GUNUNG PADANG BUKAN PIRAMIDA !

Situs megalitikum di Gunung Padang, Cianjur

Artikel ini adalah penyeimbang dari banyaknya kesimpulan sepihak yang dilakukan oleh Andi Arif, staf khusus bidang bencana, bukannya mengurus korban bencana, tapi sibuk buang anggaran negara karena bisikan paranormal Kang Dicky (Guru Utama Hikmatul Iman) adanya piramid di gunung Padang.

Berikut ini artikel pembandingnya :

(PASUNDAN RADIO-CIANJUR) Rembug Arkeologi Situs Gunung Padang oleh sejumlah arkeolog, geolog dan astronom, memastikan jika Situs Gunung Padang yang berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur bukan Piramida. Meski demikian, situs ini tetap punya potensi untuk dikembangkan menjadi daerah wisata.

“Gunung Padang merupakan sumbat lava di dalam kawah Gunung Api Purba, dan kemungkinan besar bukan Piramuda,” kata Geolog Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sutikno pada Rembug Arkeologi Situs Gunung Padang yang diadakan pada Kamis (29/3) di Pusat Arkeologi Nasional, Pejaten, Jakarta Selatan.

Menurut Sutikno, sumbat lava adalah bagian atas leher gunung api yang menyembul ke permukaan. Nah, sumbat lava itu hancur berserakan karena proses tektonik dan longsor.

“Masyarakat setempat pada masa lalu kemudian memanfaatkannya untuk membangun punden berundak untuk pemujaan,” terangnya.

Maka seiring waktu, punden berundak tersebut ditinggalkan, diduga karena gempa atau tanah longsor. Maka pada saat ini dijumpai sisa-sisa dari struktur punden berundak tersebut.

Namun, pendapat Sutikno bertentangan dengan hasil penelitian Tim Katastrofik Purba yang mengatakan bahwa struktrur yang didapatkan di Gunung Padang adalah buatan manusia. Tim Katastrofik Purba, sebelumnya lewat pengeboran sedalam 20 meter, menemukan tiga rongga di badan gunung. Tim juga menemukan lapisan pasir. Selain itu, tim pun mengklaim bahwa situs megalitikum Gunung Padang bukan situs biasa. Situs tersebut lebih tua dari Piramida Giza atau dibangun sekitar tahun 4700 SM.

Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cianjur Imam Haris menyebutkan, terlepas dari berbagai spekulasi soal sejarah adanya situs Gunung Padang.

Himam mengatakan Pihaknya terus melakukan perencanaan pengembangan wisata lebih luas atas situs tersebut dan pihaknya tengah mempersiapkan pembebasan tanah sekitar 20 hektar, dengan total keseluruhan seluas 50 hektar.

Adapun wisata yang dikembangkan, selain geologi, juga kebun teh yang rencananya dilakukan bersama produsen Teh Sosro. Ada pula curug yang terletak di dekat Gunung Padang dan rencananya akan mengembangkan wisata perjalanan dengan kereta api. Pengunjung bisa menikmati pengalaman naik kereta api uap dari Cianjur,” ungkapnya.(Ilah Sukaesih)

Proyek Piramida Gunung Padang, Sebuah Politik Kebudayaan yang tidak Berbudaya

SON. Proyek pencarian piramida di gunung padang adalah cara keliru untuk memenuhi dahaga bangsa ini terhadap kebangaan. Proyek tersebut, Selain membuang dana dan tenaga juga ironis. Sebab, disebut gerakan masyarakat sipil padahal disponsori lstana.

Demikian disampaikan oleh pengamat politik Universitas Indonesia, Donny Gahral Ardian kepada SOROTnews Online, Senin (28/5).

“Lebih baik perbaiki prestasi olahraga di pentas global ketimbang mengutak-atik sejarah demi sebuah romantisme tentang kepurbaan yang adiluhung,”terangnya.

Lebih jauh, Donny mengatakan bahwa sikap yang dipertontonkan terkait dengan gunung Padang ini sebuah sikap yang dinilai bertentangan.”Ini sebuah politik kebudayaan yang tidak berbudaya,”ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam menguak keberadaan piramida yang berada di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat akan segera terkuak. Pasalnya Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) telah membentuk tim yang dinamakan Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang.

Andi Arief menjadi salah seorang anggota Dewan Pengarah bersama Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Soemantri (Rektor UI), Dr. Hasan Jafar (Guru Besar UI), Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak (ahli paleolitik), Prof. Dr. Nina Herlina Lubis, M.S. (sejarawan), Prof. Dr. Zaidan Nawawi, M.Si. (Ketua Forum Guru Besar), Dr. Soeroso, M.P., M.Hum. (arkeolog senior), dan Acil Darmawan Hardjakusumah (budayawan).

Tim ini diharapkan bisa menjadi model untuk penelitian penting lainnya, dimana prakarsa masyarakat dan bentuk koordinasi yang difasilitasi negara bisa lebih dikembangkan.(njp)

Arkeolog: Silakan Digali, Tak Akan Ada Makam di ‘Piramid’ Gunung Padang

Jakarta Situs megalitik Gunung Padang menjadi kontroversi sejak mencuat kabar adanya piramid yang berada di lapisan bawah punden berundak berteras 5 di Gunung Padang. Namun, seorang arkeolog sekaligus ahli Efigrafi membantah bila di bawah lapisan tanah Gunung Padang terdapat piramid laiknya sebuah makam Firaun di peradaban Mesir Kuno.

“Silakan digali, tidak ada itu namanya piramid seperti di Mesir,” kata Arkeolog Dr. Hasan Djafar, saat berkunjung ke Situs Megalitik Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jabar, Selasa (22/5).

Hasan yang pernah mengajar di Universitas Indonesia (UI) ini juga pernah melakukan penelitian di sejumlah situs kepurbakalaan.

Baginya, walau dirinya belum pernah meneliti secara langsung situs tersebut. Informasi mengenai keberadaan situs yang pertama kali ditemukan NJ Krom, WN Belanda, tahun 1914 itu didapatkan dari pertukaran informasi antar arkeolog Indonesia.

Hasan sendiri pernah menggeluti temuan situs komplek candi Budha di Karawang yang ternyata dibangun 200 tahun terlebih dulu daripada Candi Borobudur, yaitu abad ke 600 SM.

Menurut Hasan, peradaban purbakala di nusantara tidak semaju di Mesir saat piramida berdiri tegak dan telah mengenal teks sebagai medium komunikasi.

“Kalaupun ada piramid, bukan artinya piramid budaya mesir yang mengenal teks. Ini (situs Gunung Padang) adalah punden berundak yang dibangun tinggi, tidak ada ruang kosong atau makam seperti di Mesir,” katanya.

Punden berundak jaman megalitik sengaja dibangun tinggi oleh kehidupan purbakala. Karena saat itu peradaban mengenal konsep reliji menyembah alam yang diyakini memiliki kekuatan bernyawa, seperti angin, matahari, gunung, dan lautan.

“Lantas, mengapa harus tinggi?” Tanya detikcom sambil menikmati panorama hamparan pegununhan di utara puncak Gunung Padang.

“Karena mereka menganggap dewa-dewa berada di tempat tinggi,” katanya.

Senada dengan muridnya, Ali Akbar, Hasan tidak menampik bila konsep reliji masyarakat dahulu, khususnya yang hidup di zaman pra sejarah, menggunakan Gunung Padang sebagai medium untuk memuja Gunung Gede.

“Bisa dilihat dari arah beberapa ruangan yang ada dan artefak yang bersisa seperti kursi batu yang menghadap ke Gunung Gede, atau pendaringan (peristirahatan) yang menghadap posisi sama,” ujar Doktor yang saat ini mengabdi di Universitas Indraprasta untuk program studi Pendidikan Sejarah.

(ahy/ndr)

72 gagasan untuk “GUNUNG PADANG BUKAN PIRAMIDA !

  1. Sejarah bakal terulang Istana terus kena tipu dari masa ke masa sesudah kejadian Situs Batu Tulis, Blue Energy, Super Toy, bakal ada Gunung Padang. Kalau mau korek lebih lama ada Raja Idrus dan ratu Markonah, Cut Zahara Fonna, semua tukang tipu yg hebatnya yg ditipu politikus yg biasa tipu – tipu. Hahahah

    • cici piramida itu bukan pyramid.. ingat! :)

      sy kok lebih condong bahwa andi pyramidlah yg “memanfaatkan” implengannya KD.. kalo dia serius meneliti.. terjunkan semua ahli arkeolog.. kenapa malu2 :).. bersiaplah kalian ditinggalkan begitu saja..

      #hadeuh hari gini percaya ama orang2 yg suka bermanuver..

      • @KD dan temen2 HI..

        jika kalian bisa “mengimpleng” pikiran oknum yg memanfaat kalian… cobalah ilmu kalian itu..

        maaf sy tidak bermaksud apa2.. cobalah analisa.. “nama” siapa yg nantinya akan dirugikan kelak..

        #kalo pro kontra td/tm itu udah biasa.. tapi masalah pyramid ini. sudah byk pihak (ahli terkait) yg membahasannya..

  2. Sekedar opini saja… Pro kontra terhadao informasi selalu ada.. Jika informasi tsb datang dari orang2 yg juga ahli dibidangnya ( apalagi para profesor) jangan langsung di pukul rata bahwa informan penting dalam proyek penggalian sejarah ini hanya (huruf besar) KD semata nanti bisa2 aoapun proyek sejarah yg dilakukan pemerintah dan dibantu KD pasti (huruf besar) ditolak. Jadi objektif lah :)

  3. Hasil “implengan” saya sih, banyak “tempat” yang bisa dibuat untuk menghamburkan duit rakyat … hadooooh ngimpleng tu makanan apa ya …

    • Di atas Gunung Padang, pipa itu lurus melesak masuk ke tanah. Lengking suara mesin bor bercampur desau angin melantun di perbukitan Cianjur, Jawa Barat, pada Jumat pekan lalu. Seorang lelaki tambun menyimak gerak pipa-pipa itu menembus tanah. Dia berkaca mata. Rambut peraknya berkibar di tiup angin.

      Di ketinggian 900 meter itu, hujan baru saja reda. Pipa berdiameter 12,5 sentimeter itu baru diangkat.

      Lelaki itu adalah Andang Bachtiar. Dia doktor geologi. Andang mengambil batu, dan material lain tersangkut di selongsong pipa. Benda-benda purba itu seperti siap menjawab teka-teki di perut Gunung Padang.

      Hampir setahun lebih, atau sejak Andang dan kawan-kawannya terlibat di Tim Peneliti Katastrofi Purba, ada pertanyaan besar menggelayut: adakah peradaban tinggi tersembunyi di perut gunung itu?

      Ini hari kesembilan mereka menembus tanah Gunung Padang. Andang memperhatikan hasil pengeboran. Di lehernya melingkar loupe, alat bantu melihat kandungan batuan. Dengan loupe, dia memperhatikan batu dan material berasal dari kedalaman 27 meter.

      “Kami pernah menemukan pasir halus,” ujar Andang.

      Pasir itu menurutnya bukan hasil bentukan alam. Sortirannya halus, dengan ukuran sama. “Seperti diayak,” ujarnya menambahkan. Artinya, pasir itu adalah hasil kerja manusia. Lalu, apa guna pasir di perut gunung itu?

      Inilah yang mau dijawab. Gunung Padang adalah salah satu gunung diincar oleh tim itu. Gunung lainnya adalah Gunung Sadahurip, atau Gunung Putri di Garut, Jawa Barat. Sadahurip bentuknya sangat simetris, nyaris seperti piramida. Uniknya, hasil riset geolistrik di Gunung Sadahurip di Garut, Jawa Barat, menunjukkan struktur serupa dengan Gunung Padang. Ada lapisan batuan yang bukan buatan alam.

      Seorang peneliti, Dr Danny Hilman, mengatakan hasil geolistrik dan georadar itu yang membuat mereka tertegun. “Dari hasil foto, dan juga georadar, lapisan batuan itu penuh anomali,” ujar Danny, yang ikut di lokasi pengeboran bersama Andang.

      Itu sebabnya, untuk membuktikan hasil geolistrik dan georadar itu, dilakukan pengeboran di kedua gunung. Sampel pun diambil.

      Sebagai awal, Gunung Padang menjadi proritas. Di gunung ini ada punden berundak, situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Dari hasil pengeboran, sejumlah sampel tanah dan materi lain kemudian disodet, dan dimasukkan ke plastik bening, untuk penelitian carbon dating.

      Hasilnya mencengangkan. Batuan di dalam gunung itu bukan batuan biasa. “Itu man-made, buatan manusia,” ujar Hilman. Hasil pengujian carbon dating, menyatakan kemungkinan batuan di sana berusia 4.700 tahun Sebelum Masehi.

      Danny yakin batuan itu bukan karena alam. “Bahkan sampai di kedalaman 25 meter, ini man-made (buatan manusia),” ujar Danny.

      Tak hanya itu. Susunan bangunan batu di dalam gunung itu, kata Danny, diduga sudah mengenal teknologi perekat dalam konstruksi bangunan. “Ini semacam semen purba,” ujar Danny, memperlihatkan sebuah lapisan terletak di antara susunan batu.

      Andang juga menambahkan tentang pasir yang dia temukan itu. “Bisa jadi pasir ini adalah teknologi tahan gempa. Mungkin ada bekas yang masih bisa dipelajari,” ujarnya.

