Oleh : Ustadz hartono Ahmad Jaiz
Manhaj dan jalan Islam berbeda sama sekali dengan manhaj Tasawwuf, dan perbedaan itu mengenai hal yang sangat mendasar. Yaitu perbedaan dalam hal sumber-sumber pengambilan agama dalam aqidah dan syari’ah. Demikian penegasan Abdur Rahman Abdul Khaliq dalam buknya Fadhoihus Shufiyyah (Cemar-cemarnya Sufisme), Maktabah Ibnu Taymiyyah, Kuwait, 1404H/ 1984M, halaman 43.

Dijelaskan, Islam menjadikan sumber pengambilan aqidah terbatas pada wahyu yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul saja, yang hal itu yang kita miliki adalah Al-Quran dan As-Sunnah (Hadits Nabi SAW) saja. Adapun agama sufisme (Ad-Dienus Shuufii) –istilah Abdur Rahman Abdul Khaliq– yang mereka jadikan sumbernya adalah bisikan yang didakwakan datang kepada para wali, dan kasyf (terbukanya tabir hingga mereka tahu yang ghaib) yang mereka dakwakan, dan tempat-tempat tidur (mimpi-mimpi), perjum­paan dengan orang-orang mati yang dulu-dulu, dan (mengaku berjumpa) dengan Nabi Khidhir ‘alaihis salaam, bahkan dengan melihat Lauh Mahfudh, dan mengambil (berita) dari jin yang mereka namakan para badan halus (ruhaniyyin).

Adapun sumber pengambilan syari’at bagi ahli Islam adalah Al-Kitab (Al-Quran), As-Sunnah (Al-Hadits), Ijam’ (kesepakatan para ulama terdahulu generasi awal Islam), dan qiyas (perbandingan, yaitu pengambilan hukum dengan membandingkan kepada hukum yang sudah ada ketegasannya dari nash/ teks Al-Quran atau Al-Hadits, dengan syarat kasusnya sama, misalnya beras bisa untuk zakat fitrah karena diqiaskan dengan gandum yang sudah ada nash hadit­snya).

Sedangkan bagi orang-orang tasawwuf, pembuatan syari’at mereka didirikan di atas mimpi-mimpi (tidur), Khidhir, jin, orang-orang mati, syeikh-syeikh, semua mereka itu dijadikan pembuat syari’at. Oleh karena itu jalan-jalan dan cara-cara pembuatan syari’at tasawwuf itu bermacam-macam. Sampai-sampai mereka mengatakan: Jalan-jalan menuju Allah itu sebanyak bilangan nafas makhluk-makhluk. Maka tiap-tiap syeikh memiliki tarekat dan manhaj/ jalan untuk pendidikan dan dzikir khusus, lambang-lambang khusus, dan ungkapan-ungkapan khusus. Maka tasawwuf itu adalah ribuan agama, aqidah, dan syari’at; bahkan ratusan ribu tidak terhitung banyaknya, semuanya itu di bawah apa yang dinamakan tasawwuf.

Dan inilah perbedaan asasi (pokok/ dasar) antara Al-Islam dan tasawwuf. Islam itu agama yang muhaddad (ditegaskan batasan ketentuan) aqidahnya, ibadahnya, dan syari’atnya. Sedangkan tasawwuf itu agama yang tidak ada batasannya, tidak ada pengertian (yang ditentukan secara pasti) dalam aqidah ataupun syari­’at-syari’atnya. Inilah perbedaan yang paling besar antara Al-Islam dan tasawwuf. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 43-44).

Garis-garis Besar Aqidah Sufisme

1. Aqidah sufisme mengenai Allah:

Orang-orang tasawwuf percaya kepada Allah dengan aqidah-aqidah yang macam-macam di antaranya al-hulul (inkarnasi, penitisan/ penjelmaan Tuhan dalam diri manusia) seperti pendapat Al-Hallaj (menyebabkan ia memaklumkan dirinya sebagai “kebenaran” dengan ucapan “anal Haq” = Akulah Kebenaran. Al-Haq adalah salah satu nama Tuhan. Dengan perkataannya itu berarti ia mengaku: “Akulah Tuhan.” )

Faham Hulul, faham yang menyatakan, bahwa Tuhan telah memilih tubuh-tubuh manusia tertentu sebagai tempat-Nya, setelah sifat-sifat kemanusiaan dalam tubuh tersebut dihilangkan. Faham Hulul dalam tasawwuf ditimbulkan oleh Husein Ibnu Manshur al-Hallaj (lahir di Persia tahun 858M) yang mengajarkan bahwa: Allah memiliki dua (2) sifat dasar (natur), yaitu sifat ke-Tuhan-an (lahuut) dan sifat kemanusiaan (Nasuut). Hal tersebut dilihat dari teori kejadian makhluk-Nya, sebagai berikut: Sebelum Tuhan menciptakan makhluk, Ia hanya melihat diriNya sendiri. Dalam kesendirian-Nya itu, terjadilah dialog antara Tuhan dengan diriNya.

Dialog yang dalam, tidak terdapat dalam kata-kata ataupun huruf-huruf. Yang dilihat Allah hanya kemuliaan dan ketinggianNya dan Allah pun cinta pada zatNya sendiri. Cinta yang tidak dapat disifatkan dan cinta inilah yang menjadi sebab wujud dan sebab dari yang banyak dan Ia-pun mengeluarkan dari yang tiada, bentuk (copy) diri-Nya, yang mempunyai segala sifat dan namaNya, dan

bentuk (copy) tersebut adalah Adam, dan seterusnya. Setelah Adam tercipta dengan cara-Nya, maka Ia sangat mencintai dan memulia­kannya di syurga dan sebagai khalif di bumiNya. (Drs Shodiq SE, Kamus Istilah Agama, CV Sienttarama Jakarta, cetakan kedua, 1988, hal 122-123).

Kemudian akibat pendapatnya yang mengandung kemusyrikan itu maka Al-Hallaj yang lahir di Fars, Parsi (Iran) 244H/ 858M ini dihukum bunuh pada tanggal 24 Zulqa’dah tahun 309H/ 26 Maret 922M, di Baghdad di bawah kekhalifahan Abbasiyah, khalifah ke-18 dari 37 khalifah, Al-Muqtadir bi ‘l-lah (Ja’far Abu ‘l-Fadhl, yang berkuasa pada tahun 295-320H/ 908-932M. Selain Al-Hallaj dituduh membawa paham yang menyesatkan (paham hulul), ia juga dituduh mempunyai hubungan dengan Syi’ah Qaramitah, suatu kelom­pok Syi’ah garis keras yang dipimpin oleh Hamdan bin Qarmat yang menentang pemerintahan Dinasti Abbasiyah sejak abad ke-10 sampai abad ke-11. (lihat Ensiklopedi Islam, Kafrawi Ridwan dkk ed, PT Ichtiar Baru van Hoeve Jakarta, cet V, 1999, huruf H, hal 74-75).

Sumber lain menyebutkan, Abu Mughits Al-Husein bin Mansur Al-Hallaj (244-309H) dilahirkan di Persia, seorang cucu dari penganut Zoroaster, dibesarkan di Irak. Tokoh inilah yang terkenal dengan “Hululiyin” (para penganut faham panteisme) dan “Ittihadiyyin” (para penganut faham manunggaling kawula gusti). Ia ditu­duh kafir, dibunuh dan disalib karena 4 perkara yang dituduhkan kepadanya:

1. Karena berhubungan dengan orang-orang Qaramithah (Syi’ah ekstrim).
2. Karena ucapannya: “Aku adalah Tuhan Yang Haq.”
3. Karena pengikutnya meyakini akan ketuhanan dirinya.
4. Karena pendapatnya tentang haji, bahwa haji ke Baitullah tidak termasuk suatu kewajiban yang harus dilaksanakan.

Tentang kepribadiannya, banyak hal-hal yang tidak jelas. Pertama sikapnya yang sangat keras kepala, membangkang, dan ekstrim. Ia mengarang buku “Al-Thawwasin”, yang diteliti dan diterbitkan kembali oleh Louis Massignon (seorang orientalis).

(Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMI, Al-Mausu’ah al-Muyassarah fil Adyan wal Madzaahib al Mu’ashirah, diterjemahkan A Najiyulloh menjadi Gerakan Keagamaan dan Pemikiran, Akar Ideologis dan Penyebarannya, Al-Ishlahi Press, Cet I, 1995, jilid II, hal. 259).

Ulama yang hidup pada masa itu di antaranya At-Thabari ahli tarikh/ sejarah (w 923M/ tidak menemui disalibnya Al-Hallaj 932M). Al-Asy’ari (260-324H) ahli ilmu kalam yang pernah berfaham Mu’tazilah selama sekitar 40 tahun, kemudian berubah ke faham yang kini disebut Asy’ariyyah atau Asya’irah, dan kemudian rujuk ke Manhaj (jalan) Salaf (sahabat, tabi’ien dan tabi’it tabi’in) dengan menyusun Kitab Al-Ibanah, kitab Tauhid yang Manhajnya Salaf, namun para pengikut kini merujuknya bukan ke yang Salaf itu tapi ke yang Asy’ariyah yang berdekatan dengan faham Maturi­diyah. Beliau wafat tahun 935M, berarti masih hidup selama 3 tahun setelah disalibnya Al-Hallaj 932M. Sedang Junaid Al-Baghda­di, mufassir shufi pertama, meninggal tahun 910M, saat itu Al-Hallaj baru berumur 2 atau 3 tahun, yang kemudian ketika umur 25 tahun Al-Hallaj dibunuh dan disalib di jembatan Baghdad lantaran fahamnya yang dinilai sangat membahayakan Islam.

