Assalamu’alaikum.Wr.Wb.

Ada banyak ungkapan yang ditujukan pada saya mengapa saya tidak tabayun dengan langsung mendatangi orangnya langsung. Karena saya sudah banyak sekali menulis artikel yang membantah artikel yang dibuat orang lain terutama Kang Dicky (Guru Utama Hikmatul Iman). Terus terang saya banyak membuat artikel membahas permasalahan tenaga dalam dan ilmu metafisika dengan segala seluk beluk kesesatan didalamnya, bahkan saya banyak membuat artikel bantahan terhadap tulisan orang lain yang sekiranya menurut saya perlu dibuat bantahannya.

Sebelum saya membahas masalah tabayun ini mari kita lihat dahulu tanggapan-tanggapan yang telah saya terima :

dari keluarga sn : “Wahai orang-orang yang beriman apabila datang kepadamu seorang fasik dengan sebuah berita, maka bertabayyunlah (klarifikasi) sehingga kalian tidak menimpakan musibah pada suatu kaum dengan ketidaktahuan kemudian kalian menyesali dengan apa yang telah kalian lakukan.” (HR. Abu Kuraib dari Ja’far bin Aun dari Musa bin Ubaidah dari Tsabit Maula Ummu Salamah dari Ummu Salamah. Lih. tafsir QS. Al-Hujurat: 6 dalam kitab Tafsir At-Tabari)

Pernahkah pemilik blog ini mendatangi orang-orang yang dia sebut sesat secara langsung bertatap muka dan membawa bukti mengenai apa yang dia tuduhkan ?

dari ivy : Simpel aja , jika anda gentle datang saja tempat Kang Dicky, dia pasti menerima dengan baik. Jika Anda mau bertabayun iti mungkin merupakan Figur muslim sejati. Jangan melihat permasalahan dari permukaan saja. Jika ingin mengetahui tentang HI masuk dulu kedalamnya, regut manfaatnya bagi tubuh dan bisa bermanfaat bagi orang lain. Jadi jangan membula sesuatu perkara yang sebenarnya Anda sendiri tidak tahu, besar sekali dosanya.


Sekarang saya akan menjawab semua tanggapan yang sudah ditujukan pada saya :

Tabayyun jika diartikan dalam bahasa Indonesia artinya klarifikasi. Kalau orang-orang sering mengatakan minta klarifikasi, penjelasan, ya itulah tabayyun. Konsep itu sudah ada dalam ajaran Islam sejak dibawa Nabi Muhammad saw. 14 abad lalu. Menurut akar katanya, tabayyun berasal dari kata bayan artinya keterangan, jelas. Tabayyun artinya minta penjelasan.

Ada yang menyarankan saya untuk mendatangi orang-orang yang saya sebut sesat secara langsung bertatap muka dan membawa bukti yang saya tuduhkan sembari mengutip ayat :

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Al-Hujurat: 6)

Agar tidak salah menaruh konteks ayat dengan kasus yang saya alami saya akan menjelaskan dulu asbabunnuzul ayat diatas. Menurut para mufassir asbabunnuzul atau latar belakang turunnya ayat ini adalah : Suatu waktu Rasulullah Saw, mengutus Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith keperkampungan Bani Mushthaliq untuk memungut zakat yang telah dikumpulkan oleh Al-Harits bin Abi Dharar Al-Khuza’i selaku petugas zakat diperkempungan tersebut yang telah ditetapkan oleh Rasulullah. Setelah beberapa hari kemudian Walid kembali menghadap Rasulullah memberikan laporan bahwa  Al-Harits dan kaum bani Musthaliq tidak mau membayarkan zakat karena mereka sudah murtad, bahkan mereka akan membunuh aku, demikian laporan Walid.

Setelah mendengarkan laporan itu maka Rasulullah mengutus Khalid bin Walid untuk melakukan Tabayyun ( Klarifikasi) kebani Mushthaliq. Setelah Khalid bin Walid melaksanakan tugas Klarifikasi ke bani Musthaliq dan berjumpa lansung dengan Al-Harits, ternyata laporan Walid bin Uqbah tersebut adalah bohong. Kaum Bani Mushthaliq tidaklah murtad, dan Walid tidak pernah datang kesana memungut zakat sesuai dengan perintah Rasulullah. Al-Harits bahkan sangat gusar kenapa utusan Rasulullah tidak ada yang datang memungut zakat yang telah dikumpulkannya. Setelah Khalid bin Walid menyampaikan laporannya pada Rasulullah maka turunlah ayat (QS.Al-Hujurat 49:6).

