Oleh : Perdana Akhmad S.Psi

Assalamu’alaikum.

Kali ini ada yang cukup menarik untuk kami bahas mengenai sosok yang sudah dikenal sebagai penentang ruqyah syar’iyyah nomor wahid, Yaitu Dicky Zainal Abidin. Dicky ini adalah guru besar Hikmatul Iman yang semua hasutan dan fitnahnya terhadap da’wah Ruqyah Syar’iyyah sudah kami bantah di sini

Dicky ini sangat dikultuskan oleh para muridnya hingga terkadang semua perkataan Dicky ini selalu diamini walau bertentangan dengan pendapat jumhur ulama.

Pada pembahasan kali ini kami akan mengkritisi ucapan jahil tanpa ilmu Dicky yang menganggap hadits termaktub dalam Shahih Muslim bahwa Nabi bersabda,“Barangsiapa yang datang kepada peramal lalu bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari atau 40 malam.” (Riwayat Muslim) adalah bukan hadits dan hanya ucapan Imam Syafi’i. Namun lucunya, perkataannya bahwa tidak ada hadits yang mengatakan ,“Barangsiapa yang datang kepada peramal lalu bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari atau 40 malam.” Dibantahnya sendiri setelah muridnya menginformasikan bahwa ada perawinya maka buru-buru diralat dan sekali lagi Dicky ini mengingkari keshahihan hadits tersebut (kami sangat mencurigai Dicky ini seorang Ingkar hadits/sunnah).

BERIKUT INI PETIKAN TANYA JAWAB DICKY DENGAN SESEORANG YANG BERNAMA “PEMBERONTAKNORMA” (bisa dilihat linknya di sini) :

pemberontaknorma wrote on Feb 6

kang bagaimana hadis yg menyatakan jika seseorang datang ke orang yg mengetahui hal2 gaib termasuk minta dicarikan benda hilang dsb maka ibadahnya tidak akan diterima 40malam, bahkan ada hadis yg menyatakan kafir.

HIers banyak yg minta diminta tolong mencarikan benda hilang, mengusir jin, dsb …apa hal itu dilarang?

dickyzainal wrote today at 4:19 AM

pemberontaknorma , tidak ada hadist itu , yang ada adalah fatwa imam syafi’i , tapi itu juga masih banyak pertentangan . Yang jelas kalau soal barang hilang dsb itu tidak masuk ke perkara ghaib , karena yang kita gunakan adalah analisa , jadi yang namanya perkara ghaib adalah surga , neraka , kematian , lauh mahfuz , ruh , Allah SWT dsb . Bukan soal Jin atau barang hilang .

pemberontaknorma wrote on Feb 9

KD hadisnya ada kang, perawi Muslim..

saya googling..

pemberontaknorma wrote on Feb 9

maaf..

ini link hadisnya kang …

http://id.shvoong.com/humanities/1640383-dukun-tukang-ramal-dan-sejenisnya/

dickyzainal wrote on Feb 11, edited on Feb 11

pemberontaknorma , terus terang akang ragu tentang hadist itu , karena sampai sekarang para ulama sendiri banyak sekali yang tidak sepakat , lemah di jalurnya , kalau disusur kembali banyak yang miss .Lagian HI tidak pernah meramal , akang sendiri tidak pernah meramal , tapi kalau memprediksi berdasarkan analisa yang ada , itu adalah perkiraan dan biasanya itu lebih efektif . Jadi yang diajarkan di HI adalah analisa berdasarkan data , bukan berdasarkan angan angan .

TANGGAPAN KAMI :

Wahai Dicky janganlah anda menjadi orang yang termasuk jahil dalam agama“Maka janganlah kalian termasuk orang-orang yang jahil.” (Al-An’am: 35)
Ayat ini menjelaskan agar kita jangan sampai menjadi orang jahil yang tidak mengetahui hakikat permasalahan dan meletakkan permasalahan tidak pada tempatnya. Anda menjadi seolah-olah menjadi seorang ulama yang tahu ilmu tentang mustholah hadits dan dengan lancangnya mengingkari hadits dan menganggap hadits tersebut banyak cacatnya.

