Khadam artinya pelayan, jongos, orang yang disuruh-suruh[1]. Manusia adalah makhluk yang lemah, kekuatannya terbatas tapi keinginan dan kebutuhannya tiada batas. Untuk memenuhi kebutuhannya yang banyak itu, biasanya manusia melibatkan orang lain. Kalau dalam urusan rumah tangga ia minta bantuan pada orang lain yang disebut dengan pembantu. Untuk menghandel pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, ia butuh seorang asisten atau ajudan. Dan masih banyak lagi fenomena adanya manusia yang membantu sesama manusia lainnya.

Tapi, terkadang mendengar berita bahwa pelayan yang dimiliki manusia tidak hanya terdiri dari manusia, ada orang yang mengaku bahwa ia punya pembantu dari makhluk lain. Mereka sering menyebut pelayan yang tidak tampak mata itu dengan istilah Khadam. Ada yang mengaku punya khadam jin, dan ada juga yang mengaku punya khadam malaikat yang didapat dari hasil riyadhoh[2] yang berat.

Benarkah malaikat bisa dijadikan khadam seorang manusia, yang bisa ia suruh-suruh kapan saja? Bisa ia setir sesuai kebutuhan dan kehendaknya, seperti pembantu manusia yang ada dirumahnya? Ataukah itu hanya klaim mereka saja? Atau khadam yang mereka klaim sebagai malaikat bukanlah malaikat, tapi hanyalah jin dan syetan yang memperdayainya serta berusaha menyesatkannya? Baca terus kajian ini, dan temukan jawabannya.

Malaikat itu Tentara Allah, Bukan Khadam Manusia

Dewasa ini banyak media cetak yang menawarkan iklan kepada pembacanya, terutama media yang bernafaskan mistik. Iklan yang ditawarkan bukan sembarang iklan, tetapi iklan yang menawarkan kepada pembaca untuk bisa memiliki pembantu atau pelayan. Pelayan yang ditawarkan pun bukan sembarang pelayan, tapi pelayan dari jenis makhluk ghaib, yaitu jin atau malaikat. Sebagian orang telah memahami bahwa bersekutu dengan jin atau syetan hukumnya haram, maka mereka takut dan tidak mau mengambil resiko. Tapi jika dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan khadam itu bukan jin melainkan malaikat, maka banyak orang tergiur dengan iklan provokatif itu. Karena menurut pemahaman mereka malaikat adalah makhluk yang identik dengan kebaikan dan jauh dari kekhufuran. Akhirnya merekapun berusaha untuk bisa memiliki khadam yang diklaim sebagai malaikat tersebut, walaupun harus merogoh kocek yang lumayan besar.

Di antara iklan-iklan provokasi kreatif tersebut adalah Batu Raja Sulaiman. Menurut si empunya salah satu khasiat dari batu tersebut adalah untuk menjadikan tubuh kebal senjata tajam , dan juga untuk melancarkan usaha serta menagih hutang dengan khadam malaikat. Harga batu yang ditawarkan pun variatif, ada yang berharga Rp 1.000.000, dan ada yang bernilai Rp. 2.000.000, dan ada pula yang seharga Rp 3.000.000. Bahkan di sebuah propinsi di Sumatera ada pasien yang harus membeli baju “anti senjata” dengan uang 10 juta. Siapa yang diuntungkan ?? Tidak lain adalah “kyai” itu sendiri.

Ada juga iklan yang menawarkan Aji Malaikat Muqqarabin yang diyakini bisa menjadikan pemiliknya kebal senjata, berwibawa, tidak mempan disantet, selalu selamat dan beruntung. Harga yang ditawarkan lebih murah dari iklan sebelumnya, yaitu Rp 295.000.

Ada juga yang tidak berani terus terang bahwa yang ditawarkan itu adalah khadam malaikat. Hanya saja dia mengiklankan khadam pendamping untuk membantu segala keperluan atau masalah. Khadam dihadirkan dari dalam tubuh sendiri, tanpa puasa, sesajen, tumbal atau perjanjian. Bukan setan, jin kafir atau black magic. Untuk semua agama dan calon pemilik harus datang langsung, hanya untuk  kebaikan! Itulah sebagian dari iklan-iklan yang bertebaran di tengah masyarakat.