Rangkuman dari peristiwa tersebut adalah :

Rasulullah tidak percaya ucapan Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith telah membuat laporan bohong dengan mengatakan Al-Harits dan kaum bani Musthaliq tidak mau membayarkan zakat karena mereka sudah murtad padahal Walid tidak pernah mendatangi Bani Mustaliq, karena tidak memiliki bukti ucapan/perbuatan langsung bani mustaliq maka Khalid bin Walid untuk melakukan Tabayyun ( Klarifikasi) kebani Mushthaliq dan ternyata Kaum Bani Mushthaliq tidaklah murtad, dan Walid tidak pernah datang kesana memungut zakat sesuai dengan perintah Rasulullah[1]

Analisis peristiwa diatas :

Walid membuat berita kepada Rasulullah + Rasulullah tidak punya bukti + rasulullah mengutas Khalid+ Khalid mendapatkan klarifikasi

Analisis peristiwa yang saya alami:

Kang Dicky membuat artikel di internet dan saya melihat artikel tersebut + Saya punya bukti tulisan Kang Dicky + Saya membuat Artikel bantahan + Saya dan dicky tidak klarifikasi secara langsung bertatap muka ?

Analisis peristiwa yang Kang Dicky alami :

Peruqyah membuat artikel/info tentang ruqyah di internet lalu Dicky melihat artikel tersebut + Dicky punya bukti tulisan/info tentang ruqyah dari para peruqyah yang mengupload tulisan/info tersebut di internet + Kang Dicky membuat artikel bantahan/mengkritisinya + Peruqyah dan Dicky tidak klarifikasi secara langsung bertatap muka.

Pertanyaan :

  1. Apakah saya telah membuat fitnah dan tidak tabayun hanya karena saya mengkritisi dan membuat bantahan dari artikel/info yang memang 100% dibuat Kang Dicky?
  1. Apakah Kang Dicky telah membuat fitnah dan tidak tabayun hanya karena kang Dicky mengkritisi dan membuat bantahan dari artikel/info yang memang 100% dibuat peruqyah?

JAWABAN DAN PENJELASANNYA

Saya dan Kang Dicky tidak membuat fitnah dan tidak diperlukan tabayun sebab data artikel/info yang kami terima benar-benar 100% falid dari sumber informasi. Kang Dicky dalam banyak artikelnya mengatakan ruqyah itu perbuatan jahiliah dan tidak ada tuntunannya dan ruqyah tidak diperlukan pada zaman modern ini. Perkataan Kang Dicky tersebut adalah pendapatnya sendiri dari hasil analisis menurut pola pikir beliau setelah memiliki berbagai artikel/info yang dia dapat yang dari para peruqyah. Maka saya bolah saja dong dengan pendapat saya mengkritisi pendapat Kang Dicky yang menurut saya salah dan menurut saya justru ilmu tenaga dalam dan ilmu metafisika yang dia ajarkan adalah perbuatan syirik, saya dapat mengkritisi Kang Dicky tentu dari berbagai info/tulisan yang kang dicky sendiri buat.

Maka apa yang harus di klarifikasi jika masing-masing berbeda pendapat ? Tabayyun artinya minta penjelasan, jika memang artikel yang saya atau kang dicky buat sudah dalam bentuk penjelasan maka tidak ada lagi tabayyun.

Pendapat kang dicky tentang ruqyah yang katanya merupakan perbuatan jahiliah, tidak ada tutunannya dan ruqyah tidak diperlukan pada zaman moden sudah dijabarkan kang dicky penjelasannya ? Maka untuk apa lagi peruqyah bertabayyun/minta penjelasan ? yang bisa dilakukan peruqyah hanya “menyerang” balik pendapat kang dicky tersebut dengan membuat bantahannya disertai dalil yang dianggap kuat dan biarkan para pembaca yang menilai yang mana dalil paling kuat dan penjelasan yang paling masuk akal

Begitu juga saya, saya mengatakan tenaga dalam dan ilmu metafisika itu syirik dan saya juga telah menjelaskan alasannya maka untuk apa lagi Kang dicky / murid Hi bertabayyun/minta penjelasan ? yang bisa dilakukan Kang Dicky dan Murid-murid HI hanya “menyerang” balik pendapat saya tersebut dengan membuat bantahannya disertai dalil yang dianggap kuat dan biarkan para pembaca yang menilai yang mana dalil paling kuat dan penjelasan yang paling masuk akal.

