Pengantar Admin : Saya betul-betul sibuk dalam hari-hari ini, yang menyebabkan saya tidak sempat menanggapi komentar yang masuk (jam 09.30 hari selasa pagi inipun saya ada ada pertemuan dengan relasi bisa-bisa sampe sore), namun saya tetap berusaha untuk menanggapi talbis Dukun Ahmaq disela-sela kesibukan saya yang padat, Pada artikel ini saya sudah membuat bantahan terhadap artikel Dukun Ahmaq di http://wongalusaceh.wordpress.com/2011/01/03/bolehkah-berwifiq/ yang berdalil menggunakan hadits palsu untuk menjadikan pembenaran ilmu wifiq/jimatnya. Saya Alhamdulillah punya cukup rujukan dari berbagai kitab ulama untuk membantah hujjah wongalusaceh ini.
Berikut ini bantahan saya

Dari salman alfarisi  berkata ia :

Wahai rasulullah sepanjang hidupku telah aku lakukan maksiat dan pada akhir umurku ajarkanlah kepadaku sesuatu yang bila kubaca panjanglah umurku dan diampunkan dosa dosaku, dan tercapailah cita citaku.maka rasulullah mengajarkannya ayat 5, dan berkata ia SAW : barang siapa membaca ayat lima dan membaca pecahan basithnya (salah satu tekhnik ilmu aufaq, red) panjanglah umurnya, diampunkan dosanya, dan tercapailah tujuannya. Begitulah dalam tafsir ara’isdan tafsir kawasyi, dan sebagian kitab khawas quran.(Muhammad haqqiyin nazily, khazinatul asrar, hal86. Dan disitu masih ada lain yang menybutkan lafaz aufaq, malas nulisnya, baca sendirinya.

TANGGAPAN ADMIN:

Dalil hadits diatas menjadi pembenaran wifiq Dukun ahmaq (wongalusaceh) di blognya. Hadits tersebut diambil dari Kitab Khazinatul asrar karya Muhammad Haqqiyin nazily.

barang siapa membaca ayat lima dan membaca pecahan basithnya (salah satu tekhnik ilmu aufaq, red)

Saya bingung hadits ini masih menunjukkan membaca bukan menulis aufaq ? Saya juga bingung dengan tingkat derajat hadits tersebut ? Tolong Wongalusaceh jelaskan ?

Kembali pada pembahasan,tidak hanya hadits yang disandarkan pada Salman Alfarizi, bahkan dalam kitab khazinatul asrar juga menyandarkan ucapan Ibnu Abbas untuk jadi pembenaran wifiq. Dalam kitab Khazinatul Asrar karya Sayid Muhammad Haqqi An-Nazili, halaman 72, Imam An-naisaburi meriwayatkan ucapan Ibnu Abbas yang menganjurkan penulisan nama tujuh pemuda shaleh penghuni Gua Kahfi. Faedahnya : orang yang bersangkutan terjaga dari kebakaran, juga bisa untuk mendiamkan tangis anak kecil yang rewel. Dalam kitab yang sama juga dinukilkan hadits Rasulullah SAW (tanpa rawi), “Ajarilah anak-anakmu nama –nama Ashabul Kahfi, karena jika sesungguhnya jika nama-nama itu ditulis di pintu, rumah itu tidak akan terbakar; jika ditulis di perhiasan, tidak tercuri; jika ditulis di perahi, tidak tenggelam. Nama-nama mereka adalah Yamlikha, Maktsalina, Matsalina, Marnusy, Dabarnusy, Syadznusy, Kafsyathathiyusy, Qithmir.”

Pertanyaannya : Bolehkah Dua hadits yang disandarkan pada Salman Alfarizi dan Ibnu Abbas , dana ada juga hadits tanpa ada rawi-nya sama sekali lalu langsung dipercaya sebagai ucapan rasulullah?

Saya pernah mempelajari ilmu Ushul Hadits atau yang lebih dikenal dengan Ilmu Mushthalah Hadits sewaktu dipesantren dulu dengan pemateri langsung oleh Al-Ustadz Ja’far Umar Thalib. Saya diajari untuk tidak percaya dengan hadits tanpa rawi dan walaupun ada periwayat hadits seperti salman alfarizi pun tetap harus melalui penelitian Nuqqaad (Para Kritikus hadits) seperti Imam al-Bukhary, Ahmad, Ibn Ma’in, Abu Hatim ar-Razy , Al-bani dan ulama lainnya untuk diketahui derajat haditsnya.

Hadits yang disebutkan wongalusaceh tanpa penelitian Nuqqaad untuk tahu derajat hadits tersebut dan ada banyak hadits tanpa rawi maka hadits tersebut sangat besar kemungkinannya hadits maudu’ (palsu) yang disandarkan pada rasulullah, dan sudah sangat sangat jelas kitab Khazinatul Asrar karya Sayid Muhammad Haqqi An-Nazili adalah kitab sesat sebab menjadikan banyak memuat hadits palsu ( ada yang tanpa rawi) sebagai dalil pembenaran jimat/wifiq.

