CUMA COPY PASTE DARI SINI DAN SINI

Demikian publikasi yang dilakukan oleh saudara-saudara di Hikmatul Iman melalui berbagai milis. Dikabarkan bahwa waktu dulu sedang berlangsung proses pemasangan alat tersebut di satu desa di Yogyakarta. Bunyi email itu seperti di bawah ini:

Laporan kemajuan alat anti gempa . Rabu , 14 juni 2006

Ini adalah laporan dari Kang Asep yang Akang beri mandat untuk mencoba alat anti gempa di yogya : ” Kang Dicky punten , setelah selasa malam aktifitas merapi dianggap menurun . Rabu pagi warga di pengungsian diperbolehkan pulang ke rumahnya , tapi tiba tiba Rabu jam 12 an , aktifitas merapi meningkat pesat , luncuran awan panas sampai 7 kilometer , Apakah ada hubungannya dengan alat ini ? Soalnya Rabu jam 11 an Asep mulai menggunakan alat ini , tapi di lokasi Kwasen mah aman . Nuhun .
– Memang kalau menggunakan alat ini otomatis molekular tanah menjadi kuat dan rapat , jadi wajar kalau lava menjadi lancar menuju ke atas , tapi gempa akan menjadi berkurang kekuatannya , paling nanti getaran yang diakibatkan aktifitas merapi saja . Kang Dicky .

Laporan kemajuan alat anti gempa . Jumat , 16 juni 2006 :

Ini dari Kang Asep lagi : ” Pemasangan alat pertama hari rabu jam 11 siang , malamnya terjadi gempa 2 kali efeknya cuma bergetar saja , Alhamdulillah setelah itu di lokasi yang Asep tempati tidak terjadi gempa lagi dan cuaca disini sangat cerah . Nuhun ”
– Alhamdulillah , berarti molekular tanahnya sudah mulai menguat , getaran itu muncul karena aktifitas merapi . Buat semua HI ers , tetap doakan agar alat ini berhasil dengan baik . Amiiinn . Kang Dicky .

Apa yang Anda bayangkan dari email tersebut? Saya sendiri dengan sangat terpaksa harus tertawa. Maaf.

Teknologi Anti Gempa

Dalam penangkapan saya adalah sebuah alat yang menahan kemungkinan adanya gempa. Tentu saja alat tersebut haruslah menjawab sebab-sebab terjadinya gempa dan menghilangkan penyebabnya.

Dalam kasus gempa tektonik di Yogyakarta, penyebab gempa adalah pergeseran lempeng. Saya sendiri tidak mengerti sejauh mana pencetus ide alat anti gempa ini dalam memahami konsep lempeng. Karena sependek pengetahuan saya, pergeseran lempeng sama sekali tidak ada hubungannya dengan rapat atau tidaknya molekul tanah. Dan apa yang dimaksud dengan molekul tanah?

Alat anti gempa yang paling pas adalah alat yang menghentikan perputaran bumi. Karena bumi ini berputar sambil “mendinginkan” permukaannya. Hal ini jika ditinjau dari teori fisika. Magma di pusat bumi, jika sudah mendingin, maka bumi ini akan mati. Saat itulah yang dikatakan kiamat dalam pengertian Agama. Nah, ketika alat yang mendinginkan magma itu tercipta, dan benar-benar mendinginkannya, bukankah kiamat ujungnya?

Tinjauan Religi

Secara religius sendiri kehadiran alat ini sangat-sangat tidak pantas disampaikan. Membuat alat anti gempa, sama saja dengan membuat alat penghambat ketuaan. Artinya menolak keniscayaan. Gempa adalah keniscayaan, kenapa pula kita harus menolaknya?

Benar bahwa hasil dari gempa (output-nya) menyedihkan. Banyak sekali korban. Namun jika dilihat lebih jauh, bukankah ada yang dinamakan sebagai cobaan, ujian ataupun azab? Saya terus terang menolak ide adanya alat anti gempa ini.

