Di antara berbagai ilmu yang termasuk ilmu yang tidak bermanfa’at adalah ilmu metafisika, karena ilmu ini mampu menciptakan keraguan terhadap keimanan seseorang kepada Alloh .

Metafisika berasal dari bahasa Yunani, yakni : meta yang berarti “setelah” atau “di balik” dan fisika yang berarti “hal-hal yang ada di alam”. Sehingga metafisika adalah cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat obyek ( fisik ) di dunia . Sehingga Metafisika sering disebut dengan teori realitas. Istilah metafisika diketemukan oleh Andronicus pada tahun 70 SM ketika menghimpun karya-karya Aristoteles, dan menemukan suatu bidang di luar bidang fisika atau disiplin ilmu lain. Metafisika lebih merupakan upaya untuk menjawab problem tentang realitas atau kenyataan yang ada.

Sebagian pakar sosiologi membagi metafisika menjadi dua belahan besar, yaitu Metafisika Generalis atau yang kemudian dikenal dengan nama ilmu ontologi yaitu ilmu yang mempelajari semua yang ada. Dan Metafisika Spesialis yang terbagi lagi menjadi tiga :

1. Antropologi yang membahas tentang hakekat manusia.

2. Kosmologi yang mempelajari tentang asal-usul alam semesta.

3. Theologi yang mempelajari tentang konsep ketuhanan.

Dalam perkembangannya, metafisika theologi ini yang kemudian dikenal sebagai ilmu metafisika. Bahkan istilah ini kemudian terdistorsi lagi menjadi ilmu gaib atau supranatural.

Metafisika yang dikenal sekarang adalah metafisika theologi yang selalu berupaya merealistiskan semua perihal yang gaib. Sehingga ilmu metafisika ini bukan bagian fisika yang ilmiah dan bukan pula bagian ajaran ketuhanan yang benar. Beberapa ilmuwan Barat sendiri menolak keberadaan metafisika.

Alfred Jules Ayer berpendapat Metafisika adalah parasit dalam kehidupan ilmiah yang dapat menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini karena problem yang diajukan dalam bidang metafisika adalah problem semu, yaitu permasalahan yang tidak mungkin untuk dijawab. Setiap metafisikus menyodorkan cara berpikir yang cenderung subyektif dan menciptakan terminologi filsafat yg khas menurut dirinya sendiri.

Akibat ketidakjelasan ini, banyak kalangan menafsirkan metafisika menurut kepentingan masing-masing. Kaum Rasionalis mengarahkan metafisika kepada penta’wilan perkara-perkara ghaib yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi dapat dinalar secara fisika. Seper-ti mereka menta’wilkan khubuts ( syetan jantan ) dan khobaits ( syetan betina ) yang tersebut dalam do’a masuk WC sebagai “kuman” karena WC tempat kotoran yang merupakan sarang kuman jantan dan betina. Terlihat ilmiah, tetapi sebenarnya sesat dan menyesatkan.

Vonis sesatnya faham metafisika tidak hanya datang dari para ulama Islam, bahkan para ilmuwan non muslim pun menyatakan hal yang senada. Sebagaimana David Hume menyatakan : “Metafisika itu cara berpikir yang menyesatkan (sophistry) dan khayalan (illusion). Sebaiknya karya metafisika itu dimusnahkan, karena tidak mengandung isi apa-apa.”

Metafisika dalam pengertian kaum rasionalis dan filosuf ini memicu timbulnya banyak perdebatan yang melahirkan berbagai aliran, seperti di antaranya : monisme , dualisme dan pluralisme .

Konsep metafisika versi kaum rasionalis ini terang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, bahkan termasuk dalam kategori menolak beriman dengan yang ghaib. Hal ini sebenarnya sama dengan men-dustakan Alloh .

Sementara itu para penganut tashawwuf memahami metasifika de ngan sudut pandang yang berlawanan dengan kaum rasionalis. Mereka memahami metafisika sebagai pemahaman agama ala tashawwuf atau shufi. Sebagiannya lagi melarikannya kepada tashawwuf bergaya mistik, yaitu membenarkan teori mistik kaum sufi, seperti masalah qobalah , mukasyafah dan lain-lainnya. Termasuk bagaimana pembenaran terhadap ajaran hulul atau “manunggaling kawula-Gusti”.

Kaum mistis murni memiliki pandangan yang hampir sama de-ngan corak metafisika kaum shufi. Hanya saja kaum mistis murni – sama saja apakah berasal dari kalangan umat Islam atau non muslim – berupaya membenarkan ritual atau pun keyakinan mereka yang sebenarnya syirik agar bisa diterima oleh akal. Bagaimana kaum mistik ini berupaya menyingkap rahasia ” tenaga dalam ” yang sebenarnya dalam pandangan Islam tidak beda dengan ” sihir “, yaitu kerja sama dengan jin untuk menda patkan bantuan jin sehingga mampu melakukan pukulan jarak jauh, transfer tenaga dan melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa.

Dalam kasus Ponari yang jelas seterang matahari akan kesyirikan-nya, tetapi masih banyak orang yang mencoba mencari pembenaran dari sisi ilmiah, padahal tidak akan pernah dapat dijumpai. Bahkan ada bebera pa pendakwah yang mencoba memberikan pembenaran dengan alasan adanya khasiat atau unsur mineral pada batu Ponari sehingga bisa menjadi daya sembuh yang mujarab bagi para pasien yang berobat kepada Ponari. Sebuah alasan yang tidak beralasan !!! Karena berdasarkan aqidah Islam yang benar, alasan seperti itu tidak dikenal, apalagi dibenarkan !!! Bahkan para ahli medis telah mengadakan penelitian terhadap batu Ponari dan hasilnya pun sama, yakni tidak ada unsur atau senyawa mineral apa pun dalam batu Ponari yang memiliki dampak menyembuhkan.

Batu Ponari tentu berbeda dengan tanaman obat yang memang secara ilmiah dapat dibenarkan karena terdapat kandungan zat-zat yang bermanfa’at bagi kesehatan dan penyembuhan. Itu pun prosesnya lama, tidak dengan sekali makan atau sekali minum langsung mendapatkan kesembuhan. Bandingkan dengan batu Ponari !??

Pembenaran permasalahan mistis tidak hanya dilakukan oleh mistikus muslim, tetapi banyak juga dilakukan oleh paranormal, dukun, dan para pertapa yang notabene non muslim. Mereka membuat berbagai macam penilaian yang “ilmiah” tentang yoga yang identik dengan ajaran agama Hindu, padahal hakekatnya tidak sehebat itu. Demikian pula dengan berbagai macam ritual animisme dan dinamisme lainnya.

Metafisika dalam versi siapa pun pada hakekatnya adalah bentuk pengingkaran terhadap keesaan Alloh dan pendustaan terhadap Alloh  . Secara ilmiah murni pun, metafisika diingkari oleh banyak ilmuwan, termasuk pula yang berasal dari kalangan non muslim. Mempelajari metafisika sama halnya dengan menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan dunia dan akhirat.

[ ’Abdulloh A. Darwanto ]