Gunung Sadahurip Bukan Bangunan Piramida; Perspektif Ilmu Kebumian

Pak Sujatmiko – anggota IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) – melakukan ekspedisi kilat ke Piramida Gunung Sadahurip. Hasil temuan berdasarkan ilmu geologi dan kesimpulannya kemudian dituangkan dalam tulisan dibawah ini yang sekali lagi menegaskan TIDAK ADA PIRAMIDA SEPERTI KEYAKINAN GURU UTAMA HIKMATUL IMAN JUGA YAYASAN TURANGGA SETA ( SAMA SAMA PARANORMAL). Jika memang dilakukan pengeboran kita lihat saja kenyataan nantinya bahwa tidak ada piramida di Gunung Sadaurip, dan saya harap jangan cari-cari alasan dengan mungkin nantinya bisa saja mulai berteori konspirasi bahwa ada Operasi Inteligen Rahasia dari Mesir untuk menggagalkan penemuan Piramida Garut sebab akan mengurangi kunjungan wisata ke Piramida Mesir atau ada campur tangan alien dengan teknologi canggih mereka lalu menggagalkan penggalian dan beragam argumen ngeles lainnya :D hehehehe

Gunung Sadahurip adalah sebuah gunung kecil terisolir yang   terletak di Desa Sukahurip , Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut. Tingginya yang  1463 meter di atas permukaan laut, membuat gunung mungil ini tampak menyolok di kejauhan, begitu kita memasuki Kecamatan Wanaraja dari arah Garut . Bentuknya yang mirip dengan bangunan piramida, ditambah dengan mitos penduduk setempat tentang keanehan dan keangkerannya, apalagi diperkuat oleh bisikan-bisikan ghoib, membuat Yayasan Turangga Seta yakin bahwa G. Sadahurip adalah sebuah piramida budaya yang dibangun oleh nenek moyang kita.

Keyakinan mereka kemudian dituangkan dalam suatu hipotesa yang menyimpulkan bahwa selain di G. Sadahurip, terpendam bangunan piramida budaya di gunung-gunung berbentuk piramida lainnya di Jawa Barat  antara lain G. Kaledong dan G. Haruman ,  keduanya di Garut, dan G. Lalakon di Bandung. Hipotesa mereka ini  tentu saja mengundang kontroversi khususnya bagi kalangan ilmuwan kebumian mengingat geomorfologi model piramida yang merupakan produk dari proses geologi dan gunung api  sangat umum ditemukan di banyak penjuru dunia.

Walaupun demikian , berkat semangat dan kemahiran Yayasan Turangga Seta dalam menyosialisasikan hipotesanya dan memanfaatkan nama besar dari beberapa pakar ilmu kebumian yang di awal penelitian mereka ikut berpartisipasi, maka akhirnya Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana di Binagraha terpancing untuk ikut nimbrung melalui  tim bentukannya yaitu Tim Bencana Katastropik Purba. Tim inilah yang beberapa waktu lalu mengklaim telah menemukan  Piramida Sadahurip,  yang selain  tertinggi  dan terbesar di dunia,  juga tertua  yaitu lebih dari 6000 tahun sebelum Masehi.

Pernyataan-pernyataan lainnya yang tak kalah  kontroversialnya kemudian dilemparkan ke masyarakat luas antara lain tentang temuan  pintu masuk ke ruang piramida di perut G. Sadahurip , dan yang terakhir tentang kehebatan para pendiri piramida yang diyakini telah mampu memindahkan seluruh kandungan batuan yang sebelumnya menyusun lembah Batu Rahong untuk dijadikan bahan bangunan Piramida Sadahurip.

Pernyataan terakhir ini yang sebetulnya dapat dijelaskan dengan konsep ilmu rupa bumi atau geomorfologi  mengindikasikan bahwa Tim Bencana Katastropik Purba  tidak dilengkapi dengan tenaga ahli kebumian yang mumpuni, yang selain dapat membaca dan menerjemahkan gejala alam yang telah dan sedang terjadi, juga dapat menjaga martabat dan kehormatan institusi kepresidenan yang seharusnya selalu kita  junjung tinggi.

Gunung Sadahurip asli bentukan alam

Kepastian bahwa G. Sadahurip  merupakan bentukan alam murni tanpa campur tangan manusia, apalagi tenaga ghoib, didapat setelah penulis melakukan pengamatan geologi langsung di lapangan pada tanggal  8 Januari 2012. Dalam kegiatan ini tim penulis didukung  dan dikawal oleh Dan Ramil 1103 Wanaraja Garut,  Kapten TNI Didi Suryadi beserta beberapa orang anggotanya , dan   Sekretaris Desa Sukahurip, Bapak  Syarip Hidayat. Target pengamatan pertama adalah morfologi G. Sadahurip yang tampak simetris sempurna dari arah Wanaraja, tetapi ternyata menjadi  tidak simetris dari arah selatan / Kampung Cicapar.

