Alhamdulillah, tiada terkira kami bisa menyelesaikan kesaksian ini, setumpuk lembaran untuk menunjukkan berbagi kesyirikan yang banya dilakukan oleh masyarakat. Berbagai kalangan, dari rakyat jelata hingga pejabat, yang awam hingga yang pintar, tidak sedikit yang mempercayai dan mengamalkannya. Artis yang berangan-angan mendapat popularitas biasa menjadikannya pegangan. Pejabat yang ingin mendapat popularitas biasa menjadikannya pegangan. Pejabat yang ingin mendapatkan wibawa untuk mengekalkan kekuasaanya pun berbekal dengannya. Pendek kata banyak masyarakat yang menyimpan jimat, dzikir syirik, rajah-rajah, haekal, sihir, santet, gendam, gangguan jin, pelunutr kekebalan dan berbagai ilmu laku yang berasal dari dunia antah-berantah. Celakanya ilmu laku tersebut dihiasi dengan lafal, tulisan, dan amaiah yang sering dipandang bagian dari ajaran islam. Akibatnya banyak orang yang tertipu

Ada beberapa kasus yang membuat saya ingin menyusun buku ini. Ketika di makkah al-Mukarramah, tepatnya daerah al-Falaq di maktab Syeikh Abdulhamid Muktar Sedayu, saya pernah berjumpa dengan sesorang. Dia memimpin rombongan jamaah haji dari daerah Bondowoso Surabaya. Pengajar dan pengasuh pondok pesantren tersebut pernah berkata kepada saya, “tadi malam gedung yang dihuni jamaah haji ini mau terbakar karena arus pendek, bahkan pi sudah memercik dari sebagian kabel. Berhubung saya selalu mengenakan sabuk jimat ini, maka api segera padam, hingga gedung ini tidak jadi terbakar. Walau masih terbenam dalam Lumpur kesyirikan saya masih toleran terhadap jimat. Sekarang, saya bias mengatakan bahwa prilaku Kyai tersebut adalah Syirik!!!!!

Ada kasus lagi, saya punya teman saat menuntut ilmu di salah satu pondok pesantren terkenal, bias dikatakan sebagai golongan tertentu. Sebelumnya dia sempat belajar di pondok modern Gontor. Dia pandai membaca kitab kuning,bias berbahasa Arab (pandai membaca dan melagukan Al-Qur’an) yang pernah menjadi juara I tingkat kabupaten. Saat berdagag ke Lamongan, babat dan Tuban jawa timur selalu mengenakan jimat di sabuknya dan baju onto kusumo. Orang ini (Kyai) juga teman-teman yang selevel/setingkat keilmuan agamanya ternyata tidak mngerti  bahwa jimat merupakan  kesyirikan, pemakainya bias jatuh ke dalam status musrik. Lantas bagaimana lagi keadaan santri di bawahnya, apalagi orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan agama dibawahnya di pesantren????

Salah satu pondok pesantren terkenal yang  berumur hamper seabad, pernah mengadakan acara mandi bersama untuk mendapakan kekebalan. Santri-santrinya kemudian disuruh menelan gotri (bola-bola kecil dari besi/klaker-jawa) . Hal itu terjadi di era Presiden Suharto ketika banyak Babinsa yang mengintimidasi rakyatnagar memilih golkar atau mencegat massa partai PPP yang akan mendatangi kampanye. Tidak terkira dalam fikiran saya saat itu, seorang pengasuh pondok pesantren terkenal ternyata tidak paham bahwa jimat adalah syirik!!!

Saya juga pernah  menjumpai seorang kepala keamanan di salah satu pondok pesantren terkenal. Selain pandai membaca kitab kuning dan menguasai ilmu fikih, pikirannya cerdas tapi biasa menjual sabuk jimat baik didalam pesantren atau di lingkungan sekitarnya.

Waktu saya belajar dipesantren kedatangan seorang habaib yang kemudian bertempat dikantor asrama pondok. Suatu ketika dia menyuruh eman saya untuk mengumulkan teman-temannya yang lain.  Saya termasuk dalam santri yang ikut berkumpul. Lalu dia memberi ijazah guna-guna kepada santri. Kemudian tak lupa ia meminta uang mahar kepada santri. Para santri memberi uang yang cukup besar kepadanya. Seingat saya dia mendapatkan dua puluh ribu rupiah. Uang sebanyak itu waktu (tahun 70-an) bagi saya bias untuk makan selama satu bulan di pesantren. Kejadian tersebut sepengetahuan pengurus pondok pesantren. Ternyata pengurus pun mengangap jimat atau guna-guna adalah hal yang baik, bukan termasuk syirik. Di sinilah  nampak peran setan dalam menyesatkan kebanyakan orang begitu kentara. Allah berfirman :

Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; Maka janganlah dirimu binasa Karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat(QS.Surat fathir :8)

Saya punya kenalan orang yang nyantri sejak kecil hingga selesai saat menikah.. Selepas mondok pulang kampong tinggal di rumah, tetap saja hobi dengan “ilmu kanuragan”, membaca kitab Dalail al-khairat yang dikritik oleh seluruh ulama Saudi sebagai kitab Syirik.

