Pengantar Admin :

“Qarin” menurut bahasa artinya pendamping atau teman, Pada diri manusia ada dua qarin yang selalu mengikuti yaitu dari bangsa jin dan malaikat. Jika qarin dari malaikat jelas keislamannya maka apakah qarin  dari bangsa jin dapat pula di islamkan sebagaimana jin qarin rasulullah?

Pembahasan

Sesungguhnya hanya Jin Qarin Rasulullah yang diberi pengecualian oleh Allah untuk masuk Islam dan tidak menyuruh Rasul kecuali kepada kebaikan. Sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah dalam riwayat berikut. Dari Abdullah bin Mas’ud, rasulullah berkata, “Tidak satupun dari kalian kecuali ia telah diberi Qarin dari jin dan Qarin dari malaikat”. Para sahabat bertanya, ‘Begitu juga kepadamu wahai rasulullah?’. Beliau bersabda, ‘Kepadaku juga, hanya saja Allah telah menolongku untuk menghadapinya dan tidaklah dia (Qarin) menyuruhku kecuali kepada kebenaran’.” (HR. Ahmad, no. 3466)

Yang dimaksud dalam pernyataan rasulullah pada bagian akhir hadits diatas adalah Qarin beliau yang dari jin. Allah telah memberikan perlakuan khusus kepada beliau dalam menghadapi sepak terjang Qarin jin yang dimilikinya, sehingga Qarin tersebut masuk Islam dan tidak mempengaruhi beliau, kecuali kepada kebenaran dan kebaikan dan bukan untuk Jin Qarin para sahabat jika dikaji dari perkataan “hanya saja” yang merupakan bentuk pengecualian hanya untuk Rasulullah

Hal ini diperjelas oleh riwayat lain. Abdullah bin Mas’ud berkata,”Rasulullah bersabda, “Tidak seorangpun dari kalian kecuali telah diserahi Qarin dari Jin”. Para sahabat bertanya, ‘kepadamu juga wahai rasulullah?’. Beliau bersabda, ‘Kepadaku juga, hanya saja Allah telah menolongku untuk menghadapinya, sehingga ia masuk Islam dan tidak menolongku kecuali kepada kebaikan’.” (HR. Muslim, no. 5034)

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan “Aslama” dalam hadits tersebut adalah menyerah dan pasrah. Dan ada pula yang memaknai bahwa Qarin rasulullah itu menjadi muslim dan mukmin, begitulah makna yang jelas terlihat dari susunan redaksi hadits tersebut.”

Lalu Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah melanjutkan penjelasannya. “Semua ulama’ umat ini sepakat bahwa rasulullah adalah sosok yang ma’sum (suci dan diampuni dari dosa baik yang lalu maupun yang akan datang) baik badannya, lisannya atau hatinya. Dan hadits tersebut lebih merupakan bahaya fitnah (gangguan) Qarin dan was-was serta penyesatan yang dilakukannya. Rasulullah memberitahu hal itu kepada kita agar kita lebih waspada dan melakukan pembentengan diri dari kejahatannya sebisa mungkin.”[1]

Syaikh Wahid Abdus Salam Bali telah menjelaskan [2], bahwa telah terlihat jelas dalam susunan redaksi beberapa hadits yang menjelaskan masuk Islamnya Qarin Jin yang mengiringi rasulullah sifatnya khusus, ekslusif hanya berlaku pada jin Qarin Rasulullah. Barang siapa yang menyatakan bahwa kemungkinan masuk  Islamnya Jin Qarin seseorang (selain Rasulullah), maka harus ada dalil yang menyatakan bahwa hal itu bersifat umum. Dan kenyataannya tidak ada satu dalil pun yang menyatakan bahwa Islamnya Qarin Jin itu juga berlaku pada selain rasulullah.

Alasan kedua, “tidak ada riwayat satu pun yang menjelaskan masuk islamnya Jin Qarin yang dimiliki Umar bin Khatthab. Padahal kita tahu, dikarenakan iman Umar yang begitu teguh dan kokoh, syetan menjadi segan dan tahut pada sososk Umar. Dan rasulullah tidak pernah menjelaskan kepada sahabatnya bahwa Jin Qarin Umar telah masuk Islam sebagaimana Jin Qarin yang mengiringi beliau.

Alasan ketiga, “kalau setiap orang bisa mengislamkan jin Qarin masing-masing, maka hilanglah hikmah dan fungsi tujuan Allah pada diri manusia. Karena manusia itu tidak akan bisa dipengaruhi oleh Jin Qarin untuk berbuat keburukan atau menaksiatan. Padahal adanya pengaruh buruk dari Jin Qarin merupakan sarana ujian akan keteguhan dan kekokohan iman seorang mumin”.

Tugas Utama Jin Qarin

Sesungguhnya Qarin yang selalu menyertai kita hanya mempunyai tugas hanya sebagai PEMBISIK baik Qarin dari Jin atau Qarin dari Malaikat. Tidak ada dalil satu pun dalam Al-Qur’an dan Sunnah bahwa Jin Qarin akan menjaga manusia dari gangguan jin atau membantu manusia dalam hal-hal lainnya!

Qarin dari jenis Jin hanya bertugas membisiki manusia untuk berbuat kejahatan dan kemaksiatan, sedangkan Qarin dari malaikat hanya bertugas untuk membisiki manusia untuk berbuat kebajian dan keta’atan.

