“Tidaklah setiap orang dari kalian kecuali telah diberitakan kepadanya qarin dari jin dan qarin dari malaikat.’ Para sahabat bertanya,’dan untukmu wahai Rasulullah? ’Rasulullah menjawab, ` Untukku juga, hanya saja Allah telah menolongku, sehingga qarinku masuk islam, dan tidak menyuruhku kecuali pada kebaikan’.“ (HR.Muslim)

Seorang ulama tersohor yang bernama DR.Umar Sulaiman al-Asyqar berkata, “Yang dimaksud dengan qarin malaikat pada hadist ini bukanlah malaikat yang bertugas menjaga dan mencatat amal manusia. Allah menugasi qarin malaikat ini untuk mengarahkannya kepada petunjuk kebaikan. Qarin manusia yang dari malaikat  memotifasi dan mengarahkannya kepada kebaikan, sedangkan qarin jin memprovokasi dan menggiringnya kepada keburukan.“[1]

Qarin atau partner yang selalu menyertai manusia mengemban tugas khusus dari Allah , sebagaimana ditegaskan Rasulullah dalam riwayat lain, “Sesungguhnya syetan itu punya bisikan untuk anak Adam sebagaimana malaikat juga punya bisikan. Adapun bisikan syetan adalah mengajak kepada keburukan dan mendustakan yang haq (benar). Sedangkan bisikan malaikat adalah mengajak kepada kebaikan dan membenarkan yang haq. Barang siapa yang mendapati dalam dirinya ajakan kebaikan, maka ketahuilah bahwa itu datangnya dari Allah, hendaklah ia memuji Allah (baca Alhamdulillah). Tapi kalau dia mendapati yang lain (ajakan keburukan), maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah SWT dari godaan syetan yang terkutuk (baca Isti’adzah). Lalu beliau membaca ayat 268 dari surat al-Baqarah,“Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan(kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari pada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (Karunia-Nya) dan Maha Mengetahui.“ (HR.Tirmidzi dan Nasa’i dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya).

Qarin malaikat dan qarin jin senantiasa berkompetisi untuk mempengaruhi anak manusia. Keduanya, satu dengan lainnya tidak mau ketinggalan atau kedahuluan. Keduanya akan hadir saat manusia hendak tidur di pembaringannya. Qarin malaikat menginginkan manusia menutup aktifitas kesehariannya dengan kebaikan, sedangkan qarin syetan menginginkan penutup yang buruk. Begitu juga ketika manusia bangun dari tidurnya. Qarin dari malaikat mengajak manusia membuka dengan kebaikan, sedangkan qarin jin mengajaknya untuk membuka dengan keburukan.

Rasulullah bersabda menjelaskan kompetisi itu dalam hadist yang berasal dari Jabir bin Abdullah, “Apabila manusia berbaring di pembaringannya (akan tidur), malaikat dan syetan segera menghampirinya. Malaikat membisikkan, “Akhiri dengan kebaikan”, sedangkan syetan membisikan, “Akhiri dengan keburukan”. Apabila ia menyebut nama Allah sampai tertidur, maka malaikat mengusir syetan. Dan syetan akan bermalam seraya menyesali kekalahannya.“ (HR. Ibnu Hibban, Hakim dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi). Fenomena kompetisi itu akan terulang lagi saat manusia terbangun dari tidurnya. Maka dari itu jangan lupa untuk selalu berdo’a di saat hendak tidur dan juga saat terbangun dari tidur.

Dengan demikian, apabila ada orang yang melakukan ritual yang aneh-aneh atau menyimpang (amalan thariqah untuk membuat malaikat jadi khadam manusia) yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah, lalu datang sosok ghaib menghampirinya atau merasuk ke dalam dirinya, bisa dipatikan bahwa sosok itu bukanlah malaikat. Kalau bukan malaikat, berarti jin atau syetan. Walaupun ia melihat sosok datang itu berpakaian serba putih-putih, berjubah panjang atau bersorban rapi. Karena jin bisa menyerupai sosok siapa saja, bahkan para Nabi dan wali kecuali sosok Rasulullah yang setan tidak dapat menyerupainya.

Ada suatu kasus di mana peruqyah syar’iyyah yang menerapi seorang pasien[2]. Sebelum dilakukan terapi, pasien itu bercerita kalau dirinya pernah riyadhoh mengamalkan amalan yang berasal dari kyai yang mempunyai pesantren. Apabila amalan itu diamalkan, maka akan ada malaikat yang datang dan bersedia untuk menjadi khadamnya. Amalan itu adalah membaca surat Al-Jin setiap habis shalat lima waktu selama 3 bulan berturut-turut. Sewaktu terapi dimulai dengan membaca surat al-Fatihah, pasien tersebut langsung menjerit kesakitan dan mengaku sebagai malaikat Jibril. Sang Ustadz menyanggahnya bahwa dia bukan malaikat Jibril, tapi jin dzalim. Ketika dibacakan surat Ash-Shaffaat, jeritannya lebih kencang. Sampai akhirnya ia minta ampun atas kebohongannya. Lalu ia mengaku sebagai seorang kyai yang sudah lama meninggal. Ustadz pun menyanggahnya, ”Kamu pembohong besar”, lalu Ustadz tersebut melantunkan empat ayat terakhir surat Al-Hasyr. Jin itu teriak-teriak kesakitan, lalu dia mengaku jin yang datang saat pasien mengamalkan amalan, dan ia juga berjanji untuk segera keluar. Dan si pasien pun siuman kembali, Alhamdulillah.

