Jangan setengah-setengah dalam menjalankan agama. Jadilah seorang muslim yang utuh dan tidak sekedar Islam KTP.Apalagi bila ajaran agama bercampur dengan kepercayaan yang tidak jelas dan bertentangan dengan syari’at Islam. Salah-salah bisa mendatangkan bencana yang berkelanjutan. Seperti yang dialami Sutrisno.Bapak beranak satu ini mengalami derita yang berkepanjangan. Sepuluh tahun hidup dalam ketidak tenangan akibat salah langkah dalam beragama.Sebagaimana disampaikannya kepada Majalah Ghoib di Jakarta.Berikut ini petikan kisahnya:


Saya tumbuh dilingkungan yang kental dengan nuansa kejawen. Kedua orangtua saya termasuk pengikut fanatik. Demikian pula dengan warga disekitar rumah saya. Di sebuah perkampungan di pinggiran Jakarta Selatan. Bisa di katakan 75 % adalah penganut kejawen.

Saya pun larut. Meski belum menjadi anggota, tapi saya tidak asing dengan ritual serta berbagai kemampuan yang mereka miliki. Akhirnya tahun 1994, menjadi awal keterikatan saya dengan kejawen. Berbekal uang 75 ribu saya mendaftar di paguyuban kejawen yang dipimpin oleh salah seorang ketururan keraton solo. Saat itu saya mendaftar bersama dengan tiga orang tetangga.

Beberapa hari setelah mendaftar diadakan wejangan pertama. Disuatu malam yang terang. Di bawah temaram lampu neon, dua puluh anggota baru duduk berjejer di ruang tamu. Tawa canda mewarnai kehadiran mereka yang sudah berkumpul sejak jam sembilan malam. Perbincangan itu masih seputar kesaktian anggota senior. Yang rata-rata memiliki ilmu kebal senjata. Terus terang, profesi satpam yang saya geluti memberi dorongan tersendiri bagi saya untuk masuk kejawen.
Tepat jam dua belas malam, ritual di mulai. Dua puluh anggota baru segera merapikan barisan. Duduk bersila dengan tenang. Sementara Romo yang mengenakan pakaian gaya jawa dengan blangkon dan samir (selendang) di pundak duduk di depan. Mulutnya komat-kamit, entah apa yang dibaca.
Satu persatu peserta di suruh ke depan dengan mengepalkan tangan di dada dan menarik nafas secara teratur. Kemudian ia merapal mantra, “sumsumku wojo. Getihku wojo. Balungku wojo. Kulitku wojo. (sumsumku baja, darahku baja, tulangku baja, kulitku baja)” seorang kakak senior menghampirinya dengan sebilah pisau cukur ditangannya. “sreet pisau berkelebat menggores kulit. Tapi, oh … tidak ada darah. Tidak ada luka. Pisau cukur dibuang. Kakak senior segera meraih belati sangkur yang tergeletak dilantai. Tapi, belati yang mengkilat itu laksana mainan semata. Kakak senior masih belum puas. Ia segera mengambil sebuah mentimun dan meletakkan di perut peserta ujian.
Dan … ‘crees’ biji mentimun terbelah di babat samurai. Aneh. Tidak ada jeritan atau darah yang muncrat. Tebasan itu tidak melukai kulit peserta. Bahkan tergorespun tidak. Malam semakin larut, wejangan pertama akhirnya di tutup dengan menyantap hidangan yang terdiri dari wingko, pisang, jajanan pasar. Kembang setaman dan nasi tumpeng.
Setelah wejangan pertama, setiap jum’at diadakan jamasan di rumah seorang peserta. Ritual ini dilakukan tengah malam dan bersifat rahasia. Dengan perlengkapan kembang setaman, kemenyan dan hio. Tidak ketinggalan pula sebuah tungku berisi arang. Serta pisau yang membara terpanggang arang. Satu persatu peserta maju ketungku arang dan membaca, “Sumsumku geni. Balungke geni. Getihku geni. Kulitku geni (Sumsumku api, tulangku api, darahku api, kulitku api)”. Pisau diambil dan perlahan-lahan dijilat-jilat. Kembali keanehan terjadi. Pisau membara itu sama sekali tidak melukai lidah peserta.
