi dzohir wa bathin.

    Boleh aja Komentar, tapi pake ilmu, jangan asal-asalan.

    Ilmu Alloh termasuk Dzohir wa Bathin (Sir), dan Alloh hanya mengasih pada orang pilihan.

    Banyak orang Ahli Syari’at tapi tidak sampai pada hakekat, karna tidak mau belajar, hanya puas dengan Ilmu Syari’at untuk berdebat kesana kemari, yang suka mencacimaki sesama saudaranya tidak pernah mau belajar menghargai orang lain.

    Bukankah semua Ilmu diciptakan oleh Allah sesuai kebutuhannya masing2, sebagaimana Al-Qur’an diturunkan.

    Semua Nabi dan Rasul Punya Do’a yang mustajab karna memang untuk kebutuhan umat. begitu juga Para Ulama’ yang ‘Alim punya Riyadhoh dan Do’a Mustajab, kesemu’anya itu untuk kebutuhan umat pada jamannya.

    Lihatlah Imam Syafi’i begitu luas Ilmunya. secara logika gak bakalan mungkin dengan Usia sesingkat itu punya ilmu yang gak Habis dipelajari dan hasil karyanya sampai sekarang masih dijadikan rujukan, karna Ilmunya dari Alloh dan diberkahi.

    Begitu juga AlGhozali yang banyak mengarang kitab: baik Fiqih, Tashowuf, kitab Hikmah yang sampai sekarang masih ada puluhan kitabnya di Perpustakaan Mesir Al-Azar yang belum mampu dikaji para Ulama’ sekarang.

    Lihatlah riwayat hidup Al-Ghozali ketika dia jadi Ahli Debat dan akhirnya bertobat ketika belajar hakikat.

    Ingatlah Saudaraku Syari’at itu hanya jalan atau sampan yang menunjukkan sesuatu mutiara (hakikat) yang letaknya mutiara (hakikat) tersebut pada Thoriqot (metode).

    belajarlah Thoriqot para Nabi, Para Sahabat, bagaimana mereka menjalani kholwat, lapar untuk membersihkan hati mereka.

    Janganlah anda suka memperdebatkan Agama menurut metode akalmu sendiri atau golonganmu sendiri, sehingga ujung-ujungnya memfonis bid’ah, (tidak ada tuntunannya) pada saudaramu sendiri.
    sesungguhnya Agama itu luas, jangan kau buat sempit. dan Problem kehidupan dalam masyarakat itu sangat luas, yang kesemuanya itu butuh solusi dari Al-Qur’an.

    AlQur’an itu tidak hanya Dzohir tapi meliputi bathin. dan hanya orang yang dikaruniai ilmu yang bisa mengambil hikmah darinya.

    Ingatlah dalam masalah pengabulan do’a, Alloh tidak melihat si A pandai dan Si B Pandai, tapi yang dilihat adalah kemantapan dan kebersihan hati.

    makanya jgn kaget klo anda berdo’a pakai do’a yang mutawatir dari nabi tapi blom dikabulkan oleh Alloh, tetapi ada orang bodoh yang datang ketempat kyai, mohon didoakan hajatnya biar sampai. eh permintaan si bodoh langsung dikabulkan oleh Alloh lantaran kyai tersebut.

    Saya teringat Nasehat Guru Sepiritual jawa Kanjeng Sunan Kalijaga: “Semua keinginan di dunia bisa anda capai (keinginan baik dan buruk), jika anda tau caranya, tapi ingat di akhirat tidak ada yang lepas dari syari’at”

    dan jangan heran klo ada orang yang minta kekayaan pada setan (dengan cara pesugihan) dan itu bisa terlaksana. begitu juga dengan Alloh menjanjikan pada kita rizqi yang tidak disangka2 dengan syarat bertaqwa.

  103. Semoga Alloh memberimu ilmu saudaraku. Ketahuilah bahwa Mu’jizat para Rasul itu benar adanya. semua mu’jizat berasal dari Alloh. logis tidaknya tergantung sejauhmana kita dapat mengimaninya. saya bicara logis disini tidak seperti rumus matematika 1 + 1 = 2. sebab yang namanya Kworiqul lil ‘adah (adat diluar kebiasaan) logisnya tidak seperti logis ilmu matematika.

    orang yang mampu memahami bangsa mu’jizat dia pasti akan berpikir logis, tapi bagi yang tidak sanggup, maka tidak akan berpikir logis. disinilah sebenarnya letak peran keimanan pada Alloh yang Maha Agung.

    misal yang paling mudah: Alloh memberi anda kerja dengan gaji 2 jt/bulan, tapi pengeluaran rutin anda yang sudah pasti misalnya 2,5 juta. secara logika anda minus 500 rb/bulan, tapi bagi perhitungan Alloh tidak minus bisa jadi surplus, dengan syarat anda yakin pada Alloh yang maha kaya, dan mau berniaga dengan Alloh (mengerjakan apa yang Alloh perintahkan).

    kembali membicarakan mu’jizat para Nabi, mungkinkah orang biasa mendapat mu’jizat seperti para Nabi? jawabannya Ya, tapi namanya bukan mu’jizat, tetapi ma’unah. sebab mu’jizat hanya bagi para Rasul Alloh & Karomah untuk para Auliya’ Illah. sudah banyak Kitab Para Ulama’ yang membahas hal ini, dan tidak diragukan lagi.

    Akan tetapi untuk mendapatkan Ma’unah dari Alloh ada syarat-syaratnya, yang tiada lain adalah Itiba’ kepada para Nabi, Para Sahabat, dan Ulama’ pewaris para Nabi.

    Bukannya sudah jelas ” Al ‘Ulama’ Warosatul Ambiya” dan “Al Istiqomah khoirum min alfi Karomah.”

    dari sini sebenarnya sudah sangat jelas, bahwa Karomah itu buah dari Istiqomah.

    misal: Pedagang yang Istiqomah sama yang malas, hasilnya kan beda. begitu juga orang yang rajin belajar sama yang malas, tentu saja hasilnya beda.

    begitu juga dalam bab ibadah, wirid, Do’a, semua ada etika, aturan yang seyogyanya dipenuhi bagi si hamba.

    misalnya orang sholat, pake celana panjang sampe dibawah lutut tanpa kopiah, secara Ilmu Fiqih sholatnya sah, karna sudah menutup aurat. tapi secara hakekat salatnya tidak beretika, sebab Nabi tidak pernah salat dalam keadaan kepala terbuka.

    ketahuilah bahwa ilmu syare’at itu hanya batasan minimal dalam menjalankan perintah Alloh. sebab Syareat itu berlaku untuk umum termasuk orang2 awam.

    misalnya:
    Puasa itu syah apa bila menahan lapar dan minum dan hal yang membatalkannya dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. tetapi puasa yang demikian belumlah memenuhi esensi hakekat puasa, sehingga banyak hadist yang menyebutkan kebanyakan org puasa hanya dapat lapar dan dahaga.

    Oleh sebab itu jangan heran, jika ada Ulama’ yang dimintai fatwa, tetapi fatwa tersebut tidak berlaku untuk diri Ulama’ itu sendiri. sebab Ulama’ yang ‘Alim jika mengeluarkan Fatwa melihat kondisi orang yang diberi fatwa, (mampu ndak orang ini).

    Misal: Imam Syafi’i memberi Fatwa Pada Raja dan Orang miskin, yang keduanya melanggar syari’at dalam kasus yang sama (batal Puasa Karna Jima’). Raja tersebut di suruh bayar Fidyah, tetapi org miskin tidak.

    Oleh sebab itu ndak ada gunanya berdebat masalah syare’at (Agama), sebab kesemu’anya bersumber Al-Qur’an dan Al-Hadist. jika didefinisikan dapat dikategorikan hukum ringan dan berat. tinggal kita mampu melaksanakan yang mana, silahkan pilih sesuai kemampuan kita (tapi tidak menuruti nafsu kita dalam memilih).

    Oleh sebab itu jika anda ingin belajar ilmu, belajarlah pada Ahlinya.

    Bukankah anda belajar matematika pada guru Matematika bukan pada Guru Fisika, begitu juga belajar Ilmu-ilmu Agama (Fiqih, Hadis, Qur’an, Tashowuf, Balaghoh, Ilmu Hikmah dll) maka belajarlah pada Ahlinya masing2.

    Jangan sampai anda menanyakan masalah matematika pada guru fisika. begitu juga masalah Do’a Mustajab kamu tanyakan pada guru fiqih atau Hadist pasti gak nyambung dan hanya akan membuat kekacoan. sebab metodenya sudah lain.

    Oleh sebab itu saya memberi nasehat: janganlah suka berdebat masalah agama, dengan sok jago dan pintar. lebih baik anda bertanya kepada orang yang ‘Alim dan Mumpuni baik dibidang Syare’at, Hakekat dan Ma’rifat.

    Ingat Ilmu Alloh itu luas, dan Alloh akan memberi Ilmu kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

    Ingat buah karya Ilmu yang barokah itu akan tetap dikaji sampai yaumil kiyamat, bahkan sampai banyak org mengkaji karyanya tapi tidak tau siapa pengarangnya.

    Sebaliknya ilmu yang tidak berkah hanya akan membuat keguncangan para umat, dan tidak akan bertahan lama.

  104. assalamu’alaikum wr wb…
    pak saya mau bertanya apakah kita boleh meminta bantuan kepada orang pintar tentang ilmu ghaib ? soalnya rmh saya prnah dikirimin orang jahat yang dikirim semacam kris, jd saya ingin tau penjelasannya pak, trimakasih
    wassamu’alaikum wr wb

      • Cuma mau Bisnis Ruqyah aja, pake alibi mengkafirkan orang, membid’ahkan orang. dasar wahabi gak punya etika.
        Meruqyah orang gak ada tuntunannya.
        yang ada tuntunannya : Seorang Muslim Meruqyah dirinya sendiri.

