Pembodohan sekaligus penyesatan terhadap Umat Islam sebegitu suksesnya sehingga sangat sulit diluruskan apalagi diberantas. Bahkan pembodohan dan penyesatan terhadap Umat Islam itu telah menjadi dagangan khusus bagi orang-orang tertentu yang mengeruk keuntungan dari sana. Sehingga ketika ada yang dianggap akan mengusiknya, maka serentak sontak dihalangi sekeras-kerasnya.
Pembodohan dan penyesatan yang disoroti di sini di antaranya adalah:

  1. Bersifat structural
  2. Berkedok religious atau agamis
  3. Sosialisasi pembodohan dan penyesatan oleh media-media bermisi busuk.

Mari kita tengok, seperti apa pembodohan dan penyesatan lewat tiga jalur itu.

1. Pembodohan dan Penyesatan Struktural

Pembodohan dan penyesatan terhadap Umat Islam secara structural (berkerangka) ini jalurnya dari atas ke bawah. Karena dari atas ke bawah, maka tampaknya tidak mempan adanya nasihat sampai kritikan tajam sekalipun. Apalagi ketika pembodohan dan penyesatan itu telah dilaksanakan secara turun temurun.

Bagaimana membodohi dan menyesatkan Umat Islam berkaitan dengan Gunung Merapi yang dianggap penjaganya adalah Mbah Petruk yang perlu diberi sesaji (upacara kemusyrikan, dosa paling besar dan dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam, hingga mengakibatkan kekal di neraka) dan penguasa laut Kidul (Selatan) Nyai Roro Kidul yang diberi sesaji pula. Itu dilestarikan justru dari pusat kraton (kerajaan) secara turun temurun.

Tradisi Suro (Muharram)

Bukan hanya bulan Syawal yang telah dijadikan momen mensosialisasikan kemusyrikan dan aneka kemunkaran lainnya, tetapi juga bulan Muharram alias bulan Suro dalam istilah Jawa. Kemungkinan istilah Suro diambil dari ‘Asyura (hari ke sepuluh). Di dalam ajaran Islam, memang disyariatkan menjalankan puasa ‘Asyura di bulan Muharram yaitu tanggal 10 Muharram, dan lebih baiknya dengan tanggal 9, agar menyelisihi Yahudi yang memperingati tanggal 10 Muharram itu karena mereka selamat dari Fir’aun. Di Dalam Islam, tidak ada perayaan apa-ap, apalagi yang aneh-aneh, bermuatan syirik kepada Alah, bermuatan kemunkaran dan sebagainya.

Oleh sebagian orang, malam 1 Muharram atau malam 1 Suro diisi dengan berbagai kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan Islam. Misalnya, masyarakat Kaliurang Jogjakarta mengisi malam 1 Suro dengan menggelar kirab Topo Bisu, yaitu mengelilingi seluruh kawasan wisata di Kaliurang, tanpa bicara sedikit pun seraya mengucapkan doa (permohonan) di dalam hati. Peserta kirab, yang jumlahnya ratusan itu, berbusana Jawa lengkap dengan pernak-pernik khas Jawa.

Di Keraton Kasunanan Surakarta, pada malam 1 Suro tahun lalu, dirayakan dengan menggelar kirab pusaka dengan mengarak Kebo Kyiai Slamet. Kala itu, Keraton Surakarta hanya mengarak empat ekor kebo bule Kyai Selamet, sebab sebagian kebo ngambek dan lainnya mengamuk. Akibat, kejadian ini, warga Solo menyimpulkan ngambeknya kebo tersebut pertanda akan terjadi sesuatu di tanah Jawa. (Ini kepercayaan tathayyur, menganggap suatu kejadian diyakini sebagai perlambang akan datangnya sial).

Masyarakat Jogjakarta, mengisi malam 1 Suro dengan melakukan tirakat Mubeng Beteng (memutari benteng) Keraton Yogyakarta sebanyak tujuh kali tanpa bicara. Itu merupakan salah satu tirakat, salah satu laku (amalan) yang dipercaya dapat menyingkirkan marabahaya yang akan menimpa Jogjakarta.

Bagi masyarakat Jogja yang memiliki benda pusaka (seperti keris, tombak, wesi aji, dan sejenisnya), pada saat itu mengkhususkan diri memandikan atau mencuci (njamasi) benda-benda pusaka tadi dengan air kembang setaman. Karena, mereka percaya benda-benda pusaka tadi memiliki kekuatan supranatural.

