Pengantar Admin:

Ilmu nujum termasuk sesuatu yang dapat menafikan tauhid Dan menjerumuskan pelakunya kepada kemusyrikan, karena menyandarkan suatu kejadian kepada selain Allah Ta’ala.
Pelaku ilmu nujum disebut munajjim yang oleh sebagian ulama ahlus sunnah dikategorikan sebagai peramal. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Tanjim adalah meramal kejadian – kejadian di bumi berdasarkan petunjuk keadaan bintang” (Kitab Majmu’ Fataawaa XXXV/192)
Dari Zaid bin Khalid al Juhani Ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi WA sallam bersabda,
“Allah Ta’ala berfirman, Dikala pagi ini, diantara hamba – hamba-Ku Ada yang beriman kepada-Ku Ada pula yang kafir. Adapun orang yang mengatakan, ‘Telah turun hujan kepada Kita berkat karunia Dan rahmat Allah’, (maka) IA telah beriman kepada-Ku Dan kafir kepada bintang – bintang. Sedangkan orang – orang yang berkata, ‘Telah turun hujan kepada Kita karena bintang ini atau bintang itu’, maka IA telah kafir kepada-Ku Dan beriman kepada bintang – bintang’” (HR. Al Bukhari  Dan Muslim)
Seorang tabi’in, Imam Qatadah berkata, “Allah menciptakan bintang – bintang ini untuk tiga hal, sebagai penghias langit, sebagai pelempar syaithan Dan sebagai tanda bagi orang untuk mengenal arah. Maka barangsiapa menafsirkan selain dari itu, IA telah salah Dan menyia – nyiakan bagiannya Dan memaksakan diri dalam sesuatu yang IA tidak mengetahuinya” (HR. Al Bukhari dalam Kitab Fathul Bary VI/295)
Para ahli ilmu nujum menyakini bahwa bintang – bintang mempunyai pengaruh terhadap alam semesta (misalnya turunnya hujan, bahagia atau celakanya seseorang Dan lain sebagainya). Ilmu ini termasuk syirik Dan bukan ilmu yang bermanfaat.
Dari Ibnu Abbas Ra., Rasulullah ShallallaHu alaiHi WA sallam bersabda,
“Maniq tabasa ‘ilman minan nujuumiq tabasa syu’batan minas sihri zaada maa zaada” yang artinya “Barangsiapa mempelajari salah satu cabang dari ilmu nujum, maka sesungguhnya IA telah mengambil satu bagian dari ilmu sihir, semakin bertambah (ilmu yang dia pelajari), semakin bertambah pula dosanya” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Pembahasan :

Seorang Dukun yang menjadi salah satu pengikut tarekat Sufi bernama Abdul malik Mudi atau wongalusaceh diblognya telah mengajarkan Ilmu Nujum yang sangat dilarang dalam islam. Istilah arab  ‘atharid, zahrah, Qomar, zuhal, marih , syamsi, Musytary sesungguhnya adalah nama-nama planet/bintang yang sering digunakan untuk mengetahui keberuntungan, hari baik, atau hari buruk yang dalam istilah kerennya ilmu Ramal Astrologi.

berikut ini adalah padanan istilah latin untuk nama planet / bintang menurut istilah arab:

Syams: Matahari
Qomar: Bulan
Marikh: Mars
Atharid: Merkurius
Musytari: Jupiter
Zahrah: Venus
Zuhal: Saturnus

Bintang-bintang yang bergerak menurut falaknya :

  • ZUHAL – falak ketujuh
  • MUSYTARI – falak keenam
  • MARIKH – falak kelima
  • SYAMSU – falak keempat
  • ZAHROH – falak ketiga
  • ATHARID – falak kedua

Buktinya wongalusaceh menggunakan ilmu nujum perbintangan lihat di blognya: http://wongalusaceh.wordpress.com/2010/10/21/to-be-continued/


Disana memang sama sekali tidak dijelaskan apa fungsi ‘atharid, qamar, zuhal zahrah, marikh, syams. Diblognya para pengunjung akan pening kepalanya sebab diperlihatkan kotak yang didalamnya ada nama hari plus nama-nama aneh (‘atharid, qamar, zuhal zahrah, marikh, syams) lalu ketika ada komentar yang bingung diharuskan menghubungi nomer telponnya agar diberitahu kunci rahasianya (tentu arus ditarik mahar dulu agar rahasia bisa keluar ;) ) .