Selain itu ada juga pesantran-pesantren yang mengajarkan cara-cara untuk bisa mendapatkan khadam dari malaikat dengan mengamalkan suatu amalan thariqat secara khusus seperti membaca wirid-wirid khusus (Seperti Doa Nurun Nubuwwah) yang dibaca selama beberapa waktu juga disertai dengan puasa sekian hari  dan setelah amalannya lengkap baru didatangi khadam malaikat yang bisa untuk dimintai suatu pertolongan atau suatu keperluan tertentu. Buku Al-Aufaq dan Syamsul ma’arif adalah buku “wajib” para santri.

Benarkah manusia bisa menjadikan malaikat sebagai khadam atau pelayan yang bisa disuruh kapan saja dan untuk apa saja ? Apakah manusia bisa menculik malaikat lalu dijadikan sandra yang bisa diperintah dan dijadikan budak ? Atau ritual-ritual yang dilakukan oleh manusia bisa mendatangkan malaikat, lalu malaikat itu berkhidmah kepadanya serta melayani setiap keperluannya ? Melindungi majikannya kala terancam bahaya, atau membuatnya sakti kebal senjata serta mempermudah segala urusannya ? Marilah kita mencari jawabannya dalam syari’at Islam.

Siapakah malaikat itu ? Menurut kamus besar bahasa Indonesia, malaikat adalah makhluk Allah SWT yang taat, diciptakan dari cahaya, mempunyai tugas khusus dari Allah SWT. (Kamus besar bahasa Indonesia: 705). Sedangkan DR.’Umar Sulaiman al-Asyqar mendefinisikan malaikat sebagai makhluk Allah SWT yang bukan termasuk komunitas manusia atau jin. Mereka adalah makhluk yang mulia, sarat dengan kesucian, kebersihan dan kecemerlangan. Mereka makhluk yang bertaqwa, senantiasa menyembah Allah SWT dengan sebaik-baik penyembahan. Mereka selalu melaksanakan semua perintah yang dibebankan Allah kepadanya, dan tidak akan bermaksiat kepada Allah SWT selamanya.[3]

Rasulullah SAW bersabda,“ Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian (tanah)”. (HR.Muslim).

Malaikat-malaikat itu adalah tentara-tentara Allah SWT sebagaimana yang diungkapkan Al-Qur’an,“ Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri“. (QS.al-Mutaddatsir: 31). Hanya Allah SWT yang mengendalikan mereka. Tak seorangpun manusia, termasuk para Nabi dan Rasul yang bisa memerintah atau melarang malaikat. Allah SWT berfirman,“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.“ (QS.al-Qadr: 4). Malaikat tidak turun ke bumi kecuali dengan perintah Allah, bukan perintah manusia. Malaikat Jibril mengakui sendiri bahwa ia tidaklah turun kecuali atas perintah Allah SWT. Ia berkata, ”Dan tidaklah kami turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu.” (QS.Maryam: 64).

Mereka diciptakan oleh Allah SWT dan masing-masing mengemban tugas khusus dari-Nya. Ada yang tugasnya tidak berhubungan sama sekali dengan manusia. Seperti malaikat yang ditugaskan untuk menyangga ‘Arsy, “Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (QS al-Haqqah: 17).

Ada juga yang tugasnya menjaga gunung, sebagaimana diceritakan Rasulullah SAW saat kaumnya yang tidak merespon seruan Rasulullah, ”Malaikat gunung mendatangiku dengan mengucapkan salam, lalu dia berkata: “Wahai Muhammad ! Sesungguhnya Allah SWT telah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu, saya malaikat gunung. Dan Tuhanmu (Allah SWT) telah mengutusku untuk mendatangimu, agar aku mengikuti apa yang kamu perintahkan, apa yang kamu inginkan. Kalau kamu mau, aku akan melemparkan dua gunung Mekkah kepada mereka.” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak, yang aku inginkan semoga Allah SWT mengeluarkan dari tulang rusuk mereka (keturunan) yang menyembah Allah SWT semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Ada juga malaikat yang ditugasi dengan tugas yang berhubungan dengan manusia secara langsung. Seperti mencatat amal manusia yang baik dan yang buruk,“Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS.Qaaf:18). Atau memohon ampunan untuk orang mukmin, “malaikat-malaikat yang memikul ’Arsy dan malaikat yang berada disekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman…“(QS. Al-Mukmin: 7). Menyampaikan salam orang mukmin ke Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai malaikat-malaikat yang menelusuri bumi untuk menyampaikan salam umatku kepadaku.“ (HR.Nasa’i, Hakim dan dishahihkan oleh Al-Abani dan Adz-Dzahabi). Sebagaimana ada juga malaikat yang ditugaskan untuk menjaga manusia, “Dan Dialah yang mempunyai kekuatan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga…“ (QS. Al-An’am: 61).