Di kawasan Parangtritis, Kabupaten Bantul, setiap malam satu Suro, sejumlah masyarakat memadati kawasan itu, khususnya di sekitar Puri Parangkusumo untuk memanjatkan doa (permohonan), entah kepada siapa. Puri Parangkusumo dipercaya sebagai tempat pertemuan asmara antara Panembahan Senopati (pendiri kerajaan Mataram Islam) dan Nyi Roro Kidul. Di tempat ini digelar ritual khusus bagi mereka yang percaya tentang masalah kejawen (ilmu kebatinan).

Malam 1 Suro bagi masyarakat Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, diisi dengan melakukan ritual sedekah di Gunung Merapi (Sedekah Merapi), berupa mempersembahkan kepala kerbau dan tujuh tumpeng nasi kepada leluhur Kyai/Nyai Singomerjoyo, Kyai/Nyai Simbarjaya, Nyai Gadung Melati (penunggu kawasan Pasar Bubrah) dan Kyai Petruk (penguasa seluruh Merapi). Tujuannya, agar Gunung Merapi tidak marah lagi dengan letusannya. Ritual ini dilengkapi pula dengan melantunkan shalawat dan memanjatkan doa berbahasa Arab (secara Islam?).

Bersamaan dengan itu, kepala kerbau dan tujuh tumpeng nasi sebagai materi sedekah pun dibawa ke kawah Merapi dan dilabuh di sana. Meski ada lantunan shalawat dan doa berbahasa Arab, namun demikian tradisi ini tidak lepas dari dosa berbuat syirik kepada Allah dan dosa berupa perbuatan tabzir. (Hartono Ahmad Jaiz dkk, Pangkal Kekeliruan Golongan Sesat, Pustaka Nahi Munkar, Surabaya, 2009, halaman 208-209).

Berquban untuk salain Allah Ta’ala
Perlu diketahui, memberikan sesaji kepada apa yang disebut penguasa gunung Merapi ataupun laut ataupun lainnya, itu adalah kemusyrikan, mengakibatkan ke neraka. Apalagi menyajikan kepala kerbau kepada Thaghut (sesembahan selain Allah Ta’ala), sedangkan hanya menyajikan (berqurban) dengan lalat saja ketika untuk penyembahan selain Allah Ta’ala maka mengakibatkan masuk neraka.

Di dalam hadits dinyatakan, ada orang yang masuk neraka hanya karena berkorban dengan lalat. Tidak sampai bernilai tinggi apalagi ratusan juta rupiah, hanya dengan berkorban lalat saja karena untuk syetan, maka akibatnya masuk neraka. Haditsnya sebagai berikut:

{ دَخَلَ رَجُلٌ الْجَنَّةَ فِي ذُبَابٍ وَدَخَلَ النَّارَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ , قَالُوا : وَكَيْفَ ذَلِكَ ؟ قَالَ مَرَّ رَجُلَانِ عَلَى قَوْمٍ لَهُمْ صَنَمٌ لَا يَجُوزُهُ أَحَدٌ حَتَّى يُقَرِّبَ لَهُ شَيْئًا , فَقَالُوا لِأَحَدِهِمَا : قَرِّبْ قَالَ : لَيْسَ عِنْدِي شَيْءٌ فَقَالُوا لَهُ قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا , فَقَرَّبَ ذُبَابًا فَخَلَّوْا سَبِيلَهُ قَالَ : فَدَخَلَ النَّارَ , وَقَالُوا لِلْآخَرِ قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا قَالَ مَا كُنْت لِأُقَرِّبَ لِأَحَدٍ شَيْئًا دُونَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ : فَضَرَبُوا عُنُقَهُ قَالَ فَدَخَلَ الْجَنَّةَ } أخرجه أحمد في الزهد (22) وأبو نعيم في « الحلية » 1 / 203 موقوفا على سليمان الفارسي . عن طارق عن سلمان الفارسي موقوفاً بسندٍ صحيحٍ.
صحيح موقوفا: رواه أحمد في الزهد (15 , 16), وأبو نعيم في الحلية (1/203) عن طارق بن شهاب عن سلمان الفارسي موقوفا بسند صحيح أفاده الدوسري في النهج السديد.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ada seorang yang masuk naar (neraka) karena lalat dan seorang lainnya yang masuk jannah (surga) karena lalat. Maka para sahabat radhiyallahu ‘anhu bertanya, Bagaimana bisa begitu wahai Rasulullah? Maka jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dua orang lelaki lewat pada suatu kaum yang memiliki berhala yang tidak boleh dilewati tanpa berkorban sesuatu. Maka kaum itu berkata kepada lelaki yang pertama, Sembelihlah kurban! Jawab lelaki tersebut, Aku tidak punya sesuatu untuk dikorbankan. Maka kata kaum tersebut, Berkurbanlah walau hanya dengan seekor lalat! Maka lelaki itu melakukannya dan ia bisa lewat dengan selamat, tetapi ia masuk naar (neraka). Maka hal yang sama terjadi pada lelaki yang kedua, saat diminta berkurban ia menjawab, Aku tidak akan berkurban kepada sesuatu pun selain Allah ‘Azza wa Jalla, maka lelaki yang kedua ini dipenggal kepalanya oleh mereka dan ia masuk jannah (surga). (HR. Ahmad dalam Az-Zuhd halaman 15, 16, dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 1/ 203 dari Thariq bin Syihab dari Salman Al-Farisi, mauquf, dengan sanad shahih).

