Dikaji oleh Perdana Akhmad S.Psi (mantan praktisi Tenaga Dalam dan Ilmu Metafisika juga mantan Praktisi energi Esoterik Reiki)

Mengikuti manhaj/jalan Salafush Shalih (yaitu para sahabat) adalah kewajiban bagi setiap individu muslim. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut:

a. Dalil-dalil dari Al Qur’an

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al An’am: 153)

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An Nisaa’:115)

Ayat ini menunjukkan bahwa menyalahi jalannya kaum mukminin sebagai sebab seseorang akan terjatuh ke dalam jalan-jalan kesesatan dan diancam dengan masuk neraka Jahannam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah sebesar-besar prinsip dalam Islam yang mempunyai konsekwensi wajibnya umat Islam untuk mengikuti jalannya kaum mukminin dan jalannya kaum mukminin adalah jalannya para sahabat.

b. Dalil-dalil dari As Sunnah

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya..” (HR. Bukhari IV:169, Muslim VII:184,185, Ahmad I:424 dll)

Dalam hadist ini Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan tentang kebaikan mereka, yang merupakan sebaik-baik manusia dan keutamaannya. Sedangkan perkataan “sebaik-baik manusia” yaitu tentang aqidahnya, manhajnya, akhlaknya, dakwahnya, dan lain-lain.

Dari Abu Najih, al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu anh, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah memberi nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan hati bergetar dan membuat air mata bercucuran karenanya.” Maka kami berkata: “Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berikanlah kami wasiat.” Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Aku memberi wasiat kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi, tetaplah mendengar dan mentaati, walaupun yang memerintah kamu adalah seorang budak. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian kelak akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atasmu memegang teguh Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara-perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” [1]

c. Dalil-dalil dari penjelasan shalafush shalih

Abdullah bin Mas’ud rahdhiyallahu anh mengatakan:

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ul Bayanil Ilmi wa Fadhlih 2/947 no.1810 Tahqiq Abul Asybal)

Imam al Auza’i (wafat tahun 157 H) mengatakan:

“Bersabarlah dirimu di atas sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan salafush shalih karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” (dikeluarkan oleh Imam al Ajury dalam kitabnya asy Syari’ah dan al Khatib al Baghdady dalam kitabnya Syraf Ashabul Hadist)

Ittiba’ (Mengikuti) Pada Rasulullah dan Para sahabat VS Ilmu tenaga dalam dan Ilmu Metafisika

Ada banyak sekali komentar yang menyepelekan contoh dan prilaku rasulullah dan para sahabat dalam berbagai bidang kehidupan. Ketika saya mencontohkan bahwa belajar tenaga dalam dan ilmu metafisika tidak pernah dicontohkan dan diajarkan Rasulullah dan para sahabat mereka mencemo’ohnya dengan mengatakan “dikit-dikit bid’ah, dikit-dikit sesat, jaman rasulullah bedalah dengan jaman modern” dan berbagai cemo’ohan lainnya.

Padahal dalam setiap prilaku kehidupan sehari-hari haruslah kita mencontoh sebaik-baik manusia yaitu rasulullah dan para sahabat, sebagaimana dalam hadits dikatakan : “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (generasi Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan para shahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in) kemudian orang-orang sesudah mereka (Tabi’ut tabi’in).” (HR. Bukhari IV:169, Muslim VII:184,185, Ahmad I:424 dll)

Padahal pada perkara kesaktian ketika belajar tenaga dalam dan ilmu metafisika adalah perkara yang harus ada contohnya dari rasulullah dan para sahabat. sebab jika memang ada berbagai kesaktian ketika mempelajari TD/TM maka tentu akan terlebih dahulu dipelajari oleh sebaik-baik manusia para Zaman rasulullah dan para sahabat.

Kita semua tentu sudah tahu bahwa syarat diterima amal seseorang hamba Allah itu bila dilakukan dengan ikhlas dan berittiba’ (menyontoh) kepada Rasulullah saw. Ikhlas dalam artian tidak ada unsur syiriknya sedikitpun. Akan tetapi dalam klaim kesaktian yang bisa didapat dari belajar TD/TM sama sekali tidak ada contoh dari Rasulullah apalagi disertai dengan niat untuk mendapatkan suatu keluar biasaan.

