Assalamu’alaikum.Wr.Wb.

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kami memuji-Nya meminta pertolongan kepada-Nya dan memohon ampun dari-Nya serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amalan kami, barang siapa Allah memberinya hidayah maka tiada satupun yang bisa menyesatkanya, dan barang siapa Allah menyesatkanya maka tiada satupun yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja lagi tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Wa Ba’du:

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah ta’ala dan tuntunan yang paling baik adalah tuntunan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, serta urusan yang paling buruk adalah yang diada-adakan, sedangkan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, sedangkan setiap bid’ah adalah kesesatan, serta setiap kesesatan itu di neraka.

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk dien) islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Al An’am: 125)

Ketika pertama kali da’wah tauhid secara face to face berhadapan dengan kesyirikan, tidaklah itu terjadi kecuali pada masa nabi Nuh as , Al Qur’an dan as sunnah kemudian memberitakan beliau sebagai manusia pertama yang mendapatkan predikat Rasul . Tentang hal ini para ulama meneliti penyebabnya. Seperti  Ibnu Taimiyah dan ulama-ulama lain juga sependapat bahwa fitnah kesyirikan yang terjadi di masa itulah yang membuat gelar kerasulan pertama diberikan kepada nabiyullah Nuh as. Untuk mengembalikan umat nabi Nuh kepada fitrah semula (bertauhid), membutuhkan waktu yang sangat panjang, tidak kurang dari 950 tahun. Tapi bagi seorang rasul seperti Nuh as, jumlah bukanlah tujuan. Sebab itu adalah   urusan Allah Ta’alaa. Hal itu seperti digambarkan dalam sebuah hadits:
Dari  Ibnu Abbas ra, Rasulullah  saw bersabda: “Telah ditampakkan kepadaku seluruh umat, maka aku melihat seorang nabi bersama sekelompok pengikutnya, dan nabi yang bersamanya hanya seorang pengikut atau dua orang pengikut saja, dan bahkan seorang nabi yang tak memiliki pengikut sama sekali…”
( H.R. Al Bukhari).

Kebenaran tidak dapat didasarkan pada jumlah terbanyak, tetapi kebenaran hanya takluk kepada apa yang dianggap benar menurut As Syari’ (Pembuat Syari’at). Kebenaran yang pertama kali didakwahkan oleh para Nabi dan Rasul adalah tauhidullah.  Inilah yang menjadi inti da’wah tauhid.  Serta kebenaran ini pulalah yang menyebabkan pengembannya paling banyak menuai resiko. Diusir, dicaci-maki, diberi label-label diskriminatif, kasar, keras, tidak berda’wah dengan hikmah, teroris, fundamentalis, tekstualis, dan lain-lain. Oleh karena stigma inilah, kita saksikan ramai kaum muslimin meninggalkan da’wah tersebut. Bahkan tak sedikit dari para ustadz menjadi latah menghujat rekan da’wah sendiri, menganggap aneh penegakan aqidah, bahkan merasa tak perlu lagi berbicara soal kemusrikan dan kesyirikan yang telah menyatu dalam berbagai bidang kehidupan.

Dan……….Stigma ini berulang kali dikenakan pada diri saya pribadi dimulai setelah pertaubatan saya dari kesyirkan pada tahun 2003 sampai 2011 ini. Sekarang kembali lagi diucapkan oleh saudaraku yang bernick name “orang awam” yang mengatakan saya seorang yang takabur hanya karena dengan tegas menda’wakan wihdatul wuhud itu sesat dan saya tidak ridho Allah dihinakan : Beliau mengatakan “waduh maz…. andaikan kata-kata itu hanya berada didalam relung hatimu, tanpa maz tunjukkan kepada orang lain, mungkin pahalanya berlipat-lipat lagi….. tetapi ini sudah terlanjur diucapkan dan terkesan berlebihan …… sehingga anggapan dari seluruh pembaca disini : anda itu orangnya agak suka Takabur !!!!”

