Nama saya Agus Wibowo. Saya dilahirkan di Bandar Lampung Sumatera, di lingkungan masyarakat dan keluarga kejawen yang jauh dari norma-norma Islam. Sejak kecil saya tidak mengenal shalat dari anggota keluarga saya atau tetangga saya, bahkan Pak De (paman) saya seorang dukun yang sering dimintai tolong oleh masyarakat untuk urusan-urusan tertentu. Benda-benda pusaka yang sudah diwarisi secara turun-temurun dari kakek-kakek saya masih ada dan dirumat (dirawat) dengan baik.

Sebenarnya ayah saya ‘ilmu’nya lebih tinggi, karena ia seorang pewaris ilmu dari kakeknya yang menjadi seorang Mpu (pembuat keris) di daerah Klaten Jawa Tengah, maka dialah yang sering melakukan jamasan (memandikan) benda-benda pusaka itu dengan air kembang, bersesaji dan menggunakan minyak wangi khusus. Setelah tamat dari bangku Sekolah Dasar, saya dititipkan ke nenek saya di Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan di kota pelajar itu.
Nenek saya penganut agama kejawen tulen. Setiap hari, setelah matahari terbenam, ia selalu berdiri di halaman rumahnya menghadap ke arah barat dengan membaca mantra-mantra khusus sampai malam hari. Sedangkan saya oleh ayah melalui surat yang dikirimkan kepada nenek disuruh untuk nglakoni (menjalankan) amalan kejawen dengan puasa setiap hari Senin dan Kamis sampai tujuh pekan tanpa dijelaskan apa alasan dan tujuannya. Padahal shalat pun saya tidak pernah diperintahkan dan keluarga saya juga tidak ada yang shalat.

Saya pun berpuasa. Nenek saya selalu memantau pelaksanaannya. Setelah selesai tujuh pekan, saya diminta melaporkan kepada ayah saya yang tinggal di Bandar Lampung. Setelah itu saya diminta melanjuti ngalakoni puasa Senin-Kamis lagi sampai tujuh pekan lagi. Setelah saya jalankan dan saya laporkan kepada ayah saya, saya diperintahkan untuk ngalakoni lagi yang ketiga kalinya, entah untuk apa tujuannya saya anggap sebagai bentuk bakti saya kepada orang tua. Apalagi, nenek saya selalu mendukung dan mengawasi pelaksanaannya.
Setelah itu saya diperintahkan untuk puasa ngrowot (meninggalkan nasi dan garam) selama empat puluh hari empat puluh malam. Setiap hari nenek saya selalu menyediakan singkong rebus, atau ubi rebus, atau singkong yang dimasak thiwul. Setelah selesai saya nglakoni ngrowot itu saya laporkan lagi kepada ayah saya. Dan setelah itu saya tidak lagi kepada ayah saya. Dan setelah itu saya tidak lagi diperintahkan untuk nglakoni apa-apa. Saya sendiri tidak merasakan adanya perubahan batin dengan nglakoni itu, karena waktu itu saya masih di bangku SMP.
Disamping saya belajar ilmu kejawen dengan nenek saya, saya juga mulai belajar shalat, tetapi shalat saya juga belum sempurna, atau masih blentang-blentong. Apalagi saya sempat dilarang shalat oleh keluarga saya, karena dianggap bertentangan dengan ajaran kejawen.
Ketika saya duduk di bangku SMA, shalat saya sudah mulai rutin, dan ditambah lagi belajar membaca Al-Qur’an. Waktu itu saya juga aktif di gerakan Pramuka. Saat itu, seringkali setiap kali mengadakan kemping pasti ada peserta yang mengalami gangguan jin (kesurupan). Mereka diterapi oleh kakak pembina, kalau tidak sanggup ya minta bantuan kepada dukun setempat. Kemudian atas saran dan nasehat dukun itu, setiap kali kita masuk ke tempat yang dianggap wingit (angker), kita harus kulonowun (permisi) dulu kepada yang mbaureksa (yang berkuasa) di tempat itu, supaya tidak terjadi gangguan apa-apa.
