Pengantar admin :

Wongalusaceh mengatakan pada penghujung pengunduran dirinya dari blog ini ( mengundurkan diri Wongalusaceh ini mengakhiri debat yang sudah kami lakukan berbulan-bulan lamanya ) di  https://metafisis.wordpress.com/2011/01/03/apa-hukum-azimat-itu/#comment-5869 dengan mengucapkan salam perpisahan : “

maaf mas perdana, kita udahi saja dialog kita, saya kalau udah maen palsu palsukan hadist, saya rasa itu udah melanggar batas, saya tak berani, anda dan saya belum pernah ketemu rasul, sahih, hasan, dhaif, mau’du’ adalah dari segi riwayat, bukan dari segi hakikat, dalam ihya ulumuddin banyak sekali hadist mau’du dan dhaif menurut ulama hadist, namun para ulama membenarkannya, karena level ghzali sudah maqam kasyaf, bisa jadi dhaif menurut sanad, namun dari segi hakikat rasul pernah mengatakan itu, jadi biarlah anda yang menang dalam dialog ini, saya tak mau ikut campur masalah palsu tidaknya hadist,karena memahami ilmu mustalahul hadist harus dalam ittifaqi bukan ikhtilfi, kalau ikhtilafi kita harus membenarkan keduanya.

moga satu saat anda dapat hidayah, da da da bung perdana, sernang bisa kenalan dengan anda, blog saya jadi tambah bagus karena dikritik terus he he he
lukman sampai jumpa nyimak nice to meet u here ,teman darno banyak banyak kewarnet cari info oja

da da thada,

Dari kalimat diatas jika kita teliti ada lagi talbis yang secara halus di tiupkan bagaikan tukang sihir wanita yang menghembus sihirnya pada buhul-buhul ( Qs.Al Falaq) yaitu adanya dalil untuk menshohihkan / mendoifkan hadits melalui ilmu kasyaf, betulkah itu ?

Sungguh Seorang Imam Bukhari mengembara pada masa lalu, dalam pencarian hadits hingga ke kota bahkan negara lain telah dilakukan imam bukhari ke Syam, Baghdad, Wshit, Basrah, Kufah, Meir, Maru, Asqalan, Rei, Maisabur, Himsha, Khurasan dan masih banyak lagi daerah lain yang sempat dikunjunginya. Pengembaraan panjang yang terkadang hilir mudik ini, memakan waktu selama 16 tahun.

Setelah melewati masa pengembaraan selama 16 tahun, Imam Bukhari berhasil menghimpun sekitar 600.000 hadits yang diperolehnya dari puluhan negeri dan ribuan guru. Setelah diadakan penyeleksian, menurut perhitungan Ibnu Shalah dan Imam Nawawi, terjaring 7.275 hadits yang dianggap shahih. Jumlah ini termasuk pengulangan, sedangkan bila tanpa pengulangan tercatat sekitar 4.000 hadits. Menurut perhitungan Al-Imam Al-Hafidz adalah sebanyak 7.397 hadits, sedang bila tanpa pengulangan sebanyak 2.602 hadits.

Ada juga ulama lain yang berbeda pendapat dari jumlah diatas. Sedang bila melihat kitab Shahih Bukhari terbitan Dahlan, Bandung, yang urutan haditsnya diberi nomor, kesemuanya berjumlah 7.108 hadits.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Bukhari berkata :

“Kutulis kitab ini dari 1.080 orang yang kesemuanya ahli hadits, dan kesemuanya mengatakan bahwa iman itu adalah kata dan perbuatan yang dapat bertambah dan berkurang. Kalau aku hendak menuliskan sebuah hadits di dalam kitab Shahih, maka sebelum memegang pena, aku mandi terlebih dahulu dan sholat 2 rakaat.”

