“Dan ingatlah (pada waktu) Alah SWT mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Allah berfirman kepada malaikat : “Apakah mereka itu dahulunya menyembah kamu ?” Para malaikat menjawab : “Maha suci Engkau. Engkaulah pelindung kami bukan mereka, justru mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (QS.Saba’ : 34).

Malaikat adalah makhluk yang hanya tunduk dan patuh kepada perintah Allah SWT, bukan perintah manusia. Tugas mereka adalah mengabdi kepada Allah, bukan mengabdi kepada manusia, apalagi menjadi budak dan khadamnya. Kita sebagai orang mukmin harus mengimani adanya malaikat secara benar, dan tidak mengkultuskannya. Apalagi menjadikan mereka sebagai sekutu Allah atau tandingan-Nya. Kita tidak boleh minta bantuan kepada para malaikat tanpa terkecuali, termasuk malaikat Jibril. Karena minta bantuan kepada mereka untuk melindungi diri, memajukan usaha, menolak bencana, atau menyembuhkan penyakit dan yang lainnya adalah tindakan syrik dan menduakan Allah SWT.

Bermula dari pemahaman yang salah tentang malaikat dan kiprah mereka di kalangan manusia, akhirnya lahir keyakinan yang menyimpang. Ada manusia yang menjadikan malaikat sebagai perantara atau kurir (berdo’a dengan bertawassul pada malaikat) untuk mengantarkan do’anya kepada Allah. Dan ada juga yang menjadikan malaikat sebagai sekutu Allah, ia memohon pertolongan kepada mereka. Bahkan ada juga yang menjadikan malaikat sebagai Tuhan yang disembah. Allah berfirman, “Dan dia (Nabi) tidak menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah patut ia menyuruhmu kepada kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?“ (QS. Ali ’Imran:80).

Kalau kita memohon kepada malaikat dengan ritual atau wirid tertentu, lalu datang sosok ghaib untuk mengabulkan permintaan atau memberi bantuan, maka ketahuilah bahwa itu tipu daya syetan. Syetan datang untuk menjerat manusia dengan kesyirikan. Memang, syetan tidak secara langsung atau menunjukkan jati dirinya lalu menyuruh manusia menyembahnya. Tapi mereka mengelabui manusia dengan datang sebagai sosok malaikat. Malaikat palsu itu datang dengan menampakkan diri sebagai sosok orang yang alim dan shalih. Menasehati manusia dengan kebaikan, membantunya saat dalam kesusahan. Lalu bersedia menjadi khadamnya.

Kalau sudah begitu, bukanlah setan yang bersosok malaikat itu yang menjadi khadamnya. Justru manusia itulah yang menjadi khadam syetan dan budaknya. Syetan dengan mudah memperdayainya, dan manusia itupun dengan mudah menuruti instruksi syetan bersosok malaikat. Ketika seorang manusia merasa ia mempunyai khadam ghaib. Maka, cepat atau lambat rasa tawakkal dan bergantungnya kepada Allah SWT  akan berkurang, dan akhirnya terkikis habis. Bila ditimpa masalah ia berharap khadamnya datang membantunya. Kalaupun tidak datang juga, ia akan melakukan ritual yang telah dipesankan untuk memanggilnya. Mereka tidak menyadari bahwa syetan telah mempermainkannya.

Sebetulnya Al-Qur’an telah mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap tipu muslihat syetan yang bersosok malaikat. Pada hari Kiamat nanti, Allah akan bertanya kepada para malaikat-Nya tentang perbuatan orang-orang musyrik yang telah menjadikannya sebagai Tuhan. Tapi para malaikat membantah tuduhan itu, karena yang mereka sembah sesungguhnya adalah jin atau syetan, bukan malaikat seperti yang diyakini manusia tersebut. Al-Qur’an berkata: “Dan ingatlah (pada waktu) Allah mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Allah berfirman kepada para malaikat : “Apakah mereka itu dahulunya menyembah kamu?”  Para malaikat menjawab : “Maha suci Engkau, Engkaulah pelindung kami bukan mereka, justru mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu“. (QS. Saba:34).

Jebakan syetan yang bersosok malaikat sebetulnya bisa kita hindari, jika kita konsisten terhadap janji dan ikrar kita kepada Allah SWT. Kita sudah berikrar dalam setiap rakaat shalat. Yaitu saat kita membaca surat al-Fatihah, “Hanya kepada-Mulah kami beribadah, dan hanya kepadaMulah kami memohon pertolongan.“ (QS.al-Fatihah : 5). Dan ingatlah selalu akan pesan Rasulullah, “Jika kamu meminta (sesuatu), mintalah kepada Allah SWT. Dan jika kamu memohon pertolongan kepada Allah   SWT.“ [1]

Kita tidak butuh perantara dalam meminta sesuatu atau memohon pertolongan kepada Allah. Apalagi dengan memohon kepada makhluk-Nya termasuk para malaikat. Al-Qur’an memberitahu kita, ”Dan Tuhanmu berfirman : “Berdo’alah kepadaku, niscaya akan aku kabulkan untukmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mukmin : 60)

Lihatlah bagaimana cara Rasulullah memohon pertolongan kepada Tuhannya. Saat pasukan Islam berhadapan dengan pasukan kafir dalam perang Badar, jumlah pasukan Islam sepertiga dari pasukan musuh. Rasulullah terus berdo’a kepada Allah. “Ya Allah, penuhilah bagiku apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya aku mengingatkan-Mu akan sumpah dan janji-Mu.” Dan tatkala pertempuran berkobar dan semakin sengit, Rasulullah berdo’a lagi. “Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah selamanya setelah hari ini.”

Begitu larut dan khusyu’nya Rasulullah dalam berdo’a dan bermunajat, sehingga tanpa disadari sorbannya jatuh dari pundaknya. Abu Bakar memungutnya lalu mengembalikan ke pundaknya seraya berkata, “Cukuplah bagimu wahai Rasulullah untuk terus menerus berdo’a kepada Allah”. Setelah itu turunlah ayat, “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu : “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS.al-Anfal : 9).[2]

Dalam kondisi genting dan sulit seperti itu, Rasulullah tidak minta bantuan kepada malaikat, baik malaikat yang qarinnya maupun yang menjaganya. Kepada Allah-lah Rasulullah memanjatkan do’a dan memohon pertolongan. Allah Maha Tahu dan Maha Kuasa bagaimana cara untuk menolong hambanya yang sedang dalam kesulitan. Kita tidak bisa memastikan, apakah Allah akan mengutus tentaranya yang terdiri dari malaikat atau Allah mengutus makhluk-Nya yang lain seperti angin topan, badai, banjir, tsunami, longsor, gempa. Atau hati orang yang bermaksud jahat kepada kita dijadikan menciut dan kabur. Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Kita sebagai hamba, hanya bisa berusaha semaksimal mungkin dan berdo’a kepada-Nya, kemudian bertawakkal serta ikhlas menghadapi ketentuan-Nya.


[1] HR. Tirmidzi dan Ahmad. AlBani menyatakan sebagai hadits hasan sahih. Shohih wa dho’if Tirmidzi, 6/16, Maktabah Syamilah versi 2

[2] Lihat sirah Nabawiyah oleh al-Mubarakfuri: 284-285