Padahal kunci ilmu nujum tersebut sudah dijelaskan dalam buku berjudul “Kumpulan Ilmu Ghaib” penerbit mahkota yang dialih bahasakan oleh Ustadz Masrab dan Suhaemi halaman 33-36 dan dalam kitab “Daya Kesaktian bathin” Penerbit MAHKOTA SURABAYA yang disusun oleh KH. A. Zaenuri Al-Yusak halaman 114-116 dijelaskan dengan gamblang kuncinya bahwa ( untuk lebih jelas kolom pembagian planetnya lihat di sini ) :

“ Dalam sehari semalan yang selama 24 jam terdapat saat atau waktu yang baik dan yang kurang baik (naas). Pada Saat yang baik, maka dipergunakan untuk mendatangi keperluan-keperluan yang penting, seperti bekerja, berangkat untuk berobat, untuk mendatangi sanak famili dan lain-lainnya. Sedangkan saat naas perlu dihidarkan untuk mendatangi keperluan-keperluan seperti diatas. Sebab bisa juga mengakibatkan hal-hal yang kurang diinginkan.

Adapun saat-saat yang baik untuk mendatangi keperluan-keperluan yang baik adalah pada saat seperti dibawah ini:

  1. pada hari Ahad saat ‘atharid
  2. Pada hari selasa saat Qomar
  3. pada hari Kamis saat zuhal
  4. Pada hari Sabtu saat zahroh
  5. Pada hari senin saat marih
  6. Pada hari rabo saat syamsi
  7. pada hari jum’at saat marih

Sesungguhnya ilmu nujum yang diajarkan wongalusaceh juga Ustadz Masrab dan Suhaemi dan KH. A. Zaenuri Al-Yusak (kelompok ulama su’/jahad ) disebut dengan Ilmu Ta-tsier yakni bahwa orbit bintang/planet  itu memiliki pengaruh terhadap alam  yang dalam istilah modernnya disebut ilmu Astrologi.

Ilmu Astrologi / Nujum/ tatsier  yang diajarkan wongalusaceh CS terbagi atas tiga bagian kepercayaan syirik, yaitu :
1. Meyakini bahwa bintang-bintang tersebut mempunyai pengaruh dan dialah yang berbuat, dengan kata lain bahwasanya bintang-bintanglah ( ‘atharid, zahrah, Qomar, zuhal, marih , syamsi, Musytary ) yang menciptakan kejadian-kejadian dan akibat-akibat, maka hal ini termasuk syirik besar, karena barangsiapa yang meyakini bahwa ada pencipta selain Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia termasuk orang yang musyrik.
2. Menjadikan bintang sebagai sebab bahwa dengannyalah seseorang mengetahui perkara-perkara ghaib, dengan berdalilkan gerakan-gerakan, perpindahan-perpindahan serta perubahan-perubahan bintang ‘atharid, zahrah, Qomar, zuhal, marih , syamsi, Musytary akan terjadi begini dan begitu, karena falaq pada hari Ahad saat ‘atharid maka jadi hari baik untuk berhajad, seperti perkataan : “Orang tersebut kehidupannya akan sengsara karena ia lahir pada zodiak (bintang) syamsi“, atau “Orang itu kehidupannya akan bahagia karena ia dilahirkan pada zodiak (bintang) zahrah”.

Maka perbuatan ini merupakan suatu bentuk pengambilan ilmu perbintangan sebagai wasilah (perantara) untuk mengaku-ngaku mengetahui perkara yang ghaib, dan pengakuan terhadap perkara ghaib adalah perbuatan kufur yang dapat mengeluarkan pelakunya dari dien ini, kerena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

قُلْ لاََ يــَعْلَمُ مَنْ فِي السَّــمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ . النمل

“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (QS. Al Naml: 65)

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِــنَـفْسِي نَفْـعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَ لَـوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْـثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نــَذِيرٌ وَبــَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ . الأعراف

“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa`atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman“.(QS. Al A’raf : 188)

Hal ini telah jelas bahwasanya tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan menimpa seseorang di kemudian hari, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Dia hanya memberitahu sebagian dari perkara yang ghaib kepada para Rasul yang diridhai-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَـيْنِ يَدَيــْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا
الجن

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya”. (QS. Al Jin :26-27)

Mengaku-ngaku bisa mengetahui garis perjalanan hidup seseorang melalui hitung-hitungan zodiak ‘atharid, qamar, zuhal zahrah, marikh, syams, berarti mengingkari ayat-ayat tersebut di atas dan merupakan pengingkaran terhadap ke-Esaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebabnya perbuatan ini terlarang di dalam Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْـبَـلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبـَــعـِينَ لَيـْلَةً . رواه مسلم

“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal (ahli nujum), lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam” (HR. Muslim) dan di hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنـــْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ . رواه أحمد

“Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian dia membenarkan apa yang dia katakan, maka sesungguhnya dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam” (HR. Ahmad)

Demikianlah Islam telah melarang ummatnya untuk mengaku-ngaku mengetahui hal-hal yang ghaib atau mempercayai kata-kata orang seperti wongalusaceh dan para dukun lainnya.