      • jangan berbicara tanpa ilmu ,nabi dan para sahabat meruqyah dan mensunnahkan ruqyah, meruqyah dirinya sendiri dan orang lain, terlihat anda ini sangat awamnya dengan hukum syari’at

  105. assalamualaikun wrb,
    Dwiristyandi, saya ikut jawab. begini, anda sebenarnya tidak perlu minta bantuan orang pintar, karena orang pintar itu, bisa saja adalah anda sendiri. soal cari tahu yang ghaib, yang tanya sama yang Maha Mengetahui Gaib saja, dijamin tidak sesat, insya Allah begitu
    untung, anda rumahnya hanya dikirim Keris, lha, coba kalau dikirim rudal atau bom, itu lebih sulit penangkalnya, harus punya anti rudal. tetapi, kalau hanya keris, atau semacamnya, itu gampanglah. baca saja secara rutin tiap malam, surah qulhu+al falaq+annnas, kalau perlu tambah ayat qursi, maka gangguan gaib itu akan luntur sendiri. tak perlu tanya orang pintar, karena anda sendiri harusnya yang menjadi pintar!
    oh ya, kakek saya punya keris, setahu saya keris itu barang mahal, jadi nggak mungkin dikirim sebagai hal yang buruk, dikirim artinya diberi yang bagus dong?!
    tapi saya nggak butuh keris dari kakek saya, karena yang butuh keris itu ya hanya kakek saya sendiri. Saya memang percaya keris ada kekuatan tertentu, tetapi saya lebih percaya bahwa saya bisa lebih sempurna kekuatannya dibandingkan hanya benda keramat. Bukan benda yang mempunyai kekuatan sejati, manusia yang punya kekuatan itu sendiri.
    وَلَقَدٛ كَرَّمٛنَا بَنِيٛٓ اٰدَمَ وَحَمَلٛنٰهُمٛ فِى الٛبَرِّ وَالٛبَحٛرِ وَرَزَقٛنٰهُمٛ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلٛنٰهُمٛ عَلٰى كَثِيٛرٍ مِّمَّنٛ خَلَقٛنَا تَفٛضِيٛلًا.
    (الاسٓراء: ٧٠)
    Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah Kami ciptakan. (QS Al Israa 17: 70)
    Jadi orang pintar itu adalah dirimu sendiri. Orang pintar adalah orang yang berjuang untuk diri dan berdikari, seperti Soekarno dlam pidatonya tanggal 17 Agustus 1964 pernah mengutip prinsip itu Surah Ar Raad Ayat 11sebagai berikut:
    … اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوٛمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوٛامَا بِاَنٛفُسِهِمٛۗ…
    (الرّعد: ١١)
    … Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan suatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. …. (QS Ar Ra’ad 13: 11)
    (Kalau punya waktu, cobalah simak tulisan saya di Kampus Wong Alus, search dari google saja “Aji Tunggeng Mogok”, disitu ada komentar saya yang luas. Mudah-mudah itu berguna. Kalau tidak, ya tinggalkan saja)
    Jadi, sekali lagi amalakan saja tadi, surah qulhu+al falaq+annnas, itu sangat berguna, dan dalil yang menguatkannya secara shahih banyak. Bacaan itu juga tidak hanya menangkal kegiatan “hitam malam”, tapi juga hati dan pikiran diri yang kelam dan suram. Itu cara orang pintar, yah anda yang pintar, bagaimana?
    Tinggalkan paranormal (‘orang pintar’), tinggalkan juru kampanye politik, tinggalkan para pengamat…
    Anda sendiri yang harus menjadi pintar. Apa ini cukup?
    wasaalamualaikum

  106. Assalamualaikum Wr Wb.
    Di blog ini sepertinya seru sekali..
    Saya tertarik dengan pernyataan si pemilik blog mengenai DOA NURUN NUBUAWAH yang di katakan sesat..

    Si punya blog ini entah berpura-pura bodoh atau memang bodoh benaran, saya tidak tahu..
    Tapi yang jelas menurut dia, ada empat kesalahan dalam Doa itu. Diantaanya :
    1. Kesalahan dalam tata bahasa
    2. Susunan kalimat yang tidak sistematis dan tidak memiliki kaitan.
    3. Isi permintaan yang tidak tepat
    4. Keutamaan yang terlalu berlebihan

    Jadi, karena pemilik blog ini anggap ada 4 kesalahan, maka Doa Nurunubuah tidak layak dijadikan doa..
    Artinya, kalau keempat kesalahan itu bisa di perbaiki, maka laykalah Doa itu di pakei..

    Kalau masalahnya seperti itu, kenapa Perdana Akhmad S.Psi tidak memperbaiki saja kok malah menyesatkan?
    Misalnya pada poin pertama bacaan yang dianggap salah di perbaiki..
    Pada pon kedua, carikan ayat yang dianggap sesuai.
    Pada kesalahan poin ke 3, ganti saja permintaan panjang umur diganti memintah barakah
    Pada poin ke 4, kurangi saja keutamaan doa .. Beres kan?

    Tapi karena saudara Perdana Akhmad S.Psi ini hanyalah oang bodoh yang sok tahu, maka jadilah dia hanya tukang fitnah kesana kemari..
    Kelompok Perdana Akhmad S.Psi hanya sibuk mengkafirkan orang lain karena kebodohan mereka…

    Bagaimana sebetulnya anggap ke 4 poin itu, apa benar salah atau tidak?
    Mari kita bahas bersama..

    1. Kesalahan dalam tata bahasa
    .
    Bacaan اللَّهُمَّ ذِى السُّلْطَانِ العَظِيم menurut Perdana Ahmad seharusnya di baca Fathah sehingga bacaannya jadi اللَّهُمَّ ذا السُّلْطَانِ العَظِيم.
    Apa benar memang demikian?
    Sepertinya saudara Perdana Ahmad benar orang bodoh, dia tidak tahu apa tujuan bacaan itu dibaca Kasrah…

  107. dalam ALQURAN banyak sekali doa doa.juga dalam hadist hadist sahih.ni lebih JELAS dan sangat AMPUH 100% MUSTAJAB !!!!! AMALKANLAH ! ! ! ! ! ! ! pagi petang siang malam TAK TERBATAS WAKTU !!!!! ingat pengahalang doa adalah makanan dan minuman yang HARAM !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  108. assalamualikum wr wb,,
    ikut lewat,,,
    sya kira tidak ada yg sessat,, karen smua di tunjukan memohon kepada Allah swt,,
    terkcuali kit menunjukan kepada selain Allah,,,
    buaknkh kita selaku hambanya di wajibkan hanya meminta sesuat itu ke pada Allah swt, karna hanya Dia lah yg dapat mengabulkan ap yg kita inginkan,,
    bukankah Allah swt berfirman “Memohonlah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan” ..
    jikalu permasalahn penulisan,,, mungkin itu adalh salh satu kelalain oleh dari seorng penulis,,,

    lebih arif dan bijak jika kita smua yg paham akan nahu dan sorof serta aturan2 dalm sebuah penulisan sebuah tulisan arab,, maka perbaikilah itu semua,,
    bukankah Rosulullah SAW jug tidak melarang hal tsb,,

    tirimakasih,,
    wasalamualikum wr, wb.

  109. semua tergantuk niat,klo niatnya baik,insya allah akan di berkahi,,,kita hanya berdoa dari do’a nurbuat itu untuk semata mata hanya untuk mendapatkan rahmatnya dan berkahnya

  110. mf,untuk yang punya blog ini,…????? tolong sampean ngaji lagi,….!!! jangan sampai mnyesatkn orang,……!!!???? di kaji lagi lebih dalam,saya ngasih masukan,kalu mau tau cela’y ana harus blajar dulu mnadami ilmu itu. supaya tau apa arti sesungguh’y.! jika kita ingin mngenal watak seseorang,tentunya kita harus berteman dengan seseorang itu. gimana tingkah llaku dan bicara’y. ayoh,kt bareng2 blajar.

  111. wah wah wah wah BERANI-BERANINYA NGATAIN syirik,bid’ah,syirik,bid’ah,syirik,bid’ah.
    SYIRIK MATAMU KUWI. BID’AH MATAMU PISAN KUWI.

    Coba dech,semua perbuatan makhluk yang diciptakan Allah, klo diliat pake ilmu kamu, jelas pasti mengandung syirik semuanya. Dan pasti jelas diri kamu sendiri yang GAK SYIRIK DAN GAK BIDAH. RAIMU IKU NARCIST. GOBLOK.

    • @kun : kalau di liat dari sudut Al-qur’an dan sunnah bagaimana mas? Do’a tersebut salah atau engga? (Saya rasa anda blm sampe ilmunya kesana).

      Sekarang pertanyaannya, anda lebih menyukai ilmu-ilmu dari guru anda (ciptaan sendiri berdasarkan pengalaman tanpa bersumber dari Al-qur’an dan hadist) atau yang sudah di ajarkan Lewat Al-qur’an dan As-sunnah?

      Klo anda lebih memilih guru anda silahkan, tapi anda tau hukumnya bagi orang yang menentang Al-qur’an dan As-sunnah? Anda yang tentukan sendiri hidup anda nanti saat di akhirat. Penulis blog telah terlepas dari anda karena telah menyampaikan apa yang telah tersirat berdasar Al-qur’an dan hadist shahih.

      Penulis Blog ini hanya mau menyampaikan apa yang sudah tertulis dan tersirat berdasarkan dari Al-qur’an dan As-sunnah. Tugas penulis blog ini hanya menyampaikan saja, dan penentu hidayah (terbuka hati ke jalan yang lurus) hanya Allah.

  112. semua itu terjadi atas kehendak&izin ALLAH semata,Allah mengabulkan doa baik maupun buruk yg dipinta hambaNYA.mengenai doa nurbuwah menurut penilaian anda salah tapi belum tentu anda tahu penilaian ALLAH mengenai doa nurbuwah.semua kembali kepada niatnya dalam melantunkan doa kepada Allah…soal diterima atau tidaknya doa semua itu hak Allah yg menentukan bukan manusia.

  113. sesuatu perbuatan belum tentu di lihat itu benar . sesuatu kesalahan belum tentu salah . hakikatnya manusia adalah tempatnya salah . kita d ciptakan oleh allah ‘ swt ‘ dalam ke adaan salah . maka jangan lah anda menyalahkan sesuatu yg menurut anda benar .