Sikap Kritis VS Tatap Muka

Banyak sekali pengamat politik menulis artikel mengkritisi perkataan presiden SBY yang telah didengarnya langsung, apakah masuk diakal agar tidak dianggap fitnah sebelumnya harus menemui langsung SBY. Jika prosedur itu harus dilalui maka tidak akan ada lagi sikap kritis karena sudah melalui persetujuan SBY.

Begitu juga diri saya yang membuat artikel yang membantah tulisan Dicky, apakah sebelum saya mengupload tulisan tersebut saya harus izin dulu kepada beliau, lalu menyodorkan tulisan yang saya buat lalu dikoreksi Dicky lalu baru saya upload.

Sebab saya telah membuat artikel (diantara banyak artikel yang saya buat) yang membantah tulisan Kang Dicky yang disebarkan diinternet yang mengatakan ada “misi politik dibalik Ruqyah” apakah saya dikatakan harus tabayyun dulu baru membuat artikel agar tidak dikatakan memfitnah ? Maka saya bertanya juga apakah Kang Dicky membuat artikel yang menyebut nama PKS, para praktisi Ruqyah, perguruan Thifan juga sudah lebih dahulu tabayyun ke partai, para praktisi ruqyah, perguruan thifan  agar tidak dikatakan fitnah ?

Dari rangkuman peristiwa diatas, Menurut saya sikap orang-orang yang mengatakan agar saya mendatangi orang perorang yang telah/hendak saya kritisi tidaklah tepat. Sebab saya bukanlah tukang fitnah/tukang bohong sebab saya memiliki bukti artikel/tulisan orang yang saya kritisi tulisannya. Saya ketika mengkritisi artikel orang lain selalu memberikan link dimana saya dapat tulisan tersebut. Link yang saya berikan adalah benar-benar 100% asli tulisan yang bersangkutan (dari web resmi mereka) dan tidak diingkari oleh orang tersebut dan anak muridnya. Sehingga saya tidak perlu untuk tabayyun mendatangi langsung (tatap muka) untuk klarifikasi apakah tulisan yang saya kritisi merupakan asli tulisannya.

Bukan saya saja bahkan di internet ada ratusan ribu bahkan jutaan orang membuat tulisan yang mengkritisi artikel orang lain dan orang tersebut tidaklah diharuskan untuk mendatangi orang yang dikritisinya secara langsung.

Betapa mustahilnya jika jika seseorang menyatakan ketidak setujuannya dengan artikel di internet lalu tidak boleh menulis artikel bantahan tetapi harus datang secara langsung tatap muka bertabayun baru dianggap tidak memfitnah.

Contoh sederhanya, ketika Era muslim membuat artikel yang mengkritisi konspirasi yahudi yang mengkampanyakan adanya missi fremassonry yang menghembuskan isu “kiamat” tahun 2012 dengan menyebut nama orang/tokoh yang terlibat didalamnya. Apakah kita sebagai umat islam tidak percaya dengan tulisan eramuslim tersebut dan menganggap eramuslim tukang fitnah karena tidak mendatangi /tabayyun orang perorang yang sudah dikritisi eramuslim. Jika harus menunggu dan tatap muka secara langsung orang perorang yang dikritisi eramuslim baru boleh menulis artikel maka MUSTAHIL akan terealisasi pertemuan tersebut dan mustahil akan dibuat artikel bantahan jika semuanya harus diklarifikasikan. Dan eramuslim tidak perlu mengklarifikasikan ertikel yang dia buat sebab eramuslim menulis tentu dari data-data yang telah dia dapatkan dan dari berbagai tulisan yang telah dibuat kelompok freemasonry tersebut.

