Sewaktu saya masih mengikuti ajaran yang syirik. Saya diijazahi oleh Gus Ali, Tulangan Sidoarjo. Dengan ijazah itu saya katanya bisa bertemu dengan Abu Yusuf (raja jin). Bila bertemu dengannya, saya bisa minta apapun darinya. Bahkan membayar hutang atau untuk berangkat menunaikan ibadah haji. Harta itu diambilkan dari permata yang ada dilaut, emas yang masih terpendam didasar laut atau kapal-kapal yang tenggelam dan masih berada didasar laut yang memuat benda-benda yang berharga. Janji Gus Ali, saya bisa bertemu dengnnya, Dia bilang,”Abu Yusuf memang yang datang pada saya, bukan saya yang minta dia datang. “Saya disuruh melakukannya di makam Sunan Giri.  Ijazahnya saat itu membaca surat Jin atau surat al-Ikhlas, entah berapa kali saya lupa. Karena belum punya pekerjaan sementara punya tanggungan anak istri, saya waktu itu tanpa pikr panjang bersedia melakukannya. Saya berfikir bila bertemu dengan Abu Yusuf akan bisa minta apapun yang saya maukan, karena dia raja Jin. Kisahnya juga ada tercantum dalam kitab Syamsul ma’arif, bahwa raja jin itu akan datang dengan wajah bersinar seperti rembulan, lalu bertanya apa yang kamu maukan?’

Bila dijawab saya butuh dana untuk bayar hutang dan pergi haji dia akan menoleh pada pelayan di belakangnya dan disuruh mengambilkannya.

Waktu yang ada dalam benak saya tidak ada hal yang sia-sia atau syirik, karena  kepada sesama makhluk seperti minta kepada bupati, pak kepala esa, dan lain-lain. Saya disuruh berpuasa agar cepat bertmu dengannya. Bahkan saya berpuasa sampai 40 hari.

Setelah saya jalankan beberapa malam, ternyata masih belum ketemu.

Saya jalankan terus tidak putus harapan. Mungkin sekali sebentar lagi Abu Yusuf mau datang, kan enak juga pikir saya.

Kemudian di permulaan malam saya baca doa-doa perlindungan (murni diajarkan rasulullah dalam haditsnya) , saya baca doa berikut ini :

أعُوْذُ بِكَلِمَا تِ اللهِ التَّا مَّا تِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Lalu membaca surat An-naas, Al falaq.

Saya baca surat jin. Padahal hati saya masih ada perasaan agak takut, belum mantab. Jangan-Jangan jika jin nanti datang saya malah lari. Banyak orang yang tidak tahan lalu lari, tapi jin mengejarnya dan bertemu dihadapanya.Baik dari belakang, jin tetap akan mengejar dan akan bertemu kembali dihadapannya. Begitu jua bila lari arah kiri dan kanan. Tapi dengan semangat ingin bertmu dan mendapat apa yang dijanjikan itu, akhirnya saya beranikan dan berusaha terus pantang menyerah seblum bertemu.

Saya baca lagi ijazahnya. Juga saya baca doa-doa perlindungan di awal malam. Udara di belakang rumah saya saat itu sangat ingin. Banyak nyamuknya lagi. Untuk mengatasinya saya menggunakan lotion anti nyamuk. Terkadang saya menggunakan obat anti nyamuk baker juga.

Ditengah makan rupanya ada jin yang datang. Langsung lampu listri dirumah saya padam dan terdengar suara aneh. Taar……..! istri saya yang tidur dirumah ditemui jin dalam mimpi. Jin itu bepesan agar pagar ghaib (ayat ruqyah syar’iyyah yang dibaca) saya tidak usah dibaca bila ingin beretmu dengannya. Saya jalankan berkali-kali tidak juga ketemu. Jadi janji bisa bertemu itu belum terwujud dalam pengalaman saya.

Saya mungkin memang tidak berbakat jadi orang super, tidak bias jadi paranormal. Tidak punya keanehan-keanehan sehingga orang menyebut saya wali seperti gus-gus kebanyakan. Saya sudah puasa tidak makan sesuatu yang mempunyai ruh atau yang terbuat dari hewan. Mengapa mereka tidak bias bertemu dengan saya. Sekarang saya baru sadar, kira-kira saat itu saya berada di tengah-tengah antara bid’ah dan ahi hadits. Latar belakang pendidikan saya juga antara ahli bid’ah juga ada yang dari ahli hadits. Saya mengerjakan hadits (membaca doa ruqyah syar’iyyah yang murni dicontohkan rasulullah) sedikit-sedikit sehingga jin tidak mau (tidak mampu) berjumpa dengan saya (karena ada benteng dari ruqyah yang dibaca). Akhirnya sia-sia belaka ijazah dari Gus Ali, Tulangan Sidoarjo itu.

Kesyirikan dalam laku ini adalah puasa bukan atas perintah Allah. Allah dan Rasul-Nya tidak memerintahkan saya untuk melakukan hal semacam itu. Saya berpuasa karena memenuhi persyaratan untuk bertemu dengan raja jin. Jadi saya syirik saat itu karena Allah berfirman :

Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.(surat al-kahfi :110)

(Mantan Kyai Nu membongkar praktek syirik Kyai, habih, dan Gus Ahli Bid’ah, penerbit Laa tasyuki press, hal 380)