Tidakkah engkau takut dengan ancaman Rasulullah? Sebab Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Barangsiapa yang telah berdusta terhadapku secara sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di api neraka.” (Hadits Shahih Mutawatir). Ketika anda mendustakan dan mengingkari hadits Rasulullah yang sudah disepakati oleh jumhur ulama keshahihannya maka anda termasuk orang yang kufur terhadap Rasulullah.

Anda yang mengatakan : tidak ada hadist itu , yang ada adalah fatwa imam syafi’i , tapi itu juga masih banyak pertentangan dan terus terang akang ragu tentang hadist itu , karena sampai sekarang para ulama sendiri banyak sekali yang tidak sepakat , lemah di jalurnya , kalau disusur kembali banyak yang miss

Adalah suatu bentuk kejahilan dan kebodohan. Anda sama sekali buta terhadap ilmu mustholah hadits lalu dengan tanpa ilmu mengingkari hadits shahih muslim yang seluruh ulama ahlussunnah telah menyepakati keshahihannya. Hadits ,“Barangsiapa yang datang kepada peramal lalu bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari atau 40 malam.” Bukan ucapan Imam Syafi’i melainkan benar-benar sabda Rasulullah.

Al -Imam Muslim berkata, “Muhammad bin Al-Mutsanna Al ‘Anzi telah bercerita kepada kami (ia berkata), yahya-yakni Ibnu Sa’id telah bercerita kepada kami, dari Ubaidillah, dari Nafi/, dari Shafiyyah, dari sebagian istri-istri Nabi, dari rasulullah, beliau bersabda, ,“Barangsiapa yang datang kepada peramal lalu bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka tidak diterima shalatnya selama 40 malam.” HR Muslim 4/1751, sangat jelas siapa saja perawinya.

SELURUH ULAMA SEPAKAT AKAN KESHAHIHAN DAN KEDUDUKAN SHAHIH MUSLIM DALAM HUJJAH. Dari mana dalil Kang Dicky mengatakan ” tidak ada hadist itu , yang ada adalah fatwa imam syafi’i , tapi itu juga masih banyak pertentangan dan terus terang akang ragu tentang hadist itu , karena sampai sekarang para ulama sendiri banyak sekali yang tidak sepakat , lemah di jalurnya , kalau disusur kembali banyak yang miss

Berikut ini, daftar para jumhur ulama yang menyatakan seluruh hadits Muslim adalah shahih seperti juga hadits bukhari, yang akan membantah anggapan bathil Dicky .Sumbernya bisa dilihat disini :

1.Al Imam Al Hafidz Syaikhul Islam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf Asy-Syafi’I (Imam Nawawi) rahimahullahu ta’ala berkata tentang kedudukan kitab Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim :

“Para ulama rahimahullahu ta’ala telah bersepakat bahwa kitab yang paling shahih stelah Al-Qur’anul “Aziz adalah kitab Sahih Al-Bukhari dan sahih Muslim.

Kedua kitab itu telah terbukti diterima dengan lapang dada dan tangan terbuka oleh ummat Islam”

Dan juga beliau rahimahullahu ta’ala juga berkata :

“Karya hadits yang dianggap paling sahih,bahkan dianggap memiliki otoritas mutlak dalam dunia ilmu pengetahuan Islam adalah dua kitab Ash-shahih yang telah disusun oleh dua imam besar yakni Abu `Adillah Muhammad bin Isma’il Al Bukhari dan abul Husain Muslim bin Al Hajjaj Al Qusyairi radliallahu’anhumma.Tidak ada karya hadits yang mampu
menyaingi kedua kitab induk ini.”

2. Asy-Syaikh Abu `Amr bin Ash-Shalah rahimahullahu ta’ala (yang dikenal juga dengan Imam Ibnu Shalah) berkata :

“Semua hadits yang oleh Muslim rahimahullah ta’ala telah dianggap sebagai hadits shahih di dalam kitab ini, maka derajat keshahihannya bisa dikatakan pasti dan bisa dipertanggung jawabkan secara teoritis (ilmiyah).Begitu juga dengan hadits-hadits yang oleh Al-Bukhari telah ditetapkan sebagai hadits shahih di dalam kitab Ash-Shahihnya.

Hal ini karena ummat telah menerima kualitas shahih kedua kitab tersebut secara ijma’.”

