Kita banyak mendengar para kyai merekomendasikan shalawat sebagai ilmu hikmah yang berguna agar kesusahan dihilangkan, hajat dikabulkan, sembuh dari penyakit atau juga ingin mendapatkan suatu kekuatan ghaib dengan menggunakan lafazh-lafazh bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam yang diada-adakan (bid’ah) yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam, para sahabat, tabi’in, juga tidak oleh para imam mujtahid.

Ketahuilah, sesungguhnya lafazh-lafazh shalawat hanyalah buatan sebagian masyayikh (para tuan guru) tarekat sufiyah di kurun belakangan ini. Lafazh-lafazh shalawat itu kemudian menjadi terkenal dikalangan orang awam dan ahli ilmu, sehingga mereka membacanya lebih banyak daripada membaca shalawat tuntunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam. Bahkan mungkin mereka malah meninggalkan lafazh shalawat yang benar, lalu menyebarluaskan lafazh shalawat ajaran para syaikh mereka.

Jika kita renungkan mendalam makna shalawat-shalawat tersebut, niscaya kita akan menemukan di dalamnya pelanggaran terhadap petunjuk Rasul, orang yang kita shalawati. Di antara shalawat-shalawat bid’ah yang sering digunakan untuk mendapatkan ilmu hikmah adalah:

1.    Shalawat Nariyah

Shalawat Nariyah telah dikenal oleh banyak orang. Mereka beranggapan, barangsiapa meruqyah shalawat Nariyah sebanyak 4444 kali dengan niat agar kesusahan dihilangkan, atau hajat dikabulkan, sembuh dari penyakit dengan membacanya niscaya akan terpenuhi.

Ini adalah anggapan batil yang tidak berdasar sama sekali. Apalagi jika kita mengetahui lafazh bacaannya, serta kandungan syirik yang ada di dalamnya. Secara lengkap, lafazh shalawat nariyah itu adalah sebagai berikut,“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga, dan sahabat-nya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui.”

Aqidah tauhid yang kepadanya Al-Quranul Karim menyeru, dan yang dengannya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam mengajarkan kita, menegaskan kepada setiap muslim agar meyakini bahwa hanya Allah semata yang kuasa menguraikan segala ikatan. Yang menghilangkan segala kesedihan. Yang memenuhi segala kebutuhan dan memberi apa yang diminta oleh manusia ketika ia berdo’a.

Setiap muslim tidak boleh meruqyah dan memohon kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakit-nya, bahkan meski yang dimintanya adalah seorang malaikat yang diutus atau nabi yang dekat (kepada Allah).

Kalau ada yang bertanya : Lalu apa hubungannya antara shalawat nariyah dengan kesyirikan? Bukankah ini sekedar wasilah saja? Maka kita menjawab: Isi shalawat itu meminta pertolongan kepaa Nabi yang sudah meninggal, tidak kepada Allah, ini adalah kesyirikan. Padahal aqidah tauhid yang diserukan oleh al-Qur’an dan diajarkan oleh Rasulullah menganjurkan supaya kita meyakini bahwa Allah-lah yang menghilangkan segala kesedihan dan memenuhi segala kebutuhan serta melarang kita berdoa kepada selain Allah, baik untuk melepaskan kesedihan atau kesembuhan penyakit, sekalipun kepada malaikat, nabi atau orang yang shalih.

Sebagaimana Allah telah  berfirman,

Artinya : “Katakanlah, ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memin-dahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksaNya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (Al-lsra’: 56-57)

Para ahli tafsir mengatakan, ayat di atas turun sehubungan dengan sekelompok orang yang berdo’a dan meminta kepada Isa Al-Masih, malaikat dan hamba-hamba Allah yang shalih dan jenis makhluk jin.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Ayat ini mencakup setiap sesuatu yang diibadahi selain Allah, sama saja baik dari kalangan malaikat, jin atau pun manusia.”[1]

Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam akan rela, jika dikatakan bahwa beliau kuasa menguraikan segala ikatan dan menghilangkan segala kesedihan. Padahal Al-Qur’an menyeru kepada beliau untuk memaklumkan,

Artinya : “Katakanlah, ‘Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al-A’raaf: 188)

“Seorang laki-laki datang kepada Rasululllah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam lalu ia berkata kepada beliau, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu.” Maka Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau menjadikan aku sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah? Katakanlah, “Hanya atas kehendak Allah semata.” [2]

Di samping itu, di akhir lafazh shalawat nariyah tersebut, terdapat pembatasan dalam masalah ilmu-ilmu Allah. Ini adalah suatu kesalahan besar. Seandainya kita membuang kata “Bihi” (dengan Muhammad), lalu kita ganti dengan kata “BiHaa” (dengan shalawat untuk Nabi), niscaya makna lafazh shalawat itu akan menjadi benar. Sehingga bacaannya akan menjadi seperti berikut ini:“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk Muhammad, yang dengan shalawat itu diuraikan segala ikatan …”

Hal itu dibenarkan, karena shalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam adalah ibadah, sehingga kita boleh bertawassul dengannya, agar dihilangkan segala kesedihan dan kesusahan. Kenapa kita membaca shalawat-shalawat bid’ah yang merupakan perkataan manusia, kemudian kita meninggalkan shalawat lbrahimiyah yang merupakan ajaran AI-Ma’sum?

2.  Shalawat Basyisyiyah

lbnu Basyisy berkata, “Ya Allah, keluarkanlah aku dari lumpur tauhid. Dan tenggelamkanlah aku dalam mata air lautan keesaan. Dan lemparkanlah aku dalam sifat keesaan sehingga aku tidak melihat, mendengar atau merasakan kecuali dengannya.”

Ini adalah ucapan orang-orang yang menganut paham Wahdatul Wujud.Yaitu suatu paham yang mendakwakan bahwa Tuhan dan makhIuk-Nya bisa menjadi satu kesatuan.Mereka menyangka bahwa tauhid itu penuh dengan lumpur dan kotoran, sehingga mereka berdo’a agar dikeluarkan daripadanya. Selanjutnya, agar ditenggelamkan dalam lautan Wahdatul Wujud. Sehingga bisa melihat Tuhannya dalam segala sesuatu. Bahkan hingga seorang pemimpin mereka berkata, “Dan tiadalah anjing dan babi itu, melainkan keduanya adalah tuhan kita. Dan tiadalah Allah itu, melainkan pendeta di gereja. ”

Orang-orang Nasrani menyekutukan Allah (musyrik) ketika mereka mengatakan bahwa Isa bin Maryam adalah anak Allah. Adapun mereka, menjadikan segenap makhluk secara keseluruhan sebagai sekutu-sekutu Allah! Mahatinggi Allah dan apa yang diucapkan oleh orang-orang musyrik.

Oleh karena itu, wahai saudaraku sesama muslim, berhati-hatilah terhadap lafazh-lafazh bacaan shalawat bid’ah, karena akan menjerumuskanmu dalam perbuatan syirik. Berpegang teguhlah dengan apa yang datang dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam, seorang yang tidak mengatakan sesuatu menurut kehendak hawa nafsunya. Dan janganlah engkau menyelisihi petunjuknya, “Barangsiapa melakukan suatu amalan (dalam agama) yang tidak ada perintah dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim) [3]

3.  Shalawat dalam Kitab Ad’iyatush Shabaahi wal Masaa’i.

Dalam kitab Ad’iyatush Shabaahi wal Masaa’i, karya seorang syaikh besar dari Suriah bernama Syaikh Suri Kabir. Ia mengatakan, “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, yang dari cahayanya Engkau ciptakan segala sesuatu.”

