Wifiq, dalam kamus bahasa Indonesia tidak ditemukan definisinya. Dan dalam kamus bahasa Arab, mungkin Wifiq diambil dari kata Wafqun, yang artinya cukup atau sekadar. Biasanya para pengguna Wifiq meyakini bahwa Wifiq itu dirasa cukup baginya untuk melindungi dirinya atau untuk membantunya memenuhi hajat hidupnya.


Jimat atau juga disebut dengan azimat, menurut kamus bahasa Indonesia adalah barang atau tulisan yang dianggap mempunyai kesaktian dan dapat melindungi pemiliknya, digunakan sebagai penangkat penyakit dan sebagainya.[1]. Dalam kamus Indonesia diartikan sebagai suratan (gambaran, tanda dan sebagainya) yang dipakai sebagai azimat (untuk penolak penyakit dan sebagainya).[2]. Dan Isim diartikan sebagai nama Tuhan, yang dipakai sebagai mantra dan sebagainya.[3].
Wifiq
Inilah contoh wifiq yang kata pembuatnya bisa dijadikan sebagai jimat penglaris dagangan.[4] Caranya: wifiq tersebut ditaruh di tempat dagangan dan sebelumnya diuapi dengan bau-bau harum. Dengan ditambahkan Isim dan bacaan yang ada di surat Ali Imron. Sengaja tidak disebutkan bunyi isim dan ayat yang dimaksud agar tidak disalahgunakan.

Rajah
Memang benar, sangat banyak sekali ragam jimat yang telah beredar di tengah masya­rakat kita. Ada yang berupa lipatan kertas yang bertuliskan rajah, lalu dibungkus kain hitam, putih, atau hijau lalu dijahit dan dibentuk segi empat atau segi panjang. Ada yang dalamnya dilapisi timah atau tembaga. Ada juga rajah yang dimasukkan ke botol dengan berbagai macam bentuk dan ukuran lalu dijadikan jimat. Ada juga jimat yang berupa potongan kulit binatang, bahkan ada juga yang berupa kepala harimau yang dikeringkan atau diberi air keras.

Ada juga rajah yang ditulis di lembaran kain lalu dilipat-lipat dan dibungkus plastik atau dipress (laminating). Sebagai­mana ada juga yang berupa kain bequhkan rajah, lalu dibentuk menjadi sapu tangan, sarung, sorban, baju, rompi atau jaket. Dan ada juga jimat yang berupa keris, golok tombak, pedang, samurai, tali, tasbih, al-Qur’an kecil (istanbul), garam, keme­nyan dan minyak wangi. Serta ada juga yang berupa uang logam dan kertas, batu, bambu yang rosnya bertemu (pring petuk), bambu kuning, cincin, gelang, kalung, ikat pinggang, tulang dan kuku binatang, tulang manusia, potongan kain kafan, tanah kuburan, potongan kayu, pena, korek api, rokok, bawang putih, kartu (seperti kartu kredit atau kartu ATM). Bahkan ada yang berupa pakaian dalam dan kotoran manusia serta hewan.
Inilah contoh rajah harus ditulis oleh orang yang beberapa kali punya anak, tapi meninggal dalam usia balita. Si pembuat rajah menjanjikan dengan rajah ini, kelak anak yang lahir bisa bertahan hidup lama. Untuk menjaga agar tidak terjadi penyimpangan, rajah ini sengaja tidak ditulis lengkap.

Caranya: rajah itu ditulis pada kertas pada malam Jum’at Kliwon, lalu ditelankan ke anak yang baru lahir. [5]

Isim

Berikut ini contoh lsim, yang kata penulisnya merupakan salah satu dari nama Allah dalam bahasa Ibrani (bahasa kaum Yahudi), yang arti bahasa Arabnya Subhanalloh. Bahkan si penulis mengatakan bahwa isim ini disebut tasbih Nabi Yunus. Yaitu, Kazhhirin (كَظْهِيْر).