3. Imam Al Haramain rahimahullahu ta’ala berkata :

“Seandainya ada seseorang yang bersumpah akan menceraikan istrinya kalau seandainya sabda Nabi shalallahu `alihi wa sallam yang terkandung dalam kitab Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim ada yang diragukan keshahihannya,maka perceraian itupun tidak mungkin
terjadi.Bahkan diapun tidak akan pernah dianggap melanggar kalimat sumpahnya.

Sebab para ulama kaum muslimin telah berijma’ atas kesahihan kedua kitab hadits induk tersebut.”

Dari penjelasan para Imam Hadits di atas maka dapat diringkas bahwa :

1.Kesahihan hadits-hadits dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim adalah pasti.

2.Penerimaan keshahihan hadits-hadits pada ke dua kitab tersebut sudah menjadi ijma’ ulama dan ummat muslimin.
3. Jika mengingkarinya (seperti pengingkaran Dicky) maka termasuk golongan ingkarul hadits atau golongan syi’ah.

TANYA JAWAB DICKY DENGAN MURIDNYA :

pemberontaknorma wrote on Feb 6: HIers banyak yg minta diminta tolong mencarikan benda hilang, mengusir jin, dsb …apa hal itu dilarang?

dickyzainal wrote today at 4:19 AM

Yang jelas kalau soal barang hilang dsb itu tidak masuk ke perkara ghaib , karena yang kita gunakan adalah analisa , jadi yang namanya perkara ghaib adalah surga , neraka , kematian , lauh mahfuz , ruh , Allah SWT dsb . Bukan soal Jin atau barang hilang

dickyzainal wrote on Feb 11, edited on Feb 11

Lagian HI tidak pernah meramal , akang sendiri tidak pernah meramal , tapi kalau memprediksi berdasarkan analisa yang ada , itu adalah perkiraan dan biasanya itu lebih efektif . Jadi yang diajarkan di HI adalah analisa berdasarkan data , bukan berdasarkan angan angan

TANGGAPAN KAMI :

Perkataan “pemberontak norma” yang menjelaskan ternyata dalam bidang keilmuan tenaga dalam Hikmatul Iman ada tekhnik peramalan untuk mencari barang hilang. Lalu Dicky mengatakan mencari barang yang hilang bukan perkara ghoib dan dijelaskan HI tidak pernah meramal melainkan menganalis,menurut hemat kami adalah bentuk “pembelaan” terhadap praktek peramalan yang sangat dilarang dalam islam.

Saya dahulu pernah mempelajari tenaga dalam. Saya bisa menjamin 100% praktek “kepekaan”, meradar/mendeteksi/analisa barang yang hilang maupun mendeteksi keberadaan jin dengan perantara energi tenaga dalam atau energi metafisik (pada berbagai aliran tanaga dalam) adalah benar adanya dan termasuk kategori Al’Arraf dan para Praktisi Tenaga dalam termasuk bagian dari jenis-jenis dukun. Sebagaimana An-nawawi berkata, “Al-Khaththabi dan lainnya mengatakan, “Al-‘Arraf (tukang ramal) adalah orang yang mengaku tahu tempat barang yang dicuri, tempat barang yang hilang dan lainnya”. Al-Imam Nawawi berkata, “Al-‘Arraf (tukang ramal) termasuk jenis-jenis dukun.[1]

Dari penjelasan ulama diatas, maka sangat keliru jika Dicky menganggap menganalisa barang yang hilang (dengan perantara Tenaga dalam atau tenaga metafisik) bukanlah termasuk peramalan.

Para dukun mempunyai banyak sekali metode dalam prosesi peramalannya seperti menggunakan media kuku anak kecil yang belum balik untuk melihat pencuri atau barang hilang, menggunakan bola Kristal, menggunakan pendulum, menggunakan mantra-mantra tertentu. Adapun dalam berbagai Aliran tenaga dalam menggunakan metode mengalirkan energi tenaga dalam untuk mendeteksi barang yang hilang, menggunakan ilmu clairvoyance (melihat secara ghoib) adalah sama dan termasuk kategori perdukunan. TIDAK ADA pengkategorian Para ulama yang memilah “kecuali dengan tekhnik tenaga dalam tidak termasuk dukun”

Sekarang ini Ada banyak praktisi berbagai macam aliran tenaga dalam mencemo’oh para dukun yang menggunakan metode “tradisional” dalam peramalannya dengan mengatakan para dukun tradisional tersebut telah berbuat syirik. Namun lucunya mereka yang belajar tenaga dalam menganggap peramalan mereka dengan menggunakan tekhnik tenaga dalam bukan termasuk syirik dengan dalih ini sudah diteliti dan diilmiahkan oleh para peneliti barat.Padahal sesungguhnya mereka melakukan peramalan syirik dan termasuk perdukunan modern.