Selain Imam Bukhari, para ulama generasi terakhir (al-Muta`akkhirin) telah mengarang beberapa buku yang khusus untuk mencari hadits-hadits dan menjelaskan kondisinya secara terbuka tidak ada yang dirahasiakan, dan selalu melalui penelitian yang sangat detail, di antaranya yang paling masyhur dan luas bahasannya adalah kitab al-Maqaashid al-Hasanah Fii Bayaan Katsiir Min al-Ahaadiits al-Musytahirah ‘Ala al-Alsinah karya al-Hafizh as-Sakhawy. Demikian juga buku semisalnya seperti buku-buku Takhriijaat (untuk mengeluarkan jalur hadits dan kualitasnya) yang menjelaskan kondisi hadits-hadits yang terdapat di dalam buku-buku pengarang yang buku berasal dari Ahli Hadits (Ulama hadits) dan buku-buku yang berisi hadits-hadits yang tidak ada asalnya seperti buku Nashb ar-Raayah Li Ahaadiits al-Bidaayah karya al-Hafizh az-Zaila’iy, al-Mugny ‘An Haml al-Asfaar Fii al-Asfaar Fii Takhriij Maa Fii Ihyaa` Min al-Akhbaar karya al-Hafizh al-‘Iraqy, at-Talkhiish al-Habiir Fii Takhriij Ahaadiits ar-Raafi’iy al-Kabiir karya al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalany, Takhriij Ahaadiits al-Kasysyaaf karya Ibn Hajar juga dan Takhriij Ahaadiits asy-Syifaa` karya Imam as-Suyuthy.

Apakah masuk diakal bagi orang yan masih punya fikiran sehat dan tidak junun bahwa upaya dan jerih payah yang dilakukan para ahli hadits dengan begitu mudahnya dipatahkan oleh kaum sufi sesat seperti wongalusaceh ini dengan mudahnya membuat hadits dan menyatakan tingkat keshahihan hadits cukup dengan kasyaf . Betulkah Kasyaf yang berupa bisikan-bisikan jiwa, pengalaman ghoib (yang penuh tipu daya setan)  dijadikan sandaran kebenaran dalam berdalil ?

Pembahasan :

Ilmu Kasyaf menurut orang-orang TAREKAT SUFIYYAH (TASAWUF), adalah ilmu yang diterima secara yakin, yang didahulukan atas ilmu-ilmu syara’. Padahal kasyaf adalah bisikan-bisikan jiwa, sehingga kadang ada kebenaran dan kebatilan padanya. Sebagian ada yang dari HAWA NAFSU dan sebagian lagi ada yang dari SYETAN. Meski pun demikian, orang-orang ahli tasawuf menganggap bisikan-bisikan itu sebagai sumber pengambilan ilmu ma’rifat dan agama.

Hal ini jelas bertentangan dengan firman Allah: “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.” (Jin 26).

Tokoh-tokoh sufi (dan turunannya seperti wongalusaceh ini) sangat mencela pengambilan ilmu hadits dari ulama ahli hadits dengan mengatakan:

“Abu Yazid Al-Busthami, “Kalian mengambil ilmu dari mayat ke mayat. Sedang kami mengambil ilmu dari yang Maha Hidup dan tidak pernah mati. Hal itu seperti yang telah disampaikan para pemimpin kami : “Telah mengabarkan pada aku hatiku dari Rabbku”. Sedang kalian (maksudnya, kalangan Ahlu Al-hadits) mengatakan : “Telah mengabarkan kepada kami Fulan”. Padahal, bila ditanya dimana dia (si Fulan tersebut) ?. Tentu akan dijawab : “Ia (Fulan, yakni yang meriwayatkan ilmu atau hadits tersebut) telah meninggal”. “(Kemudian) dari Fulan (lagi)”. Padahal, bila ditanyakan dimana dia (Fulan tadi)? Tentu akan dijawab : “Ia telah meninggal”. (Al-Kawakib Ad-Durriyah, hal. 226 dan Al-Futuhat Al-Makkiyah, I/365)