Kakak pembina saya, sebut saja Kak Ari (bukan nama sebenarnya) punya kemampuan berkomunikasi dengan jin, karena dia pernah belajar pernafasan tenaga dalam. Maka dialah yang sering melakukan kulonuwun (permisi) setiap kali mau kemping, dan memang setelah itu tidak ada yang terkena gangguan jin. Sejak itu saya tiba-tiba tertarik sekali dengan ilmu kakak pembina itu, maka saya langsung minta untuk diajarinya. Beberapa kali saya melakukan latihan di lapangan terbuka di malam hari bersama dia. Dengan gerakan-gerakan tertentu, tarik nafas kemudian tahan nafas tanpa ada bacaan tertentu. Saya merasakan adanya energi lain yang masuk, sampai akhirnya saya bisa melakukan meditasi dan bisa melihat jin yang ada disekitar saya. Saya merasa bisa berkomunikasi dengan mereka, bisa minta permisi dan diijinkan oleh jin penguasa setempat.
Ketika saya memasuki bangku kuliah di Fakultas Sastra jurusan Archeologi, saya ikut aktif dalam kegiatan agama, seperti mengikuti kajian-kajian Islam yang diadakan oleh Jamaah Shalahuddin UGM. Sampai akhirnya pada tahun 1994 saya bertemu Ustadz Fadhlan, karena beliau juga sering mengisi kajian Islam di Jamaah Shalahuddin. Kemudian saya diajak untuk mengikuti pengajian di rumahnya. Anehnya setiap kali saya mengikuti pengajian, pasti merasa ngantuk berat, bahkan sampai tertidur dan dibangunkan oleh Ustadz untuk berwudhu.
Lama kelamaan , Ustadz Fadhlan agak curiga dan bertanya, “Agus, sejak kapan kamu ngantukan seperti ini ?” Saya jawab, “Sudah lama, Ustadz! Kayaknya sudah sejak kuliah dulu.”
“Apakah kamu pernah belajar tenaga dalam ?” Tanya Ustadz.
Saya jawab, “Ya, pernah.” Ustadz memberi komentar, “Itulah syetan yang mengganggu kamu saat berinteraksi dengan Al-Qur’an, atau saat beribadah.”
Saya katakan, “Memang benar, setiap kali saya membaca Al-Qur’an, pasti ngantuk dan bahkan sampai tertidur, tahu-tahu ketika bangun, saya lihat Al-Qur’an sudah tergelatak di lantai. Begitu pula saat shalat, juga rasanya ngantuk sekali, terlebih-lebih shalat Isya’ dan shubuh.”
Ustadz bertanya lagi, “Bagaimana saat kuliah ?” Saya jawab, “ Juga ngantuk.” Ustadz memberi komentar, “Kuliah kan mencari ilmu untuk kemashlahatan dunia dan sebagai bekal di akhirat, maka mencari ilmu juga ibadah.”
Ustadz Fadhlan menambahkan, “Baiklah sekarang kamu berwudhu, kemudian nanti kita lakukan Ruqyah, untuk pembersihan pengaruh jin dan syetan.”
Maka saya dan kedua orang teman pengajian saya berwudhu. Kemudian saya duduk dan Ustadz Fadhlan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an ke telinga kanan saya dengan suara keras dan bacaan tartil, sambil meletakkan tangan kanannya diatas ubun-ubun saya. Tidak lama kemudian, badan saya terasa digoncang-goncangkan. Terasa ada yang teriak-teriak kepanasan dan kesakitan dari dalam tubuh saya. Saya pun tidak bisa mengendalikannya. Kurang lebih setengah jam, Ustadz Fadhlan membacakan ayat dan do’a kemudian terjadilah dialog antara Ustadz dengan jin yang ada dalam tubuh saya dengan bahasa Jawa yang halus, padahal saya tidak bisa berbahasa Jawa seperti itu. Dialog itu disaksikan oleh kedua teman saya, Syamsul dan Muhammad Ridwan dari Kasihan, Bantul, yang ikut memegangi kaki dan tangan saya.