Gunung Sadahurip tidak berbentuk piramida dilihat dari CicaparGunung Sadahurip tidak berbentuk piramida dilihat dari Cicapar

Pengamatan selanjutnya difokuskan kepada fenomena geologi yang ditemukan di sepanjang perjalanan , dari mulai Kampung Cipacar sampai ke puncak G. Sadahurip dan kemudian  turun ke Kampung Sokol. Singkapan batuan yang ditemukan berupa batuan beku andesit dalam bentuk aliran lava dan batuan intrusif yang masif ,  yang di beberapa tempat melapuk meninggalkan  struktur kulit bawang atau kekar tiang.

Pelapukan mengulit bawang di lereng Sadahurip dengan batuan asli kolom-kolom andesitisPelapukan mengulit bawang di lereng Sadahurip dengan batuan asli kolom-kolom andesitis

Selain dari itu, ditemukan juga batuan piroklastika hasil kegiatan gunung api yang kebanyakan telah lapuk . Dengan  variasi batuan semacam ini yang sangat umum ditemukan  di morfologi gunung  berbentuk piramida,  maka dapat disimpulkan  bahwa G. Sadahurip  adalah  sebuah gunung api  kecil yang utuh dengan bentuk menyerupai piramida. Fenomena semacam ini oleh van Bemmelen disebut sebagai lava dome (The Geology of Indonesia, 1949) dan oleh Arthur Holmes sebagai cumulo dome (Principles of Physical Geology, 1984).

Metode penelitian geologi sederhana yang penulis uraikan ini sebetulnya merupakan materi kuliah Geologi Dasar di seluruh Fakultas  Geologi di Indonesia yang  seharusnya dipertimbangkan oleh Tim Bencana Katastropik Purba dalam melaksanakan penelitiannya.  Dengan demikian maka pemakaian beragam peralatan super canggih seperti  geolistrik superstring, georadar, foto satelit 3 D – IFSAR resolusi 5 meter, dan bahkan penentuan umur dengan metode Karbon C-14 atau radiocarbon dating yang tentunya telah menguras dana dan tenaga yang tidak kecil akan dapat dihindari.

Antara bisikan ghoib dan pertimbangan ilmiah

Dalam wawancaranya dengan VIVAnews pada tanggal 15 Februari 2011, Yayasan Turangga Seta yang didirikan sekitar tahun 2004 mengakui bahwa metode penelitian yang  mereka terapkan banyak didasarkan atas  kepekaan beberapa anggotanya terhadap kehadiran ghoib yang mereka sebut sebagai parallel existence (penulis menyebutnya sebagai bisikan ghoib). Mereka terkesan bangga menyebut timnya sebagai MIT atau Menyan Institute of Technology dengan argumentasi bahwa dalam melakukan perburuan situs prasejarah , yang mungkin dengan ritual pembakaran kemenyan untuk mengundang roh, mereka kadang-kadang mendapat sokongan informasi lokasi dari informan tak kasatmata (VIVAnews, 17 Maret 2011).

Dengan keyakinan semacam itu maka dapat dimengerti mengapa dalam sosialisasi pertamanya di hadapan Wagub Jabar tanggal 3 Maret 2011, Yayasan Turangga Seta terkesan kurang senang ketika penulis dan  Drs. Lutfi Yondri M.Hum., pakar arkeologi dari Balar Bandung, memberikan masukan ilmiah , padahal  maksudnya agar Yayasan Turangga Seta yang sebagian besar anggotanya masih muda-muda dapat lebih berhati-hati , baik dalam melakukan penelitian ataupun dalam prosedur dan perizinannya  (sesuai dengan  isi Undang-Undang Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010).

Masukan serupa tetapi sedikit lebih keras diberikan lagi kepada perwakilan Yayasan Turangga Seta ketika memperkenalkan  hipotesanya di Jurusan Tambang ITB pada tanggal 6 Mei 2011 yang dihadiri juga oleh penulis dan Drs. Lutfi Yondri M.Hum. Pernyataan mereka ketika itu cukup tegas bahwa mereka lebih percaya kepada  bisikan ghoib atau parallel existence dari pada pertimbangan ilmiah.

Selain peringatan secara langsung, sanggahan melalui media internet dan media cetak dilayangkan juga  antara lain oleh Mang Okim (milis IAGI   20 Maret 2011 : Piramida G. Lalakon di Bandung, Akhir Sebuah Harapan),  Dr. Ir. Budi Brahmantyo M.Sc. (PR 3 Agustus 2011: Gunung Lalakon, Sebuah Karya Alam), dan lain-lain. Artikel dan tulisan berikut lampiran gambar-gambar yang menjelaskan dan menyanggah hipotesas piramida tersebut dan telah dikutip oleh Google,  dipastikan telah dibaca juga oleh Yayasan Turangga Seta.