Dan diantara akibat buruk dari kebiasaan melihat ramalan-ramalan seperti ini adalah bahwasanya ramalan-ramalan tersebut akan menjadikan orang terbuai oleh janji-janji dan khayalan tentang apa yang akan terjadi, sehingga bisa melalaikannya dari berusaha yang sebenarnya.

Untuk menghindari kebiasaan buruk seperti ini memerlukan perjuangan yang berat, karena syaithan akan terus berupaya agar manusia tetap dengan kebiasaan membaca dan mempercayai ramalan nasib.

Syaithan bahkan bisa memperindah ramalan bintang tersebut di mata manusia sehingga dapat membuatnya tercengang karena sebagian dari ramalan itu ternyata benar-benar terjadi, padahal sebenarnya hal tersebut tidak ada hubungannya sama sekali antara ramalan tersebut dengan kejadian yang merupakan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Peristiwa itu akan tetap terjadi, diramal ataupun tidak diramal.
3. Meyakini bahwa bintang atharid, qamar, zuhal zahrah, marikh, syams sebagai sebab terjadinya kebaikan dan keburukan yaitu ketika terjadi sesuatu, maka ia menyandarkan hal tersebut kepada bintang dan ia tidak menyandarkannya kecuali setelah hal tersebut telah terjadi. Maka hal ini termasuk syirik kecil.

Faidah diciptakannya bintang
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ زَيَّــنَّـا السَّمَاءَ الدُّنْـيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْــنَاهَا رُجُومًا لِلشَّــيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ . الملك

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala” (QS. Al Mulk:5) Imam Bukhari berkata dalam shahihnya : Qatadah berkata :

خَلَقَ اللهُُ هَذِهِ الـنُّجُومَ لِـثَلاَثٍ جَعَـلَـهَا زِينَـةً لِلسَّــمَاءِ وَرُجُومًا لِلشَّــيَاطِينِ وَعَلاَمَاتٍ يُـهْتَدَى بِهَا فَمَنْ تَأَوَّلَ فِيهَا بِغَيْرِ ذَلِكَ أَخْطَأَ

“Allah menciptakan bintang-bintang karena tiga hal : Sebagai perhiasan langit. sebagai alat pelempar untuk melempar syaithan dan sebagai tanda-tanda yang dijadikan sebagai petunjuk dengannya, maka barang siapa yang menta’wil tentang bintang selain ketiga diatas sungguh ia telah salah”

FATWA ULAMA :

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah

Tanya:

Apakah dibolehkan bagi seseorang untuk membenarkan atau menganggap sial angka tertentu, demikian pula hari, bulan dan seterusnya?

Jawab:

Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullahu menjawab:

“Tidak boleh, bahkan hal itu termasuk kebiasaan orang-orang jahiliyyah yang syirik, di mana Islam datang untuk menolak dan membatilkannya. Dalil-dalil yang ada demikian jelas menyatakan keharaman kebiasaan tersebut. Perbuatan atau anggapan sial seperti itu termasuk kesyirikan dan sebenarnya tidak ada pengaruhnya dalam menarik kemanfaatan atau menolak kemudaratan, karena tidak ada yang memberi, yang menolak, yang memberi manfaat dan memberi mudarat kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَادَّ لِفَضْلِهِ

“Jika Allah menimpakan kepadamu kemudaratan maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia dan bila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang dapat menolak keutamaan-Nya.” (Yunus: 107)

Dalam hadits Ibnu ’Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوِ اجْتَمَعَتِ اْلأُمَّةُ عَلَى أَنْ يَّنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَّضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Seandainya umat berkumpul untuk memberikan kemanfaatan bagimu dengan sesuatu niscaya mereka tidak dapat memberikan kemanfaatan bagimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan sebaliknya, jika mereka semuanya berkumpul untuk memudaratkanmu dengan sesuatu niscaya mereka tidak dapat menimpakan kemudaratan tersebut kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran-lembaran (catatan takdir)1.”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (menganggap sial dengan sesuatu), tidak ada kesialan dengan keberadaan burung hantu dan tidak ada pula kesialan bulan Shafar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam satu riwayat:

لاَ نَوْءَ وَلاَ غُوْلَ

“Tidak ada nau`[2] dan tidak ada ghul[3] .” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini penetap syariat (yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) menolak thiyarah berikut apa yang disebutkan dalam hadits. Beliau mengabarkan bahwa thiyarah itu tidak ada wujudnya dan tidak ada pengaruhnya. Thiyarah itu hanyalah anggapan-anggapan keliru dan khayalan-khayalan rusak di dalam hati.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: (وَلاَ صَفَرَ) menolak keyakinan orang-orang jahiliyyah yang menganggap bulan Shafar sebagai bulan sial, mereka mengatakan bulan Shafar adalah bulan bencana. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meniadakan kebenaran anggapan tersebut dan membatilkannya. Beliau kabarkan bahwa bulan Shafar itu sama dengan bulan yang lain, tidak ada pengaruhnya dalam menarik kemanfaatan dan menolak mudarat. Demikian pula hari-hari, malam-malam dan waktu-waktu lain, tidak ada bedanya.