  114. payah kita ini mengaku muslim tp g faham agama<hebat mana orang yg faham agama ato wong bodo yg iman dan bertata krama? mana ada orang yang faham agama tp g bertata krama,berarti jelas g faham agama,mana ada orang bodo yang bertata krama berarti si bodo malah yg faham agama,pertanyaan ini coba di telaah dech pasti ente mubeng mumet n mules hehehehe

  115. si pemilik blog ini,saya rasa, hanya menunjukkan bahwa doa nurbuwah adalah doa yang baik menurut pencipta doa tsb dan pengamalnya,tapi tidak selaras dengan yang diajarkan Rasulullah,digunakanlah kt bid’ah.padahal kata bid’ah di Indonesia diartikan menghina.Kemarahan2 yg muncul aslinya bukan karena doa nya tapi fanatik berlebihan dan kegusaran pd kata bid’ah.Ya mungkin disini memerahkan telinga,tapi si empunya bahasa arab mungkin biasa.Yang dibahas doa,larinya ke wahabi dsb.Amannya, ya baca doa-doa ajaran Rasulullah saja,pasti baik dn tidak takut tergelincir.Bersikukuh,kalo misal, ada jatuhnya,siapa yg sakit siapa yg tanggungjawab.Kalau bicara makrifat,siapa yg lebih makrifat dari Rasulullah?beliau kan pernah isro miroj.Disini ibarat ada yg bilang, he mas mas.. jalan disana itu nampak berbahaya,liwat jalan umum aja,lebih aman.Eh,malah orang yg bilang tadi ditabokin.assalamualaikum

  116. Gimana sihh cara doa di angkat…… Caranya semua permohonan doa makhluknya manusia itu akan di bawa oleh malaikat jibril alaihi salam dan di persembahkan dn sampaikan kepada Allah swt. Rukun imanya dulu donggggg… betulin…. percaya kepada malaikat. Lantas Alloh yg menentukannya di terima,atau tidak itu ketentuan Alloh, umumnya semua doa manusia dan hambanya akan di persembahkan pada Alloh selepas waktu asar kecuali doa yang terus khusus.kepada Alloh. Lantas tiada percangahan atau perdebatan tentang doa kerna semuanya itu adalah permohonan terus kepada Alloh.

    Walaupun nabi Muhamad berdoa semua doanya di bawa oleh Jibril as kecuali ketika Nabi Muhamad Israk Mikraj dan melepasi kurshi arasy itu hanya Allah dan Muhamad.kerna itulah satunya kelebihan Muhamad @ habibillah…..

    Jibril as hanya sampai di situ tp Muhamad melepasinya……

    Jadi hati hati bila mau bicara menyangkut tentang ketuhanan dan tauhid…. bisa saja kita tergelincir dari landasannya kerana terlalu membicarakan ilmu hingga lupa tauhid @ pegangan kita tersasar, kerana mereka merasa ada ilmu dan ilmu itu yg lebih besar bukannya Alloh yang besar.

    Mohon dan doa lah kepada Alloh yang baik-baik kerna Alloh tau di dalam dn di luar makhluknya.

    Wasalam

  117. perbedaan pendapat…Pro dan kontra
    Ada siang ada malam,
    ada cowok ada cewek,pikiran orang berbeda,seraya pendapat pun iya…
    yuk sama2 mengaji,diri juga hamba Allah yang tiada tahu apa2,gk tau ilmu2 yang tinggi2. to the point,mintalah pendapat para ulama setempat, ato ustad,ato priyayi,gk usah di debatin,g da untungnya ..ya sama2 kuat2an pendapat,punya referensi yang berbeda.sama dengan pendapat para imam,dri al imam malik,al imam syafi’i,al imam hambali dan lainnya…sejatinya,islam itu agama yang satu,pendapat kesemua imam kalo di debatin ya ujungnya tetp satu keislaman.jaman dahulu banyak banget yang bodoh,yang pinter jarang…tapi sekarang,banyak pinternya tapi benarnya ini yang bingung??iya pa kgak?
    positif thingking aja deh,punya ilmu masing2,sebenarnya 1 agama.ingat,jangan dech saling mencela,silahkan gunakan pendapat apa yang menurut anda benar,yang mampu menilai bener,ntu Allah doank,,,
    priyayi juga manusia,ustad juga manusia,carilah ilmu yang sederhana tapi tepat,bermanfaat,bukan ilmu yang tinggi tapi ya cuma buat debat…boleh debat,malah baik dalam islam,,ya sejatinya kembali pada pribadi masing2,ingat ya jaman akhir,aneh2 wes pokoknya..dari menciptakan ajaran islam baru,ajarannya juga baru,,malah yang lebih lucu rasulnya juga mau baru,hohoho.. bismillah aja dech,semua sama2 pinter,pesantren masih ada, priyayi juga masih ada..mari mengaji..tapi sesuai porsi aja ngajinya,jangan yang tinggi,soalnnya kuatir sesat n salah jalan,qorin itu selalu membisik hal gila yang selama manusia hidup,,tepatnya ilmu itu lebih baik sedikti tapi bermanfaat, dri pada yang tinggi hanya dibuat debat..Allah lebih tau mana yang baik dan salah,doanya semoga kita tidak terjebak atas dunia jaman akhir,,semoga Allah selalu menuntun kita dijalan yang diridhoi,ihdinash shiroothol mustaqim,shirotholladzina an’amta ‘alaihim,ghoirilmaghdlhubi’alaihim waladlh dlholliin…amin

  118. Mf yg jwb anda keliru
    lht yg anda tulis dzi anda bilang seharusnya dza dgn alasan munada mudaf dpt munada dari mana sedangkan lafad dzi ga didahului huruf nida ya itu ya haya aya ae dan hamzah maftuhah
    dan yg seterusnya wadzilmanil qodim itu menurutkan dzi sultonil adzim karna ada wau hurup atop sedangkan kata jurmiyah fain atopta biha ala marfu’in rofa’ta ao ala mansubin nasobta ao ala mahfudzin hofadta dst dan juga lafadz dzi itu bukan munada tap asma’ul khomsah..
    Trs anda blang minta umur yg barokah ane setuju tp dlm berdo’a psti thowil yg di pakai bukan barik krna sgt susah dlm bhasa
    thowil bima’na barik. Sama halnya dgn yad(tangan) jika di terapkan pada sang kholik bima’na qudrat(kekuasa’an)
    krna tangan hanya milik makhluk
    itulah susahnya ngaji jgn sotoy kalo belum tau ilmunya krn dalam ayat qur’an bnya ayat mutasabihat

  119. Umat Islam terbagi menjadi 73 golongan dan hanya 1 golongan yang benar ( 72 golongan sesat ). Dan 1 golongan itu “Membaca, Memahami dan Mengamalkan Al-qur’an dan Al-Hadist. Marilah kita bersama-sama mencoba dan berusaha semaksimal mungkin menjadi 1 golongan tersebut.
    Jika Doa tersebut menyelisihi hadist, maka tinggalkan.
    Jika Doa tersebut tidak menyelisihi hadist, maka lanjutkan.
    Bagaimana kita tahu doa ini menyelisihi/tidak menyelisihi hadist ?
    Jika kita terlalu sibuk dengan urusan dunia, maka tidak sempat/tidak mau mempelajari Al-qur’an dan Al-hadist walau hanya 1 ayat.

    Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, satu (golongan) masuk Surga dan yang 70 (tujuh puluh) di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.’

    Keterangan
    Hadits ini telah diriwayatkan oleh:
    1. Ibnu Majah, dalam kitab Sunan-nya Kitabul Fitan bab Iftiraaqil Umam no. 3992.
    2. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitab as-Sunnah I/32 no. 63.
    3. Al-Lalikaa-i, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunah wal Jama’ah I/113 no. 149.

    Semuanya telah meriwayatkan dari jalan ‘Amr, telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Yusuf, telah menceritakan kepadaku Shafwan bin ‘Amr dari Rasyid bin Sa’ad dari ‘Auf bin Malik.

    Perawi Hadits:
    a. ‘Amr bin ‘Utsman bin Sa’ad bin Katsir bin Dinar al-Himshi.
    An-Nasa-i dan Ibnu Hibban berkata: “Ia merupakan seorang perawi yang tsiqah.”
    b. ‘Abbad bin Yusuf al-Kindi al-Himsi.
    Ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban. Ibnu ‘Adiy berkata: “Ia meriwayatkan dari Shafwan dan lainnya hadits-hadits yang ia menyendiri dalam meriwayatkannya.”
    Ibnu Hajar berkata: “Ia maqbul (yakni bisa diterima haditsnya bila ada mutabi’nya).”
    (Lihat Mizaanul I’tidal II/380, Tahdzibut Tahdzib V/96-97, Taqribut Tahdzib I/470 no. 3165.)
    c. Shafwan bin ‘Amr: “Tsiqah.” (Taqribut Tahdzib I/439 no. 2949.)
    d. Raasyid bin Sa’ad: “Tsiqah.” (Tahdzibut Tahdzib III/195, Taqribut Tahdzib I/289 no. 1859.)

    Derajat Hadits
    Derajat hadits ini hasan, karena ada ‘Abbad bin Yusuf, tetapi hadits ini menjadi shahih dengan beberapa syawahidnya.

    Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani mengatakan hadits ini shahih dalam Shahih Ibnu Majah II/364 no. 3226 cetakan Maktabut Tarbiyatul ‘Arabiy li Duwalil Khalij cet. III thn. 1408 H, dan Silisilah al-Ahaadits ash-Shahihah no. 1492.

    • Hadist yang antum share shohih dari segi sanad, menurut Ulama’ hadist yang mu’tabar. Namun dilihat dari segi matannya menurut sebagian Ulama’ hadist tergolong hadist yang cacat. letakkecacatannya, dilihat dari segi matan hadist mendorong orang terprovokasi dalam perpecahan.
      Bukankah Islam itu ibarat bangunan yang saling menguatkan, bukan saling menyalahkan dan menganggap golongannya paling bersih.
      Kalau kita lihat tulisan yang isinya menyesatkan atau mengkafirkan saudara kita, baik dengan dalil Nash yang mereka tafsirkan menurut Nafsunya sendiri, yang hanya masalah furuiyah, bukan masalah ushul, cukuplah kita pahami, golongan tersebut menyimpang dari Nash.

