Tulisan ini saya buat untuk mematahkan alas an Kyai Dukun Abdul malik mudi pemilik blog www.wongalusaceh.wordpress.com yang mengatakan sesama muslim tidak boleh mubahalah, yang sesungguhnya alasan ini adalah alasan pengelakan Kyai Dukun yang sangat takut untuk bermubahalah. Saya mengajaknya bermubahalah karena saya yakin Kyai Dukun ini seorang ahli sihir, bid’ah, khurafat dengan bukti seluruh isi blognya mengajarkan berbagai macam ilmu sihir sesat.

PEMBAHASAN MUBAHALAH

Mubahalah (atau mula’anah, saling melaknat, pen) ialah masing-masing pihak di antara orang-orang yang berbeda pendapat, berdo’a kepada Allah dengan bersungguh-sungguh agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta. Nabi mengajak utusan Nasrani Najran bermubahalah tetapi mereka tidak berani dan ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. _(Al- Quran dan Tafsirnya, Depag RI, 1985/ 1986 juz 1 hal 628).

Mubahalah atau do’a saling melaknat itu dilakukan terhadap:

1. Orang Nasrani, berlandaskan QS Ali ‘Imran: 61;

2. Orang Yahudi berlandaskan QS Al-Jumu’ah: 6

3. Orang Musyrik berlandaskan QS Maryam: 75 dan hadits tentang Abu Jahal ditantang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mubahalah, riwayat Al-Bukhari, Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasai).

4. Orang Islam yang menyeleweng, ahli bid’ah dan semacamnya, berlandaskan bahwa banyak dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dulu mengajak orang lain untuk mubahalah. Di antaranya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘iddah (masa tunggu) wanita hamil. Dan sesungguhnya iddah itu selesai dengan lahirnya kehamilan, bukan dengan lebih dua masa. Dan juga Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘aul dalam faroidh (pembagian waris).

Khusus pada bahasan ini saya akan menjelaskan dalil bahwa disyari’atkan untuk saling melaknat walaupun yang melakukannya sesama muslim

1. DALIL DARI AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Saling melaknat pernah terjadi dimasa rasulullah dimana Hilal bin Umayyah pernah menuduh isterinya (sesama muslim) berzina dengan Syarik bin sahma’ di hadapan Nabi SAW. Hilal dengan sangat yakin bersumpah dengan nama Allah bahwa istrinya berzina dengan Syarik bin Sahma dan Istrinya juga bersumpah bahwa tuduhan suaminya adalah bohong. Peristiwa ini disebut dengan li’an.

Li’an (لعان‎) adalah memohon kutukan kepada Allah untuk dijatuhkan kepada orang yang salah/dusta, sebagai bukti kebenaran salah satu pihak. Li’an menurut bahasa alla’nu bainatsaini fa sha’idan (saling melaknat yang terjadi antara 2 orang atau lebih. Sedang menurut syar’i ialah sumpah dengan redaksi tertentu yang di ucapkan suami bahwa istrinya telah berzina dan kemudian sang isteri-pun bersumpah bahwa tuduhan suaminya kepda dirinya adalah bohong .(buka Kitab : al-maghasal fil ahkamil mar’ah wal baitil muslim fi syariartil islamiah, Prof. Dr. Abdul karim zaidan, …) . li’an adalah sumpah yang diucapkan atas saling tuduh menuduh antara suami isteri atas perbuatan zina, persamaannya sama-sama bersumpah atas nama Allah dan siapa yang berdusta dilaknat-Nya.

Dalam fiqhus sunah dijelaskan, li’an berasal dari kata la’nat. Dinamakan demikian karena sang suami menyatakan pada sumpahnya yang kelima, laknat Allah atasnya (suami) jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.”

Tata cara li’an, makna dan hakikatnya disebutkan dalam al-Quran, “Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu empat kali bersumpah dengan nama Allah. Sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan sumpah yang kelima : bahwa laknat Allah atasnya jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya (sumpah sang istri) empat kali atas nama Allah. Sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta. Dan (sumpah) yang kelima bahwa murka Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.” (an-Nur [24] : 6-9).

