Iksan, Korea Selatan,DETIKHEALTH :
Praktisi tusuk jarum boleh saja mengklaim berbagai manfaat dari pengobatan alternatif tersebut. Namun pada stroke, penelitian membuktikan ternyata akupunktur tidak bisa memulihkan kondisi setelah terjadi serangan.

Selain gagal memperbaiki kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, akupunktur juga gagal memperbaiki fungsi neurologis atau saraf secara umum. Kalaupun ada, efeknya tidak signifikan ketika dibandingkan dengan plasebo.

Dr Jae Cheol Kong, ilmuwan dari Wonkwang Universitymenyimpulkan hal itu setelah menelusuri 10 penelitian terkait. Dikutip dari Reuters, Rabu (29/9/2010), sebagian besar di antaranya menyimpulkan akupunktur tidak bermanfaat untuk pasien stroke.

Penelusuran itu meliputi sejumlah database dan jurnal di Korea, untuk mewakili populasi orang Asia. Diakui oleh Dr Kong, salah satu keterbatasan dalam penelitian akupunktur adalah kurangnya keterwakilan populasi orang Asia karena dilakukan oleh ilmuwan Barat.

Ada 2 macam plasebo yang digunakan sebagai pembanding dalam penelitian akupunktur. Pada 8 penelitian, plasebonya adalah teknik akupunktur palsu sementara 2 penelitian lainnya menggunakan elektrostimulasi atau rangsang listrik pada kelompok pembanding.

Berbeda dengan akupunktur asli, akupunktur palsu dilakukan di titik-titik yang bukan merupakan titik meridian yang sesungguhnya. Selain itu, jarum ditusukkan tidak terlalu dalam atau bahkan hanya di lapisan paling luar saja.

Meskipun demikian, Dr Hongmei Wu dari West China Hospital tidak ingin terburu-buru menyimpulkan akupunktur sama sekali tidak bermanfaat. Justru karena akupunktur dan plasebo sama-sama memberikan sedikit efek, ia melihatnya sebagai potensi untuk mengembangkan metode akupuntur yang baru.

Terlebih untuk gangguan kesehatan yang lain, manfaat akupunktur dapat dibuktikan secara ilmiah. Misalnya untuk meningkatkan keberhasilan penanaman embrio bayi tabung serta meredakan nyeri akut maupun kronis.