Selain itu, saling berbantahan atau saling kritis mengkritisi tidaklah harus bertemu secara langsung untuk saling mempertahankan pendapatnya sebab sekarang jamannya sudah modern, sudah ada media telpon, surat pos, surat elektronik, maillinglist, chatting dll. Maka ketika saya menulis artikel yang membantah artikel Kang Dicky/orang lain di internet, saya berikan hak jawab kepada orang yang saya kritisi untuk juga menulis tanggapannya begitu juga sebaliknya.

Kesimpulannya

Sungguh, saya dalam tulisan ini berusaha untuk obyektif dalam menguraikan hakikat tabayyun yang banyak disalah artikan oleh masyarakat awam. Karena masih banyak orang salah paham dengan pengertian tabayyun. Ketika seseorang mengkritisi sesuatu yang memang ada buktinya maka tidak diperlukan tabayun sebab jika mengkritisi sesuatu itu merupakan pendapat pribadi yang bisa saja tiap orang berbeda pendapat.

Tabayun diperlukan ketika kita menerima informasi yang diragukan kebenarannya ketika tidak memiliki bukti pendukung seperti penjelasan dari QS. Al-Hujurat ayat 6 yang menjelaskan Walid membuat berita kepada Rasulullah karena Rasulullah tidak punya bukti maka rasulullah mengutas Khalid dan Khalid mendapatkan klarifikasi.  Sangat berbeda jauh konteksnya dengan seseorang yang membuat bantahan/mengkritisi sesuatu info/berita yang sudah dipastikan kebenarannya

Ketika kita menerima informasi yang memang 100% FALID dari orang yang bersangkutan langsung maka tidak diperlukan lagi tabayyun/koscek ketika akan mengkritisi/membantahnya. Contoh nyata ketika saya memperolah artikel yang 100% falid tulisan Dicky maka tidak lagi diperlukan tabayyun/kroscek ketika membuat artikel bantahan sebab sudah terbukti artikel tersebut buatan kang dicky.

Adapun saya berbeda pendapat dengan artikel dicky tersebut adalah hal biasa bahkan para ulamapun dalam masalah fiqih banyak yang berbeda pendapat. Maka jika saya atau Dicky saling berbeda pendapat janganlah dikatakan saya atau Kang Dicky tukang fitnah karena berbeda pendapat itu biasa.

Jikapun ada yang menyarankan saya untuk bertemu Dicky sesungguhnya tidak lagi dalam rangka untuk tabayyun/minta penjelasan melainkan silaturahmi atau bisa juga dalam rangka berdebat mempertahankan pendapatnya masing-masing. Adapun saran agar saya bertemu kang Dicky sudah saya setujui namun dalam skup yang lebih luas yaitu dalam seminar khusus (saya sudah mengajukan diri disini ). Namun hal ini juga saya pesimis sebab Kang Dicky sudah menjudgement saya tukang fitnah dan tidak mau bertemu saya dengan mengatakan :

Saya tidak ingin berdebat dan tidak akan melayani tukang fitnah . Sudah terbukti berdasarkan putusan pengadilan dia di vonis beberapa bulan penjara karena memfitnah Syaiful M Maghsry . Jadi kalau mau kita pembuktian saja , karena dia berani menuduh saya menggunakan Jin , maka dia harus membuktikan tuduhannya yang berdasarkan angan-angan itu . Dia harus memperlihatkan kepada khalayak umum kalau benar saya menggunakan jin , tolong tunjukan Jin nya , dan munculkan , biar semua orang melihat . Kerjaan saya adalah menghilangkan ilmu ilmu yang berbau jin seperti itu , dan perjuangan saya , jauh sebelum perdana ahmad muncul

lihat disini linknya

Wallahua’lam


[1] Ada hikmah dari asbabunnuzul QS.Al-Hujurat ayat 6, Ternyata rasulullah tidak memiliki ilmu metafisik yang bisa tahu isi hati seseorang, rasul tidak tahu isi hati Walid yang ternyata berbohong. Lalu alangkah sesatnya orang yang belajar ilmu metafisika yang mengklaim jika mempelajarinya bisa tahu isi hati seseorang (telepaty), mereka merasa lebih hebat dari rasulullah yang masih memerlukan utusan untuk mengetahui apakah walid berbohong atau tidak.