Lalu beliau juga mengatakn saya berda’wah terlalu keras dengan mengatakan : “Terus terang maz Perdana, mengenai kata-kata saya tadi “kembali kecewa dan terluka” : mungkin seperti itulah perasaan dari orang-orang yang berdebat dengan maz Perdana selama ini, entah mengapa…. saya pun ikut merasakan kekecewaan, kemarahan, dan mungkin ketidak adilan yg dirasakan oleh mereka dari komentar dan tulisan yang maz Perdana buat, terkadang pun saya tak dapat membendung air mata ini bila membaca kembali tanggapan-tanggapan yang ada, karena yg ada dalam pikiran saya …. “seandainya tutur kata dari seorang pendakwah seperti maz Perdana lemah lembut namun mampu mengajak umat untuk kembali kejalan yg benar, santun dan bijaksana dalam menilai semua kritikan yang diajukan kepada maz Perdana, mungkin akan semakin banyak orang-orang yg menyadari akan kesalahan dan kekeliruannya dalam beribadah. Ini hanya ungkapan isi hati saya maz …. orang awam yg sering mengikuti perkembangan dari tulisan-tulisan yg maz buat.

Kata-kata “orang awam” ini adalah palu godam yang sekian kalinya saya terima yang sangat menghujam ke dalam fikiran dan menghujam dalam kedalam hati sanubari saya. Entah berapa puluh kali stigma dan perkataan diatas ini saya terima dalam perjalanan hidup saya dalam “membayar” kesyirikan yang sudah saya lakukan dengan da’wah tauhid ini. Saya hanya manusia biasa, ilmu agama pun saya masih tidak seberapa apalagi saya Cuma belajar agama dengan intens di ponduk pesantren tidak lebih dari 3 tahun. Kadang saya merasa tidak sanggup untuk terus berda’wah tauhid ini sebab resiko yang saya terima sangatlah berat sedangkan ilmu dan ketakwaan saya cuma sedikit.

Saya pernah menerima kekerasan secara fisik dari seorang paranormal dan para bodyguardnya sedangkan kekerasan verbal baik secara lisan maupun tulisan sudah tak terhitung lagi saya terima. Dalam minggu ini pada bulan januari 2011 saya pun harus menerima hujatan dari seseorang yang menteror saya lewat Telpon 085725892843  dan menantang-nantang saya untuk berkelahi (silahkan telpon sendiri 🙂 )

Dalam berda’wah tauhid selama delapan tahun ini juga berulangkali saya menerima kiriman sihir dari suara ledakan diatas atap rumah bahkan di dalam rumah, kiriman benda-benda sihir seperti ulat dan cacing berulang kali saya terima, belum lagi dari beberapa khodam jin yang jahil rendahan ( biasanya dari hizib/wirid bid’ah) yang hendak menyakiti atau merasuki tubuh saya untuk memasukkan racun santet yang alhamdulillah sampai saat ini bisa saya tanggulangi ( saya mau saja menceritakan kisah ghoib saya ini pada rekan-rekan namun saya tahan sebab saya khawatir akan menimbulkan rasa riya’)

Sungguh………………….. berbagai stigma dan terror fisik,  psikis, ghoib yang saya terima dalam delapan tahun berda’wah tauhid sangat membuat saya lelah dan kadang jenuh………….sungguh……sangat jenuh……………………

Namun…………… saya terus mencoba untuk bertahan dan sabar tetap “ikut campur” dangan berbagai macam fenomena kesyirikan dalam masyarakat baik dengan da’wah langsung ke masyarakat dan da’wah dunia maya walau harus menerima resiko sikap buruk, karena  nasihat rasulullah :

“Orang mu’min yang berbaur di tengah manusia dan dia sabar terhadap sikap buruk (penindasan) mereka adalah lebih baik daripada orang mu’min yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak sabar terhadap sikap buruk mereka” (HR. Ibnu Majah, hasan, dari Ibnu Umar, diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan At Tirmidziy)

Hadits ini sederhana tapi kandungannya sangat besar dan sangat berkaitan dengan masalah Da’wah tauhid . Di sini Rasul saw mengatakan : “Orang mukmin yang berbaur di tengah manusia dan dia sabar terhadap sikap buruk (penindasan) mereka…” dalam arti dia tampil di hadapan manusia dan berinteraksi dengan mereka, tidak mengurung diri atau tidak mengasingkan diri. Dia sabar terhadap berbagai sikap buruk yang ditimbulkan oleh kaumnya.