Rasulullah tidak pernah latihan mendapatkan mu’jizat? rasulullah tidak pernah ikut atau membuka perguruan tenaga dalam/ilmu metafisik atau meng-inisiasi para sahabat hingga sakti. Para sahabat juga tidak pernah berlatih TD/TM untuk mendapatkan kesaktian/karomah ?

Perkara Mu’jizat, karomah, maunah adalah perkara ibadah pada Allah yang memerlukan dalil. keilmuan yang bisa membuat seseorang sakti dalam TD/TM adalah  bid’ah sebab rasulullah tidak pernah menyontohkan mengajarkan pada para sahabat bahkan rasul tidak pernah latihan untuk bisa mementalkan orang dari jarak jauh, ngimpleng, teleportasi, telepati, kebal, precognisi, dan berbagai klaim kesaktian lainnya.

Ketika keilmuan TD/TM merupakan bid’ah karena sama sekali tidak ittiba (contoh) dari rasulullah dan para sahabat mengapa kita tetap saja mau belajar TD/TM ? Sebab TD/TM yang umumnya dipahami oleh sebagian besar manusia, tenaga dalam itu sebuah kekuatan ghoib (bisa mementalkan orang dari jarak jauh, bisa melihat tembus, melihat alam ghoib, melihat masa lalu dan masa depan, bisa menyakiti/mempengaruhi jiwa orang lain dari jarak jauh dll) yang muncul pada manusia apabila seseorang itu melakukan laku-laku tertentu (melatih jurus tenaga dalam dengan niat mendapatkan kekuatan ghoib) adalah merupakan suatu bentuk bid’ah.

TD/TM sama sekali tidak ada tuntunannya dari Rasulullah yang jelas merupakan prilaku yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah (yang masih terluka, yang masih memerlukan bantuan mata-mata untuk mengintai musuh, yang masih memerlukan baju besi untuk melindungi tubuh beliau dari tebasan senjata musuh, Rasulullah tidak bisa tahu hal ghoib kecuali jika adiwahyukan kepadanya dll) dan bukan termasuk jalan orang-orang mu’min. Sebagaiman Firman Allah :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An Nisaa’:115)

Ingatlah saudaraku jika kalian tetap saja tidak mau ittiba denga rasulullah maka kalian akan tersesat dan akan masuk neraka jahanam!

Sebab kekuatan ghoib yang muncul dari TD/ TM adalah sihir yang berasal dari syetan. Seandainya bentuk kekuatan ghoib tersebut bisa dipelajari, dilatih dan sebagainya tentu amat berguna untuk membela kebenaran tentunya sudah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah dan diajarkan kepada para shahabat.

Adapun jika seseorang tersebut mempunyai kekuatan luar biasa pada dirinya tanpa dia sadari tanpa dia pelajari datang dari Allah Ta’ala tidak menuruti kehendaknya, tetapi karena kehandak Allah sebab karena keshalehan dia, karena banyaknya dia beribadah maka kekuatan itu disebut karomah/maunah.

Intinya apabila kekuatan tenaga dalam yang bersifat metafisik (seperti bisa mementalkan orang dari jarak jauh, bisa mempengaruhi alam pikiran orang lain dengan gerak jurus tertentu, bisa menyakiti seseorang secara ghoib, menerbangkan benda-benda dll) maka itu adalah perbuatan atas bantuan syetan.

Sebab kekuatan ghaib tsb yang dipelajari maka itu dinamakan sihir sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Hajar didalam Fathul Bari

Kesimpulan

Marilah kita selalu bercermin dan mengikuti jejak Rasulullah dan para sahabat serta ulama-ulama yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasul. Jangan berbuat bid’ah dengan terus berlatih TD/TM untuk mendapatkan kesaktian. Sebab prilaku tersebut tidak ada contohnya dari rasulullah dan para sahabat.

Segala amalan kalian yang berhubungan dengan TD/TM adalah perkara baru yang tidak akan diterima Allah dan tentunya akan menerimanya adalah syatan. dan kalian jika tidak mau bertaubat maka pasti akan masuk neraka. Sebab rasulullah telah mengatakan “sejelek-jelek urusan adalah yang baru (muhdats) dan setiap muhdats adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka¨. (Riwayat Muslim)


[1] (HR. Ahmad 4/126,127, Abu Dawud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676, ad Darimy 1/44, al Baghawy dalam kitabnya Syarhus Sunnah 1/205, Hakim 1/95, dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz Dzahabi, dan Syaikh al Albany menshahihkan juga hadist ini)