Selain dari itu, beberapa pakar geologi terkemuka di Indonesia yang pada awalnya mendampingi dan mendukung secara sukarela penelitian mereka, kemudian menarik diri setelah menyadari adanya penyimpangan metode dan arah penelitian mereka dari kaidah-kaidah ilmu kebumian yang baku (pengakuan Dr.Ir.Danny Hilman M.Sc. di Nasional, 4 April 2011, dan bantahan keras Dr.Ir. Andang Bachtiar M.Sc. di FB karena nama dan reputasinya  dimanfaatkan secara tidak benar). Dengan adanya sanggahan dan bantahan dari para pakar tersebut, maka sungguh sulit dimengerti bahwa Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana justru terpengaruh dan bahkan mendukung penuh kegiatan eksplorasi dan penggalian arkeologi yang di beberapa lokasi diketahui melanggar ketentuan dan prosedur yang digariskan dalam  Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2010 .

Pelajaran berharga bagi kita semua

Gencarnya issue tentang Piramida G. Sadahurip ini , yang oleh masyarakat Garut diartikan sebagai adanya bangunan piramida dan/atau kandungan harta karun di perut G. Sadahurip, membuat  aparat Kecamatan Pangatikan dan Desa Sukahurip di Garut menjadi sibuk luar biasa. Selain karena membanjirnya para pengunjung ke puncak G. Sadahurip  sejak sekitar 6 bulan terakhir , yang ketika penulis mendaki gunung ini pada tanggal 8 Januari 2012 jumlahnya mencapai lebih dari 200 orang, beberapa instansi terkait dan Pemkab Garut tentunya tak kalah sibuknya melayani permintaan dan pertanyaan para pejabat di Jakarta tentang issue piramida tersebut.

Wisatawan yg penasaran isu piramida melewati lereng Sadahurip dengan lapisan lava andesitisWisatawan yg penasaran isu piramida melewati lereng Sadahurip dengan lapisan lava andesitis

Hikmah dari semua itu adalah meningkatnya minat masyarakat dan para pelajar untuk mendaki sampai ke puncak G. Sadahurip melalui jalan setapak dan lereng terjal yang tidak ringan. Untuk melayani pengunjung, paling sedikit tiga warung jajanan  telah dibangun mendadak  oleh penduduk setempat di lereng G. Sadahurip. Hal ini memberikan indikasi bahwa masyarakat sangat mendambakan sarana wisata minat khusus yang sebetulnya bisa diciptakan oleh para pemangku kekuasaan kalau mau.

Sehubungan dengan itu, maka walaupun G. Sadahurip bukan bangunan piramida budaya, alangkah baiknya kalau minat masyarakat khususnya para remaja dan pelajar yang dengan semangat pantang menyerah mendaki sampai ke puncak G. Sadahurip dapat dipertahankan. Dengan anggaran yang tidak seberapa dan bahkan melalui kerja gotong royong, jalan ke puncak G. Sadahurip dapat diatur dengan membuat  tangga-tangga sederhana. Pemandangan alam dilihat dari puncak G. Sadahurip sungguh luar biasa antara lain G. Kaledong dan  G. Haruman serta  beberapa gunung lainnya yang bentuk piramidanya  tak kalah indahnya dari G. Sadahurip.

Kerucut Gunung Kaledong dan Gunung Haruman yg merupakan sisa-sisa gunung api purba, juga disangka piramida Segede ituuuKerucut Gunung Kaledong dan Gunung Haruman yg merupakan sisa-sisa gunung api purba, juga disangka piramida Segede ituuu???

Dan kepada Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, pesan moral yang kiranya perlu disampaikan adalah agar tidak terjun terlalu jauh dalam masalah-masalah  yang sebetulnya dapat dilakukan oleh lembaga dan instansi serta institusi pendidikan terkait. Alangkah ironisnya bahwa hilangnya bangunan sangat penting di puncak G.Sadahurip yaitu beton Trianggulasi T 74 yang dibongkar karena dikira mengandung harta karun, lepas dari perhatian, padahal hukuman bagi pencurinya di zaman kolonial Belanda begitu berat.

Bandung, 12 Januari 2012,
Sujatmiko
Pengurus IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) dan Sekjen KRCB (Kelompok Riset Cekungan Bandung)

42 gagasan untuk “Gunung Sadahurip Bukan Bangunan Piramida; Perspektif Ilmu Kebumian

  1. Kontroversi Piramida Sadahurip, Sebuah Tinjauan Astronomi

    by Ma’rufin Sudibyo on Wednesday, February 8, 2012 at 12:46am ·

    Hari-hari belakangan ini kita diharubirukan oleh (klaim) temuan fenomenal di Gunung Sadahurip, salah satu gunung di sisi tenggara bentukan geografis yang dikenal sebagai cekungan Bandung (Jawa Barat). Dipantik oleh klaim tim Turangga Seta dengan pendekatan yang kontroversial, disebut-sebut gunung ini sejatinya merupakan piramida purba dalam ukuran sangat besar. Tim Katastrofik Purba, yang dibentuk oleh Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, menyeret kontroversi lebih jauh setelah melakukan uji pertanggalan karbon radioaktif pada lapisan tanah di permukaan gunung dan mendapati umur sangat tua, hingga 7.000 tahun silam lebih. Penggalian di salah satu bagian menemukan susunan bebatuan, yang kemudian (tanpa analisis lebih lanjut) dinyatakan sebagai bronjong tubuh piramid. Sebagian media massa turut membuat kontroversi membuhul ke titik kulminasinya, mulai dari pengakuan penemuan pintu masuk piramid hingga batu bertulis (prasasti) yang terukir huruf kuno.