Dulunya orang jahiliyyah menganggap sial hari Rabu, menganggap sial untuk melangsungkan pernikahan di bulan Syawwal secara khusus. Sehingga Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku di bulan Syawwal, maka siapakah yang lebih memiliki keutamaan/keberuntungan daripada diriku?”

Hal ini seperti anggapan sial orang-orang Rafidhah terhadap angka sepuluh, dan mereka tidak suka dengan angka ini karena kebencian dan permusuhan mereka terhadap Al-’Asyrah Al-Mubasysyarina bil jannah (10 shahabat Rasulullah yang diberi kabar gembira masuk surga ketika mereka masih hidup [4] ). Yang demikian itu disebabkan kebodohan dan kedunguan akal mereka.

Demikian pula ahli nujum, mereka membagi waktu menjadi waktu nahas dan sial. Yang kedua; waktu bahagia dan baik. Tidaklah samar lagi haramnya ramalan bintang ini dan ia termasuk jenis sihir.

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Tathayyur adalah menganggap sial dengan apa yang dilihat dan apa yang didengar. Bila seseorang melakukan tathayyur ini, ia membatalkan safar yang semula hendak dilakukannya dan ia menarik diri dari perkara yang semula ia bersikukuh padanya, dengan begitu berarti ia telah mengetuk pintu kesyirikan bahkan ia telah masuk ke dalamnya. Ia berlepas diri dari tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia membuka untuk dirinya pintu ketakutan dan bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang menganggap sial dengan apa yang dilihat atau didengarnya berarti telah memutuskan diri dari apa yang dinyatakan dalam ayat berikut:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (Al-Fatihah: 5)

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

Maka beribadahlah engkau kepada-Nya dan bertawakallah.” (Hud: 123)

عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيْبُ

Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku akan kembali.” (Asy-Syura: 10)

Jadilah hatinya bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dalam bentuk ibadah ataupun tawakal, sehingga rusaklah hatinya, iman, dan keadaannya. Tinggallah hatinya menjadi sasaran thiyarah dan senantiasa digiring kepadanya. Syaitan pun mendatangi orang yang telah rusak agama dan dunianya ini. Berapa banyak orang yang binasa karenanya dan ia merugi di dunia dan di akhirat. Dalil-dalil tentang haramnya tathayyur dan tasyaum (menganggap sial) ini ma`ruf dan terdapat pada tempat-tempat pembahasannya, maka kita cukupkan dengan apa yang telah disebutkan. (Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah 1/132-134)

Footnote:

1. HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Asy-Syaikh Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Al-Misykat no. 5302, pent.
2. Nau` adalah bintang. Orang-orang jahiliyyah menyandarkan kesialan dan keberuntungan yang mereka peroleh dengan bintang. Sebagian bintang menurut mereka sial sehingga mereka katakan: Ini bintang nahas tidak ada kebaikan padanya. Sebagian lain dari bintang, mereka anggap membawa keberuntungan sehingga bila mereka dicurahi hujan, mereka berkata: “Kita diberi hujan oleh bintang ini”. Mereka tidak mengatakan: “Kita diberi hujan dengan keutamaan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Al-Qaulul Mufid `ala Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin , 1/568). –pent.
3. Ghul adalah setan yang biasa menyesatkan orang yang sedang berjalan di padang pasir atau lembah. Yang ditolak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits adalah pengaruh ghul ini, bukan keberadaannya. Setan yang suka mengganggu manusia seperti ghul ini memang ada, namun bila kuat tawakalnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak menghiraukan keberadaannya, setan ini tidak dapat memudaratkan dan menghalanginya menuju arah yang hendak ditujunya. (Al-Qaulul Mufid, 1/569) –pent.
4. Mereka adalah Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar ibnul Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair ibnul Awwam, Sa`ad bin Abi Waqqash, Sa`id bin Zaid, Abdurrahman bin `Auf, dan Abu `Ubaidah ibnul Jarrah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai mereka semuanya.

(Dinukil  dari Majalah Asy-Syari’ah, Vol.III/No.29/1428H/2007, Kategori: Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, hal. 87-89)