“Segala sesuatu”, berarti termasuk di dalamnya Adam, lblis, kera, babi, lalat, nyamuk dan sebagainya. Adakah seorang yang berakal akan mengatakan bahwa semua itu diciptakan dari cahaya Muhammad? Bahkan setan sendiri mengetahui dari apa ia diciptakan, juga mengetahui dari apa Adam diciptakan, sebagaimana dikisahkan dalam AI-Qur’an,

“Iblis berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah.” (Shaad: 76)

Ayat di atas mendustakan dan membatalkan ucapan syaikh tersebut.

Termasuk lafazh shalawat bid’ah adalah ucapan mereka, “Semoga keberkahan dan keselamatan dilimpahkan untukmu wahai Rasulullah. Telah sempit tipu dayaku maka perkenankanlah (hajatku) wahai kekasih Allah.”

Bagian pertama dari shalawat ini adalah benar, tetapi yang berbahaya dan merupakan syirik adalah pada bagian kedua. Yakni dari ucapannya:

Hal ini bertentangan dengan firman Allah : “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepadaNya?” (An-Naml: 62)

Dan firman Allah “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri.” (Al-An’am: 17)

Sedangkan Rasulullah sendiri, manakala beliau ditimpa suatu kedukaan atau kesusahan, beliau berdo’a, “Wahai Dzat Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhlukNya), dengan rahmatMu aku Memohon pertolongan-Mu.” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)

Jika demikian halnya, bagaimana mungkin kita diperbolehkan mengatakan kepada beliau, “Perkenankanlah hajat kami, dan tolong-lah kami?”Lafazh ini bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam: “Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)

4.   Shalawat AI-Fatih

Lafazhnya:“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup?”

Orang yang mengucapkan shalawat ini menyangka, bahwa barangsiapa membacanya maka baginya lebih utama daripada membaca khatam Al-Qur’an sebanyak enam ribu kali. Demikian, seperti dinukil oleh Syaikh Ahmad Tijani, pemimpin thariqah Tijaniyah.

Sungguh amat bodoh jika terdapat orang yang berakal mempercayai hal tersebut, apatah lagi jika ia seorang muslim. Sungguh amat tidak mungkin, bahwa membaca shalawat bid’ah tersebut lebih utama daripada membaca Al-Qur’an sekali, apatah lagi hingga enam ribu kali. Suatu ucapan yang tak mungkin diucapkan oleh seorang muslim.

Adapun menyifati Rasulullah dengan “Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup” secara mutlak, tanpa membatasinya dengan kehendak Allah, maka adalah suatu kesalahan. Karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam tidak membuka kota Makkah kecuali dengan kehendak Allah. Beliau juga tidak mampu membuka hati pamannya sehingga beriman kepada Allah, bahkan ia mati dalam keadaan menyekutukan Allah. Bahkan dengan tegas Al-Qur’an menyeru kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi,tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, …” (Al-Qashash: 56)“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (AI-Fath: 1)

Shalawat ini disamping tidak ada tuntunannya dalam Islam juga bertentangan dengan firman Allah: ”Sesunguhnya engkau tidak memberi petunjuk terhadap orang yang engkau cintai, tapi Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dia kehendaki.” (Al-Qoshosh :56) [4]

5.   Shalawat dalam Kitab Dalail al-Khairat

Kitab ini ditulis oleh orang mistik shufi dari Afrika Utara yaitu Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli [5]. Syaikh Abu Usamah Salim Al-Hilali mengatakan: “Kitab (Dalail al-Khairat) ini sepantasnya dinamakan Sabilu Dhalal Al-Muhlikat (Jalan kesesatan dan kehancuran) atau Dalailul Khurafat wal Munkarat (jalan khurafat dan kemungkaran). Di dalam kitab ini terdapat hadits-hadits palsu diantaranya : ”Barangsiapa yang membaca shalawat ini sekai maka Allah akan memberikan baginya pahala sebesar pahala haji maqbul….” [6]

Pada bagian ke tujuh dari kitabnya mengatakan, “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad selama burung-burung merpati berdengkur dan jimat-jimat (tamimah) bermanfaat.”