Nah, mari kita lihat lagi email tersebut. Di sana ada disebutkan “di lokasi Kwasen”. Sepertinya tidak ada desa Kwasen di Yogyakarta, atau mungkin saya yang orang Bantul ini kurang gaul? Kecuali kalau itu nama alatnya, maka saya tidak bisa berkomentar.

vale, demi keniscayaan.

el rony, merakit alat anti hidup.

NB: melatih kembali kemampuan menulis. dulu saya tidak bisa menulis dengan baik, sekarang saya sudah lupa bagaimana caranya menulis dengan baik.

tambahan:

blog yang ngebahas gempa dengan sangat lengkap: http://my-musings.blogdrive.com/archive/224.html

Postingan saya terdahulu mengenai keberadaan alat anti gempa, ternyata memancing diskusi yang cukup intens, terutama di blog saya. Postingan tersebut dilatarbelakangi oleh tanda-tanya besar di dalam diri saya.

Tanda-tanya tersebut saya ungkapkan dalam dua bagian, yaitu menanyakan keabsahannya dari segi Agama dan dari sudut pandang keilmuwan. Saya mengambil sudut pandang agama karena setelah saya perhatikan di website pencipta alat tersebut, term yang banyak digunakan adalah masalah agama.

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sampai sekarang masih belum ditemukan titik terang jawabannya. Saya sendiri kemudian bergabung dalam forum HI untuk menanyakan langsung kepada pembuatnya, hal ini saya lakukan karena saya tidak bisa menghubungi beliau melalui email (quota penuh).

Analisa atas Pertanyaan dan Jawaban.

Diskusi tersebut masih terus berjalan karena pertanyaan saya yang terakhir juga belum terjawab. Selain itu, jawaban yang saya terima juga terlalu singkat. Sementara postingan saya mengenai alat ini mendapatkan komentar yang panjang lebar, yang bahkan tidak relevan. Arsip sementara atas diskusi saya dengan pencipta alat tersebut, selain bisa dibaca di forum mereka, juga bisa dilihat di sini.
Maka tanpa menunggu hasil jawaban atas pertanyaan saya yang ketiga, saya coba untuk mengambil gambaran atas apa yang saya terima atas alat ini.

1. Alat ini mengambil prinsip “memadatkan molekul tanah”.

Sampai sekarang saya tidak paham dengan istilah molekul tanah yang dipadatkan. Kaitan antara pergerakan lempeng dengan padat/tidaknya molekul tanah juga masih belum ada keterangan.

Seperti telah digambarkan dalam blog ini dan ini, gempa terjadi diakibatkan oleh pergerakan lempeng. Lempeng tektonik ini senantiasa bergerak seiring berjalannya waktu, sehingga suatu saat terjadilah tumbukan di antara dua lempeng. Jenis-jenis tumbukan menghasilkan perbedaan karakteristik gempa.

Lantas apa kaitannya dengan kepadatan molekular tanah? Saya mencoba memakai logika mereka, dan menyampaikan tentang konsep perambatan gelombang di media yang “lebih padat”. Dan jawaban yang saya peroleh adalah “pelepasannya dibuang ke tempat lain yang sebetulnya alam itu punya banyak sekali titik titik pelepasan”. Titik pelepasan itu dimana saja, saya tidak tahu lagi.

2. Klaim yang dinyatakan sebagai bukti.

Menurut BMG dan pakar geologi UGM, gempa tektonik yang terjadi di Jogja kemarin, juga yang terjadi di seluruh belahan dunia, akan diikuti oleh gempa susulan sampai kondisi lempeng menjadi stabil.