Kata sabar tidak muncul kecuali setelah terjadi sesuatu yang mendorong orang tersebut untuk bersabar. Maksudnya adalah orang mukmin yang berbaur dengan manusia dan dia mendakwahkan ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menjaharkan dakwah tauhid yang dia anut, dia menampakkan Ketegasan dalam tauhid. Dan tentunya ketika orang menampakkan Ketegasan dalam tauhid akan mengalami berbagai macam stigma negative bahkan  terror secara fisik dan psikis bahkan ghoib.

Kembali dengan stigma yang saya terima dari “orang awam”, inilah klimaks stigma yang saya terima, namun sesungguhnya apa yang dikatakannya tidak ada masalah sama sekali dan merupakan bentuk kebenaran dan nasihat bagi saya……….. Saya sesungguhnya belum mampu untuk bersikap lembut dan dalam da’wah tauhid sungguh harus berhadapan dengan kosa kata kunci “Syirik,bid’ah, khurafat, sesat bahkan kafir” kata inilah yang banyak ditakuti para penda’wah sebab resikonya sangat besar, (tidak punya jama’ah, selalu dimusuhi dan dicaci oleh para ahlus syirik dan bid’ah) ……. Dan tanggung jawabkan diakhirat juga besar………..

Sungguh saya (admin) sangat tahu asalnya amar ma’ruf nahi munkar itu dilakukan dengan halus dan lemah lembut. Allah berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang baik.”(An Nahl : 125)
Namun perlu juga kita pahami di sini,bahwa kelembutan bukan berarti kita harus diam terhadap kemungkaran dan kebid’ahan. Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah menjelaskan: “Tidak diragukan bahwa syari’at Islam ini adalah syari’at yang sempurna, datang dengan membawa tahdzir (peringatan) terhadap berbagai sikap ghuluw (melampaui batas) dalam urusan agama. Memerintahkan da’wah ke jalan yang haq dengan hikmah, nasehat yang baik, dan debat dengan cara yang lebih baik. Akan tetapi ternyata syari’at ini sama sekali tidak melupakan sikap keras dan tegas yang diletakkan pada tempatnya, di mana lemah lembut dan debat tidak lagi berguna. Sebagaimana firman Allah :

Wahai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafiqin, serta bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan itu sejelek-jelek tempat tinggal (At Taubah : 73)

Bahkan terkadang seorang mu’min akan lebih keras dan tegas mengingkari kemungkaran yang ada pada saudaranya daripada terhadap orang kafir. Kita lihat bagaimana lembutnya Nabiyullah Musa mengajak Fir’aun kepada tauhid, tetapi keras terhadap saudaranya Nabiyullah Harun . Allah berfirman tentang itu:
“Dan Musa pun melemparkan luh-luh (lembaran-lembaran Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menarik kearahnya.” (Al A’raf : 150)

Dalil diataslah dimana kadang saya lebih bersikap keras dan tegas pada saudara sendiri sesama muslim yang tersesat dari tauhid seperti halnya saya bersikap keras pada Tower yang notabene adalah saudara saya sesama muslim.
Apakah kita akan menganggap Nabi Musa tidak memiliki sikap wala’ terhadap saudaranya Nabiyullah Harun karena berlemah lembut terhadap thaghut besar tapi kaku dan kasar terhadap saudaranya sendiri?

Bandingkan pula dengan sikap Rasulullah yang menegur shahabatnya sendiri dengan ucapan yang sangat keras hanya karena masalah “sepele” saja.

Di dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, dari Jabir bin ‘Abdillah dia mengisahkan bahwa Mu’adz biasa shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, kemudian dia kembali ke kaumnya dan shalat mengimami mereka. (Suatu hari) dia mengimami dengan membaca Surat Al Baqarah. Karena bacaan yang terlalu panjang itu, ada seseorang yang shalat sendiri dengan memendekkan shalat, kemudian langsung pergi. Berita ini sampai kepada Mu’adz, maka dia mencap orang tersebut sebagai munafiq. Kemudian orang itu pun mengetahui hal itu, maka dia pun datang kepada Rasulullah dan mengadukan hal itu: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, kami ini kaum yang bekerja sendiri untuk mengairi tanaman kami. Dan Mu’adz shalat bersama kami tadi malam dengan membaca surat Al Baqarah. Kemudian saya shalat sendiri lebih ringkas. Lantas dia menuduh saya munafiq.”
Mendengar itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam pun marah dan berkata:

“Wahai Mu’adz, apa kau ini tukang fitnah! , apa kau ini tukang fitnah! , apa kau ini tukang fitnah! . Bacalah (dalam shalatmu) surat “Wasy Syamsi Wadhuha-ha” dan surat “Sabbihisma Rabikal A’la” atau yang semisalnya.”

