Mungkin kalian sudah pernah melihat di rumah-rumah,di pojok dindingnya terpajang gambar kuda bersayap berkepala seorang wanita dan berekor seperti burung merak… 

Buroq adalah hewan atau kendaraan surga yang dipakai oleh nabi Muhammad SAW untuk melakukan Isra Mi’raj….lalu apakah benar rupa Buroq seperti yang sudah saya gambarkan diatas???atau itu cuma konspirasi untuk mendeskreditkan umat islam???

Dibuat sedemikian rupa dengan maksud untuk merendahkan derajat dan martabat nabi Muhammad SAW.Buroq digambarkan memiliki rupa wanita,karena nabi Muhammad suka berpoligami pada wanita.Bersayap seperti burung bermaksud nabi Muhammad suka akan kebesaran dan berbadan kuda karena katanya nabi Muhammad memiliki nafsu keinginan yang sangat luar biasa besar.Jadi tidak lain dan tidak bukan,Buroq merupakan sebuah gambaran yang menghina nabi Muhammad.Oleh karena itu tak selayaknya umat muslim memasang atau menyimpan gambar Buroq yang jelas-jelas diciptakan oleh orang Yahudi untuk melecehkan nabi Muhammad!!

Gawat nihh kalau ada umat Muslim yang pasang hiasan gambar Buroq dirumahnya sama aja dengan dia menghina nabi Muhammad!!Naudzubillahiminzalik…

Selengkapnya di sini;

http://supercicak.blogspot.com/2010/09/apakah-ufo-merupakan-buroqseperti.html

Tabuik di Padang Pariaman Warisan Budaya Syi’ah

Saya akrab dengan sosok ini. Di daerah saya dulu, sosok ini tampil dalam poster-poster atau fotokopian buram yang ditempel di dinding-dinding rumah. Saya juga pernah melihat sosok ini dalam berbagai variasi wajah dan warna dalam banyak lukisan kaca, ketika dulu menemani Jerome Samuel, yang meneliti topik lukisan kaca di Jawa pada pertengahan abad lalu.

Menurut cerita, tubuh kuda bersayap dengan wajah perempuan ini adalah Bouraq (pasti akan mengingatkan nama perusahaan penerbangan!), yang diyakini membawa Nabi Muhammad terbang dalam peristiwa Isra Mikraj dari Masjid al-Haram (Makkah) ke Masjid Aqsa (Jerusalem). Bouraq sendiri berasal dari kata ‘barq’ yang berarti ‘kilat’.

Kemarin saya agak terkejut karena melihat sosok ini dalam bentuk patung dengan delapan payung di tengah-tengah kota Padang Pariaman. Barangkali inilah satu-satunya patung Bouraq di Indonesia, bahkan di dunia. Di Iran pun, basis kaum Syi’ah, tempat kepercayaan pada Bouraq ini berasal, setahu saya, tidak ada patung ini.

Ya, kepercayaan pada Bouraq inilah salah satu yang menunjukkan bukti bahwa beberapa abad lalu, Islam Syi’ah pernah menancapkan pengaruhnya di Nusantara. Di Pariaman sendiri, diyakini pada abad 19 kuat pengaruh Syi’ah ini. Jejaknya adalah upacara Tabuik yang masih berlangsung hingga kini, yang merupakan peringatan peristiwa Qarbala. Sekarang Padang Pariaman menyebut diri sebagai ‘Kota Tabuik’. Selain itu, juga ada acara ‘basapa’ yang berpusat di Makam Syeikh Burhanuddin Ulakan, seorang mursyid tarekat Syamani’ah, murid dari Syeikh Abdurrahman Singkel. Besok saya akan menyempatkan ke makam mursyid tarekat yang legendaris ini…

http://haisa.wordpress.com/2011/01/13/bouraq/
_________________________________________________ 

