FATWA KYAI MAHRUS ALI : MENJADI KASYAF BERKAT KHADAM MALAIKAT RAJAH ASMA’ AL-LATHIF

Abul Abbas Ahmad bin Ali al-Buni dalam kitabnya Syamsul Ma’arif menjelaskan. Barangsiapa yang membaca jimat tersebut akan dipermudah rezekinya, cepat mencapai tujuan dan akan mendapatkan belas kasih dari Allah (Syamsul Ma’arif halaman 462). Bila seseorang membuat tempat untuk khalwat dengan melakukan tirakatan/riyadhah sembari membacanya sebanyak 16641 sampai empat puluh kali yakni sekitar empat puluh hari, maka malaikat bernama Qatya’il kan turun padanya. Di berkata, ‘wahai Tuhanku!Hamba-Mu memanggilku dan minta kepadaku untuk memenuhi hajatnya.” Malaikat tersebut akan turun, baik saat tengah terjaga atau tidur, sesuai kemampuan dan kesiapan jiwanya. Lalu orang tersebut diberi kasyaf yakni bisa melihat kaan matinya atau hidupnya dan mengetahui apa yang dikehendakinya bahkan diberi beberapa keisimewaan lagi. Asma’ tersebut bisa untuk kebaikan dan keburukan, sesuatu yang berbahaya atau bermanfaat. Bila dibaca oleh orang yang mengalami kesulitan maka kesulitannya akan dipermudah.”

Baca lebih lanjut

KISAH TOBAT KYAI AFROKHI DARI TBC (TAHAYUL, BID’AH, CHURAFAT)

Pengantar Admin : Pada kesempatan ini, saya akan memberikan kesaksian dari Kyai Afrokhi seorang mantan Kyai yang dahulunya terkena virus TBC (Tahayul, Bid’ah dan Churafat). Kesaksian ini akan saya lanjutkan dengan kesaksian Kyai Mahrus Ali mantan Kyai “TBC” lainnya yang telah bertaubat (harap sabar saya lagi mengetik ulang).

BERIKUT INI KESAKSIANNYA :
“Terus terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid’ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga tempat-tempat yang dianggap keramat sekaligus menjadi imam tahlilan, ngalap berkah kubur, marhabanan atau baca barzanji, diba’an, maulidan, haul dan selamatan yang sudah berbau kesyirikan”

“Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90)

“Kita biasa melakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim pahala bacaan kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut atas dasar kebodohan kita. Bagaimana tidak, contohnya adalah saya sendiri di kala masih berumur 12 tahun sudah mulai melakukan ziarah ngalap berkah dan kirim pahala bacaan, dan waktu itu saya belum tahu ilmu sama sekali, yang ada hanya taklid buta. Saat itu saya hanya melihat banyak orang yang melakukan, dan bahkan banyak juga kyai yang mengamalkannya. Hingga saya menduga dan beranggapan bahwa hal itu adalah suatu kebenaran.” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 210)

Beliau adalah Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren “Rahmatullah”. Nama beliau tidak hanya dibicarakan oleh teman-teman dari Kediri saja, namun juga banyak diperbincangkan oleh teman-teman pengajian di Surabaya, Gresik, Malang dan Ponorogo.

Baca lebih lanjut

Enaknya Jadi Orang Sakti

Jadi orang sakti? Wah pasti enak sekali. Bisa terbang, melompati pagar dan pohon, berjalan di atas air dan memiliki pukulan sedahsyat angin Tornado. Kalau marah tinggal mengibaskan tangan dan musuh terpental puluhan meter. Mau perempuan cantik juga tinggal pasang eksyen, pasti banyak gadis tergoda. Apalagi kalau ilmu kesaktiannya ditambah dengan kemampuan mempengaruhi perasaan orang lain. Wah, pokoknya enak… Muantep tenan..

Itu sebagian yang terpikir di kepala saya waktu pertama kali ikut perguruan tenaga dalam. Saat melihat orang-orang tenaga dalam melakukan atraksi di TV, saya tergoda sekali. Bagaimana tidak, saya lihat mereka begitu hebatnya. Bisa mematahkan besi dan beton hanya dengan pukulan tangan. Malah waktu ada yang coba memukul, si pemukul justeru terpental. Wah, pokoknya saya juga harus bisa.