Rasulullah  marah besar terhadap Mu’adz atas peristiwa tersebut, padahal beliau pernah berkata kepada Mu’adz bahwa beliau mencintainya. Apakah kita kemudian memprotes Rasulullah karena sikap beliau yang “kasar” terhadap shahabatnya sendiri?

Demikianlah, terkadang seorang muslim itu lebih keras pengingkarannya terhadap kebatilan yang dilakukan oleh saudaranya sesama muslim. Itu justru sebagai bukti kecintaannya terhadap sesama muslim, karena dia ingin saudara terselamatkan dari adzab Allah sebagaimana dia pun ingin dirinya terselamatkan dari adzab Allah.

Sikap yang demikian, bukan muncul dari pendapat, analisa, maupun perasaan, namun ditegakkan di atas hujjah, ditegakkan di atas bimbingan Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman dan pengamalan salaful ummah.

Sungguh…………………dibalik sikap tegas dan terkadang saya keras dalam menyatakan yang haq sesungguhnya dalam lubuk hati saya yang paling dalam  saya mencintai mas Tower karena saya ingin bertemu dengan dia disyurga Allah kelak, saya mencintai Mas Lukman, saya mencintai mas “nyimak aja” , temannya darno, saya mencintai “orang awam” bahkan musuh bebuyutan saya “wongalusaceh” dan seluruh umat islam yang saya tahdzir diblog ini……… saya mencintai mereka semua…..saya tidak ingin mereka mendapatkan azab Allah, saya tidak ingin mereka seperti saya yang dahulu terjebak dalam Lumpur kesyirikan…………………

Namun…………… Jika ketegasan dan kerasnya saya berda’wah tauhid ini malah akan menimbulkan fitnah. Ilmu, keikhlasan,  kesabaran dan ketakwaan saya tidaklah mencukupi dalam da’wah tauhid ini maka saya akan uzlah dahulu………..Atau mungkin saya kan menghapus blog ini dan mungkin ada para ustadz yang lebih memumpuni dalam da’wah tauhid dibanding saya yang bodoh ini yang lebih berhak berda’wah dibandingkan saya……………..

Sungguh saya sangat lelah, apalagi setiap hari harus berhadapan dengan tulisan-tulisan , perkataan dan perbuatan yang terkadang mengobok-obok perasaan juga memeras fikiran dalam delapan tahun terakhir (da’wah dunia nyata dan maya)……..dan ilmu saya sangat kurang dalam mengarungi dan menyelami samudra kesyirikan di dunia ini. Mungkin saya harus menda’wahi keluarga dahulu sebelum menda’wahi orang lain…………..

Saya dengan ini menyatakan saya uzlah dalam waktu yang tidak ditentukan, blog metafisis akan fakum dalam waktu yang tidak terbatas……………………….. Kelangsungan blog ini juga akan saya tentukan kemudian……………..

PENUTUP

Pesanku pada Seluruh pengunjung blog ini… tauhid & iman itu memiliki rasa manis yang takkan bisa digambarkan dengan ucapan & penjelasan, namun hanya bisa dirasakan oleh orang yang merasakan, & ia takkan bisa dirasakan kecuali di balik penderitaan di dalam mempertahankan & memperjuangkan tauhid tersebut.

Rasulullah  berkata:
“Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, maka dia pasti mendapatkan manisnya iman: Yaitu Allah dan Rasul-Nya adalah lebih dia cintai dari selain keduanya, dia mencintai seseorang dimana dia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan dia membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka.” (Al Bukhari dan Muslim)

Wallahu A’lam wa Lillahil ’Izzah