Seperti dituturkan Ustadz Fadhlan, banyak kejadian aneh pada diri saya sewaktu saya diruqyah. Terutama tentang jawaban-jawaban jin dalam diri saya. Untuk lebih lengkap dan jelasnya, lebih baik Ustadz Fadhlan yang menuturkan sendiri. Selain karena selama proses Ruqyah, saya sering tidak sadar.

a. Penuturan Ustadz Fadhlan

Saya (Ustadz Fadhlan-Red) ingin menyampaikan pengalaman saya dalam meruqyah saudara Agus Wibowo yang punya latar belakang belajar ilmu kejawen dan tenaga dengan tujuan agar bisa berkomunikasi dengan jin yang ada di sekitarnya. Berikut ini saya terjemahkan dialog saya dengan jin kedalam bahasa Indonesia.
Saya bertanya kepada jin yang ada di tubuh agus, “Siapa kamu?”
“Saya Paimin,”jawab jin itu.
“Apa agamamu?”
“Tidak punya agama.”
“Kamu mengenal agama Islam?”
“Ya, saya sekadar mengenal saja.”
Saya lantas berbicara keras kepada jin itu, “Wahai jin, sesungguhnya kamu dan saya diciptakan oleh Allah hanya untuk menyembah-Nya semata, menyembah Allah hanya melalui satu agama yaitu Islam. Allah berfirman :
“Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam”. Kamu tahu, apa yang saya bacakan tadi dan apakah kamu kepanasan?”
Jin itu menjawab, “Saya tidak tahu sama sekali, Ustadz tadi membaca apa, tetapi seluruh badan saya terbakar dan sekarang saya kesakitan.”
Saya katakan, “Itu tadi adalah ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan kita wajib mengimani dan mengikutinya agar kita selamat dari siksaan Allah. Kalau kamu ingin selamat, maka ikutilah agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Apakah kamu mau masuk Islam?”
“Ya, saya mau masuk Islam, ” jawab jin itu. Maka, saya kemudian menuntun jin itu untuk mengikrarkan dua kalimat syahadat dan radhitu billahi rabba (kalimat fithrah). Lalu saya bacakan lagi ayat kursi ke telinga kanan Agus dengan suara keras dan bacaan tartil. Saya tidak melihat adanya reaksi seperti sebelumnya, wajah Agus tampak cerah. Kemudian jin itu saya Tanya, “Kenapa kamu masuk ke dalam tubuh anak ini?
Jin Paimin menjawab, “Saya disuruh masuk sama dia.”
“Kapan kamu masuk ?” tanya saya.
Jin Paimin menjawab, “Saat anak ini bermain-main tenaga dalam dan meditasi. Saya sebelumnya tinggal di bawah jembatan, karena anak ini meminta saya masuk, saya langsung masuk dan tidak mau keluar, karena saya sudah merasa enak dan betah di dalam tubuhnya.”
“Berapa usiamu?
“Tiga ratus lima puluh tahun.”
Saya benak Jin Paimin itu, “Bohong kamu! Kapan terjadi perang Diponegoro?”
“Saya sudah lupa.”
Saya berkata lagi kepada Jin Paimin, “Saya tidak percaya dengan kebohonganmu. Wahai jin, keluarlah dari tubuh anak ini, jangan sekali-kali masuk kedalam tubuh manusia!”
Ia menyahut, “Ya, saya mau keluar, tetapi saya ingin menasehati manusia?”
“Apa nasehat kamu.”
Jin Paimin berkata, “Hai manusia, saya adalah jin muslim yang sudah bertaubat dari kemusyrikan. Ketahuilah, bahwa jin itu mudah masuk ke dalam jasad manusia apabila manusia meninggalkan shalat, atau makan makanan yang haram atau minum minuman yang haram, atau berzina. Kalau ada orang makan daging babi, wah teman-teman saya (yang kafir) ikut berpesta di situ. Apalagi di situ (jin menunjuk ke arah komplek prostitusi Sanggrahan, Umbulharjo) banyak teman-teman saya (yang kafir) berkumpul. Ustadz, itu harus dibom.”