Penulis menyebutkan bahwa khasiat isim tersebut banyak sekali. Di antaranya, Barangsiapa yang menulisnya pada sekeping tembaga dengan huruf-huruf terputus, lalu digantung di rumah, niscaya rumahnya akan terpelihara dari bahaya kebakaran dan pencurian.

Penyesatan dan Peyimpangan Ilmu Hikmah (Wifiq, isim atau azimat)

Banyak orang yang selama ini menggeluti ilmu hikmah dalam artian ilmu kesaktian, mempunyai keyakinan yang harus segera diluruskan. Karena mereka lebih yakih pada ilmu yang digelutinya daripada apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Mereka lebih suka mengamalkan ‘ilmu hikmah’ yang banyak tersebar di buku-buku Mujarrobat daripada do’a-do’a Rasulullah yang tertulis dalam kitab-kitab hadits. Bukankah itu merupakan penyimpangan syari’at yang serius?

Dalam buku yang diklaim sebagai buku ilmu Hikmah, penulis mengatakan, “Ini adalah bagian dari permasalahan yang amat penting, mulia dan agung. Jika Anda belum memiliki ilmu ini, segeralah Anda pelajari sekarang juga. Dan Asma ini mengandung keberkatan dan kenyataan, terkaya daripada yang lain, lebih bermafaat daripada azimat lain. Terbagi dalam beberapa amalan untuk menghadirkan malaikat, atau mendatangkan khadam.” (Innaa lillaahi wa innaa ilahi raji’un).

Lalu penulis buku tersebut mulai mengajarkan Asma’ (isim-isim) yang dianggap sakti dan mujarab. Misalnya, Gholmasyin. Barang siapa menulis asma ini dalam bentuk Arab di kain putih, dengan huruf terputus-putus sebanyak 11 kali, lalu diwirid sebanyak 1370 kali pada tempat-tempat angker, maka jin-jin akan pergi dari tempat tersebut.

Padahal Rasulullah telah mengajarkan pada kita untuk mengatasi gangguan jin di suatu tempat. Khaulah binti al-Hakim as-Sulamiyyah bercerita, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa singgah di suatu rumah (tempat), lalu membaca, Aku berlindung dengan kalimat-kalimatAlfah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya’, niscaya tidak akan ada yang mencelakainya sampai ia meninggalkan rumah (tempat) tersebut.” (HR. Imam Muslim, no. 4882).

Satu lagi sebagai bukti bahwa ilmu hikmah yang mereka maksud bukanlah ilmu hikmah yang dimaksud dalam a1-Qur’an maupun a1-Hadits. Inilah yang mereka katakan sebagai Rajah anak bila rewel di malam hari.

Katanya, “Tulislah rajah tersebut pada malam Jum’at Kliwon. Kemudian kalungkan pada leher anak tersebut, ihsya Allah ia akan sembuh.[6]. Tidak jelas, apa maksud dari potongan huruf-huruf tersebut. Tapi yang jelas arti kalimat selanjutnya adalah, “Jika tiada Tuhan selain Allah, Muhammad wahai utusan Allah shallallahu `alaihi wa salam”. Mengapa mereka meragukan ke-Esaan Allah? “Jika Tiada Tuhan selain Allah”. Bukankah ini bentuk penyimpangan?

Ada juga yang memberikan amalan yang disebut dengan “Asma al-Qomar”. Isi asma tersebut adalah, Layakhimin, Layalaghwin, Layafaurin, Layarau’in, Layarusyin dan Layalisyin. Di antara khasiat asma tersebut adalah untuk pelet, guna-guna atau pengasihan. Penulis buku mengatakan, “Bila asma-asma itu ditulis di tiga lembar kertas, lalu dibaca sebanyak 63 kali, seraya diuapi dengan bau harum-haruman. Ditambah dengan wirid.