      Menurut Danny, di Gunung Padang, sudah hampir dua per tiga bagian gunung itu diambil sampelnya. Hasilnya persis seperti uji geolistrik dan georadar yang dilakukan sebelumnya. Ada semacam struktur bangunan di dalam gunung itu. “Dengan dua per tiga bukit ini buatan manusia, berarti teknologi konstruksi nenek moyang sudah luar biasa,” ujar Danny.

      Bukan berburu piramida

      Situs Gunung Padang bukanlah temuan arkeologi baru. Peneliti Belanda N.J Krom pernah menulis soal punden berundak ini pada 1914. Selanjutnya, R.P. Soejono menjadi peneliti Indonesia pertama meneliti situs ini pada 1982.

      Gunung Padang baru menarik perhatian media setelah diteliti oleh Tim Bencana Katastrofi Purba, yang difasilitasi Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief. Ada pun Danny Hilman dan Andang Bachtiar adalah anggota tim ini.

      Tim peneliti ini mulai disorot saat meneliti Gunung Sadahurip di Garut, Jawa Barat, yang diduga sebagian kalangan mengandung bangunan piramida di bawahnya.

      Awalnya, soal dugaan piramida di Sadahurip itu pernah diungkap Yayasan Turangga Seta. Itu adalah lembaga yang peduli kegemilangan sejarah nenek moyang di masa lalu. Selain Sadahurip, Turangga Seta juga menyebut adanya piramida di Gunung Lalakon, Soreang, Bandung, Jawa Barat. (Baca juga SOROT 124 Berburu Piramida Nusantara).

      Keraguan pun muncul. Apalagi, Turangga Seta dianggap memadukan unsur mistis dalam pencarian piramida, dengan istilah keren yang mereka pakai: parallel existence.

      Bantahan tajam diungkap oleh ahli geologi, Sujatmiko. Di Bandung, dia mengatakan bentuk piramida dari Gunung Sadahurip adalah hasil alamiah. Sadahurip, kata Sujatmiko, adalah gunung jenis cumulo dome yang terbentuk dari aliran lava, batuan intrusif, dan piroklastik. Pro dan kontra pun kian ramai.

      Danny Hilman tentu saja tersengat. Meskipun tak pernah mengatakan ada piramida secara eksplisit di Sadahurip, tapi Tim Katastrofi Purba memang pernah meneliti di gunung itu.

      Tapi Danny mengatakan tujuan tim bukanlah mencari piramida. Mereka meneliti siklus bencana, yang terjadi di nusantara sejak masa lalu. Dalam penelitian itu, tim juga menelisik jejak peradaban lama yang musnah akibat bencana. Itu penting, kata Danny, agar pola mitigasi bencana dipahami. “Tim ini terbentuk, bukan dibentuk. Kami juga hanya difasilitasi dalam melakukan penelitian ini,” ujar Danny Hilman.

      Itu sebabnya, mereka menelisik dari Banda Aceh di ujung Sumatera, Batujaya di Karawang, dan Trowulan di Jawa Timur. Temuan sejumlah penelitian itu membuat para peneliti itu percaya ada peradaban tinggi di Indonesia di masa lalu. “Raflles pernah bilang, kerajaan di Sumatera dan Jawa lebih mundur dari pendahulunya,” ujar Danny, mengutip Sir Thomas Raffles (1781-1826), Gubernur Hindia Belanda di abad ke-19.

      Lalu mengapa memilih Gunung Padang?

      Gunung Padang, kata Danny, adalah ‘kompleks bangunan’ besar terletak di dekat patahan Cimandiri, sebuah patahan aktif. Sebagai bekas peradaban megalitikum, mereka ingin melihat adakah bencana purba menghancurkan peradaban di gunung itu. Pengeboran di Gunung Padang dilakukan setelah hasil survei geolistrik, geomagnet, dan georadar. Hasilnya: ada tanda-tanda tak alamiah di bawah permukaan Gunung Padang.

      “Mungkin selama ini arkeolog meneliti berdasarkan ‘what you see is what you get’. Tapi di geologi berbeda. Kami harus melakukan pengeboran agar mendapatkan apa yang tak terlihat di permukaan,” kata Danny Hilman.

      Andang Bachtiar mengatakan tak begitu peduli anggapan orang yang menyebut timnya mencari piramida. “Masih terlalu dini juga menyebut piramida,” ujarnya, sambil terus mengamati materi terkandung dari hasil pengeboran.

      Andang berharap penelitian lanjutan akan terus dilakukan di Gunung Padang. “Ini memang dari dana kami sendiri, karena itu hasilnya masih terbatas. Alat yang digunakan pun masih pinjaman, karena itu hanya bisa mengebor sampai kedalaman sekitar 25 meter,” tutur peraih gelar Master of Science dari Geology Department, Colorado School of Mines di Amerika Serikat pada 1991 ini.

      Struktur piramida?

      Untuk menjernihkan pelbagai tudingan, Danny Hilman dan Andang Bachtiar mengungkap hasil penelitian Tim itu pada acara diskusi di Gedung Krida Bhakti, Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa, 7 Februari 2012. Di acara ini, keduanya memaparkan tujuan, metode, dan hasil penelitian awal mereka .

      Dikatakan, hasil survei georadar, geolistrik dan geomagnet di Gunung Padang diketahui adanya struktur bangunan besar dan masif. Ini juga terbukti dengan pengeboran geologi. “Kami menemukan struktur batuan hingga kedalaman 20 meter. Ada seperti sesuatu yang dipangkas,” kata Danny Hilman.

      Andang Bachtiar mengatakan hal serupa, “Ini constructed. Dari kedalaman 18 meter ke atas, ini merupakan bangunan. Jadi bukan sesuatu yang natural.” Di acara diskusi ini, tim kemudian menyorot teknologi konstruksi bangunan.

      Sebelumnya, ada dugaan batu itu terbentuk secara alami dari proses vulkanik, yaitu columnar joint basalt. Tapi menurut Andang, dugaan itu gugur. Soalnya, columnar joint basalt tidak ditemukan di sekitar situs Gunung Padang.

      Hal menarik lain dari penelitian tim itu adalah cara bangunan ini disusun. Dari temuan bebatuan yang menjadi pemisah Teras 1 dan Teras 2, terlihat ada bahan perekat menyambung bangunan. (Lihat Infografik). “Ini bukan pelapukan andesit, tapi semacam semen purba,” Andang menambahkan.

      Ada dugaan kuat, jika bangunan purba itu menerapkan semacam teknologi penahan gempa. Ini terlihat dari adanya lapisan buatan yang materinya adalah pasir. “Ini hasil ayakan sangat halus, dan jelas bukan terbentuk secara alami,” jelas Andang. Pasir ditemukan dalam satu lapisan, di kedalaman 8 hingga 10 meter. “Ini seperti teknologi yang mampu menahan gempa”.

      Tim Bencana Katastrofi Purba kemudian menjelaskan hasil carbon dating yang dilakukan terhadap sisa akar tanaman dan sisa arang bekas pembakaran, yang didapat dari hasil pengeboran. Menurut Danny Hilman, hasil carbon dating memperlihatkan bahwa situs Gunung Padang berasal dari 6.700 tahun lalu. “Berarti sekitar tahun 4.700 Sebelum Masehi,” tutur Danny.

      Jika hasil carbon dating itu tepat, hasil ini terbilang menakjubkan. Artinya, di masa prasejarah, sudah dikenal teknologi bangunan maju di wilayah nusantara. “Ini seperti Machu Picchu, di Peru. Tapi ini berasal dari abad yang jauh lebih tua. Bisa jadi teknologi Machu Picchu juga berasal dari sini,” kata Danny menambahkan. Machu Picchu diperkirakan berasal dari abad 14 atau 15.

      Ilmuwan lain menyambut baik temuan Tim itu. Arkeolog Universitas Indonesia, Ali Akbar, misalnya, mengatakan perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat konteks hasil pengeboran dengan lapisan budayanya. “Ambil sampelnya di mana, kedalaman berapa ditemukan pasir itu. Apa ada hal serupa di titik lain. Ini perlu diketahui lagi untuk mengetahui konteks lapisan budaya dengan bangunannya,” ujar Ali Akbar. “Sebaiknya dicek lagi di teras lain,” lanjutnya.

      Harta karun

      Dugaan tentang struktur apa yang dikandung di Gunung Padang menarik didiskusikan. Ahli kompleksitas Hokky Situngkir, yang berbicara di seminar tersebut, menyebut adanya kemungkinan bentuk piramida kecil di Gunung Padang. Dengan metode kompleksitas, Hokky mencari dugaan keterkaitan Gunung Padang dengan situs megalitik lain.

      Dari perspektif Arkeo-Geografi, Hokky mereka-reka suatu struktur piramida kecil yang dapat dicocokkan dengan lanskap geografis Gunung Gede. Struktur piramida ini sendiri sekarang terlihat reruntuhannya di Teras 1, yang ada di Gunung Padang.

      Mengenai bentuk piramida, perdebatan masih mencuat: apakah Gunung Padang bukit buatan berbentuk piramida (piramidal), atau ia hanya struktur bangunan akibat kontur geografis gunung yang terbentuk secara alami.

      Danny Hilman menyebut Gunung Padang adalah man-made hingga kedalaman 20 meter. Namun, kesimpulan ini dibuat dengan catatan pengeboran baru dilakukan hingga kedalaman sekitar 25 meter. Danny yakin bukit ini tak terbentuk alamiah. “Ada yang bilang ini gunung purba, tapi saya melihat tidak ada intrusi magma,” ujar Danny.

      Beda pendapat dengan Danny, geolog Sujatmiko mengatakan Gunung Padang adalah gunung purba yang terbentuk alami. “Itu gunung purba di bawahnya, dan bangunan memanfaatkan morfologi, karena mereka ingin di atas,” ujar Sujatmiko. Sayangnya, Sujatmiko tak melakukan riset, hanya dari pengalamannya mengamati bentukan gunung. “Lagi pula, tak ada temuan piramida di nusantara selama ini,” ujarnya.

      Ahli geologi Awang Satyana membantah Sujatmiko. Dia mengatakan struktur punden berundak punya bentuk sama dengan piramida berjenjang atau step pyramid. “Piramida adalah bangunan yang semakin kecil mendekati puncak,” jelas Awang. Dia mencontohkan Borobudur yang juga punya struktur piramida.

      Arkeolog UI Ali Akbar juga mengatakan model piramida sudah dikenal sejak masa prasejarah di Indonesia. “Tapi bukan seperti di Mesir. Di sana kan bangunan di tanah datar yang ditumpuk ke atas,” kata Ali Akbar. “Di Indonesia bentuknya seperti punden berundak yang biasa ambil lokasi di gunung alami. Sehingga batu yang dibutuhkan tidak sebanyak yang di Mesir. Jadi lebih memanfaatkan alam,” jelasnya.

      Heboh piramida ini juga menarik ahli asing, semisal genetikawan Stephen Oppenheimer dari Universitas Oxford, Inggris. Penuslis buku laris Eden in The East ini pernah mengatakan kawasan nusantara sebagai daerah peradaban tinggi di masa lalu (Lihat Wawancara Openheimmer).

      Tapi soal piramida, dia mengatakan, perlu hati-hati. Soalnya, sulit membedakan struktur monumen hasil modifikasi manusia, dengan struktur geologis oleh alam. “Anda bisa menghabiskan waktu memburunya dan ternyata kemudian adalah gunung, jelas Anda akan mendapat malu,” lanjut Oppenheimer saat diwawancara Arfi Bambani dari VIVAnews di Bali.

      Seperti dijelaskan Andang dan Danny, mereka awalnya ingin mengetahui keterkaitan bencana purba dengan peradaban di masa lampau itu. “Ada siklus bencana di masa lalu yang tidak tercatat prasasti atau catatan kuno, dan ini menghancurkan suatu peradaban,” ujar Andang. “Kami ingin melihat kemajuan teknologi dan budaya, sehingga tak selalu mulai dari nol.”

      Tapi tudingan ke Tim itu toh tak reda juga, termasuk mereka mengincar harta karun di situs purba. Apa kata Andang? “Kearifan dan ilmu dari masa lalu yang terpendam di gunung itu, itulah harta karun bagi kita,” ujarnya.(np)

      sumber : http://sorot.news.viva.co.id/news/read/287335-menguak-piramida-di-gunung-padang

    • Kini Piramida Gunung Padang Diteliti Tim Terpadu Lintas Ahli
      Laporan: Teguh Santosa

      RMOL. Hasil rembug para ahli yang dilakukan di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) hari Kamis lalu (29/3) antara lain memutuskan pembentukan tim terpadu lintas ahli untuk meneliti lebih lanjut piramida Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat.

      Hal itu disampaikan salah seorang peneliti yang juga Asisten Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) DR. Didit Ontowriyo kepada Rakyat Merdeka Online, Sabtu siang (31/3).

      Didit juga membantah berita di harian Kompas edisi hari ini yang disebutnya cukup manipulatif karena menyatakan bawa pertemuan di Puslit Arkenas itu menjadi antiklimaks.

      “Pertemuan di Puslit Arkenas sangat positif karena terjadi pertukaran pengetahuan dan pandangan dari bidang ilmu masing-masing. Namun para peserta terutama yang berbasis ilmu sosial masih perlu waktu untuk beradaptasi dengan revolusi teknologi di dalam ilmu arkeologi,” ujar Didit.

      “Arkeolog senior di Indonesia sekalipun belum beradaptasi dengan revolusi tersebut. Termasuk geolog senior seperti Sujatmiko sekalipun,” sambungnya.

      Menurut Didit, banyak arkeolog Indonesia yang menyandarkan pengetahuan dan penemuan mereka pada karya Thomas Raffles, Gubernur Inggris yang berkuasa di Nusantara antara 1811 hingga 1816, atau karya-karya arkeolog asing lainnya.