    Bagi sebagian kita, khususnya yang terobsesi oleh teori Arsiyo Santos tentang Indonesia sebagai Atlantis yang fenomenal, penemuan piramida Sadahurip dianggap sebagai bukti eksistensi Atlantis di masa silam. Penemuan ini sekaligus diklaim sebagai bukti bahwa asal-usul berbagai peradaban berbagai bangsa yang terserak di muka Bumi adalah Indonesia. Sepetti terlihat dari umur piramida Sadahurip, yang jauh lebih tua ketimbang piramida Mesir. Sehingga dianggap bangsa Mesir, pun demikian bangsa-bangsa pembangun piramid lainnya, merupakan turunan dari penduduk Atlantis yang dulu hidup di Indonesia.

    Pada diagonal yang berlawanan, klaim temuan piramida Sadahurip mendapatkan tantangan kuat dari sejumlah disiplin ilmu, terutama arkeologi dan geologi. Bagi para arkeolog, selain penyelidikan terhadap Gunung Sadahurip yang serampangan, tak sistematis dan tanpa mematuhi metode penelitian lapangan arkeologi yang baku, piramida Sadahurip tidak didukung oleh jejak-jejak pemukiman maupun hasil budaya manusia sezamannya yang terserak disekitarnya. Bagi para geolog, kenyataan lapangan menunjukkan gunung Sadahurip lebih merupakan fosil gunung berapi alias gunung berapi purba, yakni gunung berapi yang tumbuh dan penah aktif berjuta tahun silam namun kini telah mati sepenuhnya dan tererosi hingga nyaris habis.

    Tulisan ini hendak mengupas lebih lanjut kontroversi piramida Sadahurip ditinjau dari sudut pandang astronomi.

    1. Piramida dan Mata Angin

    Piramida merupakan bangun tiga dimensi dengan dasar segitiga, segiempat maupun poligon teratur lainnya dengan sisi-sisi berbentuk segitiga yang bertemu pada satu titik di puncak. Meski demikian piramida dengan dasar segiempat merupakan piramida paling umum dijumpai. Piramida dijumpai dalam berbagai kebudayaan. Misalnya Mesir kuno, yang kerap diidentikkan dengan piramida meskipun piramida terbanyak ternyata dimiliki oleh kebudayaan Sudan/Nubia kuno (220 buah, Mesir hanya 135 buah). Namun bentuk-bentuk piramid dijumpai pula di kebudayaan Mesopotamia (sebagai ziggurat), Yunani, Romawi, Mesoamerika, Amerika Utara dan Cina.
    Gambar 1. Deretan piramida Mesir di Giza, dekat Kaio (Mesir).

    Bentuk-bentuk mirip piramida juga dijumpai dalam kebudayaan India kuno dan Indonesia kuno. Candi Borobudur misalnya, mengesankan sebagai bentuk piramida berundak, meskipun teknik konstruksi Borobudur amat berbeda dibandingkan piramida Mesir. Candi-candi utama di Prambanan memiliki bagian atas yang menyerupai piramida, meski dengan proporsi jauh berbeda. Pun demikian candi Penataran yang berlanggam Jawa Timuran. Satu-satunya candi yang amat mirip piramida adalah candi Sukuh di lereng Gunung Lawu (Jawa Tengah), yang dibangun pada abad ke-15 menjelang runtuhnya Majapahit.

    Tujuan pembangunan piramida atau bangunan mirip piramida di berbagai penjuru dunia itu relatif sama, yakni sebagai pusat peribadahan, pusat religi dalam masing-masing kebudayaan. Cukup mengesankan bahwa bangunan piramida atau yang menyerupai piramida secara astronomis dirancang demikian cermat sehingga orientasinya menghadap ke titik-titik istimewa tertentu di langit. Hal ini tak bisa dilepaskan dari kepercayaan dalam kebudayaan-kebudayaan tersebut, yang menganggap dewa-dewa mereka senantiasa berada di langit mengawasi setiap saat dalam rupa bintik-bintik cahaya yang gemerlap. Selain itu posisi piramida atau bangunan menyerupai piramida selalu menuju keempat penjuru mataangin dengan presisi demikian tinggi.
    Gambar 2. Citra satelit piramida Giza disertai sumbu mataangin pimer.