Al-Qurtubi berkata dalam tafsirnya (7/2-3): “Para ulama kita mengatakan, “keadaan telah terbalik pada zaman ini, dimana orang mendatangi tukang-tukang ramal dan dukun.’hingga perkatan beliau, “sungguh telah tertipu kebanyakan orang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu dan agama. Mereka datang kepada dukun-dukun dan tukang ramal. Maka para dukun dan tukang ramal itu memperindah perkara yang mustahil dihadapan orang-orang yang datang kepadanya.[2]

Penjelasan yang mengatakan, ““sungguh telah tertipu kebanyakan orang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu” maksudnya adalah, para dukun itu menjerumuskan kebanyakan manusia dengan menisbatkan prilaku syirik peramalannya melalui teori-teori perdukunan yang diilmiahkan juga peramalan bisa dipelajari sebagai suatu bidang ilmu tertentu (dalam era moderen ini disebut sebagai ilmu para psikologi) dan “agama” maksudnya banyak para dukun itu menyaru dirinya menjadi seorang ustadz, kyai dengan menjual agamanya.

Sungguh perilaku kesesatan ilmu ramal-meramal/ilmu deteksi yang syirik telah beradaptasi dengan perkembangan zaman, jika dahulu peramalan menggunakan sarana tradisional (mantra, jimat, kembang setaman dll) maka sekarang untuk menjadi seorang dukun dan paranormal yang punya ilmu peramalan cukup dengan mendengarkan VCD audio ( VCD yang berisi tata cara menjadi paranormal (bisa dilihat di http://pengobatan-alternatif.blogspot.com/,http://kumaraqulmi.multiply.com/market,http://paranormal2007.blogspot.com/). Jika dahulu untuk bisa mengetahui perkara-perkara ghoib (melihat alam ghoib, melihat tembus pandang dll) menggunakan ritual puasa mutih, mantra aji kesaktian, maka sekarang sudah modern menggunakan tekhnik-tekhnik yang dikesankan sangat ilmiah cukup latihan tenaga dalam, cukup dengan attunement, inisiasi, mendengarkan audio VCD paranormal.

Jika dulu pelatihan mempelajari ilmu sihir digunung-gunung dan digoa-goa maka sekarang sudah modern di hotel berbintang. Jika dulu mempelajari ilmu sihir menggunakan sarana kemenyan, maka sekarang mempelajari ilmu sihir modern menggunakan Laptop atau layar monitor computer.

Semua hakikatnya sama mereka adalah para dukun yang jika kita mempercayai hasil “deteksi”mereka baik cara tradisional maupun modern tetaplah kita akan kufur terhadap Rasulullah.

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu dia membenarkan apa yang dikatakan maka sungguh dia telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad .”[3]

Adapun jika Dicky mengatakan “”hasil analisa”. Bisa kami kritisi, bahwa terkadang para dukun itu memang selain menggunakan ilmu sihir juga memakai analisa logis, ketika ada orang yang bertanya tentang sesuatu hal, maka bisanya jawaban para dukun itu sangat general dan bisa ditafsirkan secara luas untuk mengantisipasi kekurangan peramalannya.

Dicky mengatakan, “perkara ghaib adalah surga , neraka , kematian , lauh mahfuz , ruh , Allah SWT dsb . Bukan soal Jin atau barang hilang”

Tampaklah sudah kekurangan ilmu syar’i Dicky ini, dia tidak bisa membedakan antara ghoib relative dan ghoib mutlak. Sesungguhnya untuk barang yang hilang termasuk perkara ghoib yang relative yang suka di predikasi para dukun. Bentuk ghoib relative ini, seperti mencari barang yang hilang adalah termasuk perkara kesyirikan jika metodenya tidak syar’i (melalui ilmu terawangan, kepekaan, getaran dll).

Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rowi membedakan antara ghoib relative dan ghoib muthak.Berkata Syaikh Mutawalli,”Sebagian orang berkeyakinan bahwa tukang ramal mengetahui yang ghoib. Ini adalah propesi para pendusta yang biasa meyakinkan orang bahwa mereka mampu membuka tirai ghoib. Dan ini tidaklah benar. Agar kita bisa memahami masalah ini, maka kita harus bisa membedakan dan mengetahui bahwa ada hal-hal ghoib yang relative dan ada pula hal-hal ghoib yang mutlak. Hal-hal ghoib yang relative adalah hal-hal yang tidak kita ketahui namun diketahui oleh orang lain. Misalnya uang saya dicuri. Siapa yang mencuri? Bagi saya ini adalah ghoib, saya tidak mengetahuinya. Barangkali polisi juga tidak mengetahuinya. Namun, pencuri tersebut tahu bahwa dirinyalah yang mencuri. Barangkali tukang tadah juga mengetahui siapa yang mencuri.Adapu perkara ghoib mutlak, yaitu perkara yang hanya diketahui oleh Allah sesuai dengan firman Allah,”Dia mengetahui yang ghoib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seseorangpun yang ghoib itu (QS. Al-Jin:26)[4]. Ghoib muthak termasuk perkara, surga , neraka , kematian , lauh mahfuz , ruh , Allah SWT dsb. Yang kita tidak ketahui melainkan jika diberitakan dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah.

Sangat keliru jika jika mengatakan jin bukan perkara ghoib, Jin disebut makhluk ghoib karena mereka tidak terlihat oleh mata, “Sesungguhnya ia
dan pengikut-pengikutnya dapat melihat kalian padahal kalian tidak dapat
melihat mereka
” [Al-A’raf : 27] Alasan Dicky ini saya sangat yakin disebabkan oleh adanya pelajaran untuk “ngimpleng melihat jin yang diajarkan di HI (yang sangat bertentangan dengan hadits rasulullah). Maka untuk menghalalkan tekhnik melihat jin maka Dicky mengingkari penjelasan Al-Qur’an dan Sunah Rasul juga penjelasan para ulama.

Jin tidak bisa dilihat mata manusia sebab jin makhluk ghoib.Ibnu Uqail ra menyebutkan:”Tiada dikatakan jin makhluk ghoib melainkan karena sifatnya yang istijnan yakni istitas (terhalang) dari pandangan mata.”Pendapat ini sejalan dengan firman Allah:“Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”(QS.Al-A’raf:27)

Imam Syafi’i termasuk yang berpendapat tidak mungkin melihat jin dengan dasar ayat diatas,sebagaimana beliau berkata:”Barang siapa mengklaim dirinya dapat melihat jin, maka kami menganggap syahadatnya batal.kecuali jika dia seorang nabi.”(Fathul Bari VI/396)

Jika pendapat Imam Syafi’i ini benar,maka yang beliau maksud adalah jin dalam wujud yang asli, sedangkan melihat jin dalam bentuk tasyakkul (malih rupa) itu memungkinkan dalam kondisi tertentu. Seperti dijelaskan Ibnu hajar ketika mengomentari pendapat Imam Syafi’i: ”Yang beliau katakan ini sangat mungkin bagi orang yang mengklaim melihat jin dalam bentuk asli sebagaimana ia diciptakan. Sedangkan orang-orang yang melihat jin dalam bentuk yang telah melakukan penyerupaan dalam bentuk hewan atau bentuk-bentuk lain misalnya,maka hal itu tidak mengapa, karena berbagai riwayat telah menyebutkan tentang tasyakkul jin.”

Jin (dalam bentuk tasyakkul) walau makhluk ghoib tetap bisa dilihat dalam tiga kondisi.

Pertama, jin menampakkan diri atas kemauan sendiri. Seperti setan yang menampakkan diri dalam wujud Suraqah bin malik bin Ju’tsam ketika perang Badar. Juga seorang sahabat yang bertemu dengan seekor ular di ranjangnya yang ternyata adalah jin.Keduanya bergulat sehingga semuanya mati dan tidak diketahui yang mana yang lebih dulu mati,sepeti yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri dalam Shahih Muslim. Adapun melihat jin dengan perantara kamera foto/alat modern lainnya bisa terjadi karena jin tersebut menampakkan dirinya.