Dalam kasus bencana meletusnya Gunung Merapi, agaknya tidak terlalu berlebihan apabila ada yang mengatakan bahwa kemusyrikan di zaman kini kadang lebih dibanding kemusyrikan di zaman dahulu. Karena di zaman dahulu, orang-orang musyrik ketika tertimpa musibah maka mereka meminta kepada Allah Ta’ala untuk melepaskan dari musibahnya. Baru setelah lepas dari bencana kemudian mereka berbuat kemusyrikan lagi.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah Ta’ala

بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ وَتَنْسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ [الأنعام/41]

(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepadaNya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah). (QS Al-An’am/ 6: 41).

Artinya; di waktu darurat kamu sekalian tidak berdoa kepada satu pun selain-Nya, dan hilanglah dari kalian berhala-berhala kalian dan tandingan-tandingan kalian (terhadap Allah Ta’ala). Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا [الإسراء/67]

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih. (QS al-Israa’/ 17: 67). (Tafsir Ibnu Katsir juz 3 halaman 256).

Coba kita bandingkan dengan kemusyrikan zaman kini, ketika tidak ada bencana, mereka menyembelih kerbau kemudian kepalanya disajikan kepada Merapi dan sebagainya. Begitu Merapi meletus, mereka menyembelih kerbau dan kepalanya disajikan pula ke Merapi dan sebagainya.

Jadi kemusyrikan zaman kini, saat gembira tidak ada musibah bencana, mereka berbuat kemusyrikan. Dan ketika tertimpa musibah pun tetap berbuat kemusyrikan pula.

***
2. Pembodohan dan Penyesatan berkedok religious atau agamis

Contoh kasusnya adalah peristiwa berikut ini:

Kuburan Tua Dipertahankan, Aqidah Ditelantarkan

Upaya massa mempertahankan mati-matian kuburan tua dari penggusuran yang akan dilakukan Satpol PP (satuan Polisi Pamong Praja) menimbulkan bentrok berdarah dan bakar-bakaran. Bentrokan berdarah antara Satpol PP dan pendukung Makam Mbah Priok di Jakarta Utara membara dari pagi sampai tengah malam, Rabu 14 April 2010.

Akibatnya, korban berjatuhan di antaranya 3 anggota Satpol PP tewas, 158 orang luka (69 Satpol PP, 23 Polisi, 66 Warga). Kerugian materiil: 81 kendaraan dibakar: 6 bus polisi, 16 truk polisi, 36 truk dan mobil Satpol PP, 1 water canon polisi, 2 ekskavator, 2 bus steady safe, 2 truk trailer, dan 16 kendaraan lain. (sumber: Republika, Jum’at 16/ 4 2010).