Saya katakana, “Cukup, keluarlah sekarang!”
“Ya, Assalamu’alaikum !” kata Jin Paimin.

Seketika itu, Agus segera sadar, menangis dan beristighfar. Maka saya perintahkan semuanya untuk sujud syukur, maka kami berempat langsung melakukan sujud syukur. Segala puji bagi Allah.
Pada bulan Ramadhlan 1416 H, saya dan teman-teman dari bulletin dakwah WA ISLAMA, mengadakan I’tikaf di Masjid Besar Mataram Kotagede, sebuah masjid tua peninggalan sultan Agung Kerajaan Mataram Islam. Di sela-sela waktu I’tikaf saya melakukan ruqyah massal bagi peserta I’tikaf yang pernah belajar tenaga dalam dari berbagai perguruan dan aliran. Semuanya bereaksi keras, seperti menjerit-jerit, kelojotan, bergetar, bergoyang.
Bahkan ada yang menantang saya, ketika saya memulai membaca Surat Yasin, “Bacakan Yasin, sampai bibirmu ndower (memble) saya tidak takut.” Maka saya teruskan bacaan saya, hingga ketika sampai pada ayat tentang Jahanam, maka jin itu menjerit dan menangis. Bacaan ayat itu pun saya ulang-ulang beberapa kali. Akhirnya jin yang menantang itu mengatakan kapok-kapok, kemudian ia masuk Islam dan keluar dengan proses yang panjang berhari-hari, karena katanya badannya hancur dengan bacaan ALQur’an itu. Saya banyak diminta untuk membacakan doa-doa kesembuhan bagi jin itu. Si kemudian hari, setelah jin itu sembuh, ia keluar dengan jurus babi, kata orang yang dimasukinya, bentuknya babi. Wallahu A’lam.
Pada saat ruqyah massal itu, Agus Wibowo juga turut menyaksikan. Saat itu tiba-tiba ia mengantuk saat jin menghembus-hembuskan nafasnya. Bahkan iapun sampai tertidur di dekatnya. Setelah bangun tidur, ia merasakan ada jin yang masuk ke dalam tubuhnya dan meminta saya untuk meruqyahnya. Maka saya segera meruqyahnya. Ketika saya ruqyah, muncul lagi reaksi seperti dulu saat saya meruqyahnya pertama kali, saya perintahkan seorang teman, Abdul Aziz (dulu namanya Darwaji) untuk membuatkan air garam. Kemudian muncul suara persis suara jin Paimin, “Ampun Ustadz, ampun Ustadz! Saya jangan dibunuh, saya jangan dibunuh! Saya hanya dipaksa untuk masuk, kalau saya nggak mau saya mau dibunuh pimpinan saya.”
Saya tanya jin itu, “Siapa kamu ?”
“Saya Paimin, Ustadz!”jawab jin itu. Seluruh peserta I’tikaf tertawa.
Saya katakan lagi kepada jin Paimin itu, “Hai jin munafiq, keluar kamu dari jasad anak ini!” Jin Paimin itu berkata, “Saya jin muslim, demi Allah bukan jin munafiq. Saya benar-benar dipaksa untuk kembali menyesatkan anak ini dan menggodanya, tapi saya tidak bisa lagi seperti dulu.
“Mau dikasih apa kalau berhasil menyesatkannya?” tanya saya.
“Perawan yang ayu banget, “jawab jin Paimin.
Saya katakana, “Terus kamu kepingin?”
“Ya, siapa yang nggak kepingin, jawab jin Paimin.
Saya bentak dia, “Berarti kamu masuk bukan karena terpaksa, tetapi memang kamu kepingin dapat hadiahnya. Kamu sudah dapat hadiahnya?”
“Belum, “ jawab jin Paimin.