Ya, harus bisa… itu tekad saya yang berbadan  kecil ini waktu itu. Saya tidak mau lagi jadi ‘bulan-bulanan’ anak sebaya saya yang badannya rata-rata besar. Sering saya harus memendam kesal karena tak berani melawan mereka. Kalau saya sudah bisa tenaga dalam, saya akan tantang mereka. Kalau mereka coba memukul saya, mereka pasti terpental tak berdaya. Nah, kalau sudah begini saya yang akan balas memukul dengan kekuatan tenaga dalam sampai tulang belulang mereka remuk. Wuih, sadis juga saya ya?

Baca lebih lanjut

Anak Indigo Bertingkah Aneh Karena Bisa Melihat Jin

Sosok anak kecil (8 thn) berkaca mata yang tinggal di Bekasi itu terkesan tenang dan pendiam. Tapi siapa sangka di balik ketenangannya itu ia menyimpan sebuah kisah penuh misteri. Awal mula keanehan itu seakan merupakan suatu kelebihan, karena si anak bisa melihat jin yang tidak terlihat oleh orang yang bersamanya. Namun, perjalanan selanjutnya ternyata melahirkan suatu penderitaan yang beruntun yang harus ditanggung oleh “si anak indigo” itu.

Dirumah orangtuanya yang asri, merangkap sebagai tempat pembelajaran anak-anak, Majalah Ghoib berbincang santai dengan kedua orangtuanya. Inilah penuturannya.

Baca lebih lanjut

Gagal Kredit 7 Milyar dari Bank Jin (Bank Ghoib)

Gagal Kredit 7 Milyar dari Bank Jin

“Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak” Ungkapan yang tepat untuk menggambarkan deritaMulyadi (nama samara). Seorang wakil manager perusahaan Jepang di Bekasi yang berasala dari Medan. Bagaimana tidak, harapan dan impian menjadi milyuner kandas di tengah jalan. Berganti dengan derita. Hidup tertatih-tatih delapan bulan lamanya. Dan, harus menjual rumahnya senilai tujuh puluh juta untuk membayar hutang setelah tertipu mentah-mentah melakoni drama peminjaman uang di bank ghoib. Berikut petikan kisah nyata yang disampaikan langsung ke Majalah Ghoib di rumahnya, di Bekasi.

Perkenalan saya dengan Bustari (nama samaran) terjadi pada tahun 1998 ketika sama-sama mengobati orang yang kena santet. Saat itu, saya mengenalnya sebagai “orang pinter” yang baik hati dan suka membantu sesama. Itulah kesan pertama yang saya rasakan. Semenjak itu saya sudah tidak berhubungan lagi. Tapi kra-kira pada bulan Juli tahun 2001 adik saya, Anton (bukan nama sebenarnya), datang dari Medan untuk mencari kerja. Setelah saya perhatikan nampaknya Adik saya juga punya ilmu yang cukup keras “ilmu preman”. Ia cepat naik darah. Lalu, saya sarankan agar ilmunya dibuang saja dan ia setuju.

Akhirnya saya ajak dia ke Bustari. Kata Bustari proses pembuangan ilmu itu memakan waktu dua minggu sampai satu bulan. Namun, rencana itu dibatalkan karena ia harus kembali ke Medan untuk menjaga bapak yang sedang sakit. Selain itu, Bustari sempat mengajarkan ilmu nyedot pusaka dari alam ghoib dan memberinya bambu kuning yang ruasnya ketemu, atau lebih terkenal dengan bambu pethuk. Ternyata harga bambu pethuk sangatlah mahal, bisa mencapai tiga ratus juta rupiah.

Baca lebih lanjut

Ilmu Pagar Ghoib “Tenaga Dalam” Asma’ul Husna

KUTINGGALKAN tanah kelahiranku di Sumatera di pertengahan tahun.

Kuturuti kata hati. Merantau ke tanah jawa demi cita-cita yang membuncah di jiwa. Bukan gelar dokter atau insinyur yang ingin kusandang.

Atau atribut duniawi lainnya. Aku hanya ingin menyambung cita-cita orangtua yang belum kesampaian. Mereka telah lama ingin mendirikan pesantren. Tapi apalah daya. Keterbatasan pemahaman agama membatasi gerak mereka.