Peristiwa berdarah yang menelan korban tewas 3 jiwa dan menderita luka 200 orang lebih serta 81 kendaraan dibakar hangus itu tentunya menimbulkan aneka perasaan duka, memilukan, sekaligus memalukan. Dan yang lebih memalukan dan tambah memilukan adalah munculnya “rayap-rayap” yang bergembira ria yang bancaan bangkai kendaraan. “Rayap-rayap” itu bergegas mempreteli besi bangkai kendaraan yang tadinya dibakar itu dengan modal kunci Inggris dan semacamnya.

Secara gampangnya kata, ini adalah drama keserakahan lawan keserakahan dan menyisakan munculnya bentuk keserakahan pula.

Demikianlah peristiwanya. Itu semua di antaranya karena adanya pembodohan dan penyesatan terhadap Umat Islam, dan ketika upaya pembodohan itu masuk menjadi kepentingan kelompok tertentu dan mampu merasuk ke keyakinan masyarakat, maka mereka pertahankan mati-matian.

Berikut ini contoh nyata pula, adanya makam yang dikeramatkan, diadakan pembodohan terhadap Umat Islam dengan cerita-ceita “luar biasa”, lalu merasuk ke keyakinan masyarakat, lalu tokoh-tokoh pun dengan kepentingan tertentunya menyemarkkan pembodohan itu, kemudian diekspose oleh media dengan kepentingan tertentu pula.

Maka terjadilah pembodohan dan penyesatan yang dilaksanakan secara gotong royong antara aneka unsure yang punya kepentingan. Akibatnya, rusaklah keyakinan Umat Islam. Coba kit abaca saja uraian berikut ini.

Makam Keramat Luar Batang

Luar Batang adalah nama sebuah perkampungan (kini menjadi nama jalan) yang terletak di kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Di sini konon terletak sebuah makam sesosok anak manusia yang dipercaya sebagai wali Allah, bernama habib Husein Abubakar Alaydrus. Lebih sering disebut sebagai Habib Keramat Luar Batang.

Sosok habib Husein Abubakar Alaydrus ini kelahiran Migrab, Hadramaut, tiba di Betawi sekitar tahun 1746 M dan meninggal dunia pada tanggal 24 Juni 1756 M (bertepatan dengan 17 Ramadhan 1169 Hijriyah), di kawasan yang kemudian bernama Luar Batang. Ia meninggal pada usia 35 tahun.

Ada berbagai versi berkenaan dengan asal-usul nama luar batang. Salah satu di antaranya adalah: “…saat habib Husein meninggal, jenazahnya berubah menjadi batang pisang saat ditandu. Perubahan ini diketahui orang-orang yang hendak memasukkan jenazah ke liang lahat. Warga tetap mengubur batang pisang itu dan menganggapnya sebagai jenazah habib Husein Abubakar Alaydrus…” (Koran Tempo, 25 April 2010)

Sedangkan versi lain, menurut penuturan para pemuja habib Husein Abubakar Alaydrus, konon sewaktu habib Husein masih hidup, ia pernah berkata kepada seorang opsir Belanda: “Suatu saat kamu akan jadi orang besar.” Namun, opsir Belanda itu sama sekali tidak mengindahkan kata-kata habib Husein, sampai kemudian ia kembali ke negeri asalnya.

Barulah ketika sang opsir Belanda itu kembali ditugaskan ke Hindia Belanda dengan jabatan tinggi, ia teringat ‘ramalan’ sang habib tempo hari. Dari situlah konon sang opsir Belanda itu tergerak hatinya untuk memberikan sejumlah hadiah berupa uang, emas dan sebagainya. Namun habib Husein tidak bersedia menerimanya.

Namun, akhirnya terjadi kesepakatan, bahwa habib Husein mau menerima hadiah dari opsir Belanda bila itu berupa kepemilikan areal (yang kemudian menjadi situs keramat). Areal ini pada masa itu merupakan kawasan terendam air bila laut pasang. Setelah kesepakatan dicapai antara habib Husein dengan sang opsir Belanda, maka dibuatlah sejumlah patok dari batang kayu sebagai tanda dan batas wilayah kepemilikan untuk sang habib. Dari sinilah kawasan itu dinamakan luar batang. Karena, seolah-olah dari laut keluar sejumlah batang (pohon).

