REINKARNASI yaitu ruh/nyawa pindah dari badannya setelah mati ke badan yang lain. Menurut Ensiklopedi Indonesia, Reinkarnasi adalah ajaran Timur Kuno tentang kelahiran kembali. Ajaran ini berpatokan kepada paham, manusia memiliki hubungan keluarga dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan. Manusia tunduk kepada rantai eksistensi yang disebut samsara. Tenaga pendorong cakra kelahiran kembali adalah hukum Karma [1], hukum akibat dari perbuatan. Akibat itulah yang menyebabkan manusia lahir kembali dalam ujud mahluk yang lebih tinggi atau lebih rendah martabatnya.

Penyebutan pertama reinkarnasi dalam sejarah dunia adalah dalam Rig Weda, tapi orang Mesir Kuno juga percaya dengan perpindahan jiwa. Kalimat-kalimat dalam “Buku Kematian” dari orang Mesir (Egyptian Book of the Dead) menyiratkan kemungkinan dari satu “kelahiran kedua.” Sejarawan Yunani Herodotus memberi tahu kita bahwa orang Mesir Kuno percaya pada satu jiwa yang abadi, yang terpisah dari badan. Mereka bahkan berpikir bahwa orang-orang yang berasal dari keturunan ningrat dapat memilih bentuk tubuh mereka setelah kematian. Idea Mesir mengenai reinkarnasi kemudian diambil oleh philsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles. Plato mengajarkan tentang keberadaan dari satu jiwa abadi yang mengalami kelahiran berulang kali.

Dalam Bagawad Gita dikatakan oleh Krishna kepada Arjuna mengenai reinkarnasi. Krishna berkata : “Pada waktu kematian, badan mati tapi jiwa tidak pernah mati. Jiwa pergi dari satu badan ke badan lain seperti badan berganti baju. Jiwa terus memasuki berbagai badan lain, sampai jiwa menghabiskan karma-karma yang melekat padanya. Proses ini dikenal sebagai reinkarnasi” (Bagawad Gita 2:22).

Para orang suci Hindu menemukan bahwa hidup manusia bukanlah sebuah kecelakaan atau kebetulan, Tuhan juga tidak bertanggung jawab atas ketidak-samaan di antara kita. Menurut agama Hindu, hidup adalah suatu aliran tanpa henti, tanpa awal tanpa akhir. Segala sesuatu adalah bagian tak terpisahkan dari keberadaan ini. Segalanya ada dari satu kehidupan kepada kehidupan lain, sampai ia mencapai pengetahuan yang benar mengenai dirinya sendiri atau sampai terjadi persatuan antara jiwa individu dengan Tuhan. Masing-masing dari kita akan mempunyai banyak kesempatan untuk mewujudkan jati diri kita yang sebenarnya. Doktrin reinkarnasi memberikan harapan kepada semua orang. Tiada seorangpun yang dihukum secara abadi. Yang terbaik dari kita akan mencapai moksha dengan satu kali kehidupan dan yang terburuk di antara kita akan mencapai moksha melalui kehidupan berkali-kali.

Bila seorang manusia menunjukkan sifat-sifat kebinatangan dalam hidupnya, dia akan lahir kembali sebagai seekor binatang buas. Krishna mengatakan, “Aku akan menjadikan manusia-manusia kejam dan jahat lahir berkali-kali sebagai binatang buas” (Bhagawad Gita 16:19).

Seorang manusia yang rakus mungkin akan lahir sebagai seekor babi atau binatang yang lebih rendah. Weda-Weda berbicara mengenai 8.5 miliar spesies kehidupan, sejak dari amoeba sampai manusia dan dewa-dewa. Seorang manusia dapat mengambil salah satu dari bentuk-bentuk kehidupan ini. Kadang-kadang jiwa juga berada dalam keadaan tidak berobah atau diam dalam periode waktu yang cukup lama tanpa memasuki satu badan atau bentuk tertentu. Jiwa itu dapat bebas dari karma-karmanya hanya bila ia mengambil satu bentuk badan. Jadi untuk mencapai kebebasan (moksha), jiwa diharuskan untuk reinkarnasi. Bila jiwa individu (Jiwatman) telah menghabiskan semua karma-karmanya dan bersatu dengan Tuhan, jiwa yang tak terbatas (Paramatman), maka kita katakan jiwa individu itu telah mencapai pembebasan.