      Sementara penemuan masyarakat awam yang biasanya dilakukan tanpa sengaja, misalnya saat mencangkul sawah, selalu diabaikan.

      “Selama ini mind set itu mendominasi para arkeolog sehingga saat Tim Katastropik Purba memaparkan hasil riset yang tidak lumrah terjadi perdebatan bahkan penolakan. Hal itu terjadi karena metode baru ini belum menjadi metode arkeologi Indonesia,” masih katanya.

      Didit juga mengatakan, banyak para ahli di negara-negara maju yang sudah mencari peninggalan-peninggalan bersejarah di bawah lapisan bumi. [guh]
      Tim Katastropik Purba Akan Lanjutkan Core Drilling Di Gunung Padang Dan Sadahurip
      Sabtu, 31 Maret 2012 05:15
      AddThis Social Bookmark Button

      Hasil rembug gunung padang yang dilakukan puslit Arkenas tangal 29 Maret lalu salah satunya adalah pembentukan tim terpadu lintas ilmu untuk penelitian lebih lanjut soal piramida gunung padang.

      Tidak seperti yang ditulis Kompas (sabtu, 31 maret 2012) yang pemberitaannya sangat manipulatif seolah-olah pertemuan itu anti klimaks, Pertemuan di puslit arkenas sangat positif, karena berbagai pengetahuan saling bertukar pandangan dari bidang ilmu masing-masing.

      Namun para peserta terutama yang berbasis ilmu sosial masih perlu waktu untuk beradaptasi dengan terjadinya revolusi teknologi di dalam ilmu arkeologi.

      Arkeolog senior di Indonesia sekalipun belum beradaptasi dengan revolusi tersebut, bahkan geolog senior seperti Sujatmiko sekalipun.
      Para arkeolog Indonesia menemukan situs masih menyandarkan pada sisa-sisa temuan Rafles dan arkelog asing serta temuan dari inisiatif masyarakat misalnya saat memacul menemukan situs.

      Selama ini mind set itu mendominasi para arkeolog sehingga saat Tim katastropik purba memaparkan hasil riset yang tidak lumrah digunakan para arkeolog terjadi perdebatan bahkan penolakan, hal itu terjadi karena metode baru ini belum menjadi metode arkeologi indonesia.
      Berbeda dengan negara-negara lain yang mulai mencari situs-situs bersejarah yang berada di bawah lapisan bumi.

      Tim katastropik purba membawa paradigma baru menjawab kesulitan dalam memetakan situs purba atau benda prasejarah yang terkubur di perut bumi.

      Kini pekerjaan menjadi lebih mudah. Itu berkat gadget dan teknologi canggih, seperti pencitraan satelit, pemetaan laser udara, geolistrik, georadar, pemetaan 3D dan lain-lain.

      Magnetometer dapat membedakan logam yang terkubur, batu, dan bahan lain berdasarkan perbedaan medan magnet bumi.

      Tanah survei resistivitas mendeteksi obyek berdasarkan perubahan dalam kecepatan arus listrik.

      Saat ini perkembangan Teknologi bahkan mampu menjawab kekhawatiran kerusakan penggalian situs.

      Bantuan teknologi akan mengetahui lebih banyak sebelum kita masuk ke situs itu, seperti ahli bedah yang menggunakan CT scan dan MRI.
      Namun kemajuan teknologi tidak akan menghilangkan kebutuhan utama melakukan eskavasi.

      Walaupun sebagai uji sampling, pengeboran adalah salah satu metode ilmiah yang membantu menjawab sebagian hipotesa yang menggunakan teknologi.

      Tim Katastropik purba dalam waktu dekat akan akan melakukan pengeboran di beberapa titik sebagai survey lanjutan di piramida gunung padang dan secara prinsip sudah disetujui oleh puslit arkenas.

      Langkah ini dilakukan secara paralel dengan pembentukan tim terpadu yang digagas wamedikbud.

      Selain itu tim katastropik purba sedang menimbang untuk segera melakukan pengeboran di lokasi yang banyak dinanti orang yaitu gunung Sadahurip.

      Sekali lagi, pengeboran yang dimaksud bukanlah pengeboran seperti pengeboran minyak dan gas, tetapi pengeboran untuk ambil uji sampling di beberapa titik tertentu, demikian penjelasan yang disampaikan oleh DR Didit Asisten SKP-BSB.

      sumber :http://agenbola07.blogspot.com/2012/04/kini-piramida-gunung-padang-diteliti.html

    • INDONESIA BICARA: SITUS PURBA GUNUNG PADANG

      Danny Hilman Natawidjaja
      Sun, 29 Jul 2012 18:19:37 -0700

      Mungkin ada manfaatnya kami share beberapa poin penting dari “progress
      report” penelitian Gunung padang ini untuk melengkapi kepenasarannya Pak
      Ketum dan barangkali rekan-rekan lain juga J karena tentunya acara talk show
      di TV sangat terbatas untuk menerangkan yang lebih detil dan ilmiah (bagi
      yang berminat saja karena agak panjang uraiannya).

      Gunung padang yang dianggap situs oleh peneliti terdahulu menurut tim kami
      hanya mendefinisikan “topinya” saja, yaitu susunan teras batu di puncaknya
      saja (yang di dalam pagar), sedangkan ‘kepala’ dan ‘badan’nya tidak dianggap
      situs, alias sudah di-vonis bebas artefak. Hasil penelitian kami menunjukan
      sebaliknya, susunan terasering batu (buatan manusia) itu tidak hanya di
      atas bukit tapi melapisi lereng-lerengnya. Sebagai geologist tentunya kita
      dituntut untuk bisa membedakan mana kolom andesit yang tertumpuk alamiah dan
      mana yang sudah disusun oleh manusia bukan? Tidak mudah untuk
      membedakannya kalau hanya melihat sepintas dari yang tersingkap
      dipermukaannya saja (apalagi dari foto), tapi harus lebih cermat dan
      menyeluruh. Dalam penelitian dilakukan test hand drilling dan eskavasi
      (test pit) arkeologi diberbagai lokasi di lerengnya dan juga dibantu oleh
      pemindaian bawah permukaan oleh survey georadar. Sebagai “hint” awal,
      tumpukan kolom-kolom batu (andesit) yang (disusun) menutupi permukaan lereng
      timur umumnya berorientasi barat-timur, sedangkan di lereng utara
      berorientasi utara-selatan (selaras dengan dinding teras situs batu di atas
      bukit). Saya yang mencoba meng-auger lereng bukit timur diberbagai titik
      hanya bisa menembus tanah 50 – 80 cm saja, mentok dilapisan tumpukan kolom
      andesit ini. Batasnya tajam. Singkat cerita, kami (khususnya Pak Ali
      Akbar) menyimpulkan bahwa monumen Gunung Padang ini jauh lebih besar dan
      megah (serta kompleks) dari yang sudah disimpulkan oleh penelitian
      sebelumnya karena kelihatannya meliputi seluruh bukit. Pak Pon Purajatnika
      (arsitektur) menyimpulkan bahwa susunan batuan dari puncak sampai kaki
      bukitnya bukan hasil kerja kebudayaan primitif yang asal-asalan tapi by
      design architect yang spectaculer dari peradaban yang sudah maju. Jadi dari
      hasil penelitian fakta didekat permukaan saja yang notabene dapat dilihat
      dan diraba sebetulnya sudah merupakan hal baru yang tidak main-main.

      Pemindaian georadar dan geolistrik tentu bukan hal mudah tapi perlu
      kehati-hatian dalam pengambilan data, data processing serta interpretasinya.
      Dalam penelitian ini interpretasi kami tidak hanya berdasarkan satu
      alat/metoda saja tapi terintegrasi antara hasil survey georadar, geolistrik,
      dan juga data bor . Survey yang dilakukan sudah cukup intensif. Ada
      beberapa lintasan geolistrik yang mencakup seluruh bukit (dari puncak sampai
      level parkir = tinggi ~100m) dengan spacing electroda/resolusi yang
      berbeda-beda. Khusus untuk bagian puncak sampai kedalaman ~25-30 meter
      sudah dilakukan survey geolistrik 3D (dengan SuperSting). Data processing
      dan pemodelan yang dilakukan tidak satu tapi sudah dicoba puluhan model
      (untuk setiap datanya) dengan parameter model yang berbeda-beda. Lintasan
      georadar yang dilakukan juga sudah cukup banyak, lebih dari 70 lintasan
      mencakup semua teras batu di puncak, dan lereng timur serta lereng utaranya,
      juga dilakukan dengan beberapa frekuensi yaitu 270 Mhz, 100 Mhz, 80 Mhz, 40
      Mhz, dan 18 Mhz (skin depth dan resolusi yang berbeda-beda). Setahu saya
      Pak Sutikno, ahli gunung api kita, baru melihat sebagian saja hasil survey
      geolistrik yang saya perlihatkan waktu ketemu di G.Padang dan juga di
      seminar IAGI dulu, banyak detilnya serta data-data baru, khususnya data
      georadar yang belum dilihat.

      Kemudian, pemboran-coring dilakukan oleh ADB di dua titik di atas situs
      masing-masing sampai kedalaman 27m dan 15m. Bor 1 secara umum
      memperlihatkan tiga paket lapisan/Unit stratigrafi, yaitu: dari 0 s/d
      =kedalaman 5m Lapisan tanah setebal beberapa puluh cm, dibawahnya tumpukan
      lapisan kolom andesit (seperti terlihat di permukaan) ditata
      berbaring/horisontal yang diselingi lapisan material silty yang dilandasi
      oleh lapisan pasir kerikilan setebal 30-40cm (catatan: dari georadar
      diketahui lapisan pasir ini konsisten melandasi seluruh situs teras batu);
      dibawah lapisan pasir dari kedalaman 5m s/d 16m adalah juga lapisan susunan
      kolom andesit yang diselingi lapisan silt, tapi kolom andesitnya ditata
      berbeda (i.e. posisinya berdiri miring); di kedalaman 16m s/d 18m ditemukan
      fractured massive andesit yang sudah lapuk, berasosiasi dengan batas
      permukaan air tanah; dari kedalaman 18 s/d 27 meter fractured massive
      andesit yang masih segar. Di Bor 2 (yang berjarak hanya sekitar 50m di
      selatan Bor 1) dari permukaan sampai kedalaman 7m adalah lapisan tanah yang
      seragam tidak ada stratifikasi pelapukan atau dengan kata lain
      mengindikasikan tanah urugan. Belakangan Pak Ali Akbar membuat test-pit di
      lokasi Bor-2 ini sampai kedalaman 3 m. Dia setuju bahwa ini tanah urug, dan
      juga menemukan seperti sisa pembakaran (manusia) di lapisan tanah di
      kedalaman sekitar 60 cm berasosiasi dengan charcoal-rich layer. Charcoal
      pada horison ini sudah yang diradiometric dating dan memberikan umur sekitar
      2500 tahun BP. tanah urug ini dibawahnya (kedalaman 7-8m) berbatasan tegas
      dengan lapisan kolom andesit yang diselingi tanah/silt; Dari 8-10m terdapat
      rongga yang diisi pasir dengan sorting sangat baik. Rongga ini menyebabkan
      water loss dan stacked waktu drilling. Dari 10 – 15m terus didapat lapisan
      andesit yang diselingi lapisan pasir, berkali-kali water loss dan stacked.
      Kita cukup frustasi waktu itu dan lalu menghentikan pemboran di kedalaman
      15m.

      Oleh karena itu dengan data set yang komprehensif maka interpretasinya pun
      menjadi tidak bisa lagi asal tebak-tebakan tapi harus sangat cermat supaya
      sesuai dengan semua set data dan dapat diuraikan dengan reasoning scientific
      yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam geologi, makin banyak data akan
      makin puyeng interpretasi dan menyimpulkannya toh. Kalau tahu sedikit
      malah lebih mudah J

      Selanjutnya, Radiocarbon Dating yang dilakukan atas serpihan karbon/charcoal
      dari lapisan pasir di kedalaman ~4m pada Bor-1 memberikan umur masing-masing
      6700 Cal.BP, sedangkan dari charcoal pad pasir yang mengisi rongga di
      kedalaman 8-10 meter di bor 2 memberikan umur 13.600 Cal.BP (dilakukan di
      Lab Radiometric BATAN). Apabila umur absolut ini benar-benar merupakan umur
      dari lapisan tersebut, maka tidak dapat diinterpretasikan sebagai lapisan
      vulkanik alamiah karena G.Padang (dalam peta geologi) ada dalam wilayah
      komplek Gunung Api Plio-Plistosen yang lebih dari satu juta tahun umurnya.
      Tentu kami paham bahwa masalah radiometric dating bukan hal yang mudah, ada
      banyak seluk-beluk dan jebakannya, baik dari jenis dan status sampel yang
      diambil juga metoda dan akurasi analisanya. Nonetheles, sampai saat ini,
      data carbon dating ini yang kami punya. Perlu diketahui bahwa sebelumnya
      belum pernah ada analisa radiometric dating di situs Gunung Padang ini
      sehingga menimbulkan kontroversi umur situs, ada yang bilang Pra sejarah ada
      yang Bilang dibangun pada Jaman Pajajaran. Jadi ini adalah usaha yang
      pertama kali untuk mengetahui umur situs. Rencananya, dalam waktu dekat ini
      kita akan melakukan carbon dating yang lebih sistematik dari drill cores
      yang akan dikirim ke Lab.Beta Analytic di Florida USA karena kandungan
      karbon/charcoalnya tidak banyak sehingga harus memakai metoda pengukuran
      Mass Spectrometer. Selain itu kita juga akan men-date umur dari batuan
      andesitnya memakai K-Ar dating mulai dari bagian atas sampai bawah. Ada
      rencana juga akan dilakukan analisa petrografi, XRF/XRD dari sampel bor
      untuk memperkaya analisa. Kita lihat nanti.