  120. Assalamkm saudraku semua
    aku gi galau ni?
    Mau doa bingung tkut sesat ma bid,ah
    soaln’y mau pake bhsa arab,aku gak tau,pake bahsa indnesia stahu sy Rosulullah SAW gk pernh ngjrin doa pke bhsa indonsia
    . tkut di anggp bid’ah ma sesat! aku g mau doa aja
    biar aku jd org bloon aja

  121. intinya do’a itu bukan pada kalimatnya tp pada hadhirnya hati..
    yg sesat itu org yg mudah mengklaim sesat trhadap yg lain..

    dg berlagak pinter smakin tampak kedunguanmu..
    orang berilmu itu ngayomii..bukan malah menyalahkan,,
    JADI JANGAN HANYA BISA MENGAJI..TP MENGKAJILAH..

  122. Bismilllah, melihat kenyataan ini aku jadi bingung sendri. Sama2 org Islam katanya…seharusnya saling menasehti dengan cara yg baik.Musa saja ngomong sama fir’aun dgn bahasa yg baik. kenapa sesama saudara kok saling menghujat….Jangan berpecah belah peringatan Alloh……Ini yg baca bukan hanya orang Islam saja……..Musuhmu bertepuk tangan…diberi fasilitas agar bertengkar.Ilmu saya pas2an……orang berbuat sesuai dengan ilmu yg dipahami.dan akan dipertanggungjawabkannya sendiri…….Belajarlah dirimu, ajarkan keluargamu……Ingat tuh QS59 ayat18: …..perhatikan dirimu apa yg sudah diperbuat tuk akheratmu(emang pasti masuk surga…..)……banyak menilai orang,…dirnya sendiri lupa tuk dinilai……Hati2 PERANGKAP SETAN…….

  123. Assalamu’alaikum

    Alhamdulillah tadinya saya cuma suka membaca dan tanpa komentar. tapi sekarang tergelitik untuk urung rembuk berdiskusi. Saya sangat senang dengan artikel “Hamba Alloh” tentang penjelasan do’a dan saya sangat setuju dengan apa yang anda kemukakan, dan menambah wawasan bagi saya yang haus akan pengetahuan terutama dibidang agama, semoga, Alloh memberikan keberkahan pada anda dan keluarga, selalu di bimbing untuk menuju Ridho Alloh SWT (amiin… amiin… amiin… yaa robbal’alamiin).

    Saya sendiri jujur seorang pengamal doa nurbuat dan sholawat nariyah, terlepas dari makna dan faidahnya, saya mengamalkan hanya mengharap ridho Alloh SWT dan, mengharap selamat di dunia dan selamat di akhirat kelak. Dimana ada permasalahan dalam hidup saya dan keluarga, sejatinya Alloh SWT akan lebih tahu dari yang kita tahu.

    Tapi, setelah membaca artikel tentang do’a ini saya sangat sedih, kalo ini disalahkan. Coba bagi admin tolong di telaah…. kita berdo’a sejatinya hanya mengharap keridhoan Alloh SWT, bukan kesaktian dari kalimahnya. bukan kan Alloh itu membaca dari kebersihan dan keikhlasan hambanya yang taqorub pada Dia, berserah diri pada Dia. bukan dari kalimat yang dibaca. Kalo anda tarik dari nahwu ya gak masuk… karena ilmu nahwu ilmu untuk mempelajari dari tata bahasa… tapi coba anda lihat, bukan kah do’a itu alat komunikasi dengan sang pencipta dan sang pencipta melihat keridhoan dan keikhlasan kita yang mengamalkan.

    kalo dari sisi tata bahasa saya yang kurang sopan, saya mohon ma’af… karena saya bukan orang yang pinter dan alim…. dibanding dengan anda yang merasa benar dan merasa mendapat jaminan surga.

    jangan suka menyalahkan orang lain, karena orang lain juga belum tentu salah begitu juga anda belum tentu benar, seperti yang mengungkapkan kalo wirid itu bid’ah, sedangkan anda saja tidak tahu kenapa orang itu melakukan wirid/dzikir. itu tidak lain hanya mengharap keridhoan Alloh, Taqorub dihadapan Alloh, mengingat Alloh. bukan kah kita wajib untuk berdzikir??

    Saya juga tidak menyalahkan anda, karena anda juga punya satu keyakinan dan memiliki guru yang mengajarkan itu kepada anda. Sejatinya islam adalah agama yang damai, agama yang memberikan safa’at bukan agama yang dijadikan untuk saling menyakiti apalagi sesama mukminin/nat. Jujur setelah saya membaca artikel anda, perasaan saya menjadi sakit….

    mohon aminkan Do’a ini

    Bismillahirrohmaanirrohiim
    Allohumma Solli’alaa Sayyidina Muhammad Wa’alaa Sayyidina Muhammad
    Yaa Alloh, Yaa Rohman, Yaa Kariim hamba mohon dengan Ridho Mu
    Engkau yang maha tahu, Engkau yang maha mendengar, Engkau yang maha pengasih dan penyayang, kasihinilah hamba Mu ini dalam rahmat kasih Mu, Sayangilah hamba Mu ini dengan sayang Mu, yang benar adalah milik Mu, yang salah adalah dari kebodohan hamba, maka tunjukkanlah kebenaran pada hamba Mu terutama hamba Mu yang menulis ini, berilah ampunan pada hamba Mu ini terutama hamba Mu yang telah mencela saudaranya sendiri, yang telah menjelekkan saudaranya sendiri dan yang telah menghujat kaum saudaranya sendiri. Hanya kepada Mu hamba memohon dan hanya kepada Mu hamba menyembah, tiada kebenaran selain kebenaran Mu, Maha Suci Engkau, Tuhan segala kemuliaan, suci dari segala apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir. Semoga kesejahteraan atas para Rasul dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam

    Amiin… Amiin…. Amiin… Yaa Robbal ‘alamiin….

    Wassalamu’alaikum…

  124. gitu aja kok repot ,itu pandangan dari orang syariah beda dengan pandangan orang torekot ngak usah dibahas.yang menjalani yang bisa merasakan bukan yang banyak bicara dan menyalakan . wassalam

  125. Sumber dari segala sumber kekalahan ummat Islam dari bangsa barat di masa kini : Ummat Islam lebih fokus mencurahkan segala kemampuan dan pemikiran utk berkreasi dalam hal ibadah (yg sebenarnya sdh sempurna disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihiu wa sallam), tapi sangat malas dalam memakmurkan dunia dengan kemajuan2 ilmu pengetahuan dan teknologi. Semoga Ummat Islam bisa kembali jaya seperti 3 kurun terbaik dulu dengan mencukupkan diri pada ilmu Syar’i yg sdh sempurna dan berlomba2 dalam memakmurkan bumi yg telah diamanatkan Allah subhannahu wa ta’ala kepada kita. Dan jika kau berselih pendapat, maka kembalikanlah kpd Allah (al-Qur’an) dan Rasul (al-hadits) (al-Qur’an)….AAMIIN

  126. dulu sy pernah komen disini…padahal nicknamenya sudah dimoderasi dan sdh bbrp kali di pakai di blog ini…

    tpi sekarang komentNY hilang..

    TAKUT KETAHUAN YA…

  127. Aku amat bersetuju dengan komentar Bung Ikhwan, marilah kita bangun dari lamunan pertikaian yang panjang selama akhir abad ini,usah pertikai lagi antara satu sama lain, memperbesar masalah remeh temeh tidak ada faedahnya… mempertikaikan doa nurun nurbuah juga satu contohnya. Perkara pokok adalah penyakit kemiskinan umat Islam sejagat, itu yang lebih utama. Bagaimana mau ibadah kalau hidup melarat di bumi sendiri. Orang belum Islam bahagia dengan harta melimpah ruah di bumi bertuah ini, tapi orang islam sendiri hidup miskin melarat kerna asyik berbalah tentang masalah yang tidak jelas.. masing-masing mau menunjukkan ilmu siapakah yang paling gede, paling ampuh dan merasa paling beriman sedangkan … apa ertinya takwa.. Ayoh leluhur kita tidak pernah mewariskan sifat sombong dan angkuh… malah meletakkan pangkat dan darjat itu hanya sebagai lantaran sebutan….sesama makhluk,,,, Pangkat dan darjat yang utama adalah dalam bertakwa kepada Alloh swt.
    Jadilah sebenar-benar khalifah yang memakmurkan bumi… dengan kalimah LA ILA HA ILLA ALLAH, ALLAH HU AKBAR.

    wASALAM

  128. Ya setuju. kita kembalikan beda pendapat ini kepad Al-Qur’an dan Al-Hadits, untuk urusan doa ini kita ikuti saja contoh Rosul (memang harusnya kan), Kalo rosul mau makan apa doanya …ya kita ikuti…, kalo rosul mau bepergian apa doanya … ya kita contoh, kalo rosul minta sembuh dari sakit.. apa doanya ….. yaa kita contoh…,.kecuali kalo kita tidak tahu (tapi harus belajar mencari tahu).. tidak apa2….kta bikin sendiri dengan kata2 sendiri yang baik….. gitu aja…beres kaan…

  129. org bdoh di bkin pusing,org lemah di perdaya,mau jadi apa dunia islam ini haaaahh,,,jawab wahai org2 pandai? Jgn di jwb org pinter,suka keblinger

  130. ikhwan semua,jgn bikin ribut tentang doa ini,sebenar nya takda yang sesat jika mengamalkan doa ini,aku sendiri sudah mendapat kan keajaiban setelah mengamalkan doa ini semua nya dgn izin ALLAH.aku bukan mahu menegakkan benang yang basah,tapi lihat lah di sebab topic doa ini kalian semua panas.hari pertama aku amal kan 100x hingga tertidur,bila sadar dari tidur dua orang khadam di sebelah ku,tapi aku tak dapat berkata apa-apa kerna jiwa belum kuat,lihat di atas masaallah ada satu energy berpusing-pusing sangat perlahan seperti pintu langit,itu pun aku tak dapat buat apa-apa hingaa tertidur lagi,seperti ada kuasa yang membuat aku diam saja,aku pun terus mendawam kan doa ini,dalam doa ini ada satu ayat kesembuhan,bila tak di zikir terus gigi sakit,bila di baca sakit hilang,ia seperti pain killer buat ku subhannallah,di baca di tempat orang bertengkar semua nya tak jadi gaduh,di baca pada tempat luka yang berdarah tak henti,terus henti lukanya ,itu saja testimoni kelebihan doa ini,aku hanya mahu menyakinkan kalian bahwa doa ini tak sesat,asal usul doa ini-Dikisahkan bahwa Rasulullah setelah sholat subuh duduk di masjid bersama para sahabat. Kemudian datanglah malaikat Jibril membawa doa Nurbuat seraya berkata: “Aku diutus oleh Allah membawa doa Nurbuat untuk diserahkan kepadamu (Rasulullah).”
    Jadi sebetulnya kita tidak perlu pergi ke paranormal atau dukun agar hajat dan keinginan kita terkabul. Amalkan saja doa nurbuat ini dengan hati jernih dan ikhlas hanya karena allah. Wallahu alam.

