Tulisan ini saya kutip dari http://myquran.com/forum/showthread.php/19386-HOAX-Hikmatul-Iman/page2
dibuat oleh Salman Weh yang berdomisili di Bandung
Berikut ini curahan hatinya :
maaf sebelumnya tulisan ini saya posting di sini, karena saya merasa ingin berbagi pikiran dan pendapat tentang sebuah perguruan Tenaga Dalam bernama Hikmatul Iman (HI). saya merasa, saya perlu mendengarkan pendapat orang lain tentang apa yang ada di dalam pikiran saya, sehingga pendapat orang lain, baik yang setuju ataupun yang tidak setuju dengan pemikiran saya, menjadi pertimbangan tertentu bagi diri saya. Dan bila ada tulisan-tulisan saya yang tidak sesuai dengan kebenaran faktanya, silahkan diklarifikasikan saja.

belum lama ini, di wilayah kami berdiri sebuah perguruan Tenaga Dalam bernama Hikmatul Iman. dalam waktu sejejap, pengikut perguruan ini sudah cukup banyak. saya sih seneng-seneng aja, dengan berdirinya perguruan tersebut, karena masyarakat bisa diajak untuk berolah raga dan menjadi lebih sehat. kendatipun saya sediri telah mengasuh perguruan tenaga dalam selama 15 tahun lamanya di wilayah tersebut, tapi sama sekali tidak iri hati ataupun merasa tersaingi. karena kalau di rasa-rasa, saya sudah bosan menjadi pelatih. beberapa murid saya pindak ke perguran HI tersebut. gak pernah saya risaukan. walaupun semuanya pindah ke situ, ya gpp. emank rasanya saya dah pengen pensiun jadi pelatih.

tapi, saya pikir seharusnya kita berlaku jujur dan adil. jangan karena keinginan merekrut banyak orang terus menggembar-gemborkan HOAX. orang-orang HI ditempat saya, termasuk para pelatihnya, sering berkata kepada murid-murid saya dan kepada saya sendiri, bahwa guru mereka itu katanya sudah mendatangi seluruh perguruan bela diri seluruh Indonesia untuk menjajal jawara-jawara. katanya, tak seorangpun para guru besar dari perguruan beladiri lain itu yang mampu mengalahkan guru besar HI. saya pikir, ini adalah HOAX. salah satu buktinya, sejak tahun 1986 hingga sekarang, saya tumbuh besar di sebuah perguruan pencak silat, dan sudah mengikuti berbagai kompetisi, tak pernah ada cerita ada seorang jawara sengaja datang untuk menatang guru kami. kalau anda juga punya guru bela diri, coba aja tanya, pernah enggak dia dijajal ilmu sama guru besar HI itu dan lalu kalah? selain HOAX, saya kira itu juga merupakan kesombongan.

HOAX yang kedua adalah teknik belajar instan. beberapa murid saya tertarik pindah perguruan ke HI karena kata orang-orang HI, belajar tenaga dalam di HI itu dalam waktu sebulan sudah mampu memadamkan lilin dengan tenaga dalam dari jarak 1 meter. saya tidak pernah menghalangi murid-murid saya untuk pindah ke perguruan manapun. tapi setelah setahun saya bertemu mantan murid saya itu, saya tanya, “apa sudah bisa memadamkan lilin dari jarak 10 meter dengan TD?” ternyata dalam jarak dekat pun gak bisa. jadi terbukti itu cuma HOAX. saya juga pernah meminta anggota HI lainnya untuk memperlihatkan kemampuan tersbut pada saya, dia gak bisa.

selain itu, hal yang lebih mengherankan itu, guru-guru dan murid-murid HI itu memang suka menantangi anggota perguruan lain untuk dijajal ilmu. katanya sih itu mengikuti anjuran dari guru besar mereka dan juga melakukan apa yang katanya telah dilakukan gurunya menjajal para jawara seluruh Indonesia. mulanya, saya gak percaya dengan cerita murid-murid saya sendiri bahwa murid-murid saya itu sering ditantang berkelahi orang-orang HI. sampai suatu hari saya bertemu dengan salah satu guru HI tsb. eh, ternyata benar semua cerita murid-murid saya itu, mereka sombong dan suka merendahkan orang lain. ujung-ujungnya saya ditantang berkelahi. saya menolak, karena saya kira itu tak pantas. ada ajang kompetesi resmi yang diselenggarakan IPSI atau KONI, bila memang kita mau uji kekuatan, bukan ngajak tarung di jalanan. tapi penolakan saya dianggap “takut”. saya sih gak masalah dianggap takut. Akhirnya saya naik pitam, dan menyatakan siap menjawab tantangannya, janjian di suatu tempat untuk “jajal ilmu”. tapi di tunggu-tunggu, sampai hari ini, itu guru HI gak nongol-nongol. saya sih bersyukur aja. karena main jajal-jalan kayak gitu mah cuma kelakuan orang gak ada kerjaan.

yang jadi rasa penasaran saya, apakah karakter orang HI seperti itu hanya “oknum saja”, atau memang sudah begitu dari atas sampai bawah di seluruh Indonesia?

Bagaimana menurut anda?