      Singkatnya, sampai tahapan sekarang, interpretasi subsurface yang bisa kami
      katakan dengan tingkat keyakinan cukup tinggi adalah bahwa dibawah bukit
      Gunung padang dari bagian atas sampai kedalaman ~15meter, sangat sulit untuk
      diinterpretasikan sebagai bentukan alamiah geologi, alias lebih cocok
      sebagai bangunan manmade yang mempunyai ruang-ruang. Catatan tambahan, hasil
      geolistrik 3D memperlihatkan anomali very high resistivity puluhan ribu
      ohm.meter berdimensi sampai 10x10m di lokasi yang sangat strategis di bawah
      teras-teras batu itu. Kenampakan 3D high resistivity di Gunung Padang ini
      sudah dibandingkan dan kurang lebih sama dengan image 3D geolistrik dari Gua
      Pakar, Dago (yang sengaja kami ambil datanya untuk test respon alat). Hal
      ini yang menjadi landasan pertama untuk dugaan ada ruang di bawah Gunung
      Padang. Kemudian dibantu/dikonfirmasi oleh hasil georadar dan bor. Pasir
      yang mengisi rongga di kedalaman 8-10 meter di Bor 2 itu terlihat sebagai
      “passage” very high resistivity yang menuju ke “the big-high resistivity
      body”. Jadi lokasi Bor-2 memang sengaja dipilih untuk men-sampling
      kenampakan very-high resistivity body ini. Selain dugaan ruang, banyak
      ‘penampakan’ yang sangat menarik lainnya yang terlihat di 2D radargram dan
      3D geolistrik.

      Perihal apakah ‘bangunan’ dibawah kedalaman 15 meter ini masih man-made atau
      sudah bentukan alamiah/geologi, kami belum dapat memberikan kesimpulan solid
      karena datanya masih sangat tergantung pada beberapa lintasan geolistrik 2-D
      meskipun hasil-nya cukup baik. Kami hanya bisa mengatakan bahwa bentuk
      image struktur resistivity/conductivity yang terlihat sangat mencurigakan
      karena memperlihatkan satu keteraturan seperti sebuah bangunan man-made,
      atau boleh jadi memang lapisan geologi tapi sudah dimodifikasi oleh manusia.
      Namun walaubagaimanapun untuk bagian ini emmang sah-sah saja kalau orang
      membuat interpretasi yang lebih “in the box”, yaitu sebagai lapisan
      geologi/vulkanik yang alamiah saja asal dapat mempertahankannya (sesuai data
      dan kaidah ilmiah) . Tidak perlu dikontro-lebaykan J Seingat saya waktu
      berdiskusi dengan Pak Tikno di Gunung Padang dulu sambil sama-sama melihat
      image geolistrik yang beliau interpretasikan sebagai bentukan vulkanik
      adalah dari kedalaman 15 meter ke bawah ini. Yang perlu dilakukan ke depan
      adalah mencari bukti yang lebih solid bahwa bagian ini adalah natural or
      manmade dengan survey bawah permukaan yang lebih intensif (+ bor mungkin).
      Bukan memberikan final judgement yang ‘mblunder’ lalu membiarkannya
      “unresolved”. Sayang sekali kalau misalnya ternyata ada heritage yang
      luarbiasa dikedalaman itu. Hard to believe memang, but who knows. Live is
      a mistery. Gunung Padang masih open book.

      sumber : http://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg36324.html

    • “Kita berharap, Gunung Padang sebagai pembuka rantai peradaban yang ada. Perbedaan pendapat yang terjadi selama ini akan sangat memperkaya riset yang berlangsung. Perbedaan pendapat justru akan mempertajam kesimpulan hasil riset nantinya. Semua yang berbeda pendapat memiliki argumentasi yang memiliki dasar ilmiahnya. Saya percaya, semua perbedaan akan bertemu pada titik yang benar. Meski berbeda pendapat, peneliti kita harus bersatu, memberi contoh bagaimana mengelola perbedaan menjadi kekuatan ilmu pengetahuan. “

      “Memang, sangat sulit dipercaya bahwa di bawah permukaan situs gunung padang sekarang ini ada “bangunan buatan manusia”. Bahkan tim peneliti juga satu setengah tahun lebih bolak-balik datang ke gunung padang untuk memastikan bangunan itu memang ada. Awalnya sangat berat menerima kenyataan itu, tapi fakta menyatakan 99 persen bangunan itu ada dan pintu sudah ditemukan. Satu persennya adalah bagaimana semua perbedaan bisa bersatu untuk bersama membukanya.”

      sumber : Account FB Andi Arief Dua

    • Kasus Piramida Sadahurip terus menuai kontroversi. Tim ESDM yang memakai logika pendek dengan mudahnya menyatakan bahwa gunung Sadahurip bukan piramida “ajaib” karena tanah luarnya adalah tanah biasa. Padahal penggalian yang lebih serius te…lah menyingkap adanya batu-batu yang tersusun rapi, yang tidak mungkin “disusun oleh alam”.
      Maka tim Katastrofa pimpinan Staf Khusus Presiden, Andi Arif akan
      memperserius penelitian Gunung Sadahurip pada Maret 2012. Namun karena nama Presiden akhir-akhir ini sedang jelek, maka niat baik Andi Arif ikut dicurigai oleh para penganut logika pendek. Padahal ada Teori Katastrofa yang bisa dipakai untuk “langkah awal” mempelajari “Piramida Sadahurip”.

      Teori Katastrofa adalah teori yang berkembang pada abad 18, yang menyatakan bahwa bumi akan hancur karena musibah yang amat dahsyat.
      Bagi orang Islam, tentunya teori itu tidak mengejutkan, karena banyak disebut dalam Al-Qur’an, bahwa disamping kiamat, Allah telah banyak membinasakan kaum-kaum berperadaban tinggi yang mengingkari ke Esaan Allah dan banyak membuat kejahatan di muka bumi.

      “Maka apakah kalian tidak berjalan-jalan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan nasib orang-orang sebelum kamu. Mereka orang-orang yang lebih hebat kekuatannya dan lebih banyak bekas-bekasnya ( artefaknya ) di muka bumi. Maka apa yang mereka usahakan ( peradaban tinggi mereka ) itu ternyata tidak dapat menolong mereka” . Demikian bunyi Surat Al-Mukmin ayat 82.

      KATASTROFA NUSANTARA
      Selama ini, khotbah-khotbah kyai di masjid-masjid kebanyakan menafsirkan bunyi ayat-ayat Al-Qur’an semacam di atas, hanyalah berlaku pada kaum Arab kuno atau bangsa Yahudi yang diazab Allah, misalnya kaum Ad, Tsamud, Sodom dan Gomorrah dan sebagainya.
      Namun, kalau kita merujuk temuan-temuan mutakhir, serta teori-teori Nusantara mutakhir, akan terlihat bahwa Nusantara juga pernah mempunyai kejayaan yang luar biasa, melebihi kejayaan peradaban bangsa-bangsa yang disebut secara nyata oleh Al-Qur’an di atas, dan kemudian diazab oleh Allah dengan kehancuran maha dahsyat.

      Dalam beberapa bulan yang akan datang, tim yang dibentuk oleh Staf Khusus Presiden bidang bencana, sebut saja “Tim Katastrofa”, akan meneliti beberapa gunung di Ciamis, Jawa Barat, yakni Gunung Lalakon dan Sadahurip, yang menilik bentuknya sangat “mencurigakan”, tampaknya bukan gunung biasa, melainkan piramid super raksasa yang tertimbun hutan.
      Di samping itu, di Jawa Tengah juga terdapat deretan “gunung piramid” yang berderet puluhan atau ratusan, memperlihatkan betapa dahsyatnya Nusantara masa lalu, sebelum “dihancurkan” oleh bencana alam maha dahsyat, yang tentu bagi orang Islam bermakna diazab oleh Allah.
      Konon, kini banyak pakar dari luar negeri berebut ingin bergabung dengan tim peneliti gunung piramid tersebut. Semoga saja mereka datang dengan sumbangan biaya dari negerinya, bukan hanya datang sebagai tenaga kerja, karena kalau soal itu, di Indonesia pun sudah banyak.

      Dengan ditemukannya piramid-piramid raksasa di Nusantara yang lebih besar dari piramid di Mesir, juga ditemukannya sisa-sisa “Kerajaan Kandis kuno” di Sumatera, dan sebenarnya juga temuan sisa-sisa berbagai patung-patung megalitik yang kadang-kadang ukurannya dahsyat, sudah membuktikan kebenaran teori DR.Arysio Santos dan DR.Stephen Oppenheimer yang akhir-akhir ini mengejutkan para pakar KeNusantaraan, bahwa Nusantara ini puluhan ribu tahun yang lalu adalah benua besar bernama “Attala” atau “Atlantis” dan ada juga yang menyebut “Lemuria” yang berperadaban sangat dahsyat, melebihi kedahsyatan peradaban Borobudur Sleman, Piramida Mesir, Kota Gunung Machu Pichu, Kuil-kuil piramida Amerika Selatan dan sebagainya.

      Namun kemudian hancur lebur oleh meletusnya Gunung Toba dan Gunung Krakatau ribuan tahun yang lalu, sehingga Benua Atlantis atau Attala atau Lemuria itu hancur berkeping-keping menjadi ribuan pulau besar kecil yang kini disebut Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Birma, Filipina, Papua Nugini, dan Australia.
      Tentunya para pakar lebih suka menyebut kejadian tersebut dengan peristiwa Katastrofa atau musibah, daripada menyebutnya dengan azab Allah.
      MUHASABAH

      Dengan menyebut katastrofa atau musibah, maka para pakar anti-religi hanya menganggap bahwa kejadian alam itu adalah siklus biasa, sedahsyat apapun musibah terjadi, dianggap sebagai daur ulang kehidupan.
      Sedangkan kalau menyebutnya musibah, maka akan tercetus kesadaran atau muhasabah, bahwa faktor kejahatan manusia sangat berperan pada hancurnya alam, karena menimbulkan kemarahan Allah yang kemudian menurunkan azab maha dahsyat.

      Dengan muhasabah, maka manusia berusaha memperbaiki perilaku, menjaga kelestarian alam, mencegah kejahatan dari penjahat secara berramai-ramai, agar kehidupan tidak hancur oleh ulah segelintir penjahat—baik penjahat itu maling jahat, pembunuh jahat, koruptor jahat, politisi jahat, polisi jahat, pengusaha jahat, pedagang jahat, pengacara jahat, petani jahat, bahkan seniman jahat dan kyai jahat—akan membahayakan kelestarian alam, yang berujung pada musibah dahsyat yang mencelakakan semua orang.

      Apalagi berbagai ramalan –baik ramalan kuno ( misalnya versi kalender Maya ) maupun ramalan modern ( versi kelompok pecinta lingkungan pengikut Al-Gore ) , maupun ramalan kontroversial versi Ustadz Fahmi Basya yang meramal relief-relief Borobudur dipasangkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, semuanya mengacu kepada arahan, bahwa kiamat akan terjadi tahun 2012. Bahkan Hollywoodpun percaya kepada ramalan itu, dan telah membuat filmnya “ 2012” yang menangguk “duit box office” ketika film itu diputar.

      Tanpa muhasabah, tanpa mawas diri, tanpa kesadaran, maka sama saja dengan membiarkan percepatan roda katastrofa menuju episode kehancuran alam yang maha dahsyat , yang mau tidak mau, percaya tidak percaya, tanda-tandanya sudah banyak kita rasakan selama beberapa tahun terakhir ini…….. (Narasi ini di copas dari tulisan Viddy AD Daery seorang budayawan Nusantara yang baru saja mempresentasikan Teori Katastrofa Nusantara di Seminar Internasional Rumpun Nusantara “Empat Dekade GAPENA” di Kedah, Malaysia)

      sumber : Account FB Andi Arief Dua

    • Gunung Padang dan Neo-Catastrophis Principle

      Dari berbagai sumber
      Sekedar catatan, yang dimulai dari riset geologis, membawa kami pada petualangan sejarah, penemuan pengetahuan, dan entah apalagi nantinya.
      Mampir di gunung Padang yang berlokasi di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Luas kompleks “bangunan” kurang lebih 900 m², terl
      etak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, untuk sementara ini, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar diAsia Tenggara.

      Gunung Padang selain merupakan artefak, terkuak adanya pemunculan teori atau lebih yang prinsip yang mendasar (fundamental prinsiple) baru, yaitu kembalinya Catastrophism Principle (atau dalam bahasa Indonesia disebut teori Malapetaka) dalam ilmu geologi, dan sekarang diaplikasikan ke bidang Archeologi, runtuhnya atau hilangnya suatu peradaban adalah disebabkan karena adanya bencana, bencana lokal maupun bencana global.
      Sebagaimana diketahui, dalam ilmu geologi modern (Prof RP. Koesoemadinata), dinyatakan setelah munculnya prinsip Uniformitarianism dari James Hutton yang melawan prinsip Malapetaka, yang terutama meng-”invoke” adanya suatu bencana (global) untuk perubahan-perubahan yang terjadi di muka bumi, khususnya kepunahan massal yang pada waktu itu diketahui dari penelitian fossil, adanya urut-urutan lapisan yang masing-masing mengandung susunan (assemblage) fossil tertentu dibandingkan dengan urutan lapisan yang di atas maupun di bawahnya, yang oleh Cuvier disebabkan terjadi malapetaka global setiap kalinya (kalau tidak salah dinyatakan ada 13 kali bencana global).