Menurut penuturan para pengagumnya, habib Husein ini pernah bersikap tidak patuh kepada Belanda sehingga ia harus ditangkap dan dijebloskan ke penjara Glodok. Konon, habib Husein hanya terlihat berada di dalam sel tahanan pada siang hari saja, sedangkan pada malam hari sang habib seperti menghilang tanpa jejak. Keadaan yang bernuansa mistis ini membuat sipir penjara menjadi ketakutan, sehingga sang habib pun disuruh pulang. Namun habib Husein tidak menghiraukan, sampai akhirnya ia sendiri yang memutuskan keluar dari sel tahanan Glodok.

Kehebatan habib Husein juga dapat dirasakan melalui penuturan berikut ini: “… pada suatu waktu, ada seorang warga pergi ke pasar untuk membeli daging (mentah). Ketika menuju rumah, ia mendengar kabar bahwa habib Husein bin Abi Bakar Al Idrus meningal dunia. Maka ia pun bergegas menuju masjid untuk ikut bersama-sama sejumlah orang melaksanakan shalat jenazah.

Tak hanya ikut melaksanakan shalat jenazah, ia juga ikut hingga ke pemakaman. Usai itu, ia pun kembali ke rumahnya dan menyerahkan daging mentah yang dibelinya di pasar untuk dimasak oleh istrinya di rumah. Namun, hingga beberapa saat daging itu tidak juga matang dan masih terlihat seperti daging segar.

Peristiwa ganjil itu membuat ia menjadi teringat sebuah pesan yang diterimanya ketika ia mengikuti majlis ta’lim yang dipimpin habib Husein bin Abi Bakar Al Idrus. Konon, pada suatu ketika habib Husein bin Abi Bakar Al Idrus dalam salah satu ceramahnya pernah mengatakan, “… barangsiapa yang menshalati aku sewaktu aku meninggal dunia nanti, maka dia tidak akan bisa tersentuh oleh api neraka.”

Jadi, daging mentah itu tak kunjung matang meski sudah digodok beberapa lama, karena daging mentah yang dibeli di pasar tadi ikut terbawa ketika ia melaksanakan shalat jenazah hingga ke pemakaman. Cerita pembodohan seperti ini nampaknya mujarab dalam meyakinkan orang-orang jahil (bodoh) untuk mempercayai kehebatan yang dimiliki sang habib, sampai-sampai meski hanya sepotong daging, karena ikut terbawa (tanpa sengaja) dalam shalat jenazah dan pemakaman sang habib sehingga daging itu kebal api dan kebal panas.

Cerita kehebatan seperti di atas jelas mengusik akidah. Karena, keputusan masuk neraka atau tidak hanya berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang habib, meski ia punya garis keturunan langsung dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun, sama sekali tidak punya kewenangan membebaskan umat manusia dari ancaman api neraka. Yang memprihatinkan, banyak orang yang percaya akan hal itu. Sehingga, makam habib Husein tidak pernah sepi selama 24 jam dikunjungi para peziarah yang selalu membaca Al Qur’an atau sekedar berzikir.

Peziarah yang mendatangi makam habib Husein berasal dari berbagai daerah di tanah air bahkan dari mancanegara. Saat-saat favorit berziarah biasanya jatuh pada hari Kamis malam Jum’at kliwon atau pada saat perayaan tertentu seperti maulid nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang selalu diadakan setiap akhir minggu di bulan Rabiul Awwal, serta pada saat haul habib husein yang diadakan setiap akhir minggu di bulan Syawwal. Itu semua sama sekali tidak ada tuntunannya. Tidak hanya tergolong bid’ah tetapi juga sesat menyesatkan, karena diliputi keyakinan batil berlandaskan cerita pembodohan seperti tersebut.

Menurut Zainuddin (petugas penjaga makam), makam ini menjadi langganan pejabat, antara lain Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Presiden RI. Hingga kini, SBY masih rutin berziarah ke makam ini. Biasanya, kata Zainuddin, SBY datang pada pukul 02 pagi. Selain SBY, menurut Zainuddin, hal serupa juga dilakukan oleh Fauzi Bowo, Gubernur Pemprov DKI Jakarta. (Koran Tempo, 25 April 2010).

Selain pejabat, menurut Zainuddin para artis seperti Tarzan Srimulat, Ayu Azhari, Camelia Malik, dan beberapa nama artis lainnya termasuk peziarah tetap makam ini.