Dan di antara aqidah sufi yaitu Wihdatul Wujud (manunggaling kawula Gusti, bersatunya hamba dengan Tuhan, lihat pada Bab Nur Muhammad, Hakekat Muhammad, dan Wihdatul Wujud) di mana tidak ada pemisahan antara Khaliq dan makhluk. Inilah aqidah yang terakhir yang tersebar sejak abad ketiga Hijriyah sampai hari ini, dan diterapkan akhir-akhir ini oleh setiap tokoh tasawwuf. Yang paling terkenal dalam aqidah ini adalah Ibnu ‘Arabi, Ibnu Sab’in, At-Tilmasani, Abdul Karim Al-Jilli, Abdul Ghani An-Nablisi dan para tokoh tarekat-tarekat sufisme baru pada umumnya. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 44, Al-Fikrus Shufi cet 4, hal 58, As-Shufiyyah aqidah wa ahdaf, hal 21, terjemahannya, hal 23-24).

Ada pula aqidah shufi yang namanya ittihad, yaitu bersatunya seorang sufi (tasawwuf) sedemikian rupa dengan Allah SWT setelah terlebih dahulu melalui penghancuran diri (fana’) dari keadaan jasmani dan kesadaran rohani untuk kemudian berada dalam keadaan baka’ (tetap/ bersatu dengan Allah SWT).

Paham ittihad pertama kali dikemukakan oleh shufi Abu Yazid al-Bustami (meninggal di Bistam, Iran, 261H/ 874M).

Pada suatu waktu dalam pengembaraannya, setelah shalat subuh Yazid al-Bustami berkata kepada orang-orang yang mengikutinya: Innii ana Allah laa ilaaha illaa ana fa’budnii (Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tiada Tuhan melainkan aku, maka sembahlah aku).” Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang menyertainya mengatakan bahwa al-Bustami telah gila.

Menurut pandangan para shufi, ketika mengucapkan kata-kata itu, al-Bustami sedang berada dalam keadaan ittihad, suatu maqam (tingkatan) tertinggi dalam paham tasawwuf.

Dalam keadaan ittihad, seorang shufi sering mengucapkan kata-kata yang aneh, seakan-akan ia mengaku sebagai Tuhan, seperti yang diucapkan al-Bustami di atas (Sesungguhnya aku ini Allah, tiada Tuhan melainkan aku, maka sembahlah aku). Al-Bustami juga pernah mengucapkan kata-kata: Subhani subhani, ma a’dhama sya’ni (Maha Suci aku, Maha Suci aku, alangkah Maha Agungnya aku).

Al-Bustami juga berkata: Laisa fi al-jubbah illa Allah (tidak ada di dalam jubah ini kecuali Allah).

Kata-kata seperti itu disebut syathahat (perkataan —aneh-aneh— yang keluar dari mulut seorang shufi ketika ittihad, menyatu dengan Tuhan). Dalam pandangan shufi, kata-kata itu bukan keluar dari seorang shufi tetapi kata-kata Allah SWT melalui lisan seorang shufi tetapi sedang dalam keadaan ittihad. Bukan Zat Allah SWT yang berbicara, tetapi aspek Allah SWT yang ada pada diri shufi itulah yang sedang berbicara. (lihat Ensiklopedi Islam, huruf I, halaman 286-287).

Betapa jauhnya kepercayaan shufi itu dari Islam. Allah SWT disamakan dengan jin atau syetan yang masuk ke diri manusia hingga manusianya menjadi kesurupan (ke-jin-an/majnun), dan bicaranya ngaco (merancu tak keruan), hanya saja dinamakan syathahat yaitu bicara ngaco namun justru dianggap telah sampai pada tingkatan (maqom) tertinggi –yang mereka tuduhkan– yakni ittihad, menyatu dengan Tuhan. Na’udzubillaahi min dzaalik, dari aqidah yang amat sesat itu.

“Paham-paham ittihad, hulul ataupun wahdah al-wujud ini dipandang sesat dan menyesatkan oleh ulama-ulama syari’at. Oleh sebab itu, para penulis tentang shufi atau tasawwuf pada abad ke-3 dan ke-4 Hijriah (masa subur dan berkembangnya paham tasawwuf), seperti Abu Bakar Al-Kalabadi (w 380H) dan Abu Qasim Abdul Karim al-Qusyairi (w 465H), enggan menulis masalah-masalah tersebut.

Uraian mengenai hal ini dapat dijumpai dalam tulisan-tulisan kaum Orientalis. Kemudian penulis Islam pun tergerak kembali hasratnya untuk mengungkapkan khazanah lama miliknya itu.” (Ensiklopedi Islam, huruf I, halaman 287).

Bagaimana buku itu menggambarkan seakan tasawwuf itu suatu yang berharga sekali dan sayang kalau hilang, ditulis dalam baris-baris kutipan terakhir tersebut. Istilah yang dikemukakan pun tampak dibuat sedemikian rupa, hingga para ulama pun disebut “ulama-ulama syari’at”, seakan Islam itu tidak komplit kalau tidak pakai tasawwuf. Sedang para ulama yang ahli hadits, fiqh, tafsir dsb yang tentu saja faham benar tentang sesatnya tasawwuf, disebutnya ulama-ulama syari’at.

Telah disebutkan di atas, bagaimana Imam Ahmad bin Hanbal menasihati murid-muridnya agar tidak mendekati orang sufi. Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah seorang yang termasuk imam empat yang sangat terkenal, yaitu Imam Hanafi (lahir di Kufah 80H- w. di Baghdad 150H/ 700-772M), Imam Maliki (Madinah 93- 179H/ 712-798M), Imam Syafi’i (Ghazza 150H/ 767M – w. di Fusthat Mesir 204H/820M), dan Imam Hanbali (Baghdad 164H/780M, w. di Baghdad 241H/855M). Dalam pembicaraan ilmu, hampir tak pernah mereka itu disebut ulama syari’at (untuk maksud bahwa ada ulama tasawwuf) seperti penyebutan dalam Ensiklopedi itu, tetapi adalah Imam (madzhab) yang empat, artinya mereka itu ulama, yang tingkatannya mujtahid mutlak, orang yang mampu berijtihad (mencurahkan pikiran untuk menentukan hukum syara’ yang tidak ada dalam nash/teks ayat ataupun hadits) tanpa bersandar pada orang lain. Sehingga, ulama-ulama belakangan yang meneruskan ilmu para mujtahid atau imam madzhab tersebut, sebenarnya tidak perlu disebut ulama syari’at. Cukup disebut ulama. Namun orang shufi menyebutnya ulama syari’at karena dianggap tidak mengetahui yang batin atau yang ghaib. Padahal Nabi Muhammad SAW sendiri tidak mengetahui yang ghaib, bahkan jelas-jelas menegaskan bahwa Nabi tidak tahu apa yang diperbuat Allah untuk Nabi sendiri esok (lihat dalam bab aqidah). Allah berfirman:

“Katakanlah! Tidak ada yang dapat mengetahui perkara ghaib di langit dan di bumi kecuali Allah.” (An-Naml: 65).

Ada sebagian delegasi yang datang ke Nabi SAW, mereka mengang­gap bahwa Nabi termasuk orang yang mengaku bisa melihat yang ghaib, maka mereka menyembunyikan sesuatu di dalam (genggaman) tangan mereka untuk beliau. Dan mereka berkata pada beliau: “Khabarkan pada kami, apa dia (yang ada dalam genggaman kami ini)? Lalu beliau menjawab kepada mereka dalam keadaan berteriak:

“Innii lastu bikaahinin, wa innal kaahina wal kahaanatu walkuhhaana fin naar.”

(Aku bukan seorang dukun. Sesungguhnya dukun dan perdukunan serta dukun-dukun itu di dalam neraka.”) (HR Abu Dawud, 286).

Kembali kepada buku tersebut, untuk menegaskan satu sikap dari suatu buku, ataupun untuk mengemukakan bahwa shufi itu juga perlu dianggap bahwa di sana ada ulamanya, maka maksud-maksud itu bisa dibaca pula. Sebagaimana Abdur Rahman Abdul Khaliq dalam bukunya yang menyoroti shufi itu menyebut shufi sebagai ad-dien as-shufi (agama sufi), bukan sekadar aliran shufi, karena memang shufi ataupun tasawwuf dinilai sebagai di luar agama Islam. Hanya saja bedanya, pihak yang satu (pembela shufi) ingin mendorong agar shufi atau tasawwuf dimasukkan ke Islam, sedang pihak yang lain (penolak shufi) menjelaskan dengan bukti-bukti dan dalil bahwa shufi atau tasawwuf itu di luar Islam. Kalau sudah demikian, maka jalan keluarnya, kita ikuti perin­tah Allah SWT:

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS An-Nisaa’/ 4:59).