Saya katakan, “Janji pimpinanmu hanyalah kebohongan belaka. Jangan percaya pada pimpinanmu, tetapi bertaubatlah kamu kepada Allah ! Dan keluarlah!”
“Saya takut dibunuh oleh pimpinan saya,” jawab jin Paimin.
“Jangan takut kecuali kepada Allah, lawanlah musuh Allah dengan membaca Bismillah Allahu Akbar, kalau kamu mati maka kamu mati syahid membela agamanya,” kata saya.
“O ya, itu kalimat yang paling ditakuti oleh jin kafir. Saya akan melawan pimpinan saya dengan bekal kalimat itu, pimpinan saya pasti akan lari terkencing-kencing,” kata jin Paimin. Kemudian jin itu keluar dan Agus pun sadar seketika itu pula.
Pada pertengahan bulan Syawal 1416 H, setelah Agus Wibowo balik dari kampung halamannya, dia diantar oleh teman akrabnya Muhammad Ridwan ke rumah kontrakan yang saya tempati, di Prenggan Kotagede Yogyakarta, sebuah rumah yang sebelumnya sudah lama kosong dan dikatakan angker, tetapi saya tinggal di situ sampai empat tahun aman-aman saja, sejak 1994 sampai 1998. Rumah yang cukup besar, halaman luas, murah lagi. Tetapi sampai sekarang sayang rumah itu kosong lagi dan tidak ada yang berani tinggal di situ. Dalam kunjungan ke rumah kontrakan saya itu, Agus mengeluh kepada saya, bahwa setiap kali menjalankan shalat, pasti leher dan kakinya terasa kaku dan sakit seperti kram.
Saya katakan “Itulah syetan yang mengganggu manusia saat beribadah, silakan kalian berdua berwudhu, kemudian nanti saya ruqyah.”
Ruqyah untuk yang kesekian kali terhadap Agus Wibowo pun saya mulai. Ia dalam posisi duduk, sedangkan tangan kanan saya menempel di atas ubun-ubunnya. Tidak lama saya membaca ayat-ayat tentang siksaan, jin itu menjerit kesakitan dan tubuh Agus meronta-ronta terbawa oleh gerakan jin yang ada didalamnya. Jin itu memanggil-manggil apa yang disembahnya, “Bapa kami yang di surga, selamatkanlah anak-Mu, Tuhan Jesus, selamatkan aku. Tuhan Jesus, selamatkan aku.”
Ia ucapkan kalimat itu berulang-ulang kali, maka saya bacakan Surat Al Maidah ayat : 72-76, hingga akhirnya jin itu berteriak, “Jesus jancuk! Saya disini tersiksa kok nggak diselamatkan.”
Saya dan Muhammad Ridwan tertawa geli. Saya katakan mungkin ini jin Jawa Timur, karena ngomong jancuknya fasih sekali.
Kemudian saya katakan kepada jin Nasrani itu, “Wahai jin Nasrani, Isa bin Maryam bukan anak Allah, tetapi ia makhluk Allah yang diciptakan tanpa bapak, sebagaimana Adam diciptakan tanpa bapak dan ibu. Isa bin Maryam adalah utusan Allah yang memerintahkan Bani Israil untuk menyembah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Sebagaimana ayat yang saya baca adalah ayat-ayat Allah yang membakar dirimu, karena kamu jin kafir yang menyekutukan Allah. Ingatlah, wahai jin, siksaan Allah di hari kiamat lebih dahysat oleh Allah, sebagaimana Allah berfirman, “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam.” Kalau kamu masuk Islam, maka seluruh dosa-dosamu ketika kamu beragama Nashrani, akan dihapuskan oleh Allah, dan kamu tetap kafir sampai mati, maka kamu sudah merasakan siksa dunia melalui ayat Allah yang saya bacakan dan nanti siksaan yang akan menimpamu lebih pedih.”
Mendengar ucapan saya, jin nashrani itu mengatakan, “Selamatkanlah saya, saya mau masuk Islam.” Kemudian saya tanya, “Benarkah kamu mau masuk Islam?” Ia jawab, “Ya.”