    Sebelumnya, mari kita ulas terlebih dahulu tentang sistem mataangin. Kita mengenal empat mataangin primer (utara, timur, selatan, barat) dan empat mataangin sekunder (timur laut, tenggara, barat daya, barat laut). Di antara mataangin pimer dan sekunder kadang ditambahkan pula mataangin tersier. Namun dalam astronomi, mata-mataangin tersebut dikuantifikasi ke dalam sistem azimuth yang berjumlah 360. Untuk mataangin primer, utara adalah arah nol (0) atau 360, timur adalah arah 90, selatan adalah arah 180 dan barat adalah arah 270. Karena mataangin sekunder adalah tengah-tengah antara dua mataangin primer yang berdampingan, maka timur laut adalah arah 45, tenggara adalah arah 135, barat daya adalah arah 225 dan barat laut adalah arah 315.
    Gambar 3. Penampang melintang sebuah piramida Mesir.

    Mari lihat piramida Mesir, misalnya yang terpopuler di dataran Giza. Sisi-sisi tiap piramida di Giza ternyata tepat menghadap ke sumbu utara-selatan timur-barat dengan presisi demikian tinggi. Presisi tersebut bukannya tanpa sebab. Dengan posisi tepat ke sumbu utara-selatan, maka sisi utara piramida Giza akan selalu berhadapan dengan bintang Thuban atau alpha Draconis (tingkat terang +3,7), bintang penanda kutub utara langit pada 4.500 tahun silam. Sebagai bintang kutub, posisi bintang Thuban selalu berada di titik yang sama tanpa pernah beringsut sepanjang waktu. Kekhasan posisi bintang Thuban rupanya sejalan dengan konsep keabadian dalam Mesir kuno, sehingga sebuah lorong kecil dibangun dari ruang Firaun (di dalam piramid) menuju sisi utara, yang memungkinkan cahaya bintang Thuban tepat menyinari kepala jasad Firaun. Demikian pula bintang terang terdekat dengan Thuban, yakni bintang Kochab atau beta Ursa Minor (tingkat terang +2). Bintang ini pun selalu nampak di langit utara sepanjang waktu, yang seakan-akan berputar mengelilingi bintang Thuban. Gerak berputar ini memberi kesan kalau bintang Kochab adalah pasangan setia bintang Thuban. Sehingga sebuah lorong pun dibangun untuk memungkinkan cahaya bintang Kochab menyinari ruang Permaisuri, yang diletakkan tepat di bawah ruang Firaun, khususnya saat bintang itu berkulminasi atas.

    Bangsa Mesir kuno amat terpesona dengan rasi bintang Waluku atau Orion, yang dianggap sebagai perwujudan dari Osiris dalam mitologi Mesir kuno. Nyawa dari Firaun yang sudah tiada diyakini akan bergabung dengan Osiris. Sehingga sebuah lorong pun dibangun dari ruang Firaun menembus sisi selatan, yang memungkinkan cahaya rasi Waluku (khususnya tiga bintang di sabuk Waluku) menyinari jasad sang Firaun, khususnya saat rasi Waluku berkulminasi atas. Atas alasan yang sama pula, sebuah lorong pun dibangun agar cahaya bintang Sirius, bintang paling terang di langit, bisa menyinari ruang Permaisuri. Bintang Sirius dianggap sebagai perwujudan dari Isis dalam mitologi Mesir kuno.
    Gambar 4. Citra satelit candi Borobudur disertai sumbu mataangin pimer.

    Gambar 2. Citra satelit candi Prambanan disertai sumbu mataangin pimer.

    Fakta yang hampir sama pun dijumpai pada bangunan menyerupai piramida. Candi Borobudur misalnya, juga menghadap ke mataangin utama dengan presisi mengagumkan. Pun demikian halnya candi-candi utama dalam kompleks percandian Prambanan. Selain terkait dengan konsep kosmologi dan mitologi Buddha (untuk Borobudur) dan Hindu (untuk Prambanan), presisinya bangunan candi terhadap arah mataangin utama berguna bagi kepentingan praktis. Selain sebagai bangunan religius, candi Borobudur juga berfungsi sebagai petunjuk posisi Matahari, yang dikaitkan dengan siklus musim. Hal serupa kemungkinan juga berlaku bagi Candi Prambanan. Sehingga, dalam perspektif astronomi, piramida ataupun bangunan menyerupai piramida merupakan observatorium kuno tempat kaum cendekia (khususnya pendeta) mengamati langit.

    2. Piramida Sadahurip

    Bagaimana dengan piramida Sadahurip ?

    Gunung Sadahurip terletak di sebelah utara gunung Telaga Bodas dan gunung Galunggung. Galunggung merupakan gunung berapi aktif, terakhir meletus pada 1982-1983 dan tercatat sebagai letusan terbesar di Indonesia dalam 30 tahun terakhir. Sayangnya, citra Google Earth dalam cahaya visual untuk kawasan Gunung Sadahurip ditutupi oleh awan relatif tebal, sehingga gunung yang diklaim sebagai piramida ini tidak nampak. Namun beruntung terdapat citra kontur elevasi yang mampu memperlihatkan bentuk gunung Sadahurip dengan jelas.
    Gambar 6. Citra kontur Google Map untuk kawasan gunung Telagabodas – Galunggung dans ekitarnya. Gunung Sadahurip dinyatakan dalam tanda panah.