Selang beberapa minggu usai melakukan ritual, mulai muncul perubahan dalam diri saya. Awalnya saya tidak begitu peduli. Tapi semakin lama keluarga dan tetangga mulai mempertanyakan perubahan ini. Saya yang biasanya tenang dan tidak banyak berulah, kini telah berubah. Berangasan dan mudah marah. Saya senang menyendiri dan tidak mau menerima nasehat. “Kamu itu seharusnya bergaul dengan orang lain, ngobrol dan tidak menyendiri”. Nasehat yang pada dasarnya untuk kebaikan itu langsung saya tanggapi dengan emosional.
Setelah banyak menyendiri dan merenung, saya merasakan ada keanehan. Orang bilang muka saya cemberut, mulut saya manyun terus dan tidak ada cerianya. Saya mudah tersinggung. Lelucon teman pun saya sambut dengan kemarahan. Saya sendiri terkadang binggung dengan keadaan ini.
Keanehan itu masih belum menyadarkan saya dan mengakhiri ikatan yang ada selama ini. Saya kembali mengikuti wejangan yang kedua di daerah Pondok gede bersama lima puluh peserta yang datang dari berbagai daerah. Kali ini, peserta diharuskan berjalan dengan tangan terkepal hingga jam dua belas siang. Tidak boleh memakai sandal atau sepatu, dan tidak boleh berteduh di bawah atap/genteng. Pantangannya semakin merepotkan, apalagi peserta di wajibkan puasa bisu. Mereka tidak boleh berbicara dengan siapapun hingga tiba kembali ditempat pemberangkatan.
Saya sendiri berangkat bertiga, menyusuri jalan-jalan besar di daerah Pondok gede. Komunikasi terjalin dengan bahasa isyarat. Istirahatpun hanya bersandar di pohon atau tiang listrik tanpa menekuk kaki. Orang-oarang yang memperhatikan kita nampak keheranan. Kita tidak peduli. Jalan dan jalan terus hingga ke Metropolitan Mall Bekasi. Dengan bahasa isyarat saya mengajak kedua teman saya untuk mengambil jalan kali malang.
Hari makin panas. Kaki sudah lecet-lecet, tapi itu tidak menghalangi niatan untuk terus berjalan, walau tanpa arah. Kita tidak tahu lagi, sudah sampai di mana sekarang. Sudah dekat atau makin menjauh dari Pondok Gede? Tidak ada pilihan lain, kali ini harus bertanya kepada tukang ojek dengan bahasa isyarat. Seorang teman saya mengambil batu dan menulis alamat yang kita cari ditembok pagar rumah dengan tangan tetap terkepal.
Seorang tukang ojek yang merasa kasihan akhirnya mengantarkan kita satu persatu ke Pondok Gede dengan posisi kaki tetap terjuntai ke bawah tanpa di tekuk. Setiba kembali ke Pondok Gede ternyata peserta lainnya telah menunggu di sana. Dengan sampainya di tempat pemberangkatan ini berarti peserta terbebas dari semua pantangan yang ada.
Setelah makan dan minum serta istirahat sejenak, ritual di lanjutkan di belakang rumah. Di sana, telah disiapkan drum bekas minyak tanah yang berisi air dan kembang setaman tujuh rupa. Airnya mendidih terbakar api yang berasal dari tumpukan balok-balok kayu yang masih menyala di bawahnya.
Kelima puluh peserta disuruh duduk berjajar dengan bertelanjang dada. Disusul oleh Romo yang diiringi kakak senior. Romo berdiri disamping drum dengan gayung ditangannya. Satu persatu peserta maju kedepan dan … menerima guyuran air mendidih di kepala. Dari uapnya, sudah bisa dibayangkan panasnya. Sampai ada seorang peserta yang tidak kuat. Dia meloncat dan lari. Hati saya berdebar keras saat tiba giliran. Namun, saya tetap bertahan. Guyuran air panas itu saya terima dengan gemetar. Namun tak urung, kulit saya seperti terbakar. Sampai memerah.