Kemudian saya syahadatkan dan saya do’akan selamat. Saya pun sangat terharu dengan masuk Islamnya jin Nasrani itu. Segala puji bagi Allah. Anehnya wajah Agus tampak pucat sekali, tampak tersenyum, ia seperti orang mati, tidak bergerak dan dingin sekujur badannya selama kurang lebih satu menit. Setelah itu tiba-tiba muncul suara lain lagi dalam dirinya, “Duh Gusti, saya ingin sekali seperti saudara saya itu, ia mati dengan tersenyum.”
Maka saya tanyakan, apa benar saudaramu sudah mati, dan kenapa ia mati ?” Jin itu tetap berharap agar mati seperti saudaranya tadi, dan tidak mau menjawab pertanyaan saya.
Saya tanya lagi, “Apa agamamu ?”
Jin itu menjawab, “Kristen.”
“Kamu sudah dengar apa yang saya jelaskan tadi ?” tanya saya lagi.
“Sudah, dan saya ingin mati seperti saudara saya tadi, ia mati setelah masuk Islam, dan meninggalnya sambil tersenyum,” jawabnya.
“Baiklah, ikuti saya!” jawab saya.
Maka, saya tuntun jin itu untuk bersyahadah dan membaca kalimatul fithrah. Kemudian jin itu menangis dan tampak sedikit tetesan air mata melalui kedua mata Agus, kemudian terdiam seperti kejadian sebelumnya.
Tidak lama kemudian muncul lagi suara yang lain lagi, suara jin kesakitan, “Aduuuh, siapa yang menyiksa saya ini, saya nggak kuat lagi, anak buah saya sudah habis terbakar.”
Saya tanya dia, “Kamu jin Nashrani ?”
Jin itu menjawab, “Bukan, saya tidak punya agama, saya ini tetunggule Paimin (pemimpin, dendengkotnya Paimin).
“Dimana Paimin sekarang ?” tanya saya.
Dedengkotnya Paimin itu menjawab, “Saya tidak tahu, Paimin sudah tidak bisa ditundukkan. Atasannya Paimin juga kalah dan ikut agamanya Paimin, kemudian menyerang saya, saya pun kalah dan tidak bisa memaksanya untuk tetap di dalam anak ini.”
Saya katakan, “Wahai jin kafir yang terkutuk, kamu tahu agama Islam ?”
Jin itu menjawab, “Tidak, saya tidak tahu!” Saya katakan, “Islam adalah agama yang membawa keselamatan bagi jin dan manusia, karena jin dan manusia diciptakan hanya untuk mengabdi kepada Allah pengabdian yang sah hanya melalui cara Islam. Maka masuklah agama Islam dengan ketulusan hatimu.”
Jin itu menyahut, “Dosa-dosaku sudah terlalu banyak, dalam menyesatkan jin dan mengganggu manusia yang beribadah.” Saya katakan, “Allah akan mengampuni segala dosamu, apabila kamu masuk Islam dan bertaubat kepada Allah.”
Jin itu pun berkata, “Ustadz, bimbinglah saya untuk masuk Islam!”
Kemudian jin kejawen itu saya tuntun bersyahadat dan membaca kalimatul fithrah. Ia juga minta didoakan agar sakit-sakit karena luka bakar segera sembuh. Setelah itu saya perintahkan untuk segera keluar dan belajar dari Paimin. Tidak lupa, saya juga titip salam untuk disampaikan kepada jin Paimin.
Setelah jin yang mengaku tetunggule Paimin itu keluar, Agus langsung sujud syukur sambil menangis tersedu-sedu, kemudian bangkit langsung menjabat tangan saya dan memeluk saya dengan erat.
Waktu itu, Agus berpesan, peristiwa yang ia alami jangan diceritakan kepada siapa-siapa. Setelah ruqyah di malam itu, yang menghabiskan waktu lebih dari dua setengah jam, Agus pulang bersama Muhammad Ridwan.