Seandainya berziarahnya para artis (perempuan) itu tanpa ada niat-niat dan keyakinan batil –misalnya niat minta berkah karena berkeyakinan bahwa kuburan dan isinya berupa mayat itu memberi berkah dan manfaat— pun telah dilaknat. karena dalam hadits telah ditegaskan:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ (وَفِيْ لَفْظٍ : لَعَنَ اللهُ) زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ

“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam (dalam sebuah lafadz Allah melaknat) wanita-wanita yang banyak berziarah kubur”.(Sunan Al-Baihaqy 4/6996, Sunan Ibnu Majah no.1574, Musnad Ahmad 2/8430, 8655). (Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede, Pendangkalan aqidah Berkedok Ziarah,Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2010, halaman 99-103).

Pembodohan dan penyesatan yang telah sebegitu rupa itu masih ditambah lagi oleh para “agen-agennya” yang bahkan atas nama penyemarakan agama. Diberilah pembodohan dan penyesatan itu landasan dalil agar lebih laris lagi. Mereka pun ketemu saja dalil dustanya untuk membodohi Umat Islam itu.

Seorang penggerak tour ziarah ke kubur-kubur –yang mereka sebut kuburan wali– dalam pengajian di satu masjid di Jakarta, saya dengar langsung, dia mengatakan: Kita boleh minta kepada Nabi untuk didoakan, demikian pula para wali yang sudah wafat. Karena ada hadits Nabi:

من حج فزار قبري بعد وفاتي كان كمن زارني في حياتي

Siapa yang berhaji lalu menziarahi kuburku setelah wafatku maka dia seperti orang yang menziarahiku dalam hidupku.

Lalu penggerak tour ziarah itu bertanya kepada jamaah yang dihadapi: Ketika Nabi hidup, boleh atau tidak, kita minta didoakan? Jamaah menjawab: boleh.

Ya, kalau boleh, maka setelah Nabi wafat pun boleh. Karena adanya hadits tersebut.

Demikianlah, seakan ajaran itu benar. Padahal berbahaya. Sebab, hadits itu adalah hadits maudhu’ (palsu). ) Menurut Syeikh Al-Albani dalam Dha’if Al Jami’ no. 5553. juga dalam Silsilah Al-Ahaadits Ad-Dho’ifah 1/120(.

Di samping itu, qiyas (analog/ perbandingan) minta doa kepada Nabi saw waktu hidup boleh maka waktu sudah wafat juga boleh itu qiyas batil. Karena tidak sama antara hidup dan mati tetapi dia samakan. Buktinya, orang yang berziarah kepada Nabi waktu hidupnya maka jadi sahabat Nabi bila dia dalam keadaan Muslim sampai matinya.

Sedangkan orang yang berziarah ke kubur Nabi sama sekali tidak dapat disebut sahabat Nabi hanya karena ziarah itu. Jadi minta doa kepada Nabi atau orang shaleh atau wali setelah wafatnya itu sama dengan tindakan orang musyrikin dalam QS Az-Zumar/ 39:3, menurut Fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah pimpinan Syekh Bin Baaz nomor 9027. ) Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2010, halaman 23-24).

***

3. Sosialisasi pembodohan dan penyesatan oleh media-media bermisi busuk

Di tengah-tengah hiruk pikuk bencana letusan Gunung Merapi dan para korban yang hidup sedang menggeletak di rumah-rumah sakit atau di barak-barak pengungsian yang jumlahnya sekitar setengah juta orang, tiba-tiba ada televise yang menyiarkan ramalan-ramalan bencana Merapi dengan nara sumber para normal alias dukun.

Ramalan dan rangkaian perkataan dari pembawa acara itu dianggap meresahkan karena dianggap menakut-nakuti, maka muncullah sejumlah protes dari masyarakat pengungsi dan warga Yogyakarta. Akibatnya, acara televise itu dihentikan sementara oleh pihak KPI (Komisi Penyiaran Indonesia).

Nah, ini baru kena batunya, walaupun hanya dihentikan acaranya yang jenis itu untuk sementara waktu. Padahal, sebenarnya di sini media massa itu (dalam hal ini televise tersebut dan juga media massa yang bermisi busuk lainnya) telah berlama-lama membodohi dan menyesatkan Ummat Islam sesesat-sesatnya, yaitu seringnya menampilkan dukun dengan aneka celotehnya.