  131. Takdir…takdir…takdir….Bahwa Islam terpecah menjadi 73 golongan, 72 golongan yang sesat dan 1 golongan yang benar. Golongan yang manakah itu ?
    “Golongan yang menjadikan Al-Quran dan Al-Hadist sebagai pedoman hidupnya”.

  132. Assalamu’alaykum
    wr.wb.
    ALLAHUMMA SHOLLI ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN SHOLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM WA ‘ALA ALIHI WA ASHHABIHI AJMA’IN.
    Semoga Rahmat dan Berkah ALLAH SWT selalu diberikanNYA untuk kita semua.

    Sebelum dan sesudahnya saya memohon maaf kalau ada kata-kata saya yang kurang berkenan.
    Do’a Nur Nubuwwah bukanlah do’a yang menyesatkan.do’a ini diberikan langsung oleh malaika jibril as kepada RASULULLAH SAW,dan diajarkan beliau kepada para shahabat beliau.
    Tetapi dalam sejarah,belum pernah saya menemukan (karena keterbatasan wawasan saya) perkataan Beliau RASULULLAH SAW yang menjelaskan fadhilat yang tercantum dalam buku mujarrobat yang seperti ustadz katakan di atas tadi…mungkin itu penafsiran individual saja..
    Jadi menurut saya do’a ini jangan dulu kita katakan do’a yang menyesatkan..
    Karena apa yang dikatakan RASULULLAH SAW itu bukanlah menuruti kehendak beliau sendiri,melainkan kehendak ALLAH SWT..
    Sekian.terimakasih.
    Wassalamu’alaykum.wr.wb…

  133. Saya prihati, org sekarang ni banyak merasa pintar, sehingga mereka gampang sekali menyalahkan dan mensesatkan amalan ato redaksi doa yg dibuat ulama salaf,,,mereka merasa lebih pintar, lebih dekat dg Tuhannya, PADAHAL DOA INI UDAH DIRIWAYATKAN OLEH BANYAK ORANG dari masa ke masa, DIAMALKAN DARI MASA KEMASA,,,Dah bahkan udah banyak terbukti khasiatnya,,,DEMI ALLAH SY SENDIRI MENJADI SAKSI BAGAIMANA SETAN DAN JIN JAHAT YANG ADA PADA TUBUH ORG YG KERASUKAN,,,KEPANASAN KETIKA MENDENGAR LANTUNAN DOA INI, INI SUDAH MASYHUR…KLO ANTUM GAK PERCAYA SILAHKAN BUKTIKAN SENDiRI, YA TENTUNYA DENGAN KEYAKINAN DAN SEMATA2 IKHLAS KARENa ALLAH

  134. Anda ingin selamat dunia akhirat, berpegang teguhlah pada Al Qur’an dan Al Hadits (Shohih). Jika ada suatu amalan tentang ibadah yang tak diajarkan oleh Rosullah, maka Tinggalkanlah!

  135. Heh, yg di atas tuh, Kenapa pada saling bantah sih ? Amalkan saja klo ingin mengamalkan nya. itu tidak mengandung unsur ke syirikan, Asalkan ikuti 2 syarat dibawah ini :

    1. jangan sampai Melakukan puasa untuk Do’a itu.
    2. jika memang benar bisa untuk bertemu dengan Jin pake do’a itu, jika dia ingin membantu kita, biarkan, tapi jika dia ingin membantu dan ingin minta syarat tertentu, jangan sampai terpengaruh. Dan jangan menerima pemberian nya, Karna itu sangat mencurigakan. Itu saja ^_^ add Fb aku Alwi_pontoh@yahoo.com

  136. SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA PENGAMPUN, MHN MAAF, MENURUT SAYA PENDAPAT DI ATAS KESEMUANYA TIDAK ADA SALAHNYA, APA YANG DIYAKINI LAKUKANLAN SESUAI KEYAKINAN HATI. PERBANYAKLAH MEMINTA AMPUNAN KARENA KITA SEMUA INGIN MENUJU KESELAMATAN, DAN KEBAHAGIAAN DUNIA AKHIRAT. JANGAN SALING MENYALAHKAN.

  137. assalamualakum para ustd,sodara seiman dan para gru smoga rahmat allah slalu tercurahkan pd qt semua.mhon maaf sbelumnya saya ikut berkmentar. Setau saya d0a nurbuat trun ketika nabi slesai solat sbuh brjamaah dan ktka it dtng mlaikat jbril menympaikn doa itu.saya lhat diats ada yg berkmentar kalau doa.a slah.saya pun tdak tahu persisnya d0a yg pertma kali dsmpaikan pd nabi,bila ada yg lebh mengetahui tlng dshare saja dgan argumen yg kuat/berdasarkan hadist.krn sy jd bngung mengapa doa bsa jd sesat kalau memang d0a itu bnar” asli yg diajarkan nabi.silahkan yg mau berbgi ilmu/ada d0a nurbuat yg benar bsa blas ke email saya,krna ilmu akn brmanfaat bila bsa diamalkan.sm0ga brmanfaat buat saya dan yg sudah beramal ilmu.a.tdak perlu jelaskan khasiat.a ckup krim d0a.a yg bnar saja.septian8cahyadi@gmail.com

  138. yah pelajari aja yg sudah rasul ajarkan….itu kan ngak jelas periwayatnya…ane juga bisa bikin doa comot sana sini aja dri alquran yg baik -baik artinya..makanya belajar shorof ..ya om .jadi paham kalimah ayatnya isim fiil amr..ayy salamualik

  139. Doa NUR BUAT..bagi yang mau membacanya..silahkan saja di baca…bagi yang tidak mau tidak perlu di baca…Jika ini memang Blog ISLAMI, menjaga hati dan lidah itu lebih baik dari pada terburu-buru malakukan justifikasi “SESAT”pada suatu DOA.

    Pengamal doa NUR BUAT tidak bisa di JUSTIFIKASI sebagai orang BODOH, mereka juga FAHAM ILMU NAHWU, BALAGHAH, MA’ANI dan ILMU PENDUKUNG yang LAIN. kenapa mereka DIAM…??? saat di temukan ketidak sesuai dengan KAIDAH NAHWU sebagaimana yang di kupas diatas…???

    Kita sebagai orang ISLAM, cukup HUSNUDHON pada ULAMA pendukung DOA NUR BUAT…DIAM nya ULAMA dalam suatu perkara artinya ada ALASAN lain di dalamnya. jika kita ingin tahu..cukup belajar pada ULAMA mereka, jika tidak mau…kita serahkan semua kepada ALLAH…

    SALAM

    • Bener sekali tulisan NETRAL, Kenali diri sendiri dahulu… nantinya dengan ijin Allah kita akan mengenali Allah lalu tidak timbul kegeruhan seperti ini.

  140. jangan mudah mengucap sesat,pandangan anda itu menurut kajian syariat saja,hanya mengkaji luarnya saja…….contoh anda tau siapa aku??? menurut kajian syariat aku itu raga ini….tetapi untuk kajian hakikat aku itu bukan raga ini….tp yg menempati raga ini…….tetapi ruh”
    ini hanya sebagai gambaran pola pandang anda berdasarkan kedalaman menkajinya.

  141. Weww, rameh banget :)
    Yg ga sepakat dgn penjelasan utadz amri atas pertanyaan ttg doa nurbuat di atas terlihat esmosi hingga control ocehannya. Membantahnya asal. Asal tuduh, asal nyela.

  142. sebagaimana yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. berikut ini: “Saya meriwayatkan dari Rasulullah Saw. dua wadah ilmu: salah satunya telah saya sebarkan kepada kalian, adapun yg kedua seandainya saya sebarkan kepada kalian, niscaya kalian akan mengasah pisau utk memotong leherku ini (dua wadah itu ialah Syariat dan Hakikat)”.
    Al-Ghazali menegaskan bhw Ilmu HAKIKAT termasuk ilmu rahasia yg kelihatannya bertentangan dgn Ilmu Syari’at, namun hakekatnya tidaklah bertentangan.