Coba kita kembalikan kepada Al-Quran atau Sunnah Rasul, apakah memang aqidah shufi itu cocok. Aqidah shufi terutama ittihad, hulul, dan wihdatul wujud itu sudah mencampuri urusan keghaiban yang tertinggi, yaitu dzat Allah SWT. Padahal, Nabi SAW telah menegaskan:

Wallahi innii larosuulullaah, laa adrii maa yaf’alu bii ghodan.

Demi Allah, sesungguhnya aku ini pasti utusan Allah, (tetapi) aku tidak tahu apa yang akan Allah kerjakan padaku esok.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari 3/ 358, 6/223 dan 224, 8/ 266 dalam Fathul Bari; dan riwayat Imam Ahmad 6/ 436 dari Ummul ‘Ala’ Al-Andhariyah dengan semacamnya).

Selanjutnya, untuk menuntaskan masalah ini, akan dibahas –insya Allah—dalam bab Lemahnya Alasan Shufi dan Pendukungnya.

2. Aqidah Shufi Mengenai Rasulullah SAW

Sufisme dalam hal mempercayai Rasulullah juga ada bermacam-macam aqidah. Di antaranya ada yang menganggap bahwa Rasul SAW tidak sampai pada derajat dan keadaan mereka (orang-orang shufi). Dan Nabi SAW (dianggap) jahil (bodoh) terhadap ilmu tokoh-tokoh tasawwuf seperti perkataan Busthami: “Kami telah masuk lautan, sedang para nabi berdiri di tepinya.”

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, pengarang kitab Ila at-Tashawwuf ya ‘Ibadallaah menisbatkan perkataan tersebut kepada At-Tijani (pendiri tarekat At-Tijaniyah). Lalu Al-Jazairi berkomentar: Kelanjutan ucapan At-Tijani ini bahwa quthub-quthub (wali-wali yang ada di kutub-kutub dunia) shufi itu menurut pendapat mereka lebih tahu dibanding Nabi-nabi tentang Allah dan lebih mengerti tentang syari’atNya yang mengandung kecintaan dan kemarahan. Bukankah (kepercayaan) ini merupakan kekafiran wahai hamba-hamba Allah? komentar Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Khatib Masjid Nabawi Madinah. (Ila at-Tashawwuf ya ‘Ibadallaah, Jam’iyyah Ihyait Turats Al-Islami, halaman 40).

Di antara mereka (orang-orang shufi) ada yang mempercayai bahwa Rasul Muhammad itu adalah kubah alam, dan dia itulah Allah yang bersemayam di atas Arsy, sedangkan langit-langit, bumi, arsy, kursi, dan semua alam itu dijadikan dari nurnya (nur Muham­mad), dan dialah awal kejadian, yaitu yang bersemayam di atas Arasy Allah. Inilah aqidah Ibnu Arabi dan orang-orang yang datang setelahnya/ pengikutna. (fadhoihus Shufiyyah, hal 44-45, Al-fikrus Shufi, hal 58-59, As-Shufiyyah Aqidah wa Ahdaf, hal 22, terjemahnya halaman 24-25).

3. Aqidah Shufi Mengenai Wali-wali.

Sufisme dalam hal wali-wali juga mempercayai dengan keper­cayaan yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang melebihkan wali di atas nabi. Pada umumnya orang shufi menjadikan wali itu menyamai/sejajar dengan Allah dalam segala sifatnya, maka ia (wali) itu mencipta, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur alam.

Orang shufi membagi-bagi wali menjadi beberapa bagian, ada yang disebut wali Al-Ghauts yang mempunyai kemauan sendiri dalam segala sesuatu di dunia ini, dan ada 4 Wali Kutub yang memegangi pojok-pojok yang empat di dunia ini atas perintah wali Al-Ghauts. Dan ada wali Abdal yang tujuh, masing-masing mempunyai kekuasaan di satu benua dari 7 benua atas perintah wali Al-Ghauts. Dan ada wali Nujaba’, yang mereka itu memiliki kekuasaan di kota-kota setiap wilayah di kota. Di kota-kota, demikianlah seterusnya, maka jaringan wali-wali internasional ini menguasai makhluk, dan mereka punya dewan tempat mereka berkumpul yaitu di Gua Hira’, setiap malam mereka melihat taqdir. Cekak aosnya (pendek kata), dunia perwalian (shufi) itu adalah dunia khurafat (kepercayaan yang menyeleweng dari kemurnian Islam) total.

Ini otomatis berbeda dengan kewalian dalam Islam yang ditegak­kan di atas agama dan taqwa, amal shaleh dan ibadah yang sempurna kepada Allah, dan membutuhkan (pertolongan) Allah. Sebenarnya wali itu tidak bisa menguasai urusan dirinya sendiri (untuk mendatangkan manfaat dan madharat) sedikitpun, lebih-lebih untuk menguasai orang lain. Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan.” (QS Al-Jinn/ 72:21). (Fadhoihus Shufiyyah, hal 45, Al-Fikrus Shufi, hal 59, As-Shufiyyah ‘Aqidah wa Ahdaf hal 22-23).

Sebagian cerita yang dikisahkan orang-orang shufi memang terjadi, namun bercampur dengan sihir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dalam bukunya yang berjudul Al-Furqan baina Auliya’ir Rahman wa Auliya’is syaithan (perbedaan antara wali-wali Tuhan dan wali-wali syetan). Buku itu muncul waktu orang-orang mencampuradukkan antara sihir dan karamah. Ibnu

Taimiyyah mengatakan bahwa sebagian orang musyrik, baik dari Bangsa Arab, India, Turki, Yunani, maupun bangsa lain, mempunyai kegigihan dalam bidang ilmu, kezuhudan, dan ibadah; namun mereka tidak mengikuti dan tidak beriman kepada para Rasul, tidak membe­narkan berita-berita yang Rasul bawa, dan tidak mentaati perin­tahnya. Orang-orang seperti itu bukanlah orang-orang yang beriman, dan bukan pula wali-wali Allah. Mereka adalah orang-orang yang dihubungi dan dihampiri oleh syetan-syetan. Mereka dapat mengungkapkan beberapa perkara ghaib, mereka memiliki beberapa perilaku luar biasa yang merupakan bagian dari sihir. Mereka itu tukang sihir yang dihampiri syetan-syetan. Allah Ta’ala berfir­man:

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syetan-syetan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa. Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syetan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (As-Syu’ara: 221-223).

Mereka bersandar kepada Mukasyafat (penyingkapan perkara- perkara yang ghaib) dan hal-hal yang luar biasa. Apabila mereka tidak mengikuti Rasul, tentu amalan-amalan mereka mengandung dosa seperti kemusyrikan, kedzaliman, kekejian, sikap berlebihan, atau bid’ah dalam ibadah. Mereka dihampiri dan didatangi syetan-syetan, sehingga mereka menjadi wali-wali syetan, bukan wali-wali Ar-Rahman (Tuhan). Allah Ta’ala berfirman:

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Allah) Yang Maha Pemurah (Al-Quran), kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), dan syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az-Zukhruf/ 43:36).

Pengajaran Allah (Dzikrur Rahman) adalah pengajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya saw, yakni al-Quran.

Barangsiapa tidak beriman kepada Al-Quran, tidak membenarkan beritanya, dan tidak meyakini kewajiban perintahnya, berarti dia telah berpaling dari Al-Quran, kemudian syetan datang menjadi teman setia baginya.

Seseorang yang selalu berdzikir kepada Allah, baik malam maupun siang, disertai dengan puncak kezuhudan dan kesungguhan beribadah kepada-Nya, namun tidak mengikuti dzikir yang Allah turunkan, yakni Al-Quran, maka dia termasuk wali syetan, meskipun dia mampu terbang di angkasa atau berjalan di atas air. Syetanlah yang membawanya ke angkasa sehingga ia mampu terbang. (Ibnu

Taimiyyah, Al-Furqan baina Auliya’ir Rahman wa Auliya’is syaithan, 1396H, hal 11 seperti dikutip Laila binti Abdillah dalam As-Shufiyyah Aqidah wa Ahdaf, Darul Wathan, Riyadh, cetakan I, 1410H, halaman 24-25, dan terjemahan Indonesia Mewaspadai Tasawuf, Wala Press, Bekasi, I, 1416H/ 1995, hal 28-30).

Wali Allah menurut Al-Quran

Wali Allah menurut Al-Quran tidak seperti yang digambarkan oleh orang tasawwuf. Tetapi wali Allah yaitu orang-orang yang beriman dan bertaqwa, seperti yang ditegaskan Allah SWT dalam firmanNya:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekha­watiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akherat.” (QS Yunus/ 10: 62, 63, 64).

Dimaksudkan dengan wali-wali Allah dalam ayat ini ialah orang-orang mukmin dan mereka selalu bertaqwa, sebagai sebutan bagi orang-orang yang membela agama Allah, dan orang-orang yang menegakkan hukum-hukumNya di tengah-tengah masyarakat, dan seba­gai lawan kata dari orang-orang yang memusuhi agamaNya, seperti orang-orang musyrikin dan orang kafir.