Sebab tidak ada satupun para ulama ahli hadits membenarkan penggunaan dalil dari hadits kecuali harus melalui penelitian yang sangat teliti para Nuqqaad! Kita bahwa tidak boleh menyebarkan hadits-hadits dan meriwayatkannya tanpa terlebih dahulu melakukan Tatsabbut (cek-ricek) mengenai keshahihannya seperti hadits yang dikutip wongalusaceh yang disandarkan pada salman alfarizi sebab jika ada orang yang melakukan hal itu, maka cukuplah itu sebagai kedustaan terhadap Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda, “Sesungguhnya berdusta terhadapku bukanlah berdusta terhadap salah seorang diantara kamu; barangsiapa yang berdusta terhadapku secara sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di api neraka.” (HR: Muslim dan selainnya)

Pertanyaannya : SANGGUPKAH WONGALUSACEH MEMPERTANGGUNG JAWABKAN HADITS YANG DIKUTIPNYA MERUPAKAN UCAPAN RASULULLAH! Atau Wongalusaceh sanggup menempati tempat duduknya dineraka karena telah berdusta atas nama Rasulullah ! ( maaf bukan saya memastikan tempat duduknya dineraka tetapi kalimat saya cuma peringatan saja, harap dimengerti )

Para pengikut tarekat sufi seperti dukun Ahmaq ini memang terkenal suka memalsukan hadits dan suka menggunakan hadits tanpa rawi. Mengenai hal ini, terdapat isyarat dari makna hadits Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Cukuplah seseorang itu berdusta manakala ia menceritakan semua apa yang didengarnya (tanpa disaring lagi dan tidak ada penelitian-red.,).” (HR: Muslim) dan hadits lainnya dari riwayat Abu Hurairah

Soal :he he he, saya tak bisa arab ustaz, oya namun banyak mengamalakan untuk tujuan yang haram misalnya, mengunakan wifiq mahabbah untuk memelet gadis lalu ia melakukan maksiat dengan gadis itu.

Jawab : dosanya bukan dari segi pengetahuan wifiqnya, dan pembuatan wifiqnya, dari sisi ini ia tidak berdosa, namun ia berdosa dari segi niatnya.

Rasullullah mengatakan : berapa banyak amal yang berbentuk amal akhirat namun menjadi amal dunia karena buruk niat.

Rasulullah mengatakan semuanya tergantung niat, barang siapa berhijrah karena dunia atau wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya adalah untuk apa yang ia hijrahkan.

Suatu amalan baik/buruknya tidak hanya dari niat, sebab niat yang baik tapi jika kaifiyat-nya salah maka akan berbuah kesalahan, contoh : niatnya baik ingin membantu saudara dari kemiskinan tapi dengan memberikan uang hasil dari riba, maka niat baiknya akan sia-sia belaka karena memberikan uang haram pada sudaranya, begitu juga dlam perkara pembuatan dan penggunaan wifiq/azimat niatnya baik ingin memelet gadis dengan pake jimat/wifiq mahabbah tapi dengan cara yang salah memakai jimat yang diharamkan rasulullah maka hasil akhirnya orang tersebut tetap jatuh dalam kesyirikan. Penggunaan jimat dan mahabbah juga sudah termasuk perkara syirik sebab rasulullah bersabda : sesungguhnya jampi-jampi, jimat dan mahabbah adalah syirik (HR.Abu Dawud dan Ahmad)

Apalagi jimat/rajah (aufaq) yang dibuat , biasanya ada tulisan ayat Al-Qur’an,doa pada Allah dengan nama-nama aneh, bukan dari Al Asmaul Husna, bukan nama nabi atau malaikat, dan bukan pula nama-nama ulama terkenal. Misalnya: Asy Syatat, Shal’ashun, Ya’shalun, Jaljalut, Ikhrisya, Jirisya. Inilah nama-nama jin yang diundang untuk dimintai pertolongan.Bahkan ada yang jelas: Ya Syaikh Abdul Qadir Jailani aghitsni (wahai  guruku Abdul Qadir Jailani!Tolong selamatkan aku),Ya sayyidi Ali anqidzni (wahai tuanku Ali selamatkan aku),kemudian ditambah angka-angka tertentu dan huruf-huruf tertentu yang tidak ada maknanya. Selain itu juga ada simbol-simbol atau gambar-gambar yang dianggap akan membawa manfaat atau untuk menolak bala’, seperti binatang, lingkaran, kotak-kotak, segitiga, gambar pedang, gambar kepala harimau, duplikat sandal nabi saw, dan lain sebagainya.

Bersambung……….. (masih ada lanjutan nunggu saya rehat dulu 🙂 )