      Prinsip ini dikalahkan dengan prinsip uniformitarianism, di mana proses-proses di bumi berjalan seragam, kepunahan massal masih dapat diterangkan dengan evolusi yang dipercepat (tentu sangat diperkuat dengan ajaran Darwin). Juga gejala-gejala besar seperti Grand Canyon, Pegunungan Himalaya, tidak perlu dijelaskan dengan suatu event yang katastropik, cukup dengan proses-proses yang berlangsung sekarang yang sangat perlahan-perlahan tetapi berilah waktu jutaan, bahkan ratusan juta tahun maka, gejala geologi yang maha besar itu akan terwujud.

      Prinsip uniformitarianism ini menjadi prinsip utama dalam ilmu geologi modern bahkan masih dianut, khususnya dalam industri minyak. Dalam presentasi mengenai geologi sejarah mengenai suatu cekungan minyak bumi tidak pernah disinggung terjadinya bencana untuk menjelaskan unconformities, bahkan dalam membahas dari Kapur ke Tersier sekalipun.
      Namun prinsip katastrophism mulai muncul kembali dengan hasil temuan Alvarez ayah-anak (Alvarez Sr adalah nuclear physicist, Alvarez Jr. Geologist) di tahun 80-an, yang menemukan adanya peningkatan kadar isotop Irridium yang luar biasa pada batas Kapur Tersier yang kemudian disebutnya KT-boundary pada Gubio Shale di Itali. Gejala ini dijelaskan dengan adanya benturan meteor di selatan Teluk Mexico, dan menjadi sangat populer untuk menjelaskan punahnya dinosaurus.

      Bukti-bukti untuk ini banyak ditemukan dalam bentuknya jelaga, shocked quartz dan banyak lagi. Selain itu para ahli mulai mencari kawah-kawah meteor lainnya yang banyak diketemukan. Punahnya fauna Paleozoic di jelaskan pula dengan benturan asteroid, sehingga terjadi bencana jenis ini harus diakui sebagai proses geologi yang lumrah.

      Mulai lah kembali prinsip malapetaka ini atau disebut Neo-Catastrophism. Selain benturan asteroid sekarang, juga keberadaan supervolcanic eruption mulai disadari yang dapat merubah iklim dunia dengan “nuclear winternya” dan kepunahan kehidupan massal, dan mulai dikenalnya konsep supervolcano yang tidak berbentuk kerucut, seperti Toba Supervolcano, Yellowstone Supervolcano. Juga keberadaan flood-basalt seperti Deccan Trap, Siberian Trap, Columbia Plateau, sekarang ini ditafsirkan sebagai suatu letupan yang dahsyat yang mengeluarkan abu dan gas-gas CO2 dan belerang dan menjadi malapetaka untuk seluruh dunia.

      Dalam Saluran televisi National Geographic, Discover Channel, BBC Knowledge, History sangat rajin menayangkan masalah malapetaka global ini. Silahkan simak di Indovision atau Cable Vision. Namun ‘mainstream” geology kelihatannya belum terlalu terpengaruhi dengan fakta-fakta ini dan masih mempertahankan Uniformitarianism. Paling tidak merevisinya dengan apa yang disebut “Punctuated Uniformitarianism” (proses-proses geologi berjalan seperti biasa, tetapi diwarnai dengan terjadinya katastrofi pada waktu-waktu tertentu).

      Apakah prinsip ini sekarang sudah diajarkan pada matakuliah Geologi Dasar Gl 101 atau Geologi Sejarah. Sebagaimana dijelaskan di atas Prinsip uniformitarianism ini, menjadi prinsip utama dalam ilmu geologi modern bahkan masih dianut, khususnya dalam industri minyak. Dalam presentasi mengenai geologi sejarah mengenai suatu cekungan minyak bumi tidak pernah disinggung terjadinya bencana untuk menjelaskan unconformities, bahkan dalam membahas dari Kapur ke Tersier sekalipun.
      Menurut Danny Hillman, Prinsip Neo-Catastrophism ini sekarang juga kelihatannya diterapkan dibidang arkeologi, bahwa suatu peradaban itu berakhir oleh karena suatu bencana, meskipun bencana yang bersifat lokal, seperti Peradaban Maya dengan piramide-nya berakhir karena bencana perubahan iklim yang dahsyat, atau peradaban Borobudur dengan letusan Merapi.
      Riset Tim Bencana Katastropik Purba ditujukan untuk mencari bukti-bukti adanya peristiwa bencana purba, seperti tsunami, gempa bumi, ledakan gunung api dan mencoba menghubungkan dengan peradaban dalam bentuk piramide atau bangunan megalithik.
      Menurut Luthfi Yondri, arkeolog yang meneliti Gunung Padang, sejarah penemuan situs dan hasil penelitian arkeologi, yaitu sebatas bahwa situs Gunung Padang di Cianjur adalah Situs Megalitikum yang ‘sederhana’ terdiri dari kolom-kolom andesit/basalt yang ditata membentuk teras-teras di atas puncak sebuah bukit.

      Riset ini, harapannya akan menjawab pertanyaan siapa yang membuat, bagaimana membuatnya, darimana source kolom-kolom andesit-basaltnya dan kapan dibuatnya. Saat ini, kecuali hanya dikira-kira berdasarkan perbandingan dengan situs-situs megalitik lain dan frame-time arkeologi Indonesia, yaitu sekitar 2500 tahun SM.
      Bisa juga kita tengok, temuan dua gempa besar yang terjadi sekitar tahun 1390 dan 1440 M di Aceh yang diikuti tsunami sebesar yang terjadi pada tahun 2004. Bukti berupa data pengangkatan dari koral mikroatol di P. Simelue dan lapisan endapan tsunami yang ditemukan di dekat Kota Banda Aceh. Pada lapisan tsunami banyak ditemukan artefak-artefak keramik. Dua bencana tsunami ini diduga berperan besar dalam keruntuhan kerajaan Samudra Pasai yang kemudian diikuti dengan kemunculan Kerajaan Iskandar Muda. Adanya ‘diskontinuitas’ dari peralihan dua kerajaan ini banyak membuat para sejarawan bingung.

      Kemudian, tentang penelitian di Situs Batujaya, Krawang. Survey Georadar memperlihatkan bahwa di beberapa situs bangunan batubata merah yang hanya tersembul beberapa meter saja dipermukaan ternyata dibawahnya ada bangunan yang terkubur sampai 15 meter yang bisa merupakan bagian bangunan dengan umur sama (Abad 4 Masehi) atau peninggalan peradaban yang lebih tua lagi. Adanya disekitar situs ditemukan endapan marin (laut), jadi dulunya situs ada di dekat garis pantai. Lantas sayatan horizontal dari hasil survey seismic 3D di utara Jakarta yang memperlihatkan jejak sungai purba dengan jelas sekali. Ayo berpetualang !!!

      Sumber account FB Andi Arief Dua

  4. Kepada Yth bp Sujatmiko KCB/IAGI
    by Andi Arief Dua on Tuesday, January 17, 2012 at 8:40pm ·

    RENUNGAN: Selama ini rujukan utama sejarah Indonesia adalah History of Java karya Raffles. Buku itu seakan menjadi kitab suci untuk melihat Indonesia ke belakang. Kita tahu bahwa selain menulis, Raffles juga sangat aktif menemukan bukti2 sejarah berupa bangunan, artefak, manuskrip dll. Sebut saja Borobudur, Trowulan, kawasan2 candi di Jateng dan jatim, prasasti2 di bogor dan Jawa Barat dll. Namun seperti diakui raffles dlm perjalanan ke pagaruyung, dia gagal menemukan bangunan2 penting karena tertimpa bencana hebat. Penemuan bangunan2 candi dll didominasi oleg Raffles, arkeolog Belanda dan eropa lainnya.

    Sedangkan temuan2 lainnya adalah berdasarkan laporan masyarakat yaitu petani yg tidak sengaja saat mencangkul menemukan bangunan, atau masyarakat yg bermimpi lalu menemukan candi. Cara penemuan Raffles sistematik dan di tempat2 penting. Temuan masyarakat sebaliknya. Bahkan kawasan Batu Jaya sampai kini yg dianggap tertua dibiarkan berantakan. Bagaimana cara Raffles temukan sebagian sejarah kita? Tak ada arkeolog, geolog, antropolog dll yg mempertanyakan, membaca dolumenkah, atau bisikan ghaib tak ada jawabannya sampai hari ini.

    Sekarang Gn Sadahurip sedang diteliti lebih 1 tahun. Penelitian hampir selesai. Gunakan metode scientific dan hati2. Hipotesa kuat ada piramida (man made) di dalamnya yg berharga buat sejarah Nusantara. Penolakan yg “tiba-tiba” dari beberapa fihak bukan berdasarkan riset seperti dari dinas pariwisata dan kebudayaan, serta dari ekspedisi kilat dari seorang ahli geologi yg jauh dari kaidah ilmiah tentu mengagetkan.

    Apalagi alasannya tdk ada historical piramida di Indonesia atau yg dimuat di salah satu media bahwa tdk mungkin ada piramida karena petunjuk ghaib. Temuan di Sadahurip memang membuka cakrawala, setelah selama ini semua dibuka raffles atau banyak artefak yg ditemukan secara tidak sengaja oleh petani yg mencangkul sawahnya. Raffles2 lain kita sudahi. Kini periset kita MAMPU !! Video di bawah ini mudah-mudahan membuat ahli geologi sujatmiko merevisi statemen yg tak pantas bahwa terjadi hipnotisme. Video ini di tahun 2010. http://www.youtube.com/watch?v=DmjtiQP-IQE dan inilah kerja keras http://www.youtube.com/watch?v=4QnaCjbLj_4 (masihkah ini hipnotisme?)

    sumber : account FB Andi Arief Dua

    • hahaha….,lukman mubarok memang pantas ditugaskan sebagai “tukang kompor”..,krn kurang memiliki cukup kecerdasan untuk menyanggah argumen2 yg diberikan :)

      • @kang sony : setuju kang,..nie orang memang hoby banget ngomporin, apalagi naekin tensi ane..ckckck..
        Tapi kalo kecerdasannya sih, kayaknya gak usah terlalu kayak gitu deh kang..agak-agak subjectif gitu, kalo soal provokasi2an…wah saya 10000000000000000000000000000000% setuju abis bung LM ini jagonya :)

    • @Bung LM : ni orang hobi banget ya ngeledek pake bahasa antitesa kayak gini? Jangan terlalu anti sama KD bung….nanti anaknya ( atau anak berikutnya ) mirip banget gimana? :)

  5. To @Admin

    Usul dikit untuk tampilannya,,, Background putihnya terlalu kontras! apa bisa dipergelap sedikit?
    Takutnya mata terlalu cepat lelah.

  6. HOW GEOPHYSICAL METHODS CAN HELP THE ARCHAEOLOGIST
    by Andi Arief Dua on Tuesday, July 3, 2012 at 6:57pm ·

    Fisikawan Senior: Geofisika Membantu Arkeolog

    Monday, July 2nd 2012. Posted in Sains, Tajuk by rmz

    JAKARTA- Seorang peneliti senior dari SRI Internasional yang juga fisikawan, Lambert Dolphin, menuliskan satu artikel yang cukup komprehensif tentang “Bagaimana Metode Geofisika Membantu Dunia Arkeologi.” Tulisan ini di unggah dalam laman blog pribadinya dan Dolphin yang telah menjadi peneliti di SRI Internasional sejak 1954 ini memulai bahasanya tentang temuan jejak dinding romawi kuno di eropa.

    -

    Perang memang banyak menghasilkan kemajuan teknologi, salah satunya adalah foto udara yang awalnya pada Perang Dunia I untuk mengetahui garis belakang musuh. Ternyata juga secara tak sengaja ketika pesawat mengambil foto acak dari udara di atas pedesaan Inggris, foto menampilkan secara tidak sengaja jejak dinding Romawi kuno.

    Saat ini foto udara tentu lebih maju dengan stereo-pair color dan color infra-red film photographs (atau bahkan lebih baru, dalam bentuk multi-spektral metode pencitraan) merupakan seni ilmu pengetahuan untuk memulai dalam pemetaan dan memahami area arkeologis menarik, tulis Dolphin dalam blognya.

    Ledakan pengetahuan di bidang geologi, ilmu bumi, geofisika dan penginderaan jauh setelah Perang Dunia I dan II terjadi, semua kecanggihan yang ditemukan dalam penelitian karena tuntutan perang, akhirnya juga tersedia untuk industri swasta, bahkan lebih maju, termasuk dalam geofisika. Salah satu yang paling utama dalam menggunakan metode geofisika adalah pencarian minyak dan mineral di bawah permukaan bumi.

    Beberapa metode geofisika dasar meliputi: (1) Refleksi Seismik Refraksi &, (2) Gravitasi, (3) Magnetik, (4) Listrik, dan (5) Radioaktivitas.

    Metode (1) umumnya digunakan dalam eksplorasi minyak, geologi teknik, dan studi geologi regional. Metode gravitasi (2) sangat berguna dalam eksplorasi minyak. Metode (3) dan (4) menemukan aplikasi umum dalam eksplorasi mineral, eksplorasi minyak, dan studi geologi regional.Akhirnya metode radioaktif digunakan dalam eksplorasi mineral radioaktif.