Dari ibnu Abbas ra : Di Jaman Rasulullah, bahwa Hilal bin Umayyah pernah menuduh isterinya berzina dengan Syarik bin sahma’ di hadapan Nabi SAW. Kemudian Nabi saw bersabda: kamu harus dapat membuktikan atau kalau tidak hukuman had menimpa punggungmu’.lalu dia berkata,’ Ya Rasulullah, jika seorang diantara kami telah melihat seorang laki-laki berada di atas isterinya, masihkah di tuntut untuk pergi mencari bukti? Maka beliu-pun Bersabda kamu harus dapat membuktikan, dan jika tidak maka hukuman had di punggungmu’. Hilal berkata” demi Dzat yang memutusmu dengan membawa kebenaran, sesungguhnya saya benar-benar jujur. Maka saya harap sudi kiranya Allah menurunkan ayat Qur;an yang bisa membebaskan punggungku dari hukum dera.’Maka turunlah Malaikat jibril dan meyampaikan wahyu kepada beliau, WALLADZINA YARMUUNA AJWAAJAHUM (dan orang-orang yang menuduh isteri-isterinya) sampai pada IN KAANA MINASH SHADIQIN (jika suaminya termasuk orang-orang yang benar). Kemudian Nabi SAW beranjak dari tempatnya sambil menyuruh Hilal menemui istrinya. Kemudian Hilal datang lagi kepada beliau, lalu memberikan kesaksian, nabi SAW bersabda,’sesungguhnya Allah tahu bahwa seseorang di antara kamu berdua ini ada yang bohong. Adakah di antara kalian berdua ini yang mau bertaubat?” kemudian isterinya bangun lalu memberikan kesaksiannya. Maka tatkala ia hendak mengucapkan sumpah yang kelima, maka orang-orang menghentikannya (agar tidak jadi mengucapkan sumpah kelima) dan mereka berkata,” Sesungguhnya perempuan ini wajib dijatuhi hukuman.,”Ibnu Abbas RA berkata: lalu ia (isterinya itu) pelan-pelan mundur hingga kami menduga ia akan segera kembali.”kemudian ia berkata,”Aku tidak akan membuat malu kaumku sepanjang hari.’kemudian terus berlalu begitu.Lantas Nabi saw bersabda,’Perhatikan dia, jika dia datang dengan membawa bayiyang juling matanya, besar pinggulnya, dan kedua betisnya besar juga maka ia bayi itu milik Syarik bin sahma”Ternyata dia datang persis yang disabdakan Nabi SAW. Kemudian beliau bersabda,’Kalaulah tidak ada ketetapan didalam Kitabullah, sudah barang tentu saya punya urusan dengan dia.’(Shahih;Irwa’ul Ghalil no:2098, Fathul bahri VIII :449 no. 4747, Tirmidzi V: No. 3229 , Ibnu Majah I; 668 No. 2067).

2. DALIL DARI FATWA ULAMA

Mubahalah Tidak Khusus pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Soal:

Apakah mubahalah itu khusus pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau dapat menjadi umum bagi Muslimin? Dan apakah seandainya mubahalah itu umum bagi Muslimin bolehkah untuk dihadapkan dari arah ahlis sunnah waljama’ah kepada firqoh-firqoh sesat? Dan apakah mesti terjadi tanda yang menampakkan kebenaran seandainya dilangsungkan mubahalah?

Fatwa:

Alhamdulillah wassholatu wassalmu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi washohbihi, amma ba’du.

Mubahalah adalah do’a dengan laknat atas yang berdusta di antara dua pihak yang bermubahalah. Mubahalah itu tidak khusus hanya untuk Nabi saw. Dalilnya, bahwa banyak dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dulu mengajak orang lain untuk mubahalah. Di antaranya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘iddah (masa tunggu) wanita hamil. Dan sesungguhnya iddah itu selesai dengan lahirnya kehamilan, bukan dengan yang terpanjang dari dua masa (sampai melahirkan, dan sampai 4 bulan 10 hari, pen).