Ada seorang Kyai dukun yang dikenal di masyarakat suka membuat jimat, dia anti MUHAMMADIAH, AL-IRSYAD DAN SALAFY (DI KATAKAN KELOMPOK WAHABI). Orang ini menganggap orang-orang dalam berbagai organisasi tidak termasuk ahlus sunnah wal jamaah. Kyai dukun ini kalau tengah berceramah sering menggunakan hadits, tapi tapi tidak selektif. Hadits lemah dan palsu dengan begitu ringan disampaikan tanpa rasa jengah dan malu. Dia jebolan sebuah pondok pesantren di Jombang. Sayapun pernah belajar  mengaji al-Qur’an kepadanya. Sabuknya yang berwarna hitam penuh dengan jimat dan selalu digunakan , termasuk saat sholat, mengimami si Suraunya atau di masjid ketika berkhutbah. Orang ini tak mengerti pul bahwa jimat termasuk syirik.

Ada seseorang yang bekerja di pabrik. Meskipun sudah punya istri, tapi dia masih senang kepada perempuan lain. Untuk bias memikat perempuan lain, dia mengenakan jimat mahabbah. Saat dia berkunjung ke tempat saya, jimatnya saya baker. Dia sempat merasa khawatir bila ada sesuatu yan membahayakan ketika jimat tu dibakar. Saat jimat itu dibakar ternyata iblis diam saja.

Ada juga seorang guru qiraah ditemat saya didaerah Giri gresik jawa Timur. Dulu menjadi imam si Surau saya. Dia selalu mengenakan jimat saat keluar rumah atau akan menjadi imam waktu jamaah. Jimatnya ditaruh dalam sabuk hitam. Orangnya kurus, rezekinya seret, terserang penyakit paru-paru,dan saat usia tua baru berhasil mendapatkan istri. Hingga mengingalnyapun belum mampu menunaikan ibadah haji  hidupnya sangat kekurangan.

Ketika saya masih cukup muda, banyak kalangan remaja yang dating pada saya untuk minta doa-doa atau guna-guna. Alhamdulillah saya sering tidak mau mengabulkannya. Sungguhpun demikian. Karena tidak mengerti, saya juga pernh memberikan jimat. Padahal dimana-mana yang menjadi pegangan saya adalah KItab. Saya termasuk seorang Kutu Buku. Seringkali saya membeli buku baru untuk dibaca, setelah usai saya impan dalam almari. Menjelang hari rayapun, saya sering mendahulukan untuk membeli buku daripada membeli pakaian.

Disuatu daerah pernah ada pancuri kambing yang tertangkap masa. Dia seorang preman yang selalu mengunakan jimat disabuk dan lengannya. Ketika dia tertangkap pencuri tersebut dibakar hidup-hidup oleh massa. Ternyata jimatnya memang tidak pernah mampu menolongnya. Pembakaran ini sebenarnya juga tidak diperkenankan oleh syari’at, termasuk penyiksaan yang melampaui batas.

Saya dengar pula wanita tuna susila (WTS) alias pelacur minta tolong kepada Kyai Dukun. Saya kenal dengan Kyai dukun tersebut. Tiap sepekan sekali sang Kyai  dukun pergi kelokalisasi pelacuran, lalu banyak wanita tuna susila yang meminta guna-guna atau mahabbah kepadanya. Tiap pecan guna-guna itu dipersegar. Pajak maharnya lima puluh ribu rupiah setiap melakukan pengisian mahabbah. Hasil jualan jimat guna-guna itu kemudian untuk makan anak dan istrinya, bahkan untuk biaya berangkat haji.

Dikalangan pejabatpun banyak yang meminta jimat kepada para Kyai dukun. Mereka biasanya punyai Kyai/Habih?Gus Dukun khusus, kadang tidak cukup satu. Jimat-jimat itu dipakai untuk meningkatkan kewibawaan di masyarakat. Bahkan saya dengar akhir-akhir  ini golongan ahli hadits yang menggunakan system tat pada Amir dan tidak menerima hadits diluar  (LDII) juga senang dengan aktifitas yang berbau sihir dan jimat.Jadi hamper seluruh lapisan masyarakat tidak mengerti bahwa jimat itu syirik.

Di Surabaya ada seorang Kyai dukun pengasuh pondok pesantren menempelkan brosur iklan di papan pengumuman masjid Agung Sunan ampel, Surabaya. Isinya di papan pengumuman bahwa dia menawarkan untuk memberi ijazah missal Manakib, syamsul Ma’arif, al-Aufaq dan KItab Durratun Nashihin yang banyak khurafanya.Bahkan suah ada yang menterjemahkan kitab syamsul ma’arif yang dikenal sebagai kitab terbesar di bidang perdukunan/perjimatan dan laku keras dipasaran. Ironisnya penerjemah Syamsul Ma’arif tersebut juga menerjemahkan Shahih al-Buhari. Akibatnya masyarakat jadi bingung.

Namun harus saya tegaskan tidak semua KYAI, HABIB dan GUS melakukan praktek dan mengamalkan ilmu perdukunan. Ini perlu saya sampaikan agar tidak mmenimbulkan salah paham/salah persepsi kemudian hari.

(Mantan Kyai Nu membongkar praktek syirik Kyai, habih, dan Gus Ahli Bid’ah, penerbit Laa tasyuki press)