    Kita batasi gunung Sadahurip pada kontur elevasi 1.320 m dpl ke atas hingga puncaknya, mengingat dari kontur tersebut sifatnya tertutup. Nampak jelas bahwa gunung Sadahurip memiliki dasar berupa segilima tak simetris sehingga sis-sisinya pun tak sama luasnya. Dasar berbentuk segilima ini amat berbeda dengan piramida Mesir, yang segiempat. Pun demikian dasar berupa segilima tak simetris ini pun mengherankan, karena meski piramida dapat saja memiliki dasar berbentuk segilima (meski tak ada contohnya) namun seharusnya berbentuk simetris.

    Akibat ketidaksimetrisan dasarnya, maka arah hadap sisi-sisi gunung Sadahurip pun tidak simetris. Di awali dari utara, masing-masing sisi menghadap ke arah 68, arah 143, arah 220, arah 284 dan arah 344. Tak satupun yang berimpit dengan sumbu mataangin utama (utara-selatan timur-barat) atau sumbu mataangin sekunder. Dengan demikian selisih sudut antar sumbu tiap sisi bervariasi dari yang terkecil 60 derajat hingga yang terbesar 77 derajat. Bila dasarnya simetris, seharusnya selisih tersebut seragam pada nilai 72 derajat (yakni 360 dibagi 5).
    Gambar 6. Citra kontur Google Map gunung Sadahurip, dilengkapi sumbu mataangin utama dan arah sisi-sisi gunung.

    Benda langit apa yang dihadapi masing-masing sisi gunung Sadahurip, dengan posisi arah hadap demikian, menjadi tak jelas. Jika dibandingkan dengan candi Borobudur, tidak terlihat fungsi sisi-sisi gunung Sadahurip sebagai petunjuk posisi Matahari terkait siklus musim. Sisi yang menghadap ke arah 68 memang hampir sejajar dengan posisi Matahari terbit saat paling utara (summer solstice). Namun terbenamnya Matahari pada titik itu, yakni pada arah 294, ternyata berselisih besar dengan arah hadap 284. Demikian pula terbit dan terbenamnya Matahari pada saat paling selatan (winter solstice), masing-masing di arah 114 dan 245, ternyata tak berhadapan dengan satu sisi gunung Sadahurip sekalipun. Hal serupa juga terlihat pada saat Matahari berada di titik ekuinoks, sehingga terbit tepat di timur dan terbenam tepat di barat. Ternyata tak ada satupun sisi gunung Sadahurip yang menghadap ke timur (arah 90) maupun barat (arah 270).

    Dengan gunung Sadahurip diklaim sebagai piramida dan manusia yang membangunnya diklaim hidup lebih awal dibanding bangsa Mesir Kuno maupun bangsa Jawa kuno, bahkan diklaim pula sebagai bangsa Atlantis nan cerdas yang menjadi leluhur bangsa-bangsa berperadaban tinggi lainnya di muka Bumi, maka dua fakta berbeda itu mengerucut pada dua kesimpulan. Pertama, para pembangun piramida Sadahurip tak paham geometri. Sehingga tak bisa merancang dasar piramida yang simetris. Ini bertolak-belakang dengan bangsa Mesir kuno dan Jawa kuno yang telah mengenal dan menerapkan geometri dalam pembangunan piramida dan candinya. Dan yang kedua, para pembangun piramida Sadahurip tak paham astronomi. Sehingga piramidanya tak bisa menjadi penanda peristiwa-peristiwa langit yang penting bagi kebudayaan bangsa-bangsa kuno.

    Di atas semua itu, dapat ditarik satu kesimpulan yang lebih sederhana dan lebih solutif. Yakni, gunung Sadahurip bukanlah piramida dan juga bukan bangunan menyerupai piramida.

    http://www.facebook.com/notes/marufin-sudibyo/kontroversi-piramida-sadahurip-sebuah-tinjauan-astronomi/10150654439104595

      • maaf repost : agar om perdana bisa fair, sharusnya beliau mempublikasikan analisisnya…lbh lgkpnya bca ini aja


        @om perdana: mereka iagi dan KD tlh menyampaikan teorinya berdasarkn dr penelitian msg2, trussss mana donk analisisnya??? ditinjau dari ‘pemahaman agama’ mnrt ente dan golongan ente(wahabi). klo perlu gelontorkan dalil2nya. jgn hnya skdr copas hsl penelitian org lain. kami tunggu artikelnya!!! :D :D

  2. 5 Alasan Mengapa Piramida di Garut Hanya Isapan Jempol
    Indra Subagja – detikNews
    Senin, 06/02/2012 16:22 WIB
    Jakarta – Kabar kemungkinan adanya piramida di Gunung Sadahurip, Garut, ditepis geolog Sujatmiko. Dia meyakini keberadaan piramida hanya isapan jempol. Sujatmiko sudah melakukan penelitian di Sadahurip dan hasilnya, tidak ada piramida.