Setelah lebih dari enam tahun kemudian, pada akhir Januari lalu 2003 lalu, saya meminta saudara agus untuk datang ke rumah saya, dan saya mohon pengalaman rohaninya ini bisa ibroh dan pelajarannya. Ia pun mengizinkannya. Kini Agus Wibowo hidup dalam kedamaian iman bersama istri dan dua orang anaknya.

b. Bedah Kesaksian


Syetan mempunyai gudang tipu daya untuk menyesatkan anak Adam. Berbagai usaha akan dilakukannya. Kalau perlu dengan mengeroyok beramai-ramai. Mereka tidak peduli dengan caranya. Yang penting anak Adam mau tunduk di bawah kakinya, mau menuruti setiap titahnya.
Dia akan berusaha tampil besar dan menakutkan. Berusaha untuk tampil kuat dan hebat. Seakan tak terkalahkan. Untuk menakuti manusia. Atau agar pengikut dan pengagungnya semakin yakin bahwa syetan memang sakti. Atau agar orang-orang beriman menjadi merasa kecil di hadapannya.
Itu semua dilakukan untuk menyesatkan anak cucu Adam. Sekaligus sebagai topeng, untuk menutupi kelemahan mereka. Karena sebenarnya mereka lemah. Tidak ada daya untuk menggoda. Mereka sendiri yang mengakui hal itu. Tidak semua orang bisa mereka seret untuk terjerumus kepada kemaksiatan. “Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi. Dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Al-Hijr : 39-40)
Imam Qurthubi menjelaskan arti mukhlis, “yaitu mereka yang benar-benar membersihkan segala amalnya dari kerusakan dan riya.” Hal senada juga diungkapkan oleh Imam Thobari, “Mukhlis adalah orang yang mendapatkan taufik dan petunjuk dari Allah.”
Dalam kisah tragedy jin Paimin ini, kita bisa saksikan bahwa Paimin sebelum masuk Islam menjerit-jerit ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Tidak cukup itu, jin Paimin memiliki teman. Ternyata sang teman pun kalah dengan ayat-ayat Allah. Jin Paimin bahkan sempat masuk lagi karena diiming-iming hadiah. Tetapi ia kembali menyerah di hadapan ayat-ayat Allah. Tidak menyerah di hadapan ayat-ayat Allah. Tidak berhenti sampai di situ, tetunggul mereka akhirnya datang. Setelah seluruh jin kalah dan mati. Dia merasa bahwa dirinya hebat, tetapi justru badannya luka-luka karena terbakar ayat.
Bisa jadi mereka tampil dalam bentuk yang menakutkan. Atau dalam bentuk binatang buas, seperti babi, anjing, harimau. Atau ancaman dari mereka akan membalas dendam. Itu semua adalah gonggongan jin yang sebenarnya lemah.
Pada hakekatnya, manusia lebih mulia dari jin. Lebih hebat dan kuat dari jin. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.” (Al-Isro :70)
Sementara jin anak turun Iblis adalah bangsa yang hina. Kecuali mereka yang beriman. Akan mulia karena keimanannya. Ketika Allah mengusir Iblis nenek moyang mereka dari surga. Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al-A’raf : 13)
Jadi kalau ada yang takut dengan ancaman syetan, sungguh tidak logis. Bagaimana kita yang telah dimuliakan di atas segala makhluk Allah, kemudian takut dan bahkan tunduk kepada bangsa yang hina. Atau minta pertolongan kepada mereka yang hina. Sungguhnya sulit dimengerti.
Kekuatan kita akan nampak ketika kita menyandarkan kekuatan ini kepada yang Mahas memiliki kekuatan. Bukankah pengakuan jin Paimin dan kawan-kawannya, menjadi pelajaran berharga buat kita. Ketika dia berkata bahwa kalimat Bismillah Allahu Akbar sangat ditakuti jin kafir. Ya, karena kalimat tersebut bukan sembarang kalimat. Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, begitulah artinya. Jadi semua yang ada menjadi kecil dan kerdil. Tidak ada yang lebih besar kekuatan, kekuasaannya kecuali Allah.