Tidak seperti kepercayaan Hindu yang meyakini setiap reinkarnsi bayi yang lahir membawa karma baik atau buruk yang akan mempengaruhi perjalanan hidupnya. Maka Islam meyakini bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan suci, putih bersih ruhaninya dan tanpa dosa. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasul Saw bersabda: Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci bersih tanpa dosa). Ibu-bapaknyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi. [HR. al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad, Malik]

Manusia tidaklah memikul karma buruk sewaktu dia menjadi orang lain dalam kehidupan (reinkarnasi) sebelumnya seperti kepercayaan kafir, sebab Firman Allah,

“….Dan tidaklah seorang membuat  dosa melainkan kemudharatannya (akibat buruknya) kembali kepada dirinya  sendiri. Dan seorang tidak akan memikul dosa orang lain….” (QS. Al-An’am : 164)

Dalam hal hubungan ajaran reinkarnasi dalam yoga (yang bertentangan dengan ajaran islam). Ada para praktisi yoga muslim yang kini mempercayai keyakinan reinkarnasi. Dalam yoga diajarkan untuk membangkitkan kundalini dan membuka chakra-chakra untuk terlepas dari lingkaran reinkarnasi. Dengan bangkitnya kundalini maka seseorang bisa membakar karma negatifnya dari masa kelahirannya yang berulangkali hingga pada saat dia lahir saat ini hingga akan membuat dirinya terlepas dari samsara. [2]

Betulkah ada kebenaran paham reinkarnasi yang diajarkan oleh mistik yoga?[3] Mari kita bahas mengenai sesatnya kepercayaan reinkarnasi yang dibawa ajaran yoga.

Konsep kehidupan dan kematian dalam Hindu

Kebanyakan orang Hindu percaya pada perputaran “lahir, mati dan terlahir kembali” yang disebut dengan “samsara” teori reinkarnasi. Teori reinkarnasi memandang bahwa Allah telah menciptakan manusia berbeda-beda, keadaan yang tidak sama ada yang kaya ada yang miskin ada yang lahir sehat ada yang lahir cacat. Kenapa Tuhan / Allah tidak adil dengan menjadikan manusia berbeda-beda terjawab dengan teori samsara atau disebut juga dengan teori reinkarnasi atau perpindahan roh berdasar dari ayat Bhagavand Gita Ch. 4: V.22: ”ketika orang berganti pakaian dia menggunakan pakaian baru. Seperti itulah pergantian roh pada jasad, percaya pada teori karma, perbuatan berakibat pada karma, jika perbuatan baik berpahala didunia ini maupun diakhirat, perbuatan jelak ada hukumannya. Ada teori Dharma. Dharma artinya orang harus hidup dengan aturan Tuhan, kalau baik dharmanya maka karmanya baik.

