Sebut saja namaku Saripah (53). Aku lahir di sebuah desa miskin, Teluk Lada, Provinsi Banten. Desa ini mulai ramai sekitar tahun 1950-an, seiring datangnya transmigrasi lokal dari tegal, Jawa Tengah. Masyarakat pada umumnya menggantungkan hidup dari bertani. Bahasa sehari-harinya terbagi dua, warga asli berbahasa Sunda dan warga pendatang, berbahasa Jawa dialeg Tegal.


Saya asli penduduk desa ini. Kisah ini merupakan sebagian perjalanan hidup almarhum suami saya. Suami yang asli Tegal ini, meninggal dunia lima tahun yang lalu dalam usia sekitar 60 tahun. Suami saya bernama Shidiq. Dari namanya, seharusnya ia bisa menjadi orang yang benar-benar dipercaya. Kenyataan lain, meski ia mengaku mengenyam pendidikan madrasah sampai kelas dua, perilaku dan sikapnya jauh dari tantunan agama.
Ia bertransmigrasi ke Banten pada usia sekitar 10 tahun, mengikuti warga desanya dari Tegal, hanya sebatang kara. Setibanya di Teluk Lada, ia memperoleh tiga petak sawah dan seratus meter tanah untuk membangun rumah. Tapi, karena keterbatasan keterampilan dalam mengolah tanah, ia pun menggadaikan tanah itu untuk menyambung hidup. Setahun berikutnya, ia menjualnya karena tidak mampu menebus. Untuk menghidupi diri, ia lantas bekerja serabutan.

Waktu terus berlalu, Shidiq kecil beranjak dewasa. Dalam usia ini, ia getol mempelajari mempelajari ilmu bela diri yang menjamur dipelosok kota Banten. Dari sekian banyak ilmu bela diri yang ditekuninya, terdapat satu ilmu yang mensyaratkan tidak boleh mandi dan menjalankan ajaran Islam, seperti shalat, puasa, zakat, membaca al-Qur’an dan amalan lainnya.

