Media sangat berperan penting dalam pembodohan mistik. bisa dilihat di fenomena jenglot di Bojonegoro. Dengan peluang untuk mendapatkan rating yang tinggi mereka menyajikan kita secara terus-menerus berita-berita murahan dengan judul yang tidak masuk logika. Kompas.com misalnya, lebih memilih judul “Cewek Berbadan Ular Akan Dipamerkan Sabtu[lihat di sini] ketimbang secara jujur memilih “Jenglot Berbadan Ular Akan Dipamerkan Sabtu”. Secara tidak langsung media sepakat bahwa benda ini memang makhluk hidup [baca: cewek].

Ini juga diperparah dengan berdatangannya para pajabat Kepolisian mulai Kabag Operasional Polres Bojonegoro, Kompol Suhariyono, Kabag Bina Mitra Kompol Husein Hidayat, Kasat Intelkam AKP Tejo S, dan Kabag Samapta AKP Temmy A Rachman ke rumah sang mbah, bukannya datang untuk menginvestigasi apakah ada kemungkinan penipuan, malah mereka jadi penonton bahkan ikut jadi panitia pengamanan acara pula! Logika pejabat kepolisian kita juga sudah mati, mungkin mereka korban tontonan Dunia Lain, Gentayangan, dan acara serupa [sekarang program-program itu mana yah?].

Lain lagi dengan kisah yang membuat geleng-geleng kepala. Prof. Dr. Haji Said Agil Husin Al Munawar, MA adalah seorang Dosen, Tokoh, dan Menteri Agama yang melakukan penggalian di komplek Prasasti Batutulis, Bogor yang hanya berdasar dari petunjuk dalam mimpinya bahwa di sana terdapat harta karun senilai Rp 1.500 triliun atau setara dengan 10.000 truk emas batangan[lihat di sini]. Protes dari kalangan arkeologi, mahasiwa, dan masyarakat setempat melalui spanduk-spanduk mencemoh bahkan tidak dipedulikan. Dan setelah beberapa minggu melakukan penggalian yang ada hanya kerusakan galian di lokasi prasasti. Saya betul-betul tidak habis pikir dan jadi bertanya, semua gelar akademisi itu perannya apa dalam berlogika?

Tuntutan untuk mundur dari Kabinet Gotong Royong yang saat itu dipimpin oleh Presiden Megawati tidak digubris, yang memperkuat dugaan bahwa presiden ikut merestui. Kemudian hari sang Menteri dipenjara 5 tahun karena kasus korupsi BPIH Rp. 35,7 miliar dan DAU Rp 240,22 miliar.

Terakhir kisah yang paling membuat bangsa malu adalah suksesnya si Joko “Blue Energy” Soeprapto menipu Pemerintah senilai Rp. 1,4 Milyar, mulai dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono[lihat disini], Wapres Jusuf Kalla[lihat disini], Komandan Kodim 0810 Jawa Timur, Letkol Chrisetyono Tri Suprapto, salah satu Anggota Dewan Sumardi, dan Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Khoiruddin Bashori. Sang penipu meyakinkan bahwa ia bisa membuat BBM Murah, tetapi yang dibeli oleh UMY hanyalah tipuan murahan sebuah pembangkit listrik palsu yang sama sekali tidak bisa berfungsi.

Logika ke mana yah? 🙂 🙂 🙂