Bismillaahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, asholatu wassalaamu’ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa ashabihi wa mantabi’ahum bil ikhsan.

“Islam adalah sunnah, sunnah adalah Islam”, demikian al Imam al Barbahari menyampaikan di awal poin-poin kajiannya dalam Syarhussunnah.

Jika kita ingin menjadi orang yang baik, orang yang shalih, orang yang dekat dengan Allah, orang yang diridhai Allah, orang yang mencapai derajat ketakwaan tertinggi disisi Allah, semua itu diraih tidak lain dengan jalan orang yang paling bertakwa dan paling dicintai Allah, dialah Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam. Adalah sebuah kenaifan apabila ada seseorang yang mendakwakan diri mampu mengajarkan ajaran yang mendekatkan diri kepada Allah tetapi dengan jalan atau cara yang tidak dituntunkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam. Sebagian propaganda sufi mengiming-imingi kemampuan membuka tirai antara hamba dengan Allah, membuka kunci perjumpaan dengan Allah, bahkan cara melebur sukma dengan ‘ruh’ Allah, atau konsep bersatunya antara hamba dengan Allah. Akan tetapi, tujuan dan cara yang mereka lakukan tidak diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam, tidak juga oleh para shahabatnya. Maka sudah pasti, cara yang diada-adakan itu adalah jalan yang sesat.

Salah satu tokoh sesat yang akhirnya dihukum mati, megikuti jejak Al Hallaj dan Ibnu Arabi, adalah ‘Syaikh’ Siti Jenar.


Berbagai tulisan tentang Siti Jenar dari para peneliti di Indonesia, yang mengungkapkan pengaruh Al Hallaj-Ibnu Arabi di Indonesia.

Konsep kawula-gusti, dimana terjadi penyatuan antara keduanya. Siti Jenar D i dalam dzikirnya mengklaim menjadi Yang Maha Suci (menyatu dengan Allah) ADALAH keyakinan paling sesat lihat di https://metafisis.wordpress.com/2011/03/03/kita-tidak-mungkin-%e2%80%9cbersatu-dengan-allah%e2%80%9d/

Perkembangan ajaran di masyarakat menengah, sangkan paraning dumadi, manunggaling kawulo gusti. Ini persis dengan ajaran Al Hallaj-Ibnu Arabi.

Ini salah satu tarekat penerus ajaran Siti Jenar.

Ini tokohnya, ya semacam mursyidnya-lah. Pak Amat. Tak lupa ada sebatang rokok di tangannya. Bagi yang berpikir cerdas, harusnya tahu bahwa dzikir itu akan diwujudkan dalam amaliah nyata. Seseorang yang meninggalkan apa yang diharamkan Allah, apa-apa yang ‘makruh’ (karohah/dibenci), merupakan bentuk dzikir yang sangat tinggi.

Siti Jenar, penerus pemahaman Al Hallaj dan Ibnu Arabi di Indonesia.

Uaneh tenan. Kuburannya Siti Jenar bisa di beberapa tempat. Masing-masing tempat ngaku disitu kuburannya (biar laris sih). Jadi inget alkisah ada seseorang yang ngubur kuda, terus ke masyarakat bilang ada makam wali yang dikubur disitu. Akhirnya jadi deh tempat itu dimintai berkah.

Pada minta-minta ke penghuni kubur, ada yang bener-bener minta supaya dagangannya laris, ada yang meminta penghuni kubur menyampaikan do’anya kepada Allah. Semua itu adalah syirik.

Buat para wahabi yang muwahhidin, bener-bener da’wah tauhid harus lebih disampaikan dengan cara yang paling baik dan berbagai sarana.

Wallahu a’lam bisshawab.