Dikatakan tidak ada kekhawatiran bagi mereka, karena mereka yakin bahwa janji Allah pasti akan datang, dan pertolonganNya tentu akan tiba, serta petunjukNya tentu membimbing mereka ke jalan yang lurus. Dan apabila ada bencana menimpa mereka, mereka tetap bersabar menghadapi dan mengatasinya dengan penuh ketabahan dan tawakkal kepada Allah.

Dan tidak pula gundah hati, karena mereka telah meyakini dan rela bahwa segala sesuatu yang bersangkut paut dengan alam dan seluruh isinya tunduk dan patuh di bawah hukum-hukum Allah dan berada dalam genggamanNya. Mereka tidak gundah hati lantaran berpisah dengan dunia, karena kenikmatan yang akan diterima di akherat adalah kenikmatan yang lebih besar. Dan mereka takut akan menerima adzab Allah di hari pembalasan, karena mereka dan selu­ruh hatinya telah dibaktikan kepada agama menurut petunjukNya. Mereka tidak merasa kehilangan sesuatu apapun, karena telah mendapatkan petunjuk yang tak ternilai besarnya.

Kemudian daripada itu Allah SWT menjelaskan siapa yang dimak­sud dengan wali-wali Allah yang berbahagia itu, dan apakah sebab­nya mereka itu demikian. Penjelasan yang didapat di dalam ayat ini; wali itu ialah orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa. Dimaksud beriman di sini ialah orang yang beriman kepada Allah, kepada malaikatNya, kepada kitab-kitabNya, kepada Rasul-rasul-Nya, dan kepada hari qiyamat, dan segala kepastian yang baik dan yang buruk semuanya dari Allah, serta melaksanakan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Sedang yang dimaksud dengan bertaqwa ialah memelihara diri dari segala tindakan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah, baik hukum-hukum Allah yang mengatur tata alam semesta, ataupun hukum syara’ yang mengatur tata hidup manusia di dunia.

Sesudah itu Allah SWT menjelaskan bahwa mereka mendapat khabar gembira, yang mereka dapati di dalam kehidupan mereka di dunia dan kehidupan mereka di akherat. Khabar gembira yang mereka dapati ini, ialah khabar gembira yang telah dijanjikan Allah melalui Rasul-Nya. Khabar gembira yang mereka dapatkan di dunia seperti kemenangan yang mereka peroleh di dalam menegakkan kali­mat Allah, kesuksesan hidup lantaran menempuh jalan yang benar, harapan yang diperoleh sebagai khalifah di dunia, selama mereka tetap berpegang kepada hukum Allah dan membela kebenaran agama Allah akan mendapat husnul khatimah. Adapun khabar gembira yang akan mereka dapati di akherat yaitu selamat dari kubur, dari sentuhan api neraka dan kekalnya mereka di surga ‘Adn. (Al-Quran dan Tafsirnya, Depag RI, 1985/1986, juz 11, halaman 418-419).

Ada orang yang mengatakan, bahwa wali Allah itu orang keramat, dapat mengerjakan perkara-perkara yang ajaib dan aneh, seperti berjalan di atas air, dapat menerka yang dalam hati orang dan sebagainya. Maka yang demikian itu, bukanlah menurut istilah Al-Quran, melainkan menurut istilah orang tasauf. Bahkan ada juga yang disebut wali Allah, orang yang kurang akalnya, dan ganjil perbuatannya. (Prof Dr H Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, PT Hidakarya Agung Jakarta, cetakan ke-27, 1988M/ 1409H, halaman 300).

Jelaslah bedanya, antara wali Allah menurut Al-Quran, dan wali Allah menurut orang tasawwuf atau shufi. Orang yang kurang akal­nya dan ganjil perbuatannya pun disebut wali, itu jelas di luar ajaran Al-Quran.

Mafhum mukhalafahnya (pengertian tersiratnya), ketika orang-orang justru mengangkat-angkat orang model terakhir itu sebagai wali dan dihormati, bahkan dijadikan pemimpin yang menentukan urusan orang banyak, boleh diduga keras bahwa orang-orang itu memang telah lari dari Al-Quran. Dan itulah sebenarnya bencana bagi ummat Islam. Namun anehnya, di khutbah-khutbah Jum’at atau di pengajian pun diserukan oleh para khatib –yang model itu– untuk bersyukur kepada Allah SWT atas telah dipilihnya orang yang mereka anggap wali –padahal sebenarnya sama sekali bukan– itu.

Ya Allah, tunjukilah hamba-hambaMu yang lemah ini, agar tidak terseret oleh ocehan mereka yang sangat jauh dari ajaranMu itu.

4. Aqidah Shufi Mengenai Surga dan Neraka:

Mayoritas orang shufi (menurut Abdur Rahman Abdul Khaliq, semuanya) berkeyakinan bahwa menuntut surga merupakan suatu aib besar. Seorang wali tidak boleh menuntutnya (mencari surga) dan barangsiapa menuntutnya, dia telah berbuat aib.

Menurut mereka, yang patut dituntut adalah al-fana’ (menghancurkan diri dalam proses untuk menyatu dengan Allah SWT) yang mereka klaim (dakwakan) terhadap Allah, dan melihat keghaiban, dan mengatur alam… Inilah surga orang shufi yang mereka klaim.

Adapun mengenai neraka, orang-orang shufi berkeyakinan juga bahwa lari darinya itu tidak layak bagi orang shufi yang sempur­na. Karena takut terhadap neraka itu watak budak dan bukan orang-orang merdeka. Di antara mereka ada yang berbangga diri bahwa seandainya ia meludah ke neraka pasti memadamkan neraka, seperti kata Abu Yazid al-Busthami (Parsi, w. 261H/ 874M).

Dan orang shufi yang berkeyakina dengan Wahdatul Wujud (menyatu dengan Tuhan), di antara mereka ada yang mempercayai bahwa orang-orang yang memasuki neraka akan merasakan kesegaran dan keni’matannya, tidak kurang dari keni’matan surga, bahkan lebih. Inilah pendapat Ibnu Arabi dan aqidahnya. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 46). Seperti disebutkan dalam buku Ibnu Arabi, Fushushul Hukm.

Orang jahil di masa kita sekarang kadang menyangka bahwa aqidah mengenai surga (model shufi) ini adalah aqidah yang ting­gi, yaitu manusia menyembah Allah tidak mengharapkan surga dan tidak takut neraka. Ini tidak diragukan lagi (jelas) menyelisihi aqidah kita yang terdapat di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Allah telah mensifati keadaan para nabi dalam ibadah mereka bahwa:

Mereka berdo’a kepada Kami dengan harap (roghoban) dan takut (rohaban). Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’.” (QS Al-Anbiyaa’: 90).

Ar-roghob yaitu mengharapkan surga Allah dan keutamaanNya, sedang ar-rohab yaitu takut dari siksaNya, padahal para nabi itu mereka adalah sesempurna-sempurnanya manusia (segi) aqidahnya, keimanannya, dan keadaannya.

Dan (landasan) dari As-Sunnah: Perkataan seorang Arab Badui kepada Nabi SAW:

“Wallahi, sungguh aku tidak bisa mencontoh dengan baik bacaan lirihmu (dandanik –suara tak terdengarmu) dan bacaan lirih Mu’adz. Namun hanya aku katakan, “Ya Allah, aku mohon surga kepadaMu, dan berlindung kepadaMu dari neraka.” Lalu Rasulullah saw berkata: “Sekitar itu juga bacaan lirih kami.” (Hadits Riway­at Ibnu Majah).

Keadaan yang diupayakan oleh orang-orang shufi untuk diwujud­kan yaitu beribadah kepada Allah tanpa mengharapkan (surga) dan tanpa merasa takut (neraka), maka menyeret mereka kepada bencana. Mereka berusaha kepada tujuan yang lain dengan ibadah yaitu yang disebut fana’ (meleburkan diri) dengan Tuhan, dan ini menyeret mereka kepada al-jadzdzab (merasa melekat dengan Tuhan), kemud­ian menyeret mereka pula kepada al-hulul (inkarnasi/penjelmaan Tuhan dalam diri manusia), kemudian menyeret mereka pula pada puncaknya kepada wihdatul wujud (menyatunya Tuhan dengan hamba/manunggaling kawula Gusti). (As-Shufiyyah aqidah wa ahdaf, hal 26-27).

5. Aqidah Shufi Mengenai Iblis dan Fir’aun

Mengenai iblis, kebanyakan orang shufi, khususnya para penga­nut kepercayaan wihdatul wujud, berkeyakinan bahwa iblis adalah hamba yang paling sempurna dan makhluk yang paling utama tauhid­nya. Karena menurut anggapan mereka, iblis tidak mau sujud kecua­li kepada Allah. Dan mereka mengklaim bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa iblis dan akan memasukkannya ke surga. Demikian pula anggapan mereka, Fir’aun adalah seutama-utamanya orang yang mentauhidkan (mengesakan) Allah (muwahhidien). Karena Fir’aun berkata: “Saya adalah Tuhanmu yang tertinggi” maka ia mengetahui hakekat, karena setiap yang wujud itu adalah Allah, kemudian dia (Fir’aun) menurut klaim mereka, telah beriman dan masuk surga. (lihat Syarh Fushushul Hukm, halaman 418, Fadhoihus Shufiyyah, hal 47, As-Shufiyyah Aqidah wa Ahdaf, hal 27-28, Al-Fikrus shufi, hal 60).