Sejak Shidiq mendalami ilmu ini, ia dikenal warga sebagai jawara alias jagoan bela diri. Bahkan, badannya kebal sabetan senjata tajam. Ia pun sanggup memukul lawan dari jarak jauh dan meremas aspal jalan menjadi abu dan kelebihan lain. Akibatnya, warga desa Teluk Lada dan sekitarnya banyak yang takut dan tunduk padanya. Tiap kali ia meminta harta benda sebagai “upeti” tak satu pun warga yang berani menolaknya.
Selain ditakuti sebagai “centeng”. Ia juga menjijikkan, karena tubuhnya hitam legam penuh daki, mukanya kotor, kuku kaki dan tangannya panjang banyak kotorannya. Dan rambutnya panjang bergimbal-gimbal penuh kutu. Bau badannya sudah tercium dari jarak puluhan meter. Meski begitu, ia tak pernah mandi selama puluhan tahun.
Bahkan, para Kiyai dan Ustadz di desa itu dan sekitarnya tak ada yang mampu menasihatinya. Jika diingatkan untuk membersihkan badan atau mengajak shalat, ia malah menghardik dan menantang duel para kyai dan Ustadz itu. Shidiq akhirnya malang melintang sebagai jagoan desa yang suka memeras warga. Apalagi, terhadap warga yang punya usaha, ia memalak habis-habisan. Jika tak dituruti, tak segan ia melabrak dan mengamuk.
Waktu terus berubah. Tak ada yang kekal di dunia ini. Ketika usianya menginjakangka 58 tahun, ia mulai terlihat lemah dimakan usia. Hidupnya pun semakin terlunta-lunta, apalagi ia selama ini hidup seorang diri tanoa menikah. Hilang sudah gegagahan dan keangkerannya seperti di masa muda. Warga desa pun mulai tak takut lagi pada sosok jawara tukang palak ini.
Meski begitu, ia tidak mau membuang perjanjiannya dengan syaithan. Ia tetap tak mau membersihkan badannya apalagi beribadah. Akibatnya., ia pun kelaparan dan sakit-sakitan, karena tak ada lagi warga yang bersedia menyetorkan “upeti”. Disinilah Allah SWT menjunjukkan kasih sayang dan rahmat-Nya pada seorang hamba, walau telah berbuat ingkar.
Melihat mantan “centeng” ini makin menderita, seorang juragan angkot, sebut saja Juragan Amin, mengulurkan tangannya. Setelah ia dibawa kedokter dan sembuh dari sakitnya, Juragan Amin menawarinya sebuah pekerjaan menjadi supir angkotnya. Selain itu, melalui tangan dingin juragan inilah, ia bisa menikahi Saripah. Memang, selain memiliki banyak angkot, Juragan Amin juga dikenal akan kebaikan dan keshalehannya oleh warga sekitar.
Belum lama menjadi supir angkot, Shidiq kembali berulah. Uang setoran ia habiskan untuk judi dan mabuk-mabukan. Tiap kali istrinya mengingatkan, tamparan dan pukulan bersarang telak diwajahnya. Bahkan, ia pun sering tidak memberi nafkah pada istrinya, akibatnya istrinya pun kurus kering karena sering berpuasa berhari-hari.
Akhirnya, juragan Amin kembali turun tangan. Setelah setahun bekerja, ia diingatkan agar mau menunaikan shalat, beramal shaleh dan meninggalkan kebiasaan buruknya. Jika tak mau menuruti nasihatnya, maka akan diminta kunci kontak angkotnya sebagai tanda dipecat dari pekerjaan. Rupanya iblis yang bersarang di tubuhnya benar-benar telah membelenggunya. Ia pun memilih menjadi pengangguran daripada harus taubat dan mengikuti jalan Allah SWT.
Sehari, dua hari, ia masih tahan tak makan. Tapi, selang beberapa hari, ia mulai digerooti penyakit karena usia yang makin senja. Ia pun beusaha meminjam uang pada tetangga, tapi tak ada satu pun yang mau memberinya. Akhirnya, rasa lapar dan penderitaan akibat sakit mengalahkan keangkuhannya. Malamnya, dengan sembunyi-sembunyi ia mendatangi rumah juragan Amin, agar diijinkan bekerja lagi.
Kemudian juragan Amin mendatangi dan mengingatkan para jamaah masjid, agar tak menghiraukan atau berlagak tak melihatnya bila sanga “centeng” memasuki rumah Allah. Tujuannya, agar ia tak risih dan tetap merasa myeman selama beribadah.
Subuh itu menjadi subuh yang terindah bagi warga Desa Teluk Lada. Seorang “centeng” yang ditakuti karena kesaktiannya, akhirya pergi juga kemasjid menegakkan shalat yang selama puluhan tahun menjadi pantangannya. Tapi, semua jamaah tiba-tiba terpana, ketika takbiratul ihram dilafadzkan oleh Shidiq, tiba-tiba pandangannya gelap gulita, sedetik kemudian ia pun tersungkur dan pingsan.
Setelah sadar, semua orang mendoakan dan membacakan al-Qur’an disebelahnya. Atas usul para tetangga, ia pun di-ruqyah (proses pembersihan dari gangguan jin) oleh seorang Kiyai yang kini telah dipanggil menghadap Alllah di daerah itu. Alhamdulillah, setelah menjalani proses ruqyah yang lama dan melelahkan hinggga 41 kali, ia kembali normal, ia pun bisa menjalankan shalat, membaca al-Qur’an dan beribadah lain seperti orang pada umumnya, tanpa gangguan apa pun.
Tiga bulan setelah ia bertaubat dan lepas dari belenggu iblis, Allah Yang Maha Kuasa memanggilnya. Ia meninggal pada usia 60 tahun dalam keadaan sudah beetobat dan beriman. Artinya, selama 60 tahun ia hidup, malang melintang mengumbar syahwat dalam cengkraman iblis berbalut ilmu bela diri. “Saya laga, akhirnya ia meninggal dalam keadaan beriman”, ujar Saripah yang kini hidup dari hasil berjualan anyaman rumia dan daun enau untuk atap rumah.
( Dituturkan oleh Saripah pada Iwan Priatna dari SABILI edisi NO. 10 H. XIII 1 DESEMBER 2005/29 SYAWAL 1426)