  143. Semua komentar diatas bagus tapi perlu dingat menyampaikan dalil jangan setengah2
    contoh komentar…..celakalah orang yg melaksanakan sholat….ayat tersbut jngan dipahami spenggal krna ada penjelasannya….celakalah orang yg melaksanakan sholat…mksudnya orang2 yg lalai dalam sholatnya yaitu orang yg tdk pernah brusaha khusyuk n tidak pernah brusaha mepati wkt n menyempurnakan sholatnya,jadi bukan berati orang yg melaksanakn sholat itu celaka.. ,jika hal ini dibaca oleh orang2 yg kurang paham maka akan disalah artikan apalagi orang kafir yg anti islam pasti senang dgn hal ini he.he.he…………
    pelacur kalu pernah ucapkan syahadat n masuk islam tpi suka zinah tetap masuk surga tapi mampir dulu kenaraka to pertangjawbkn dosa2 zinahnya gak bebas masuk tnpa hisab boss……
    anjing/qithmir as habul khafi masuk surga tpi ujudnya digantikan oleh Alloh menjadi Qibas jdi bukan berupa anjing…..
    jadi…..
    -niat baik kalu caranya salah / tdk sesuai syari’at maka mendapat murka ALLOH
    -caranya benar sesuai syari’at tpi niatnya buruk maka mendapat murka ALLOH juga
    ALLoh hanya menerima tatacara ibadah yg suci/benar sesuai syari’at dengan tujuan/niat yg suci/benar pula
    Alloh sangat murka terhadap mereka yg mencampur adukan antara yg Hak dengan yg Bathil
    krena ALLOH ADALAH DZAT YG MAHA SUCI N BERSIH HANYA MENERIMA AMAL IBADAH YG SUCI / BERSIH DENGAN TATACARA N NIAT YG BAIK PULA demkian banyak dijalskn dlm AL Qur’an maupun Hadits Nabi SAW

  144. sesama muslim jgn saling berantem mengenai doa nur buat, dan jgn mengklaim diri kita yg paling benar itu namanya orang sombong.dan sombong identik dg syetan. saya gak berfihak satu dg yg lain .saya juga pernah mengamalkan doa ini ,dan dg izin allah terjadi apa yg saya minta.mudah2an gak ada perselisihan di antara muslim. hanya nabi muhammad orang yg tanpa dosa.

  145. astaghfirullohhil adzim………..janganlah kalian saling mencela kita sebagai manusia yang di berikan kehidupan sampai saat ini …oleh ALLAH SWT baiknya kita menyadari bahwa dosa kita sangatlah banyak dan apa tujuan kita berdoa kepadanya melainkan hanya mengharap ke ridhoan allah dan untuk mendapat ridho allah sudah semestiya kita benahi istghfar kita ….apakah kalian telah memahami isi dari rajanya istighfar ….apa bila kalian telah memahami maka kalian akan tahu rasanya bagaimana allah meridhoi doa2 kita (karna sesungguhnya allah senang dengan orang2 yang menyadari akan kesalahan kita sendiri walaupun terkadang kita tdk merasa bersalah ) dan allah senang dengan orang yang berserah diri karna hanya kepadanyalah kita semua memohon kebahagiaan di dunia dan akhirat…..wahai saudara2 ku pahamilah raja istighfar itu…

  146. mf,sblm nya.. Sy yg cm tau shalat z,prasaan ga pernh ktemu sunnah nabi,yg mngajak saling hujat dan fitnah,forum yg aneh.. Subhanallah..

  147. aduh bingung,, ni ustad selalu ngundang kotropersi selalu saja ada yang ribut2 dsini gara2 setiap judul ustad kontroversial ini.. jangan ustad ini yang mesti di ruqya…
    ini sesat.. yang ini sesat… bahkan para kyai yang mempunyai jama’ah dan santri banyak aja ga ada yang bilang doa nurbuat itu sesat, seenak udelnya aja dia bilang sesat apa aja sesat..

  148. setiap orang pasti akan berbeda tafsiran,,,mustahil menyamakan tafsir,,jang mudah menilai suatu do’a itu keliru,,karna hanya allah yang berhak menilainya,,jangan kan para ulama,,para imam saja ada perbedaan pendapatnya,,dan itu tidak dijadikan masalah,,masih banyak orang yg enggan shalat dan berbuat maksiat,itu yang harus kita luruskan bukan masalah seperti ini,,.

  149. Bingung baca koment nya, katanya doa ini di berikan kepada Rosul dan nabi terakhir junjungan kita Muhammad S.A.W oleh malaikat Jibril yang di utus oleh Allah S.W.T, berhubung saya tidak menyaksikan langsung saat kejadian di tkp, saya mau menanyakan satu aja

    Itu kejadian bener apa enggak sih ?

  150. Waduh rame banget..
    Kalo menurutku baik atau buruknya kita pasrahkan saja kepada Allah. Allah Maha Tau apa yang ada di hati manusia. Jadi biarlah Allah yang memberi keadilan saat hari pembalasan nanti.
    Jadi yang pro dan yang kontra gag perlu nyalahin satu sama lain. Yang penting kita berdoa kepada Allah. Yang perlu di bilang sesat itu yang gag berdoa kepada Allah. heheheh
    Trims

  151. semua yang ada di dunia ini relative alias 3D.
    tergantung sudut pandang anda.
    benar untukmu belum tentu benar untukku,benar untuk kita belum tentu benar juga dimata tuhan kita masing”.

    dagelan jowo,
    sopo pangeran ingsun?
    pageran ingsun,pangeran diponegoro….<< true || false == relative.

    yang penting kita sebagai umat manusia tidak hanya umat islam.(we'are a mankind man…hehe)
    senantiasa selalu berusaha untuk melakukan kebaikan dimulai dari hal kecil,dari diri sendiri,dari detik ini karna nanti sama dengan tidak sama sekali.

    bukane ceramah,tpi cuman sling sehat menasehati supaya menempati kesabaran.
    lupute w sedulur.

    rahayu kagem sederek sedaya.
    nuwun

  152. Aku pergi tahlil, kau bilang itu amalan jahil
    Aku baca shalawat burdah, kau bilang itu bid’ah
    Lalu aku harus bagaimana ?

    Aku tawasul dengan baik, kau bilang aku musyrik
    Aku ikut majlis zikir, kau bilang aku kafir
    Lalu aku harus bagaimana ?

    Aku shalat pakai niat, kau bilang aku sesat,
    Aku adakan maulid, kau bilang tak ada dalil yang valid
    Lalu aku harus bagaimana ?

    Aku ziarah, kau bilang aku ngalap berkah
    Aku slametan, kau bilang aku pemuja setan
    Lalu aku harus bagaimana ?

    Aku datangi yasinan, kau bilang itu tak membawa kebaikan
    Aku ikut tarekat sufi, malah kau suruh aku menjauhi

    Baiklah…baiklah….
    Aku ikut kalian saja :
    Kan kupakai celana cingkrang, agar kau senang
    Kan kupanjangkan jenggot, agar dikira berbobot
    Kan kuhitamkan jidad, agar dikira ahli ijtihad
    Aku akan sering menghujat siapapun, biar dikira hebat
    Aku akan sering mencela, biar dikira mulia….

    Ya sudahlah…..

  153. Asalam…
    Ngikutan ah…
    Nyang namaxa doa mw pk bahasa apapun silahkan..yg penting hati !
    Knp jd rame ampe brani ngluarin fatwa sesat…emangnya lu pada..nyang nerima n nge izabah atw Ngabulinnye… Aduh2 gan..gan..!! Ilmu yg d berikan Allah swt d dunia ini hanya seperti kita mencelupkan telunjuk kita ke lautan.. Nah air yg membasahi telunjuk kita itu seolah ilmu yg ada d dunia n Allah swt adalan lautan ilmunya… Nah skrg loe emgnye ud bljr smua ilmu d dunia nni..klo ilmu d dunia az cuma sperti air yg membasahi jari nahh skrg ilmu yg ada eloe segimanenyee…
    Jangan gampang jatohin hukum ah..dikit2..bid’ah..dikit2 sesat..dikit2 kafir !!!
    Bismillah kan do’a nyang bener tp klo d baca pas mw nyolong kan ga bnr jg…
    Jd slama org mash berdoa n meminta ma Allah swt. Brarti ngga sesat…
    Tp klo berdoa n meminta kdp slain Allah swt.. Itu baru sesat.
    Wasallam..

  154. kalo berdoa aja salah lebih baik mengumpat deh,, ini dia yang bikin org jadi malas berdo’a, hanya karena takut do’anya salah,, pendapat orang2 yang salah dan tidak mendasar.membuat kita tersesat,, boss,, coba berikan gambaran do’a yang baik menurut anda.

  155. Sebagian kecil yakni beberapa kalimat ….yaitu pertama dari doa nurbuat bisa di lacak dari hadits Jibril yang mengajarkan Nabi doa untuk mengobati mata kedua cucunya Hasan dan Husain berdasarkan hadits riwayat Ibnu Asakir di bawah.
    LIHAT Tafsir Ibnu Katsir
    - Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir meriwayatkan sebuah hadits riwayat Ibnu Asakir :
    عن علي – رضي الله عنه – : ( أن جبريل أتى النبي صلى الله عليه وسلم فوافقه مغتماً فقال : يا محمد ، ما هذا الغم الذي أراه في وجهك ؟ قال ” الحسن والحسين أصابتهما عين ” قال : صدِّق بالعين ، فإن العين حق ، أفلا عوذتهما بهؤلاء الكلمات ؟ قال : ” وما هن يا جبريل ” قال : قل اللهم ذا السلطان العظيم ، ذا المن القديم ، ذا الوجه الكريم ، ولي الكلمات التامات ، والدعوات المستجابات ، عافِ الحسن والحسين من أنفس الجن وأعين الإنس
    فقالها النبي صلى الله عليه وسلم فقاما يلعبان بين يديه ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم : ” عوّذوا أنفسكم ونساءكم وأولادكم بهذا التعويذ ، فإنه لم يتعوذ المتعوذون بمثله

    Artinya: Dari Ali bin Abi Thalib bahwa malaikat Jibril datang pada Nabi yang sedang tampak sedih. Jibril bertanya: Wahai Muhammad, kenapa wajahmu tampak sedih? Nabi menjawab: Hasan dan Husain sedang sakit mata. Jibril berkata: sembuhkan matanya karena mata punya hak. Apakah kamu tidak mendoakan keduanya dengan kalimat-kalimat itu? Nabi bertanya: Kalimat apa? Jibril menjawab: Katakan “اللهم ذا السلطان العظيم ذا المن القديم ، ذا الوجه الكريم ، ولي الكلمات التامات ، والدعوات المستجابات ، عافِ الحسن والحسين من أنفس الجن وأعين الإنس”
    Kemudian Nabi mengucapkan doa tersebut maka Hasan dan Husain langsung dapat berdiri dan bermain di sekitar Nabi. Nabi bersabda: mintalah perlindungan untuk dirimu, istrimu dan anak-anakmu dengan doa ini.