Tamimah (suatu bentuk jimat) yaitu tulang, benang atau lainnya yang dikalungkan di leher anak-anak atau lainnya untuk menangkal atau menolak ‘ain (pengaruh mata dengki).

Perbuatan tersebut tidak memberi manfaat kepada orang yang mengalungkannya, juga tidak terhadap orang yang dikalungi, bahkan ia adalah di antara perbuatan orang-orang musyrik.Rasulullah bersabda:“Barangsiapa mengalungkan jimat maka dia telah berbuat syirik”. (HR. Ahmad, hadits shahih)

Lafazh bacaan shalawat di atas, dengan demikian, secara jelas bertentangan dengan kandungan hadits, karena lafazh tersebut menjadikan syirik dan tamimah sebagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Terdapat lagi lafazh bacaan shalawat dalam kitab Dalail al-Khairat sebagai berikut: “Ya Allah limpahkanlah keberkahan atas Muhammad, sehingga tak tersisa lagi sedikit pun dari keberkahan, dan rahmatilah Muhammad, sehingga tak tersisa sedikit pun dari rahmat.”

Lafazh bacaan shalawat di atas, menjadikan keberkahan dan rahmat, yang keduanya merupakan bagian dari sifat-sifat Allah, bisa habis dan binasa. Allah membantah ucapan mereka dengan firman-Nya, “Katakanlah, ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (AI-Kahfi: 109)

6.  Shalawat Al-Masyisyiyah

Shalawat ini dari Abdussalam bin Masyisyiyah yaitu guru Abdul Hasan Syadzali, yang telah dibunuh oleh Ibnu Abi Thawajin di negeri Maghrib. Bunyi shalawatnya adalah sebagai berikut :

“Ya Allah! Berikanlah sholawat kepada orang yang darinyalah semua rahasia terbuka, darinyalah cahaya berkilau, padanyalah terkumpul hakekat-hakekat sesuatu, dan padanyalah turun ilmu Adam, sehingga makhluk-lakhluk tidak mampu……”

Shalawat ini bathil. Rasulullah tidak pernah mensifati dirinya dengan sifat-sifat semacam itu. Jika seandainya lafadz ini disyari’atkan tentu akan disebutkan dalam kitab sunnah dan shahih atau pun yang hasan atau sebagainya dalam kitab fiqih, zuhud dan raqiq. Demikian juga pasti ada penjelasan dari para imam yang hidup sejaman dengan Masyisyi dan Syadzali.

Rasulullah bukanlah sumber ilmu ghaib dan rahasia seperti yang ada dalam shalawat ini. Shalawat ini dibuat oleh seorang zindiq untuk menyebarkan kekufuran dan kesyirikan. Sebab bertentangan dengan firman Allah ta’ala :

Artinya : “Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) Aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) Aku mengatakan kepadamu bahwa Aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (Al-An’am : 50)

Demikianlah sekilas penjelasan tentang shalawat Al-Masyisyiah. Semoga kita terhindar dari kesesatannya. [7]

7.  Shalawat Al-Badriyah

Isi shalawat ini berupa tawassul dengan ahli Badr (orang yang berperang dalam perang Badr). Sebagaimana bunyi shalawatnya : ” salam dari Allah semoga tercurahkan kepada yasin (Rasulullah) kekasih Allah. Kami bertawassul dengan bismillah dan dengan Al-hadi (sang pembawa petunjuk) Rasulullah dan semua yang berperang di jalan Allah dari semua ahli badr, ya Allah…..”

Dalam ucapan shalawat ini, terkandung bebebrapa hal : penyebutan nabi dengan habibillah, bertawassul dengan nabi, para mujahidin, dan ahli badr.Padahal, tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang memperbolehkannya. Allah SWT dan rasul-Nya tidak pernah mensyari’atkan. Demikian juga para shahabat tidak mengerjakan. Adapun hadits:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوْهُ بِجَاهِيْ فَإِنَّ جَاهِيْ عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ

“Jika kalian meninta Allah, maka memintalah kalian dengan kemuliaanku. Karena sesunguhnya kemuliaanku di sisi Allah besar.” [8]. Hadits tersebut sama sekali tidak ada sumber aslinya. Demikian menurut Ibnu Taimiyah[9].

