Syirik dalam Yoga melenyapkan amalan dan Membatalkan Keimanan

Bagi praktisi Yoga muslim ingatlah! Jika anda meyakini ritual Yoga dapat meningkatkan spiritualitas dibanding dengan ibadah-ibadah yang telah dituntunkan Rasulullah maka lenyaplah amalan-amalan yang telah ia kerjakan dan setanlah yang menjadi temannya.

Firman Allah Ta’ala:

ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Itulah petunjuk Allah, yang dengan-Nya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”(Al-An’am;88).

“Wahai orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, janganlah kamu membatalkan amalan-amalan kamu”. (Surah Muhammad: 33)

Ayat ini memerintahkan supaya umat Islam tidak mempersia-siakan segala amalan kebaikannya dengan sengaja membiarkan diri terjebak ke dalam perbuatan syirik. Menurut Imam al-Razi, perkara yang membatalkan amalan disini ialah melakukan kesyirikan.

Ia berdasarkan firman Allah: “Sekiranya kamu melakukan syirik, maka gugurlah amalan kamu” (Surah al-Zumat: 65) [1] .

Allah SWT juga berfirman:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

”Barangsiapa yang berpaling dari ketentuan Allah (Al-Qur’an dan As-Sunnah),Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan),maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu mengikutinya.”(Az-Zukhruf:36)

Tidak ada gunanya lagi kita shalat, dzikir jika dalam hati kita telah ada kerusakan akidah Tauhid, semua amalan kita tidak akan diterima Allah SWT!

Yoga mengajarkan sinkretisme agama, padahal agama yang diridoi Allah Islam

Yoga sesungguhnya berada dalam konteks Hinduisme  oleh karena itu bersifat sangat sinkretistik. Ia menyamakan agama yang satu dengan yang lain. Hingga dikatakan yoga dapat diikuti oleh berbagai macam agama. Ajaran mereka menganut spiritual perenial yang mengedepankan “kebaikan” universal. Hingga tanpa sadar banyak para praktisi yoga muslim yang akhirnya tersesat hingga hilang dalam dirinya ghiroh keislaman. Padahal Allah telah menyatakan Agama yang diridoi adalah Islam jelas menunjukkan bahwa agama atau kepercayaan lain selain Islam tidak diridoi dan merupakan kesesatan.

Allah Ta’ala juga berfirman :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa yang mencari selain Islam sebagai din (agama) maka sama sekali tidak diterima daripadanya dan dia di akhirat kelak termasuk daripada kalangan golongan yang rugi” (Surah Ali `Imran : 85)”.

Yoga adalah metode peribadatan agama lain, maka siapa yang belajar yoga akan mencampur adukkan keimanan dan kezaliman

Jika  ada para praktisi Yoga, menganggap bahwa ilmu Yoga sebagai salah satu metode dalam mendekatkan diri pada Allah hingga ibadah-ibadah syar’iah kita banyak tergantikan dengan “peribadatan” ala yoga. Maka sia-sialah yang dia lakukan.

Tidakkah ia membaca firman Allah Ta’ala.

الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

” Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. AlAn’am: 82).

Al-Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Quran al-`Azim, menafsir ayat dalam Surah Ali `Imran di atas menyatakan: “Barangsiapa  yang melalui suatu cara yang lain dari apa yang di syari’atkan Allah maka sama sekali amalnya  tidak diterima”.

Jangan meniru ritual ibadah agama lain, sebagaimana telah dijelaskan bahwa gerakan ritual yoga sangat erat dengan penyembahan terhadap dewa matahari. Jika kita mengikuti gerakan yoga tersebut maka kita telah bertasyabbuh dengan kaum kafir penyembah Dewa Matahari. Sebagaimana telah dijelaskan Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menyerupai (bertasyabbuh) dengan suatu kaum, maka ia termasuk di kalangan mereka.” (Riwayat Abu Daud, no. 3512)

Memelihara kesehatan Tidak boleh menghalalkan segala cara

Kita dalam memelihara kesehatan dan dalam berobat tidak boleh menggunakan sarana yang diharamkan. Para ulama bersepakat bahwa menggunakan perkara yang diharamkan untuk berobat adalah dilarang[2]. Hal tersebut berdasarkan beberapa hadist Nabi SAW:

“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kamu pada apa yang diharamkan ke atas kamu”. (Riwayat al-Bukhari)

“Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan setiap penyakit ada obatnya, maka berobat lah dan jangan kamu berobat dengan perkara yang haram”. (Riwayat Abu Daud)

Jika memang dalam keadaan darurat (terdesak) tidak ada lagi jalan bagi kita untuk berobat pada sarana yang halal maka bisa saja umat Islam menggunakan sarana yang haram, namun sifatnya hanya sementara saja. Namun jika kita melakukan senam Yoga dengan alasan untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani padahal banyak alternatif lain yang lebih syar’i maka senam yoga termasuk kategori haram untuk diamalkan. Masih banyak senam lain yang bisa memberikan kesehatan fisik dan psikis yang aman dari sisi akidah. Jika kita ingin menobati kegelisahan jiwa tidaklah orang tersebut membaca dan mengamalkan Al-Qur’an, sebab al-Qur’an itu sendiri memiliki ayat-ayat yang mampu memberikan ketenangan kepada jiwa muslim yang mengalami kegelisahan dan ketidaktenteraman.

Sebab Allah Ta’ala berfirman :

 

“Hai manusia! Telah datang nasihat dari Tuhanmu sekaligus sebagai obat bagi hati yang sakit, petunjuk serta rahmat bagi yang beriman.” (QS.Yuunus:57)

Dengan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an Insya Allah anda akan mendapatkan efek relaksasi dan pencerahan hingga segala masalah anda akan teratasi dan akan terjadi reaksi penyembuhan jika fisik atau psikis anda terkena semacam penyakit. Dengarkanlah dengan baik Insya Allah anda akan mendapatkan pahala dan bacaan ayat-ayat ruqyah dari Al-Qur’an dan Sunnah akan membuat hati anda tenang

Sebab, Allah Ta’ala berfirman :

 

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS.Ar Ra’d:28)

 

Allah Ta’ala berfirman :

 

“Hai manusia! Telah datang nasihat dari Tuhanmu sekaligus sebagai obat bagi hati yang sakit, petunjuk serta rahmat bagi yang beriman.” (QS.Yuunus:57)

 

Al-Qur’an secara harfiah (kata demi kata, bukan hanya makna) merupakan obat bagi penyakit-penyakit hati. Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an :

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu suatu pelajaran dari Tuhanmu, dan penyembuh terhadap penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat untuk orang-orang yang beriman.” (Yunus,10:57)  Nabi SAW bersabda: “Bacalah Al-Qur’an!Karena sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman : “Al-Qur’an itu obat bagi penyakit yang ada dalam dada”. Oleh karena itu mendengarkan atau membaca Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai teknik menenangkan jiwa dan membersihkan jiwa dari segala penyakit-penyakit hati (iri, dengki, sombong, ujub, takabur, riya, dan lain sebagainya).

Waspadalah,  yoga juga merupakan suatu bentuk senam yang bisa membawa kepada hukum syubhat karena percampuran antara ritual gerakan senam fisik yang mengandungi unsur peribadatan agama Hindu. Dalam hal ini Nabi SAW mengarahkan umat Islam meninggalkan perkara-perkara syubhat karena dikhawatirkan akan terjerumus melakukan yang haram. Sabda Nabi SAW:

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan”. (Riwayat Bukhari)

 


[1] Tafsir al-Razi, j.14, hal. 118.
[2] Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, j. 11, hal. 118-119.