Setelah mengikuti wejangan kedua ini, saya makin aktif mengikuti berbagai kegiatan kelompok. Termasuk jamasan yang dilakukan mingguan. Bahkan setiap pulang kerja saya selalu membeli kemenyan untuk jamasan.
Hingga suatu siang, ditengah suasana kantor yang sepi, saya mendengar bisikan yang mengejutkan, “Tris, shalat kamu!” saya celingukan mencari sumber suara. Tidak ada orang. “suara siapa itu, nyuruh saya shalat. Seumur-umur saya tidak mikirin shalat. Ada apa ini. Tapi ah, masa bodoh amat”, pikir saya. Saya kembali duduk di meja. “Tris, shalat kamu!”suara asing itu terdengar lagi.
Tiga hari, suara itu membayangi hidup saya, hingga saya bertanya kepada seorang teman. “Ya sudah kamu shalat saja. Kamu shalat taubat saja”. Saya ikuti nasehatnya. Tapi bagaimana caranya shalat dengan baik? Akhirnya saya membeli buku tuntunan shalat. Pertama kali shalat, baru membaca takbir saja, saya sudah menangis seseggukan. Saya merasa banyak dosa. Waktu SMA memang saya shalat tarawih meski tidak tiap malam, karena waktu itu saya hanya ikut-ikutan saja.
Malam berikutnya saya shalat diatas dek, dilantai dua dekat jemuran. Tiba-tiba cahaya kuning keemasan muncul dalam hitungan detik, saat saya sedang berdoa. Saya tidak tahu cahaya apakah itu. Tapi sejak saat itu saya mulai rutin shalat. Sedikit demi sedikit saya mulai tidak aktif kejawen.
Ketidakaktifan ini berbuah pahit. Saya mulai dikucilkan keluarga. Terlebih setelah mereka mengetahui saya shalat. Mereka mulai menjauh dan memusuhi. Sinisme maupun cibiran tidak lagi terelakkan. “Yang sudah shalat saja, belum tentu masuk surga”. Tapi saya tidak peduli. Saya tetap mengikuti hati nurani saya.

a. Terjebak dalam Lubang Yang Sama

Tahun 95, saya putuskan keluar dari kejawen. Dan mencari aktifitas lain. Kebetulan waktu itu saya bertemu dengan teman lama sewaktu SMA. Ia mengajak saya mengikuti sebuah perkumpulan di Lembang, Bandung. Namanya terlihat Islami, tetapi sebenarnya sama dengan kejawen, hanya ini versi sunda. Akhirnya saya saya kembali terperangkap dalam aliran yang salah.
Mulai saat itu, saya sering bolak-balik Jakarta-Bandung. Kadang-kadang saya di Bandung satu minggu, kemudian balik ke Jakarta. Minggu depannya saya ke Bandung lagi. Disana saya mengikuti semedi yang biasanya dilakukan setelah magrib dan jam dua belas malam.
Disinilah, saya memperoleh kemampuan mendemonstrasikan jurus-jurus beladiri tanpa belajar terlebih dahulu, seperti jurus Bruce lee yang terkenal, ataupun jurus-jurus lainnya. Saya hanya memusatkan pikiran sambil memanggil jurus yang diinginkan dalam hati, “Saya ingin jurus pamacan. Hadir!” tak lama kemudian tangan saya bergerak dan memperagakan jurus pamacan. Ketrampilan itu muncul begitu saja setelah saya dimandikan di daerah perbukitan yang terpencil di kawasan air mancur Chernagiri kemudian dilanjutkan dengan semedi. Sekitar jam dua belas malam dengan ditemani seorang santri. Sejak itulah tangan saya bisa bergerak gerak sendiri.
Memang, baru sedikit yang saya kuasai, tapi bagi saya itu sudah cukup membangkitkan rasa percaya diri. Meski untuk itu saya harus mengundurkan diri dari kerja untuk mendapatkan kebahagiaan yang semu..
Awalnya saya ingin lebih fokus mengikuti aliran tersebut dan menyembuhkan penderitaan yang saya alami sejak mengikuti kejawen dulu. Tapi kian hari penderitaan saya bukannya semakin berkurang, malah menjadi-jadi. Ketenangan batin yang ingin saya reguk melalui aliran ini kembali kandas. Semua bermula dari kebiasaan teman-teman yang bisa dibilang acuh tak acuh dengan shalat. Di kelompok ini hanya segelintir orang yang melakukan shalat, itu pun masih belang-belang. Dari sini saya mulai kurang sreg.