Seorang muslim yang berakal mestinya timbul pertanyaan setelah membaca shalawat ini, benarkah isi yang terkandung dalam shalawat bariyah itu? Lalu jika benar bagaimana dengan penjelasan para ulama bahwa tawassul yang disyari’ahkan itu ada tiga macam, yaitu :

  1. Tawassul dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya.
  2. Tawasul dengan amal shalih yang dikerjakan oleh orang yang berdoa.
  3. Tawassul dengan doa orang shalih (yang masih hidup). [10]

Kesimpulanya tidak boleh bertawassul dengan semua orang yang berjihad dijalan Allah yang telah mati.

8.  Shalawat dalam Kitab Fadhlus Shalawat

Termasuk shalawat bid’ah dan syirik yang tercantum dalam kitab Fadhlus Shalawat oleh seorang tokoh Sufi sesat yang bernama Syaikh Libnani yang berbunyi :

“ Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad yang darinyalah Engkau menjadikan al-ahadiyah al-qayyumiyah.”

Perhatikan kebobrokan yang terdapat dalam shalawat ini! Dia menjadikan sifat Ahadiyah (ke-Esaan) dan sifat Al-Qayyumiyah (terus-menerus memelihara) kepada Rasulullah, padahal keduanya merupakan sifat Allah. Bukankah ini merupakan termasuk penyelewengan terhadap sifat Allah? Setelah kita tahu bahwa ini adalah termasuk shalawat bathil, maka TINGGALKANLAH!

8. Shalawat Bushiri

Shalawat ini dibuat oleh Syarifuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Sa’ad bin Hamad bin Abdillah As-Shanhaji Al-Busiri Al-Misri. [11] Yang berbunyi :

“Wahai makhluk yang paling mulia! Tidak ada tempat perlindungan begiku selain engkau di saat terjadi kesulitan”

Shalawat ini mengandung syirik besar karena dia menjadikan Rasulullah sebagai tempat berlindung padahal kita diperintah Allah untuk meminta perlindungan hanya kepada-Nya. Pantaskah orang yang mengaku ahlus sunnah wal jama’ah mengucapkan shalawat syirik ini?

Didalam shalawat ini tercantum segala sesuatu kecuali iman, karena orang yang mengucapkannya bersumpah dengan Rasulullah, sebagaimana yang ada dibawah ini :

“Ya Tuhanku! Demi Mushtafa (Rasulullah) sampaikanlah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu. Wahai dzat yang mempuyai kemulyaan yang luas.”

Dari sini jelas keyirikan yang terkandung dalam Burdatul Busiri ini, sebab Rasulullah bersabda : “ Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah berbuat kafir atau syirik.” [12]

Shalawat yang Disyari’ahkan

Dari semua penjelasan diatas maka tinggalkanlah semua shalawat-shalawat bid’ah sebab dapat membuat kita syirik pada Allah. Sedangkan shalawat yang disyari’ahkan adalah yang telah dituntunkan Allah dan Rasulnya. Berikut ini penjelasan keutamaan membaca shalawat untuk  Rasulullah yang disyari’ahkan:

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)

Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Abu ‘Aliyah berkata, “Shalawat Allah adalah berupa pujian-Nya untuk nabi di hadapan para malaikat. Adapun shalawat para malaikat adalah do’a (untuk beliau).” Ibnu Abbas berkata, “Bershalawat artinya mendo’akan supaya diberkati.”

Maksud dari ayat di atas, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yaitu, “Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta’ala menggambarkan kepada segenap hamba-Nya tentang kedudukan seorang hamba-Nya, nabi dan kekasih-Nya di sisi-Nya di alam arwah, bahwa sesungguhnya Dia memujinya di hadapan para malaikat. Dan sesungguhnya para malaikat bershalawat untuknya. Kemudian Allah memerintahkan kepada penghuni alam dunia agar bershalawat untuknya, sehingga berkumpullah pujian baginya dari segenap penghuni alam semesta.”