Fakta Menarik Weda Tidak Membicarakan Reinkarnasi

Keimanan pada Moksa yaitu terbebasnya manusia dari perputaran lahir-mati dan terlahir kembali. Ini memberi kejelasan pada teori perpindahan roh atau samsara ini ternyata TIDAK ADA dalam kitab Weda, yang disebutkan Weda hanya “Punarjanam”. Punar artinya berikut atau lagi janam artinya “hidup” . jadi Punarjaman artinya “hidup berikutnya” atau hidup kembali tapi bukan perputaran hidup mati dan terlahir kembali ke dunia, itu hanya hidup di kehidupan mendatang. Cendikiawan Hindu menyatakan bahwa konsep perpindahan Roh  atau reinkarnasi tidak pernah ada dalam Weda. Apa yang dikatakan Weda pada Rigveda Bk. 10 Hymn 16 V.4-5 juga berbicara mengenai kehidupan setelah mati. Anda akan pergi ke “Talas” tapi tidak berbicara mengenai “mati kemudian hidup kembali”. Kitab Weda dan kitab-kitab Hindu lainnya berbicara mengenai Syurga dan alam Kahyangan. Digambarkan Syurga itu tempat yang sangat indah yang banyak mengalir sungai-sungai susu, buah-buahan yang bermacam-macam dan tempatnya indah dibicarakan Surga diberbagai tempat di dalam Weda. Dalam Weda juga dibicarakan tentang neraka. Neraka diuraikan dengan gambaran api, disebutkan api ini sangat panas, dineraka orang akan merasakan penderitaan. Disana ada konsep syurga dan neraka. Tapi dalam Weda tidak ada konsep lingkaran hidup, mati, hidup. Karena sebagai manusia, sarjana sekalipun tidak ada yang tahu akan bagaimana kita dilahirkan, apakah sehat ataukah ada cacat, ini ada dalam konsep lingkaran lahir, mati, dan terlahir kembali.

Konsep kehidupan dan kematian dalam Islam

Mari kita berbicara mengenai kehidupan setelah mati dalam Islam. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah Ch.2: V.28: “…tidakkah engkau tahu bahwasanya kamu ini asalnya mati kemudian Allah beri kamu hidup kemudian kamu mati dan dibangkitkan kembali” Pada saat berbangkit Allah menyatakan bahwa kamu datang ke dunia ini hanya sekali.

Lagi tentang kebangkitan Allah firmankan dalam Al-Qur’an pada surah Al-Mulk ch. 67 : v.2:” Allah menciptakan hidup untuk menjadi batu ujian untuk kesuksesan di akhirat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ch. 3 v. 185:”setiap jiwa pasti akan merasakan mati, hari akhir akan diperhitungkan semua amalan manusia, orang-orang yang selamat dari api neraka dan memasuki surga  disana mereka akan memperoleh segala yang mereka inginkan didunia, dunia ini tidak lain hanya berisi permainan dan tipuan belaka”.

Penjelasan kerajaan langit dalam Al-Qur’an, diterangkan bahwa disana banyak pahala, pahala diberikan berupa sungai air susu dengan buah-buahan yang bermacam-macam, tempat yang sangat indah. Al-Qur’an juga menerangkan tentang api neraka, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah :24 menjelaskan tentang api neraka, berbeda dengan Al-Qur’an dibandingkan dengan filsafat Hindu percaya pada lingkaran “hidup, mati-hidup lagi di dunia” karena di dunia ada yang kaya, ada yang miskin, lahir sehat, lahir cacat Allah katakan itu adalah ujian. Berbeda pada setiap orang, karena ujian berbeda-beda pada setiap orang maka kehidupan bisa berlangsung.

Manusia hidup hanya sekali didunia, dan ketika ajalnya menjemput maka kehidupan alam kubur dan akhirat akan dialaminya. Termasuk juga bagi seorang anak kecil ketika sampai ajalnya, tidaklah ruhnya lahir kembali kedunia dan mengambil sosok personal lain, melainkan akan menjadi pelayan ahli surga. Sebagaimana Allah berfirman, “Mereka dikelilingi anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, dan sloki yang berisi minuman yang diambil dari mata air yang mengalir.” (Al-Waqi’ah:17-18)

Allah berfirman,”Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda apabila kamu melihat mereka, kamu akan melihatnya bagai mutiara yang bertaburan.” (Al-Insan:19)

Menurut pendapat Ali bin Abi Thalib dan Hasan Al-bashri, mereka adalah anak-anak orang Islam yang meninggal, mereka tidak memiliki kebaikan dan kesalahan, mereka menjadi pelayan surga, karena di surga tidak ada wanita yang melahirkan.[4]

Rasulullah bersabda, “Anak-anak orang mu’min berada di sebuah gunung di surga mereka dipelihara oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Sarah. Mereka akan dikembalikan kepada orangtuanya di Hari kiamat.” [5] Dari hadits diatas sangat gamblang dan jelas anak-anak orang mu’min yang meninggal akan langsung masuk Syurga dan berada dalam pemeliharaan Nabi Ibrahim dam Sarah. Tidak ada namanya anak-anak orang mu’min ketika mereka meninggal waktu kecil ruhnya akan lahir kembali mengambil bentuk manusia lain demi melunasi karmanya.