Sebuah pesantren di jawa Tengah menjadi labuhan harapan. Puluhan kitab berbahasa Arab mulai menjadi harian. Aku terbilang anak yang menonjol di kelas. Setelah menamatkan satu kitab, kami menerima amalan atau lelakon yang harus dijalani. Setiap kitab berbeda amalannya. Ada yang harus puasa tiga hari. Ada yang satu minggu. Atau merapal wirid dalam bilangan tertentu. Dan ada pula yang pantang menyantap makanan yang bernyawa. Tiap hari mereka hanya mengkonsumsi makanan nabati. Baik dari dedaunan atau yang lainnya. Dalam setahun, setidaknya aku menamatkan tiga puluhan kitab. Sudah bisa dibayangkan bagaimana kehidupan santri di sana. Ya, kuakui tujuh puluh lima persen santri mengamalkan berbagai amalan-amalan itu.
Baca lebih lanjut

Iblis Membelenggu Suamiku

Sebut saja namaku Saripah (53). Aku lahir di sebuah desa miskin, Teluk Lada, Provinsi Banten. Desa ini mulai ramai sekitar tahun 1950-an, seiring datangnya transmigrasi lokal dari tegal, Jawa Tengah. Masyarakat pada umumnya menggantungkan hidup dari bertani. Bahasa sehari-harinya terbagi dua, warga asli berbahasa Sunda dan warga pendatang, berbahasa Jawa dialeg Tegal.

Pergelutan Bathin Seorang yang Mendalami Ilmu Kejawen.

Jangan setengah-setengah dalam menjalankan agama. Jadilah seorang muslim yang utuh dan tidak sekedar Islam KTP.Apalagi bila ajaran agama bercampur dengan kepercayaan yang tidak jelas dan bertentangan dengan syari’at Islam. Salah-salah bisa mendatangkan bencana yang berkelanjutan. Seperti yang dialami Sutrisno.Bapak beranak satu ini mengalami derita yang berkepanjangan. Sepuluh tahun hidup dalam ketidak tenangan akibat salah langkah dalam beragama.Sebagaimana disampaikannya kepada Majalah Ghoib di Jakarta.Berikut ini petikan kisahnya:

Tragedi Jin Paimin

Nama saya Agus Wibowo. Saya dilahirkan di Bandar Lampung Sumatera, di lingkungan masyarakat dan keluarga kejawen yang jauh dari norma-norma Islam. Sejak kecil saya tidak mengenal shalat dari anggota keluarga saya atau tetangga saya, bahkan Pak De (paman) saya seorang dukun yang sering dimintai tolong oleh masyarakat untuk urusan-urusan tertentu. Benda-benda pusaka yang sudah diwarisi secara turun-temurun dari kakek-kakek saya masih ada dan dirumat (dirawat) dengan baik.
Baca lebih lanjut

KESAKSIAN MANTAN MASTER WASKITA REIKI (2)

Nama saya Bayu (nama samaran), umur 32 tahun, agama Islam alamat di Temanggung. Sejak selepas SMU ( 1993 ) saya menderita hipertensi, saya sudah berobat kesana kemari baik yang medis maupun non medis tetapi tidak ada hasilnya, hingga awal Juli 2004 saya mulai mengenal yang namanya REIKI, melalui yayasan W Reiki Magelang. Pertamakali saya mendapat informasi tentang reiki dari istri yang kebetulan dikantornya setiap minggu diadakan pengobatan massal, pertama kali saya ditransfer energi, badan saya bergerak dengan sendirinya begitu hebatnya sampai sampai kursi yang saya duduki bergerak gerak selama setengah jam, setelahnya saya merasakan badan saya agak enak, kemudian malamnya saya minta ditransfer lagi, karena merasa hasilnya enak saya berniat ikut lokakarya, tetapi dalam hati saya ada keragu raguan transfer energi ini bersinggungan dengan jin ataukah tidak ya. Setelah berdiskusi dengan istri dan beberapa praktisi yang sudah saya kenal, mereka meyakinkan saya bahwa reiki ini tidak menggunakan/berkolaborasi denga jin, maka dengan hati mantap minggu itu juga saya ikut lokakarya yang diadakan di hotel Puri Asri Magelang.

Baca lebih lanjut