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita agar mendo’akan dan bershalawat untuk Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam. Bukan sebaliknya, memohon kepada beliau, sebagai sesembahan selain Allah, atau membacakan Al-Fatihah untuk beliau, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia.

Bacaan shalawat untuk Rasulullah yang paling utama adalah apa yang beliau ajarkan kepada para sahabat, ketika beliau bersabda, “Katakanlah, Ya Allah limpahkanlah rahmat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah untukku. Karena se-sungguhnya barangsiapa yang bershalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah kepada Allah wasilah untukku. Sesungguhnya ia ada-lah suatu tempat (derajat) di Surga. Ia tidak pantas kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap bahwa hamba itu adalah aku. Barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka ia berhak menerima syafa’atku.” (HR. Muslim)

Do’a memintakan wasilah seperti yang diajarkan Rasulullah dibaca dengan suara pelan. Ia dibaca seusai adzan dan setelah membacakan shalawat untuk nabi. Do’a yang diajarkan beliau yaitu: “Ya Allah, Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna ini. Dan shalat yang akan didirikan. Berikanlah untuk Muhammad wasilah (derajat) dan keutamaan. Dan tempatkanlah ia di tempat terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan.” (HR. Al-Bukhari)

Membaca shalawat atas Nabi ketika berdo’a, sangat dianjurkan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah : “Setiap do’a akan terhalang, sehingga disertai bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam.” (HR. AI-Baihaqi, hadits hasan)

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berpetualang di bumi, mereka menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” (HR Ahmad, hadits shahih)

Bershalawat untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam sangat dianjurkan, terutama pada hari Jum’at. Dan ia termasuk amalan yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bertawassul dengan shalawat ketika berdo’a atau meruqyah adalah dianjurkan. Sebab ia termasuk amal shalih. Karena itu, sebaiknya kita mengucapkan, “Ya Allah, dengan shalawatku untuk Nabimu, bukakanlah dariku kesusahanku… Semoga Allah melimpahkan berkah dan keselamatan untuk Muhammad dan keluarganya.”


[1] Lihat Fathul Majid hal. 104 karya Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Ali Syaikh.

[2] HR. Nasaa’i dalam Al-‘Amal Al-yaum wal Laillah hal. 995 dengan sanad hasan; Ahmad I/214, 347;Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad hal.783; Ibnu Majah dalam Al-Kaffarat 2117 dan dihasankan oleh Al-Arnauth dalam Takhrij Musnad Abi Bakr, hal. 55 dan dihasankan pula oleh Al-Albani dalam As-Shahihah 139

[3] Dinukil dari kitab Al-Firqatun Najiah dengan beberapa tambahan

[4] Dinukil dari kitab Al-Firqatun Najiah dengan beberapa tambahan

[5] Lihat kibab Mahabaturrasul oleh Abdurrauf Muhammad Utsman hal. 197

[6] Lihat Hal Lil Muslim Mulzamun bittiba’I Majhabin Mu’ayyan. Halaman 72

[7] Al-Tasawuf fi Mizanil Bahtsi wa Tahqiq oleh Abdul Qodir Habibullah As-Sidi hal. 415-421

[8] Hadits bathil. Tidak ada asalnya. At-Tawassul, 1/117, Jam’ir Rosaail, 1/11, Kitab Tauhid, 1/96, Ushulul iman fidhoui kitab wa sunnah, 1/65

[9] Lihat majmu’ fatawaa 1/94, 6/217 dan 6/222,

[10] LIhat kitab Al-Tawassul oleh Syaikh Al-Albani hal. 46

[11] Mahabbatur Rasul halaman 193

[12] HR. Tirmidzi 1545, Ahmad 2/34, 69, 86 dengan sanad shahih