    - Namun ada perbedaan sedikit yaitu pada kata “dza” pada hadits dan “dzi” pada doa Nurbuat yang walaupun tidak merubah makna akan tetapi secara gramatika bahasa Arab memang kurang tepat Namun bisa dengan mengira-ngira huruf jar.

  156. Masalah Susunan Dalam DOA NUR BUAT…yang di KERITISI dalam Artikel di atas…
    Maaf..saya bukan seorang Ahli atau Ulama…jadi saya tidak mau mengkritisi DOA NUR BUAT..
    Saya hanya mau menyampaikan masalah SUSUNAN DOA …Yang di katakan TIDAK SISTIMATIS…oleh penulis Artikel di atas…
    Kalimat pertama..bisa di lacak pada Hadist Ibnu asakir di atas…pada Tafsir Ibnu Kastir…
    Kalimat Kedua dan selanjutnya sudah di bahas..dalam artikel di atas..hampir seluruhnya merupakan potongan AYAT-AYAT ALQURAN…
    Katanya tidak SISTIMATIS…dan ada juga yang komentar…tidak di ajarkan oleh NABI…untuk masalah ini saya NO COMMENT…
    Yang ingin saya sampaikan masalah SUSUNAN DOA..tidak ubahnya sebagaimana DOA RUKYAH…
    DOA RUKYAH yang disusun …sama sekali juga bukan susunan NABI…semua terdiri dari potongan – potongan AYAT AYAT ALQURAN dan DOA DOA yang di ambil dari HADITS…
    Di susun sedemikian rupa..jadilah DOA RUKYAH…

    Sebagaiamana di mulai dari AL FATEHAH…
    Memang dalam hadits surat ini pernah di gunakan oleh sahabat untuk menyembuhkan sahabat yang kena sengat KALA JENGKING…tapi bagaimanapun..sepengetahuan saya..tidak pernah Sahabat atau NABI menggunakan SURAT ALFATEHAH untuk RUQYAH mengusir JIN…
    Begitu juga surat-surat yang lain…
    yang populer untuk masalah mengusir JIN…adalah AYAT KURSI…
    Semua Surat-surat itu di susun sedemikian rupa menjadi DOA RUKYAH…
    Tentunya dalam penyusunan DOA RUKYAH ini juga berdasarkan pada PENG_ILHAMAN atau pengalaman para pakar RUKYAH…di mana juga tidak ada tuntunan yang tegas dari NABI masalah PENYUSUNANNYA..

    Nah…apakah DOA NURBUAT yang di susun sedemikian rupa…tiba-tiba menjadi TERLARANG…
    Dan tidak NILAI dari SEGI PENG ILHAMAN…dari orang yang ber ILMU dan BERPENGALAMAN…
    TIba-tiba di koreksi sedemikian rupa…dengan mengenyampingkan ULAMA ULAMA yang juga AHLI…mungkin lebih AHLI dari kita semua yang ada di sini…

    [35] Patutkah Kami menjadikan orang-orang Islam (yang taat), sama seperti orang-orang yang berdosa (yang kufur ingkar)?(Al QOLAM:35)

    تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
    فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُون؛ث

    Artinya, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap , serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.
    Tak seorangpun mengetahui dari ” قُرَّةِ أَعْيُنٍ ” sebagai Balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS: As-Sajdah [32]: 16-17)
    Nah di atas di katakan “Tidak seorangpun tahu tentang apa yang di berikan kepada ALLAH kepada mereka…”….
    Barangkali IBADAH kita yang ada di sini semua…tidak setetespun sama dengan mereka, yang munkin menggunakan SUSUNAN DOA NURBUAT..
    SALAM

  157. Maaf semuanya pada pembaca budiman…bukan untuk mengurui..saya bukan Ustadz..
    DOA NUR BUAT juga mungkin di susun sedemikian rupa oleh seorang yang AHLI…
    Yang juga di dasarkan pada PROSES ISTILHAM…
    Mereka dalam kisah hidupnya juga bukan orang yang mungkar…dan bukan orang bodoh…
    Mereka rata-rata ahli puasa dan Qiyamul Lail…mungkin lebih istiqomah dari manusia modern..
    Apa mereka tidak berhak mendapat ISTILHAM…??
    Apa mereka tidak berhak Mendapat ” قُرَّةِ أَعْيُنٍ ” ..dari ALLAH…???
    Mereka yang mengajarkan DOA NURBUAT…kepada murid-muridnya…dan juga menulis dalam KITAB-KITAB nya….begitu juga GRAND MASTER QURANIC HEALING membuat MODUL materi pelatihan dan BUKU PANDUAN RUKYAH……mereka juga orang-orang yang takut melakukan DOSA secara sengaja…
    Andaikan saya yang menyusun DOA NUR BUAT..
    Saya akan mengucapkan terima kasih atas koreksinya….tapi itu saya susun berdasarkan PENGILHAMAN saya tidak berani merubahnya….
    SALAM.

  158. Maaf saya hanya memberi bahan berfikir bukan untuk berdebat dengan motivasi PENGHAKIMAN
    Beberapa penjelasan ADMIN yang sangat Menarik dan penuh kedalaman ILMU
    3. Isi permintaan yang tidak tepat
    Saya sependapat panjang umur tanpa keberkahan memang kurang tepat….tapi menurut saya minta panjang umur bukan berarti DOA … SESAT…
    4. Keutamaan yang terlalu berlebihan..
    Adanya keutamaan yang berlebihan bukan berarti DOA itu menjadi SESAT…
    Apa saja boleh di minta terhadap TUHANNYA….
    Bahkan Sahabat NABI ISA pernah Minta makanan DARI LANGIT….
    Umat Nabi MUSA pernah Meminta MANNA wa SALWA..
    Dan masih banyak daftar permintaan lagi..bukan berarti itu menjadi SESAT…..

    Yang ingin saya sampaikan….DOA dan KEUTAMAAN..
    Jika ada DOA yang leutamaannya berlebihan..kita cukup mengatakan KEUTAMAANNYA saja berlebihan..dan sulit terkabul…….tapi itu menurut saya…DOA nya tidak perlu di hukumi SESAT..
    Cukup katakan saja..berdoalah Ikhlas kepada ALLAH…

    5.DOA NURBUAT Bukan DOA AJARAN NABI….
    DOA yang tidak di ajarkan NABI tidak harus di vonis DOA SESAT…
    contoh seperti DOA ini
    DOA & MAKLUMAT PRAKTISI RUQYAH SELURUH DUNIA
    BISMILLAH.
    Wahai seluruh kuman, bakteri, virus yang merusak tubuh, juga seluruh penyakit fisik, seluruh emosi negatif, seluruh gangguan jin dan sihir!
    Kami perintahkan atas Nama Allah yang Maha Kuasa! Keluar saat ini juga dari tubuh saudara kami yang sekarang sedang mendengarkan lantunan Firman Allah dan doa Rasulullah, karena rasa takut kalian kepada murka Allah!
    Kepada seluruh sel tubuh, semua hormon, setiap energi tubuh manusia yang saat ini mendengar lantunan Firman Allah dan doa Rasulullah ! Sekarang juga perbaikilah kondisi tubuh kalian hingga sehat sempurna!
    Dengan Izin Allah Terjadilah, Terjadilah, Terjadilah pada detik ini juga, Aamiin Ya Rabbul Alamin

    DOA di atas DOA Khas Ajaran QURANIC HEALING…apa orang harus mengatakan SESAT..hanya gara-gara doa di atas di susun atas INISIATIF PERUKYAH QURANIC HEALING sendiri dan kalimat-kalimat itu juga belum pernah saya dengar bahwa itu di ajarkan NABI…

    Salam

  159. no comen ae.dari pada salah kata repeot he he he he.yo sekedar mengingatkan aja.ilmu alloh memang luas pelajari lah dengn bertahap jngn yang 1 ini belum selesai udah belajar lain nya.kayak kita sekolah SD kelas 1 belum selesai kelas satu e dah kelas 2 yg ada nati salah dalam penerapan nya.n berhati hatilah dalm bercakap2 ucapan jelek cemoohan itu adalah bagian dri nafsu sedang nafsu itu kendaraan syaiton.secara tdk langsung berkata buruk seperti itu sudah menenamkan kejelekan dalam diri.
    marilah berkata yg baik baik marilah kita saling mengingatkan bukan mengejek atau menghina ilmu kita masih setes air di lautan jd saling lah mengingatkan n melengkapi agar mendapatkn berkah dlm mempelajari ilmu.ingat syaiton salalu mengawasi kita dia akan menyerang dri segala arah dri kelemahan yaitu Ilmu yg belum tau hakekat yg sebenarnya
    n jangan lah mengatakan doa nurbuat itu sesat kita tdk tau itu.sesat itu berati menyekutukan ALLOH.apa Doa itu menyekutukan tdk kan,untuk berkah Dari doa itu allohualam kita tdk tau.sepeti kita sering membaca bismillahirohmanirohim e kita awat muda n murah senyum serta kelihatan bercahaya itu semua karna alloh bisa jd bismillah itu bermanfaat untuk yg lain seperti kita pergi e tiba2 kita tabrakan n alloh melindungi kita tdk lecet sedikitpun yg ada pd tubuh kita itu hanya mengucapkan bismillahirohmanirohim.
    menurutku ya selama itu tdk menyimpang dari ajaran islam seperti menghina atau apa bagi ku sah sah aja
    mohon maf jika ada salah kata dlm berucap Q hanya manusia biasa yg sedang belajar untuk menjadi lebih baik walau masih jauh tp setidaknya kan usaha he he he he

  160. Ada baiknya, yg dibahas itu adalah sejarah/awal mula adanya Do’a Nurbuat. Siapa yg pertama kali menyusun Do’a ini, dan susunan do’a ini darimana landasannya, kemudian untuk tujuan apa menyusun do’a ini ????
    Bila Sejarah tersebut sdh benar2 diketahui. dan kebenaran sumber2 informasinya bisa dipertanggung jawabkan. maka anda baru boleh bilang itu tdk sesuai dgn tuntunan Rasulullah SAW. Melihat prosedur diatas, sy yakin do’a Nurbuat atau Do’a apapun itu, yg namanya Do’a: ya..jelas donk, itu tuntunan Rosulullah SAW. Waspada kpd kaum Mukmin, Serangan kaum kafir kpd kita saat2 ini, sdh berkedok agama, dgn cara mengatakan ini sesat, itu sesat. Do’a Nurbuat sesat, Tahlilan sesat, Shalawat kpd Nabi sesat, Maulid sesat. Hati2 itu semua ulah kaum Kafir. untuk menggoyang keyakinan kaum mukmin dan agar amalan2 baik kita tdk lagi kita lakukan. Ingatlah senjata orang mukmin adalah Do’a. manusia yg tdk mau berdo’a ialah manusia yg sombong. Allahu’alam.
    Bila itu benar, semata-mata datangnya dari Allah. dan jika itu salah maka semata-mata kebodohan sy.