Dalam kasus Merapi ini, yang dipersoalkan bukan kenapa yang dijadikan nara sumber kok dukun, tetapi hanyalah kata-kata yang dianggap berlebihan dan meresahkan. Sehingga yang terjadi selama ini sebenarnya adalah mengabsahkan dukun yang kini disebut paranormal sebagai sumber rujukan.

Ini justru pangkal kebusukannya, namun inilah yang dilancarkan oleh media-media yang bermisi busuk, yakni membodohi danb sekaligus menyesatkan Ummat Islam. Tidak pernah ada penyalahan, bahkan teguran saja tidak ada, ketika media-media busuk itu mengangkat-ngangkat para dukun. Padahal menurut Islam, orang yang mendatangi dukun dan menanyakan sesuatu maka shalatnya tidak diterima 40 malam. Dan kalau bertanya kepada dukun dan membenarkannya maka sama dengan tidak percaya kepada apa-apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kecaman terhadap Dukun dan yang Minta Didukuni
Firman Allah Ta’ala:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(17)وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ(18)

“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah Yang Berkuasa atas sekalian hamba-Nya, dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-An-am [6] : 17-18)

Hadis-hadis Nabi s.a.w :

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً.(رواه مسلم وأحمد).

“ Orang yang mendatangi tukang ramal (paranormal) kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam”. (Hadist Riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad dari sebagian isteri Nabi [Hafshah]).

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُول فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ (رواه أحمد والحاكم).

“ orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian membenarkan apa yang dikatakannya maka orang tersebut telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad saw”. (HR. Imam Ahmad dan al- Hakim dari Abu Hurairah).

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا , أَوْ كَاهِنًا , فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّد.ٍ (رواه أحمد والترمذي وأبو داود وابن ماجة).

“ Orang yang mendatangi dukun, kemudian membenarkan apa yang dikatakanya atau mendatangi wanita yang sedang haidh, atau menjima’ istrinya dari duburnya, maka sesungguhnya orang tersebut telah terlepas (kafir) dari apa yang telah diturunkan kepada Muhammad saw”. (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

وَمِنْ طَرِيقِ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ { أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ , وَمَهْرِ الْبَغِيِّ , وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ. (متفق عليه).

“ Bahwa Rasulullah saw melarang pemanfaatan harga (jual beli) anjing, mahar kedurhakaan (mahar perzinaan/pelacuran) dan memberi upah kepada dukun”. (HR. Bukhari dan Muslin dari Abu Mas’ud).

Anehnya, di Indonesia, lantaran banyak media yang misinya busuk yakni membodohi dan menyesatkan Umat, maka dukun-dukun pun dipopulerkan. Bahkan yang dipopulerkan itu pakai nama yang kalau orang normal mesti risih pakai nama itu pun justru menjadi terkenal.

Misalnya lafal gendeng (Jawa: gila; tidak normal (ingatan, pikiran) ataupun bodo(h), bagi orang yang normal tentu tidak mau punya nama itu. Namun dasar media busuk di negeri ini banyak, dan memang benar-benar membodohi masyarakat, maka nama gendeng ataupun bodo(h) pun justru sangat popular di antara para dukun yang telah diangkat-angkat oleh media-media busuk.

***
Pembodohan dan penyesatan ternyata sampai ke puncak kesesatan paling besar, yakni kemusyrikan, sekaligus menjadikan masyarakat ini sama sekali tidak normal. Namun karena dilaksanakan secara bekerjasama aneka pihak dengan kepentingan masing-masing, akibatnya sebegitu sulitnya diusik, apalagi diberantas.

Ini belum lagi bicara seberapa pembelaan dari Ormas-Ormas tertentu berbaju Islam yang tampaknya lebih tersinggung bila masalah pembodohan dan penyesatan terhadap Umat Islam ini diusik daripada Islam itu sendiri yang diusik orang sampai diserang sekalipun.
Di sini tampaknya kata-kata bahwa Islam ini terhalang oleh Muslimin sendiri itu ada benarnya.

Benar-benar top markotop tenan dalam hal pembodohan dan penyesatan. Baik secara structural, religious alias agamis, maupun sosialisasi lewat media massa busuk. Astaghfirullahal ‘adhiem. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiem. Allahul Musta’an.

*Hartono Ahmad Jaiz, penulis buku Ummat Dikepung Maksiat Politik Kotor dan Sesat