Dan juga Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘aul dalam faroidh (pembagian waris); dan tidak mengapa dalam hal mubahalah Ahlis Sunnah waljama’ah terhadap ahli syirik, bid’ah dan semacamnya tetapi sesudah ditegakkan hujjah (argumentasi) dan upaya menghilangi syubhat (kesamaran), dan memberikan nasihat dan peringatan, sedang itu semua tak guna. Bukan termasuk kepastian (setelah mubahalah itu) munculnya tanda/ bukti atas dustanya orang yang batil dan dhalimnya orang yang dhalim, karena Allah Ta’ala menunda dan mengakhirkan, sebagai cobaan dan istidroj/ uluran.

Wallohu a’lam.

Mufti; Markas Fatwa dengan bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih (Asy-Syabakah Al-Islamiyah juz 8 halaman 85).

Kesimpulan dari Fatwa Ulama Diatas

  1. Boleh mubahalah/melaknat sesama muslim dalam masalah iddah, ‘aul dan faroidh
  2. Boleh melaknat atas sesama muslim, jika seorang muslim yakin saudaranya telah berbuat syirik,bid’ah dan semacamnya.

3. MENGAMBIL DALIL DARI PEMBENARAN ULAMA INDONESIA TERHADAP MUBAHALAH SESAMA MUSLIM YANG DIANGGAP MENYELEWENG

1. Habib Rizieq mengajak mubahalah Gus Dur (gus dur secara dzahir muslim) ( http://forum.detik.com/habib-rizieq-tantang-gus-dur-perang-sumpah-mubahalah-t43090.html ) , dan Habib Rizieq mnerima tantangan mubahalah sofyan tsauri (yang zahirnya terlihat muslim) ( http://www.detiknews.com/read/2010/10/06/142132/1457035/10/fpi-akan-ladeni-tantangan-mubahalah-sofyan-tsauri )

2. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Cholil Ridwan dan  Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali Muhammad Dai memperbolehkan Irena handono dan Dicky candra bermubahalah,( sesame muslim ) http://kontaktokoh.multiply.com/reviews/item/116 ) ,

3. Prof KH Ali Mustafa Yaqub, MA (Pakar Ilmu Hadits) mengatakan “saya siap bermubahalah kepada setiap ajaran sesat ” ( yang notabene umat muslim juga ) lihat di http://indrayogi.multiply.com/reviews/item/22

4. Lembaga Pengka-jian-Penegakan dan Penerapan Syariat Islam (LP3SyI) bermubahalah dengan Darul Islam (DI) Filah yang juga notabene mubahalah sesama muslim, http://bataviase.co.id/node/182885

5. Ustadz hartono Ahmad jaiz menantang Mubahalah Ahmad Syafi’I Ma’arif dan Gus Dur http://www.nahimunkar.com/tantangan-mubahalah-untuk-ahmad-syafii-maarif-dan-gus-dur/

Saya bukanlah ulama dan juga ahli hadits, maka saya tidak berhak untuk menafsirkan Al_Qur’an dan Sunnah dan berfatwa. Saya menyandarkan dalil bolehkan melaknat sesama muslim dalam masalah yang khusus seperti yang sudah dijelaskan diatas berdasarkan penjelasan dan pembenaran para ulama. Sekarang coba rekan-rekan sekalian bandingkan dengan penjelasan Kyai Dukun Abdul malik Mudi, dia sama sekali tidak mengutip pendapat dan penjelasan para ulama dan malah membuat penafsiran dan kesimpulan sendiri padahal Kyai dukun tersebut bukan seorang ulama! Dengan sombongnya menyalahkan dan menganggap remeh ulama, bahkan lebih dari itu Kyai Dukun ini berani mencela para ulama ! Dan ciri khas Kyai Dukun ini adalah suka berbicara jorok dan kotor hina dina!

Lihat kelakuan buruknya dalam berdalil dan tidak beradap dalam menulis dan menghinakan ulama di

https://metafisis.wordpress.com/2010/09/16/praktik-perdukunan-dari-mistik-sampai-intrik-juga-trik/#comment-4678

https://metafisis.wordpress.com/2010/12/06/dalil-aqli-keharaman-klaim-ilmu-kebal-kyai-mubtadi-abdul-malik-mudi/#comment-4668