Pengantar admin :

Kisah ini  bukan untuk menjelekkan para Kyai secara keseluruhan, namun yang dikisahkan Kyai mahrus Ali ini hanya menceritakan oknum Kyai yang banyak mengajar dan membuat jimat ternyata punya akhlak yang buruk yang kehidupannya tragis, semoga jadi ibroh buat kita semua………

BERIKUT INI KISAHNYA :

Dikisahkan Kyai Mahrus Ali

( Dalam bukunya “Mantan Kyai NU membongkar Praktek Syirik Kiai, habib dan Gus Ahli Bid’ah” Penerbit La Tasyuk Press,  halaman 301-394)

 

Saya kenal dengan seorang Kiai dukun ahli pembuat jimat dan mantra. Dia anti terhadap Muhammadiyah, al-Irsyad dan Salafy ( dianggapnya wahabi) . Hidupnya selalu dalam keadaan fakir. Dia membujang sampai usia 40 tahun. Banyak pemuda tampan yang dimintanya untuk tidur di surau/musholanya. Tanpa persetujuannya tak seorangpun bias tidur di surau tersebut. Salah seorang pemuda yang dikenal ganteng pernah tidur di musholanya, bercerita bahwa dirinya pernah disodomi oleh Kiai dukun tersebut. Na’udzubillahi min dzalik !

Say tidak habis fakir dengan kelakuan Kyai tersebut! Bukankah Rasulullah pernah bersabda, “barangsiapa yang menjumpai orang yang melakukan perbuatan kaum Luth (homo seks), bunuhlah pelaku dan yang diperlakukan.( Sunan at-Tirmidzi no.1456)

Kyai dukun tersebut memang jebolan salah satu pondok pesantren di Jombang, tapi tentunya tidak semua berprilaku buruk seperti itu. Apa yang saya smpaikan ini hanya kasus yang saya dengar dan ketahui. Dia orang yang paling berwibawa di kampungnya sana. Banyak wanita yang takut untuk melihatnya. Wajahnya cerah, mulutnya suka menggunjing/ghibah, suka menjelek-jelekkan Kyai-Kyai lain yang ada didesanya. Dahulu kala bila saya bertamu kepadanya, saya selalu diajak menggunjing/ghibah tentang Kyai dan tokoh pengajar al-Qur’an lainnya. Dia sendiri juga pengajar al-Qur’an yang muridnya banyak.

Saya saat itu termasuk salah satu muridnya. Tapi hati saya berkata”Kyai yang mestinya menjadi contoh baik bagi lingkungannya, kok suka menggunjing?”

Ketika usianya menginjak kepala empat , dia baru menikah mendapatkan wanita yang hafal al-Qur’an. Setelah itu jarang sekali pemuda ganteng yang mau tidur di suraunya. Di usia kepala lima dia sakit parah yang membuatnya tidak bisa berdiri. Badannya mati separuh. Dimanakah jimat yang biasa dia pakai d sabuk dan di lengannya. Ternyata kekuatan jimat yang digembar gemborkan itu hanylah bualan/tipuan belaka. Allah ta’ala berfirman” Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan  tipuan belaka” ( Surat al-Isra’ ayat 64)

“ Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada merek, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka” ( Surat an-Nisa 120)

Akhirnya dia meninggal dunia dengan jimat masih menempel di tubuhnya setelah sekian tahun menjadi beban keluarga karena dai sakit tidak bisa bergerak. Anehnya sepeninggalnya diadakan haul/ulang tahun untuk memperingati hari kematiannya oleh orang-orang kampong. Bukan hendak mmbenarkan acara haul, tetapi sekedar menunjukkan bahwa ternyata orang semacam itu di hormati masyarakat. Jadi sekarang ini pandangan manusia tertipu, orang yang baik dianggap jelek dan orang musyrik dianggap wali Allah.

Ada lagi kisah, saya kenal juga dengan seorang Gus Dukun yang suka mengenakan jimat, jebolan salah satu pesantren terkenal. Dia suka membuat jimat untuk dijual  kepada orang-orang yang percaya kepadanya. Hidupnya tetap saja kekurangan, bahkan tidak punya rumah.

Omongan yang keluar dari mulutnya dipenuhi dengan kalimat-kalimat congkak. Banyak teman saya yang anti pati kepadanya. Malum mereka tidak suka dengan orang yang membanggakan diri. Dia dikenal tidak punya adab keada orang-orang tua. Bahkan suka memfitnah.

Orang tadi pernah mengaluarkan tuduhan bahwa si A itu meninggal karena disantet oleh tetangganya. Kemudian orang yang dituduh melakukan santet itu protes kepadanya, menantang untuk ditunjukkan buktinya. Karena tidak bisa mendatangkan bukti dan saksi Gus Dukun mbambung tadi terdiam dan minta maaf. Saya keluarga si A terlanjur termakan fitnah sehingga membenci orang yang tertuduh tadi. Hampir saja si mulut besar itu dipukuli orang-orang sekampung andai saja ayahnya bukan Kyai di kampungnya. Jadi dimna jimat dan pengaruh yang dijanjikan itu ? ternyata tak lebih dari sekedar tipuan atau bualan di siang bolong 🙂

Bersambung…………………………………………