Kedua,dengan ritual syirik dan bid’ah. Seperti dengan perantara Tenaga dalam atau Tenaga Metafisik (hakikatnya tipu daya setan), mantra (merapal aji trawangan), ritual trawangan (latihan konsentrasi pada titik diantara kedua mata) atau diminumi air mantra (pembukaan melalui pengisian sihir pada air).Hal ini juga seperti yang dilakukan orang-orang yang memiliki khadam jin.Dia bisa memanggil atau melihat jin yang menjadi piaraannya meski bukan dalam bentuk wujud aslinya.

Ketiga,Mu’jizat dan karomah yang diberikan Allah untuk melihat jin. Adapun masalah ini, tidaklah orang mengklaim mendapatkan karomah lalu bisa seenaknya melihat jin, ada kriteria pembeda antara karomah dengan sihir yang dijelaskan disini

Sikap Ahlus Sunnah Terhadap paranormal modern (praktisi tenaga dalam dan ilmu metafisika) ataupun paranormal tradisional

Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath-Thahawi menyebutkan akidah Ahlus Sunnah terhadap dukun dalam kitab beliau Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah: “Kita tidak boleh membenarkan dukun dan tukang ramal, dan tidak boleh membenarkan orang yang mengakui sesuatu yang menyelisihi Al Qur`an, As Sunnah dan ijma’.”
Ibnu Abi ‘Izzi mengatakan: “Wajib bagi pemerintah dan orang yang memiliki kesanggupan untuk melenyapkan para dukun dan tukang ramal [5], serta permainan-permainan sihir sejenisnya [6], seperti menggunakan garis di tanah atau dengan kerikil atau undian. Dan mencegah mereka untuk duduk-duduk di jalan dan memperingatkan mereka supaya jangan masuk ke rumah-rumah orang. Cukuplah bagi orang yang mengetahui keharamannya lalu dia tidak berusaha melenyapkannya padahal dia memiliki kesanggupan, (cukup baginya) firman Allah: “Mereka tidak saling mengingkari perbuatan mungkar yang telah mereka kerjakan, amat buruklah apa yang telah mereka perbuat.” (Al-Maidah: 79) [7]

Al-Lajnah Ad-Da‘imah (Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi) berkata: “Kaum muslimin tidak boleh shalat di belakang mereka (para dukun tradisional atau modern “praktisi tenaga dalam&ilmu metafisik) dan tidak sah shalat di belakang mereka. Bila seseorang kemudian mengetahui hal itu hendaklah dia meminta ampun kepada Allah dan mengulangi shalatnya.” [8]

Wallaahua’lam.


[1] Dikutip dari buku Abu Harun berjudul “Dukun, paranormal dan sejenisnya Kafir” penerbit Pustaka Salafiyah halaman 145-146

[2] Dikutip dari buku Abu Harun berjudul “Dukun, paranormal dan sejenisnya Kafir” penerbit Pustaka Salafiyah halaman 51

[3] Hadits ini di keluarkan oleh Al-Hakim (1/8) dan beliau menshahihkannya, disepakati oleh Al-Imam Adz-Dzahabi dan dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani t di dalam Al-Irwa` no. 2006, Shahih Sunan Abu Dawud no. 3304, Shahih Sunan Ibni Majah no. 522, Al-Misykat no. 551 dan di dalam kitab Adab Az-Zafaf hal. 105-106. Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud no. 3904, Ahmad (2/408, 429, 476), Ibnu Majah no. 639, Al-Baihaqi (7/198), Ibnu Jarud no. 107, Ad-Darimi no. 1141 dan Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (15/429). Al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi t mengatakan: “Kalau demikian keadaan orang yang mendatanginya lalu bagaimana tentang orang yang ditanya/didatangi (yaitu dukun)?” (Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 341)

[4] Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rowi dalam bukunya “Mengungkap kebohongan ilmu sihir” penerbit Pustaka fahima. Hal 76

[5] baik para dukun tradisional atau modern “praktisi tenaga dalam&ilmu metafisik”

[6] Atraksi tenaga dalam, kekebalan dll

[7] Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 342

[8] Fatawa Al-Lajnah Ad-Da‘imah, 1/394