Dikatakan pula oleh Ibnu Arabi, Ulama Tulisan (ahli hadits) mengambil peninggalan dari salaf (orang-orang terdahulu) hingga hari kiamat. Itulah yang menjauhkan atau menjadikan timbulnya jarak antara nasab mereka. Sedang para wali mengambil ilmu dari Allah (secara langsung). Yakni, dengan cara Ia (Allah) mengilhamkan ke dalam hati para wali”. (Al-Kawakib Ad-Durriyah, hal. 246 dan Rasail, Ibnu Arabi, hal.4). Dikatakan oleh Asy-Sya’rani, “Berkenan dengan hadits-hadits. Walaupun cacat menurut para ulama ilmu hadits, tapi tetap shahih menurut ulama ilmu kasyaf”. (Al-Mizan, I/28)
Lihatlah! Mereka mendahulukan kasyaf daripada al-Kitab dan Sunnah. Menurut mereka kasyaf itu akan terjadi dengan mujahadah nafsiyah (menyiksa diri) dan berkhalwat (menyepi, bertapa) dan mengkonsentrasikan tekad untuk berdzikir dengan dzikir yang bid’ah bahkan termasuk syirik.

Padahal ilmu kasyaf tidak ada kaitan dan hubungan dengan al-Kitab dan Sunnah. Dan para ahli tasawuf tidak mengharuskan adanya hubungan antara kasyaf dengan al-Kitab dan Sunnah, apalagi mereka menjadikan wahyu (yang jelas bukan wahyu Allah) sebagai hakim (penentu) dalam menentukan tingkat keshahihan hadits atas perasaan dan kasyaf. Ini bukanlah tuntunan Rasulullah dan prilaku para sahabat, ulama ahli hadits dalam ilmu dien, ilmu ma’rifat dan keimanan

Tidak diragukan lagi bahwa kebersihan dan kesucian jiwa itu akan menambah ilmu dan ma’rifat. Akan tetapi yang dimaksud disini adalah pembersihan dan penyucian jiwa dengan cara Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu dengan metode yang syar’i. Adapun metode orang-orang tasawuf sangat jauh dari kebenaran dalam pembersihan jiwa.

Kami akan menghadirkan kepada pembaca bebarapa contoh kasyaf orang-orang tasawuf yang suka berbohong, sehingga bisa diketahui prakteknya:

Al-Jily telah menyebutkan di dalam kitabnya al-Insanul Kaamil (II/97 dst) bahwasanya telah dibukakan baginya hijab (tabir penghalang) sehingga ia bisa melihat alam bagian bawah dan atasnya, dia bisa melihat para malaikat seluruhnya, dan ia bisa berpindah-pindah dari satu langit ke langit yang lainnya. Dia berkata: “Pada masyhad (jenjang tingkatan menurut ahli tasawuf) ini berkumpulnya para Nabi dan wali, aku berdiri di tempat itu… maka saya melihat semua para Rasul dan Nabi-nabi, para wali dan malaikat yang tinggi dan malaikat muqarrabin (yang dekat dengan Allah) dan malaikat taskhir (yang bertugas mengatur alam), dan dibukakan bagiku hakekat banyak hal dari sejak zaman azaly sampai selama-lamanya.”

Coba pembaca renungkan kesesatan dan kebohongan dari seorang yang mengaku wali ini, dia mengaku telah mencapai ketinggian para nabi, mengetahui hal-hal yang ghaib dan mengetahui keadaan sesuatu dengan kasyaf… sesuatu yang belum tercapai bagi sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali dan bagi para tokoh Ulama Islam. Tidakkah anda perhatikan wahai para pembaca bagaimana kasyaf menjadi sumber pengambilan ilmu menurut kesesatan orang-orang TAREKAT SUFIYYAH tersebut.

Dengan kasyaf ala sufi (menurut anggapan mereka) manusia juga bisa membedakan mana hadits yang shahih dan mana hadits yang dhoif, walau pun ia tidak bisa membaca dan menulis! Mereka sudah menghancurkan sanad-sanad hadits dan menshahihkan hadits-hadits dha’if (lemah), munkar dan maudhu’ (palsu) dengan cara kasyaf.

Kalau memang demikian, kenapa para ulama bersusah-payah untuk mencari hadits dan melakukan perjalan karenanya ? hati-hatilah wahai kalian semua dengan talbis wongalusaceh, jangan percaya apapun yang dikatakannya sebab dia orang junjun dan akan mengajak orang-orang untuk junun sebagaimana isi blognya yang penuh berisi kode-kode aneh disertai dalil hadits munkar (kalaupun ada 😉  )yang membuat pusing kepala dan pada akhirnya kita dibuat junun karenanya.