  161. Untuk TS….
    Baik bagi mu lakukan…
    Buruk bagimu jng lakukan..

    Syariat, makrifat, torekot dan hakikat itu semua benar…
    Dan itu hanyalah jalan lain menuju YMK…

    Dan yg paling benar adalah ikuti Hati nuranimu yg bersih…
    (bersihkan mata, hidung, telinga,Pikiran, hati,dll)
    Dan sebelum membersihkan itu semua
    Bacalah An naas…
    Biar dijaga jalan hatimu..

    Bagiku segala do,a itu benar..
    Bahasa arab, indo, inggris dll…. Hanyalah sebuah bahasa
    Allah maha tau segala bentuk arti permohonan do,a kalian..
    Berdo,a lah mengunakan Hati mu..
    Jng lisan..

    Klw untuk anak..
    Saran aku….
    Surah maryam dan Surat Yusuf itu aja da dari cukup…

    Terima kasih..

  162. Ini yg punya lapak sama kroco-kroconya pada sok tahu, sok suci, sok bener…membaca dalil hanya berdasarkan tekstualnya belaka, hal-hal bersifat mukjizat, karomah dan maunah mau difikir secara logika..ya gak nyambung atuh !!! Dikit2 bid’ah..dikit2 syirik…dikit2 khurafat…padahal mungkin saja yg bid’ah, syirik dan khurafat itu adalah kelakuan kalian sendiri ^_^

  163. Teman/saudara Islam,,,
    Buat pa kita berdebat tentang hal2 yang merusak silaturrahmi..
    Yang kita cari dalam hidup adalah Ridho, berkahNya..
    Masalah tinggi ilmu/bodoh itu hal yang sulit dinilai,, sebaiknya kita saling belajar tentang agama dan berpedoman pada Alquran dan Sunnah Nabi..
    Maaf, saya hanya sebagai mediasi agar tidak cekcok,, lebih baik kita minnta ridho pada Allah agar diberi nur kecerdasan agama.. Amiin
    Salam kompak..

  164. Semua do’a itu maksudnya baik/untuk kebaikan,selama tidak berniat untuk kejelekan misalnya menganiaya,mendzalimi ataupun mencelakakan orang,sah-sah saja,isinya kan cuma permintaan baik untuk diri sendiri ataupun orang lain,sekali lagi yang penting ISINYA YANG BAIK-BAIK,terserah haq Allaah untuk mengabulkan,terlepas dari tata bahasanya yang mungkin dianggap tidak pas itu boleh2 saja (kan kita orang Indonesia bukan orang Arab),bahkan berdo’a pake bahasa Indonesia/daerahpun boleh2 saja,kan yang penting hatinya yang minta langsung kepada Allaah (terserah pake bahasa apapun) jadi kalo ada orang yang bilang do’a ini sesat atau apalah justru patut dipertanyakan tingkat keislaman,keimanan,ketaqwaan dan ketauhidan dia,he he he peace,cuma Allaah yang kebenarannya paling haq

  165. “Dan sesungguhnya orang-orang kafir benar-benar akan menggelincirkan kamu”
    “ASSLMKM”’ ——————————————————————————————————
    wah” om om saya jadi ingin tau lebih jauh tentang doa ini, karna saya slalu mengamalkan doa ini keyakinan saya terhadap doa ini adalah baik dan tak terpikirkan jikalau di katakan ada kesesatan, namun tetap akan saya cari tau kebenaran yg sebenarnya meski keyakinan saya doa ini tidaklah sesat, sangatlah perlu untuk saya mengetahuinya lebih jauh agar di masa yg datang (insya ALLAH) jika ada yg mempertanyakanya kpd saya insya ALLAH saya dapat menjawabnya, buat om om tolong kasi info nya..
    oh ya om mengenai doa ini saya sering mendengarnya dalam sebuah syukuran, Doa ini slalu di baca saat anak kita(MUSLIM) syukuran …POTONG RAMBUT GITU”” ya gak om,,, gak tau kalau di t4 om om, dan yg lebih hebat lagi jikalau doa ini sesat orang2 yg membacakan doa ini dalam suatu syukuran itu adalah mereka yg terbilang alim ulama, apalagi di kampungku, DIA (yg membacakan) doa ini di kenal sebagai sosok ulama, guru besar, seorang imam, dan dia juga mengusai berbagai ilmu dalam islam, sekarang iya sudah sangat tua, hari2nya di isi dengan melantunkan ayat2 suci, jika kami main di t4 nya tak jarang iya memberikan pelajaran dengan cara2 yg unik, unik di sini membuat, kami ingin bisa seperti itu, entah trik atau apalah, yg jelas yg dia lakukan membuat kami terheran2, jk di minta untuk mengajari kami, maka iya akan menjawab baiklah, tapi benahi dulu, cara basuh, sesudah buang air besar, cara mandi wajib yg benar, cara berwudhu yg benar dan masih bnyak lg sarat2nya yg jelas semua sarat itu terlihat hal yg sering kita kerjakan, akan tetapi masih ada tata cara yg sebenarnya dan tak jarang iya memberikan hadistnya berkaitan sesuatu yg jadi sarat itu,
    lantas” menurut saya dan juga org2 yg mengenalnya adalah dia seorang ahli kitab, pertanyaanya apa iya tak mengetahui tentang asal usul, baik buruk doa nur buat yg di bacanya,
    apkah sesuatu yg menyesatkan akan terus iya kumandangkan?
    apakah sosok yg menjadi panutan serta seorang guru besar tak mengerti dengan yg di bacanya(DOA NUR BUAT)sedangkan dia ahli kitab,
    NAMUN MANUSIA TAK LUPUT DARI SALAH DAN DOSA, untuk itu meskipun saya merasa doa tersebut tidaklah sesat dengan segala yg saya tau baik dari orng2 yg sering membacakanya dan baik yg dari luar itu,untuki itu, buat om om tolong kasih tau di mana saya bisa menambah pengetahuan saya tentang doa ini,,,, Amin…WASSLM,,,

  166. Maa Sya Allah wahabi2 kerjaanya selalu menyesatkan orang lain!urusilah aqidahmu dulu sudah benar atau tidak,yang mengatakan tuhan ada di langit??

  167. Allah mendosakan orang yang membiarkan kebodohannya. carilah ilmu…sedalam dalamnya biar gak berfikiran negatif. Karena orang Mukmin jikala mempunyai ilmu maka akan selalu haus akan ilmu. Nabi Muhammad, SAW. berfirman wahai ummatku janganlah engkau buruk sangka kepada sesama, karena kamu tidak akan tau maksud dan tujuannya. jadi simple jawabannya hanya sekilas kasat mata atau (Fitnah).,,, orang kalau tidak pernah menyelami dan tidak pernah mempraktekkan ilmu Allah maka hanya pinter dari leher keatas, tapi kebawah lehernya gak akan masuk

  168. Segala doa dan sholawat yang arti kajiannya kebaikan tidak ada yang sesat….jangankan berbahasa arab berbahasa Indonesiapun ALLAH SWY maha mendengar dan mengabulkan…amiin

  169. klo saya g faham ilmu alat, tp yg penting barokah dari do’a2 itu. sebab yg mengijazahkan do’a itu orang yg bersih hatixa. beda dg orang2 sekarang yg penuh maksiat. ingat sy bukan taqlid

    • jangan sebarangan bilang sesat… baca dulu kitabnya…. belajar ilmu dulu. kalo cuma seujung kuku jangan ngomong. diam saja. ini menyangkut islam…… mau kamu di adu domba..

  170. COBA PIKIR…. DO’A NURBUAT ITUKAN DO’A, DAN DI TUJUKAN KEPADA ALLAH MANA LETAK KESALAHANNYA KALAUPUN TOH ITU BUKAN DARI HADITS KAN SAH-SAH SAJA… YANG MELARANG ORANG BERDOA’A PAKAI DO’A NURBUAT BERARTI SAMA DENGAN MELARANG ORANG BERDO’A.

  171. wahai dzat yang menguasai hati
    tetapkan hamba akan agama-Mu
    wahai Dzat yang Maha lemah lembut
    sungguh hamba adalah makhluk yang lemah….

  172. ada 3 hukum dalam islam
    1.Al Qur’an
    2 hadist nabi
    3 ijma’ dan Qiyas dari ulama
    jangan memberikan hukum apapun di luar itu.dan jangan bicara sesat sebelum itu benar” ada fatwa dari para ulama.
    bukan berfatwa dari satu kelompok saja.
    berkatalah dengan lemah lembut sesama saudara seiman.

  173. Kalo ga salah dengar sholawat nariyah diciptakan oleh syeh nariyah,yang bertujuan masuk surga bersama NABI MUHAMMAD SAW,dan NABI mengijinkan betul ga? Yang jadi pertanyaan kita kan lahir aja udah zaman begini?pokoknya yang baik mudah2 an balasanya BAIK!

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s