Sementara itu, rasa sakit yang menyerang kepala tidak kunjung sembuh, emosi juga masih labil. Dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa aliran ini bukanlah jalan yang tepat untuk menyelesaikan berbagai masalah yang saya hadapi. Akhirnya tahun 1996, saya putuskan untuk keluar.

b. Minum Air Selokan


Sejak itulah episode pengembaraan mencari kesembuhan dimulai. Berbekal sedikit sisa pesangon kerja, saya berangkat ke Kudus, Jawa Tengah. Saya mondok disebuah pesantren di dekat gunung Muria dengan harapan segera sembuh, karena sebagian besar santri di pesantren tersebut memang anak-anak bermasalah. Anak-anak nakal yang suka narkoba. Disini saya mengalami peristiwa yang sulit terlupkan. Setiap habis shalat malam, ketika mata terpejam, yang terlihat Cuma mayat pocong. Mayat. Atau orang mengangkat keranda. Aneh memang. Terlebih bila saya beristighfar maka dalam hati saya muncul bisikan ‘Anjing-anjing’. Begitu seterusnya hingga berulang-ulang. Bisikan itu baru berhenti ketika saya berhenti beristighfar.
Kejanggalan itu dijawab oleh pengasuh pesantren dengan kulit menjangan yang bertuliskan huruf arab, melalui santri senior. “Mas, kata pak kiai kulit menjangan ini rendam dalam air putih dan dipakai minum”. Itulah yang saya lakukan tiap pagi. Meminum rendaman kulit menjangan. Walaupun hal itu saya lakukan dengan rutin, tetapi belum namapak ada perubahan. Akhirnya satu bulan kemudian saya pulang ke Jakarta.
Setiba di Jakarta saya kembali mencari orang pintar di Kramat Jati. Di sini, saya di beri bungkusan kain hitam kecil yang harus di bawa ke mana-mana. Saat sebelum tidurpun bungkusan itu tidak lepas dari tangan saya. Dengan tetap mengeggamnya saya di suruh membaca dalam hati, “Tidak ada kekuatan apapun yang bisa menganggu saya”. Meskipun hal ini telah saya lakukan beberapa hari, tetap saja tidak ada perubahan kepala saya makin pusing.
Hari berganti minggu. Bulan berganti Tahun, tapi sakit kepala saya tidak kunjung sembuh. Sifat uring-uringan juga tidak bisa hilang. Marah, sedih, bercampur aduk menjadi satu. Saya tahu bahwa itu semua memang tidak boleh. Tapi saya tidak bisa menghentikannya. Seakan ada kekuatan lain yang mengendaliakn diri saya.
Ketika hal ini saya ceritakan kepada orangtua, mereka bahkan menyalahkan saya. “Kamu salah sendiri. Mengapa belajar ini belajar itu tidak bilang dulu kepada orang tua”. Saya merasa sendirian. Apa yang saya lakukan selama ini agaknya sia-sia. Saya mulai gelap mata, sehingga hampir saja saya bunuh diri dengan minum racun serangga. Niatan bunuh diri muncul pada akhir tahun 1998.
Saya pun putus asa. Shalat sudah. Berdoa sudah. Berobat ke orang pintar juga sudah. Tapi tetap tidak ada perubahan. Pada suatu siang, saat berada di rumah teman di daerah pasar minggu saya berniat minum racun serangga. Tapi niatan itu di hentikan oleh bisikan dalam dada, “kalau kamu minum racun, urusan dunia kamu memang sudah selesai, tapi kamu harus mempertanggungjawabkan di akhirat”. Saya tidak tahu, suara siapa itu. Tapi setidaknya bisikan itu mengagalkan niat saya.