KAUM SUFI SUKA MEMALSUKAN HADITS

Dalam satu kajian teliti yang dibuat oleh Mu’ammal bin Ismail, beliau telah menemui orang yang telah membuat hadits palsu. Kata beliau: “Aku telah diriwayatkan Hadits ini oleh seorang Syeikh”, lalu aku bertanya: “Siapakah yang meriwayatkan Hadits ini kepada anda?” Syeikh itu menjawab: “Seorang laki-laki di Madain, dia masih hidup.” Aku pergi menemui laki-laki itu lalu bertanya: “Siapakah yang meriwayatkan Hadits ini kepada anda?” Orang itu menjawab: “Saya telah diberitahu oleh seorang Syeikh di Wasith.” Aku pergi menemuinya dan berkata: “Siapakah yang meriwayatkan Hadits ini kepada anda?” Dia menjawab: Seorang Syeikh di Abadan. Saya pergi menemui Syeikh itu bersama-sama dengan Syeikh dari Bashrah tadi. Dia memegang tanganku lalu membawaku masuk ke dalam sebuah rumah, tiba-tiba aku dapati kaum sufi yang berada dalam rumah itu dan bersama-sama mereka ada seorang Syeikh mereka. Saya bertanya: “Siapakah yang meriwayatkan hadits ini kepada anda?” Syeikh itu menjawab: “Tiada siapapun yang meriwayatkan hadis itu kepadaku, tetapi kami telah melihat manusia telah jauh dari Al-Quran lantas kami buatlah hadits ini untuk mereka bagi memalingkan hati mereka kepada Al-Quran”.”
Justru itu tidaklah begitu mengherankan bagi kita bahawa terekat-tarekat sufi merupakan “lubuk” terkumpulnya hadis-hadis mawdhu’ lalu melalui merekalah banyak disebarkan perkara-perkara palsu tersebut kepada masyarakat atas nama tarhib dan targhib.  Mereka beranggapan tidak menjadi kesalahan untuk menyebarkan riwayat-riwayat palsu asalkan saja kandungan hadis tersebut membawa ke arah kebaikan. Pada tanggapan mereka kedustaan yang mereka lakukan hanyalah semata-mata untuk membantu agama Allah. Adakah mereka ini merasakan ayat-ayat al-Qur’an serta hadis-hadis Nabi tidak cukup sempurna untuk dijadikan landasan bagi tarhib dan targhib? Ternyata pemikiran rusak ini berpangkal dari kejahilan mereka terhadap syari’at Islam. Berpuncak dari tangan-tangan kotor mereka inilah maka banyak amalan-amalan bid’ah tersebar dalam masyarakat. Amalan bid’ah ini pernah dicela oleh Rasulullah s.a.w. dalam sabdanya: “Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (al-Sunnah), serta seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap yang diada-adakan (bidaah) adalah sesat.” [Hadits riwayat Imam Muslim]

Golongan zindik dan munafik sebenarnya menjadi musuh dalam selimut. Maka mereka berusaha merusakkan Islam dari dalam dengan membuat banyak hadits-hadits palsu. Golongan ini dikatakan telah membuat empat belas ribu hadis palsu. Abdul-Karim bin al-Auja’ saja telah mengaku membuat empat ribu hadis mengenai halal dan haram. Maisaroh bin Abdir Rabbik Al-Farisy pernah mengakui bahwa dia sendiri telah memalsukan Hadits hadits yang berhubungan dengan Fadhilah Qur’an (Keutamaan Alqur’an) sebanyak + 70 hadits, yang sekarang banyak diamalkan oleh Ahli-ahli Bid’ah.
Mereka ini telah membuat hadits-hadits yang menyebarkan keyakinan yang syirik, amalan-amalan bid’ah, menganjurkan perkara mungkar, perkara yang melemahkan umat Islam dan lain-lain.

Tidakkah mereka takut dengan ancaman Rasulullah? Sebab Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Barangsiapa yang telah berdusta terhadapku secara sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di api neraka.” (Hadits Shahih Mutawatir)

……………Dikaji dan diramu dari berbagai sumber………….