Pijakan Pertama untuk Membantah Shufi

Sebagian banyak taman-teman dari kalangan Muslimin yang tak suka pada tasawwuf dan penyelewangan-penyelewengannya, mereka memulai bantahannya terhadap shufi dengan pijakan awal yang salah. Mereka mendebat shufi mengenai perkara-perkara pinggiran dan cabang-cabangnya, seperti bid’ahnya shufi dalam dzikir-dzikir, penamaan mereka dengan shufi, pengadaan perayaan-perayaan maulid atau bawaan tasbeh-tasbeh mereka, atau pakaian-pakaian mereka yang tambal-tambalan dan semacamnya berupa gejala-gejala aneh yang tampak.

Memulai bantahan dengan perkara-perkara sekitar ini adalah langkah awal yang salah total. Walaupun perkara (yang disandang shufi) ini semuanya adalah bid’ah yang menyelisihi syari’at, dan mengada-adakan kebohongan dalam agama, namun (memulai bantahan dengan perkara-perkara cabang itu) menyamarkan hal yang lebih penting dan lebih besar. Artinya, cabang-cabang ini tidak boleh untuk pijakan awal dalam mendebat shufi, dan meninggalkan hal-hal pokok. Memang benar, (cabang-cabang bid’ah shufiyah) itu tadi adalah dosa-dosa dan penyelewengan-penyelewangan, tetapi ia adalah kecil sekali apabila dibanding dengan dosa-dosa besar, kebohongan-kebohongan, kekafiran-kekafiran yang dahsyat, dan tujuan-tujuan hina dina yang berjalan dalam pemikiran shufi. Oleh karena itu wajib bagi orang yang membantah shufi untuk memulai dengan hal-hal pokok, dan induk-induk, bukan dengan cabang-cabang dan sub-sub bentuk. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 49-50).

Barangkali dengan Anda telah membaca perbedaan pokok antara Al-Islam dan tasawwuf, Anda telah tahu apa yang seyogyanya Anda mulai dalam berdebat, yaitu tentang manhaj talaqqi (pola pengam­bilan –pemahaman) dan penetapan agama. Yaitu isi dari jawaban pertanyaan: Bagaimana kita mengambil (sumber) agama? Dan bagaima­na kita menetapkan aqidah dan ibadah, dan apa itu sumber-sumber pemahamannya?

Islam menjadikan sumber pemahaman terbatas pada Al-Quran dan As-Sunnah saja. Dan tidak boleh menetapkan aqidah kecuali dengan nash/ teks dari Al-Quran dan perkataan Rasul. Dan tidak ada pene­tapan syari’at kecuali dengan kitab dan Sunnah, dan ijtihad yang sesuai dengan keduanya. Ijtihad itu benar dan salah, tidak ada yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) kecuali Al-Quran dan Sunnah RasulNya saja.

Adapun tasawwuf, maka agama mereka (didapatkan) melalui klaim syeikh-syeikh, bahwa mereka mengambilnya dari Allah secara langsung, tanpa perantaraan, dan dari Rasul yang mereka klaim bahwa Rasul selalu datang ke majlis-majlis, dan tempat-tempat dzikir mereka. Juga dari malaikat, dari jin yang mereka nama­kan dengan badan halus (ruhaniyyin), dan dengan kasyf yang mereka klaim bahwa keghaiban-keghaiban tersingkap oleh hati wali, maka wali itu melihat apa-apa yang di langit-langit dan bumi, dan hal-hal yang telah lalu serta yang akan datang. Maka wali bagi mereka tidak ada sebijipun apa-apa yang di langit dan di bumi yang terlewat dari ilmu wali.
Oleh karena itu, jadikanlah pertanyaan pertama kepada shufi:

Bagaimana kalian menetapkan agama itu? Dan dari mana kalian mengambil sumber aqidah kalian?

Apabila shufi menjawab padamu: “Dari Al-Quran dan As-Sunnah,” maka katakanlah padanya: Al-Quran dan As-Sunnah menyaksikan bahwa iblis itu kafir, dia dan pengikut-pengikutnya akan dimasukkan ke dalam neraka, sebagaimana Allah Ta’ala firmankan:

“Dan berkatalah syetan, tatkala perkara (hisab) telah disele­saikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menya­lahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu, dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS Ibrahim/ 14:22).

Syetan di sini adalah iblis menurut ijma’ para mufassir salaf (tiga generasi awal: shahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in). Arti wamaa antum bimushrikhi adalah kamu tidak dapat membebaskanku dan menyelamatkanku. Itu artinya iblis adalah bersama mereka di neraka. Maka apakah kalian yakin wahai orang-orang tasawwuf/shufi yang demikian itu?

Kalau orang shufi mengatakan padamu, “Ya, kami percaya bahwa iblis dan pengikut-pengikutnya itu di dalam neraka,” maka dia (shufi) telah berbohong padamu. Dan kalau ia berkata padamu, “Kami tidak percaya bahwa iblis di neraka, dan kami percaya bahwa iblis tobat dari apa yang telah lalu darinya, atau iblis adalah hamba yang meng-esakan Tuhan (muwahhid) lagi mu’min seperti kata guru mereka Al-Hallaj”; maka katakanlah padanya (shufi): Sungguh kalian telah kafir karena kalian telah menyelisihi Al-Quran dan Hadits-hadits Rasul dan ijma’ ummat bahwa iblis itu kafir dan termasuk penghuni neraka (ahlin naar). Maka katakanlah padanya: Syeikh akbar kamu, Ibnu Arabi, telah menghukumi bahwa Iblis di dalam surga, dan Fir’aun juga di surga (seperti dalam kitabnya, Fushushul Hukm). Dan guru besarmu, Al-Hallaj, bahwa iblis itu adalah penuntunnya, sedang syeikhnya adalah Fir’aun, seperti tercantum dalam kitab At-Thawwasin halaman 52. Lalu apa yang kamu katakan dalam hal itu (wahai orang shufi)?

Apabila ia (orang shufi) mengingkarinya maka dia adalah orang pembesar yang ngeyel (ngotot), atau jahil (orang bodoh) yang tidak tahu. Sedangkan kalau dia mengakui yang demikian dan men­gikuti Al-Hallaj dan Ibnu Arabi maka sungguh dia telah kafir seperti mereka kafir, dan jadilah ia termasuk teman-teman Iblis dan Fir’aun, cukuplah yang demikian itu sebagai teman di dalam neraka. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 51-52).

Dan apabila ia ingin menipumu dan berkata: “Sesungguhnya perkataan mereka ini adalah dalam keadaan syathah (mengeluarkan kata-kata aneh dalam keadaan tidak sadar)” yang mereka katakan bahwa itu dikuasai keadaan dan mabuk, maka katakanlah padanya: Bohong kamu. Karena perkataan ini ada dalam kitab-kitab yang dikarang, dan Ibnu Arabi telah mengeluarkan kitab Fushushul Hukm dengan ucapannya: “Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah dalam mimpi di Mahrusah Damsik dan beliau memberiku kitab ini, dan beliau bersabda padaku, ‘keluarlah dengannya (kitab ini) kepada para manusia’.”

Padahal kitab ini lah yang menyebutkan bahwa Iblis dan Fir’aun itu termasuk orang-orang yang arif lagi selamat, dan Fir’aun itu lebih tahu tentang Allah daripada Musa. Dan bahwa setiap orang yang menyembah sesuatu (apapun) maka dia itu tidak menyembah kecuali (menyembah) Allah.

Al-Hallaj pun demikian, ia menulis segala kekafiran-kekafirannya dalam kitabnya, sedang dia tidak dalam keadaan syathah (mengeluarkan kata-kata aneh dalam keadaan tidak sadar) atau dikuasai keadaan seperti yang mereka katakan.

Apabila orang shufi mengatakan padamu: “Mereka itu telah berbi­cara dengan bahasa yang kita tidak tahu,” maka katakalah pada si shufi itu: Sungguh mereka telah menulis pembicaraan mereka dengan Bahasa Arab dan disyarahkan (dijelaskan) oleh murid-murid mereka dan telah mereka tulis/ uraiakan hal itu.

Apabila si shufi mengatakan, “Sesungguhnya ini adalah bahasa khusus untuk ahli tasawwuf yang tidak diketahui oleh selain mereka,” maka katakanlah padanya (si shufi): Sesungguhnya bahasa mereka ini adalah Bahasa Arab, dan mereka telah menyebarkannya kepada para manusia dan tidak menjadikannya khusus bagi mereka, sedangkan para Ulama Muslimin telah menghukumi Al-Hallaj dengan kafir, dan dia disalib di atas jembatan Baghdad tahun 309H dengan sebab makalahnya. Dan demikian pula Ulama Muslimin telah menghu­kumi kafir dan zindiq terhadap Ibnu Arabi.