    Instrumen geofisika umum dan metode meliputi:

    Studi Gempa (studi dari interior bumi pada skala besar).
    Vibroseis (artifisial mengguncang tanah pada frekuensi rendah).
    Ledakan gelombang dengan mendengarkan (menentukan perjalanan waktu, lentur, dispersi, dan refleksi gelombang suara frekuensi rendah).
    Gravimeter (ukuran variasi medan gravitasi bumi yang timbul sub-permukaan fitur).
    Magnetometer (langkah-langkah variasi medan magnet bumi karena fitur sub-permukaan, bahan khususnya besi).
    Resistivitas Mapping, Pemetaan Polarisasi Terimbas, Pengukuran Potensi Listrik, Bumi Arus (pemetaan konduktivitas listrik di bumi).
    Detektor logam (disebabkan medan listrik).
    Geiger counter dan Sintilasi counter (peluruhan radioaktif alami dari bahan tanah tertentu).
    Aktivasi Neutron (emisi radioaktif artifisial diinduksi).

    Seperti disebutkan, penerapan beberapa metode geofisika di atas untuk arkeologi mulai digalakkan setelah Perang Dunia II, tetapi berbeda dengan anggaran yang begitu besar tersedia untuk minyak bumi dan eksplorasi mineral, anggaran arkeologi hampir selalu sangat kecil. Pekerjaan lapangan dalam arkeologi selalu bergantung sebagian besar pada relawan mahasiswa dan asisten. Sejumlah kecil pembiayaan kadang-kadang tersedia dari museum atau lembaga hibah.

    Biasanya menggali di sebuah situs arkeologi harus dilakukan dengan tangan meskipun kadang-kadang ada jumlah besar tanah yang harus dikupas, walaupun kadangkala penggalian dilakukan, dengan bantuan alat seperti cangkul dan buldozer. Selanjutnya adalah katalogisasi, melestarikan artefak (konservasi), dan publikasi karya ilmiah, tetapi sering tingkat pendanaan untuk kegiatan penting ini, juga minimal.

    Dengan anggaran terbatas para arkeolog, metode geofisika sangat baik dimanfaatkan oleh para arkeolog, karena beberapa alasan:

    Arkeologi adalah “merusak”. Sebuah situs digali secara sistematis, dihancurkan, karena itu setiap langkah dari penggalian harus susah payah lambat dengan dokumentasi-hati pada setiap tingkat. Sedangkan Geofisika mampu menyelidiki dari sisi lain secara cepat, non-destruktif, dan tidak mengganggu bentuk situs.
    Tidak semua situs arkeologi dapat digali. Contoh situs yang berada dibawah atau telah menjadi bangunan bersejarah, atau tempat-tempat sakral seperti gereja, masjid, piramida, taman, dan sebagainya. Sekali lagi, metode geofisika non-destruktif dan sangat cepat bekerja, sehingga efektif dari sisi biaya dan bisa bermanfaat dalam jangka panjang.
    Arkeolog dapat menentukan prioritas menggali jika metode geofisika telah digunakan sebelumnya. Survei geofisika dapat mengungkapkan dalam banyak kasus tanah artefak-sarat vs tandus, dan mengungkapkan fitur bawah tanah penting seperti: dinding dikuburkan, rongga, terowongan, jalan-jalan kuno, dll
    Survei geofisika di sebuah situs yang dapat dilakukan hanya dalam waktu beberapa minggu, hasilnya akan sangat berguna selama bertahun-tahun untuk kerja penggalian para arkeolog. Mengingat perlu beberapa dekade untuk menjelajahi suatu situs sejarah bersejarah, bahkan ekskavasi total dari sebuah situs memang tidak praktis.
    Penyelamatan situs arkeologi telah menjadi prioritas dalam kebijakan beberapa kota modern di belahan dunia, dengan memanfaatkan geofisika, secara cepat arkeolog dapat memberikan rekomendasi perlindungan terhadap area situs sebelum di hancurkan oleh konstruksi baru di kota tersebut. Hal ini tentu sulit di lakukan dengan metodelogi biasa dalam dunia arkeologi yang membutuhkan waktu lama.

    METODE LEBIH BARU

    Ground Penetrating Radar (GPR) diciptakan pada tahun 1970-an, awalnya untuk tujuan militer seperti mencari lahan tambang dan terowongan militer bawah tanah. Seperti biasa, teknologi maju untuk keperluan perang, diaplikasikan oleh dunia usaha untuk keperluan mereka. GPR merupakan metode praktis untuk pemetaan pipa dan kabel dan pipa bawah jalan-jalan kota, juga lubang-lubang yang membayakan.

    Teknologi GPR telah terbukti berguna besar dalam dunia arkeologi, terutama di Israel. Radar dari udara jarang berguna bagi arkeolog hari ini kecuali untuk situs besar yang ditutupi oleh hutan seperti apa yang ditemukan di Yucatan atau Amerika Tengah.

    Borehole Technology. Radar, seismik dan resistivitas probe lainnya diturunkan ke dalam lubang bor di situs arkeologi, untuk mengizinkan geofisika menyelidiki di kedalaman. Sampel bor inti tanah dapat sangat membantu dalam mengidentifikasi tingkat bersejarah berbagai strata di sebuah situs arkeologi secara berlapis. Ketika ruang atau void yang dilakukan pengeboran, dapat dieksplorasi (dan dilakukan perekaman video) dengan menggunakan kamera kecil yang terhubung ke layar monitor. Lubang dibor di sebuah situs arkeologi, jelas jauh kurang merusak daripada parit atau terowongan dan mereka dapat diisi atau ditutup setelah digunakan. Yang lebih penting dari itu, metode ini praktis, cepat dan mudah di lakukan.

    Memang tidak semua individu atau perusahaan yang profesional dan kompeten mau menawarkan bantuan geofisika untuk para arkeolog, mengingat metode ini lebih menggiurkan digunakan pada dunia usaha seperti pencarian mineral. Dan para arkeolog juga tidak harus mengharapkan geofisika memberikan keajaiban untuk semua situs.

    Beberapa metode geofisika yang digunakan dalam pelayanan arkeologi hari ini:

    Detektor logam, yang memancarkan frekuensi sinyal arus bolak-balik ke dalam tanah melalui suatu kumparan pemancar. Instrumen sederhana jenis ini berguna untuk “menembak koin” di situs kota hantu tua, atau situs arkeologi (di darat atau di bawah laut), dan untuk menemukan deposit emas atau perak dalam urat kuarsa di tambang lapisan. Benda kecil seperti koin biasanya harus terletak dalam beberapa inci ke kaki permukaan yang akan dideteksi oleh detektor logam.
    Metode resistivitas, sepasang elektroda digunakan untuk mengukur secara kuantitatif pola tegangan pada permukaan yang dihasilkan dari pola aliran arus sepanjang garis lurus (“melintasi”). Area yang akan diperiksa dapat dicari lebih efisien, dan juga diperiksa di berbagai kedalaman pada saat yang sama.
    Georadar atau GPR dirancang untuk menyelidiki ke dalam bumi. Portable GPR sangat cocok untuk menemukan lubang, mendeteksi gua, makam dan sebagainya. Sebagai catatan, interpretasi GPR membutuhkan pengguna berpengalaman untuk hasil yang memuaskan.
    High-Frequency Seismic Sounding, dapat digunakan dalam batu atau dinding yang kokoh sebagai alat bantu diagnostik. Misalnya, Lembah Para Raja di Mesir memiliki redaman radar sangat tinggi, tetapi batu kapur yang sama bisa dideteksi dengan frekuensi tinggi gelombang suara untuk jarak jauh melampaui 100 kaki. Mengukur ketebalan dinding atau pilar ini mudah dilakukan dengan metode ini.
    Magnetometry, medan magnet bumi sedikit terganggu oleh beberapa jenis anomali arkeologi seperti tembikar tanah liat berbahan bakar.
    Gayaberat Mikro, medan gravitasi bumi sedikit berubah akibat adanya rongga bawah permukaan atau gua. Karena memerlukan operator terlatih yang sangat berpengalaman dan memakan waktu maka survei gravitasi telah jarang digunakan dalam arkeologi sampai saat ini.
    Citra dan Foto Udara, sebagai contoh penggunaanya adalah pada Temple Mount di Yerusalem. Tuvia Sagiv, seorang arsitek dari Tel Aviv, telah memperoleh beberapa gambar menarik IR (infrared) termal area Temple Mount, yang dilakukan dari jarak jauh (dari udara).

    Lambert Dolphin kemudian menutup artikelnya dengan sebuah komentar bahwa jika sebuah situs arkeologi yang kompleks dan penting, metode geofisika dapat sangat berguna karena non-destruktif dan cepat. Para arkeolog dapat menentukan prioritas penggalian berdasarkan hasil survei geofisika.

    Kemudian, beberapa situs yang terkubur di bawah situs lainya yang tak bisa di pindahkan (atau dihancurkan) karena alasan-alasan tertentu, tetap dapat di dipelajari dengan penginderaan geofisika. Dan kombinasi metode geofisika dapat saling melengkapi karena masing-masing memiliki kekuatan dan keterbatasan.

    Dolphin juga mengungkapkan bahwa Arkeologi adalah disiplin ilmu yang wajib dihormati, ilmiah dan telah memberikan informasi terbaik tentang sejarah manusia dan masa lalu. Dolphin berharap geofisika modern dapat membantu arkeolog bekerja lebih praktis dan efesien. (GK) http://www.kepadamu.com/fisikawan-senior-geofisika-membantu-arkeolog/

  7. berikut point2 yg saya ambil dr informasi2 diatas :

    “Mungkin selama ini arkeolog meneliti berdasarkan ‘what you see is what you get’. Tapi di geologi berbeda. Kami harus melakukan pengeboran agar mendapatkan apa yang tak terlihat di permukaan,” kata Danny Hilman.

    “. Danny Hilman menyebut Gunung Padang adalah man-made hingga kedalaman 20 meter. Namun, kesimpulan ini dibuat dengan catatan pengeboran baru dilakukan hingga kedalaman sekitar 25 meter. Danny yakin bukit ini tak terbentuk alamiah. “Ada yang bilang ini gunung purba, tapi saya melihat tidak ada intrusi magma,” ujar Danny.

    ” Beda pendapat dengan Danny, geolog Sujatmiko mengatakan Gunung Padang adalah gunung purba yang terbentuk alami. “Itu gunung purba di bawahnya, dan bangunan memanfaatkan morfologi, karena mereka ingin di atas,” ujar Sujatmiko. Sayangnya, Sujatmiko tak melakukan riset, hanya dari pengalamannya mengamati bentukan gunung. “Lagi pula, tak ada temuan piramida di nusantara selama ini,” ujarnya. ”

    ” Ahli geologi Awang Satyana membantah Sujatmiko. Dia mengatakan struktur punden berundak punya bentuk sama dengan piramida berjenjang atau step pyramid. “Piramida adalah bangunan yang semakin kecil mendekati puncak,” jelas Awang. Dia mencontohkan Borobudur yang juga punya struktur piramida.”

    “Pertemuan di Puslit Arkenas sangat positif karena terjadi pertukaran pengetahuan dan pandangan dari bidang ilmu masing-masing. Namun para peserta terutama yang berbasis ilmu sosial masih perlu waktu untuk beradaptasi dengan revolusi teknologi di dalam ilmu arkeologi,” ujar Didit.”

    “Arkeolog senior di Indonesia sekalipun belum beradaptasi dengan revolusi tersebut. Termasuk geolog senior seperti Sujatmiko sekalipun,” sambungnya.
    Menurut Didit, banyak arkeolog Indonesia yang menyandarkan pengetahuan dan penemuan mereka pada karya Thomas Raffles, Gubernur Inggris yang berkuasa di Nusantara antara 1811 hingga 1816, atau karya-karya arkeolog asing lainnya.Sementara penemuan masyarakat awam yang biasanya dilakukan tanpa sengaja, misalnya saat mencangkul sawah, selalu diabaikan.

    Selama ini mind set itu mendominasi para arkeolog sehingga saat Tim Katastropik Purba memaparkan hasil riset yang tidak lumrah terjadi perdebatan bahkan penolakan. Hal itu terjadi karena metode baru ini belum menjadi metode arkeologi Indonesia,” masih katanya.

    “Gunung padang yang dianggap situs oleh peneliti terdahulu menurut tim kami
    hanya mendefinisikan “topinya” saja, yaitu susunan teras batu di puncaknya
    saja (yang di dalam pagar), sedangkan ‘kepala’ dan ‘badan’nya tidak dianggap
    situs, alias sudah di-vonis bebas artefak. Hasil penelitian kami menunjukan
    sebaliknya, susunan terasering batu (buatan manusia) itu tidak hanya di
    atas bukit tapi melapisi lereng-lerengnya.”

    “Pak Pon Purajatnika
    (arsitektur) menyimpulkan bahwa susunan batuan dari puncak sampai kaki
    bukitnya bukan hasil kerja kebudayaan primitif yang asal-asalan tapi by
    design architect yang spectaculer dari peradaban yang sudah maju. Jadi dari
    hasil penelitian fakta didekat permukaan saja yang notabene dapat dilihat
    dan diraba sebetulnya sudah merupakan hal baru yang tidak main-main.”

    “Sekarang Gn Sadahurip sedang diteliti lebih 1 tahun. Penelitian hampir selesai. Gunakan metode scientific dan hati2. Hipotesa kuat ada piramida (man made) di dalamnya yg berharga buat sejarah Nusantara. Penolakan yg “tiba-tiba” dari beberapa fihak bukan berdasarkan riset seperti dari dinas pariwisata dan kebudayaan, serta dari ekspedisi kilat dari seorang ahli geologi yg jauh dari kaidah ilmiah tentu mengagetkan.”