Artinya, “Tunduklah wahai para khodam asma-asma ini, dan hadirlah kalian semua ke Fulanah binti Fuianah. (Sengaja tidak dikasih harakat dan tidak disebutkan lengkapnya). Lembaran yang pertama digantung di udara, yang kedua ditaruh di atas kepala, yang ketiga dilarutkan ke air yang bercampur daun pacar (inai), dan tangannya dicelupkan ke cairan tersebut. Insya Allah sebelum daun pacar itu kering, orang yang dipelet sudah datang dengan cintanya. [7]

Amalan tersebut mengajarkan kepada kita ilmu pelet atau guna-guna. Padahal aktivitas pelet atau guna-guna adalah perbuatan yang dilarang oleh syari’at Islam, karena termasuk perbuatan syirik. Sebagaimana ditegaskan Rasulullah dalam riwayat berikut.
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, `Sesungguhnya mantra­-mantra, jimat-jimat dan guna-guna adalah syirik’.” (HR. Abu Daud, no. 3385).
Termasuk Syirik Akbar jika kita meminta bantuan pada setan ketika tertimpa musibah. Pada buku “Kumpulan Ilmu Ghaib” (yang dikatakan penterjemahnya telah diterjemahkan dari kitab Al-Aufaq buah karya Imam Ghazali) telah mengajarkan memanggil nama makhluk halus, ketika dalam keadaan bahaya atau dalam keadaan sangat memerlukan petolongan sedang disekitar tempat tersebut tidak ada orang yang menolongnya, dengan memanggil nama[8]:
Yaaa Syufaikhutaan…..

Perhatikanlah, bagaimana mereka berani mengajarkan wirid syirik itu kepada para pembacanya. Kita disuruh minta bantuan kepada selain Allah. Yaitu memohon pertolongan kepada sosok khadam (pembantu) yang diyakini sebagai penunggu Asma tersebut atau langsung menyebut nama sesosok makhluk halus bukan langsung meminta pertolongan kepada Allah. Siapakah khadam yang dimaksud kalau bukan jin atau syetan? Karena malaikat tidak mungkin dijadikan khadam oleh manusia. Karena malaikat hanya tunduk kepada Allah, bukan kepada-manusia. Semua malaikat adalah prajurit Allah, bukan prajurit manusia. (Lihat QS. Maryam: 64 dan at-Tahrim: 6).

Satu lagi bentuk penyimpangan ilmu hikmah gadungan, yang berupa “Asma’ Suryaniyah“. Bunyinya: Lalshohathil, Mahthohathil, Qohthoithil, Fahfhoithil, Jahlathothil, Nahhathothil, Lakhhathothil, dan Lamuqqonjalin. Katanya Asma tersebut berguna untuk menerapi orang yang terkena gangguan sihir. Cara yang mereka ajarkan, “Tulislah Asma yang pertama dan yang ke delapan di atas tujuh kertas, lalu satu persatu kertas itu diuapi harum-haruman seraya membaca:


Artinya, “Wahai para khodam asma-asma ini, lepaskanlah kelamin Fulan dari kelamin Fulanah binti Fulanah. Maka akan terlepaslah gangguan sihirnya.[9]. Simaklah, bagaimana ngawurnya ajaran hikmah gadungan itu. Minta pertolongan kepada selain Allah dalam menerapi gangguan sihir. Lalu apa hubungannya gangguan sihir dengan kelamin? Sepertinya yang mengajarkan ilmu ini otaknya lagi ngeres.

Wifiq (isim atau azimat) Sihir Untuk Menyakiti Seseorang
Betul-betul sangat miris jika kita bongkar semua kesesatan kitab-kitab ilmu hikmah gadungan yang salah satunya berjudul “Kumpulan Ilmu Ghaib” Penerbit Mahkota Surabaya yang dialih bahasakan oleh Ustadz Masrab dan Suhaemi. Ustadz Masrab dan Suhaemi mengatakan dalam kata pengantarnya bahwa mereka menterjemahkan kitab Al Aufaq buah karya Imam Ghazali. Namun jika kita lihat isi dari buku tersebut sangat jauh dari kesan buah karya Imam Ghazali. Sebab isi dalam buku tersebut adalah kumpulan tekhnik dan tata cara untuk menyihir dan menyakiti orang lain. Pada kesempatan ini saya akan membahas dan membongkar beberapa contoh “kebusukan” isi buku tersebut (jika akan dibahas semua niscaya akan membutuhkan berjilid-jilid buku).