Berdasarkan ayat tersebut, memang ada malaikat yang ditugaskan Allah SWT untuk menjaga manusia, tapi bukan menjadi khadam atau pelayannya. Yang memerintahkan mereka adalah Allah SWT, bukan manusia. Allah SWT berfirman, “Bagi manusia ada Mu’aqqibatun (malaikat-malaikat) yang selalu mengikutinya bergiliran, mereka menjaganya atas perintah Allah SWT.“ (QS.ar-Ra’d: 11).

Ibnu Abbas berkata, “Yang dimaksud dengan Mu’aqqibatun dalam ayat tersebut adalah malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah untuk menjaga manusia didepan dan di belakangnya. Apabila ada sesuatu yang telah ditakdirkan Allah untuk menimpanya, maka para malaikat itu meninggalkannya,“ [4]

Bahkan Mujahid (murid Ibnu Abbas) berkata,“ Tidaklah seorang hamba kecuali baginya malaikat yang ditugaskan untuk menjaganya di saat tidur atau terjaga, menjaganya dari gangguan jin, sesama manusia dan binatang buas. Dan tidaklah sesuatu yang akan menimpa hamba tersebut kecuali malaikat tersebut mengingatkannya, kecuali kalau sesuatu itu telah ditaqdirkan Allah SWT untuk menimpanya.“ [5]

DR. Wahbah az-Zuhali berkata, “ Ada dua malaikat yang menjaga manusia di depan dan di belakangnya. Dan ada juga dua malaikat lain yang ditugaskan Allah untuk mencatat amal baik dan buruk manusia yang berada di samping kanan dan kirinya. Allah berfirman,“ (yaitu) ketika dua malaikat mencatat perbuatannya, seseorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.“ (QS.Qaaf:17 – 18).

Berarti bagi setiap manusia empat malaikat di waktu siang dan empat malaikat di waktu malam, mereka bergiliran. Dua bertugas untuk menjaganya dan dua mencatat amalnya, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah, “para malaikat bergantian mengiringi kalian di malam hari dan di siang hari. Mereka berkumpul di waktu shalat shubuh dan shalat ashar. Maka ketika (malaikat) yang berjaga di malam hari naik, Allah akan menanyai mereka (padahal Allah lebih tahu dari mereka),“ bagaimana kalian meninggalkan hamba-hambaku?“ mereka menjawab,“sewaktu kami datang, mereka lagi shalat. Dan sewaktu kami tinggalkan, mereka juga lagi shalat,“ (HR. Bukhari). Dan di riwayat lain rasulullah bersabda, “Sesungguhnya ada (malaikat) yang tidak meninggalkan kalian kecuali saat di toilet dan ketika bersetubuh (dengan istri atau suami), maka malulah terhadap mereka dan hormatilah mereka“ [6]

Memang ada malaikat yang selalu menyertai kita, dan yang mengendalikan mereka adalah Allah. Mereka bertugas atas perintah Allah Swt, bukan perintah manusia. Kalau manusia ingin supaya mereka terus melindunginya serta membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya, hendaklah memohon kepada Allah SWT. Dan cara memohon harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Kalau tidak sesuai, syetan akan bermain. Bukan malaikat yang turun, tapi malah jin atau syetan yang datang. Malaikat adalah tentara Allah bukan Khadam manusia!


[1] Kamus bahasa Indonesia, halaman  690

[2] Riyadhoh dalah sebuah disiplin pengemblengan diri dengan membaca wirid, mantra dan disertai puasa-puasa yang berat untuk mendapatkan suatu ilmu hikmah.

[3] Kitab ’Alamaul Malaikatil Abrar: 7

[4] Tafsir al-Munir: 13/123

[5] Tafsir Ibnu Katsir: 503

[6] Tafsir al-Munir: 13/123