Gempa susulan tersebut memiliki kecenderungan untuk menurun, walaupun bukan berarti urutannya akan seperti deret ukur ataupun deret hitung menurun. Hal ini terjadi dengan syarat bahwa puncak gempa sudah terlampaui. Maka untuk gempa Jogja kemarin bisa diambil kesimpulan bahwa puncak gempa adalah 6,3 SR (menurut USGS), sehingga gempa susulan berkisar dari 1 SR (rata-rata tidak terasa) hingga 5 SR.

Tidak ada yang bisa memastikan kapan gempa berakhir ataupun berapa puncak skala gempa. Dari BMG hanya bisa memprediksi bahwa gempa susulan akan terus terjadi dengan skala yang berubah-ubah hingga lempeng stabil, dan perkiraan lamanya waktu sampai dicapai kondisi stabil adalah sekitar 2 bulan.

Pemasangan alat anti gempa yang digaungkan oleh teman-teman HI, berlangsung selama 3 minggu. Hal ini diakui oleh penciptanya sebagai keterbatasan alat yang dia ciptakan.

Dari pihak pencipta alat tersebut, beliau mengklaim bahwa gempa yang menurun (juga aktivitas merapi) diakibatkan oleh adanya alat ini. Maka jika di cross-check dengan pendapat ahli geologi, saya melihat hal itu belum bisa dijadikan bukti. Tanpa alat itupun, trend gempa memang menurun.

Dikatakan bahwa ketika alat tersebut dicabut, kekuatan gempa “menaik”. Tapi apakah memang demikian? Dari uraian BMG dan beberapa ahli geologi (yang saya ikuti melalui radio) trend gempa memang menurun tetapi tidak ada jaminan bahwa proses menurunnya itu melulu ke bawah. Sayang saya tidak sempat merekam trend gempa pada waktu itu (di Jogja). Namun paling tidak kondisinya kurang lebih sama dengan gempa waktu di Selatan Bandung kemarin. Silakan perhatikan trend gempa yang terekam dalam situs BMG ini.

3. Klaim atas suara dentuman

Dalam perbincangan di forum mereka, juga disampaikan dalam komentar di blog saya, dikatakan bahwa suara dentuman di Jogja diakibatkan oleh alat tersebut. Hal ini tidak ada dalam list pertanyaan saya, namun perlu juga saya sampaikan di sini.

Dentuman itu sudah terdengar semenjak hari H gempa. Hal ini saya peroleh keterangannya dari orang tua saya, mertua saya, keluarga teman saya di daerah Bambang lipuro, dan beberapa teman saya yang lain.

Jadi klaim bahwa suara dentuman tersebut diakibatkan atas alat ini, saya meragukannya.

4. Pertanyaan saya berkait Agama

Sekali lagi saya sampaikan di sini, berhubung banyak term agama yang muncul mengiringi setiap perbincangan atas alat tersebut, maka pertanyaan saya atas hal ini sepertinya belum terjawab dengan jelas.

Alat anti gempa berarti menolak adanya gempa. Maka ketika semua orang sudah memiliki alat ini, dia tidak akan terkena dampak gempa. Hal ini tidak ditolak oleh si pencipta alat, dengan pernyataannya bahwa “agama mana yang melarang kita membuat alat anti gempa untuk menghindari korban yang berjatuhan”.

Menghindari korban berjatuhan dengan mengajarkan pada setiap orang tentang bagaimana mensikapi alam, lebih masuk di akal. Di Jepang, negara yang selalu ditemani gempa, setiap penduduk memiliki ransel darurat. Ransel tersebut nantinya diisi dengan kebutuhan pokok seandainya musibah gempa terjadi. Juga barak-barak pengungsian disediakan di banyak tempat. Ini adalah bentuk “bersanding” dengan alam.

Jikalau gempa dihilangkan, maka ayat Dia akan hari kiamat (gunung-gunung berjalan) sudah dinafikkan. Apakah hal ini benar? Mohon direnungkan kembali.

Demikian kira-kira yang dapat saya sarikan untuk sementara ini.

vale, demi kesehatan.

el rony, memintal alat yang lainnya.