Pada buku “Kumpulan Ilmu Ghaib” tersebut dijelaskan cara untuk menyihir agar seorang wanita tidak bisa menikah. Dibawah ini Azimat yang ditulis dan ditaman dirumah wanita tersebut yang akan berakibat wanita tersebut tidak akan kawin selama-lamanya[10].
Inilah azimat yang ditulis (tidak saya tuliskan semuanya):

Ada juga cara menyihir atau menyantet seseorang yang jadi musuhnya hingga berakibat terganggu atau rusak alat fitalnya (dzakar atau farjinya). Dengan cara menulis azimat dibawah ini pada kulit burung hud-hud atau pakaian orang penakut lantas ditanam di bawah rumah (pintu rumah) musuh seraya membaca surat Humazah[11].
Inilah Azimat yang ditulis :

Selain itu dalam buku tersebut juga dijelaskan cara meminta bantuan setan untuk mengganggu seseorang hingga dikuasai setan. Yaitu dengan cara menuliskan wifik dibawah ini pada gambar manusia (boneka) yang terbuat dari lilin lantas pada hari jum’at ditaman dihalaman rumah seseorang yang dibenci[12].
Inilah azimat yang ditulis :


Dijelaskan juga cara untuk menyihir atau menyantet seseorang yang dimusuhi hingga akan mati tanpa sebab sebelumnya. Dengan cara azimat dibawah ini ditulis pada tulang burung unta berikut namanya dan nama ibunya lantas dibakar[13].
Inilah azimat yang ditulis :

Ada juga sihir yang cukup menjijikkan untuk dilakukan yaitu sihir untuk mengeluarkan darah (kemaluan) seorang wanita dan membuat wanita tersebut memukuli dirinya sendiri. Dengan cara azimat dibawah ini ditulis pada telapak tangan lantas ditunjukkan kepada wanita, maka tidak lama kemudian setelah melihat tulisan tersebut maka darahnya akan keluar dan segera memukul dirinya sendiri[14].
Inilah azimat yang ditulis :


Itulah sebagian kecil dari banyaknya ilmu sihir pada ‘jimat, mantra’ yang diklaim sebagai ilmu hikmah yang selama ini banyak diamalkan masyarakat muslim di negeri ini yang terangkum dalam kitab ilmu sihir yang dikatakan sebagai kitab ilmu hikmah yang banyak dipelajari sebagian besar pesantren tradisional NU, dipakai para dukun dan paranormal bahkan dijual bebas di masyarakat. Yang sesungguhnya sangat banyak mengandung penyimpangan syari’at dan penyelewengan akidah. Masihkah penyimpangan ini kita amalkan? Bahkan kita yakini lebih mujarab daripada do’a-do’a Rasulullah…?

FOOTNOTE :
[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia: 81
[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia: 922
[3] Kamus Besar Bahasa Indonesia: 444
[4] Kitab Benteng Raksasa Mukmin: 33
[5] Kitab Primbon Akbar Mujarrobat: 101
[6] Kitab Primbon Akbar Mujarrobat: 105
[7] Kitab Benteng Raksasa Mukmin: 41-43
[8] “Kumpulan Ilmu Ghaib” Penerbit Mahkota Surabaya. Hal. 98
[9] Kitab Benteng Raksasa Mukmin; 47-48
[10] “Kumpulan Ilmu Ghaib” Penerbit Mahkota Surabaya. Hal. 78
[11] “Kumpulan Ilmu Ghaib” Penerbit Mahkota Surabaya. Hal. 79-80
[12] “Kumpulan Ilmu Ghaib” Penerbit Mahkota Surabaya. Hal.80-81
[13] “Kumpulan Ilmu Ghaib” Penerbit Mahkota Surabaya. Hal.91
[14] “Kumpulan Ilmu Ghaib” Penerbit Mahkota Surabaya. Hal.137