Termasuk juga anak-anak orang musyrik, ketika menginggalnya tidaklah ruhnya lahir kembali untuk menyempurnakan missinya di dunia menjadi orang baik atau muslim. Melainkan Allah langsung menjadikan mereka pelayan terhadap ahli surga.

Sebagaimana Rasulullah bersabda, “Aku memohon pada Tuhanku agar anak-anak dari bani Adam karena mereka adalah pelayan para penghuni surga.”[6]

Rasulullah bersabda, “Anak-anak orang musyrik (yang meninggal) adalah pelayan ahli surga.[7]

Paham reinkarnasi yang telah difatwakan sesat oleh para ulama.

1. Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi, Al-Mubarokafuri Abul’ala w 1353H, 10 juz, Darul Kutub Ilmiyyah, Beirut, tt., juz 5, h 222 menegaskan:

Ketahuilah, tanasukh/reinkarnasi adalah kembalinya roh-roh ke badan-badan di dunia ini tidak di akherat karena mereka mengingkari akherat, surga dan neraka, maka karena itu mereka kafir. Titik. Aku  katakan atas batilnya tanasukh/reinkarnasi itu. [8] ada dalil-dali yang banyak lagi jelas di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di antaranya:

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (QS AL-Mukmin: 99-100).

2. Dalam Kitab al-Muhalla, Ibnu Hazm mengemukakan hadits dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw bersabda: “Apabila seseorang meninggal maka dibentangkan atasnya tempat duduknya pagi dan sore. Apabila ia termasuk ahli surga maka surga lah (yang dibentangkan padanya) dan apabila ia termasuk ahli neraka maka neraka lah (yang dibentangkan padanya). Kemudian dikatakan padanya, ini tempat dudukmu yang kamu dibangkitkan kepadanya pada hari qiyamat. ” Maka dalam hadits ini bahwa ruh-ruh itu merasakan mengetahui dipilih-pilih setelah berpisahnya dari jasad. Adapun orang yang mengira bahwa ruh-ruh itu berpindah ke jasad yang lain maka persangkaan itu adalah perkataan orang-orang yang berfaham reinkarnasi/ tanasukh, dan itu adalah kekafiran menurut seluruh umat Islam.

3. Fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta’

Pertanyaan: Seorang guru filsafat berkata kepada kami, bahwasanya arwah mengalami perpindahan dari seseorang kepada yang lainnya. Apakah ini benar? Kalau benar, bagaimana bisa bahwa arwahlah yang mengalami adzab dan dihisab? Kalau seandainya berpindah, maka yang dihisab adalah orang lain?

Jawab: Apa yang guru filsafat tersebut katakan kepada kalian bahwasanya arwah seseorang berpindah kepada yang lainnya, tidaklah benar.

Dan asalnya adalah firman Allah Ta’ala yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Tentu, kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang yang lalai dari perkara ini.” (Al A’raf 172).

Dan telah datang tafsir dari ayat ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Malik di “Al Muwattha” bahwasanya Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu ditanya tentang ayat ini, (yang artinya):  “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Tentu, kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang yang lalai dari perkara ini.” (Al A’raf 172), maka beliau menjawab: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentangnya, maka beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan Adam kemudian Allah mengusap punggung Adam dengan tangan kananNya, maka dikeluarkan darinya anak keturunannya. Kemudian Allah berkata,”Aku ciptakan mereka sebagai penduduk surga, dan mereka akan beramal dengan amalan penduduk surga.” Kemudian Allah mengusap (lagi) punggung Adam, maka dikeluarkan darinya anak keturunannya (yang lain). Maka Allah berkata, “Aku ciptakan mereka sebagai penghuni neraka, dan mereka akan beramal dengan amalan penghuni neraka.(HR. Imam Malik, Imam Ahmad dan yang lainnya.).