Kembali saya bangkit dan terus mencari informasi, siapa kira-kira yang bisa menyembuhkan saya. Kebetulan saat bertemu dengan teman lama, dia menceritakan bahwa mertuanya mampu mengobati orang gila. Saya pikir apa yang saya alami ini lebih ringan. Akhirnya saya datang ke rumahnya. “obatnya sih gampang. Ada dimana-mana tanpa bayar”, kata mertua teman saya. “Obatnya Cuma minum air comberan”. Saya terkejut. Apa mungkin air selokan bisa menyembuhkan sakit saya? Keraguan itu saya tapis perlahan. Ah, tidak apa-apa. Daripada sakit terus, pikir saya. Akhirnya dengan menggunakan botol plastik saya mengambil air selokan di depan rumah saya. Tatapan mata tetangga yang keherananpun tidak saya hiraukan.
“Gluuk. Gluuk air selokan itu masuk perlahan ke tenggorokan. Saya tutup hidung saya kuat-kuat. Tapi tetap saja bau busuknya menyengat. Bapak yang melihat ulah saya pun hanya bisa geleng kepala. Hari berganti minggu. Tapi sama sekali belum ada perubahan. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti minum air comberan.
Tak terhitung, berapa orang yang pintar yang sudah saya datangi. Tapi saya tetap tidak peduli. Satu persatu orang pintar lainnya saya kejar. Mulai dari Serang, Cimanggis, Cirebon, Pandeglang, Magelang atau kota-kota lainnya.
Aneka model pengobatan telah saya ikuti. Bahkan saya pernah mengikuti terapi dengan menggunakan sengatan listrik. Sang penterap menginjak dua logam yang mengandung muatan listrik. Kemudian tubuhnya yang telah dialiri listrik itu memegang bagian-bagian tubuh saya. Telinga, dada atau tempat lainnya. Empat kali saya mengikuti terapi ini, tapi hasilnya masih tetap sama. Belum ada perubahan.

c. Memang Tidak Mudah Untuk Berubah Baik


Terus terang. Saya belum tahu bahwa apakah yang saya lakukan selama ini banyak yang bertentangan dengan agama, karena tidak sedikit orang pintar yang saya datangi adalah pengasuh sebuah pesantren.
Kesadaran itu baru muncul setelah saya mengikuti ruqyah di Bogor. Dari merekalah akhirnya tahu bahwa di kantor Majalah Ghoib ada terapi ruqyah yang sesuai dengan Islam. Akhirnya saya ingin tahu Majalah Ghoib. Saya cari di agen, kok sepertinya menarik. Akhirnya saya daftar ke kantor. Majalah Ghoib pada bulan Mei.
Kepala saya terasa panas, begitu ayat-ayat Al-Qur’an di baca oleh peruqyah. Meski saya tidak sampai tertarik seperti beberapa pasien lainnya. Barulah setelah ditangani satu persatu secara lebih intensif, saya bereaksi. Saya teriak-teriak. Pandangan pasien yang menunggu tidak lagi saya hiraukan. Saya tidak malu meski harus berteriak-teriak sekeras-kerasnya.
Al-Qur’an terus dibacakan, sampai saya muntah-muntah. Disinilah saya ceritakan kepada ustadz yang menterapi saya bahwa apa yang saya alami sudah berlangsung sejak sepuluh tahun yang lalu.
Dua hari setelah ruqyah, badan saya menggigil. Kejadiannya bermula setelah shalat magrib. Padahal siang harinya, saya tidak merasakan apa-apa semuanya biasa saja. Istri saya sampai bingung. “kenapa sih mas. Kok demam?”
Awalnya saya tidak tahu bahwa apa yang saya alami ini merupakan pengaruh dari ruqyah dua hari lalu. Barulah setelah saya membaca Majalah Ghoib tentang kesaksian seorang wanita yang disihir saudaranya sendiri, saya tahu bahwa gejala yang dirasakan sama dengan yang saya rasakan, demam.
Dari sini, saya merasa menemukan terapi yang tepat. Karena selama ini tidak sedikit dari orang pintar yang mengobati saya menyerah dan takluk. Ia tidak sanggup lagi mengobati. Bahkan ada diantara mereka yang muntah-muntah.
