Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887]).

Artikel ini saya buat untuk seorang Dukun bernama Abdul Malik Mudi, alias wongalusaceh alias Syekh ahmad muda aceh alias ashrif barkhiya aceh yang terindikasi seorang ruwaibidhah.

Rasulullah s.a.w. pernah memberikan ‘warning’ (peringatan dini) kepada umatnya agar berhati-hati terhadap Ruwaibidhah, simbolisasi seseorang yang ‘berlagak pakar, padahal tidak memiliki otoritas untuk berfatwa. Dia, bak “tong kosong (yang) dalam terminologi ‘Aidh al-Qarni disebut sebagai: al-Ahmaq, seorang yang bodoh namun tidak sadar akan kebodohannya, maka dia lebih tepat disebut sebagai orang ‘pandir’, dan inilah yang disebut oleh para ulama sebagai “Jâhil Murakkab” (orang yang sangat bodoh).

Seorang Ruwaibidhah yang bernick name wongalusaceh akan selalu mencitrakan diri sebagai seorang pakar, memerankan dirinya sebagai ‘pengumbar fatwa’ yang berdusta atas nama kebenaran, yang karena kepiawainnya membangun citra dan kehebatan retorikanya dirinya menjadi (seolah-olah) ‘Sang Maestro’ pada bidangnya padahal semua Cuma berdalil aqli semata tanpa sama sekali merujuk pada AlQr’an dan sunnah disertai pendapat para ulama 4 mahzab.

Karena di’blow-up’ retorikanya diblog nya sendiri ( www.wongalusaceh.wordpress.com) , pendapat dan ajarannya nya dikutip oleh para muqallid (pengikut setianya)-nya dengan satu keyakinan bahwa apa pun yang dikatakannya selalu benar, atau mininal lebih otoritatif dari siapa pun yang sebenarnya lebih memiliki otoritas dalam bidangnya. (lihat testimony muqallid wongalusaceh di http://wongalusaceh.wordpress.com/2010/12/20/testimoni-gelombang-pertama/ )

Penulis sering terheran-heran, kenapa wongalusaceh ini (Ruwaibidah kontemporer) yang katanya seorang “syaikh” (dalam blognya dia ngaku-ngaku sendiri seorang syaikh Ahmad Muda Aceh) namun suka berfatwa mengharamkan yang sunnah dan menganggap sunnah yang haram dengan berbagai dalil qila wa qola tanpa ada sandaran ilmiah dari AlQur’an dan sunnah nabawiyah  , dengan mengaku sebagai syaikh ( pengajar pondok pesantren) lalu mengajarkan berbagai macam ilmu sihir yang dibalut dengan kedok agama celakanya  – kemudian – di’amini’ oleh sekelompok orang penikmat ilmu sihir. padahal wongalusaceh ini sangat tidak layak menjadi “marja’ taqlid” (nara sumber otoritatif yang tak perlu disangsikan keabsahan pendapat-pendapatnya).Memang “ironis”, tetapi itulah kenyataannya!

Dengan bersandarkan kebenaran menurut akalnya sendiri, wongalusaceh ini berani menerabas fatwa ulama jika dianggapnya bertentangan dengan keyakinannya. Contoh kecil adalah masalah mubahalah dan li’an, ketika saya menyebutkan seorang muslim dengan sebab khusus boleh mubahalah dan li’an dengan dalil Al-Qur’an dan sunnah disertai pendapat para ulama di https://metafisis.wordpress.com/2010/12/07/hukum-melaknat-sesama-muslim-bantahan-bagi-kyai-dukun-abdul-malik-mudi/ maka dengan angkuhnya si ruwaibidhah ini menolak mentah-mentah dalil yang sudah saya jabarkan dan malah tetap bertahan dengan dalil yang dikarangnya tanpa satupun merujuk pada dalil Al_Qur’an dan Sunnah dan si ruwaibidhah ini sama sekali tidak merujuk pada pendapat ulama .

Padahal jelas fi’liyah dan taqririyah Rasulullah dan para Ulama sudah terang benderang memperbolehkan mubhalah/li’an sesama muslim dengan sebab khusus. Wongalus sok pintar lalu dengan ceroboh berfatwa sendiri mengatas namakan agama tanpa ilmu yang memadai mengatakan tidak ada mubahalah dan li’an sesama muslim.Ingatlah wahai Pak dukun wongalusaceh! Barangsiapa yang gemar berbicara mengatasnamakan agama tanpa ilmu, sesungguhnya dia adalah antek-antek Syaitan, bukan Hizbullah dan bukan pula pembela keadilan atau penegak Syari’at Islam!

Contoh kecil lainnya, misalnya, pada permasalahan jimat kebal imam syadzili. Dari berbagi hadits rasulullah sudah menjelaskan bahwa berbagai bentuk azimat/jimat itu syirik dan kekufuran yang  sesungguhnya akan membuat penggunanya akan sengsara dunia dan akhirat. Para ulama juga sudah banyak memfatwakan keharaman jimat. Namun  dalil AlQur’an dan sunnah disertai pendapat para ulama dihinakan dan disepelekan oleh wongalusaceh, namun sekali lagi jika saya menanyakan dimana contoh  firman Allah dan ucapan Rasul yang membolehkan jimat,wongalusaceh dengan dalil dhaifnya mulai beraksi dan menggunakan senjata utama kata-kata wahabi  ( https://metafisis.wordpress.com/2010/12/06/dalil-aqli-keharaman-klaim-ilmu-kebal-kyai-mubtadi-abdul-malik-mudi/ )

Dari semua perkataan dan tanggapan wongalusaceh diblog ini, jika terpojok dalam debat karena tidak bisa menampilkan rujukan yang  jelas dari Al_Qur’an dan sunnah dan juga pendapat para ulama, wongalusaceh lalu menantang tiap orang untuk membahas matan hadits hanya karena dia sedikit punya kemampuan bahasa arab, dikiranya kemampuan bahasa arabnya sudah cukup untuk menafsirkan hadits, lalu ketika orang tidak memiliki ilmu bahasa arab yang cukup, maka pengambilan dalilnya sama sekali disepelekan pak dukun wonglusaceh walaupun orang tersebut sudah merujuk pada fatwa ulama yang shahih.

Padahal Kemampuan bahasa arab tidaklah cukup untuk bisa menafsirkan AlQur’an dan hadits! Maka sesungguhnya wongalusaceh tidak pantas menjadi marja’ taqlid/mujtahid dari sisi ilmu wongalusaceh belumlah setaraf ulama , belum lagi jika kita bahas dari sisi akhlakul karimah, ada banyak kata-kata cabul, jorok dan kotor yang diumbarnya diblog ini……….100% TIDAK PANTAS untuk disebut seorang Syaikh, Ulama, orang alim………yang sepantasnya julukah untuk Abdul Malik Mudi adalah sang Ruwaibidhah yang Jâhil Murakkab

Saya sadar posisi saya adalah sebagai tholabul ilmi dan bukan ulama, maka saya tidaklah bersikap seperti ulama karena itu saya selalu merujuk pendapat ulama. Sedang wongalusaceh merasa dia seorang syaikh 🙂  gelar yang dia buat sendiri untuk dirinya dan dia sandangkan sendiri di “bahunya” lalu berfatwa seenak perutnya sendiri menyesatkan umat Islam…….. Inilah bentuk keangkuhan dan kesombongan sejati sang ruwaibidah wongalusaceh!