Ibnu Abdil Bar berkata, “Makna dari hadits ini telah shohih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari berbagai jalan dari hadits Umar bin Khatab, Abdullah bin Mas’ud, Ali bin Abi Tholib, Abu Hurairah dan yang lainnya radhiallahu ‘anhum ajma’in. Begitu juga Ahlu Sunnah wal Jama’ah telah sepakat terhadap hal tersebut. Mereka menyatakan: “Sesungguhnya perkataan tentang reinkarnasi arwah dari satu jasad kepada jasad yang lainnya adalah perkataannya ahlu at tanasukh (golongan yang berpendapat adanya reinkarnasi) dan mereka adalah sekafir-kafirnya manusia dan perkataan mereka ini adalah sebatil-batilnya perkataan.[9]


[1] Orang-orang Hindu percaya pada kehidupan sesudah mati. Mereka juga percaya Hukum Karma. Orang-orang Hindu percaya bahwa setiap pikiran, menghasilkan satu reaksi. Orang-orang Hindu percaya bahwa setiap pikiran dan setiap tindakan ditimbang pada neraca keadilan yang abadi. Hukum Karma adalah salah satu dari “sebab dan akibat”. Dia bekerja dalam dunia ilmiah dan dunia moral. Hukum Karma yang tidak tertulis ini adalah universal dan kita tidak bisa lain harus patuh padanya. Hukum-hukum ini bertindak dalam cara yang sama dalam lingkungan yang mirip. Misalnya, bila kamu menaruh tanganmu dalam api, kamu secara otomatis membakar jari-jarimu. Ini terjadi di setiap tempat dan setiap waktu, berlaku bagi bayi yang baru lahir dan seorang ahli phisika yang telah melakukan penelitian khusus mengenai api selama lima belas tahun. Tiada seorangpun yang mampu bebas dari cakar Hukum Karma, karena secara alamiah sepanjang waktu kita semua melakukan tindakan-tindakan. Bahkan mereka yang duduk menganggur juga melakukan tindakan dengan pikiran mereka, sekalipun tindakan mereka tidak menghasilkan apa dan bodoh. Doktrin Karma berawal pada zaman Rig Weda dan ia dijelaskan dengan sangat baik dalam Brihad-Aranyaka Upanishad.
Menurut agama Hindu, hanya badan saja yang mati, jiwa tidak pernah mati. Tapi jalan yang ditempuh oleh jiwa ditentukan oleh perbuatan-perbuatan di masa lalu yang secara populer disebut Karma.

Tindakan-tindakan dari badan sebelumnya tidak mati bersama (matinya) badan. Seperti kukatakan di atas, tindakan-tindakan yang telah dilakukan terikat pada jiwa dan tindakan-tindakan itu menentukan jalan yang dilalui oleh jiwa. Jadi bila kamu lahir kaya atau miskin, itu hanyalah disebabkan oleh tindakanmu dalam hidup terdahulu. Bila kamu lahir dengan penyakit, itu juga adalah buah dari perbuatanmu dalam hidup terdahulu. Setelah kematian, jiwa membawa sejumlah beban Karma dan mencari satu tubuh yang cocok untuk lahir kembali. Bila kamu hidup sebagai manusia busuk dalam hidupmu yang terakhir, maka jiwamu akan lahir dalam sebuah rumah dimana orang-orang melakukan kehidupan yang buruk. Bila kamu hidup secara baik, maka kamu akan lahir kembali dalam keluarga yang ideal dimana kedua orang tuamu akan hidup patuh dengan agama dan bahagia.