    “Barat, timur, selatan, utara diteliti jenis batuan di Sadahurip itu, kajian geologi batuan beku. Artinya bahwa itu suatu gunung yang solid. Jadi hipotesis ditemukan piramida di dalam gunung impossible,” jelas Sujatmiko yang juga menjabat sebagai Sekjen Kelompok Riset Cekungan Bandung dan anggota IAGI, Senin (6/2/2012).

    Sujatmiko membeberkan setidaknya ada 5 alasan yang membuat piramida di Garut hanyalah isapan jempol. Berikut alasannya:

    1. Susunan Gunung Sadahurip dari bawah sampai puncak tipe batuan solid, jadi sangat sulit dikatakan ada piramida di dalam gunung itu.

    2. Untuk membangun suatu piramida seperti Giza, dibutuhkan 200 ribu orang dalam waktu 20 tahun, dengan membawa blok-blok batu sebanyak 2,3 juta ton. Untuk Sadahurip itu impossible, bila bebatuan Sadahurip 6-7 ribu tahun sesuai uji karbon, saat itu Indonesia masih zaman menggunakan alat batu.

    3. Setiap proyek raksasa yang dikerjakan meninggalkan jejak artefaktual atau sisa-sisa pengerjaan, di Sadahurip tidak ada jejak itu. Ada bekas bebatuan yang katanya mirip tulisan Mesir kuno, namun setelah diteliti itu silica yang terkena pelapukan.

    4. Bebatuan besar yang ada di Sadahurip, yang katanya diangkut dari Gunung Rahong untuk pembuatan piramida bisa dipatahkan. Semua bisa dijelaskan dengan proses geologi. Bebatuan itu ada karena lava yang mengalir dan masuk ke gunung. Sadahurip merupakan gunung purba.

    5. Pintu masuk ke piramida yang disebutkan ternyata hanya goa biasa. Dalamnya hanya beberapa meter dan tidak ditemukan indikasi adanya bebatuan yang dipahat manusia.

    “Sebagai ahli geologi soal Sadahurip itu memang penuh kontroversi. Tetapi kita harus sampaikan apa adanya,” jelas Sujatmiko.

    Rencananya Selasa (7/2) besok, Staf Khusus bidang Penanggulangan Bencana akan menggelar diskusi terkait Gunung Sadahurip dan Gunung Padang yang ada di Cianjur. Diskusi itu bertema ‘Menguak Tabir Peradaban dan Bencana Katastropik Purba di Nusantara untuk Memperkuat Karakter dan Ketahanan Nasional’. Rencananya, kegiatan itu akan ditayangkan di seluruh dunia.

    (ndr/nvt)

  3. Bangsa ini emang demennya ama cerita2 beginian, yg pasti ilogical, dan mau gampangnya saja. Dulu juga orang pernah ributin dana revolusi peninggalan Soekarno yg ada di bank swiss. Malu dong,….. Ama bangsa lain yg udah bisa bikin ipad, android, dll. Kerja keras dan semangat kalau mau nemuin emas, jangan cari di gunung kayak gitu. Wah…..

    • trims bung Lukman atas linknya, kita lihat saja nanti jika ternyata tidak ada sama sekali Piramida Garut/gunung padang maka akan hancurlah kredibilitas KD yang sangat yakin ada piramida di gunung sadahurip juga gunung padang, dan ternyata ilmu time travelnya hanya bayangan semu palsu saja, tapi saya yakin dia akan ngeles:” ADA ALIEN BANGSA BROPHA YANG TELAH MENGGAGALKAN PENEMUAN PIRAMIDA DI INDONESIA” dan saya kesulitan untuk mengatasinya”

  4. Piramida akan ditemukan kalau datang ke gunung tersebut lalu digali, kalau cuman nyari di google yang ditemukan ya cuman katanya-katanya…

    • pahami dulu pengerian referensi KANG, jangan dikira info mbah google tidak falid, untuk membedakan “katanya” dengan fakta perlu pengujian autotentitasnya.sehingga nanti bisa membedakan diambil adalah referensi opini, ataukah suatu topik ilmiah? Jika topik ilmiah, dapatkah sumber-sumbernya ditelusuri kembali (lacak balik)? Ataukah ataukah sumber-sumber ilmiah lain (buku ajar, kepustakaan, jurnal, dan sebagainya) yang memberikan bahasan serupa? jika kita tidak punya kemampuan untuk meneliti maka perlu rujukan para ahli dan rujukan ilmiah sebagaimana rujukan hadits…

  5. Penemuan2 arkeologi di indonesia itu, kata Andi Arief di acara tvone, kebanyakan hasil penemuan secara kebetulan, seperti seseorang menggali tanah atau memacul kebunnya dan yang pernah saya saksikan di tv, yang menemukan situs sebelumnya mendapatkan ‘wangsit’, nah gimana tuh?… Akhirnya kan ditindaklanjuti oleh para ahli arkeolog, sementara itu situs apa yang ditemukan secara langsung oleh ahli2 arkeologi kita tersebut ya?

