Jadi orang sakti? Wah pasti enak sekali. Bisa terbang, melompati pagar dan pohon, berjalan di atas air dan memiliki pukulan sedahsyat angin Tornado. Kalau marah tinggal mengibaskan tangan dan musuh terpental puluhan meter. Mau perempuan cantik juga tinggal pasang eksyen, pasti banyak gadis tergoda. Apalagi kalau ilmu kesaktiannya ditambah dengan kemampuan mempengaruhi perasaan orang lain. Wah, pokoknya enak… Muantep tenan..

Itu sebagian yang terpikir di kepala saya waktu pertama kali ikut perguruan tenaga dalam. Saat melihat orang-orang tenaga dalam melakukan atraksi di TV, saya tergoda sekali. Bagaimana tidak, saya lihat mereka begitu hebatnya. Bisa mematahkan besi dan beton hanya dengan pukulan tangan. Malah waktu ada yang coba memukul, si pemukul justeru terpental. Wah, pokoknya saya juga harus bisa.

Ya, harus bisa… itu tekad saya yang berbadan  kecil ini waktu itu. Saya tidak mau lagi jadi ‘bulan-bulanan’ anak sebaya saya yang badannya rata-rata besar. Sering saya harus memendam kesal karena tak berani melawan mereka. Kalau saya sudah bisa tenaga dalam, saya akan tantang mereka. Kalau mereka coba memukul saya, mereka pasti terpental tak berdaya. Nah, kalau sudah begini saya yang akan balas memukul dengan kekuatan tenaga dalam sampai tulang belulang mereka remuk. Wuih, sadis juga saya ya?

Khayalan jadi orang sakti seperi ini, pasti bukan hanya saya yang mengalami. Banyak anak-anak, remaja, bahkan orang tua yang kepingin memiliki kekuatan supranatural. Memiliki kelebihan dari orang-orang umum. Dengan demikian kita bisa berbuat apa saja yang orang lain tidak mampu mengerjakannya. Bahkan dengan kemampuan lebih itu, kita bisa meraih keuntungan lainnya. Bisa cari harta lebih mudah, cari istri cantik dan lain sebagainya. Bahkan ada yang berkhayal menjadi super hero. Mulai super hero lokal macam Wiro Sableng, Si Buta dari Gua Hantu, Si Pitung, Gundala Putra Petir, hingga super hero Impor semacam Spiderman dan Superman.

Tapi perjalanan saya memburu kesaktian selalu berakhir dengan kekecewaan. Banyak sudah perguruan tenaga dalam, bahkan orang pintar yang saya datangi, semuanya tak mampu memuaskan keinginan saya buat jadi sakti. Boro-boro punya kehebatan seperti tokoh-tokoh dongeng atau filem Hollywood, mau melompat melebihi tinggi tubuh saja saya belum berhasil. Demikian pula soal kekuatan, jangankan mematahkan besi dan beton, kebentur lantai saja kepala masih pusing tujuh keliling.

Malah di beberapa perguruan yang saya ikuti, guru besarnya sendiri tidak lebih sakti dari saya. Padahal kesaktian yang saya peroleh hanyalah hasil belajar sulap dan menemukan sendiri beberapa trik. Tak tanggung-tanggung, trik yang saya temukan tergolong luar biasa. Hanya bermodal keyakinan dan kata kunci “Kalau dia bisa, saya juga pasti bisa” saya berhasil membongkar beragam trik Sulap Besar, bahkan atraksi orang pintar dan paranormal yang selama ini gembar-gembor bahwa atraksi merekaa menggunakan ilmu tenaga dalam, Yoga, Jin, dan lain sebagainya.

Ditambah dengan rajinnya saya berburu buku sulap, buku tenaga dalam, buku debus dan mendatangi ahli akrobatik, makin mantaplah kesimpulan saya, bahwa kesaktianya para guru tenaga dalam, paranormal, dukun, bahkan manusia yang dianggap suci semacam Sai Baba di India tak lebih dari trik dan rekayasa belaka. Sompret!!!

Saya tidak tahu (dan nggak mau peduli..he..he.) apakah tulisan ini nantinya layak buat menjadi sebuah buku. Atau apakah penulisan dan gaya bahasanya bisa dianggap bagus atau malah menuai kritik dan kecaman. Yang jelas saya ingin bercerita kepada pembaca sekalian, persepsi, faham dan pengetahuan yang saya miliki tentang “Kesaktian”. Artinya, saya tidak ingin memaksa anda buat sependapat dengan saya bahwa kesaktian yang selama ini dianggap ada, atau orang tertentu yang selama ini dianggap sakti,sebenarnya Cuma isapan jempol. Cuma, jangan pula saya disalahkan kalau setelah membaca tulisan saya ini lalu sebagian orang jadi ikut-ikutan “tidak hormat” lagi dengan para normal, dukun, dan ‘orang pintar’.

Saya bukan orang yang mengerti banyak teori dunia metafisika, perdukunan, maupun ilmu ghaib. Makanya buku ini hanya akan bercerita sedikit pengetahuan yang saya dapatkan dari pengalaman “Berburu Kesaktian” berpuluh tahun.

Ya, berpuluh tahun…. Bayangkan… Saya memburu ilmu kesaktian dari berbagai sumber yang berkompeten sejak saya masih kecil, hingga saya sudah bisa bikin anak kecil. (Maksudnya sejak anak-anak hingga dewasa, alias berumah tangga).

Bukan bermaksud sombong (Karena memang nggak patut disombongkan.. he..he), jam terbang sayapun di dunia perdukunan dan kesaktian –Insya Allah- tidak bisa diremehkan. Saya pernah jadi guru besar perguruan tenaga dalam, punya ratusan (mungkin ribuan) murid. Pernah enam kali mengisi acara Debus dan Sulap di stasiun televise, meski hanya TV lokal. Pernah juga menjadi tim spiritual salah satu Calon Bupati (sekarang sudah jadi Bupari). Bahkan pernah memperagakan ‘kesaktian’ saya di hadapan dukun dan paranormal asal perkotaan maupun pedalaman.

Maksud lho…? Ya, maksud saya… bukan ingin bilang saya lebih sakti dari para dukun dan orang pintar itu. Artinya, apa yang saya lakukan dengan trik tersebut ternyata tuh para dukun dan orang pintar tidak jauh lebih pintar dari saya. Saya peragakan trik saya yang memukau, mereka terkagum-kagum. Bukannya protes dan bilang bahwa yang saya lakukan itu nggak ada “bau Supranatural” yang bisa mereka endus. Eh, mereka malah terbengong-bengong dan menyatakan kagum dengan kehebatan “lmu” saya.

Lucunya lagi, ada anak seorang paranormal yang oleh para  muridnya dianggap wali merengek-rengek minta saya ajari ilmu saya. Asal tahu saja, beberapa pejabat di Kaltim konon berguru pada sang ayah. Itu belum seberapa. Beberapa kali saya ‘mengerjai’ dukun atau paranormal yang sudah terkenal di daerah saya. Cuman dengan alas an kode etik paranormal, terpaksa nama mereka saya rahasiakan (he..he..).

Wallahu A’lam

dikutip dari sini