Apabila si shufi mengatakan padamu: “Saya tidak mengakui peng­hukuman Ulama Syari’at karena mereka itu ulama lahir yang tidak tahu hakekat,” maka jawablah padanya (si Shufi): Yang lahir ini adalah (sesuai dengan) Al-Quran dan As-Sunnah/ Al-Hadits, dan setiap hakekat yang berbeda dengan yang lahir ini maka dia batil. Dan apakah hakekat yang mereka dakawakan itu?

Kalau si shufi mengatakan padamu, “Hakekat yaitu sesuatu dari rahasia-rahasia yang tidak disebarkan dan tidak kita dengar”; maka katakanlah: Sungguh kalian telah menyebarkannya dan memper­dengarkannya, yaitu bahwa setiap yang wujud menurut klaim kalian adalah Allah, sedang surga dan neraka itu sama, dan Iblis dan Muhammad itu sama, dan Allah adalah makhluk dan makhluk adalah Allah, seperti kata Imammu dan Syeikh Akbarmu:

Al-‘abdu robbun wa robbu ‘abdun
ya laita syi’ri manil mukallaf?
In qultu ‘abdun fadzaka robbun
wa in qultu robbun an yukallaf?

(Hamba itu Tuhan dan Tuhan itu hamba
Aduhai siapakah yang dibebani hukum?
Apabila aku katakan hamba maka itu adalah Tuhan
Dan apabila aku katakan Tuhan maka akan dibebani hukum?).

Apabila si shufi mengakui yang demikian itu dan mengikuti mereka yang zindiq-zindiq itu maka dia kafir seperti mereka. Dan apabila si shufi berkata: “Saya tidak tahu tentang perkatan ini dan tidak mengerti tetapi aku mempercayai keimanan pengucap-pengucapnya, kebersihan mereka, dan kewalian mereka”; maka katakanlah pada si shufi itu: Sesungguhnya ungkapan ini adalah ungka­pan berbahasa Arab yang jelas, tidak ada samar padanya. Dan ia mengkhabarkan tentang aqidah yang dikenal yaitu wihdatul wujud, yakni kepercayaan Hindu dan zindiq yang kalian nukil/pindahkan ke Islam dan kalian campuradukkannya dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi Saw.

Lalu apabila si shufi mengatakan padamu: “Jangan kamu menentang para wali sehingga mereka tidak menyakitimu, karena Rasulul­lah Saw bersabda, telah berfirman Allah Ta’ala:

“Barangsiapa memusuhi seorang wali maka sungguh Aku izinkan dia untuk dipe­rangi”; maka katakanlah pada si shufi: Mereka itu bukan wali, tetapi mereka hanyalah orang-orang zindiq yang berkedok Islam. Dan saya mengingkari kalian dan tuhan-tuhan kalian, “sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya, sesungguhnya Tuhanku (ada) di atas jalan yang lurus. (lihat QS Hud/ 11:55-56).

Apabila si shufi mengatakan padamu: “Wajib atas kita menyerah­kan kepada orang-orang shufi keadaan mereka. Karena mereka me­nyaksikan hakekat dan mengetahui batin agama!!” maka katakanlah pada si shufi: Bohong kamu. Kita tidak boleh bungkam terhadap seseorang tentang ucapan yang menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah, dan menyebarkan kekafiran dan kezindiqan di antara kaum Muslimin, karena Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dila’nat Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela’nati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terha­dap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (LIhat QS Al-Baqarah: 159-160).

Oleh karena itu tidak boleh bungkam terhadap kebatilan kalian dan barang murahan serta zindiq kalian, karena kalian telah merusak Dunia Islam, baik dulu maupun sekarang, dan kondisimu itu masih berlangsung sampai hari ini, kalian mengeluarkan manusia dari ibadah kepada Allah ke ibadah pada syaikh-syaikh, dan dari tauhid ke syirik dan penyembahan kuburan, dan dari sunnah ke bid’ah. Juga mengeluarkan manusia dari pemahaman Al-Quran dan As-Sunnah ke pemahaman bid’ah, khurafat, dan takhayul dari orang-orang yang mengaku-aku melihat Allah, malaikat, Rasul, dan surga. Kalian orang-orang shufi selam hidup telah membantu gerombolan-gerombolan kebatinan, dan mengabdi kepada penjajah. Oleh karena itu sama sekali tidak boleh bungkam terhadap kesesatan kalian, kesyirikan kalian, dan upaya pengalihan kalian terhadap manusia dari Al-Quranul Karim ke dzikir-dzikir bid’ah kalian dan ibadah-ibadah yang tidak lebih dari tepuk tangan dan siulan-siulan seperti ibadah musyrikin. (Fadhoihus Shufiyyah, halaman 55).

Kilah-kilah pendukung tasawwuf

Dalam buku Ensiklopedi Islam ditampilkan pendapat Harun Nasu­tion, dekan pasca sarjana IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Jakarta mengenai tasawwuf. Harun Nasution ini menurut murid-muridnya (di antaranya yang bercerita di sutu perkuliahan adalah Drs Hamdan Rasyid MA yang dia waktu itu berkuliah di Pasca Sarjana IAIN Jakarta), bahwa Dr Harun Nasution (pada akhir-akhir umur­nya) sering ke Abah Anom di Tasik Malaya Jawa Barat, tokoh tare­kat Naqsyabandiyah yang digabung dengan Qodiriyyah. Bisa kita simak pendapatnya yang dikutip buku Ensiklopedi Islam sebagai berikut:

Bagi Harun Nasution, teori-teori yang mengatakan bahwa ajaran tasawuf dipengaruhi oleh unsur asing sulit dibuktikan kebenaran­nya. Karena dalam ajaran Islam sendiri terdapat ayat-ayat dalam Al-Quran dan hadis-hadis yang menggambarkan dekatnya manusia dengan Tuhan. Di antaranya surah al-Baqarah ayat 186 yang artinya; “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa kepada-Ku.

Dalam ayat lain disebutkan pula: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi maha Menge­tahui.” (QS 2:115).

Disebutkan pula dalam surah Qaf ayat 16 yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.”

Dalam hadis qudsi (hadis yang maksudnya berasal dari Allah SWT, lafalnya berasal dari Nabi SAW) disebutkan bahwa Allah SWT berfirman:
“Barangsiapa memusuhi seseorang wali-Ku, maka Aku mengumumkan permusuhan-Ku terhadapnya. Tidak ada sesuatu yang mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku yang lebih kusukai daripada pengamalan segala yang Kufardukan atasnya. Kemudian, hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal sunnah, maka Aku senantiasa menyintainya. Bila Aku telah cinta kepadanya, jadilah Aku pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Aku penglihatannya yang dengannya ia melihat, aku tangannya yang dengannya ia memukul, dan Aku kakinya yang dengan itu ia berjalan. Bila ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan permohonannya, jika ia meminta perlindungan, ia Kulindungi.” (HR. Bukhari).

Demikian kutipan Ensiklopedi Islam, halaman 75-76.

Sanggahan terhadap pendapat Harun Nasution

Benarkah pendapat atau kilah Harun Nasution yang dikenal tidak memasukkan qodho’ dan qodar ke dalam rukun iman, dan yang dalam hal ini tampak memperkuat barisan shufi, baik secara pemikiran maupun praktek itu?

Kita simak syarah atau penjelasan Hadits Qudsi yang dia jadi­kan kilah itu, sebenarnya apakah ada kaitannya dengan tasawwuf, mari kita simak sebagai berikut:

Al-walayah dengan difathah wawunya artinya adalah almahabbah, kecintaan, dan lawannya adalah al’adawah, permusuhan. Sedang “wali” adalah lawan kata dari “musuh”, dan wali-wali Allah itu adalah orang-orang yang beriman lagi bertaqwa. Allah Ta’ala berfirman:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekha­watiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (QS Yunus/ 10:62-63).

Maka setiap orang mukmin yang bertaqwa dialah wali Allah sesuai dengan keimanan dan ketaqwaannya. Sedang orang yang kafir maka dialah musuh Allah. Lantas orang mukmin yang bermaksiat maka berkumpul pada dirinya dua perkara –dia wali Allah sesuai dengan iman yang ada dalam dirinya, dan dia musuh Allah sesuai dengan maksiat yang ada dalam dirinya. Wali itu bukan orang yang maksum (terjaga) dari kesalahan seperti yang dikira/diklaim oleh sebagian orang fanatik terhadap orang yang mereka namakan auliya’. Dan auliya’ (para wali) tidak memiliki kemampuan mengatur alam, tidak mampu menarik manfaat dan menolak bahaya dan menyembuhkan penyakit, dan menghilangkan keruwetan, seperti yang disangka oleh banyak orang ahli khurofat yang meng­gantungkan diri pada auliya’ dan menyembah mereka selain Allah, dan meminta tolong pada mereka dalam musibah-musibah berat, dan meminta pada mereka untuk mencukupi kebutuhan, dan menghilangkan keruwetan, juga meminta berkah dengan mengusap bagian-bagian badan mereka, tanah-tanah mereka, dan kuburan-kuburan mereka, dan bernadzar untuk mereka, dan menyembelih kurban untuk mereka, seperti yang dulu telah dilakukan orang-orang musyrik jahiliyah.