Menurut agama Hindu, jiwa meneruskan perjalanannya dengan membawa beban karma dari satu kehidupan kepada kehidupan yang lain sampai dia menghabiskan semua karmanya dengan mengalami penderitaan atau kesenangan dalam badannya. Metode berbeda-beda dalam upaya mencapai Tuhan menyediakan cara-cara yang mudah untuk mengakhiri drama ini. Kemudian jiwa individu ini, yang secara populer dikenal sebagai Jiwatman, akan bersatu degnan Jiwa Mutlak atau kekuatan yang tak terbatas, yang secara populer dikenal sebagai Paramatman. Proses menjadi satu ini dikenal sebagai moksha (salvation).

(http://www.network54.com/Forum/176162/message/1010974786/Hukum+Karma+dan+Reinkarnasi+(Bagian+-+1)

[2] Dalam mistik yoga, tujuan dari latihan adalah untuk membangkitkan Kundalini yaitu kekuatan ilahi yang sedang tidur dalam diri manusia yang berbentuk ular (kekuatan ular). Melalui latihan postur dan gerak, kekuatan Kundalini dibangunkan dan naik ke otak untuk mencapai Samadhi dan Kebebasan, dan kemudian Yogi itu akan mendapatkan kekuatan batin dan hidup sesukanya. “Kundalini adalah Kekuatan Ilahi yang sedang tidur, tergulung dalam suatu mahluk, 2 jari di atas lubang pantat dan 2 jari di bawah kemaluan, itulah tempat Muladhara Cakra. Di sini letaknya Devi Kundalini yang luhur. Ia menggulung dirinya tiga setengah kali seperti ular. Karena itu dikatakan “Kekuatan Ular” (Serpent Power).

Ia merupakan kekuatan dalam mulut Sushuma Nadi dengan muka ke bawah. Ia merupakan kekuatan alam yang mencipta dan senantiasa ada hubungannya dengan penciptaan. … Bila Kundalini Shakti (kekuatan Kundalini) naik ke atas dan bersatu dengan Siva di Sahasrara Chakra (letaknya di otak) mengakibatkan keadaan Samadi dan Kebebasan. Kemudian Yogi itu mendapat 8 macam Siddhis (kekuatan batin) besar dan 32 macam Siddhis kecil. Ia boleh hidup selama ia suka.” (Swami Sivananda, Yoga Asanas, hlm. 142-143).

Dari kedua kutipan di atas dapat dilihat bahwa usaha ‘membangkitkan Kundalini’ bukan sekedar untuk kesehatan, ketenangan, atau kebahagiaan sempurna, tetapi juga untuk mencapai keilahian yang penuh dan dapat menentukan kehidupannya sendiri dalam keselamatan dan kelepasan, Atman yang menyatu ke dalam Brahman ‘Yang Satu’ itu. AN-ATTA / AN-ATMAN Agama Buddha berasal dari Hindu dan meneruskan pengajaran Hindu seperti soal kehidupan yang berulang (reinkarnasi) maupun hukum sebab-akibat (karma) .

[3] Paham Reinkarnasi juga ada pada berbagai macam aliran Reiki, Prana, Chikung, Falun Gong, juga dalam beberapa aliran sufisme sesat.

[4] Tamasya ke Negeri Akhirat, karya Syaikh Mahmud Al-Mishri, terbitan Pustaka Al-Kautsar. Halaman 883

[5] HR. Ahmad dan Al-Hakim dari Abu Hurairah dan statusnya hasan menurut Al-Albani dalam jami’ As-Shahih (1023)

[6] HR. Adh-Dhiya’ dan Ibnu Asakir dan dibenarkan dalam Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah (1881)

[7] HR. At-Thabarani dalam Ausat dari Anas dan statusnya hasan menurut Al-Albani dalam jami’ As-Shahih (1024)

[8] Al-Mubarokafuri, penulis Tuhfatul Ahwadzi, Syarah Kitab Hadits Jami’ at-Tirmidzi

[9] Fatwa Al Lajnah Ad Daimah (2/434-435) Penerjemah: Ayub Abu Ayub