1. BENARKAH ILMU TAHANAN MAUT ITU BISA DIBUKTIKAN ?
LIHAT PERCAKAPAN INI DI http://www.hi-itb.org/forum/viewtopic.php?f=4&t=63

Restu wrote:
sy mndengar crita sodara sy yg juga anggota HI dlu,pd wktu itu drantingnya ada demo tahanan maut oleh cewe (rnting cianjur),lalu murid2 lainnya dsuruh menyerang si cewe,lalu dy mnuturkan bhwa sbenaranya ia tdk mrasa trpental oleh TM tu cewe,tapi karna ia mrasa tdk tega jka memukul si cewe alhasil dy pura2 trpntal.

JIKA DIKAJI DARI PERCAKAPAN DIATAS YANG DITULIS OLEH MURID HI SENDIRI TELAH TERBUKTI BAHWA ATRAKSI ILMU TAHANAN MAUT HIKMATUL IMAN CUMA KLAIM SAJA! Saya khawatir nasip klaim keilmuan tersebut bernasip seperti Kyai yanagiryuken yang mampu mementalkan anak muridnya dengan tenaga dalam namun ketika pembuktian dengan ahli bela diri malah babak belur bisa dilihat di
https://metafisis.wordpress.com/2009/10/08/fakta-video-streaming-pembodohankebohongan-pukulan-tenaga-dalam/

Pada atraksi tahanan maut himatul iman ternyata cuma modal menipu diri sendiri, sungguh merupakan bentuk kemunafikan jika berbohong dengan TM, keefektifan TM belum pernah dibuktikan pada tarung langsung, paling mudah jika ada bener ilmu TM maka orang tersebut pasti menang dalam pertandingan silat/karate/taekwondo (atau pertandingan lainnya) maka bisa mendapatkan medali emas di olimpiade sebab musuh ga bisa mendekat.
2. ILMU NGIMPLENG TERNYATA HANYA KLAIM SAJA
percakapan ini bisa dilihat di http://www.hi-itb.org/forum/viewtopic.php?f=4&t=73

assalaamu’alaikum wr. wb.

Beberapa tahun yang lalu, sempat diadakan latihan khusus bersama Kang Dicky di Villa Widuri, Puncak. Sesi latihan yang pertama (konon) diikuti oleh puluhan Aspel, sedangkan sesi latihan yang kedua hanya diikuti oleh belasan Aspel (salah satunya saya). Selain Kang Dicky, datang juga beberapa Wasdal seperti Kang Aliman dan Kang Djadjat. Materi latihannya meliputi (sesuai urutan) latihan ngimpleng, latihan merasakan hawa panas di sungai, TD + stamina, dan latihan tarung.

Pada malam harinya, materi yang diberikan adalah latihan ngimpleng yang sudah ditunggu-tunggu. Metodenya tidak ada yang baru, sekedar menebak kartu tertutup. Mulai dari yang gampang dulu, yaitu menebak warnanya ; hitam atau merah. Kang Dicky menaruh kartu yang tertutup di depannya, lalu kami akan menebak warna kartu tersebut dengan mengaktifkan ilmu ngimpleng (begitulah teorinya).

Kenyataan tidak semulus teorinya. Meskipun sudah ditransfer berheksa-heksa (dulu satuannya belum okta), tingkat keberhasilan ngimpleng para Aspel ternyata sangat rendah. Saya sempat mencatat presentase keberhasilan saya yang tidak sampai 15%, dan itu pun masih saya ragukan ; apakah ini hasil ngimpleng atau tebak-tebakan belaka?

Penjelasan dari Kang Dicky berikutnya perlu digarisbawahi. Ternyata masalahnya bukan pada besaran TM yang sudah ditransfer, atau sensitifitas pituitary masing-masing. Masalahnya adalah pada bagaimana membedakan antara penglihatan dengan khayalan / asumsi. Menurut Kang Dicky, semua yang ikut latihan sebenarnya sudah bisa melihat warna kartu tersebut ketika menutup matanya dan berusaha menangkap ‘sinyal’ dari kartu tersebut. Masalahnya adalah memisahkan satu imej yang benar dari sekian banyak imej yang hanya khayalan kita.

Saya sempat empat kali berturut-turut menebak dengan benar warna kartunya, namun kemudian mengalami enam belas kali kesalahan secara berturut-turut. Alasannya sederhana, karena saya tidak lagi melihat apa adanya dengan ngimpleng, melainkan justru menganalisanya dengan probabilitas. Sebagai contoh, jika kartu berwarna hitam sudah empat kali muncul, biasanya kita akan berpikir bahwa kartu yang akan muncul selanjutanya adalah warna merah. Apa dinyana, ternyata muncul warna hitam lagi. Ketika sudah sering gagal, ada yang putus asa dan akhirnya malah main tebak-tebakan. Tentu ini sudah bukan ngimpleng lagi namanya.

Demikianlah (salah satu) masalah besar dalam praktek ngimpleng. Kita seringkali mencampuradukkan analisa dengan observasi. Pada saat melakukan ngimpleng, yang kita lakukan seharusnya adalah murni observasi, alias melihat apa adanya tanpa menilai. Setelah semua informasi terkumpul, barulah kita menganalisa dan memutuskan apa yang harus diperbuat. Dalam kasus melihat warna kartu yang dibalik, yang perlu dilakukan hanya observasi. Masalahnya sudah sangat disederhanakan di sini, namun justru di step pertama ini kita banyak yang gagal.

Setelah diskusi berkali-kali (baik dengan Kang Gun, Kang Monang, atau Kang Dicky), ternyata implikasi masalah observasi ini sangat luas. Masalahnya jauh lebih mendasar daripada sekedar melihat warna kartu, dan tidak bisa dipecahkan hanya dengan latihan. Yang diperlukan adalah format ulang pemikiran, dan itu hanya bisa dilakukan secara bertahap. Coba tanyakan pada diri sendiri : seberapa sering kita melakukan analisa sebelum observasinya selesai? Memang ada saat-saat dimana kita tak cukup waktu dan harus mengandalkan data tak lengkap, namun yang lebih sering terjadi adalah kita mengabaikan observasi karena merasa sudah pernah menemukan kasus yang sejenis sebelumnya.

SAYA MERAGUKAN KEMAMPUAN NGIMPLENG HIKMATUL IMAN SEBAB BAGAIMANA BISA UNTUK MELIHAT MAKHLUK HALUS, TAHU MASA DEPAN DLL KALO NGIMPLENGIN KARTU SAJA GA BISA.JANGAN2 CUMA KLAIM KOSONG SAJA???