  6. ” trims bung Lukman atas linknya, kita lihat saja nanti jika ternyata tidak ada sama sekali Piramida Garut/gunung padang maka akan hancurlah kredibilitas KD yang sangat yakin ada piramida di gunung sadahurip juga gunung padang, dan ternyata ilmu time travelnya hanya bayangan semu palsu saja, tapi saya yakin dia akan ngeles:” ADA ALIEN BANGSA BROPHA YANG TELAH MENGGAGALKAN PENEMUAN PIRAMIDA DI INDONESIA” dan saya kesulitan untuk mengatasinya” …..” wkwkwkwk..,PA keliatan puas bgt kalo kredibilitas KD hancur….dan keliatan sangat2 mengharapkan…,apakah itu sikap seorang Ustadz…??

  7. drpda trs berpolemik apalgi sampe menuduh pemberi informasi ( KD ) sesat..,knapa tdk ditunggu saja hasil pengeboran yg akan dilakukan bulan maret..,atau kl ga sabar ya lakukan aja penelitian sendiri atau pembuktian sendiri drpd mengutip2 perkataan2 yg katanya para ahli atau profesor yg blm tentu jg bnr sekalipun mereka profesor atau katanya ahli.kl menurut hasil penelitian/pembuktian anda sendiri trnyata tdk bnr ( mnrt anda sendiri ) ya udh hasrat ingin tahu anda udh tersalurkan dan pengetahuan anda semakin kaya..dan KD akan menanggung dosa & resikonya…TAPI KALO TERNYATA TERBUKTI benar entah itu saat ini atau dikemudian hari padahal anda udah menebar fitnah & menuduh KD sesat .., apa yg akan anda lakukan..,ber-jiwa besarkah PA meminta maaf kpd KD..???

    • Dari thread @susuhunan, saya bisa ambil kesimpulan bahwa pyramid Garut tidak ada. Bahkan tidak ada di Asia Tenggara. Mengapa demikian? Sebab, tidak ada teknologi Asia Tenggara yang memungkinkan pembuatan Piramid mulai dari jaman es, paleolitikum, megalitikum, trus sampai jaman Sriwijaya maupun sampai Majapahit hingga sekarang Indonesia. Lha wong jaman masuknya besi di Nusantara juga belum lama. Tambahan pula struktur masyarakat kita nggak kenal perbudakan macam yang ada di Mesir kuno. Bayangkan, berapa ribu budak mati untuk membuat satu Piramida di Mesir

  8. Antara yang pro bahwa Sadahurip adalah piramida dan yang pro gunung api mereka memiliki fakta-fakta sendiri yang bisa diinterpretasikan masing-masing. Namun penelitian Geolistrik yang dilakukan pro piramida dapat menjawab dua hal piramida atau vulkanik semua belum selesai. Ada beberapa fakta Sadahurip:

    Pertama, Sadahurip merupakan bukit setinggi 1493 mdpl.

    Kedua, ia berbentuk piramida.

    Ketiga, beberapa batuan yang tersingkap didindingnya atau yang bertebaran di sekitarnya menunjukan disusun oleh batuan andesit.

    Keempat, secara geologi regional Sadahurip merupakan jalur dominan gunung api di Jawa Barat.

    Kelima, tidak dilaporkan keberadaan kawah di puncak atau dindingnya.

    Fakta-fakta tersebut merupakan faktor penyulit untuk segera ditafsirkan Sadahurip piramida atau gunung berapi tidak bisa diselesaikan dengan cepat. Pembelajaran yang paling berharga dari materi yang diberikan dari Pak Awang adalah:

    “Kebenaran yang telah menjadi mutlak dan menutup semua pintu terhadap kemungkinan lain adalah sebuah dogma. Sains berkembang tidak melalui dogma, sebab ketika dogma mengemuka selesailah sains. Sains berkembang melalui jalan perdebatan. Dari sejarah sains kita melihat bahwa apa yang telah dianggap benar dan telah menjadi teori, ternyata dapat gugur di kemudian hari sekalipun perubahan itu memakan waktu cukup lama puluhan bahkan ratusan tahun. Biarlah perdebatan berjalan fakta tak dapat merubah apa pun yang dipikirkan orang, metode penelitian bisa membantu tetapi bisa juga mengelabui. Marilah kita berpikir bebas tanpa terbelenggu dogma”.

    (penggalan kutipan materi filosofi ilmu dari Awang H Satyana).

    Ditulis Oleh Komunitas Geotrek Indonesia.

    Harap semua orang berpikiran terbuka, jangan tendensius. Manusia diberi akal oleh Tuhan agar berpikir dan bebas melakukan apa saja, hingga rahasia masa depan terungkap. Maka untuk menyimpulkan sesuatu, tunggulah atau carilah sendiri fakta atau bukti empiris.

    Talk Less do More…

    Terima kasih…..Salam Kedamaian….

  9. just wait and see…
    semua peluang masih fifty2…
    semua didukung bukti…
    tinggal bukti dari penggalian aja…
    toh, candi2 yang ada skrg juga berasal dari ketidaksengajaan…
    pendapat saya pribadi: hanya bangunan megalitik…
    but, WHO KNOWS????

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s