Kasus lainnya, Al Hafidz Ustadz Hafi Suyanto. Lc ( Pengajar Ma’had Darul Fatah Lampung) pada masa mudanya masih nyantri menimba ilmu di salah satu pesantren di Jawa Timur dan belum banyak belajar, diajari oleh salah seorang Kyai untuk membaca dua kalimat syahadat satu nafas. Setelah itu menunggu sejenak dengan konsentrasi, maka beberapa saat akan datang khodam yang akan membantu masalah hidup. Di lain kesempatan, Al Hafidz Ustadz Hafi Suyanto. Lc juga diajari bertemu dengan makhluk ghaib dengan cara melafadzkan beberapa mantra. Ada yang berbahasa Arab dan ada yang berbahasa Jawa. Amalan itu harus dibaca di atas jam 12 malam dan di tempat yang sepi serta tidak beratap (tempat terbuka). Al Hafidz Ustadz Hafi Suyanto. Lc waktu itu (semasa masih nyantri) memilih tanah kuburan. Na’udzubillah. Semoga Allah mengampuni.

Ada juga yang beranggapan bahwa dengan amalam tertentu murni menggunakan bacaan dari Al-Qur’an, malaikat yang dijadikan Allah sebagai qarin manusia atau malaikat penjaga Al-Qur’an bisa dijadikan khadam atau pelayan pribadi. Itulah anggapan salah yang banyak diyakini oleh masyarakat. (Dan sudah menjadi keyakinan di kalangan masyarakat tertentu, bahwa setiap huruf dalam Al-Qur’an ada khodamnya.Semua ayat Al-Qur’an jika diringkas, maka isinya terangkum dalam lafadz basmallah. Dan inti basmallah terletak pada huruf ba’ di awal !!!) Dan itulah argumentasi naif yang sering dipakai oleh orang yang mengaku sakti, dan ia mengklaim kesaktiannya itu berasal dari khadam malaikat bukan jin. Lalu ia membagikannya ke orang lain dengan memasang tarif atau maskawin. Atau ia berusaha mewariskan kesaktiannya kepada siapa saja yang ingin berguru kepadanya atau menjadi muridnya. Karena ia mengklaim bahwa khadamnya malaikat, maka banyak orang yang tidak ragu lagi untuk memiliki, mempelajari dan mewarisi ilmu tersebut.

Bahkan khasiat yang ditawarkan pun beragam, ada yang dikatakan sebagai khadam penarik dana ghaib, pelindung dan perisai diri dari kejahatan, penolak bencana, membentengi diri dari kejahatan, penolak bencana, membentengi diri dari gangguan sihir dan jin. Mengobati berbagai macam penyakit, memudahkan jodoh, menjadikan kulit kebal senjata tajam, dan lain sebagainya.

Tahun 2004, Al Hafidz Ustadz Hafi Suyanto. Lc meruqyah seorang pasien yang galau dan pikirannya selalu kacau. Ketika beberapa saat dibacakan Al-Qur’an ia berontak, lalu terjadilah dialog dengan orang itu yang mengaku sebagai Tuhan. Sambil bercanda, penulis mendakwahinya. Setelah pasien sadar, ia bercerita tentang masa lalunya yang banyak bergaul dengan klenik dan amalan-amalan bid’ah.

Ada juga pasien yang diruqyah dan ternyata pesien itu menyukai gambar-gambar macan, mantra-mantra dari orang yang dianggap beragama di desanya. Dalam keseharian, ia merasakan keanehan. Setiap hari ia bisa menghabiskan waktu dari siang hingga tengah malam selalu melihat TV tanpa lelah. Dan masih banyak lagi pasien-pasien yang menjadi korban khodam yang diyakini sebagai khodam malaikat. Maka cukuplah mereka itu semua sebagai pelajaran berharga bagi kita.

Sekali lagi kami tegaskan di sini, bahwa malaikat itu adalah tentara Allah yang hanya tunduk kepada Allah. Ia sangat disiplin untuk menunaikan tugas yang dibebankan kepadanya. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.“ (QS.at-Tahrim : 6).

Perhatikan ayat yang artinya, “Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Kalau begitu siapa lagi yang datang ke orang yang melakukan ritual menyimpang, kalau bukan jin jahat atau syetan laknat. Karena qarin manusia yang berasal dari malaikat punya tugas khusus, tidak bisa seenaknya disuruh-suruh dan ia bukanlah khadam manusia


[1] Kitab Alamu Malaikatil Abrar: 48

[2] Untuk mengetahui seluk beluk terapi ruqyah syar’iyyah bisa membaca buku yang berjudul “Memahami Ruqyah Syar’iyyah danRuqyah Gadungan