Ilmu Pengetahuan, Ilmu Pengetahuan Palsu ataukah Mistisme?

(Science, Pseudo Science or Mistism?)

Dikaji oleh : IRIs (Indonesian Rationalist Institute)

Apakah yang membedakan ilmu pengetahuan dan bukan ilmu pengetahuan pengetahuan? Untuk menjawab pertanyaan ini memang kita tidak bisa dilepaskan dari sejarah pengetahuan manusia. Dahulu kala, antara pengetahuan dan mitos berbaur menjadi satu sebagai sebuah penjelasan. Perbauran inilah yang biasa kita kenal dengan mitologi, perpaduan antara ‘mitos’ dan ‘logos’, sehingga kita mengenal banyak mitologi dalam setiap peradaban bangsa.

Jaman pencerahan Eropa, aukflarung, membawa sebuah gelombang baru kemajuan ilmu pengetahuan dengan membebaskan diri dari belenggu ‘mitos’ di Eropa yang diciptakan oleh kekuasaan. Kekuasaan para pendeta, raja, dan kekuasaan para tabib dan dukun. Dari sinilah titik awal pencerahan dengan menempatkan pengetahuan sebagai ujungnya mulai di buka.

Lantas, apakah ilmu pengetahuan itu?

Science (ilmu pengetahuan)

Ilmu pengetahuan itu memenuhi kriteria empiris, atau dapat dibuktikan. Ilmu pengetahuan selalu menempatkan obyek pengetahuan sebagai sesuatu yang dicari penjelasaanya. Jadi dalam pengetahuan ada sistematisasi yang diperoleh dari observasi, kajian dan percobaan. Dengan ilmu pengetahuan juga kemudian sebuah obyek dapat dikembangkan dan dimanfaatkan dalam kehidupan manusia. Makanya fisika, kimia, matematika, kedokteran sangat berguna dan membuktikan dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk kepentingan manusia.

Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut:

  1. Karakterisasi (observasi dan pengukuran)
  2. Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil observasi dan pengukuran)
  3. Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)
  4. Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)

Walaupun sudah menggunakan metode ilmiah namun sains tidak memiliki autoritas yang monolitik. Sains sendiri tetaplah proses untuk terus menerus mempertanyakan dan pengujian yang jujur dan terus menerus untuk mencari jawaban.

Pseudoscience (ilmu pengetahuan palsu)

Ilmu semu (Inggrispseudoscience) adalah sebuah pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktek yang diklaim sebagai ilmiah tapi tidak mengikuti metode ilmiah. Ilmu semu mungkin kelihatan ilmiah, tapi tidak memenuhi persyaratan metode ilmiah yang dapat diuji dan seringkali berbenturan dengan kesepakatan/konsensus ilmiah yang umum.

Istilah pseudoscience muncul pertama kali pada tahun 1843 yang merupakan kombinasi dari akar Bahasa Yunani pseudo, yang berarti palsu atau semu, serta Bahasa Latin scientia, yang berarti pengetahuan atau bidang pengetahuan. Istilah tersebut memiliki konotasi negatif, karena dipakai untuk menunjukkan bahwa subjek yang mendapat label semacam itu digambarkan sebagai suatu yang tidak akurat atau tidak bisa dipercaya sebagai ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, para pembela serta yang mempraktekkan pseudosains biasanya menolak klasifikasi ini.

Pseudo science secara sederhana bisa diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang di atas kertas tampaknya rasional dan ilmiah, namun pada kenyataannya tidak. Penyebab munculnya pseudo science adalah adanya upaya dari segelintir manusia yang melakukan rekayasa atau distorsi terhadap data riset. Padahal, di dalam dunia penelitian, seorang peneliti wajib menampilkan data apa adanya (ansicht).

Pseudo science ini juga membawa pengaruh yang cukup kental dalam kehidupan manusia modern. Apa yang kita sebuat sebagai logosentrisme, yaitu memusatkan semua penjelasan pada kategori ilmiah bukan pada proses ilmiahnya. Kategori ilmiah ini bisa berupa gelar, kampus, nama-nama yang aneh, dan semacamnya. Singkatnya apapun yang disebut dengan bahasa-bahasa yang seperti ilmiah, ada penjelasannya, oleh orang yang bergelar, seakan akan sudah bisa disebut ilmu pengetahuan.

Yang terjadi biasanya adalah, diantara tarikan antara mistos dan logos, sesuatu yang mitos namun dipaksakan sebagai keilmuan rasional. Nah yang bisa kita kategorikan pseudoscience adalah, astrologi, hongsui, parapsikologi (dukun/paranormal), dan semacamnya. Ada beberapa indikator dari pseudoscience; isolasi (tertutup, karena penarikan kesimpulan asal jawab), teori apapaun bisa dibenarkan (non falsibility), tidak bisa dikoreksi, dan banyak lainnya.

Banyaknya artikel yang berkesan ilmiah di internet, di mana materinya tidak didukung oleh data-data ilmiah yang valid, adalah contoh nyata dari pseudoscience. Artikel-artikel tersebut biasanya bergaya ilmiah dan meyakinkan tetapi ujung-ujungnya menjual berbagai obat atau alat kesehatan. Misalnya obat penurun berat badan, peluruh lemak atau alat untuk mengecilkan perut. Semuanya bergaya ilmiah seolah-olah metodenya yang paling kuat dan mutakhir. Juga banyaknya klaim ilmiah berbagai teori kehebatan ilmu tenaga dalam dan ilmu metafisika yang penjelasannya sangat terkesan ilmiah dan meyakinkan namun hanya sekedar teori yang asal buat dan tidak didukung oleh data-data yang ilmiah.

Contoh lain yang sering kita temui adalah ramalan. Banyak dari kita yang percaya dengan shio, ramalan, dan hal yang sejenis. Walaupun ada buku yang mengajarkan tentang hal itu, bukan berarti hal itu telah menjadi science. Mengapa demikian? Hal itu disebabkan karena dasar dari semua itu tidak dapat dijelaskan secara logis. Kita ambil saja shio sebagai contoh. Dalam shio kita anggap saja seseorang yang bershio monyet dikatakan memiliki akal yang cerdik. Mangapa orang bisa berkata seperti itu? Mungkin saja data orang yang lahir pada tahun tertentu dikumpulkan, kemudian ditarik kesimpulan orang-orang yang dilahirkan pada tahun itu cenderung cerdik. Karena itu mereka diberi shio monyet, yang cenderung dinilai cerdik. Tapi kita juga masih tidak tahu apakah semua orang yang lahir pada tahun itu cerdik, atau apakah karena manusia melihat monyet itu cerdik, dan karena orang-orang tersebut lahir pada tahun yang sama, maka mereka diberi simbol yaitu shio monyet.

Mistisme/Klenikisme

Sedangkan kategori ini memang tidak bisa dipertemukan dengan ilmu pengetahuan. Mistism hanya dipercaya dan menjadi bagian dalam sebuah kehidupan. Mistism adalah cara berpikir yang secara apriori menerima apapun yang pernah dilihat oleh mata, pernah didengar, pernah dirasakan tanpa dirasakan kembali. Perbedaannya adalah, mistism dapat disentuh (dipelajari) ilmu pengetahuan, sedangkan ilmu pengetahuan tidak dapat disentuh mistism.

Bersambung………………………………….