Tanggal 5 Agustus, saya mengikuti terapi yang kedua. Reaksinya masih sama dengan ruqyah yang pertama. Hanya saja, empat hari kemudian saya kembali diserang hawa dingin. Saya mencoba mengusir dengan sweater. Tapi tetap saja rasa dingin itu tidak bisa hilang. Herannya, badan saya seakan tidak bertenaga. Untuk mengangkat ember kecil saja, jari saya sudah tidak kuat. Aneh memang sepertinya tenaga saya diperas habis. Tulang-tulang seakan remuk. Hal ini berlangsung sampai sepuluh hari.
Hari-hari berikutnya, saya merasakan perkembangan kesehatan saya semakin membaik. Meski saya akui masih belum sembuh total. Karena itu tidak bosan-bosannya, saya terus mengikuti terapi ruqyah. Ada banyak alasan yang membuat saya tenang. Saya tidak lagi takut shalat saya tidak diteima selama empat puluh hari atau bahkan saya dianggap telah keluar dari Islam, gara-gara berobat ke dukun atau para normal.
Sekarang sudah empat kali saya mengikuti ruqyah. Dan saya akui perkembangannya cukup memuaskan, dari sini saya bertekad untuk tetap mengikuti terapi ruqyah walau harus lebih dari sepuluh kali. Karena apa yang saya alami ini memang telah berlangsung sepuluh tahun. Terlebih lagi sudah puluhan orang pintar yang saya datangi. Saya ingin hidup normal seperti yang lainnya. Amiin.
d. Bedah Kesaksian
Sutrisno yang menuturkan kesaksiannya memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk kita. Untuk kita renungi dan selanjutnya berhati-hati dalam menghadapi persetruan abadi antara yang benar dan yang bathil.
Berikut beberapa pelajaran penting yang sangat bermakna untuk peningkatan keimanan kita kepada yang ghaib sesuai syariat:
Pertama, ilmu sihir hanya terlihat indah diawal.
Keindahan yang membuat terlena para pemburu kesesatan. Kehebatan yang membuat mereka semakin sombong dan larut. Kedigdayaan yang terlihat sangat hebat dan tidak terkalahkan. Di tengah decak kagum orang-orang yang melihatnya.
Tetapi sihir itu menyengsarakan dari cara memperolehnya. Sutrisno mempelajari ilmu sihir dan mantera-mantera dan ritual-ritual yang dalam Islam dilarang. Seperti ritual jamasan dan selalu melibatkan kemenyan, kembang dan mantera yang membuat orang menjadi kebal dan kuat. Belum lagi ritual jalan kaki yang sangat menyiksa. Dengan tangan terus mengepal, puasa bicara, jalan diatas terik aspal Pondok gede dengan tanpa alas kaki, tidak boleh berteduh di bawah atap atau genteng. Sungguh ini adalah bentuk penyiksaan fisik dalam Islam dilarang. Karena fisik ini dalam Islam diberikan haknya dan harus di hormati. Belum lagi ritual diguyur air mendidih. Siapapun tahu kalau air mendidih panas. Maka lagi-lagi ini adalah bentuk penyiksaan fisik yang tidak diizinkan.
Kesengsaraan yang dimunculkan oleh sihir berbuntut hingga pada dampak setelah mendapatkan ilmu sesat tersebut. Sutrisno mulai nampak berubah. Orang-orang di sekitarnya terheran-heran dengan perubahan itu. Cepat tersinggung, marah, sakit kepala dan seterusnya. Ketenangan hiduppun seakan sirna.
Memang begitulah ilmu sihir itu. Untuk itulah, Islam sangat melarang keras sihir. Haram hukumnya belajar dan memanfaatkan sihir. Karena syetanlah yang mengajarkan ilmu sesat tersebut kepada manusia. Sangat banyak dalil yang melarang keras tentang sihir ini, salah satu contohnya hadits berikut, “jauhilah oleh kalian tujuh hal yang menghancurkan! Rasulullah ditanya, ‘Apa itu wahai Rasulullah?! Rasul menjawab, ‘syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang telah diharamkan oleh Allah kecuali dengan cara yang benar, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan perang, menuduh wanita muslimah yang baik-baik”. (HR. Bukhari no.2615 dan Muslim no. 89).
