Beberapa suku dan adat yang ada di indonesia mempunyai kebiasaan Pamali atau pantangan yang berbeda beda. Biasanya Pamali/pantangan tersebut sering diungkapkan oleh orang tua kepada anaknya atau kepada sanak saudaranya.
Namun sebenarnya Pamali-pamali tersebut diungkapkan demi kebaikan anak-anaknya tersebut. Tapi kita tentu belum semua tahu apa sebenarnya rahasia dibalik kata-kata pamali tersebut
Mari kita lihat contoh contoh Pamali dan apa sebenarnya rahasia dibaliknya:
  • Katanya kalau menduduki bantal, nanti bisa Bisulan, Padahal Sebenarnya Orang tua melarang kita duduk dibantal supaya bantalnya tidak rusak atau kempes.
  • Katanya, Jangan berbaring di lapangan, nanti di langkahin setan, hehehe, padahal Orang tua melarang kita baring dilapangan, karena kalo baring dilapangan bisa gatal dan baju kotor.
  • Katanya, Jangan membuang buang Nasi, nanti nasinya nangis, Padahal Orang tua melarang kita membuang nasi, untuk mengajarkan kita bagaimana agar tidak mubazzir dan mensyukuri pemberian Allah.
  • Katanya, Kalau habis makan, piringnya di sirami air walaupun sedikit, agar rezekinya tidak pernah kering, Padahal Piring disirami air agar piringnya tidak susah dicuci karena kering oleh nasi.
  • Katanya, Jangan menghina orang cacat, nanti keturunannya juga seperti itu, padahal hal itu berguna agar kita mengerti bagaimana saling menghargai antar sesama manusia,
  • Katanya, jangan melamun dipagi hari, nanti kesambet, ini berguna agar kira tidak membiasakan bermalas malasan di pagi hari, alias pagi pagi cari rezeki dooong…

Sebenarnya masih banyak lagi pamali Orang tua, namun tidak bisa saya jelaskan semua di sini.
Pamali pamali tersebut haruslah kita tanggapi secara rasional,  karena mungkin ada benarnya juga,,, jadi yang sudah menjadi pantangan turun temurun oleh orang tua kita, adapun jika pamali tersebut diyakini bersifat ghoib yang dapat menyebabkan kesialan maka hukumnya syirik sebab sudah masuk dalam kategori tathayur. Sebagaimana Rasulullah Sudah bersabda :“Tidak termasuk golongan kami orang yang bertathayur (merasa sial karena sesuatu) atau meminta ditathayurkan (ditebak kesialannya), atau menenung atau minta ditenungkan, menyihir atau minta disihirkan.” (Diriwayatkan ole hath-Thabrani dari Ibnu Abbas dengan isnad baik)