Dalam suatu hadist Qurdi Rasulullah bersabda, “Allah berfirman, “wahai hamba-Ku, seandainya kalian semua sepakat untuk mencelekakan Aku, kecelakaan itu tidak akan sampai kepada-Ku. Dan jika kalian ingin memberi-Ku suatu manfaat, manfaat itu tidak akan sampai kepada-Ku” (HR.Muslim)
Imam Tirmidzi juga meriwayatkan hadits yang serupa, kalau saja seluruh umat-jin dan manusianya bersatu untuk memberimu manfaat, hal itu tidak akan bisa kecuali jika dikehendaki Allah. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu, hal itu tidak akan bisa kecuali jika dikehendaki Allah.”
Saat Nabi Musa harus berhadapan dengan para tukang sihir yang memanfaatkan kekuatan tukang sihir yang memanfaatkan kekuatan syetan, Allah berfirman, “kami berkata, ‘janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (memang).” (QS. Thaha : 68).
Menang di dunia ini dan unggul dengan surga kelak. Tongkat nabi Musa yang kecil itu pun diperintahkan untuk dilemparkan di hadapan tali-tali yang banyak dan sudah berubah menjadi ular. Tongkat kecil itu berubah menjadi ular besar yang melalap habis ular-ular kecil itu. Imam Qurthubi menjelaskan, “Artinya, janganlah peduli dengan sedikit dan kecilnya sesuatu yang kamu miliki dan jangan takut terhadap banyaknya yang mereka miliki. Karena dengan kekuatan Allah, yang kecil dan sedikit bisa mengalahkan yang besar dan banyak.”
Jadi, rahasia kekuatan kita adalah pada kekuatan Allah. Dan itu bisa kita dapat ketika kita membaca ayat-ayat Allah dan taat kepada-Nya. Dan bukannya malah minta kekuatan dan bantuan jin yang sebenarnya lemah.
Bukankah jin Paimin tadinya hanyalah jin lemah yang tidak memiliki ilmu banyak. Karena masih ada gurunya dan masih dan tetungguke lagi ? Tetapi begitu dia masuk Islam dengan baik. Dan telah memiliki bekal kalimat tauhid, basmalah dan takbir, dia menjadi tidak terkalahkan oleh tetunggule sekalipun. Sebagaimana yang diakui oleh tetunggule sendiri. Bukan hanya itu, akhirnya jin Paimin menjadi guru teman-teman mereka.
Setelah kita semua tahu bahwa ternyata tipu daya jin lemah dan kita lebih mulia dan kuat asalkan kita punya iman yang murni. Tentunya dengan memohon kekuatan kepada Allah, melalui banyak berdo’a dan dekat dengan ayat-ayat Allah, sesudah semua itu, tentu sudah tidak dibenarkan lagi bagi kita untuk takut kepada syetan, apalagi meminta pertolongan kepada mereka. Yang ada hanyalah, la haula wala quwwata illa billah (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah).
Kalau kita dekat dengan Allah, justru syetan yang takut kepada kita. Umar bin Khottob adalah sosok yang sangat ditakuti oleh syetan. Karena Umar selalu memerangi syetan yang berbisik di hatinya. Sampai-sampai, bila Umar berjalan di suatu jalan, syetan akan mencari jalan lain, karena takut berpapasan dengan Umar.
Syetan harus dilawan. Keinginan nafsu yang menjadi kendaraan syetan tidak boleh dituruti. Bersabar adalah modal besar untuk mengalahkan nafsu syetan. “Orang-orang yang kafir berperang di jalan thagut, sebab itu perangilah kawan-kawan syetan itu, karena sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah.” (QS. An-Nisa : 76)
Semoga Allah selalu melindugi kita dari tipu daya syetan. Dan memberikan kekuatan-Nya kepada kita untuk memerangi syetan dan tipu dayanya. Amiin
(Diambil Dari Majalah Ghoib Edisi No. 4Th. 1/1423 H/2003 M).