Istilah Nabi yang dipakai untuk ke tujuh hal tersebut termasuk sihir sungguh sangat luar biasa tepat. Menghancurkan.Sihir benar-benar telah menghancurkan kehidupan seseorang. Hanya sesaat saja nampak indah, hanya sekelebat terlihat hebat. Tetapi sungguh jin telah menyesatkan orang-orang yang mempelajari ilmu sihir.
Kedua, memang hanya dengan dzikirulah.
Inilah makna dalam dari ayat Allah, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan menginggat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram”. (Qs.ar-Ra,d: 28)
Disnilah letaknya ketentraman. Orang yang tidak dekat dengan Allah, seperti bahasa sutrisno, “seumur-umur saya tidak mikirin shalat”, jelas akan menjadi mangsa empuk para syetan untuk dipermainkan seperti bola di tangan anak kecil.
Dzikirullah juga bisa menjadi wiqayah (perlindungan) dari berbagai marabahaya yang mengancam seperti gangguan jin. Untuk itulah dalam Islam selalu diajarkan doa pada setiap aktivitas. Dimana salah satu fungsi doa selain untuk selalu mengikatkan hati ini kepada tali Allah, juga untuk mendapatkan perlindungan Allah dari gangguan syetan. Aisyah, istri Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah mengatakan tentang dzikir Nabi, “Nabi bedzikir pada setiap kesempatannya”. (HR. Muslim no. 373). Begitulah teladan mulia dari manusia paling mulia. Nabi yang telah dijamin masuk surga masih terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah, maka seharusnya kita berusaha lebih keras lagi karena kita tidak pernah mendapat jaminan surga atau jaminan bahwa amal kita ada yang diterima. Dengan mendekat kepada Allah, maka syetan akan menjauh dari kita.
Tetapi yang perlu sekali diingat adalah, bahwa dzikir yang kita lakukan harus benar-benar syar’i dan harus diwaspadai penyimpangan-penyimpangan dalam dzikir.
Ketiga, usaha kesembuhan islami.
Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Sutrisno melanglang buana mencari ilmu kemudian mencari pengobatan untuk kejanggalan yang dia rasakan.tak terhitung lagi orang pintar yang sudah didatanginya. Penawaran pengobatan tidak islami sesungguhnya seperti yang dialami oleh Sutrisno walaupun cara berbeda. Yaitu saat dia meminum air selokan yang jelas bau dan kotor itu. Tentu sangat tidak logis, dan tidak ada dokter yang memberikan resepnya berupa air limbah untuk obat.
Maka, apa yang dilakukan oleh orang yang mencari kesembuhan dengan jalan yang haram, sama deengan meminum air selokan. Tidak logis dan tidak ada kesembuhan. Kalaupun ada, hanya sementara. Semu dan sewaktu-waktu akan muncul masalah yang lebih berat lagi adalah ketika iman telah tergadaikan hanya untuk sekedar kesembuhan.
Usaha kesembuhan dari penyakit dan ujian hidup yang menghimpit tidak boleh membutakan mata iman kita. Karena Rasul pernah bersabda, “Allah tidak menjadikan obat kalian pada yang haram”. (HR. Ibnu Hibban no. 1391)
Pengobatan ruqyah adalah doa. Minta langsung kepada yang Maha menyembuhkan. Kita berusaha secara islami, Allah yang menentukan.
Adapun demam yang menimpa Sutrisno saat ruqyah bukan merupakan sesuatu yang selalu terjadi pada seseorang yang baru diruqyah. Tetapi itu adalah salah satu bentuk reaksi jin yang berada dalam tubuh seseorang setelah jin itu di hajar dengan ayat-ayat Allah.
Maka, carilah kesembuhan dengan kesembuhan islami. Berusahalah dengan usaha yang islami. Ikhtiarlah dengan ikhtiar yang islami.
Keempat, belajar ilmu islam lebih wajib.
Sebagai seoarang muslim, belajar islam adalah kewajiban. Ilmulah yang mejadi lentera saat pekat. Ilmulah yang menjadi pembeda. Ilmulah yang bisa menuntun ke jalan yang benar saat tersesat di rimba kesyirikan. Agar tidak keluar dari jeratan syetan yang lain. (Diambil Dari Majalah Ghoib Edisi 27 Th. 2/18 Ramadhan 1425 H/1 November 2004 M)