* MUHAMMAD, Rasulullah, mungkin satu-satunya tokoh besar dunia yang wajahnya tak dikenal — walau ia tampil di kancah sejarah di abad ke-7, ketika patung dan lukisan sudah beratus tahun mengabadikan tokoh lain. Selalu konsisten dengan larangan syirik, menyembah berhala dan mempertuhankan manusia, Islam melarang Nabinya digambar. Tak heran bila selalu timbul reaksi, tiap kali ada usaha melukiskan sosok Muhammad saw. Dan itu pula yang terjadi Sabtu pekan lalu, ketika Menteri Agama Munawir Sjadzali menyesalkan pemuatan gambar Nabi Muhammad di Sinar Pagi. Pada penerbitan 8 September, koran yang dipimpin Charly T. Siahaan itu memuat artikel Asal Muasal Agama di Dunia dan reproduksi lukisan Iran abad ke-16, yang menggambarkan Muhammad mengendarai bouraq — kendaraan ajaib yang konon bersayap dan berkepala manusia — dalam perjalanan ke langit, mikraj. Sinar Pagi cuma mengambilnya dari The World Book Encyclopedia jilid 16. Tapi segera melayanglah surat dari Departemen Agama, minta “penjelasan”. Kontan, Sabtu pekan lalu, koran itu “mohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh umat Islam”. Islam memang tak main-main dalam soal ini. Itu sebabnya dalam film The Message, tentang sejarah awal Islam itu, Muhammad tak tampak. Yang terlihat hanya kepala atau kaki unta yang dikendarai Nabi. Dalam komik sejarah Islam, sosok Rasulullah hanya tampil dalam sebuah lingkaran dengan tulisan Muhammad di dalamnya. Di Indonesia pun, pelukis tradisional cuma melukis Sang Bouraq — yang namanya kini juga jadi nama sebuah perusahaan penerbangan. Sastrawan Danarto, yang rapat dengan sufisme, pun cuma menampilkan bouraq yang dilukisnya sendiri untuk kulit muka bukunya, Adam Ma’rifat. Sudah jelas banyak imajinasi bekerja dalam pelukisan itu. Toh imajinasi tak boleh jalan untuk mendeskripsikan Nabi dalam gambar, meskipun dalam lagu puji kasidah, pencandraan paras Rasulullah banyak dikemukakan. Mungkin karena memuja — dalam arti mengagumi memerlukan tampilnya sosok yang dipuja, maka imajinasi tak sepenuhnya bisa dikunci. Dalam The New Encyclopaedia Britannica jilid 9, dimuat dua reproduksi lukisan tentang Muhammad karya seniman Turki dan Iran abad ke-15 dan ke-17. Di sana Nabi tampak naik bouraq, dan di halaman lain, dalam sebuah silsilah Muhammad, wajah Nabi tampak terlindung. Dari Turki dan Iran memang sering muncul kreasi seni rupa kuno yang begitu. Ada teori, soalnya kedua wilayah itu tak berakar dalam tradisi Semitis — yang kuat di kebudayaan Arab dan Yahudi — yang menolak penggambaran wajah manusia. Mungkin juga kecenderungan Syiah di Turki dan Iran berbeda dengan kecenderungan Suni: di kalangan Syiah, melukiskan Sayidinna Ali, menantu Nabi, bahkan lazim. Di kalangan Suni (lihat saja film The Message) Ali pun tak boleh diwujudkan. Tapi terkadang soalnya bukan karena Syiah atau Suni. Cuma soal tak tahu. Di kuil Tai-yon, 250 kilometer selatan Taipei, Taiwan, misalnya, patung Nabi, mengenakan kafiyeh seperti Raja Faisal, dibuat berjajar dengan patung Yesus, Konghucu, Budha, Tao. Maksudnya menghormati. Setelah diberi tahu bahwa penghormatan itu justru keliru, April lalu, patung Nabi, juga patung Isa Almasih, dihancurkan. Budiman S. Hartoyo dan Ahmadie Thaha

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1987/09/26/AG/mbm.19870926.AG32309.id.html