  8. Paparan dan informasi yang menarik dan berharga dari Kang sony menurut saya, dan pelajaran yang bisa dipetik disana adalah :
    - Jangan dulu terlalu lebay dan hobi banget menstigma suatu informasi yg masih dalam taraf perdebatan dengan kata-kata hoax :) apalagi jika informasi dari masing2 pihak ( baik yang pro dan yang kontra ) juga merupakan ahli yang kompeten…lebih baik telaah,serap dan teliti lebih jauh informasi tersebut jika kita mampu dan didukung oleh ilmu yang berhubungan, jika tidak mampu, so biarkanlah para ahli yang lebih kompeten yang membuat info dan artikelnya.
    - Jangan terlalu sebegitu bencinya ( lebay banget lagiee ) sama KD hingga setiap kejadian2 atau info apapun dari pemerintah atau para pejabat yang berhubungan dengan KD,seolah KD lah main actornya padahal dia itu hanya sebatas dimintai bantuan advice nya saja.
    - Tolong jangan terlalu apriori sama kebesaran budaya masa lalu bangsa kita
    Kenapa sih baru peradaban piramida aja..udah pada kebakaran jenggot kayaknya…gak kebayang kalo misalnya ada penemuan pesawat ufo terkubur puluhan meter di pulau jawa ini..wah……pasti pada ribut; itu hoax,itu sampah,itu bohong, gak mungkin, masa jaman dulu bisa seperti itu…wah ngeramput! ( bahasa sampit nih )

    • Intisari-Online.com – Mengenai sebutan “piramida” untuk struktur bangunan yang terdapat di Gunung Padang, Ali Akbar S.S., M.Hum., arkeolog dari Universitas Indonesia yang ikut dalam tim pengungkap Gunung Padang, mempunyai pendapat sendiri. Menurutnya, sebutan piramida itu cuma istilah khas, yang mengacu ke Mesir. “Bentuk geometris piramida memang ada, tapi unsur-unsur seperti piramida di Mesir itu tidak ada,” kata arkeolog itu. Piramida Giza di Mesir itu dibangun di dataran, yang kemudian batu-batu disusun di atas dataran tersebut. Karena disusun secara sengaja, maka bisa dibangun ruangan di dalamnya.

      “Kalau Gunung Padang ini bukit alami, kemudian ditumpuk batuan. Fungsinya adalah tempat pemujaan, maka biasanya enggak ditemukan adanya makam biasanya. Dan karena dia bukit alami dan ditaruh batuan, maka enggak ada ruangan,” Ali melanjutkan penjelasannya.

      Ali memang sengaja menghindari penggunaan kata “piramida” untuk menyebut struktur yang baru saja ditemukan tersebut. “Karena memang bentuknya tidak menyerupai piramida. Dan juga bangunan ini konteksnya pemujaan, bukan pemakaman,” papar Ali. Seperti diketahui, Piramida di Mesir adalah tempat jasad Firaun disemayamkan.

      Dia lebih memilih menyebutnya punden berundak, karena kebudayaan punden berundak-lah yang mencirikan Nusantara, bukan piramida. “Kebudayaan itu sesuatu yang khas, enggak perlu berkiblat dengan kebudayaan bangsa lain,” Ali menjelaskan. Mesopotamia itu bangunan kunonya berbentuk zigurrat, melingkar ke atas. Colloseum di Italia itu berbentuk elips. Mesir, berbentuk piramida. Tembok Besar Cina berbentuk panjang. “Kalau Indonesia, ya, punden berundak!” kata Ali. Dia mencontohkan punden sejenis yaitu Situs Lebak Sibedug di Banten. Seharusnya, Indonesia percaya diri dengan kebudayaan punden berundak seperti itu.

      Kalau ditilik dari bentuk konstruksi utuh dan unsur-unsur pembentuknya, rekonstruksi situs Gunung Padang ini ada kemiripan dengan Machu Picchu di Peru, yang dibangun pada 1.450 tahun Sebelum Masehi. “Usia Gunung Padang yang lebih tua dan ukuran bangunan yang lebih besar, seharusnya bangsa Indonesia lebih percaya diri lagi,” kata Ali.

      Ali melanjutkan ceritanya mengenai situs ini, “Yang pasti, dulu, kalau ngomongin punden itu kesannya bangunan sederhana. Nyari bukit, kemudian batu disusun. Tapi dengan adanya situs ini, dengan kanan kirinya ada konstruksi, yang bikin bukan masyarakat sembarangan, tapi masyarakat yang sudah rapi, kenal teknologi.”

      • Sampai kini penemuan bebatuan yang menyerupai piramid di Gunung Padang, Cianjur masih jadi perbincanan orang. Mungkin jika situs ini dirawat dengan baik, bisa menjadi salah satu obyek wisata yang bakal ramai dikunjungi karena banyak orang yang penasaran. Sejumlah pihak meyakini bahwa itu adalah peninggalan bersejarah. Namun, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia, Jawa Barat, Nina Herlina Lubis tidak sependapat jika situs tersebut dikatakan sebuah piramid. Menurutnya, di Indonesia tidak pernah mengenal budaha piramid seperti di Mesir.

        Guru Besar Sejarah Unpad itu mengatakan seperti dikutip detik.com, ” Situs Gunung Padang adalah tinggalan arkeologis masa pra sejarah. Menurut para arkeolog, ini adalah punden berundak-undak, bukan piramid. Di Indonesia tidak dikenal membuat piramid seperti di Mesir.” Dia malah meyakini situs di Gunung Padang, Cianjur ini lebih mirip dan setipe dengan Situs Lebak Sibedug yang berada di Banten. http://jakartamagazine.com/piramida-di-gunung-padang-cianjur-bukan-seperti-piramid-di-indonesia-tidak-ada-budaya-piramid/

      • Tak Setua Perkiraan, Situs Gunung Padang Bukan Piramida

        WARTAKOMPTRAS.COM, JAKARTA – Selama ini diributkan sebagai piramida, situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, yang , ternyata bukan. Hal itu disampaikan peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Harry Truman Simanjutak. “Bukan bagian dari Atlantis, dan belum bisa dikatakan sebagai piramida,” ujarnya, dalam “Rembuk Arkeologi Situs Gunung Padang” di Jakarta, Kamis (29/3).

        Harry memaparkan, Situs Gunung Padang tidaklah setua yang disangka orang. “Banyak yang menyangka bahwa situs tersebut berasal dari zaman 11 ribu tahun lampau. Padahal situs itu jauh lebih muda. Peradaban modern di daerah itu baru muncul 6-000 tahun yang lalu,” jelasnya.

        Perkiraan bahwa Gunung Padang berasal dari 11 ribu tahun silam itu semula muncul dari pendapat Plato mengenai sebuah peradaban sangat maju yang belakangan dikenal sebagai Atlantis. Dari sinilah banyak peneliti berlomba-lomba mencari keberadaan Atlantis. “Hingga akhirnya ada buku karya Arysio Santos yang mengatakan bahwa Atlantis ada di Indonesia, tepatnya di Tanah Sunda,” kata Harry.

        Namun Harry mematahkan argumen Santos karena peradaban maju di Indonesia baru masuk sekitar 4.000 tahun lalu. Dia juga menyayangkan langkah Santos membuat penelitian tapi tidak pernah turun langsung ke Situs Gunung Padang.

        Sementara itu, peneliti dari Pusat Survei Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Sutikno Bronto, mengatakan awalnya batuan di Situs Gunung Padang berbentuk menjulang tinggi seperti menara, yang disebut kekar kolom.

        Kekar kolom ini dihasilkan dari sedimentasi muntahan gunung purba Karya Mukti, yang menjadi asal-muasal Gunung Padang. Setiap kali Gunung Karya Mukti memuntahkan lahar, ada yang menumpuk di bibir kawahnya dan lama-lama menumpuk seperti menara. Saat gempa besar terjadi, kekar tersebut runtuh menjadi balok-balok yang berserakan. “Kejadian ini terjadi berkisar antara 2 juta dan 60 juta tahun yang lalu,” tandasnya. Ini merujuk pada kategori Gunung Purba Karya Mukti yang tergolong berusia tersier. (man)

      • perhatikan paragraf terakhir Bung PA yg terhormat :

        “ Tapi dengan adanya situs ini, dengan kanan kirinya ada konstruksi, YANG BIKIN BUKAN MASYARAKAT SEMBARANGAN, tapi masyarakat yang sudah rapi, kenal teknologi.”

  9. wah…bener2 udah gak objektif nih…orang yang sepaham dgn admin sepertinya gak perlu dimoderasi…
    ane yang sering kontra dimoderasi…lama lagi….. wah wah wah..pertanda udah mulai gak sehat nih :(

    • Itu kata Prof Dr. RP Koesoemadinata,,,

      kan Mas Sony jg mengemukakan artikel yg pro Piramid, agak lama jg sih bacanya. semua artikelnya di copy-paste aja, baiknya sih cukup menampilkan link nya,,,

      nah agar berimbang sy pun jg berhak memposting pendapat yg Kontra Piramid, namun sy berharap pemerintah segera mengumumkan hasil risetnya, sesuai dgn janjinya hasil riset gunung padang akan diumumkan Kantor Sekretaris Negara pada tgl 14 Agustus 2012, mari kita tunggu

  10. @Bung LM : justru bagus lah kalo komen anda gak muncul, itu artinya admin blog ini sudah semakin dewasa dan tidak alergi kritik, mereka bisa memfilter kira2 komentar mana yang “layak” atau tidak dan komentar mana yang justru bisa “menaikan suhu” diskusi seperti yang sering anda bawa.. :)
    Salut juga Admin yg sudah berusaha bijaksana,dewasa dan objektif agar suhu diskusi jadi lebih baik.

  11. Logika tentang punden berundak masuk akal juga.. Di lampung ada situs megalitik punden berundak, tepatnya situs pugung raharjo.. Secara antropologi, masyarakat sunda lebih dikenal membuat gundukan batu di gunung untuk pemujaan.. Teknologi yang dimiliki masyarakat sunda kuno pun lebih memilih bambu untuk bangunan daripada batu

    • @Bung LM : nah..komentar yang kayak gini dong… datar datar aja kan bisa ?
      sejuk didengar dan bisa memancing bantahan yang ilmiah bukan bantahan yang provokatif. :)

      • Bung sp kalau menanggapi komen saya, maaf, setingkat di bawah kriteria intelek.. Semestinya kalau komen saya dirasa tidak intelek mbok yao direply dengan komen yang elegan.. Tidak terus menjudge dengan bahasa yang kurang cerdas..

  12. @Bung LM : ketawa dulu ah…maaf ya bung LM, selama anda masih “bermain-main” diarea provokatif, selama itu pula saya akan menanggapi anda tidak dengan kriteria intelek tapi juga kriteria antitesa juga supaya anda juga diingatkan untuk tidak terus menerus berkomentar yang tidak elegan dan menjurus penghinaan terhadap pribadi orang lain.

  13. @Rely : maaf om,…berhubung adminnya agak2 diam saja menyaksikan komen2 ala bung LM,maka dengan berat hati saya tanggapi setiap komen dari siapapun yang “nyerang pribadi” orang lain….maaf ya om bukan salah aku om…

  14. klo aq sich mau d yakinkan sama sp z ttp g percaya,klo gunung padang itu= piramida, kecuali ada bukti yg jlas berwujud piramid d gunung padang baru aq bs percaya.

    • @TS
      Keyakinan anda boleh sprt itu, sy pun jg menghargainya,,,

      Mudah2an pemerintah tdk Lebay dan tdk lg berbohong mengenai hasil risetnya yg akan diumumkan besok di kantor SekNeg yg sekaligus bertepatan dengan seminar Pidato Kebudayaan bertemakan “ Cara Baru Memandang Peradaban, Kebencanaan dan Kemakmuran Indoensia Masa Depan”

      @SP dan @LM
      Harap menahan diri dikitlah,,,biar pahala puasanya gak di diskon, bentar lg buka Nih, kan lbh enak klo kita terima pahalanya 100%,,,

      Sdh ahh,,sy mo nyari kentaky ala gerobak pinggir jln buat buka sm istri,,he.he.he..
      (-60′ buka puasa, Mks dan sekitarnya)

    • Iyalah saya ngalah.. Ikut apa mau bung sp ajalah.. Gunung Padang itu piramid.. Iya itu.. Bener.. Kalau nggak percaya, pakai itu autocad trus bikin konstruksi piramid 3D lalu ambil relief 3D gunung padang lalu masukin ke konstruksi piramid.. Dah dapet atuh.. Gunung padang mah bener piramid.. Apa kata bung sp mah bener.. Iya lah..