Seperti firman Allah Ta’ala tentang mereka:
“Dan mereka menyembah selain dari Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanf­aatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.” (QS Yunus/ 10:18).

Dan Allah Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS Az-Zumar/ 39:3).

Dan ayat-ayat lainnya.

Tidaklah setiap yang diklaim sebagai wali itu jadi wali. Sesungguhnya wali itu tidak lain hanya orang yang beriman lagi bertaqwa, sedangkan wali itu orang yang butuh dan berhajat kepada Tuhannya, dia tidak mampu memberikan mudharat dan manfaat kepada dirinya ataupun kepada orang lain. Wali-wali Allah itu wajib dicintai dan dihormati tanpa ghuluw (berlebih-lebihan) dalam menghormati mereka dan tidak berlebihan dalam mendudukkan hak mereka dengan meminta sesuatu kepada mereka yang sebenarnya tidak boleh diminta kecuali kepada Allah.

Diharamkan memusuhi mereka (wali-wali), mengurangi hak mereka, dan menyakiti mereka. Allah telah mengancam orang yang mengerja­kan hal itu dengan firmanNya dalam hadits: “Barangsiapa memusuhi wali-Ku maka sungguh Aku telah umumkan perang dengannya” artinya sungguh telah aku beritahukan bahwa aku memusuhi orang yang memusuhiKu dengan (lantaran) memusuhi wali-waliKu. Ini sesuai dengan tingkatan pertama atas orang yang memusuhi para sahabat Radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang memarahi para sahabat di antaranya orang-orang Syi’ah dan ahli bid’ah. Nabi Saw bersabda: “Janganlah kalian mencaci shabat-sahabtku. Karena, demi Allah yang diriku ada di tanganNya, seandainya seseorang kamu mengin­faqkan emas seberat Gunung Uhud maka tidak sampai sepanjang salah satu mereka dan tidak separuhnya.”

Nabi Saw juga bersabda: Allah, Allah, mengenai sahabt-sahabat­ku. Janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran, karena barangsiapa menyakiti mereka maka sungguh ia telah menyakitiku, dan barangsiapa menyakitiku maka sungguh ia telah menyakiti Allah, dan barangsiapa menyakiti Allah maka hampir saja Allah menimpakan adzab padanya.” (dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya.)

Ibnu Daqiq rahimahullah berkata: “Wali Allah Ta’ala adalah yang mengikuti apa yang disyari’atkan Allah. Maka berhati-hatilah manusia dari menyakiti hati-wali Allah ‘Azza wa Jalla.” Arti memusuhi itu kalau menjadikannya musuh, dan saya tidak melihat arti selain memusuhinya lantaran dia itu wali Allah. Adapun apabila keadaan memang menuntut adanya perselisihan pendapat antara dua wali Allah secara kehakiman ataupun pertengkaran maka dikembalikan kepada upaya mengeluarkan hak yang samar (untuk menentukan kebenaran), karena hal (pertentangan antar dua wali Allah) itu tidak termasuk dalam hadits ini. Karena sesungguhnya telah berlangsung pertengkaran antara Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, dan antara Abbas dan Ali ra, antar banyak sahabat, sedangkan mereka semua itu adalah wali-wali Allah ‘Azza wa Jalla. (Dr shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-fauzan, Ad-Dhiyaa’ al-Laami’ minal Ahaadiits al-Qudsiyyah al-Jawaami’, 1990, hal 18-21).

Kemudian Allah SWT menjelaskan sebab-sebab yang menjadikan orang memperoleh kewalian Allah Ta’ala, dan hamba itu menjadi wali Allah –artinya dicintai dan haram dimusuhi, maka Allah berfirman: Tidak ada sesuatu yang mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku yang lebih Aku sukai daripada pengamalan segala yang Kufardhukan atasnya, dan hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal sunnah, maka Aku senantiasa mencin­tainya.” Maka Allah menjelaskan bahwa sebab kewalian itu adalah mendekatkan diri kepadaNya SWT dengan mentaatiNya. Dan wali-wali Allah itu adalah mereka yang mengerjakan perbuatan dengan ta’at yang mendekatkan diri kepada-Nya dan meninggalkan maksiat terha­dap-Nya. Ini membatalkan dakwaan-dakwaan yang mengklaim kewalian bagi manusia-manusia yang menyelisihi syari’at Allah dan berbuat bid’ah, khurafat, dan syirik.

Mereka itu justru musuh-musuh Allah yang sebenarnya, bukan wali-wali-Nya.

Wali-walinya tidak lain hanya orang-orang yang taqwa.” (Al-Anfaal/ 8:34). Sedangkan mereka itu musuh-musuh Allah yang menjauhkan diri dariNya dengan perbuatan-perbuatan yang mengaki­batkan mereka terusir dan terjauhkan. Dan kalau mereka mengaku wali atau diklaim sebagai wali Allah pasti mereka membuat lahan mata pencaharian yang mengacaukan manusia dengan klaim kewalian itu, dan mereka mengeruk duit orang-orang awam. Julukan wali atau auliya’ telah menjadi sumber menangguk rezeki pada masa kini dengan membangun kuburan-kuburan dan membuka kotak-kotak amal/nadzar, lalu di sekelilingnya dijaga oleh karyawan-karyawan yang mengawasi lahan-lahan pencarian itu dengan bayaran dari uang yang jalannya tidak benar.

Sesungguhnya auliya’ullah wahai orang-orang ahli khurafat, tidak pernah mereka mendakwakan diri mereka sebagai auliya’, dan juga orang-orang Muslim tidak mendakwakan kewalian terhadap orang tertentu kecuali ada kesaksian Rasul Saw padanya tentang kewalian itu. Tetapi orang Muslim mengharapkan kepada mukmin lain suatu kebaikan, dan khawatir terhadap orang jahat mengenai kejahatannya, dan mereka mencintai orang-orang baik, dan membenci orang-orang jahat.

Mengenai firman Allah Ta’ala: Tidak ada sesuatu yang mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku yang lebih Aku sukai daripada pengamalan segala yang Kufardhukan atasnya, adalah dalil atas wajibnya memperhatikan kewajiban-kewajiban dan melaksanakannya sebelum hal-hal yang sunnat. Karena yang sunnat itu tidak diterima kecuali dengan syarat pelaksanaan yang wajib. Dan mengenai firmaNya: dan hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal sunnah, maka Aku senantiasa mencintainya.” Itu menunjukkan atas keutamaan amal sunnat dan memperbanyaknya, karena akan menyebabkan kecintaan Allah terhadap pelakunya. Makanya yang wajib-wajib itu akan menjadi sempurna karena dilak­sanakannya yang sunnat itu apabila ada kekurangan pada yang wajib.

Firman Allah Ta’ala: “Bila Aku telah cinta kepadanya, jadilah Aku pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Aku pengliha­tannya yang dengannya ia melihat, aku tangannya yang dengannya ia memukul, dan Aku kakinya yang dengan itu ia berjalan. Bila ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan permohonannya, jika ia meminta perlindungan, ia Kulindungi.” Itu artinya bahwa Allah membenarkannya, menjaganya mengenai pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan kakinya, maka ia tidak menggunakan anggota-anggota badannya ini untuk bermaksiat, dan ia hanya menggunakannya dalam ketaatan pada Allah Azza wa Jalla.

Ibnu Daqiq Al-Ied berkata: “Arti firman Allah itu bahwa ia (yang dicintai Allah ini) tidak mendengarkan apa yang tidak diizinkan Allah baginya untuk mendengarnya, dan tidak melihat sesuatu yang tidak diizinkan Allah untuk melihatnya, dan tidak mengulurkan tangannya kepada sesuatu yang tidak diizinkan Allah untuk menjangkaunya, dan tidak berjalan kecuali kepada hal yang diizinkan Allah baginya untuk menuju padanya…” selesailah arti­nya itu, dan tafsiran itu ditunjukkan pula oleh firmaNya dalam akhir hadits Qudsi tersebut: Bila ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan permohonannya, jika ia meminta perlindungan, ia Kulindungi.” Artinya, Allah Ta’ala menyertainya dengan menyetujuinya, menolongnya, dan menjaga anggota-anggota badannya dari segala larangan, karena balasan itu adalah setimpal dengan perbu­atan.

Dan Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An-Nahl/ 16:128). (Dr Al-Fauzan, ibid, hal 22-23).

Jawaban atas syubhat/ kesamaran

Hadits tersebut di atas menjadi salah satu syubhat/ kesamaran yang dijawab oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam kitabnya, Al-Qowaa’id al-Mutslaa fii Shifaatillaah wa Asmaa-ihil Husna.

Menurut Syaikh ‘Utsaimin, hadits tersebut shahih, diriwayat­kan oleh Al-Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq, bab tawadhu’.

Golongan Salaf, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, telah memahami hadits ini menurut dhahirnya dan memberlakukannya menurut apa adanya.