Rasulullah telah menjelaskan hal itu dalam haditsnya. Abdullah bin Mas’ud berkata, rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setan itu melakukan bisikan sebagaimana malaikat juga melakukan bisikan. Adapun bisikan syetan intinya mengajak untuk berbuat keburukan dan mendustakan yang haq. Sedangkan bisikan malaikat, intinya mengajak untuk berbuat kebaikan dan membenarkan yang haq. Barangsiapa menjumpai pada dirinya (ajakan kebenaran), hendaknya ia memuji Allah (bersyukur), dan barangsiapa menjumpai sebaliknya (bisikan kejahatan), hendaknya ia berlindung kepada Allah dari (godaan) syetan. Lalu beliau membaca ayat, “Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan….” (QS. Al-Baqarah :268)”[3]

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “ Sesungguhnya malaikat dan syetan (yang menjadi Qarin kita) senantiasa menyelimuti hati kita, seperti malam dan siang menyelimuti bumi. Diantara manusia ada yang malamnya lebih panjang dari siangnya, dan yang lain malah sebaliknya. Ada juga manusia yang hatinya terang terus-menerus dan ada pula yang gelap terus-menerus”.

Dia melanjutkan, “ hadits tersebut memberi tahu kepada kita, barangsiapa yang mendapati hatinya cenderung berbuat baik, hendaklah ia memuji Allah, berterimakasih kepada-Nya. Tapi apabila ia mendapati hatinya cenderung keperbuatan maksiyat, maka perbanyaklah membaca isti’adzah, memohon perlindungan kepada-Nya.”[4]

Allah ta’ala berfirman :

“Katakanlah : “Aku berlindung kepada Rabb manusia”. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia”. (QS. An Nas (114) : 1-6)

Ibnu katsir rahimahullah menafsirkan surat an-Nas berkata : “bahwa yang dimaksud dengan “al-Waswasul Khannas” dalam surat tersebut adalah syetan yang disertakan ke manusia. Karena tidak seorang pun dari keturunan Nabi Adam kecuali ia mempunyai Qarin. Qarin itulah yang menghiasi keburukan dan kekejian, dan tidak seorang pun yang selamat darinya kecuali mereka berlindung kepada Allah.” [5]

Sesungguhnya justru keberadaan Jin Qarin sangat membahayakan kehidupan manusia yang dirasukinya! Sebab Jin Qarin adalah syetan pengganggu dan perusak kehidupan orang-orang yang beriman. Jin Qarin adalah bagian dari musuh kita yang harus kita waspadai sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam al-Qur’an (yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya). Jin Qarin menjadi pembisik kejahatan yang paling dekat dengan kita. Semakin rajin seseorang dalam beribadah, maka semakin berat Jin Qarin melakukan gangguan. Ia semakin kegerahan dan kepanasan mengikuti orang mu’min tersebut. Jin Qarin itu akan menjadi kurus kering, lemah dan loyo serta sakit-sakitan.

Dan sebaliknya, bila kehidupan seseorang itu semakin jauh dari Allah, maka jin Qarin akan semakin senang dan betah atau kerasan. Sepertinya ia tinggal diruangan  yang sejuk ber-AC, nyaman dengan berbagai macam fasilitas yanga ada, terpenuhi segala macam yang dibutuhkannya. Jin Qarin itu akan menjadi gemuk dan bertenaga, garang dan ganas.

Abu Hurairah pernah mengilustrasikan dialog antara Jin atau syetan yang mengikuti orang mu’min dan syetan yang mengikuti orang kafir. Ia berkata, “Jika syetan orang mu’min bertemu dengan syetan orang kafir, ia akan berkata, ‘Kamu sekarang menajdi gemuk, segar-bugar dan bertenaga’. Sedangkan aku sekarang kurus keriang dan loyo.’ Syetan orang kafir bertanya,’kenapa kamu menajdi kurus?’ Lalu syetan orang mu’min itu menjawab, ‘Ketika orang yang aku ikuti mau makan dia membaca basmalah, maka aku pun lapas terus. Apabila ia mau minum baca basmalah, maka aku pun haus terus. Apabila ia berpakaian baca basmalah, maka aku pun telanjang terus. Apabila ia mandi dan berhias membaca basmalah, maka aku pun kusut dan acak-acakan.”

Syetan orang kafir menimpali, “Sedang aku bersama orang yang tidak pernah melakukan hal  itu. Sehingga aku dengan bebas ikut nimbrung dalam makan dan minumnya, serta bernaung dalam pakaiannya.” [6]

Seharusnya begiulah gaya hidup (life style) seorang mu’min. Seluruh gerak badannya adalah ibadah, isi hatinya dalah iman yang benar, hiasan hatinya adalah dzikir, sebagaimana kehidupan Rasulullah dan para sahabat dan para ulama’ yang mengikuti jejak langkahnya. Sehingga ia mudah mengendalikan bisikan jahad Jin Qarin sebagai musuhnya. Bukannya malah menjadikan Jin Qarin sebagai pelidung.


[1] Kitab Syarhun Nawawi ‘ala Shahihi Muslim : 17/158.

[2] Dalam Kitabnya Wiqayatul Insan minal Jinni was Syaithan (hal. 39-40)

[3] HR. Tirmidzi, 2988, an-Nasa’I no. 11051, dan Ibnu Hibban, no. 998

[4] Kitab Fathul Qadir : 2/299

[5] Tafsir Ibu Katsir : 4/575

[6] Kitab al-Waqayah : 157