      • @bung LM : maaf ya pak…jgn masuk hati dong :) supaya Anda lebih mengenal saya,berikut saya paparkan gaya saya ngobrol ya :)
        - saya tidak akan mengomentari isi artikel apabila saya tidak paham Dan tidak ada ilmu ttg nya.
        - utk artikel yg saya tdk memiliki ilmu ttgnya,saya lebih suka berkomentar datar aja Dan lebih menganggapnya informasi penting buat saya jadi saya tdk akan ada dalam posisi pro atau kontra
        - Insya Allah saya tdk akan pernah menyerang secara pribadi baik itu halus apalagi kasar thd siapapun baik yg sepaham atau tidak
        - saya sangat benci dgn stigma,sindiran apalagi cacian baik halus maupun kasar, jadi saya akan bereaksi thdp siapapun yg melakukan itu baik yg sepaham atau tidak
        -jikapun saya terlihat ngotot Dan frontal itu artinya bahwa saya Dan lawan diskusi saya menurut saya tidak akan pernah bertemu dalam satu kesepakatan.
        Itulah sekilas Cara saya berdiskusi yg sehat,saya rasa semuapun pasti gak jauh beda dgn saya termasuk Anda ya pak. Mudah2an saya juga bapak Dan yg lain bisa berdiskusi yg lebih baik lagi kedepannya

      • kalau anda sudah kenal saya ya? saya sendiri belum kenal diri saya secara langsung… saya kenal diri saya juga dari lawan diskusi saya… ketika ada gap di situlah saya mengenali diri saya sebenarnya… kalau saya mah mempersilakan orang lain jadi diri mereka sendiri… toh yang nilai mereka juga bukan cuma saya… apakah diterima atau tidak ya terserah mereka… dan terserah juga orang-orang mau menilai gimana… memang susah ya mengamalkan dasa darma pramuka nomer sepuluh “suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan” … :)

  15. kelompok yg menentang didasari pada pendapat sutikno & sujatmiko
    “Gunung Padang merupakan sumbat lava di dalam kawah Gunung Api Purba, dan kemungkinan besar bukan Piramuda,”

    dan ini bantahannya :

    “Mungkin selama ini arkeolog meneliti berdasarkan ‘what you see is what you get’. Tapi di geologi berbeda. Kami harus melakukan pengeboran agar mendapatkan apa yang tak terlihat di permukaan,” kata Danny Hilman.

    “. Danny Hilman menyebut Gunung Padang adalah man-made hingga kedalaman 20 meter. Namun, kesimpulan ini dibuat dengan catatan pengeboran baru dilakukan hingga kedalaman sekitar 25 meter. Danny yakin bukit ini tak terbentuk alamiah. “Ada yang bilang ini gunung purba, tapi saya melihat tidak ada intrusi magma,” ujar Danny.

    ” Beda pendapat dengan Danny, geolog Sujatmiko mengatakan Gunung Padang adalah gunung purba yang terbentuk alami. “Itu gunung purba di bawahnya, dan bangunan memanfaatkan morfologi, karena mereka ingin di atas,” ujar Sujatmiko. Sayangnya, Sujatmiko tak melakukan riset, hanya dari pengalamannya mengamati bentukan gunung. “Lagi pula, tak ada temuan piramida di nusantara selama ini,” ujarnya. ”

    ” Ahli geologi Awang Satyana membantah Sujatmiko. Dia mengatakan struktur punden berundak punya bentuk sama dengan piramida berjenjang atau step pyramid. “Piramida adalah bangunan yang semakin kecil mendekati puncak,” jelas Awang. Dia mencontohkan Borobudur yang juga punya struktur piramida.”

    yg perlu digaris bawahi & tdk diketahui para pengikut pendpat ini adlh bahwa penolakan2 tsb bukan berdasarkan riset

    ” Penolakan yg “tiba-tiba” dari beberapa fihak bukan berdasarkan riset seperti dari dinas pariwisata dan kebudayaan, serta dari ekspedisi kilat dari seorang ahli geologi yg jauh dari kaidah ilmiah tentu mengagetkan.”

    mau berkilah apalgi PA…?, informasi yg sudah jelas & gamblang msh saja di putar2

    • kesimpulan yg diambil tim ahli yg diketuai DR.Dany Hilman adlh berdasarkan riset langsung kelapangan,menggunakan metode scientific dan hati2 ,membuthkan waktu berbulan2 & menggunakan peralatan2 modern jd bkn hanya berdasarkan kunjungan singkat aplgi asumsi2 seperti yg kencang didengung2kan kelompok2 yg menentang….

      berfikirlah jernih & open mind….

      • Bung sony.. jangan samakan antara proses penemuan borobudur dengan piramida gunung padang… beda bung… Borobudur ditemukan bukan berdasarkan riset… tapi ditemukan dengan tidak sengaja lalu diadakan riset… sementara gunung padang dan sadahurip diawali dugaan terlebih dahulu lalu diadakan riset… adalah terlalu awal untuk mengambil kesimpulan adanya piramid sedangkan risetnya tidak memiliki cukup waktu dan masih berdasarkan hipotesa… beda dengan borobudur yang memang sudah ditemukan dulu lalu baru diriset…

      • tambahan tim ahli yg diketahui oleh DR. Dany Hilman sudah melakukan Metode Ilmiah dalam penelitian mereka merupakan ahli dibidangnya,alat yg digunakannya jelas,metodenya jelas menganalisa berdasarkan fenomena yg ada akan sulit bagi kita utk membantahnya hanya dengar opini at argumen berdasarkan angan2 kita saja jika ada bantahan terhadap penelitian DR Danny Hilman harus bantahan berdasarkan penelitian dan metode yg ilmiah jg baru kritik ini membangun khasanah ilmu pengetahuan…

  16. @Pak LM : jadi inti dari bantahan bapak adalah gunung padang bukan piramida,begitukah? jika prediksi saya tepat, bukankah itu juga kesimpulan yang terlalu cepat?

  17. @Pak LM : pak,..tentu saja saya tidak mengenal anda :), tapi setidaknya di blog ini saya bisa sedikit mengenal orang2 lain seperti Pak PA,mas Wid,bung rely,bung TD,juga Bapak,…ibarat pepatah; burung dikenal dari nyayiannya,manusia dari kata-katanya ( juga tulisannya ). Jadi setidaknya disitulah cara saya saling mengenal pak. Seperti nya saya menangkap masih ada sedikit kejengkelan anda thdp saya ( mudah2an saya salah ), tapi tak apa,toh nanti juga terlihat siapa dan bagaimana kita sebenarnya. Salam :)

  18. Gitu aja repot… kalau pendapat saya ringan aja… itu jangan – jangan ka’abah purba, yang oleh orang arab yang datang dari gujarat itu terkesima.. karena keindahannya.. maka mereka bercita-cita memindahkannya ke ARAB seperti sekarang ini… Sebab zaman dulu orang menunaikan Haji itu adalah ke sini , tetapi sekarang karena Ka’abah dipindahkan maka Naik Haji menjadi ke ARAB… dan kita menjadi kehilangan DEVISA setiap Musim Haji… cuma masalah penghasilan saja ( Devisa ) nampaknya Ka’abah Purba harus dipindahkan oleh orang Islam yang menjajah kita sampai sekarang.. untuk selalu membawa Devisa ke ARAB

  19. Pak Perdana akhmad …. Anda selaku ilmuwan seharusnya jangan komentar kalau belum tahu pasti apa yang ada di gunung padang itu… Malahan saya sudah dapat bocoran dari ALLOH, gunung padang merupakan merupaka KA”ABAH PURBA yang dipergunakan untuk naik HAJI… sehingga kita memang kaya raya dari dulu… Karena persaingan DEVISA akhirnya sekarang KA”ABAH malahan dipindah ke ARAB… dan kita setiap tahun harus bawa duit banyak ke ARAB.. agar disediakan SURGA setelah mati… anda sudah naik haji belum…. Berapa duit yang sudah disediakan…? Nah sekarang gini ajalah.. lebih baik dibiarkan menggali Gunung Padang lagi, nanti kalau sudah jadi kita kan tentu kebagian DEVISA LAGI… Sekarang baru ditemukan batu yang ukurannya JUMBO itu aja, DEVISA UDAH DATANG… apalagi nanti kayak BOROBUDUR itu yang diklaim sebagai peninggal NABI SULAIMAN (Tanya bang Samantho ).. tentu akan diklaim LAGI dan saling klaim tentunya… Rame kan..?????

      • Pastilah bang.. ngapain juga seprti sekarang kiblat aja terkadang tak jelas… lebih jelas lebih baik kan.. Cianjur memang kiblat kita dari yang sempat pindah ke negara lain.. yohoi……….keren kan..?

  20. Mungkin hrs orang belanda at inggris yang menemukan & meneliti situs gunung padang, bangsa kita br bisa bersatu, menerima & manggut2. Santos meneliti 30 thn br berani menyatakan atlantis ada di indonesia, ahli kita mah cm perlu hitungan hari sdh bs menyanggahnya. Hebat! Sekali2 perlu jg keluar dr frame selama metode yg digunakan benar.

  21. US lab validates Cianjur ‘ancient structure’ theory
    The Jakarta Post, Jakarta | National | Mon, November 05 2012, 7:52 AM
    A- A A+

    Paper Edition | Page: 4

    A recent analysis of carbon-dating by the Miami-based Beta Analytic Lab has apparently validated findings by a government-sanctioned team that a man-made structure, buried under Mount Padang in Cianjur, West Java, is older than the Giza pyramid.

    Carbon-dating test results from the Miami lab show that the structure could date back to 14,000 BC or beyond.

    The lab used samples of sand, soil and charcoal found at a depth of between three and 12 meters beneath the mountain’s surface.

    The Giza pyramids were constructed around 2,500 BC.

    “The analysis of the Miami lab dismisses doubts over an earlier test conducted by the National Nuclear Agency [Batan]. There is no more doubt that the structure beneath Mount Padang is older than the Giza pyramid,” geologist and member of the Mount Padang research team Budianto Ontowirjo said on Sunday.

    A group of researchers, coordinated by President Susilo Bambang Yudhoyono’s special advisor on disaster mitigation and social assistance Andi Arief, commissioned a study about the ancient “structure” “buried” under Mount Padang at the beginning of this year.

    Andi reportedly believes Indonesia was inhabited by people with sophisticated technology after he found much evidence beneath the land and sea around Sumatra, Java and Bali. Yudhoyono has given his support to the project.

    In February, the group published its findings, claiming that the structure might change the history of the nation as we know it. Indonesia’s history might well start before 4 AD.

    “If the structure beneath the mountain is naturally constructed, then the age revealed by carbon-dating process should have been much greater,” Budianto said.

    Any natural material buried between three and 12 meters under the surface should have been millions of years in age, Budianto said.

    The fact that the material beneath Mount Padang is relatively young indicates that it probably is man-made.

    Besides the result of the carbon-dating, Budianto and his colleagues also claim that they had found other concrete evidence to show that pre-historic men might have erected structure in the mountain.

    “We found motives in the forms of tiger’s claws or a kujang [dagger], which are engraved on the stones there. We suspect they are letters to mark the stones,” he said.

    Earlier this year, the preliminary finding was met with criticism and objections by a larger group of geologists and archeologists. Activists have also called the project a waste of the state’s budget as it has spent billions of rupiahs. Environmentalists, meanwhile, have expressed concern that the research could damage the ecosystem around Mount Padang.

    Meanwhile, archeologist Ali Akbar of the University of Indonesia said that it was premature to conclude that the Mount Padang structure was man-made.

    Ali said that before drawing such conclusion, the team would need to start a massive excavation project to unearth the whole structure beneath the mountain.

    Early indications show however, that the structure was probably man-made.

    “Found at the site were blocks of stones which are neatly placed three meters beneath the ground. I suppose they were not naturally placed there,” Ali said.

    SUMBER: http://www.thejakartapost.com/news/2012/11/05/us-lab-validates-cianjur-ancient-structure-theory.html

  22. heran,koq pada ribet ribut soal gunung padang sih?….soal bener atau tidaknya ada bangunan purba digunung padang,siapa yg tau pasti?…soal ada atau tidaknya peradaban maju dinusantara dulu,siapa jg yg tau pasti?….kita tunggu aj hasilnya..
    slama masih dlm tahap penelitian dan dugaan,jgn dulu kita memvonis…
    jd daripada buang energi…mending kita nunggu aj,sambil ngopi bareng…apalagi kl ada yg mau traktir….wah lebih mantabh tuh….hehehe

  23. buat bung PA,…gunung padang memang bukan piramida,para peneliti sendiri gak brani menyatakan itu piramida,cuma menduga ada bangunan kuno “seperti piramida” ….jd ya itu td,jgn terlalu cepat memvonis…

  24. hmm
    melht koment2 dr teman2, menunjukkan pd q betapa bodohnya q, banyak se x istilah2 yg tak q mengerti.
    tp klo bor mengebor, tnya sma inul, dia lbh phm hehehe..
    pengalaman q dlm bor(tuk buat sumur)
    - tnh urug
    - tnh putih yg liat(lengket)
    - batu putih (sejenis batu kapur)
    - batu keras sejenis kolar
    - kdng2 ruang kosong (air akan menghampar)
    - pasir hlus (pasir beku)

    kalo pasir beku dah tembus q stop bornya coz dah banyak air di situ.

    jd jgn hnya krna air hlang diykini ada ruang layaknya kmr.
    wallahu a’lam

  25. bingungnya kalau itu adalah karya di zaman “megalitikum”, “zaman pra sejarah”, “zaman manusia belum mengenal tulisan”, lalu manusia pertama yaitu nabi adam, hidupnya di zaman apa ya..

    diatas kan ditulis menurut prof siapa, atau si ahli apa, itu bukanlah piramid seperti piramid mesir yang sudah mengenal tulisan, nah berarti penghuni gunung padang belum kenal tulisan, manusia primitif yang menyembah alam.. dia darimana ya.. turunan nabi adam bukan.

  26. Arkeolog dan pengamat yang lulus nyogok ini, tidak melihat bahwa potongan batu ini sangat halus dan mirip puzle sempurna seperti kuil di bolivia yang diantara celah batu memiliki tingkat kehalusan tinggi dan sangat simetris walau tidak memakai mesin.
    udahlah kalian tak perlu jadi ilmuwan urusin saja kenaikan pangkat dan pensiunan kalian, takut kalian mati kelaparan dihari tua

Tulis komentar balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s