Akan tetapi, apakah dhahir dari hadits ini?

Apakah dikatakan: Dhahir hadits ini bahwa Allah SWT menjadi telinga, mata, tangan dan kaki si Wali? Ataukah dikatakan: Dhahirnya bahwa Allah SWT meluruskan atau membenarkan si Wali dalam pendengaran, penglihatan, gerakan tangan dan langkah kakinya, sehingga pengetahuan dan amal perbuatannya lillaah (ikhlas karena Allah), billaah (dengan memohon pertolongan Allah), dan fillaah (menuruti syari’at Allah)?

Tidak diragukan lagi, ungkap Syaikh Utsaimin, bahwa perkataan pertama bukanlah dhahir dari hadits tersebut. Bahkan, bagi orang yang memperhatikan lafadznya, hadits ini tidak menunjukkan peng­ertian itu. Soalnya, terdapat dalam lafadh hadits ini dua alasan yang menolak pengertian tadi (Allah menjadi telinga dst):

Pertama: bahwa Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi ini:

Dan hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal sunnah, maka Aku senantiasa mencintainya.” dan berfirman pula:

Bila ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan permohonannya, jika ia meminta perlindungan, ia Kulindungi.”

Ditetapkan dalam hadits tersebut adanya penghamba dan yang dihambai, yang mendekatkan diri dan yang didekati, yang mencintai dan yang dicintai, yang memohon dan yang dimohoni, yang memberi dan yang diberi, yang minta perlindungan dan yang dimintai, yang memberi perlindungan dan yang diberi. Jadi konteks hadits menun­jukkan adanya dua dzat yang saling berbeda, masing-masing berdiri sendiri. Ini berarti bahwa yang satu mustahil menjadi sifat bagi yang lain, atau menjadi salah satu bagiannya.

Kedua: telinga si Wali, matanya, tangannya, dan kakinya, semua itu merupakan sifat atau anggota tubuh pada makhluk yang hadits (baru) yang menjadi ada setelah tidak ada sebelumnya. Bagi orang yang berakal tidak mungkin memahami bahwa Al-Khaliq (Maha Pencipta) Yang Maha pertama, yang sebelumnya tidak ada satu makhlukpun, lalu menjadi alat mendengar, alat melihat, tangan dan kaki si makhluk. Bahkan hati merasa muak untuk membayangkan pengertian ini, dan lisan pun terasa kelu untuk mengucapkannya, sekalipun hanya sekadar pengendalian saja. Oleh karena itu, bagaimana bisa dikatakan bahwa pengertian inilah dhahir hadits qudsi tersebut, dan bahwa pengertian hadits di atas telah dirubah dari dhahir ini. Maha Suci Engkau Ya Allah. Segala puji bagi Engkau. (Syaikh Utsaimin, Kaidah-kaidah Utama Masalah Asma’ dan Sifat Allah SWT, CV MUS Jakarta, 1998, hal. 108-110).

Selanjutnya, Syaiklh Utsaimin menjelaskan, setelah ternyata bahwa perkataan pertama salah dan tidak dapat dibenarkan, sudah barang tentu yang benar adalah perkatan yang kedua yaitu bahwa Allah SWT meluruskan atau membenarkan si Wali dalam pendengaran, penglihatan, gerakan tangan dan langkah kakinya, sehingga dengan demikian pengetahuannya melalui pendengaran dan penglihatan serta perbuatan dengan tangan dan kaki, semua itu lillaah –ikhlas untuk Allah, billaah –dengan memohon pertolonganNya, fillaah–menuruti dan mengikuti syari’atNya.

Dengan demikian, dia benar-benar telah mewujudkan ikhlas, minta pertolonganNya (isti’anah), dan mengikuti syari’atnya (mutaba’ah) secara sempurna. Inilah taufiq (persetujuan/pertolongan Allah) yang sesungguhnya. Dan inilah tafsiran yang diberikan oleh ulama Salaf, tafsiran yang sesuai dengan dhahir lafadh­nya, menurut hakekatnya dan tepat dengan konteksnya. Tidak ada ta’wil di dalamnya atau alterasi (perubahan) nash/teks dari dhahirnya. Hanya milik Allah segala puji dan karunia.

Tentang Allah dekat

Allah berfirman:
Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawa­blah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku…(QS Al-Baqarah: 186).

Para ulama Salaf, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, memberlakukan nash ini menurut dhahirnya dan hakekat maknanya yang layak bagi Allah Azza wa Jalla, tanpa takyif (bagaimana caranya) dan tanpa tamtsil (permisalan).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam komentarnya atas hadits nuzul (turunnya Allah ke langit dunia/ terendah), mengatakan: “Adapun mendekatnya Allah kepada sebagian hamba-Nya maka hal ini ditetapkan oleh mereka yang menetapkan datangnya Allah pada hari kiamat, turunnya Allah ke langit terendah, dan bersemayamnya Allah di atas ‘arsy. Inilah madzhab Salaf, madzhab para imam Islam yang terkenal dan Madzhab Ahlul Hadits. Dan pemberitaan mengenai hal ini dari mereka adalah mutawatir.” (Majmu’ Fatawa, jilid 5, halaman 466).

Jika demikian halnya, lalu apakah halangannya bila dikatakan bahwa Allah mendekat kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki di samping Dia berada di atas ‘Arsy. Dan apakah halangannya bila dikatakan Dia menurut yang Dia kehendaki tanpa takyif dan tanpa tamsil?

Bukankah ini merupakan kesempurnaan Allah, jika Dia berbuat apa yang dikehendaki-Nya menurut pengertian yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya?

Perpaduan antara ma’iyah (kebersamaan) dan ‘uluw (keberadaan di atas) bisa terjadi pada makhluk. Soalnya, dikatakan: “Kami masih meneruskan perjalanan dan rembulan pun bersama kami”. Ini tidak dianggap bertentangan, padahal sudah barang tentu bahwa orang yang melakukan perjalanan itu berada di bumi sedangkan rembulan berada di langit. Apabila hal ini bisa terjadi pada makhluk, maka bagaimana pikiran Anda dengan Al-Khaliq yang meliputi segala sesuatu?

Bagi Allah yang demikian itu hal-Nya, apakah tidak bisa dikatakan bahwa Dia bersama Makhluk-Nya di samping Dia Maha Tinggi berada di atas mereka, terpisah dari mereka, bersemayam di atas ‘arsy-Nya.” (Kaidah-kaidah Utama…, hal. 156).

Maka lemahlah alasan-alasan orang shufi dan pendukungnya yang menganggap bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut sebagai landasan tasawwuf.

Syeikh ‘Utsaimin menegaskan, ayat …Dan Dia bersama kamu di manapun kamu berada.” (QS 57:4); ma’iyah (kebersamaan) ini tidak berarti Allah SWT bercampur dengan makhluk atau tinggal bersama di tempat mereka. Sama sekali tidak menunjukkan pengertian ini.

Karena ini adalah makna bathil yang mustahil bagi Allah Azza wa Jalla, padahal tidak mungkin makna dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya adalah sesuatu yang mustahil lagi bathil.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-‘Aqidah Al-Waasithiyah (hal. 115, cetakan ketiga, komentar Muhammad Khalil Al-Harras), mengatakan:

“Dan pengertian dari firman-Nya: “Dan Dia bersama kamu”, bukanlah berarti bahwa Allah itu bercampur dengan makhluk-Nya karena hal ini tidak dibenarkan oleh bahasa. Bahkan, bulan seba­gai satu tanda dari tanda-tanda (kemahatinggian dan kebesaran) Ilahi, yang termasuk di antara makhluk-Nya yang terkecil dan terletak di langit itu, tetapi dia dikatakan bersama musafir dan yang bukan musafir di mana saja berada.”

Komentar Syeikh ‘Utsaimin: Tidak ada orang yang berpendapat dengan makna bathil (Allah bercampur dengan makhluk atau tinggal bersama di tempat mereka) ini kecuali Al-Hululiyah (Pantheisme) seperti orang-orang terdahulu dari Jahmiyah dan selain mereka yang mengatakan bahwa Allah dengan dzat-Nya berada di setiap tempat. Maha suci Allah dari perkataan mereka dan amat besar dosanya ucapan yang keluar dari mulut mereka. Apa yang mereka katakan tiada lain adalah kebatilan.

Perkataan mereka ini telah dibantah oleh para ulama Salaf dan imam yang sempat menjumpainya, karena perkataan tersebut menim­bulkan beberapa konsekwensi yang tidak dapat dibenarkan yang menunjukkan bahwa Allah mempunyai sifat-sifat kekurangan dan mengingkari keberadaan Allah di atas makhluk-Nya.

Bagaimana seseorang bisa mengatakan bahwa dzat Allah berada pada setiap tempat, atau Allah bercampur dengan makhluk, padahal Allah SWT itu “KursiNya meliputi langit dan bumi” (QS 2:255), dan “Bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya” (QS 39:67)? (Kaidah-kaidah Utama… (hal.152).

Kebatilan dalih kaum shufi dan pendukungnya telah nyata. Masihkah akan diikuti, didukung, dan dipertahankan?