Saya dulu punya ilmu (Hizb nasher) kanuragan ketika masih dilembah kesyirikan. Saya diberi ijazah oleh orang yang terkenal punya ilmu kanuragan, namanaya Dardiri dari kediri. Saya disuruh mengamalkan Hizib Nasher dengan puasa  7 hari dan puasa mutih. Tiap malam saya mandi keramas  dan membaca hizib Nasher 40 kali ketika masih menjalankannya. Setelahnya cukup dibaca sekali alam sehari. Saya baca dimuka kuburan Kyai saya tiap malam. Setelah selesai menjalankannya ada kejadian dikompleks atau asrama kami di pondok pesantren. Ada anak jagoan datang lalu menghantamkan kepada anak yang baru belajar. Entah ada apa yang terjadi sebelumnya antara dia dan anaka yang ditendangnya itu. Banyak orang yang bermaksud mendamaikannya tapi malah ditantang, dia melawan tidak mau menghindar.

Saya waktu tidur dibangunkan oleh teman-teman, saya baca hammim-hammim 7 kali tanpa nafas, saya bentakkan kepada  anak tersebut. Dia lari terbirit-birit. Orang disekitar saya bilang, anak jagoan tadi terkena teriakan jibril (suatu ilmu bentakan yang terkenal di pesantren).

Biasanya ilmu terikan Jibril seperti itu bias dipraktekkan  dan tampak manjur bila lawannya dari kalangan anak nakal atau ahli bid’ah. TAPI  TIDAK BILA BERHADAPAN DENGAN ORANG YANG TAKUT KEPADA ALLAH., BERTAKWA, AKIDAH DAN SYARI’AT HANIF ILMU BENTAKAN HIZIB NASHR TIDAK AKAN PUNYA PENGARUH SEDIKITPUN.

KINI ilmu itu telah saya tinggalkan dan saya ucapkan selamat tinggal untuk selamanya. Semoga tidak ketemu lagi. Saya berganti dengan ilmu hadits untuk melawan perampok. Pada suatu saat, saya bersama istri pulang dari kota Malang. Tepatnya dari Wajak di Pondok Ustadz Rahmd Arifin, saat itu putri saya belajar di sana. Disanalah putri saya  mulai mau mengenakan cadar seperti santri wanita saya sekarang. Setahu saya, di malang hanya pondok beliau yang SALAFY. Antara kota Pandaan dan Sidoarjo termasuk jalan yang sunyi. Sekitar jam 5 sore saya berhenti disalah satu masjid, karena istri saya ada keperluan ke kamar kecil. Tidak ada orang di masjid itu. Tiba-tiba datang 3 orang yang mengedarai sepeda motor. Salah satu dari mereka melemparkan clurit kepada temannya sambil berkata “kali ini bagianmu!”

Saya merasakan gelagat yang tidak enak . Saya pikir ini gelanggang pertempuran yang harus dipilih nyawa atau sepeda motor yang hilang. Saya saat itu mengendarai sepeda motor yang baru. Tidak ada orang yang bisa dimintai pertolongan, karena pada saat itu masjid sepi sekalipun jalan raya ramai. Banyak kendaraan yang lalu lalang. Orang yang membawa celurit itu memandang saya dengan mata melotot. Gantian saya yang pandang, tiba-tiba dia menundukkan kepalanya. Dia merebahkan tubuhnya di rumput dengan pandangan masih diarahkan kepada saya. Matanya menakutkan, tapi ketika saya balik menatapnya dia menundukkan kepalanya lagi.. dia pegang celurit itu  lalu dia taruh lagi ketanah yang berumput. Istri saya saat itu masih belum keluar dari toilet  masjid. Dua preman yang lain diam saja tidak bergerak dan bicara, tapi berdiri tegap dimuka saya berjarak dua meter. Saya saat itu duduk di muka masjid. Saya tidak takut sekalipun mereka mau berbuat jahad pada saya. Saya justru berfikir mana istri saya kok belum mau datang, lama sekali belum nongol. Setelah datang langsung saya naiki kendaraan dengan tenang memboncengkan isti. Saya pikir, mengapa 3 orang preman tadi diam tidak berkutik sama sekali. Apa gunanya celurit yang dilemparkan ke temannya kok tidak digunakan?

Saya baca doa ini :

أعُوْذُ بِكَلِمَا تِ اللهِ التَّا مَّا تِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

ِAku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang  sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan (HR. Muslim)

Saya menghampiri tukang becak dari Madura dan saya ceritakan kasus tadi. Mereka berkata “Preman-preman itu mau melanjutkan rencananya merasa tidak enak alias kalah wibawa. Seandainya mereka punya nyali, jangankan kamu, orang madura yang biasa membunuh saja tetap saja mereka habisi kalau sepeda motor tidak boleh diminta. Bila melawan tetap saja akan ditusuk sungguhan.

Waktu berdakwah di warkop sya juga pernah mengalami masalah. Teman-teman di warkop sering bertanya kepada saya tentang agama. Saya menjawabnya . Ada orang yang perasaanya terganggu dengan perkataan saya seolah merasa tersindir. Esok hari rupanya dia menunggu saya kemudian mengeluarkan perkataan yang tidak enak didengar. Dia bermaksud membalas dengan melukai fisik saya. lalu oran tadi berdiri menghadap kepada saya,maunya ingin melukai saya atau melabrak saya. Tai rupanya dia takut dan duduk lagi. Teman-teman yang lain menyalahkan dia karena tidak bisa diajak ngobrol dengan baik. Saat kondisi genting tersebut doa diatas saya baca. Dai tidak berani melanjutkan rencanyanya.

Saya membiasakan untuk membaca doa diatas doa perlindungan yang diajarkan oleh rasulullah.Ketika berkendaraan dijalan raya saya berpapasan dengan pengendara lain. Ada orang yang berboncengan dengan anak istrinya tiba-tiba menabrak saya. Saya terpental hingga kira-kira dua meter. Dia tidak terpental tapi pikirannya kacau, rupanya depresi dan dadanya sakit. Dia tidak bisa ditanyai dan tidak bisa berbicara, lalu orang-orang membawanya puskesmas. Sepeda motor saya bagian muka rusak, kaca dan lampu hancur, stang tidak seimbang lagi. Saya masih tetap tegar, pikiran jernih, dan saya sama sekali tidk terluka sama sekali. Orang kampong bilang mestinya kepala saya pecah karena terpental.

Anak saya faisol bercerita kepada saya pernah akan dihabisi oleh preman yang membawa celurit. Setelah dibacakan doa tsb, preman yang hendak memukul tubuh anak saya terpental dan tidak berani maju lagi. Hal itu karena anak saya membacakan doa diatas.

(Mantan Kyai Nu membongkar praktek syirik Kyai, habih, dan Gus Ahli Bid’ah, penerbit Laa tasyuki press,Hal 171)